Anda di halaman 1dari 2

Reviewer : Suci Rachmawati

Pembimbing : dr. Arti Lukitasari, Sp.M

“New Treatments for Bacterial Keratitis”

Latar Belakang

Keratitis merupakan penyakit mata yang berpotensi menyebabkan kebutaan jika tidak
diterapi pada fase awal. Jika terjadi keterlambatan dalam memberikan antimikroba, maka
hanya 50% kemungkinan penglihatan menjadi normla kembali. Keratitis dapat disebabkan
oleh bakteri, virus, jamur, protozoa dan parasit. Faktor tersering penyebab keratitis adalah
trauma okular, penggunaan kontak lensa, operasi pada mata, mata kering, penggunaan steroid
jangka panjang dan sistemik imunosupresan. Bakteri penyebab tersering adalah
Staphylococcus aureus,coagulase-negative Staphylococcus, Pseudomonas aeruginosa,
Streptococcus pneumonia, dan spesies Serratia.pemeriksaan kultur kerokan kornea dan
sisitivitas di indikasikan pada ulkus kornea yang luas, lokasi di pusat, meluas hingga ke
stroma, disertai nyeri, ditemukan hipopion, penglihatan buruk, adanya abses pada kornea atau
tidak respon terhadap antibiotik spektrum luas. Studi terbaru menunjukkan semakin banyak
bukti resistensi mikroba untuk agen antimikroba. Hal ini terjadi karena mutasi kromososm
dari bakteri. Hal ini dapat menyebabkan perkembangan lanjutan dari proses penyakit
meskipun telah diterapi denga antibiotik spektrum luas. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk meninjau pengobatan yang lebih terbaru pada keratitis termasuk bekteri yang sudah
resisten.

Metode

Penelitian dilakuakan secara prospective dengan menganalisis penggunaan


fluoroquinolon generasi pertama (Asam Nalidiksat), generasi kedua (Ciprofloxacin dan
Ofloxacin), generasi ketiga (Levofloxacin) dan generasi keempat (moxifloxacin dan
gatifloxacin) secara in vitro.

Hasil

Berdasarkan penelitian secara in vitro didapatkan bahwa floroquinolon generasi


keempat memiliki potensi yang sangat kuat untuk terapi keratitis. Secara umum Moxifloxacin
dan gatifloxacin memiliki potensi yang lebih baik terhadap bakteri gram positif dibandingkan
dengan antibiotik lainnya. Sedangkan ciprofloxacin masih memiliki potensi yang lebih baik
dibandingkan dengan floroquinolon generasi ketiga dan keempat terhadap bakteri gram
negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa. Selain itu konsentrasi minimum penghambatan
atau yang lebih dikenal dengan Minimum Inhibitory Concentration (MIC) ini sangat
berhubungan dengan luas skar pada kornea setelah proses penyembuhan dari keratitis. Pada
setiap kenaikan dua kali lipat dalam MIC maka akan terjadi kenaikan luas skar pada kornea
seluas 0,33 mm. MIC yang rendah pada fluoroquinolon generasi keempat menunjukkan
bahwa terjadi proses penyembuhan yang lebih baik pada ulkus kornea secara in vitro.
Sehingga fluroquinolon generasi keempat (Moxifloxacin dan gatifloxacin) menjadi alternatif
yang baik dalam mengobati keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram positif sedangkan
untuk keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa,
antibiotik Fluoroquinolone generasi kedua (Ciprofloxaxin) merupakan antibiotik yang lebih
poten dibandingkan fluoroquinolon generasi lain.

Kesimpulan

Fluoroquinolon generasi terbaru (keempat) merupakan antibiotik yang memiliki


potensi sangat baik terhadap keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan
fluoroquinolon generasi kedua untuk keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif.

Rangkuman Hasil Pembelajaran

Keratitis merupakan suatu infeksi serius pada kornea yang membutuhkan


pengobatan yang tepat. Keratitis dapat didiagnosis melalui anamnesis dan temuan pada
pemeriksaan fisik. Pada anamnesis didapatkan riwayat trauma pada mata, penggunaan kontak
lensa, serta riwayat penggunaan steroid dalam jangka waktu yang lama . Berdasarakan
panduan dari American Academy of Ophthalmology, keratitis memberikan respon yang baik
terhadap penggunaan antibiotika. Oleh karena itu dibutuhkan pemeriksaan kultur dari
jaringan kornea untuk mengetahui bakteri jenis apa yan menyebabkan keratitis sehingga
dapat membantu dalam memilihkan golongan antibiotik yang tepat. Fluoroquinolon generasi
keempat (Moxifloxacin dan Gatifloxacin) merupakan alternatif terbaru dalam mengobati
keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram positif, sedangkan Fluoroquinolon generasi
kedua (Ciprofloxacin) untuk keratitis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif, termasuk
Pseudomonas aeruginosa.