Anda di halaman 1dari 53

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ambliopia merupakan kondisi berkurangnya tajam penglihatan yang

terjadi pada tahun perkembangan penglihatan akibat stimulasi visual yang

abnormal. Gangguan pada sistem penglihatan yang terjadi saat periode

kritis perkembangan mata bisa disebabkan oleh kelainan mata seperti

strabismus, anisometropia dan kelainan refraksi tinggi.

Ambliopia lebih sering terjadi pada anak-anak, dapat terjadi secara

unilateral maupun bilateral kedua mata. Ambliopia bilateral jarang terjadi

dibandingkan dengan ambliopia unilateral. Ambliopia bilateral dapat terjadi

karena kelainan refraksi yang terjadi pada kedua mata.

Prevalensi ambliopia di dunia beragam, pada penelitian yang

dilakukan Huang pada Yuhuatai Pediatric Eye Disease Study di China pada

tahun 2015 didapatkan prevalensi ambliopia sebesar 1,47% penderita dari

1695 anak.1 Pada penelitian yang dilakukan Kianti di Indonesia didapatkan

angka prevalensi ambliopia sebesar 1.6% - 3.6% dari populasi penduduk

Jakarta usia 30 – 72 bulan.2

Tatalaksana ambliopia dapat menggunakan alat bantu seperti

kacamata, patching, maupun bedah refraktif. Pada ambliopia bilateral

pilihan terapi awal dengan penggunaan kacamata. Penggunaan kacamata

merupakan pilihan terapi non invasif dan dapat menjadi pilihan bagi pasien

1
yang tidak mau dilakukan tindakan bedah refraktif. Pada beberapa

penelitian, penggunaan kacamata terbukti dapat meningkatkan tajam

penglihatan pasien ambliopia.

1.2 Tujuan

Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan efek terapi kacamata

pada penderita bilateral isometropic ambliopia sehingga tercapai tajam

penglihatan yang baik dan nyaman bagi penderita.

2
BAB 2

LAPORAN KASUS

2.1 Laporan Kasus Pertama

2.1.1 Identifikasi

Seorang anak perempuan umur 5 tahun, tinggal di dalam kota,

berobat ke poli mata RSMH Palembang pada tanggal 21 Juli 2018.

2.1.2 Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis, 21 Juli 2018)

Keluhan Utama:

Pasien mengeluh sulit membaca tulisan di papan tulis saat duduk di

bangku kelas bagian belakang.

Riwayat Perjalanan Penyakit:

Sejak usia 2 tahun orang tua pasien menyadari anaknya sering

memicingkan kedua matanya saat melihat jauh, namun belum dilakukan

pemeriksaan karena dianggap masih usia perkembangan. Kurang lebih 2

bulan yang lalu saat memasuki sekolah pasien mengeluhkan kesulitan

untuk membaca tulisan di papan tulis saat duduk di bangku bagian

belakang. Kemudian orang tua pasien membawa pasien ke poli mata RS

Pertamina untuk keluhan penglihatan kabur saat melihat jauh. Dari hasil

pemeriksaan dicurigai terdapat kelainan refraksi ambliopia dan dirujuk

untuk evaluasi lebih lanjut. Pasien datang ke poli mata subdivisi refraksi

3
RSMH untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, saat datang pasien

berusia 5 tahun.

Riwayat Penyakit Dahulu

 Riwayat keluarga (+), ibu dengan kelainan refraksi (+)

 Riwayat penggunaan kacamata sebelumnya (-)

 Riwayat trauma (-)

 Riwayat mengkonsumsi obat-obatan rutin (-)

 Riwayat operasi pada mata (-)

 Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus (-)

2.1.3 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:

 Keadaan umum : Baik

 Tekanan darah : 110/70 mmHg

 Nadi : 84x/menit

 Pernafasan : 18x/menit

 Suhu : Afebris

Status Oftalmologikus

OD OS

Visus Dasar 6/30 ph 6/12 6/30 ph 6/15

4
Koreksi dengan trial lens tanpa sikloplegik:

OD:6/30  ʃ-1,00 C -2,75 x 1800  6/12

6/12 false 2

OS:6/30  ʃ-1,00 C -3.50 x 1800  6/15

Crowding OD (+) 6/9 false 2

Crowding OS (+) 6/12 false 2

Koreksi dengan trial lens dengan sikloplegik:

OD:6/30  ʃ+0,75 C -2,75 x 1800  6/12

6/12 false 2

OS:6/30  ʃ+0,75 C -3,50 x 1800  6/15

Pupil Distance 57/55

TIO 15,6 mmHg 15,6 mmHg

Kedudukan bola mata Ortoforia

Gerakan bola mata

Palpebra Tenang Tenang

Konjungtiva Tenang Tenang

Kornea Jernih Jernih

BMD Sedang, Jernih Sedang, Jernih

5
Iris Gambaran baik Gambaran baik

Pupil B, C, RC(+), Ø 3mm B, C, RC(+), Ø 3mm

Lensa Jernih Jernih

Vitreus Jernih Jernih

Reflek Fundus (+) (+)

Papil Lonjong, batas tegas, Lonjong, batas tegas, warna

warna merah normal, c/d merah normal, c/d 0,3, A:V

0,3, A:V 2:3, myopic 2:3, myopic crescent (-)

crescent (-)

Makula Refleks Fovea (+) normal Refleks Fovea (+) normal

Retina Kontur pembuluh darah Kontur pembuluh darah baik,

baik, perdarahan (-), perdarahan (-), tiggroid

tiggroid appearance (-), appearance (-), degenerasi

degenerasi lattice (-) lattice (-)

2.1.4 Pemeriksaan Penunjang

Hasil Pemeriksaan USG

OD OS

6
Kesan: Kesan:

- Vitreus : Echofree - Vitreus : Echofree

- Retina : Intak - Retina : Intak

- Koroid : Tidak menebal - Koroid : Tidak menebal

- Axial Length: 19,18 mm - Axial length : 19,60 mm

Hasil Autorefraksi dan Keratometri

OD: ʃ-1,25 C -2,75 x 1740

mm D Ax

R1 8.13 41.50 174

R2 7.67 44.00 178

Average 7.90 42.75

Cyl -2.80

OS: ʃ-1,32 C -3,75 x 1800

mm D Ax

R1 8.22 40.75 180

R2 7.29 44.62 178

Average 7.75 42.68

Cyl -3.75

Hasil Pemeriksaan Worth Four Dot Test

Pasien melihat 4 titik dengan interpretasi warna yang baik.

Hasil tes kedua mata fusi baik, respon binokular normal.

7
Cover tes

Kedua mata dalam posisi sentral dan tidak ditemukan shifting bola mata.

2.1.5 Diagnosis kerja:

 Astigmat Miopia Kompositus Moderate Okuli Dekstra Sinistra

 Ambliopia Bilateral Isometrop

2.1.6 Penatalaksanaan

 Informed consent

 Koreksi refraksi dengan kacamata

 Oculex syrup peroral 2,5 ml /8jam

 Polyvinylpyrrolidone tetes mata /8 jam ODS

2.1.7 Follow Up 21 Agustus 2018

2.1.7.1 Anamnesis (Auto dan Alloanamnesis, 20 Agustus 2018)

Keluhan Utama:

Pandangan kabur berkurang dengan penggunaan kacamata,

kacamata digunakan setiap saat baik di sekolah maupun dirumah,

kacamata dilepas saat tidur dan saat mandi. Penggunaan kacamata lebih

dari 12 jam dalam sehari. Keluhan pusing disangkal, keluhan mata merah

disangkal, keluhan nyeri pada mata disangkal.

