Anda di halaman 1dari 17

PRO-SOSIAL, ANTI-SOSIAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL

DI KALANGAN GENERASI MUDA


Farid Hamid 1), A Rahman H.I2) dan Morissan3)
Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercubuana, Jakarta
Email : farid.hamid.bsa@gmail.com

Abstract
Surveys carried out by various international research institutes showed a very high Internet usage in Indonesia. In-
ternet users in Indonesia are the most frequent use of social media, and Jakarta is a city with the most active Twitter
users in the world. This phenomenon raises a question whether the use of social media is able to give effect to their
social relationships in the real world? In this case whether social media users have a tendency to be pro-social or anti-
social. Prosocial behavior is defined as individuals’ actions to help others through a variety of ways in different areas
of human life, both political and social. Indicators used in this research for pro social behavior are helping others and
working together with others. This study used survey methods, and questionnaires will be distributed to the younger
generation of social media users aged 15-30 years residing in the Greater Jakarta area. Reseach findings indicate a
strong correlation between social media used with helping other with a coefficient correlation 0.8. There is also a strong
correlation between the use of social media with working together with other people with a coefficient correlation 0.8.
Keywords: prosocial, Internet, social media.

Abstrak
Survei yang dilakukan berbagai lembaga riset international menunjukkan penggunaan Internet yang sangat tinggi di
Indonesia. Pengguna Internet di Indonesia adalah yang paling sering menggunakan media sosial, dan Jakarta merupakan
kota dengan pengguna Twitter paling aktif di dunia. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah kegemaran generasi
muda terhadap media sosial mampu memberikan pengaruh terhadap hubungan sosial mereka di dunia nyata? Dalam
hal ini apakah penggunaan media sosial mampu mendorong generasi muda menjadi pro-sosial atau anti-sosial. Perilaku
prososial mencakup tindakan yang luas berdasarkan keinginan untuk membantu orang lain melalui berbagai cara dalam
berbagai bidang kehidupan manusia, baik politik maupun sosial. Indikator yang digunakan adalah sikap membantu
orang lain dan sikap untuk bekerjasama dengan orang lain. Penelitian ini menggunakan metode survei, dan kuesioner
dibagikan kepada generasi muda pengguna media sosial berusia 15 – 30 tahun yang berada di wilayah Jabodetabek.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara penggunaan media sosial dengan sikap membantu orang lain
dengan koefisien korelasi 0.8. Hal ini berarti terdapat hubungan yang kuat dan terdapat ketergantungan. Begitu pula
terdapat korelasi antara jumlah jam yang digunakan generasi muda dalam menggunakan media sosial dengan sikap
mereka untuk bekerjasama dengan orang lain dengan tingkat koefisien korelasi 0.8.
Kata kunci: prososial, Internet, media sosial.

PENDAHULUAN penelitian yang dilakukan comScore (2011)


menyebut Indonesia sebagai the planet’s most
Survei yang dilakukan berbagai
Twitter-addicted nation atau negara dengan
lembaga riset media international menunjukkan
penduduk yang paling ketagihan di dunia dalam
penggunaan Internet yang sangat tinggi di
menggunakan Twitter.
Indonesia. Misalnya, lembaga Global Web Index
Penelitian yang lebih baru yang
(2010) menunjukkan bahwa Indonesia, diantara
dilakukan Semiocast (2012), konsultan media
negara Asia lainnya, memiliki pengguna Internet
yang bermarkas di Paris, melaporkan bahwa
yang paling banyak menggunakan media sosial
Jakarta merupakan kota dengan pengguna
(79.72%), bandingkan dengan Jepang (30.1%),
Twitter paling aktif di dunia (The world’s
Australia (48.8%) dan Singapura (63%).
most active “Twitter city”). Laporan tersebut
Sementara itu, majalah The Economist,
menyebutkan, warga Jakarta adalah yang paling
mengutip sejumlah perusahaan riset internet,
rajin nge-tweet dalam satu hari mengalahkan
melaporkan bahwa jumlah pengguna Facebook
warga kota besar dunia lainnya seperti Tokyo,
di Indonesia adalah yang terbesar kedua di
London atau New York. Kota lain di Indonesia
dunia, dan Twitter pada posisi ketiga terbesar
seperti Bandung (dengan penduduk sekitar
di dunia (The Economist, 2011). Sedangkan

50
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 51

2.5 juta jiwa) berada pada peringkat ke-6 gratis (54.2%), sedangkan sisanya mengakses
dunia dalam frekuensi penggunaan Twitter, internet di tempat kerja (26.5%) dan sekolah
mengalahkan kota-kota lain seperti Paris atau (22.1%).
Los Angeles yang jumlah penduduknya jauh Walaupun dewasa ini baru sekitar
lebih besar. 22% dari total penduduk Indonesia yang
Sementara itu, lembaga survei dapat mengakses internet namun dengan
Galup (2012) dalam salah satu laporannya pertumbuhan jumlah pengguna smartphone
menyebutkan bahwa satu dari lima orang di yang sangat pesat belakangan ini maka
Indonesia (20.6%) menggunakan internet kemampuan masyarakat Indonesia dalam
dalam kehidupan mereka, dan dewasa ini, mengakses internet juga akan meningkat.
lebih dari setengah (51%) penduduk muda Terlebih lagi teknologi ponsel yang terus
Indonesia yang berusia antara 15-24 tahun berkembang pesat dengan harga yang semakin
telah menggunakan internet dalam aktivitas terjangkau, dan tarif operator yang semakin
mereka. Sebagian besar penduduk muda ini murah akan meningkatkan jumlah pengguna
(96.2%) adalah pengguna media sosial. ponsel secara cepat. Dewasa ini, berdasarkan
Beberapa Media internasional juga data Bank Dunia (2013), jumlah penduduk
rajin melaporkan berbagai data mengenai pengguna ponsel aktif di Indonesia mencapai
aktivitas orang Indonesia di media sosial. 115 untuk setiap 100 penduduk. Hal ini berarti
Media internasional CNN (2010) menjuluki setiap satu individu memiliki satu ponsel atau
Indonesia sebagai ‘bangsa Twitter’ (Twitter lebih. Indonesia masuk urutan ke 4 pengguna
nation). Kantor berita Inggris BBC (2012), ponsel terbanyak di dunia dengan jumlah
misalnya, bahkan menuliskan kekagumannya ponsel aktif mencapai 285 juta unit atau lebih
tentang fenomena penggunaan media sosial di banyak dari jumlah penduduk (Lambert, 2013).
Indonesia sbb: Perkembangan teknologi komunikasi dan
“This is one of the most Twitter and internet yang sangat menjanjikan di satu pihak,
Facebook-friendly nations on Earth. A dan jumlah pengguna media sosial, khususnya
higher proportion of Indonesian internet dari kalangan generasi muda yang semakin
users sign on to Twitter than in any other besar di pihak lain, telah menjadikan sektor ini
country. Indonesia is also home to the sebagai pasar yang sangat menggiurkan bagi
world's third-largest number of Facebook mereka yang tahu cara memanfaatkannya,
users” (Ini adalah salah satu bangsa di Salah satunya adalah para politisi dan partai
bumi yang paling ramah dengan Twitter politik yang akan terjun pada Pemilu legislatif
dan Facebook. Sebagian besar pengguna dan presiden tahun 2014.
Internet di Indonesia menggunakan Twitter Apa yang telah diuraikan di atas
paling banyak dibandingkan negara merupakan latar belakang yang kemudian
lain. Indonesia juga menjadi rumah bagi menimbulkan setidaknya dua pertanyaan
pengguna Facebook ketiga terbesar di penting. Pertama, apa yang menyebabkan
dunia) pengguna internet di Indonesia sangat gemar
menggunakan media sosial? Kedua, apakah
BBC juga menulis dalam laporannya kegemaran terhadap penggunaan media sosial
bahwa dari sekitar 240 juta penduduk mampu memberikan pengaruh terhadap
Indonesia, sebanyak 40 juta jiwa diantaranya hubungan sosial mereka di dunia nyata? Dalam
adalah pengguna Facebook yang didominasi hal ini apakah pengguna media sosial memiliki
oleh penduduk perkotaan. Menurut data kecenderungan untuk menjadi pro-sosial atau
Gallup (2012), pengguna internet di Indonesia anti-sosial.
kebanyakan mengakses internet dengan Beberapa tahun belakangan ini,
menggunakan ponsel intar atau smartphone semakin banyak politisi yang menyadari
(65.8%). Selain dengan menggunakan pentingnya peran media sosial sebagai cara
smartphone, cara lain adalah melalui kafe untuk memperoleh kemenangan pada Pemilu.
internet yang menyediakan layanan internet Terlebih lagi pada Pemilu 2014, diperkirakan
52 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

