Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Deskripsi Kabupaten Simeulue


Kabupaten Simeulue adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Berada
kurang lebih 150 km dari lepas pantai barat Aceh, Kabupaten Simeulue berdiri tegar
di Samudera Indonesia. Kabupaten Simeulue merupakan pemekaran dari Kabupaten
Aceh Barat sejak tahun 1999, dengan harapan pembangunan semakin ditingkatkan di
kawasan ini.
Kabupaten Simeulue dibagi menjadi 10 kecamatan yaitu:
1. Alafan
2. Salang
3. Simeulue Barat
4. Simeulue Tengah
5. Simeulue Timur
6. Simeulue Cut
7. Teupah Barat
8. Teupah Tengah
9. Teupah Selatan
10.Teluk Dalam
Ibukota Kabupaten Simeulue adalah Sinabang, kalau diucapkan dengan logat
daerah adalah Si navang yang berasal dari legenda Navang. Navang adalah si
pembuat garam masa dulu di daerah Babang (pintu masuk teluk Sinabang. Dulunya
Navang membuat garam dengan membendung air laut yang masuk ke pantai Babang,
kemudian dikeringkan lalu menjadilah garam. Garam Navang lambat laun menjadi
dikenal di sekitar Ujung Panarusan sampai ke Lugu. Jika penduduk membutuhkan
garam, maka mereka akan menuju si Navang, yang lambat laun konsonan 'V' pada
Navang berubah menjadi Nabang. Sementara Sibigo ibukota kecamatan Simeulue
Barat berasal dari kata/kalimat CV dan Co karena masa-masa penjajahan dulu,
Sibigo adalah lokasi perusahaan pengolahan kayu Rasak - sejenis kayu sangat keras
setara dengan Jati - yang dikirim ke Belanda via laut.

3
Peningkatan status Simeulue menjadi Kabupaten telah dirintis sejak lama dan
lahir dari keinginan luhur masyarakat Simeulue sendiri yaitu melalui prakarsa
sejumlah tokoh dan segenap komponen masyarakat. Tonggak sejarah perjuangan ini
dimulai sejak Kongres Rakjat Simeulue yang sedianya dilaksanakan pada tahun
1956, namun terkendala saat itu dan baru dilaksanakan pada tahun 1957. Salah satu
bukti sejarah yang masih ada saat ini adalah dokumen Hasil Putusan Kongres Rakjat
Kewedanaan Simeulue (Dok Rasmal Kahar) dan sebuah spanduk usang pelaksanaan
kongres tersebut yang telah lusuh dimakan usia. Saat itu Gubernur Aceh, Prof. Ali
Hasjmi melakukan kunjungan ke Simeulue pada tahun 1957 sebagai wujud
dukungan beliau terhadap isi pernyataan Kongres Rakjat Simeulue dalam upaya
peningkatan status Simeulue.
Kemudian pada tahun 1963 kembali diadakan musyawarah Luan Balu dan
dilanjutkan Musyawarah Rakyat Simeulue dan tahun 1980, dimana hasil semua
pertemuan tersebut hanya ada satu kata dan satu tekad bahwa Simeulue harus
berubah status menjadi Kabupaten Otonom. Seiring dengan perjalanan waktu,
perjuangan tetap diteruskan oleh tokoh-tokoh masyarakat Simeulue, sehingga atas
perjuangan yang begitu gigih dan tak kenal lelah tersebut, kita memperoleh
dukungan dari berbagai pihak yaitu dari DPRD Tingkat I Aceh dan DPRD Tingkat II
Aceh Barat.
Perkembangan selanjutnya setelah Drs. H. Muhammad Amin dilantik
menjadi Pembantu Bupati Simeulue, upaya ini terus digulirkan dengan sungguh-
sungguh dan terbukti pada tahun 1995 Gubernur Aceh menurunkan tim
pemutakhiran data ke Simeulue yang diikuti dengan kedatangan Dirjen Bangda ke
Simeulue pada tanggal 12 Desember 1995.
Sebagai akhir dari perjalanan ini, yaitu dengan datangnya Dirjen PUOD,
DPODS, dan Komisi II DPR-RI pada tanggal 30 Maret 1996 dan mengadakan rapat
umum di depan pendopo Pembantu Bupati Simeulue. Dimana pada saat itu, J.
Sondakh selaku Ketua Komisi II DPR-RI mengatakan rapat hari ini seakan-akan
sidang DPR-RI di luar gedung karena lengkap dihadiri oleh empat fraksi yaitu:
Fraksi Golkar, PPP, PDI dan Fraksi Utusan Daerah dan beliau berjanji dalam waktu
tidak begitu lama Simeulue akan ditingkatkan statusnya. Alhamdulillah berkat
Rahmat Allah SWT, akhirnya hasil dari semua kunjungan tersebut serta niat dan doa