2.1.7.2 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:

8
 Keadaan umum : Baik

 Tekanan darah : 110/70 mmHg

 Nadi : 88x/menit

 Pernafasan : 17x/menit

 Suhu : Afebris

Status Oftalmologikus

OD OS

Visus Dasar 6/30 ph 6/9 False 2 6/30 ph 6/12

Visus Dengan OD: 6/30  ʃ-1,00 C -2,75 x 1800  6/9 false 2

Kacamata 6/9

False 2

OS: 6/30  ʃ-1,00 C -3.50 x 1800  6/12

Crowding OD (+) 6/9

Crowding OS (+) 6/9 false 2

Visus Binokuler 6/9 false 2

Pupil Distance 57/55

TIO 15,6 mmHg 15,6 mmHg

9
Kedudukan bola Ortoforia

mata

Gerakan bola mata

Palpebra Tenang Tenang

Konjungtiva Tenang Tenang

Kornea Jernih Jernih

BMD Sedang, Jernih Sedang, Jernih

Iris Gambaran baik Gambaran baik

Pupil B, C, RC(+), Ø 3mm B, C, RC(+), Ø 3mm

Lensa Jernih Jernih

Vitreus Jernih Jernih

Reflek Fundus (+) (+)

Papil Lonjong, batas tegas, warna Lonjong, batas tegas, warna

merah normal, c/d 0,3, A:V merah normal, c/d 0,3, A:V

2:3, myopic crescent (-) 2:3, myopic crescent (-)

Makula Refleks Fovea (+) normal Refleks Fovea (+) normal

Retina Kontur pembuluh darah baik, Kontur pembuluh darah baik,

perdarahan (-), tiggroid perdarahan (-), tiggroid

appearance (-), degenerasi appearance (-), degenerasi

lattice (-) lattice (-)

10
2.1.7.3 Diagnosis kerja:

 Astigmat Miopia Kompositus Moderate Okuli Dekstra Sinistra

 Ambliopia Bilateral Isometrop

2.1.7.4 Penatalaksanaan

 Informed consent

 Terapi kacamata dilanjutkan

 Oculex syrup peroral 2,5 ml /8jam

 Polyvinylpyrrolidone tetes mata /8 jam ODS

2.2 Laporan Kasus Kedua

2.2.1 Identifikasi

Seorang anak laki-laki umur 9 tahun, sekolah dasar, tinggal di dalam

kota, berobat ke poli mata RSMH Palembang pada tanggal 30 Juli 2018.

2.2.2 Anamnesis (Autoanamnesis, 30 Juli 2018)

Keluhan Utama:

Pandangan mata kabur sejak kurang lebih 3 bulan yang lalu.

Riwayat Perjalanan Penyakit:

Pasien berobat didampingi keluarganya, pasien merasa pandangan

matanya kabur sejak 3 bulan yang lalu, saat melihat jauh pasien sering

memicingkan mata. Keluhan mata merah (-), mata gatal (-), pandangan

seperti tertutup tirai (-), pandangan ganda (-), seperti melihat kilatan cahaya

(-). Pasien berobat pertama kali di RS Pelabuhan, kemudian dirujuk ke

11
RSMH dengan diagnosis ambliopia. Pasien mengeluhkan pandangan

kabur sejak kursi duduk dipindahkan ke bagian belakang oleh gurunya.

Pasien mengeluhkan kesulitan saat membaca tulisan di papan tulis. Pasien

juga mengeluhkan matanya cepat lelah dan pegal setelah membaca atau

menonton TV. Bila melihat benda pada jarak jauh penderita sering

memincingkan kedua matanya. Pasien lahir normal cukup bulan di RS, tidak

ada kelainan saat kehamilan.

Riwayat Penyakit Dahulu:

 Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama disangkal

 Riwayat menggunakan kacamata (-)

 Riwayat trauma pada mata (-)

 Riwayat operasi pada mata (-)

2.2.3 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:

 Keadaan umum : Baik

 Tekanan darah : 120/80 mmHg

 Nadi : 88x/menit

 Pernafasan : 20x/menit

 Suhu : Afebris

Status Oftalmologikus:

OD OS

12
Visus Dasar 6/21 ph 6/12 False 2 6/30 ph 6/12 False 2

Visus Binokuler Koreksi trial lens tanpa sikloplegik:

OD:6/21 C-2,50 Axis 1800 6/12 false 2

6/12 false 2

OS:6/30 C-4,00 Axis 1800 6/12 false 2

Crowding OD (+) 6/12

Crowding OS (+) 6/12

Koreksi trial lens dengan sikloplegik:

OD: 6/30 ʃ +1.00 C -2.50 Axis 18006/12 false 2

6/12

OS: 6/30 ʃ +1.00 C -4,00 Axis 1800 6/12 false 2

Pupil Distance 60/58

TIO 12,0 mmHg 11,9 mmHg

Kedudukan bola Ortoforia

mata

Gerakan bola mata

13
Palpebra Tenang Tenang

Konjungtiva Tenang Tenang

Kornea Jernih Jernih

BMD Sedang, Jernih Sedang, Jernih

Iris Gambaran baik Gambaran baik

Pupil B, C, RC(+), Ø 3mm B, C, RC(+), Ø 3mm

Lensa Jernih Jernih

Vitreus Jernih Jernih

Reflek Fundus (+) (+)

Papil Lonjong, batas tegas, warna Lonjong, batas tegas, warna

merah normal, c/d 0,3, A:V merah normal, c/d 0,3, A:V

2:3, myopic crescent (-) 2:3, myopic crescent (-)

Makula Refleks Fovea (+) normal Refleks Fovea (+) normal

Retina Kontur pembuluh darah baik, Kontur pembuluh darah baik,

perdarahan(-), tiggroid perdarahan(-), tiggroid

appearance (-), degenerasi appearance (-), degenerasi

lattice (-) lattice (-)

2.2.4 Pemeriksaan Penunjang

Hasil Pemeriksaan USG

OD OS

14
Kesan: Kesan:

- Vitreus : Echofree - Vitreus : Echofree

- Retina : Intak - Retina : Intak

- Koroid :Tidak menebal - Koroid :Tidak menebal

Axial Length : 20 mm Axial Length : 22 mm

Hasil Autorefraksi dan Keratometri

OD: ʃ-0,50 C -4,50 x 40

mm D Ax

R1 8.34 40.50 3

R2 7.45 45.37 93

Average 7.90 43.00

Cyl -4.87 3

OS: ʃ-0,75 C -5,25 x 1740

mm D Ax

R1 8.29 40.75 177

R2 7.39 45.75 177

15
Average 7.84 43.25

Cyl -5.00 177

Hasil Pemeriksaan Worth Four Dot Test

Pasien melihat 4 titik dengan interpretasi warna yang baik.

Hasil tes kedua mata fusi baik, respon binokular normal.

Cover tes

Kedua mata dalam posisi sentral dan tidak ditemukan shifting bola mata.

2.2.5 Diagnosis kerja

 Astigmat Simpleks Moderate Oculi Dextra Sinistra

 Ambliopia Bilateral Isometrop

2.2.6 Penatalaksanaan

 Informed consent

 Kacamata

 Oculex syrup peroral 2,5 ml /8jam

 Polyvinylpyrrolidone tetes mata /8 jam ODS

2.2.7 Follow Up 30 Agustus 2018

2.2.7.1 Anamnesis (Auto dan Alloanamnesis, 30 Agustus 2018)

Keluhan Utama:

16
Pandangan kabur berkurang dengan penggunaan kacamata, pada

awalnya pasien merasa pusing namun penggunaan kacamata diteruskan

dan lama-lama pusing menghilang. Penggunaan kacamata lebih dari 8 jam

dalam 1 hari. Keluhan mata merah dan keluhan nyeri pada mata disangkal.