ada sekitar 18.3 juta pemilih pemula dari muda di tujuh negara Eropa menghasilkan
kalangan generasi muda berusia antara 17 – kesimpulan bahwa ‘young people articulate
24 tahun (Sindonews, 2013). Ditilik dari segi preferences and interests, and some of them
usia diperkirakan sebagian besar diantara are even more active than a majority of adults.
mereka adalah pengguna media sosial. Mereka Moreover, a clear majority of young people ask
diharapkan dapat menggunakan hak pilihnya for more – not less –opportunity to have a say in
dalam pemilu dan menjadi incaran para partai the way their political systems are governed’.
politik dan politisi untuk diraih suaranya. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan
Memberikan suara pada Pemilu bahwa generasi muda mampu mengemukakan
merupakan salah satu bentuk perilaku pro- preferensi dan minat mereka terhadap politik.
sosial. Namun perilaku pro-sosial tidak Sebagian dari mereka bahkan lebih aktif dari
semata-mata diukur berdasarkan pemberian kebanyakan generasi yang lebih tua. Mereka
suara pada saat Pemilu. Pada dasarnya ada juga menginginkan agar pandangan mereka
banyak bentuk perilaku pro-sosial seperti: lebih bisa didengar.
menjadi anggota organisasi kemasyarakatan, Namun demikian, bentuk partisipasi
aktif dalam lingkungan sosial di sekitar politik generasi muda dewasa ini cenderung
tempat tinggal, mengirim surat (pesan) kepada menunjukkan perubahan dibandingkan dengan
pejabat pemerintahan, menjadi anggota partai generasi pendahulunya. Jika pada masa
politik, mencalonkan diri untuk jabatan publik, lalu bentuk partisipasi politik lebih bersifat
memberikan sumbangan kepada partai atau konvensional (misalnya, aksi turun ke jalan
politisi, ikut serta dalam acara penggalangan melakukan demonstrasi atau boikot) maka
dana, hingga ikut serta dalam aksi protes atau tindakan politik (political actions) generasi
demonstrasi. muda dewasa ini dipandang sebagai sesuatu
Seberapa jauh tingkat partisipasi yang ‘baru’ karena tidak pernah terjadi
generasi muda dalam bidang politik sering pada masa satu dekade yang lalu (misalnya,
kali menjadi bahan perdebatan. Generasi partisipasi politik melalui internet dan media
muda sering kali dianggap sebagai kelompok sosial). Tindakan politik generasi muda masa
masyarakat yang paling tidak peduli dengan kini memiliki sifat cenderung lebih individual,
persoalan politik, yang sering kali mengalami bersifat spontan (ad-hoc), berdasarkan isu
putus hubungan dengan komunitasnya, tertentu dan kurang terkait dengan perbedaan
yang tidak berminat pada proses politik dan sosial (EACEA, 2012). Hal ini terjadi akibat
persoalan politik, yang memiliki tingkat pengaruh globalisasi dan individualisme
kepercayaan rendah pada politisi serta sinis (Bauman, 2001), dan juga konsumsi dan
terhadap berbagai lembaga politik dan kompetisi (Kestila-Kekkonen, 2009).
pemerintahan (Pirie & Worcester, 1998; Haste Berdasarkan latar belakang
& Hogan, 2006). Pandangan ini sering kali sebagaimana yang telah dijelaskan di atas
dibenarkan dengan data yang menunjukkan maka dapat dikemukakan rumusan masalah
bahwa generasi muda yang bergabung ke penelitian ini sebagai berikut: 1) Berapa
dalam partai politik relatif sedikit, dan mereka besar frekuensi penggunaan media sosial di
cenderung memilih menjadi Golput pada kalangan pemilih pemula?; 2) Berapa besar
Pemilu (EACEA, 2012). tingkat perilaku pro-sosial pemilih pemula
Namun sejumlah studi menunjukkan pengguna media sosial?; 3) Apakah frekuensi
kekeliruan pandangan sebelumnya yang penggunaan media sosial mampu memberikan
menganggap generasi muda tidak tertarik pada pengaruh terhadap tingkat perilaku pro-sosial
politik. Sebaliknya, menurut studi tersebut, generasi muda?
generasi muda adalah kelompok yang dinilai Terhadap rumusan masalah ke-3
paling peduli terhadap berbagai isu politik ‘Apakah frekuensi penggunaan media sosial
(Harris, Wyn & Younes, 2010; O'Toole, Marsh mampu memberikan pengaruh terhadap
& Jones, 2003; Sloam, 2013). Penelitian yang tingkat perilaku sosial generasi muda?’
dilakukan EACEA (2013) terhadap generasi merupakan bentuk pertanyaan korelasional
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 53

yang dimaksudkan untuk menguji hubungan actions that are intended to help or benefit
antar variabel sehingga perlu dikemukakan another individual or group of individuals"
hipotesa sbb: “Tidak terdapat hubungan antara (Eisenberg and Mussen 1989, 3). Definisi ini
frekuensi penggunaan media sosial dengan mengacu pada tindakan prososial individu
perilaku pro-sosial generasi muda”. dari pada motivasi yang ada di belakang
tindakan tersebut. Menurut Eisenberg dan
Pro-sosial dan Anti-sosial Mussen (1989), perilaku prososial mencakup
Media massa sering kali dituding aktivitas yang luas antara lain: suka berbagi
sebagai penyebab dari berbagai persoalan dengan orang lain (sharing), menenangkan
sosial. Publik memberikan perhatian kepada atau menghibur orang lain (comforting),
media karena potensi yang dimilikinya untuk menyelamatkan (rescuing), dan menolong
memberikan pengaruh negatif kepada generasi (helping).
muda, khususnya anak-anak. Para orang tua Menurut Eisenberg et.al (2006),
dan juga para peneliti memandang media lebih perilaku prososial dapat didefinisikan sebagai
banyak pada aspek negatif yang dimilikinya “any voluntary behavior intended to benefit
jatang sekali yang melihat media dari aspek another person,” yaitu setiap perilaku sukarela
positif yang dimiliknya. Jika media massa yang dimaksudkan untuk memberikan
seperti televisi dan Internet dapat menjadi manfaat bagi orang lain. Menurut Eisenberg
sumber bagi perilaku antisosial dan perilaku altruisme adalah salah satu contoh perilaku
negatif lainnya maka logikanya media masssa prososial. Perilaku lain adalah persahabatan
pun seharusnya dapat pula menjadi sumber (friendliness), suka berbagai (sharing),
perilaku prososial dan perilaku positif lainnya. kerjasama (cooperation), simpati dan sikap
Tantanganya adalah bagaimana membedakan menerima orang lain (acceptance of others
antara isi media massa (konten) yang from different groups).
mendorong munculnya perilaku prososial dan Sementara itu Kippling (2007)
antisosial. mengemukakan beberapa contoh tindakan
Apakah perilaku prososial itu? Menurut yang merupakan tindakan prososial seperti:
Cherry (2010) perilaku sosial adalah “… membantu orang lain (baik dalam keadaan
those intended to help other people. Prosocial darurat atau tidak darurat), memberikan donasi
behavior is characterized by a concern about (dalam bentuk waktu, tenaga dan uang),
the rights, feelings and welfare of other people. menjadi relawan, lebih suka bekerjasama
Behaviors that can be described as prosocial dari pada bersaing. Dengan demikian,
include feeling empathy and concern for perilaku sosial muncul manakala seseorang
others and behaving in ways to help or benefit bertindak untuk membantu orang lain tanpa
other people.” Hal ini berarti perilaku sosial mengharapkan imbalan sesuatu selain ingin
adalah segala tindakan yang dimaksudkan membantu sesame manusia.
untuk membantu orang lain yang dicirikan Menurut Knickerbocker (n.d) perilaku
dengan kepedulian terhadap hak, perasaan dan prososial tidak sama dengan altruisme. Perilaku
kesejahteraan orang lain. Perilaku yang dapat prososial mengacu pada suatu pola tindakan,
dikategorikan sebagai prososial termasuk sedangkan altruisme adalah motivasi untuk
perasaan empati dan kepedulian terhadap orang membantu orang lain. Ia memberikan contoh,
lain dan berperilaku dalam cara-cara yang akan memberikan sumbangan secara anonim
menolong atau memberikan keuntungan bagi memiliki dua aspek. Memberikan sumbangan
orang lain. merupakan tindakan prososial, dan motivasi
Definisi oleh Cherry tersebut untuk tidak diketahui merupakan suatu bentuk
tampaknya lebih menekankan pada perasaan altrusime.
atau motivasi yang ada dalam diri seseorang. Berdasarkan uraian di atas maka
Definisi lain, misalnya dari Eisenberg dan perilaku prososial mencakup tindakan yang
Mussen (1989) lebih menekankan pada luas berdasarkan keinginan untuk membantu
dimensi tindakan sebagai berikut: "voluntary orang lain melalui berbagai cara dalam berbagai
54 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