4
yang tulus dari seluruh masyarakat Simeulue, Presiden Republik Indonesia Bapak H.
Mohammad Soeharto pada tanggal 13 Agustus 1996 menandatangani PP 53 tahun
1996 tentang peningkatan status wilayah Pembantu Bupati Simeulue menjadi
Kabupaten Administratif Simeulue. Selanjutnya pada tanggal 27 September 1996
bertempat di DPRD Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Kabupaten Administratif
Simeulue diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Bapak Yogie S. Memet sekaligus
melantik Drs. H. Muhammad Amin sebagai Bupati Kabupaten Administratif
Simeulue.
Simeulue telah berubah status meskipun masih bersifat administratif, seluruh
masyarakat menyambut gembira disertai rasa syukur menggema dari Ujung Batu
Belayar hingga batu Si Ambung-Ambung. Kabupaten yang dianggap mimpi oleh
sebagian masyarakat selama ini telah hadir nyata dalam kehidupan masyarakat
Simeulue. Status baru ini telah menambah semangat yang tinggi untuk berjuang
menggapai satu tahap lagi yaitu daerah otonom.
Untuk mencapai usaha itu segala potensi dikerahkan, pikiran dan tenaga
dicurahkan, keringat bercucuran dimana semua anak pulau bahu membahu dan
disertai dengan doa yang senantiasa dipanjatkan demi sebuah cita-cita. Akhirnya
Allah SWT mengabulkan apa yang diinginkan, sehingga melalui UU No. 48 Tahun
1999 lahirlah Kabupaten Simeulue dan Kabupaten Bireun sebagai Kabupaten
Otonom dalam khazanah Pemerintahan Indonesia.
Kemudian pada tanggal 12 Oktober 1999 Menteri Dalam Negeri Republik
Indonesia Ad Interim Faisal Tanjung meresmikan lahirnya Kabupaten Simeulue dan
tanggal inilah yang dijadikan sebagai hari jadi Kabupaten Simeulue yang setiap
tahunnya diperingati.

a. Bahasa
Terdapat tiga bahasa utama yang dominan dalam pergaulan sehari-hari
yakni bahasa Devayan, bahasa Sigulai, dan bahasa Leukon. Bahasa Devayan
umumnya digunakan oleh penduduk yang berdomisili di Kecamatan Simeulue
Timur, Teupah Selatan, Teupah Barat, Simeulue Tengah dan Teluk Dalam.
Bahasa Sigulai umumnya digunakan penduduk di Kecamatan Simeulue Barat,
Alafan dan Salang. Sedangkan bahasa Leukon digunakan khususnya oleh

5
penduduk Desa Langi dan Lafakha di Kecamatan Alafan. Selain itu digunakan
juga bahasa pengantar (lingua franca) yang digunakan sebagai bahasa perantara
sesama masyarakat yang berlainan bahasa di Simeulue yaitu bahasa Jamu atau
Jamee (tamu), awalnya dibawa oleh para perantau niaga dari Minangkabau dan
Mandailing.

b. Budaya
Masyarakat Simeulue mempunyai adat dan budaya tersendiri berbeda dengan
saudara-saudaranya di daratan Aceh, salah satunya adalah seni Nandong, suatu
seni nyanyi bertutur diiringi gendang tetabuhan dan biola yang ditampilkan
semalam suntuk pada acara-acara tertentu dan istimewa.
Terdapat pula seni yang sangat digemari sebagian besar masyarakat,
seni Debus, yaitu suatu seni bela diri kedigjayaan kekebalan tubuh terutama dari
tusukan bacokan pedang, rencong, rantai besimembara, bambu, serta benda-
benda tajam lainnya, dan dari seni ini pulalah para pendekar Simeulue acap
diundang ke mancanegara.

2.2 Pembangunan di Kabupaten Simeulue


a. Pembangunan Manusia
Pembangunan manusia menjadi faktor penting dan kunci keberhasilan
pembangunan nasional. Tantangan global menuntut prasyarat terwujudnya
kualitas manusia yang tinggi dan mumpuni, memiliki produktifitas serta
berdaya saing.
Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi harus dapat memberikan
kontribusi yang signifikan bagi upaya pengentasan kemiskinan dan
pemerataan pembangunan. Pembangunan eksklusif kini hanya menjadikan
aspek pertumbuhan ekonomi sebagai satu-satunya tujuan pencapaian,
sehingga terkadang terjadi pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa
pemerataan kesejahteraan yang disertai dengan tingginya angka
pengangguran, tingkat kemiskinan yang tinggi, dan angka rasio gini yang
semakin melebar.