2.2.7.2 Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:

 Keadaan umum : Baik

 Tekanan darah : 100/70 mmHg

 Nadi : 86x/menit

 Pernafasan : 18x/menit

 Suhu : Afebris

 Status generalis : Dalam batas normal

Status Oftalmologikus:

OD OS

Visus Dasar 6/21 ph 6/12 6/30 ph 6/12

Koreksi dengan OD:6/21 C-2,50 Axis 1800 6/12

Kacamata 6/9 false 2

OS:6/30 C-4,00 Axis 1800 6/12

17
Crowding OD (+)  6/9

Crowding OS (+)  6/9 false 2

Pupil Distance 60/58

TIO 12,0 mmHg 11,9 mmHg

Kedudukan bola Ortoforia

mata

Gerakan bola mata

Palpebra Tenang Tenang

Konjungtiva Tenang Tenang

Kornea Jernih Jernih

BMD Sedang, Jernih Sedang, Jernih

Iris Gambaran baik Gambaran baik

Pupil B, C, RC(+), Ø 3mm B, C, RC(+), Ø 3mm

Lensa Jernih Jernih

Vitreus Jernih Jernih

Reflek Fundus (+) (+)

Papil Lonjong, batas tegas, warna Lonjong, batas tegas, warna

merah normal, c/d 0,3, A:V merah normal, c/d 0,3, A:V

2:3, myopic crescent (-) 2:3, myopic crescent (-)

Makula Refleks Fovea (+) normal Refleks Fovea (+) normal

18
Retina Kontur pembuluh darah baik, Kontur pembuluh darah baik,

perdarahan(-), tiggroid perdarahan(-), tiggroid

appearance (-), degenerasi appearance (-), degenerasi

lattice (-) lattice (-)

2.2.7.3 Diagnosis kerja

 Astigmat Simpleks Moderate Oculi Dextra Sinistra

 Ambliopia Bilateral Isometrop

2.2.7.4 Penatalaksanaan

 Informed consent

 Kacamata

 Oculex syrup peroral 2,5 ml /8jam

 Polyvinylpyrrolidone tetes mata /8 jam ODS

19
BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Perkembangan Bola Mata

Perkembangan mata dimulai dari pertumbuhan bola mata saat

prenatal dan post natal. Setelah lahir bola mata masih terus berkembang

baik secara struktur maupun komposisinya dan terus berkembang sampai

pada tahun-tahun pertama kehidupan. Adanya perkembangan sistem saraf

pusat yang normal juga ikut membantu dalam proses perkembangan sistem

penglihatan. Secara anatomi perubahan yang terjadi pada segmen anterior

mata, retina, dan nervus optikus pada tahun-tahun pertama kehidupan

mempengaruhi terbentuknya bayangan yang normal pada retina. 3,4

Periode 2 – 3 bulan post natal disebut sebagai fase pertumbuhan

cepat, dimana pada peride ini terjadi perubahan yang signifikan pada

perkembangan visus. Fase ini juga dikenal sebagai critical period. Adanya

stimulus yang abnormal selama periode ini dapat menyebabkan terjadinya

gangguan pada perkembangan visus sehingga dapat menyebabkan

keadaan yang disebut ambliopia. Perkembangan visus itu sendiri

melibatkan perkembangan post natal dari bola mata serta proses

emmetropisasi.3,4

3.1.1 Perkembangan Post Natal Bola Mata

Struktur mata baik pada orbita maupun intraokular sudah terbentuk

dengan baik saat lahir, namun masih terdapat perkembangan post natal

20
yang terjadi baik dari segi anatomi maupun fisiologi. Saat lahir diameter

anteroposterior bayi 70 dari orang dewasa, dengan panjang kira-kira 16-

17 milimeter. Dengan segmen anterior 75 - 80 dari orang dewasa. Volume

mata pada bayi baru lahir (2,8 cm3) dimana kurang dari setengah volume

orang dewasa, yaitu 6,8 – 7,5 cm3.3,4

Axial length pada neonatus kurang lebih 16 milimeter.

Perkembangan axial length pada mata terjadi selama 13 tahun pertama

kehidupan. Selama periode tersebut, axial length mengalami 3 fase

perkembangan, yaitu:

1. Pertumbuhan post natal (0 – 18 bulan), dimana pada fase ini

terdapat penambahan axial length sebesar 4,3 milimeter dari 16

milimeter menjadi 20,3 milimeter.

2. Fase infantile (umur 2 – 5 tahun), pada fase ini terdapat penambahan

1,1 milimeter pada axial length.

3. fase slower juvenile (umur 5 – 13 tahun), dimana hanya terdapat

penambahan yang sangat sedikit pada axial length bola mata yaitu

sepanjang 1,3 milimeter.3,4

Kornea

Kornea mengalami perubahan yang drastis pada setahun pertama

kehidupan. Perubahan yang terjadi meliputi ukuran, bentuk, dan

transparansinya. Diameter horizontal kornea pada bayi baru lahir rata-rata

9,8 milimeter (9 – 10,5 milimeter), sedangkan diameter vertikal kornea 10,4

milimeter.

21
Pada setahun pertama kehidupan, terjadi penambahan dalam

ukuran kornea dimana diameter horizontalnya menjadi 11 – 12 milimeter

dan penambahan luas permukaan dari 102 mm 2 saat lahir menjadi 130 mm2

saat mencapai usia 20 bulan.

Kornea juga menjadi lebih datar dibandingkan saat lahir. Hal ini

dibuktikan dengan penurunan kekuatan Dioptri dari 51,2 saat lahir menjadi

45,2 Dioptri saat bayi berumur 6 bulan. Terjadi pengurangan ketebalan

pada kornea dari 0,96 mm di sentral dan 1,2 mm di perifer pada bayi baru

lahir menjadi 0,52 milimeter saat usia 6 bulan.4,5

Pupil

Pada bayi yang lahir dengan masa gestasi lebih dari 31 minggu,

terdapat reflek cahaya pada pupil. Hal ini berbeda pada bayi yang lahir

premature dimana reflek cahaya bisa menurun atau tidak ada sama

sekali.4,5

Lensa

Saat lahir lensa berbentuk lebih bulat, hal ini menyebabkan lensa

mempunyai daya refraksi yang lebih kuat. Lensa terus tumbuh seumur

hidup dengan pertambahan serat-serat baru di perifer. Konsistensi materi

lensa berubah selama hidup, saat lahir seperti plastik lunak, pada usia lanjut

kosistensinya mirip kaca.4,5

Otot ekstraokular

Otot-otot rektus pada bayi baru lahir lebih kecil dibangkan orang

dewasa, dengan perbedaan insersi otot 2,3 – 3 milimeter serta tendon yang

22
lebih tipis dibandingkan dengan orang dewasa. Bila diukur dari limbus,

terdapat perbedaan insersi otot ekstraokuler pada bayi baru lahir

dibandingkan dengan orang dewasa. Terdapat perbedaan 2 milimeter pada

bayi baru lahir, 1 milimeter pada usia 6 bulan, dan mulai sama seperti orang

dewasa saat mencapai usia 20 bulan.4,5

Volume Orbita

Saat lahir volume orbita adalah 10 mm3. Saat mencapai usia 1 tahun,

volume orbita bertambah secara signifikan menjadi 22,3 mm 3. Pada usia 6

– 8 tahun, volume orbita mengalami penambahan lagi yaitu menjadi 39,1

mm3.4,5

Retina

Saat lahir semua struktur retina sudah terbentuk sempurna kecuali

dibagian makula. Perkembangan makula terjadi setelah lahir sampai bayi

berumur 4 tahun. Perkembangan yang paling mencolok terjadi pada

pigmentasi makula, perkembangan annular ring, reflek fovea, dan

diferensiasi dari sel-sel kerucut.4,5

Pigmentasi makula berkembang sempurna pada 27 minggu usia

gestasi. Tetapi, pigmen kuning xantophyllic yang biasanya ditemukan pada

orang dewasa, tidak ditemukan pada neonatus, hal ini disebabkan pigmen

tersebut berasal dari asupan makanan yang mengandung karoten.

Pada 24 minggu usia gestasi, lapisan sel ganglion mengalami

penebalan pada bagian kutub posterior retina, pada usia 28 minggu, sel-sel

ganglion berpindah keluar perifer daerah makula sehingga daerah tersebut

23
menjadi lebih tebal, menghasilkan gambaran seperti kawah di sekitar fovea

di makula.

Reflek fovea merupakan gambaran oftalmoskopik terakhir yang

matur. Pada sebagian besar bayi, reflek fovea dapat dilihat pada usia

kehamilan 37 minggu dan menjadi matur saat usia gestasi mencapai 42

minggu. Hal ini disebabkan karena adanya penipisan dari lapisan inner dan

outer nuclear fovea, yang menghasilkan konkafitas di bagian tengah

makula.4,5

Bayi baru lahir Orang dewasa

Axial length (mm) 15-17 23-24

Diameter kornea horizontal (mm) 9,5-10,5 12

Radius kurvatura kornea (mm) 6,6-7,4 7,4-8,4

Tabel 1. Perbedaan dimensi pada newborn dan adult


Dikutip dari: AAO 2016-2017 section 15

Penglihatan warna pada waktu lahir juga masih berkembang.

Kemampuan untuk mencocokkan warna terjadi pada usia 2 tahun. Makula

sendiri belum berkembang sempurna saat lahir, perkembangan makula

terjadi selama 4 tahun pertama kehidupan.