bidang kehidupan manusia, baik politik maupun partisipasi politik yang mencakup kegiatan
sosial. Dengan demikian perilaku prososial untuk memengaruhi tindakan pemerintah, baik
mencakup tindakan membantu orang lain di secara langsung atau tidak langsung.
bidang politik dan sosial sehingga mereka Secara langsung, misalnya, dengan cara
yang menunjukkan perilaku prososial akan memengaruhi mulai dari tahap perancangan
cenderung berpartisipasi dalam kehidupan hingga implementasi kebijakan publik atau
sosial dan politik masyarakat. secara tidak langsung dengan memengaruhi
proses perekrutan orang-orang yang akan
Partisipasi Sosial dan Politik membuat suatu kebijakan publik. Pengertian
Dalam berbagai literatur, tidak menurut Verba ini lebih melihat bahwa
terdapat suatu pengertian yang diterima secara partisipasi politik sebagai suatu tindakan
universal mengenai apa yang dimaksud dengan sukarela (voluntary).
partisipasi politik. Misalnya, Huntington Masyarakat di negara demokratis
& Nelson (1976: 3) mengemukakan dapat berpartisipasi dalam kehidupan politik
pandangannya sebagai berikut: "By political setidaknya dengan tiga cara berbeda (Oxford
participation we mean activity by private University Press, n.d.):
citizens designed to influence government 1. Masyarakat dapat terlibat dalam arena
decision-making." Berdasarkan definisi ini, publik untuk mempromosikan dan
partisipasi politik dimaknai sebagai kegiatan menyampaikan tuntutannya kepada siapa
pribadi warga negara yang dilakukan untuk saja yang ingin mendengarkan. Contoh:
memengaruhi keputusan pemerintah. ikut demonstrasi.
Dahrendorf (2003) menyatakan 2. Masyarakat dapat menjadikan lembaga
"Political participation affords citizens in a pembuat undang-undang (legislatif) atau
democracy an opportunity to communicate lembaga eksekutif sebagai target pesan
information to government officials about their politik yang ingin disampaikan. Misal:
concerns and preferences and to put pressure menandatangani petisi.
on them to respond." Definisi ini menekankan 3. Masyarakat dapat terlibat dalam proses
bahwa setiap orang yang hidup di negara seleksi dari orang-orang yang ingin
demokratis memiliki hak untuk menyatakan menduduki jabatan publik. Contoh:
pandangan dan sikap mereka terhadap segala memberikan suara pada Pemilu atau
hal yang terjadi di ranah publik atau hal- mencalonkan diri untuk jabatan publik.
hal yang terkait dengan kepentingan mereka Terkait dengan bentuk-bentuk atau
agar diketahui pemerintah dan selanjutnya tipologi partisipasi politik, Verba dan Nie
pemerintah memberikan responnya. (1978) menggunakan empat dimensi partisipasi
Cara yang umum digunakan masyarakat politik yaitu:
di banyak negara demokratis ketika mereka 1) Voting, yaitu melakukan pemungutan
menyampaikan pandangannya adalah dengan suara termasuk memberikan suara pada
cara ‘partisipasi politik sukarela’ (voluntary saat pemilihan umum.
political participation). Hal ini berarti 2) Campaign activity yang mencakup
partisipasi politik mencakup kegiatan untuk kegiatan menjadi anggota atau bekerja
mempengaruhi. Hal ini ditegaskan oleh Verba untuk partai politik dan organisasi politik
et al. (1995: 38) yang menyatakan bahwa: termasuk memberikan sumbangan (donasi)
"By political participation we refer simply kepada partai politik atau kelompok
to activity that has the intent or effect of politik. Di Indonesia, berdasarkan
influencing government action – either directly Peraturan KPU Nomor 17 Tahun 2013
by affecting the making or implementation of Pasal 23 ayat (1) KPU, KPU Provinsi, dan
public policy or indirectly by influencing the KPU Kabupaten/Kota dinyatakan bahwa
selection of people who make those policies." masyarakat umum dapat memberikan
Definisi ini mengemukan lebih banyak sumbangan kepada Partai Politik Peserta
kriteria mengenai apa yang dimaksud dengan Pemilu. Dewasa ini, sumbangan yang
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 55

diberikan masyarakat pendukung suatu politik.


partai politik menjadi lebih mudah Teorell et al (2007) mengemukakan
dilakukan melalui fasilitas website yang tipologi partisipasi politik yang lebih luas dari
dimiliki hampir semua partai politik. Pada Verba dan Nie yang mencakup lima dimensi
masa kampanye, masyarakat dapat bekerja sebagai berikut:
membantu partai politik atau kandidat 1) Electoral Participation (partisipasi
yang didukungnya, misalnya turut serta elektoral) yaitu melakukan pemungutan
mengorganisir kegiatan kampanye. Pada suara termasuk memberikan suara pada
periode kampanye, masyarakat menjadi saat pemilihan umum.
lebih sering membicarakan berbagai isu 2) Consumer participation yang mencakup
politik dengan keluarga atau teman. kegiatan memberikan sumbangan
3) Contacting, yaitu kegiatan untuk untuk amal, melakukan boikot atau
menghubungi pemimpin politik atau menandatangai petisi dan melakukan
pejabat publik guna menyampaikan pesan konsumsi politik (political consumption),
politik atau menyampaikan masalah atau atau dengan kata lain consumer
persoalan-persoalan yang berdimensi participation merupakan tindakan warga
publik seperti masalah ekonomi atau masyarakat sebagai konsumen politik
kesejahteraan masyarakat. Pada 2008, yang kritis.
sebanyak 44 persen masyarakat AS 3) Party activity, yaitu tindakan menjadi
menghubungi pejabat publik pada anggota atau pendukung aktif partai
berbagai tingkatan melalui E-mail atau politik, melakukan pekerjaan sukarela
mengirim surat untuk mengadukan atau menyumbangkan uang untuk partai
berbagai persoalan. Di Indonesia, politik.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono 4) Protest activity, yang mencakup tindakan
(SBY) membuka akses bagi publik untuk seperti turut serta dalam kegiatan
melakukan pengaduan melalui SMS 9949. demonstrasi, pemogokan dan kegiatan
Hal-hal yang menonjol dalam pengaduan unjuk rasa lainnya.
meliputi: dukungan terhadap pemerintah, 5) Contact activity, yaitu tindakan
pemberitaan yang menjelekan pemerintah, menghubungi organisasi pemerintah,
pengurusan sertifikat hak milik di BPN, politisi atau pejabat pemerintahan.
lingkungan hidup, jalan rusak karena Tipologi yang dikemukakan Teorell di
banyak penambang pasir, dukungan atas memasukkan tindakan unjuk rasa sebagai
terhadap pemerintahan SBY serta berita salah satu bentuk partisipasi politik. Sedangkan
miring di televisi (Situs Presiden R.I.,n.d.). menurut Martin (2012), tindakan unjuk rasa
4) Cooperative, atau kegiatan komunitas atau protes (political protest) dapat dilakukan
yaitu segala tindakan yang terkait dengan dalam dua bentuk: (1) unjuk rasa tanpa
isu atau masalah komunitas lokal. Banyak kekerasan, yaitu suatu bentuk protes dengan
warga masyarakat yang tertarik turut serta cara antara lain melakukan pembangkangan
dalam berbagai kegiatan yang digerakan publik (civil disobedience) dimana pengunjuk
oleh organisasi kemasyarakatan seperti rasa, misalnya, secara sengaja melakukan
lembaga swadaya masyarakat (LSM), pelanggaran atas peraturan yang dianggap
organisasi kemasyarakatan (ormas) atau tidak adil. Bentuk unjuk rasa lainnya adalah
kelompok-kelompok masyarakat yang memasang simbol-simbol tertentu (graffiti)
memiliki ketertarikan pada suatu isu di tempat umum untuk menyampaikan suatu
atau kegiatan tertentu seperti kelompok pesan tertentu; dan (2) unjuk rasa dengan
pendukung lingkungan hidup hingga kekerasan, yaitu melakukan demonstrasi tidak
perlindungan hak-hak binatang. Bahkan secara damai dengan melakukan perlawanan
kegiatan-kegiatan yang secara permukaan kepada aparat, melakukan kerusuhan hingga
tidak memiliki hubungan dengan politik pemboman.
dapat pula menjadi bentuk partisipasi Beberapa pandangan seperti Boundless
56 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

