Anda di halaman 1dari 2

1.

Epidemiologi gangguan zat psikoaktif


Dewasa ini diperkirakan di Indonesia terdapat lebih dari 3,5 juta pengguna zat psikoaktif (Badan
Narkotika Nasional, 2006). Dalam jumlah tersebut, hanya kurang dari 10 ribu orang yang tersentuh
layanan “terapi”: 1000 orang dalam terapi substitusi metadon, 500 orang terapi substitusi buprenorfin,
kurang dari 1000 orang dalam rehabilitasi (pesantren, theraupetic communities, kelompok bantu
diri/self-help group), 2000 orang dalam layanan medis lain dan sekitar 4000 orang menjadi penghuni
lembaga pemasyarakatan dan tahanan polisi. Sedangkan hasil penelitian BNN bekerjasama dengan
Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (puslitkes-UI) pada tahun 2008 menunjukkan angka
prevalensi pecandu narkoba di Indonesia sebesar 1,9% atau sekitar 3,1-3,5 juta jiwa. Di tahun 2011
angka prevalensi itu naik menjadi 2,2% atau sekitar 3,7-4,7 juta orang. (Sadock, 2012) (Muslim, 2015)
Referensi:
- Sadock BJ, Sadock VA, Gangguan Terkait Zat edited by Muttaqin H, Sihombing Retna NE. in
Kaplan&Sadock Buku Ajar Psikiatri Klinis, 2nd ed. ECG: Jakarta. 2012, p. 86-146.
- Maslim R, ed. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat. in PPDGJ-III. Bagian
Ilmu Kesehatan Jiwa FK-Unika Atmajawa: Jakarta.

2. Gejala klinis
Tahapan-tahapan yang dialami oleh Penyalahguaan zat oleh U.S National Comission On Marihuana
and Drug Abuse berusaha mengklasifikasikan tahapan penyalah-guna zat menjadi beberapa tahap
1) Experimental Users. Mereka yang menggunakan zat tadi tanpa mempunyai motivasi tertentu.
Mereka hanya terdorong oleh rasa ingin tahu,. Pemakaian biasanya sesekali dengan dosis yang relatif
kecil. Hal ini dapat disamakan seesorang yang mulai mengenal rokok.
2) Recreational Users/ casual Users. Kelompok ini biasanya menggunakan zat/ obat tertentu dalam
pertemuan/pesta atau dalam kebersamaan (menikmati rekreasi). Mereka biasanya mempunyai
hubungan yang sangat erat dengan kelompoknya. Interaksi sosial masih dirasakan wajar-wajar saja
hanya sewaktu mereka berkumpul biasanya mereka terbawa dan terhanyut dalam kecenderungan untuk
memakai obat/ zat tadi secara berlebihan.
3) Situational Users. Umumnya orang yang tergolong tahap ketiga ini, mulai menggunakan obat/ zat
secara sadar kalau mereka menghadapi masa – masa sulit. Mereka percaya bahwa hanya dengan
menggunakan/mengkonsumsi obat tadi, mereka lebih sanggup mengatasi persoalan hidup yang sulit
tadi. Penggunaan obat pada golongan ini dapat merupakan satu pola tingkah laku tertentu sehingga
mendorong individu tadi untuk mengulangi perbuatannya sehingga resiko menjadi ”addict”/
kecanduan akan menjadi jauh lebih besar dibandingkkan kelompok I dan II diatas.
4) Intensified Users. Kelompok yang sudah secara kronis menggunakan obat/ zat tertentu. Kelompok
ini merasa butuh memakai obat tadi untuk memperoleh kenikmatan atau mencari pelarian dari tekanan
hidup. Walau penggunaannya sudah lebih banyak, tapi individu semacam ini masih sangggup ber-
interaksi dengan masyarakta secara baik. Hanya mereka bertendensi untuk mengkonsumsikan
pemakaian obat tadi secara berlebihan.
5) Compulsive Dependence Users. Pengguna dengan jumlah dan frekuensi yang lebih banyak dengan
jumlah dan frekuensi yang lebih banyak lagi melepaskan kebiasaannya tanpa merasakan guncanngan
psikis/ fisik. Apabila mereka tidak menggunakan zat tadi, mereka sudah mengalami withdrawl
symptoms/sindroma putus obat yang cukup berat. Mereka memang sudah tergantung hidupnya dari
pemakaian obat/zat tadi.

Referensi:
- Nixon, Richard. 2006. National Commission on Marihuana and Drug Abuse. Chapter One, Part
I; United states