Pasca lahir, pertumbuhan dan perkembangan mata juga

memerlukan bayangan visual yang terbentuk jelas untuk dapat tumbuh

dengan baik. Seiring dengan usia mata terus mengalami pertumbuhan

demikian juga dengan perkembangan visus.4,5

24
3.1.2 Proses Emetropisasi

Emetropisasi adalah suatu proses yang terjadi pada bola mata yang

meliputi perubahan secara anatomi maupun fisiologis pada bola mata

menuju mata yang emetrop. Sedangkan proses fisiologis meliputi:

perkembangan tajam penglihatan, pengenalan lingkungan sekitar, gerakan

mata, akomodasi, perkembangan lapang pandang, perkembangan melihat

warna, dan penglihatan binokular. Perkembangan visus yang buruk dapat

dilihat bila bayi kurang respon terhadap wajah atau benda-benda

didekatnya dan apabila terdapat gerakan mata yang menyimpang. 4,5,6

Perkembangan tajam penglihatan mengikuti dari perkembangan dari

retina, khususnya pada daerah makula. Pada saat baru lahir, bayi hanya

melihat bayangan kabur hitam dan putih. Seiring dengan perkembangan

dari makula, tajam penglihatan semakin bertambah. Fiksasi sentral dan

accurate smooth pursuit adalah kejadian klinis yang penting dari

perkembangan visual normal. Bayi baru lahir dapat mempertahankan

kontak mata dengan orang lain. Kebanyakan anak memperlihatkan fiksasi

sentral dan pergerakan mata smooth pursuit yang akurat pada usia 2 – 3

bulan.

Bayi baru lahir lebih cenderung bereaksi pada rangsangan yang

datang dari arah horizontal daripada vertikal, pengenalan rangsangan dari

arah oblik baru muncul saat bayi berusia 2 bulan. Pada orang dewasa,

respon terhadap rangsangan horizontal ataupun vertikal lebih baik

dibandingkan rangsangan dari arah oblik.

25
Gerakan bola mata mencerminkan fungsi okulomotor pada bayi.

Gerakan yang dinilai yaitu gerakan saccadic, smooth pursuit, nistagmus

optokinetik, dan reflek vestibulookular. Saccadic terbagi dua yaitu horizontal

yang sudah muncul sejak lahir, dan vertikal yang baru muncul saat berusia

4-6 minggu (vertikal atas) dan 3 bulan (vertikal bawah). Smooth pursuit baru

muncul saat berusia 6-8 minggu, sedangkan nistagmus optokinetik dan

reflek vestibule-okular sudah muncul pada bayi baru lahir.

Bayi baru lahir belum mampu untuk berakomodasi, akomodasi pada

jarak kurang dari 75 cm baru muncul saat bayi berusia 1 bulan. Pada usia

3 bulan akomodasi muncul pada jarak kurang dari 150 cm. Reflek

akomodasi matur seperti orang dewasa tercapai saat bayi berumur 5-7

bulan.

Perkembangan warna dimulai saat bayi berumur 2 bulan dimana

bayi dapat membedakan 2 warna, saat lahir bayi hanya melihat warna hitam

putih. Pada saat berumur 3 bulan, bayi mulai mengenali 3 warna.

Perkembangan lapang pandang terjadi sampai anak usia 10 tahun.

Pada saat baru lahir, lapang pandang mencapai 28˚ kekiri dan kanan

vertikal, 11˚ keatas, dan 16˚ kebawah garis horizontal. Pada 10 tahun

lapang pandang hampir menyamai ukuran lapang pandang orang dewasa.

Perkembangan visual binokuler terjadi sesuai dengan kemajuan

penglihatan monokuler. Fungsi binokuler dapat dikelompokkan menjadi

tiga, yaitu: fiksasi bivofeal, fusi dan stereopsis.

26
 fiksasi bivofeal: hanya terdapat bila mata dalam keadaan orthoforia

dimana pada bayi muncul saat usia 3-6 bulan.

 fusi: kemampuan sistem visual untuk menggabungkan bayangan

yang dilihat dari kedua mata menjadi satu gambar. Pada bayi,

muncul pada usia 6 bulan.

 stereopsis: kemampuan sistem visual untuk memproses informasi

bayangan menjadi suatu persepsi kedalaman. Dimana muncul saat

usia 3½ - 6 bulan.

3.2 Proses Melihat5,6,7

Gelombang cahaya yang datang dari suatu objek, pertama kali

masuk melalui kornea, kemudian masuk ke pupil, dibiaskan oleh lensa,

kemudian diteruskan melalui vitreus dan difokuskan ke retina, tepat di

fovea. Didalam fovea, gelombang cahaya diterima oleh sel-sel fotoreseptor

yang kemudian mengubah gelombang tersebut menjadi sinyal-sinyal listrik

sehingga bisa diteruskan ke nervus optikus. Sinyal listrik yang terbentuk

dihantarkan oleh nervus optikus, menyilang di kiasma optikus dan

bergabung dengan serabut saraf nervus optikus yang berasal dari mata

sebelahnya sehingga terbentuklah traktus optikus. Traktus optikus

kemudian bersinap di korpus genikulatum lateral. Dari sini, sinyal berjalan

melalui raditio optic atau traktus genikulokalkarina menuju kortek

penglihatan primer yang terletak di lobus oksipital.

27
3.3 Teknik Pemeriksaan Visus Anak5,6,7

Perkembangan visus pada anak dapat diperiksa dengan berbagai

macam cara. Pemeriksaan dapat dibagi menjadi pemeriksaan preverbal

dan verbal. Pada pemeriksaan preverbal, anak tidak perlu berbicara

sehingga tes ini cocok untuk bayi dan balita. Termasuk pada pemeriksaan

ini adalah fix and follow, CSM, OKN test, visual evoked potential,

preferential looking, ivory ball test, dan picture-matching test.

3.3.1 Pemeriksaan preverbal

Perkembangan visus pada bayi dapat diukur dengan berbagai cara.

Fix and follow dan CSM (central, steady, maintain) adalah kedua jenis

pemeriksaan yang paling standar. Central (C) dinilai dari reflek cahaya

kornea berada di tengah pupil, Steady (S) apabila mata mempunyai

kemampuan untuk berfiksasi saat melihat 1 objek (tidak ada nystagmus),

Maintain (M) merupakan penilaian binokuler dimana mata dapat

mempertahankan kedudukannya saat terjadi perubahan dari penglihatan

monokuler menjadi binokuler.

Bayi baru lahir mempunyai respon kedip (blink response) terhadap

satu sumber cahaya terang yang konsisten. Bayi usia dua sampai tiga bulan

mempunyai kemampuan untuk mempertahankan kontak mata pada suatu

objek dan mengikuti objek tersebut (fix and follow). Tes lain yang dapat

digunakan yaitu preferential looking (PL) dengan menggunakan teller acuity

cards dan Visual evoked potentials (VEP).

28
Gambar 1. Preferential looking test dan teller acuity cards
Dikutip dari: AAO 2011-2012 section 6

Pemeriksaan preferential looking menggunakan teller acuity cards

atau Cardiff acuity cards. Pemeriksa bersembunyi dibelakang kartu dan

mengamati tingkah laku anak melalui sebuah lubang kecil ditengah kartu.

Jika anak merespon dengan mengalihkan matanya atau memutar

kepalanya kearah target yang bergaris, maka respon ini diinterpretasikan

sebagai kemampuan anak untuk melihat target. Kemudian pemeriksa

menggantikan target dengan kisi – kisi yang lebih kecil sampai pemeriksa

yakin tidak lagi mendapatkan respon yang berbeda dengan target yang

polos. Pemeriksaan ini dapat menilai tajam penglihatan tanpa

membutuhkan respon verbal, membutuhkan waktu kurang lebih lima

sampai sepuluh menit.5,6,7

3.3.2 Pemeriksaan verbal

Pada anak yang bisa berbicara, dapat menggunakan teknik

optotype-naming test. Teknik ini biasanya digunakan pada anak lebih dari

3 tahun, karena diasumsikan pada umur diatas 3 tahun anak sudah dapat

29
mengenal nama benda. Pemeriksaan dapat menggunakan picture allen

chart, landolt ring test, dan the tumbling E chart.