6
Secara umum pembangunan manusia di Kabupaten Simeulue jika
dibandingkan masih cukup rendah apabila dibandingkan dengan kabupaten
dan kota di Provinsi Aceh. Berikut ini merupakan indeks pembangunan
manusia di Kabupaten Simeulue.
a. Kualitas Tenaga Kerja (Rasio Lulusan S1/S2/S3)
Kualitas tenaga kerja suatu daerah dapat dievaluasi dari rasio
penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi dengan total penduduk.
Rasio penduduk yang menamatkan pendidikan di perguruan tinggi
(minimal S-1) pada tahun 2011 mencapai 2,77% dan meningkat pada
tahun 2012 menjadi 2,87%.

b. Tingkat Ketergantungan (Rasio Ketergantungan)


Dampak keberhasilan pembangunan kependudukan dapat dilihat dari
perubahan komposisi penduduk menurut umur yang tercermin dengan
semakin rendahnya proporsi penduduk usia tidak produktif (kelompok
umur 0-14 tahun dan kelompok umur ≥ 65 tahun). Semakin kecil angka
rasio ketergantungan hidup akan memberikan kesempatan bagi penduduk
usia produktif untuk meningkatkan produktifitasnya. Pada tahun 2011

7
angka rasio ketergantungan hidup mencapai 55,17 persen dan menurun
menjadi 53,26 persen pada tahun 2012. Hal ini menunjukkan bahwa di
Kabupaten Simeulue adanya kemajuan dalam pembangunan
kependudukan.

b. Pembangunan Infrastruktur

Infrastruktur berarti prasarana atau segala sesuatu yang merupakan


penunjang utama terselenggaranya suatu proses baik itu usaha, pembangunan,
dan lain-lain. Infrastruktur memegang peranan penting sebagai salah satu
roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Keberadaan
infrastruktur yang memadai sangat diperlukan. Sarana dan prasarana fisik,
atau sering disebut dengan infrastuktur, merupakan bagian yang sangat
penting dalam sistem pelayanan masyarakat. Berbagai fasilitas fisik
merupakan hal yang vital guna mendukung berbagai kegiatan pemerintahan,
perekonomian, industri dan kegiatan sosial di masyarakat dan pemerintahan.
Pembangunan infrastruktur yang berkualitas akan menciptakan kemakmuran
masyarakat. Hal yang harus dipikirkan adalah kita harus mampu membangun
sebuah infrastruktur yang saling terintegrasi satu sama lainnya. Karena ini
merupakan sebuah kemampuan sebuah bangsa dalam melaksanakan
pembangunan. Sering kali kita melihat jalan rusak, gedung tidak terurus,
jembatan yang rusak, akses jalan ke tol macet total. Ini adalah gambaran yang
sangat buruk dan tidak bisa terus-menerus terjadi, karena orang luar negeri
akan menilai kemampuan kita dalam mengelola sebuah daerah atau wilayah.

Infrastruktur di Kabupaten salah satu Pemerintah Aceh ini, berjarak


sekitar 100 mile pantai barat selatan telah dimulai step bay step sejak
Kabupaten Simeulue sah secarah Defenitif. Pembangunan infrastruktur jalan
lingkar Simeulue, hingga tahun 2010 ini hampir rampung dan begitu juga
dengan penghubungnya. ini sangatlah memungkinkan untuk kemajuan
masyarakat Simeulue itu sendiri. Dengan adanya baiknya infrastruktur jalan
Simeulue masyarakat sendiri bisa memasarkan hasil buminya ke ibukota
Kabupaten Sinabang City begitu juga dengan pemasaran keluar Simeulue

8
melalui Jalur transportasi darat dan Udara hanya dengan kurang lebih waktu
jarak tempu ke Medan Sumatra Utara 45 menit begitu juga ke Ibukota
Pemerintah Aceh, Banda Aceh. Sedangkan dalam hal Jalur transportasi Laut,
dibuka jalur penyeberangan ke Pelabuhan Labuhan Haji, pelabuhan di
meulaboh dan Pelabuhan Singkil. Untuk sekarang ini sangatlah kurang dan
dirasakan oleh Pedagang baik itu pedagang pribumi maupun dari luar
Simeulue karena pada saat berangkat penyebrangan itu haruslah antri untuk
mobil-mobil truk pengangkut barang. Jadi untuk saat ini masih dibutuhkan
Kapal Muat Penumpang yang sifatnya "Ekonomis" memang saat ini telah ada
2 (Dua) KMP.