(2013) mengemukakan perilaku atau tindakan Jika generasi muda menunjukkan


lain yang dapat pula dikategorikan sebagai partisipasi elektoral rendah, sebaliknya mereka
suatu bentuk partisipasi politik seperti: (1) menunjukkan tingkat partisipasi politik yang
Mencalonkan diri untuk jabatan publik lebih tinggi dalam bentuk partisipasi non-
(running for office). Dapat dikatakan keinginan elektoral yang mencakup berbagai tipologi
seorang warga masyarakat untuk mencalonkan tindakan partisipasi politik sebagaimana
diri pada suatu jabatan publik merupakan dikemukakan Verba dan Nie (1978) dan Teorell
bentuk participasi politik yang paling serius. et al (2007) seperti yang telah dikemukakan di
Hal ini disebabkan kandidat harus memberikan atas.
pengorbanan moril dan material. Mencalonkan
diri, berkampanye dan kemudian (jika menang) Media Lama dan Baru
menduduki jabatan publik membutuhkan Pembahasan tentang media sering kali
dedikasi, waktu, energi dan uang yang tidak dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu
sedikit; dan (2) Tindakan dukungan (support media lama (old media) dan media baru (new
activities) merupakan suatu bentuk partisipasi media). Media lama seperti radio, televisi, surat
politik yang cenderung lebih pasif karena tidak kabar dan film, disebut juga media komunikasi
terlihat seperti suatu tindakan politik. Misal, massa (media of mass communication),
menghadiri acara penggalangan dana untuk merupakan proses pertukaran informasi yang
membantu penanggulangan masalah sosial terjadi melalui saluran komunikasi (Channel)
seperti kemiskinan dan kesehatan. Seringkali antara sumber pesan (Source) dengan penerima
kegiatan penggalangan dana disertai dengan pesan (Receiver) yang disertai dengan umpan
suatu pertunjukan. Tindakan dukungan balik (Feed back) yang terbatas. Proses ini
semacam ini seringkali mendorong seseorang disebut juga dengan model Source-Message-
untuk berpartisipasi secara lebih aktif. Mereka Channel-Reciver (SMCR Model) yang
menjadi tertarik setelah mempelajari isu yang dikembangkan oleh Wilbur Schramm (1982).
disampaikan dalam kegiatan tersebut. Dalam model SMCR ini, pesan
Berdasarkan apa yang telah diuraikan berasal dari satu sumber yang dikirimkan
di atas dapat dipahami bahwa partisipasi kepada banyak penerima (one-to-many
politik dewasa ini tidak dapat diartikan semata- communication) secara bersamaan. Audien
mata sebagai partisipasi elektoral (electoral memiliki keterbatasan untuk memberikan
participation) seperti memberikan suara pada umpan balik. Pesan yang akan diterima
Pemilu atau menjadi anggota suatu partai audien harus disaring terlebih dulu oleh para
politik. Partisipasi politik juga mencakup profesional media yang berfungsi sebagai
bentuk partisipasi non-elektoral (non-electoral gatekeepers. Pesan media massa ditujukan
participation) seperti ikut serta melakukan kepada seluas atau sebanyak mungkin audien
kegiatan unjuk rasa atau menandatangani petisi dengan maksud untuk menyeragamkan
(Martin, 2012). Dalam hal ini penting untuk selera dan opini masyarakat sehingga produk
secara jelas membedakan antara partisipasi industri dapat dipasarkan secara massal.
politik elektoral dan non-elektoral. Audien cenderung dipandang homogen, tidak
Penelitian oleh Martin (2012) terhadap mengenal sumber pesan, serta pasif terhadap
generasi muda di Australia menemukan bahwa pesan yang diterima.
kelompok muda di negara itu cenderung
memandang partisipasi elektoral sebagai Penggunaan Media
sesuatu yang tidak terlalu penting. Hal ini Perilaku orang seringkali berorientasi
menjadi dasar mengapa kelompok muda di pada tujuan (goal oriented) ketika mereka
negara itu, dan juga di banyak negara lainnya, memilih media dan menikmati apa yang
cenderung enggan untuk mendaftarkan diri disajikan media massa (isi media). Pilihan
sebagai pemilih, alih-alih datang ke tempat mereka terhadap media juga sangat ditentukan
pemungutan suara (TPS) untuk memberikan oleh informasi dan kepuasan yang telah mereka
suara. antisipasi sebelumnya.
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 57

'Teori Penggunaan dan Kepuasan' atau ini menunjukkan peran-peran yang dipilih
uses-and-gratifications theory disebut-sebut pengguna ketika mereka mengkonsumsi
sebagai salah satu teori paling populer dalam dan menikmati media sosial yaitu sebagai:
studi komunikasi massa. Teori ini mengajukan penonton (watchers), pembagi informasi
gagasan bahwa perbedaan individu (sharers), komentator (commenters), dan
menyebabkan audien mencari, menggunakan produsen (producers).
dan memberikan tanggapan terhadap isi a) Penonton (watcher, 79.8%), yaitu
media secara berbeda-beda yang disebabkan mereka yang menggunakan media sosial
berbagai faktor sosial dan psikologis yang hanya untuk membantu diri mereka
berbeda diantara individu audien. dalam mengambil keputusan. Kelompok
Dalam perspektif teori Penggunaan penonton mengambil manfaat dari media
dan Kepuasaan audien dipandang sebagai sosial tetapi tidak bersedia memberikan
partisipan yang aktif dalam proses komunikasi, tanggapan dan menyampaikan
namun tingkat keaktifan setiap individu informasi karena merasa khawatir
tidaklah sama. Dengan kata lain, tingkat untuk menyampaikan pandangan atau
keaktifan audien merupakan variabel. Perilaku menampilkan profil diri mereka.
komunikasi audien mengacu pada target dan b) Pembagi informasi (sharers, 61.2%),
tujuan yang ingin dicapai serta berdasarkan yaitu orang yang mengunggah (upload)
motivasi; audien melakukan pilihan terhadap informasi dan membaginya kepada orang
isi media berdasarkan motivasi, tujuan dan lain dengan maksud untuk membantu
kebutuhan personal mereka. orang lain dan menunjukkan pengetahuan
Audien memiliki sejumlah alasan yang dimilikinya.
dan berusaha mencapai tujuan tertentu ketika c) Komentator (commenters, 36.2%), yaitu
menggunakan media. McQuail dan rekan orang yang memberikan evaluasi (review)
(1972) mengemukakan empat alasan mengapa dan komentar terhadap suatu produk
audien menggunakan media yaitu: atau peristiwa dengan tujuan untuk
a) Pengalihan (diversion); yaitu melarikan berpartisipasi dan memberikan kontribusi.
diri dari rutinitas atau masalah sehari-hari. d) Produsen (producers, 24.2%), yaitu orang
Mereka yang sudah lelah bekerja seharian yang membuat atau memproduksi konten
membutuhkan media sebagai pengalih sendiri dalam upaya untuk menunjukkan
perhatian dari rutinitas. identitas dan mendapatkan pengakuan.
b) Hubungan personal; hal ini terjadi ketika Finn (1992) menyatakan bahwa
orang menggunakan media sebagai motif seseorang menggunakan media dapat
pengganti teman. dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu
c) Identitas personal; sebagai cara untuk proaktif dan pasif. Contoh penggunaan media
memperkuat nilai-nilai individu. secara proaktif adalah menonton program TV
Misalnya, banyak pelajar yang merasa tertentu untuk mendapatkan informasi lebih
lebih bisa belajar jika ditemani alunan banyak mengenai suatu masalah atau topik
musik dari radio. tertentu, atau menonton film tertentu guna
d) Pengawasan (surveillance); yaitu mendapatkan hiburan, atau menggunakan
informasi mengenai bagaimana media Internet untuk mendapatkan informasi dalam
membantu individu mencapai sesuatu. membantu menyelesaikan tugas sekolah atau
Misal, orang menonton program agama di kuliah dsb.
televisi untuk membantunya memahami Jay G. Blumler (1979) mengemukakan
agamanya secara lebih baik. sejumlah gagasan mengenai jenis-jenis kegiatan
Penelitian yang dilakukan di AS oleh yang dilakukan audien (audience activity)
Global Web Index (2009) (Pan & Crotts, 2010) ketika menggunakan media yang mencakup:
menghasilkan temuan bahwa pengguna media kegunaan (utility), kehendak (intentionality),
sosial di negara itu dapat dikelompokkan ke seleksi (selectivity) dan tidak terpengaruh
dalam empat kategori. Ke-empat kategori hingga terpengaruh (imperviousness to
58 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

