Anda di halaman 1dari 21

ANATOMI OTOT MANUSIA

DI
S
U
S
U
N
OLEH:
WAFI DARAYANI
NPM:1711090038

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH
BANDA ACEH
2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat maupun
inpirasi terhadap pembaca.

Banda Aceh, Desember 2018

Penyusun
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Dalam kehidupan, ada beberapa bagian yang dapat membantu antara organ
satu dengan organ lainnya, contohnya saja otot. Otot dapat melekat di tulang yang
berfungsi untuk bergerak aktif. Selain itu otot merupakan jaringan pada tubuh
hewan yang bercirikan mampu berkontraksi, aktivitas biasanya dipengaruhi oleh
stimulus dari sistem saraf. Unit dasar dari seluruh jenis otot adalah miofibril yaitu
struktur filamen yang berukuran sangat kecil tersusun dari protein kompleks, yaitu
filamen aktin dan miosin (Awik, 2004).

Pada saat otot berkontraksi, filamen-filamen tersebut saling bertautan yang


mendapatkan energi dari mitokondria di sekitar miofibril. Oleh karena itu, banyak
jenis otot yang saling berhubungan walaupun jenis otot terdiri dari otot lurik, otot
jantung, dan otot rangka. Ketiganya mempunyai fungsi dan tujuan yang berbeda
pula.
Otot merupakan suatu organ yang sangat penting bagi tubuh kita, karena
dengan otot tubuh kita dapat berdiri tegap. Otot merupakan suatu organ atau alat
yang memungkinkan tubuh kita agar dapat bergerak. Otot merupakan alat gerak
aktif, ini adalah suatu sifat yang penting bagi organisme. Sebagaian besar otot
tubuh ini melekat pada kerangka yang menyebabkan dapat bergerak secara aktif
sehingga dapat menggerakkan bagian-bagian kerangka dalam suatu letak yang
tertentu.
Otot merupakan sebuah alat yang menguasai gerak aktif dan memelihara
sikap tubuh. Dalam tubuh kita terdiri dari bermacam-macam jenis otot serta
mempunyai sifat dan cara kerja sendiri-sendiri, untuk saling menujang agar kita
dapat bergerak.
Daging merupakan bahan pangan yang dihasilkan dari perubahan post
mortem (pascamerta) dari otot strip, otot yang membalut tulang rangka tubuh
(skeletal), dikenal sebagai jaringan muskuler. Jaringan muskuler merupakan
jaringan yang sangat berkembang dan sangat spesifik, dimana berlangsung
perubahan energi kimia menjadi energi mekanik yang menjamin penanganan dan
pergerakan. Sistem ini yang menjamin metabolisme energetik jaringan muskuler
dan peranannya sangat besar terhadap warna, tekstur dan kompoisisi otot.
Sistem ini yang mempengaruhi secara langsung sedikit atau banyaknya
terhadap karakteristik organoleptik (sensorik) daging dan merupakan penanggung
jawab yang besar pada heterogenitas yang teramati pada tingkat sifat-sifat daging.
Dengan demikian pengetahuan tentang karakteristik otot melalui struktur dan
sifat-sifat jaringan muskuler diperlukan dalam pemilihan otot dan perlakuan
optimal yang diterapkan pada otot.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari otot ?
2. Apa fungsi dari otot ?
3. Apa saja bagian-bagian dari otot ?
4. Apa saja jenis-jenis otot ?
5. Bagaimana sifat kerja gerak otot ?
6. Bagaimana mekanisme gerak otot ?
7. Bagaimana kontraksi dan relaksasi otot

1.3. Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui pengertian otot
2. Untuk mengetahui fungsi otot
3. Untuk mengetahui bagian-bagian dari otot
4. Untuk mengetahui jenis-jenis otot
5. Untuk mengetahui sifat kerja gerak otot
6. Untuk mengetahui mekanisme gerak otot
7. Untuk mengetahui kontraksi dan relaksasi otot
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Otot
Otot adalah sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya
kontraksi. Kontraksi otot digunakan untuk memindahkan bagian-bagian tubuh &
substansi dalamtubuh. Jaringan otot tersusun atas sel-sel otot yang fungsinya
menggerakkan organ-organ tubuh. Kemampuan tersebut disebabkan karena
jaringan otot mampu berkontraksi. Kontraksi otot dapat berlangsung karena
molekul-molekul protein yang membangun sel otot dapat memanjang dan
memendek.

2.2. Karakteristiki Otot


Tiap serabut otot, banyak dari padanya di kelompokkan merupakan otot, memiliki
empat sifat:
1. Iritabilitas. Otot memiliki kemampuan menerima dan menanggapi bermacam
rangsang.
2. Kontraktilitas. Bila menerima rangsang. Otot memiliki kemampuan untuk
memendek.
3. Ekstensibilitas. Otot memiliki sifat dapat memanjang, baik dalam keadaan aktif
maupun
pasif.
4. Elastisita. Bila otot dalam keadaan memendek atau memanjang, otot memiliki
kemampuan
untuk kembali kepada panjangnya waktu istirahat atau bentuk normal.