2.3 Dampak, Permasalahan Dan Solusi Pembangunan di Kabupaten Simeulue


a. Dampak
Berdasarkan bentuk bentuk pembangunan yang telah dilakukan di
Kabupaten Simeulue, kita ketahui bahwa di wilayah ini memiliki indeks
pembangunan manusia yang rendah. Bahkan berdasarkan data dari BPS
terkait indeks pembangunan manusia, Simeulue merupakan daerah
dengan pembangunan manusia terendah di Aceh. Berdasarkan hal
tersebut, dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat di Simeulue
yaitu, mengalami berbagai persoalan, seperti kemiskinan dan
pengangguran. Simeulue masih kekurangan SDM bila dibandingkan
daerah lain, apalagi dengan negara lain. Untuk itu, pemerintahan kedepan
disarankan lebih memberdayakan potensi-potensi yang dimiliki generasi
penerus, sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan daerah
kepulauan ini bisa maju setara dengan daerah-daerah lainnya.
Sedangkan dalam hal pembangunan infrastruktur, Kabupaten
Simeulue masih belum memadai 100%. Hal ini dapat kita lihat dari
pembangunan jalannya yang masih lambat seperti di kecamatan Alafan
yang baru 30% jalan disana yang diaspal. Kondisi infrastruktur jalan di
daerah tersebut yang masih sangat buruk dan memprihatinkan selama ini
berpengaruh terhadap naiknya harga barang disebabkan waktu tempuh
yang bertambah, cost atau biaya armada pengangkutan darat juga

9
bertambah. Namun untuk saat ini masyarakat yang mayoritasnya adalah
nelayan sudah sedikit bernafas lega karena akses jalan yang selama ini
masih buruk sudah berangsur-angsur di bangun. Dengan sedang
dibangunnya infrastruktur jalan di daerah tersebut diharapkan bisa
meningkatkan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sedangkan dari segi akses jalur laut, Kabupaten Simeulue masih
kekurangan KMP (Kapal Muat Penumpang) yang saat ini hanya ada 2
kapal. Namun, hanya 1 kapal yang masih beroperasi yaitu KMP Teluk
Sinabang. Sedangkan Kapal Penyeberang Penumpang Seperti Kapal
Cepat yang bernama KMP Delok Sibau sekarang tidak beroperasi lagi
dengan alasan yang tidak pasti. Akibat hal tersebut, dampak yang dapat
dirasakan oleh masyarakat yaitu, masyarakat sulit untuk melakukan
aktivitas ekonomi seperti menjual hasil alam / pertanian ke luar daerah
karena kondisi aksebilitas yang kurang memadai. Selain itu, masyarakat
juga harus menunggu hari dimana kapal akan aktif jika ingin bepergian
keluar atau masuk ke Simeulue karena kapal disana hanya aktif dua kali
dalam seminggu.

b. Permasalahan Dan Solusi


Permasalahan yang ada di Simeulue yaitu seperti kemiskinan dan
pengangguran. Dan hal ini merupakan permasalahan yang timbul dari
kurangnya atau lemahnya pembangunan manusia di Kabupaten Simeulue.
Solusinya, yakni membangun Pulau Simeulue dengan memfokuskan
pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang handal. Untuk
membangun Simeulue, harus dilihat terlebih dahulu apa yang menjadi
persoalan di sana sekarang. Tidak boleh hanya mengandalkan sumber
daya alam, tetapi juga sangat dibutuhkan SDM yang handal. Simeulue
masih kekurangan SDM bila dibandingkan daerah lain, apalagi dengan
negara lain. Untuk itu, pemerintahan kedepan disarankan lebih
mem-berdayakan potensi-potensi yang dimiliki generasi penerus,
sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat dan daerah kepulauan ini bisa
maju setara dengan daerah-daerah lainnya. Membangun Kepulauan

10
Simeulue harus didukung dengan pembangunan kongkrit di sektor
kelautan, perikanan, pertanian, dan kehutanan. Bila ketiga sektor ini
mampu digerakkan dan berhasil, dipastikan sektor lainnya akan menyusul
maju.
Permasalahan lainnya yaitu dalam hal infrastruktur, dimana
pembangunan infrastruktur di daerah ini kurang memadai dan
membutuhkan perkembangan lebih lanjut. Oleh karena itu, diharapkan
pemerintah setempat harus memmerhatikan kondisi infrastruktur di
wilayah ini. Dengan demikian akan membangkitkan sektor-sektor lainnya
yang membuat pembangunan di Kabupaten Simeulue menjadi lebih baik
dann berkembang pesat. Dengan adanya baiknya infrastruktur jalan
Simeulue masyarakat sendiri bisa memasarkan hasil buminya ke ibukota
Kabupaten Sinabang City (Ibu Kota Simeulue) begitu juga dengan
pemasaran keluar Simeulue melalui Jalur transportasi darat dan Udara.

11