influence). untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian


a) Kegunaan : media memiliki kegunaan berikut: 1) Berapa besar frekuensi penggunaan
dan orang dapat memanfaatkan kegunaan media sosial di kalangan generasi muda?
media. Misal, orang mendengarkan dan 2) Apakah frekuensi penggunaan media
radio di mobilnya untuk mendapatkan sosial mampu memberikan pengaruh terhadap
informasi lalu-lintas. Melihat Internet perilaku prososial generasi muda?
untuk mendapatkan informasi tertentu. Berkenaan dengan ukuran sampel
b) Kehendak : hal ini terjadi ketika motivasi penelitian, Wimmer-Dominick (2011: 102)
menentukan konsumsi media. Ketika menyatakan bahwa ukuran sampel yang
orang membutuhkan hiburan dari televisi diperlukan tergantung setidak-tidaknya
maka mereka mencari program komedi. pada tujuh faktor berikut ini: (1) jenis
Ketika membutuhkan informasi mengenai proyek penelitian; (2) tujuan penelitian; (3)
situasi politik terbaru mereka akan kompleksitas penelitian; (4) tingkat kesalahan
mencari program berita. yang dapat ditolerir; (5) keterbatasan waktu; (6)
c) Seleksi : penggunaan media oleh keterbatasan dana penelitian, dan; (7) penelitian
audien mencerminkan ketertarikan atau yang pernah dilakukan sebelumnya. Ukuran
preferensinya. sampel tertentu diperlukan dalam penelitian
d) Tidak terpengaruh hingga terpengaruh yang menggunakan prosedur statitistik, tetapi
: audien menciptakan makna terhadap tidak hanya satu formula yang tersedia yang
isi media yang akan memengaruhi apa dapat digunakan untuk menentukan ukuran
yang mereka pikirkan dan kerjakan. sampel untuk setiap metode penelitian atau
Namun mereka juga secara aktif sering prosedur statistik.
menghindar terhadap jenis pengaruh Dalam hal pemilihan sampel, penelitian
media tertentu. ini akan menggunakan teknik pengambilan
Dunia dimana audien berada ikut serta sampel non-probabilitas (non-probability
menentukan kebutuhan dan kepuasaan audien sample) karena peneliti tidak memiliki daftar
terhadap media. Dengan kata lain, kebutuhan generasi muda yang berusia antara 15 – 30
dan dan kepuasaan audien terhadap media tahun di Jabodetabek, juga karena tidak
tidak bersifat otonom yang tidak ditentukan dimungkinkan untuk membuat daftar tersebut.
semata-mata hanya pada diri individu. Katz Karena alasan ini, sampling probabilitas tidak
dan rekan (1974) menyatakan bahwa situasi tepat digunakan pada penelitian ini. Responden
sosial dimana audien berada turut serta akan dipilih secara purposif (purposive
terlibat dalam mendorong atau meningkatkan sampling) dengan tiga kriteria sbb: 1) Berusia
kebutuhan audien terhadap media. antara 15 – 30 tahun pada tahun 2014; 2)
Pengguna media sosial aktif.
Metodologi Jabodetabek dipilih sebagai lokasi
Penelitian ini akan menggunakan penelitian karena alasan bahwa Jakarta
metode survei dimana sampel diambil dari dan wilayah di sekitarnya merupakan kota
suatu populasi dengan menggunakan kuesioner dengan pengguna Internet khususnya sosial
sebagai alat pengumpulan data yang pokok. media paling aktif di dunia (The world’s most
Pada penelitian ini kuesioner akan dibagikan active “Twitter city”). Sebagaimana laporan
kepada generasi muda pengguna media sosial Semiocast (2012) yang menyebutkan, warga
yang berada di wilayah Jabodetabek, dan yang Jakarta adalah yang paling rajin nge-tweet
termasuk ke dalam kategori generasi muda dalam satu hari mengalahkan warga kota besar
menurut Undang-undang Kepemudaan nomor dunia lainnya.
40 tahun 2009 yakni mereka yang berusia Teknik analisa data yang sering
antara 15 sampai dengan 30 tahun digunakan dalam penelitian kuantitatif disebut
Sebagaimana dikemukakan di awal, analisis data statistik (statistical data analysis),
penelitian ini berupaya untuk menjawab dan secara umum dapat dibagi ke dalam dua
rumusan masalah dan kuesioner didesain jenis yaitu statistik deskriptif dan statistik
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 59

inferensial. Statistik deskriptif digunakan dengan skala ordinal yaitu skala yang disusun
untuk membantu menjelaskan data kuantitatif berdasarkan suatu peringkat (rank) tertentu.
yang diperoleh dalam upaya untuk menjelaskan Namun demikian prosedur ini juga
atau mencatat kondisi atau sikap yang ada saat dapat digunakan untuk data interval dan rasio
ini. Statistik deskriptif berfungsi mereduksi tetapi nilai-nilai pada data terlebih dahulu harus
data agar lebih mudah diinterpretasikan. diubah ke dalam suatu susunan peringkat.
Dalam hal ini, analisa data untuk Penelitian ini pada dasarnya menggunakan
variabel 1 (tingkat penggunaan media sosial) ketiga bentuk data tersebut (ordinal, interval
dan variabel 2 (perilaku prososial) akan dan rasio), dan karena alasan inilah prosedur
dilakukan dengan menggunakan statistik statistik Spearman Rank Order ini digunakan.
deskriptif. Dalam menganalisa variabel 1 dan Untuk memahami bagaimana menilai
variabel 2, peneliti menggunakan distribusi ukuran berbagai korelasi ini, ahli statistik
data agar data yang diperoleh dapat lebih mudah Robert Koenker (1961: 52) mengembangkan
dikelola. Dengan demikian data tersebut diatur ukuran umum korelasi sebagai berikut:
dalam suatu distribusi frekuensi yaitu suatu
tabel nilai yang disusun berdasarkan derajat ± 0.80 - ± 1.00 korelasi tinggi, adanya
saling ketergantungan
kepentingannya dan frekuensi kejadiannya.
Pada dasarnya, suatu hubungan ± 0.60 - ± 0.79 korelasi sedang/moderat
dikatakan ada antara dua variabel, misalnya ± 0.40 - ± 0.59 cukup
variabel X menyebabkan variabel Y, jika ± 0.20 - ± 0.39 sedikit, korelasi yang lemah
perubahan nilai atau skor salah satu variabel ± 0.00 - ± 0.19 sangat sedikit, tidak berarti
menyebabkan perubahan skor pada variabel
lainnya. Dalam hal ini, frekuensi penggunaan Derajat hubungan bervariasi antara
media sosial (variabel 1) diduga akan -1.00 dan +1.00. Tanda positif atau negatif
mempengaruhi tingkat perilaku prososial. menunjukkan arah hubungan. Nilai terendah
Hipotesa nol (Ho) yang dikemukakan pada yang dapat dimiliki rs adalah 0.00 yang
penelitian ini adalah “tidak terdapat hubungan berarti sama sekali tidak ada hubungan apa
antara tingkat penggunaan media sosial dengan pun antara kedua variabel. Analisa data
tingkat perilaku prososial pengguna media dengan menggunakan metode Spearman
sosial.” ini tidak menuntut adanya hubungan yang
Prosedur statistik yang digunakan pada linear (linear relationship) diantara variabel
penelitian ini adalah Spearman Rank Order X dan Y yaitu adanya suatu garis lurus yang
Correlation yang disimbolkan dengan rs dan tepat berada ditengah diantara berbagai nilai
bertujuan untuk mengukur derajat hubungan yang diperoleh dari pengumpulan data. Pada
antara dua variabel sebagaimana rumus prosedur Spearman Rank ini, data diharapkan
berikut: akan menuju pada satu arah tertentu (one-
directional relationship) namun tidak harus
rs = 1 - linear berupa garis lurus.