Gambar 2. Picture allen chart, Tumbling E chart, landolt C ring chart


Dikutip dari: Ophthalmology investigation and examination techniques

3.4 Ambliopia

3.4.1 Definisi

Ambliopia adalah berkurangnya ketajaman penglihatan pada satu

atau kedua mata walaupun sudah dengan koreksi refraksi terbaik tanpa

ditemukan kelainan struktur pada mata maupun jaras penglihatan posterior.

Ambliopia disebabkan oleh pengalaman penglihatan yang abnormal pada

awal kehidupan yang dapat disebabkan karena strabismus, kelainan

refraksi antar kedua mata yang jauh (anisometropia) atau kelainan refraksi

antara kedua mata yang tinggi (isometropia), atau kekurangan stimulus

penglihatan. Ambliopia berasal dari bahasa Yunani yang berarti amblyos

(tumpul) dan opia (penglihatan), dikenal juga dengan sebutan lazy eyes

atau mata malas. Secara umum dikatakan ambliopia bila penurunan tajam

penglihatan terjadi sebesar dua baris atau lebih pada chart pemeriksaan.6,8

30
Pada ambliopia unilateral adanya perbedaan visus kedua mata

mengakibatkan gangguan fusi, sehingga orang tersebut akan

menggunakan mata yang lebih baik. Pada keadaan seperti ini terjadi

gangguan penglihatan binokular. Gangguan penglihatan binokular ini

diakibatkan oleh ketidaksamaan rangsangan untuk penglihatan

stereoskopik dan dapat menyebabkan anisometropia ambliopia. 3,6,8

3.4.2 Etiologi

Sistem penglihatan membutuhkan pengalaman melihat dan

terutama interaksi kompetitif antar jalur penglihatan di kedua mata pada

visual korteks untuk berkembang hingga dewasa. Sejak usia bayi manusia

melatih bagaimana menggunakan mata dengan fokus dan bagaimana cara

menggunakan mata secara bersamaan. Pada perkembangan mata

terdapat periode kritis yang peka dalam berkembangnya keadaan

ambliopia. Periode ini peka terhadap rangsangan abnormal yang

disebabkan oleh rangsangan deprivasi, strabismus atau kelainan refraksi

yang signifikan. Periode kritis pada perkembangan mata dimulai saat

perkembangan tajam penglihatan dari 20/200 (6/60) hingga 20/20 (6/6)

yaitu pada saat lahir hingga usia 3 – 6 tahun.3,6,8

Secara umum ambliopia disebabkan karena stimulasi fovea retina

perifer yang tidak adekuat atau interaksi binokular abnormal yang

menyebabkan perbedaan input visual dari fovea. Ambliopia bilateral dapat

disebabkan karena kekeruhan media refraksi bilateral seperti kekeruhan

kornea, katarak infantil atau perdarahan vitreous. Ambliopia bilateral juga

31
dapat disebabkan oleh astigmat, hipermetropia atau miopia tinggi yang

terjadi pada kedua mata. Pada ambliopia unilateral disebabkan oleh

gangguan yang sama pada ambliopia bilateral namun hanya terjadi pada

satu mata. Penyebab lain pada ambliopia unilateral ialah strabismus dan

anisometropia atau kombinasi keduanya. Derajat keparahan tergantung

dari beratnya kekeruhan media refraksi, jangka waktu terpapar dan usia

saat mulai terkena penyakit. Kedudukan bola mata yang tidak seimbang

menyebabkan gangguan fusi sehingga fungsi binokular mata

menghilang.6,8

Mekanisme neurofisiologi penyebab ambliopia masih belum jelas,

gangguan sistem penglihatan yang diakibatkan pengalaman melihat

abnormal dini dapat menyebabkan sel pada korteks visual primer dapat

kehilangan kemampuan dalam menanggapi rangsangan pada satu atau

kedua mata, dan sel yang masih responsif akhirnya fungsinya dapat

menurun. Kelainan juga dapat terjadi pada neuron badan genikulatum

lateral, akibat kurangnya rangsangan visual sehingga menyebabkan proses

pembentukan penglihatan terganggu.

Stimulasi visual yang abnormal saat periode kritis perkembangan

mata menyebabkan kerusakan otak. Struktur dan fungsi pada nukleus

lateral genikulatum dan striata korteks dari pusat penglihatan di lobus

oksipital dalam bentuk atrofi koneksi antar sel, hilangnya hubungan silang

antara koneksi sel-sel saraf.

32
Penglihatan yang baik harus jernih, bayangan terfokus pada kedua

mata. Bila bayangan kabur pada satu mata atau bayangan tersebut tidak

sama pada kedua mata, maka jaras penglihatan tidak dapat berkembang

dengan baik. Bila hal ini terjadi otak akan mematikan mata yang tidak fokus

dan orang tersebut akan bergantung pada satu mata untuk melihat. Otak

akan menekan satu mata untuk menghindari penglihatan kembar.6,8

Segala sesuatu yg mengganggu penglihatan pada mata selama

periode kritis dapat menyebabkan ambliopia. Penyebab ambliopia yang

paling sering adalah:

1. Adanya perbedaan refraksi antara kedua mata yaitu satu mata

normal dan tidak membutuhkan lensa koreksi sementara mata yang

lain menderita myopia atau hipermetropia tinggi. Kondisi ini disebut

anisometropia. Konsekuensi dari kondisi ini, mata yang

membutuhkan lensa koreksi akan memproyeksikan gambaran yang

kabur ke retina dan otak akan menerima gambaran yang kabur

tersebut dari retina. Otak kemudian menurunkan fungsi mata yang

kabur, kemudian menjadi ambliopia. Kondisi ini disebut ambliopia

refraktif. Ambliopia anisometropia ini jarang terdeteksi, karena anak

tampaknya normal. Terapi biasanya terlambat karena orang tua

jarang mengetahui anaknya menderita ambliopia dan tidak

memeriksa anaknya secara berkala.

2. Terdapat perbedaan kedudukan antara kedua mata. Kondisi ini

disebut strabismus. Bila kedua mata tidak sejajar, otak akan

33
menerima dua gambaran yang berbeda dari kedua mata dan untuk

mengoreksi penglihatan kembar ini (diplopia) otak akan menekan

salah satu gambaran untuk memperoleh penglihatan tunggal.

Penekanan ini akan menyebabkan penurunan penglihatan dan

mengakibatkan terjadinya ambliopia.

3. Adanya ambliopia deprivasi, ketika kedua mata menerima informasi

atau gambar yang berbeda maka kemungkinan terjadinya ambliopia

besar. Contohnya bila seorang anak lahir dengan katarak maka

hanya satu mata yang menerima gambaran yang jernih dan mata

dengan katarak menerima gambaran yang kabur, sehingga mata

yang katarak akan menjadi ambliopia.

3.4.3 Klasifikasi3,6,8

Klasifiksasi ambliopia dapat dibagi dalam beberapa bagian sesuai

dengan gangguan atau kelainan yang menjadi penyebabnya.

1. Ambliopia Strabismik

Ambliopia dapat terjadi pada pasien-pasien dengan tropia

konstan yang menunjukkan adanya kecenderungan fiksasi kuat

pada satu mata dan penghambatan konstan aktivitas kortikal dari

mata yang terdeviasi. Pasien-pasien dengan strabismus yang

cenderung melakukan fiksasi yang bergantian tidak mengalami

supresi dan ambliopia, tetapi mereka memiliki fungsi binokular

abnormal.

34
Mekanisme dari terjadinya ambliopia strabismik adalah

karena penghambatan kortikal konstan yang merusak koneksi

neuronal pada mata yang terdeviasi. Ambliopia strabismik terjadi

pada sekitar 50% pasien dengan esotropia kongenital (tropia

konstan).

2. Ambliopia anisometropik

Merupakan ambliopia terbanyak kedua setelah ambliopia

strabismik. Kebanyakan pasien dengan ambliopia anisometropik

memiliki mata yang lurus dan terlihat normal, yang membuat satu-

satunya jalan mengidentifikasi kelainan pada pasien ini adalah

dengan screening penglihatan.