Hasil Penelitian dan Pembahasan


Dimana d adalah selisih nilai antara Hasil penelitian di atas menunjukkan
variabel X dan Y yang berpasangan dan n adalah bahwa sebanyak 303 responden telah berhasil
jumlah anggota sampel. Dalam hal ini, korelasi dikumpulkan pendapat mereka terkait dengan
Spearman ini digunakan dalam dua situasi. perilaku mereka terhadap media sosial sebagai
Pertama, jika variabel X dan Y diukur dengan ditampilkan pada beberapa tabel di atas. Data
menggunakan skala ordinal yang mengukur yang berhasil dikumpulkan menunjukkan
sikap, pendapat atau pandangan setiap individu bahwa sebagian generasi muda menghabiskan
berdasarkan suatu urutan (ranking) tertentu waktu kurang dari empat jam dalam satu hari
seperti skala Likert. Dalam hal ini variabel dalam menggunakan media sosial namun
X dan Y, yang mana kedua variabel diukur sebagian lainnya menghabiskan waktu lima
60 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

hingga sembilan jam. Selain waktu yang anggota kelompok sosial, misalnya menjadi
dihabiskan generasi muda untuk bermain anggota pengajian, kelompok arisan, kelompok
media sosial yang ternyata cukup tinggi, keagamaan, kelompok mahasiswa, kelompok
mereka juga menggunakan lebih dari satu profesi atau seni dan sebagainya. Semakin
media sosial. Sebagian besar generasi muda banyak individu terlibat dalam kelompok
menggunakan empat sampai tujuh media sosial dapat menjadi indikator tingkat perilaku
secara bergantian. prososialnya. Kepada responden ditanyakan
Terkait dengan pertanyaan penelitian jumlah keanggotaan yang mereka miliki pada
apakah generasi muda pengguna media sosial kelompok sosial, dan sebagian besar responden
memiliki kecenderungan perilaku prososial mengaku bahwa mereka menjadi anggota pada
maka maka sebagian besar menyatakan bahwa minimal satu kelompok sosial.
mereka setuju bekerjasama dengan orang Sebagaiman telah dijelaskan pada bab
lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. 3 bahwa Prosedur statistik yang digunakan
Selain itu, untuk mengetahui apakah generasi pada penelitian ini adalah Spearman Rank
muda pengguna media sosial memiliki Order Correlation yang disimbolkan dengan
kecenderungan perilaku prososial maka rs dan bertujuan untuk mengukur derajat
hampir 70 persen responden menyatakan hubungan antara dua variabel sebagaimana
bahwa mereka memiliki kebiasaan membantu rumus berikut:
orang lain. 6∑d²
rs = 1 -
Sebagai tambahan, generasi muda n (n² ˗ 1)
pengguna media sosial juga memiliki
Dimana d adalah selisih nilai antara
kecenderungan perilaku prososial terkait
variabel X dan Y yang berpasangan, dengan
dengan kebiasaan memberikan sumbangan
demikian maka d2 adalah penjumlahan
kepada orang lain yang membutuhkan.
keseluruhan selisih nilai antara variabel X
Lebih dari 77 persen responden menyatakan
dan Y yang berpasangan sedangkan n adalah
setuju atau sangat setuju dengan kebiasaan
jumlah anggota sampel. Dalam hal ini,
menyumbang orang lain, dan mereka terbiasa
korelasi Spearman ini digunakan dalam dua
menyumbang orang lain. Sikap sukarela juga
situasi. Pertama, jika variabel X dan Y diukur
menjadi komponen penting untuk mengetahui
dengan menggunakan skala ordinal yang
apakah generasi muda pengguna media sosial
digunakan untuk mengukur sikap, pendapat
memiliki kecenderungan perilaku prososial.
atau pandangan individu berdasarkan suatu
Kepada responden ditanyakan apakah
urutan (ranking) tertentu seperti skala
mereka memiliki sikap sukarela. Pertanyaan
Likert. Dalam penelitian ini variabel X dan
ini diajukan kepada responden karena sikap
Y juga diukur dengan skala ordinal yaitu
sukarela dapat menjadi indikator kuat bahwa
skala Likert yang disusun berdasarkan suatu
individu bersangkutan memiliki perilaku
peringkat (rank) tertentu sehingga penelitian
prososial.
ini juga menggunakan Spearman Rank Order
Sikap prososial dalam bidang politik
Correlation.
adalah memberikan suara pada saat pemilihan
Untuk memahami bagaimana menilai
umum (Pemilu), dan generasi muda yang
ukuran berbagai korelasi ini, ahli statistik
meluangkan waktu mereka untuk datang ke
Robert Koenker (1961: 52) mengembangkan
tempat pemungutan suara (TPS) merupakan
ukuran umum korelasi sebagai berikut:
indikator sikap prososial yang cukup penting.
Responden menilai memberikan suara ± 0.80 - ± 1.00 korelasi tinggi, adanya saling
ketergantungan
pada Pemilu merupakan hal yang penting
± 0.60 - ± 0.79 korelasi sedang/moderat
bagi mereka, dan sebagian besar responden
menyatakan bahwa mereka setuju atau sangat ± 0.40 - ± 0.59 cukup
setuju dengan pernyataan tersebut. ± 0.20 - ± 0.39 sedikit, korelasi yang lemah
Perilaku prososial dapat pula dilihat ± 0.00 - ± 0.19 sangat sedikit, tidak berarti
pada seberapa banyak seseorang menjadi
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 61

Korelasi pertama yang dianalisa pada bagian


6∑742038.5²
ini adalah hubungan antara banyaknya media rs = 1 -
300 (300²˗1)
sosial (medsos) yang digunakan generasi muda
dengan sikap mereka untuk bekerjasama dengan rs = 0.835100723 (korelasi tinggi, adanya
orang lain. Berdasarkan hasil pengumpulan saling ketergantungan)
data diperoleh nilai d2 = 742038.5 yang Dengan demikian maka korelasi antara
merupakan penjumlahan keseluruhan selisih banyaknya medsos yang digunakan generasi
nilai antara variabel X dan Y yang berpasang muda dgn sikap mereka untuk bekerjasama
untuk hubungan antara banyaknya media dgn orang lain menunjukkan korelasi yang
sosial (medsos) yang digunakan generasi tinggi.
muda dengan sikap mereka untuk bekerjasama Dengan menggunakan perhitungan
dengan orang lain, sedangkan n = 300 sehingga SPSS diperoleh hasil perhitungan sebagaimana
diperoleh koefisien korelasi sbb: Tabel 4.9 berikut ini:
Tabel 4.9
Hubungan antara banyaknya media sosial (medsos) yang digunakan generasi muda
dengan sikap mereka untuk bekerjasama dengan orang lain.
Correlation
VAR00005 VAR00006
Spearman’s rho VAR00005 Correlation Coefficient 1000 .814**
Sig. (2-tailed) .000
N 300 300
VAR00006 Correlation Coefficient 814** 1000
Sig. (2-tailed) .000
N 300 300
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Korelasi kedua yang diamati pada tercatat memberikan jawaban adalah n = 300
penelitian ini adalah menentukan hubungan sehingga diperoleh koefisien korelasi sbb:
antara banyaknya medsos yang digunakan
6∑742038.5²
generasi muda dengan sikap mereka untuk rs = 1 -
300 (300²˗1)
membantu orang lain. Berdasarkan hasil
pengumpulan data lapangan diperoleh nilai rs = 0.835100723 (korelasi tinggi, adanya
d2 = 742038.5 yang merupakan penjumlahan saling ketergantungan)
keseluruhan selisih nilai antara variabel X Dengan demikian maka korelasi antara
dan Y yang berpasangan untuk hubungan banyaknya medsos yang digunakan generasi
antara banyaknya media sosial (medsos) yang muda dengan sikap mereka untuk membantu
digunakan generasi muda (variabel X) dengan orang lain menunjukkan korelasi yang tinggi.
sikap mereka untuk membantu orang lain Dengan menggunakan perhitungan SPSS
(variabel Y), sedangkan anggota sampel yang diperoleh hasil perhitungan sebagaimana Tabel
4.10 berikut ini:
Tabel 4.10
Hubungan Antara Banyaknya Medsos Yang Digunakan Generasi Muda Dengan Sikap Mereka
Untuk Membantu Orang Lain.
VAR00005 VAR00006
Spearman’s rho VAR00005 Correlation Coefficient 1000 .804**
Sig. (2-tailed) .000
N 300 300
VAR00006 Correlation Coefficient 804** 1000
Sig. (2-tailed) .000
N 300 301
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
62 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