Ambliopia ini terjadi karena adanya perbedaan refraksi antara

kedua mata yang menyebabkan lama kelamaan bayangan pada

satu retina tidak fokus. Jika bayangan difovea pada kedua mata

berlainan bentuk dan ukuran yang disebabkan karena kelainan

refraksi yang tidak sama antara kiri dan kanan maka terjadi rintangan

untuk fusi. Fovea mata yang lebih ametropik akan menghalangi

pembentukan bayangan. Kondisi ini diperkirakan sebagian akibat

efek langsung dari bayangan kabur pada perkembangan tajam

penglihatan pada mata yang terlibat, dan sebagian lagi akibat

kompetisi interokular atau inhibisi yang serupa dengan yang terjadi

pada ambliopia strabismik.

35
Derajat ringan anisometropia hiperopia atau astigmatisma (1-

2 D) dapat menyebabkan ambliopia ringan. Miopia anisometropia

ringan (< -3 D) biasanya tidak menyebabkan ambliopia, tapi myopia

tinggi unilateral (-6 D) sering menyebabkan ambliopia berat.

3. Ambliopia Isometropia

Ambliopia isometropia terjadi akibat kelainan refraksi tinggi yang

tidak dikoreksi, yang ukurannya hampir sama pada kedua mata.

Walaupun telah dikoreksi dengan baik tidak akan langsung

memberikan hasil penglihatan normal. Tajam penglihatan membaik

sesudah koreksi lensa dipakai pada suatu periode waktu (beberapa

bulan). Khas untuk ambliopia tipe ini yaitu hilangnya penglihatan

ringan dapat diatasi dengan terapi penglihatan, karena interaksi

abnormal binokular bukan merupakan faktor penyebab.

Mekanismenya karena akibat bayangan retina yang kabur. Pada

ambliopia isometropia bayangan retina (dengan atau tanpa koreksi

lensa) sama halnya kejelasan/kejernihan dan ukuran.

4. Ambliopia Deprivasi

Ambliopia deprivasi atau istilah lama ambliopia ex anopsia

atau disuse ambliopia merupakan ambliopia yang disebabkan

kekeruhan media kongenital atau dini yang menyebabkan terjadinya

penurunan pembentukan bayangan yang akhirnya menimbulkan

ambliopia.

36
Ambliopia deprivasi ini sedikit kita jumpai namun merupakan

yang paling parah dan sulit diperbaiki. Ambliopia bentuk ini lebih

parah pada kasus unilateral dibanding bilateral dengan kekeruhan

identik.

Ambliopia oklusi adalah bentuk ambliopia deprivasi yang

disebabkan karena penggunaan patch (penutup mata) yang

berlebihan. Pernah dilaporkan ambliopia berat dapat terjadi setelah

satu minggu penggunaan patching unilateral pada anak usia < 2

tahun sesudah menjalani operasi ringan pada kelopak mata.

3.4.4 Gejala Klinis

Pada kasus ambliopia gejala yang muncul bisa tidak terasa karena

terkompensasi oleh mata yang sehat. Namun ada beberapa gejala yang

dapat kita perhatikan seperti gejala dan tanda klinis berikut ini:

 Pandangan mata kabur

 Pusing (dizziness).

 Mata terlihat juling sebelah.

 Tidak bisa mengukur jarak.

 Gerakan kedua mata yang tidak sinkron.

 Sering memicingkan atau memejamkan sebelah mata.

Pasien biasanya baru mengetahui ada kelainan saat screening mata

di fasilitas kesehatan. Gejala pada ambliopia bilateral berbeda dengan

37
unilateral, pada bilateral gejala pandangan mata kabur dirasakan pada

kedua mata, biasanya terdeteksi saat awal usia sekolah.7,8

3.4.5 Diagnosis

Ambliopia dapat didiagnosis bila terdapat penurunan visus yang

tidak dapat dikoreksi dan tidak ada kelainan patologis yang mendasarinya,

dimana hal tersebut ada kaitan dengan riwayat atau kondisi yang dapat

menyebabkan ambliopia.

Pada pemeriksaan tajam penglihatan penderita ambliopia sulit untuk

mengidentifikasi huruf yang tersusun linear (sebaris) dibandingkan dengan

huruf yang terisolasi, maka dapat kita lakukan dengan meletakkan balok

disekitar huruf tunggal hal ini dikenal dengan pemeriksaan crowding

phenomenon. Untuk kepentingan praktis, ambliopia ditegakkan apabila

terdapat paling tidak perbedaan 2 garis Snellen pada pemeriksaan tajam

penglihatan pada mata, tetapi ambliopia sejatinya merupakan hilangnya

spektrum visual, dari tidak terlihatnya beberapa huruf pada garis snellen

sampai penglihatan terhadap gerakan tangan.7,8

Derajat ambliopia dapat dibagi dalam beberapa tingkat:

 Ambliopia ringan : visus 0,6 atau lebih

 Ambliopia sedang : visus 0,2-0,6

 Ambliopia berat : visus 0,1-0,2

3.4.6 Penatalaksanaan

38
Ambliopia lebih sering terjadi pada satu mata, maka banyak anak-

anak dan orang tua yang tidak sadar terhadap kondisi ini. Banyak anak

yang tidak terdiagnosis sampai dilakukan pemeriksaan mata pada usia

yang lebih lanjut. Untuk itu pemeriksaan mata yang lengkap dan

menyeluruh sangat direkomendasikan untuk balita dan anak- anak usia pra

sekolah.

Ambliopia pada kebanyakan kasus dapat ditatalaksana dengan

efektif selama satu dekade pertama. Lebih cepat tindakan terapeutik

dilakukan maka akan semakin besar pula peluang keberhasilannya.

National Screening Commitee di Inggris menyarankan anak usia 4 – 5 tahun

merupakan usia terbaik untuk dilakukan screening penglihatan, karena saat

usia tersebut anak dapat kooperasi dengan pemeriksaan.9

Dasar- dasar terapi amblyopia adalah:

1. Koreksi terhadap kelainan refraksi

Koreksi terhadap kelainan refraksi dapat dilakukan secara objektif

dan subjektif. Pemeriksaan refraksi secara objektif dengan

refraktometer dan streak retinoskopi merupakan pemeriksaan yang

dilakukan. Koreksi diberikan secara penuh dan kacamata harus

dipakai sepanjang hari.

2. Menjernihkan media optik

Katarak kongenital harus segera dioperasi, terutama katarak yang

sangat padat. Operasi harus dilakukan pada minggu-minggu

39
pertama. Beller dkk melaporkan 8 kasus neonatus dengan katarak

congenital monocular yang mengalami operasi pada usia kurang 6

minggu (diantaranya ada yang berumur 3-10 tahun). Paska bedah

hari ke 4 diberi lensa kontak S+26 sampai 30 D dan oklusi tidak

penuh mata sebelah. Sesudah jangka waktu 2.8 tahun dari 8 nak

tersebut dilaporkan bahwa 5 anak dapat mencapai visus >20/30 =0.7

dan 3 anak mencapai visus > 20/80=0,25.

3. Meluruskan posisi bola mata sebaik mungkin, bisa dengan tehnik

pembedahan.

4. Menggunakan cara atau teknik yang memaksa penderita melihat

dengan mata ambliopia. Ada beberapa cara yang dapat digunakan

seperti terapi oklusi, penalisasi dan CAM vision stimulator.8,9,10

3.4.7 Komplikasi

Terapi ambliopia yang agresif pada pasien usia muda bisa

menyebabkan reverse amblyopia pada mata yang sehat. Dekompensasi

strabismus sebelumnya juga dapat muncul kembali. Penutup mata dapat

menyebabkan iritasi pada kulit dan kulit yang tertutupi bisa menjadi

hipopigmen dibandingkan dengan kulit bagian lain. Pada penggunaan tetes

mata atropine dapat menimbulkan peningkatan denyut jantung dan

fotofobia. Reverse Amblyopia juga dapat terjadi pada penggunaan atropin

begitu juga dengan timbulnya mata strabismus. Kasus reverse amblyopia

40
jarang dan biasanya dalam derajat yang ringan, sebagian besar komplikasi

menghilang dengan pemberhentian terapinya.

3.4.8 Prognosis

Prognosis ambliopia ditentukan dari umur pasien, tingkat keparahan

ambliopia dan jenis dari ambliopia.

 Umur pasien: Semakin muda usia anak menderita ambliopia maka

akan semakin parah ambliopia tersebut dan semakin cepat

ambliopia diketahui dan diterapi maka akan semakin cepat

pemulihan penglihatan pada anak tersebut. Bila penatalaksanaan

dimulai sebelum usia 5 tahun, visus normal bisa dapat tercapai.

Biasanya dibutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyembuhkan

penderita ambliopia yang berumur 6 bulan, tapi akan membutuhkan

waktu satu tahun atau lebih untuk terapi pada anak berumur 6 tahun.

Jadi semakin lama penundaan terapi ambliopia maka ambliopia

akan semakin parah dan semakin sulit untuk disembuhkan.

 Tingkat keparahan ambliopia: semakin bagus tajam penglihatan

awal pada mata ambliopia, maka prognosisnya semakin baik.

 Jenis ambliopia: Pasien dengan anisometropia tinggi memiliki

prognosis yang buruk. Sementara pasien dengan ambliopia

strabismik memiliki prognosis yang baik.3,6,8

3.4.9 Kekambuhan (Rekurensi)

41
Bila penatalaksanaan ambliopia dihentikan setelah perbaikan penuh

atau masih sebagian tercapai, sekitar 50% akan mengalami kekambuhan

yang dapat disembuhkan lagi dengan usaha terapeutik baru.8

3.5 Kacamata

Kacamata adalah alat bantu koreksi kelainan refraksi sederhana

yang menggunakan sepasang lensa yang dipasang pada bingkainya.

Kegunaan kacamata ialah mengembalikan titik fokus cahaya agar tepat

pada retina sehingga bayangan yang dihasilkan oleh mata terlihat jelas.

Kacamata yang baik harus memiliki beberapa faktor yang tercapai

seperti:11,12

1. Memberikan tajam penglihatan yang baik

2. Penglihatan yang dinamis

3. Penglihatan binokular

4. Penggunaan yang ergonomis

Kacamata pada kasus ambliopia merupakan pilihan terapi awal, baik

untuk kasus ambliopia unilateral maupun ambliopia bilateral. Kacamata

merupakan terapi non invasif yang umum digunakan karena sifatnya yang

mudah digunakan. Kacamata dapat digunakan oleh segala usia, baik balita

maupun orang lanjut usia. Penggunaan kacamata juga dapat membuat

seseorang lebih menarik dalam penampilan.

Terapi awal ambliopia menggunakan kacamata bertujuan untuk

memberikan gambaran yang jernih pada retina sehingga dapat

42
menstimulasi saraf mata. Kacamata dapat mengembalikan sinar jatuh tepat

pada retina untuk diteruskan ke otak. Bagian dari kacamata yang berfungsi

utama mengembalikan titik jatuh sinar ialah lensa. Lensa kacamata kita

kenal dalam berbagai jenis antara lain, lensa spheris, cylindris,

spherocilindris, addisi dan progressif.11,12

Lensa kacamata mempunyai beberapa bentuk seperti lensa cekung

dan lensa cembung. Lensa cekung mempunyai efek menyebarkan cahaya

sehingga dapat memanjangkan sinar yang jatuh di depan retina agar jatuh

tepat pada retina. Lensa cembung sebaliknya, bekerja dengan

mengumpulkan sinar dan menarik sinar yang jauh di belakang retina untuk

jatuh tepat pada retina.

Gambar 3. Koreksi miopia menggunakan lensa konkaf. Dikutip dari: Hall


John E. Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 13th Edition.

Kacamata merupakan alat bantu refraksi yang didesain sedemikian

rupa sesuai dengan fungsinya. Berikut struktur kacamata dan fungsinya

masing-masing:

1. Frame, bagian paling besar dari kacamata yang berfungsi untuk

menjepit lensa dan sebagai nosepad untuk yang tipe tanpa nosepad.

43
2. End Pieces, bagian kacamata untuk menghubungkan bagian frame

depan dengan tangkai.

3. Bridge, penghubung antar bagian bingkai lensa atau frame kacamata

4. Engsel, bagian kacamata untuk melipat tangkai, terbagi 2 jenis yang

menggunakan per dan tanpa per. Kelebihan menggunakan per bisa

menyesuaikan ukuran wajah karena bisa melebar.

5. Lensa, bagian terpenting dari kacamata yang berfungsi sebagai alat

koreksi kelainan refraksi mata.

6. Nosepad, berfungsi untuk penopang frame kacamata di hidung.

Beberapa tipe nosepad fleksibel sehingga bisa menyesuaikan bentuk

hidung.

7. Nosepad Arm, berfungsi untuk bracket atau dudukan nosepad. Di

bagian ujung terdapat lubang untuk pengait nosepad.

8. Tangkai, berfungsi untuk menopang kacamata di bagian telinga.

Terdapat beberapa jenis tipe tangkai seperti bentuk lurus, bengkok di

ujung dan ada yang menggunakan strap tali elastis. Bentuk lurus

mengesankan sporty bagi penggunanya biasanya di gunakan untuk

keperluan santai atau olahraga karena mudah untuk melepasnya.

Bentuk bengkok ini biasanya digunakan untuk kepentingan resmi

seperti bekerja karena lebih aman dan tidak mudah lepas saat di

gunakan bekerja. Tali strap biasanya digunakan untuk kegiatan yang

lebih berat agar tidak mudah lepas saat digunakan.

44
9. Ear Pieces, lapisan ujung tangkai kacamata yang berfungsi untuk

memberikan kenyamanan pemakai saat di gunakan, biasanya terbuat

dari bahan karet atau silicon.12,13,14

Gambar 4. Komponen frame kacamata. Diunduh dari www.selectspecs.com


pada tanggal 15 Agustus 2018

Pada beberapa penelitian diketahui penggunaan kacamata dalam

jangka waktu periode tertentu dapat mengembalikan visus pasien ambliopia

menjadi normal.

Langkah pertama mengkoreksi kelainan refraksi ialah dengan

memberikan resep kacamata. Kacamata dapat digunakan pada kelainan

refraksi yang berbeda pada dua mata atau anisometropia. Fase pertama ini

disebut juga dengan terapi optikal atau adaptasi refraksi. Tajam penglihatan

dapat meningkat dalam beberapa bulan awal penggunaan, dengan

peningkatan tertinggi pada minggu-minggu awal penggunaan. Evaluasi

45
dilakukan dalam rentang waktu 4 minggu untuk menilai kemajuan dalam

tajam penglihatan atau menilai apakah terjadi komplikasi seperti reverse

amblyopia.9,11,13

Terapi sekunder dimulai saat tajam penglihatan pada mata pasien

tidak bertambah dan penggunaan kacamata tidak berpengaruh lagi dengan

kemajuan visus. Dikatakan gagal apabila tajam penglihatan berbeda 0.20

LogMAR atau lebih dengan mata yang sehat atau dengan visus normal

yang seharusnya dicapai pada usianya. Terapi oklusi (patching) atau

dengan pengaburan dengan obat dapat menjadi pilihan. Lamanya oklusi

dapat tergantung dari derajat keparahan ambliopia, 2 jam pada ambliopia

sedang dan 6 jam pada ambliopia berat. Terapi dengan obat dapat

menggunakan atropin 1% seminggu 2 kali sebagai pilihan lain selain

patching. Terapi juga di evaluasi setiap interval 4 hingga 12 minggu.9,10,11

46
BAB IV

DISKUSI

Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dan seorang anak laki-

laki berusia 9 tahun yang beralamat di dalam kota Palembang datang

berobat ke poli mata subdivisi refraksi RSMH setelah mendapat rujukan dari

rumah sakit lain sebelumnya. Pasien pertama dari anamnesa didapatkan

keluhan pandangan kedua mata kabur sejak mulai bersekolah. Pasien

kedua dari anamnesa didapatkan pandangan kedua mata kabur yang

dirasakan setelah pasien berganti posisi tempat duduk di sekolah. Kedua

pasien mengeluhkan kesulitan membaca tulisan di papan tulis sekolah dan

sering memicingkan kedua mata jika melihat benda pada jarak jauh.

Pasien pertama pada pemeriksaan status oftalmologikus didapatkan

visus mata kanan 6/30 ph 6/12. Koreksi terbaik dengan lensa S-1.00 C-2.75

α 1800 didapatkan visus 6/12 dengan crowding test didapatkan 6/9 false 2.