Korelasi ketiga yang diamati pada untuk memberikan sumbangan (variabel


penelitian ini terkait dengan banyaknya Y), sedangkan anggota sampel yang tercatat
medsos yang digunakan generasi muda dengan memberikan jawaban adalah n = 300 sehingga
sikap mereka untuk memberikan sumbangan. diperoleh koefisien korelasi sbb:
Berdasarkan hasil pengumpulan data lapangan
6∑766653.25²
diperoleh nilai d2 = 766653.25 yang rs = 1 -
300 (300²˗1)
merupakan penjumlahan keseluruhan selisih
nilai antara variabel X dan Y yang berpasangan rs = 0.829632605 (korelasi tinggi, adanya
untuk hubungan antara banyaknya media saling ketergantungan).
sosial (medsos) yang digunakan generasi Dengan menggunakan perhitungan
muda (variabel X) dengan sikap mereka SPSS diperoleh hasil perhitungan sebagaimana
Tabel 4.11 berikut ini:

Tabel 4.11
Hubungan Antara Banyaknya Medsos Yang Digunakan Generasi Muda Dengan Sikap Mereka
Untuk Membantu Orang Lain.
Banyaknya medsos Sikap untuk
yang digunakan memberikan sumbangan
Spearman’s Banyaknya Correlation Coefficient 1000 .808**
rho medsos yang Sig. (2-tailed) .000
digunakan N 300 300
Sikap untuk Correlation Coefficient 808** 1000
memberikan Sig. (2-tailed) .000
sumbangan N 300 300
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Korelasi ke-empat yang diamati pada (variabel X) dengan sikap mereka untuk
penelitian ini terkait korelasi antara banyaknya membantu orang lain secara sukarela. (variabel
medsos yang digunakan dengan sikap Y), sedangkan anggota sampel yang tercatat
untuk membantu orang lain secara sukarela. memberikan jawaban adalah n = 300 sehingga
Berdasarkan hasil pengumpulan data lapangan diperoleh koefisien korelasi sbb:
diperoleh nilai d2 = 981827 yang merupakan 6∑981827²
penjumlahan keseluruhan selisih nilai antara rs = 1 -
300 (300²˗1)
variabel X dan Y yang berpasangan untuk
hubungan antara banyaknya media sosial rs = 0.783981211 (korelasi sedang)
(medsos) yang digunakan generasi muda

Tabel 4.12
Korelasi antara banyaknya medsos yang digunakan dengan sikap
untuk membantu orang lain secara sukarela.
Banyaknya medsos Sikap membantu orang
yang digunakan lain secara sukarela
Spearman’s Banyaknya Correlation Coefficient 1000 .772**
rho medsos yang Sig. (2-tailed) .000
digunakan N 300 300
Sikap Correlation Coefficient 772** 1000
membantu Sig. (2-tailed) .000
orang lain N 300 300
secara sukarela
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 63

Korelasi ke-lima yang diamati pada bekerjasama dengan orang lain secara sukarela
penelitian ini terkait antara jumlah jam yang (variabel Y), sedangkan anggota sampel yang
digunakan generasi muda dalam menggunakan tercatat memberikan jawaban adalah n = 300
medsos dengan sikap untuk bekerjasama sehingga diperoleh koefisien korelasi sbb:
dengan orang lain. Berdasarkan hasil
6∑865520.75²
pengumpulan data lapangan diperoleh nilai d2 rs = 1 -
300 (300²˗1)
= 865520.75 yang merupakan penjumlahan
keseluruhan selisih pangkat dua nilai antara rs = 0.807662048 (korelasi tinggi, adanya
variabel X dan Y yang berpasangan untuk saling ketergantungan)
hubungan antara jumlah jam yang digunakan Dengan menggunakan perhitungan
generasi muda dalam menggunakan medsos SPSS diperoleh hasil perhitungan sebagaimana
(variabel X) dengan sikap mereka untuk Tabel 4.13 berikut ini:
Tabel 4.13
Jumlah jam yang digunakan generasi muda dalam menggunakan medsos
dengan sikap untuk bekerjasama dengan orang lain.
Durasi penggunaan Bekerjasama dengan
medsos orang lain
Spearman’s Durasi Correlation Coefficient 1000 .808**
rho penggunaan Sig. (2-tailed) .000
medsos N 301 300
Bekerjasama Correlation Coefficient 808** 1000
dengan orang Sig. (2-tailed) .000
lain N 300 300
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Korelasi ke-enam yang diteliti pada orang lain sedangkan anggota sampel yang
penelitian ini adalah antara durasi penggunaan tercatat memberikan jawaban adalah n = 300
medsos dengan sikap membantu orang lain. sehingga diperoleh koefisien korelasi sbb:
Berdasarkan hasil pengumpulan data lapangan
6∑800576.5²
diperoleh nilai d2 = 800576.5 yang merupakan rs = 1 -
penjumlahan keseluruhan selisih pangkat dua 300 (300²˗1)
nilai antara variabel X dan Y yang berpasangan rs = 0.82209410
untuk hubungan antara jumlah jam yang (korelasi tinggi, adanya saling ketergantungan)
digunakan generasi muda dalam menggunakan Dengan menggunakan perhitungan
medsos (variabel X) korelasi antara durasi SPSS diperoleh hasil perhitungan sebagaimana
penggunaan medsos dengan sikap membantu Tabel 4.14 berikut ini:

Tabel 4.14
Korelasi antara durasi penggunaan medsos dengan sikap membantu orang lain.
Durasi pengguna Sikap membantu orang
medsos lain
Spearman’s Durasi Correlation Coefficient 1000 .803**
rho pengguna Sig. (2-tailed) .000
medsos N 301 301
Sikap Correlation Coefficient 803** 1000
membantu Sig. (2-tailed) .000
orang lain N 301 301
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
64 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

Korelasi ke-tujuh yang diteliti pada pada Pemilu sedangkan anggota sampel yang
penelitian ini adalah korelasi antara durasi tercatat memberikan jawaban adalah n = 300
penggunaan medsos dengan sikap memberikan sehingga diperoleh koefisien korelasi sbb:
suara pada Pemilu. Berdasarkan hasil
6∑518561.25²
pengumpulan data lapangan diperoleh nilai d2 rs = 1 -
= 518561.25 yang merupakan penjumlahan 300 (300²˗1)
keseluruhan selisih pangkat dua nilai antara rs = 0.888153231
variabel X dan Y yang berpasangan untuk
hubungan antara jumlah jam yang digunakan Dengan menggunakan perhitungan
generasi muda dalam menggunakan medsos SPSS diperoleh hasil perhitungan sebagaimana
(variabel X) dengan sikap memberikan suara Tabel 4.15
Tabel 4.15
Korelasi antara durasi penggunaan medsos dengan sikap memberikan
suara pada Pemilu.
Durasi penggunaan Memberikan suara
medsos pemilu
Spearman’s Durasi Correlation Coefficient 1000 .923**
rho penggunaan Sig. (2-tailed) .000
medsos N 301 301
Memberikan Correlation Coefficient 923** 1000
suara pemilu Sig. (2-tailed) .000
N 301 301
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Korelasi kedelapan yang diteliti adalah melihat jumlah jam yang digunakan generasi muda
hubungan antara durasi penggunaann media dalam menggunakan medsos (variabel X)
sosial dengan keanggotan pada organisasi dengan sikap memberikan suara pada Pemilu
sosial dengan keanggotaan pada organisasi sedangkan anggota sampel yang tercatat
sosial. Berdasarkan hasil pengumpulan data memberikan jawaban adalah n = 300 sehingga
lapangan diperoleh nilai d2 = 518561.25 diperoleh koefisien korelasi sbb:
yang merupakan penjumlahan keseluruhan
6∑518561.25²
selisih pangkat dua nilai antara variabel X dan rs = 1 - = 0.769671239
300 (300²˗1)
Y yang berpasangan untuk hubungan antara
Tabel 4.16
Hubungan antara durasi penggunaann media sosial
dengan keanggotan pada organisasi media sosial
Durasi penggunaan Anggota organisasi
medsos sosial
Spearman’s Durasi Correlation Coefficient 1000 .747**
rho penggunaan Sig. (2-tailed) .000
medsos N 301 301
Anggota Correlation Coefficient 747** 1000
organisasi Sig. (2-tailed) .000
sosial N 301 303
** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Kesimpulan beberapa poin kesimpulan sebagai berikut:


1. Penggunaan media sosial di kalangan
Berdasarkan apa yang telah diuraikan
generasi muda menunjukkan sebanyak
pada hasil penelitian dan mengacu pada
39.5% menghabiskan waktu kurang
pertanyaan penelitian sebagaimana yang
dari empat jam dalam satu hari dalam
dikemukakan pada Bab 1, maka dapat ditarik
menggunakan media sosial; sebanyak
Pro-Sosial, Anti-Sosial Pengguna Media Sosial Di Kalangan Generasi Muda 65

38.5% menghabiskan waktu lima hingga Bauman, Z. (2001). The Individualised Society.
sembilan jam untuk bermain media sosial; Cambridge: Polity Press.
19.3% menghabiskan 10 sampai 14 jam
BBC News Asia (February 12, 2012).
untuk bermain media sosial. Hanya sekitar
Indonesia's love affair with social
1.6% respnden yang menghabiskan
media. Diakses dari http://www.bbc.
hampir seluruh harinya hanya untuk
co.uk/news/world-asia-17054056
bermain media sosial
2. Selain waktu yang dihabiskan generasi Boundless (2013). Other Forms of Political
muda untuk bermain media sosial Participation - Voting as Political
ternyata cukup tinggi, mereka juga Participation. Diakses dari http://www.
menggunakan lebih dari satu media sosial. boundless. com/political-science/
Jumlah terbesar generasi muda (59.2%) political-participation.comScore
menggunakan empat sampai tujuh media (2011). It’s a social world: Top 10 need-
sosial secara bergantian. Sebanyak 32.1% to-knows about social networking and
generasi muda menggunakan kurang dari where it’s headed [PDF document].
tiga media sosial Diakses dari http://www.comscore.
3. Sebagian besar responden (68.3%) com/content/download.
menyatakan bahwa mereka setuju
CNN (2010). Indonesia: Twitter Nation.
bekerjasama dengan orang lain untuk
Diakses dari http://edition.cnn.com/
menyelesaikan suatu pekerjaan, dan
2010/ TECH/ socia. media/ 11/ 23/
sebanyak 19.1% menyatakan sangat
indonesia.twitter
setuju. Hanya 10.2% yang menyatakan
tidak tahu/ragu atau tidak setuju (2.3%). Dahrendorf R (2003). The Challenge for
4. Terdapat korelasi antara durasi penggunaan Democracy. Journal of Democracy. 14
media sosial dengan sikap membantu (4).
orang lain dengan anggota sampel adalah
EACEA (2013). Youth Participation in
n = 300 dan diperoleh koefisien korelasi
Democratic Life. EACEA 2010/03.
0.8. Hal ini berarti terdapat hubungan
[forthcoming] Brussels: EACEA.
yang kuat dan terdapat ketergantungan.
5. Terdapat korelasi antara jumlah jam EACEA (Education, Audiovisual and Culture
yang digunakan generasi muda dalam Executive Agency) (2012). Political
menggunakan media sosial dengan sikap participation and EU citizenship:
mereka untuk bekerjasama dengan orang Perceptions and behaviors of young
lain. Berdasarkan hasil pengumpulan data people. Evidence from Eurobarometer
lapangan diperoleh koefisien korelasi surveys. European Commission.
0.8 yang berarti terdapat korelasi tinggi
Gallup (2012). Media Use in Indonesia 2012.
diantara kedua variabel tersebut atau
Broadcasting Board of Governor [PDF
adanya saling ketergantungan.
document]. Retrieved from http://www.
6. Terdapat korelasi yang kuat antara
bbg.gov/wp-content/media/2012/10/
durasi penggunaann media sosial dengan
gallup-indonesia-brief.pdf
keanggotan pada organisasi sosial, dan
berdasarkan hasil pengumpulan data Globalwebindex (2013). 28% of Indonesian
di lapangan diperoleh nilai koefisien internet users access the web
korelasi 0.7 (hubungan yang cukup kuat). exclusively via mobile. Diakses dari
http://insight.globalwebindex.net
DAFTAR PUSTAKA
Harris, A., Wyn, J. & Younes, S. (2010).
Babbie, E.R. (2008). The Basic of Social Beyond apathetic or activist youth. In
Research. Belmont: Wadsworth Young, 18(1), pp. 9-32
66 Jurnal Ilmu Ekonomi dan Sosial, Volume 4, Nomor 1, Maret 2015, halaman 50 - 66

Haste, H. & Hogan, A. (2006). Beyond Situs Presiden Republik Indonesia, Dr. H
conventional civic participation, Susilo Bambang Yudhoyono. Diakses
beyond the moral-political divide: dari http://www.presidenri.go.id/
Young people and contemporary index.php/ layanan/ kotakpos.
debates about citizenship. Journal of
Situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.
Moral Education, 35(4), 473-493.
Diakses dari http://www.setkab.go.id/
Huntington, S. P. & Nelson, J. M. (1976) No
Sloam, J.(2013). 'Voice and Equality': Young
Easy Choice: Political Participation
People's Politics in the European
in Developing Countries. Cambridge,
Union. West European Politics, 36(3),
Mass.: Harvard University Press.
pp. 1-23.
Kestilä-Kekkonen, E., 2009. Anti-party
Straubhaar, J.D & LaRose, R (2006) Media
sentiment among young adults. In
Now: Understanding Media, Culture,
Young, 17(2), pp. 145-165.
and Technology. Wadsworth
Lambert, P ( 2013). National telecoms
Teorell, J., Torcal, M., & Montero, J.R.(2007).
regulators. Diakses dari http://
Political Participation: Mapping
mobithinking.com/mobile-marketing-
the Terrain. Dalam J. W. Deth., J.
tools/latest-mobile-stats/a
R. Montero & A. Westholm (Eds).
Martin, A (2012). Young People and Politics: Citizenship and Involvement in
Political Engagement in the Anglo- European Democracies: A Comparative
American Democracies, Routledge. Analysis,. London and New York:
Routledge.
O'Toole, T., Marsh, D. & Jones, S. (2003).
Political Literacy Cuts Both Ways: The The Economist (2011, January 6). Social
Politics of Nonparticipation among media in Indonesia: Eat, pray, tweet.
Young People. The Political Quarterly, Social-networking sites have taken
74(3), pp. 349-360 off in Indonesia. Who will profit?
Diakses dari ttp://www.economist.
Oxford University Press. Online resiource
com/node/17853348.
Center. Definitions of political
participation. Diakses dari http:// The World Bank (2013). Mobile cellular
global.oup.com/uk/orc/politics/ subscriptions (per 100 people).
comparative/caramani2e/01student/ International Telecommunication
additional/ ch18/01/ Union, World Telecommunication/ICT
Development Report and database,
Pan, B. & Crotts, J.C (2012). Theoretical
and World Bank estimates. Diakses dari
Models of Social Media, Marketing
http://data.worldbank.org/indicator/
Implications, and Future Research
IT.CEL.SETS.P2
Directions. In M. Sigala, E. Christou,
U. Gretzel (Eds.) Social Media in Wimmer, R.D & Dominick, J.R (2011). Mass
Travel, Tourism and Hospitality: Media Research: An Introduction.
Theory, Practice and Cases. Ashgate Belmont: Wadsworth.
Publishing Company, pp.73-86
Verba, S., Schlozman, K. L., & Brady, H. (1995)
Pirie, M. & Worcester, R.M. (1998). The Voice and Equality: Civic Voluntarism
Millennium Generation. London: in American Politics. Cambridge,
Adam Smith Institute Mass.: Cambridge University Press.
Semiocast (2012). Twitter reaches half a billion Verba, S., Nie, N.H., & Kim, J.O (1978).
accounts: More than 140 millions in Participation and Political Equality:
the U.S. Diakses dari http://semiocast. A Seven-Nation Comparison. Chicago:
com/en/publications. Chicago University Press.