Pada mata kiri didapatkan visus 6/30 ph 6/15. Koreksi terbaik dengan lensa

S-1.00 C-3.50 α 1800 didapatkan visus 6/15 dengan crowding test

didapatkan 6/12 false 2. Pada koreksi binokular didapatkan visus 6/12 false

2. Pada segmen posterior didapatkan papil tampak lonjong, tidak ditemukan

kelainan pada makula dan retina.

Pasien kedua pada pemeriksaan status oftalmologikus didapatkan

visus mata kanan 6/21 pinhole 6/12 false 2 dengan koreksi terbaik C-2.50

α 1800 didapatkan visus 6/12 false 2, dilakukan crowding test visus maju

47
menjadi 6/12. Pada mata kiri didapatkan visus 6/30 pinhole 6/12 false 2

dengan koreksi terbaik C-4.00 α 1800 didapatkan visus 6/12 false 2

dilakukan crowding test visus maju menjadi 6/12. Pada koreksi binokular

didapatkan visus 6/12 false 2. Pada segmen posterior didapatkan papil

tampak lonjong, tidak ditemukan kelainan pada makula dan retina.

Pemeriksaan worth four dot test pada kedua pasien didapatkan hasil

fusi kedua mata baik dan pada pemeriksaan cover tes tidak ditemukan

shifting pada kedua mata sehingga dapat kita singkirkan kemungkinan

penyebab ambliopia akibat strabismus. Pada pemeriksaan oftalmologikus,

kelopak mata atas dan bawah kedua pasien tidak ditemukan kelainan,

segmen anterior dan segmen posterior kedua mata tidak ditemukan adanya

kelainan sehingga ambliopia deprivasi dapat disingkirkan. Pada

pemeriksaan tajam penglihatan, kedua pasien tidak mencapai visus terbaik

dan dengan crowding tes didapatkan hasil positif yang menandakan

kemungkinan ambliopia.

Pada pasien pertama ditemukan kelainan refraksi astigmat miopia

kompositus moderate ODS sehingga dicurigai penyebab ambliopia pada

pasien ini ialah karena kelainan refraksi pada kedua mata. Usia pasien saat

dilakukan pemeriksaan adalah 5 tahun dimana tajam penglihatan pasien

seharusnya sudah mencapai 6/6 namun pada pasien ini hanya dapat tajam

penglihatan terbaik 6/12 setelah koreksi. Pasien diberikan terapi kacamata,

tetes mata dan vitamin. Pada follow up 4 minggu kemudian, didapatkan

perbaikan visus binokular dengan kacamata menjadi 6/9 false 2. Hal ini

48
merupakan suatu keberhasilan terapi dikarenakan terjadinya perbaikan

visus.

Pada pasien kedua ditemukan kelainan refraksi astigmat simpleks

moderate ODS. Pada pemeriksaan visus didapatkan tajam penglihatan

terbaik setelah koreksi dengan kacamata 6/12 false 2 yang dimana

seharusnya tajam penglihatannya sudah 6/6. Pasien diberikan terapi

kacamata, tetes mata dan vitamin. Pada follow up 4 minggu kemudian,

didapatkan perbaikan visus binokular dengan kacamata menjadi 6/9 false

2. Terapi berhasil dan diteruskan penggunaan kacamatanya.

Langkah pertama terapi pada pasien ambliopia ialah dengan

memberikan gambaran yang jernih pada retina. Pasien pertama dikoreksi

dengan kacamata lensa spherocylindris dan pasien kedua diberikan terapi

kacamata cylindris untuk koreksi kelainan refraksinya. Penggunaan

kacamata merupakan terapi utama pada penanganan kasus ambliopia

bilateral. Penggunaan kacamata diharapkan dapat menstimulasi sel-sel

saraf penglihatan sehingga tercipta stimulasi visual pada otak dan dapat

meningkatkan tajam penglihatan. Terapi dengan menggunakan kacamata

banyak digunakan karena mudah didapat dan dari segi ekonomi terjangkau.

Pada literatur dijelaskan bahwa penggunaan kacamata dapat

meningkatkan tajam penglihatan pasien ambliopia, rentang waktu

perbaikan yang dibutuhkan sekitar 1 tahun. Kemajuan visus dapat

meningkat hingga 2 baris snellen bahkan bisa mencapai visus terbaik yaitu

6/6 jika diterapi sejak usia dini. Tatalaksana ambliopia yang terpenting ialah

49
deteksi dan koreksi sedini mungkin sehingga prognosis baik. Usia diatas 9

tahun lebih sulit untuk mencapai tajam penglihatan terbaik karena sudah

melewati fase perkembangan mata. Perbaikan pada usia 9 tahun ke atas

masih dapat terjadi namun cenderung membutuhkan waktu yang lebih

lama. Jika terapi dengan kacamata belum memberikan hasil yang positif

dapat dipikirkan terapi lain seperti terapi oklusi. Terapi oklusi diberikan

apabila terapi kacamata pada bilateral ambliopia tidak berhasil seperti

perbaikan visus hanya terjadi pada satu mata, sehingga mata yang sehat

diberikan oklusi untuk memaksa mata ambliopnya.

Kedua pasien ditambahkan obat tetes mata untuk mengurangi

keluhan mata lelah dan diberikan multivitamin yang dapat memberikan

nutrisi untuk mata sehingga diharapkan kondisi mata dalam keadaan yang

baik selama terapi dengan kacamata.

Prognosis quo ad vitam pada pasien ini bonam karena tidak

mengancam nyawa, quo ad fungsionam dan sanactionam pada pasien ini

adalah bonam selama pemakaian kacamata sesuai maka dapat

memperbaiki tajam penglihatannya.

50
BAB V

KESIMPULAN

Ambliopia harus dideteksi secara dini dan diintervensi secara tepat.

Penatalaksanaan ambliopia dapat dilakukan dengan berbagai macam cara,

salah satunya ialah koreksi refraksi dengan penggunaan kacamata.

Kacamata terbukti memberikan perbaikan visus pada mata pasien

ambliopia. Terapi lain yang dapat dilakukan jika kacamata belum berhasil

bisa dengan terapi oklusi yaitu dengan menutup mata yang sehat untuk

merangsang mata yang ambliopia. Metode terapi oklusi memiliki kelebihan

dan kekurangan, kepatuhan penderita merupakan salah satu faktor penting

yang menentukan kesuksesan terapi ambliopia.

51
DAFTAR PUSTAKA

1. Huang D, et al. Prevalence of amblyopia and its association with

refraction in chinese preschool children aged 36 – 48 months. Br J

Ophthalmol. 2018

2. Darusman Kianti R. Amblyopia risk factors findings in preschool

children in Jakarta, Indonesia using the Plusoptix pediatric

autorefractor A09. Department of Ophthalmology Eka Hospital.

Jakarta.

3. Darron A. Bacal. Amblyopia. American Academy Of

Ophthalmology. EyeWiki. 2014

4. Khusner BJ. Pediatric Ophthalmology and Strabismus in: American

Academy of Ophthalmology. Section 6, 2016-2017

5. Adams, Daniel L. Pediatric Ophthalmology and strabismus. 3rd

edition. 2005. Elsevier saunders

6. Riordan-Eva P, Witcher John P. Vaughan  Asbury’s General

Ophthalmology 17th edition. McGraw and Hill. 2008

7. Jones KL, Jones MC, del Campo M. Growth and development of

the eye. American Academy of Ophthalmology Pediatric

Ophthalmology and Strabismus. Chapter 15.

8. Miller JM, Lessin HR. Pediatric Ophthalmology and Strabismus in:

American Academy of Ophthalmology. Chapter 4 – Amblyopia.

2016-2017

52
9. Vijay Tailor, Manuela Bossi. Childhood amblyopia: current

management and new trends. British Medical Bulletin Advance

Access published August 19, 2016.

10. David K. Wallace, Danielle L. Chandler. Treatment of Bilateral

Refractive Amblyopia in Children Three to Less Than 10 Years of

Age. Elsevier inc. 2007.

11. Benjamin W. Borish’s Clinical Refraction 2nd Ed. Missouri. Elsevier.

2006

12. Kolker Richard J. MD. Subjective Refraction and Prescribing

Glasses. November 2014.

13. Hall John E. Guyton And Hall Textbook Of Medical Physiology

Thirteenth Edition. 2016.

14. Frame Measurements. www.selectspecs.com. Diunduh pada

tanggal 15 Agustus 2018.

53