2.3. Fungsi Otot


Otot dapat berkontraksi karena adanya rangsangan. Umumnya otot berkontraksi
bukan karena satu rangsangan, melainkan karena suatu rangkaian rangsangan
berurutan. Rangsangan kedua memperkuat rangsangan pertama dan rangsangan
ketiga memeprkuat rangsangan kedua . Dengan demikian terjadilah ketegangan
atau tonus yang maksimum . Tonus yang maksimum terus – menerus disebut
tetanus. Selanjutnya, ada 2 tipe otot, yaitu otot merah dan otot putih. Otot merah
kaya akan suplai darah, mengandung mitokondria dan mioglobin. Mioglobin
merupakan senyawa seperti hemoglobin yang mampu mengikat O2 dean
menyimpannya di dalam otot. Otot merah juga mengoksidasi asam lemak untuk
memeperoleh energi. Sebaliknya, otot putih memiliki sedikit darah, mitokondria,
dan mioglobin. Akan tetapi, otot putih terspesialisasi untuk melakukan pernapasan
anaerobik untuk menghasilkan energi tanpa O2 sehingga cepat berkontraksi
meskipun cepatlelah.

2.4. Bagian-bagian Otot


1.Sarkolema
Sarkolema adalah membran yang melapisi suatu sel otot yang fungsinya sebagai
pelindung otot

2.Sarkoplasma
Sarkoplasma adalah cairan sel otot yang fungsinya untuk tempat dimana miofibril
dan miofilamenberada

3.Miofibril
Miofibril merupakan serat-serat pada otot.
4.Miofilamen
Miofilamen adalah benang-benang/filamen halus yang berasal dari
miofibril.Miofibril terbagi atas 2 macam, yakni :
a. miofilamen homogen (terdapat pada otot polos)
b. miofilamen heterogen (terdapat pada otot jantung/otot cardiak dan pada otot
rangka/otot lurik).
Di dalam miofilamen terdapat protein kontaraktil yang disebut aktomiosin (aktin
dan miosin), tropopin dan tropomiosin. Ketika otot kita berkontraksi
(memendek)maka protein aktin yang sedang bekerja dan jika otot kita melakukan
relaksasi (memanjang) maka miosin yang sedang bekerja.
2.5. Jenis-jenis Otot
2.5.1. Otot Polos (otot volunter)
Otot polos adalah salah satu otot yang mempunyai bentuk yang polos dan
bergelondong. Cara kerjanya tidak disadari (tidak sesuai kehendak) / invontary,
memiliki satu nukleus yang terletak di tengah sel. Otot ini biasanya terdapat pada
saluran pencernaan seperti:lambung dan usus.
Otot polos terdapat pada alat-alat dalam tubuh, misalnya pada:

1. Dinding saluran pencernaan

2. Saluran-saluran pernapasan

3. Pembuluh darah

4. Saluran kencing dan kelamin

Ciri-ciri Otot Polos

 Waktu kontraksi antara 3 sampai 180 detik


 Bentuk dari otot polos seperti perahu
 Terletak pada organ dalam
 Memiliki satu inti sel yang berada ditengah
 Pergerakannya dari otot polos lambat, dan mudah lelah
 Dipengaruhi oleh saraf otonom
 Otot polos biasanya berada pada bagian usus, saluran peredaran darah, otot
di saluran kemih,
 Tidak diperintah oleh otak atau tidak dipengaruhi oleh otak
Gambar 1 otot polos

2.5.2. Otot lurik

(Otot Rangka) Otot lurik disebut juga otot rangka atau otot serat lintang. Otot ini
bekerja di bawah kesadaran. Pada otot lurik, fibril-fibrilnya mempunyai jalur-jalur
melintang gelap (anisotrop) dan terang (isotrop) yang tersusun berselang-selang.
Sel-selnya berbentuk silindris dan mempunvai banvak inti. Otot rangka dapat
berkontraksi dengan cepat dan mempunyai periode istirahat berkali - kali. Otot
rangka ini memiliki kumpulan serabut yang dibungkus oleh fasia super fasialis.
Gabungan otot berbentuk kumparan dan terdiri dari bagian:

1. Ventrikel (empal), merupakan bagian tengah yang menggembung

2. Urat otot (tendon), merupakan kedua ujung yang mengecil. Urat otot (tendon)
tersusun dari jaringan ikat dan bersifat keras serta liat.

Berdasarkan cara melekatnya pada tulang, tendon dibedakan sebagai berikut ini:

1. Origo merupakan tendon yang melekat pada tulang yang tidak berubah
kedudukannya ketika otot berkontraksi.
2. Insersio merupakan tendon yang melekat pada tulang yang bergerak ketika otot
berkontraksi. Otot yang dilatih terus menerus akan membesar atau mengalami
hipertrofi, Sebaliknya jika otot tidak digunakan (tidak ada aktivitas) akan menjadi
kisut atau mengalami atrofi. Kebanyakan otot rangka (jumlah dalam manusia Å
600) menyambungkan tulang ke tulang; ada yang menggerakkan bahagian
tertentu tanpa melibatkan tulang, misalnya kelopak mata, otot sfinkter, lidah. Otot
rangka hanya mampu menarik, tidak menolak. Oleh itu, untuk menggerakkan
anggota (pergerakan tulang) otot lazimnya berpasangan, disebut pasangan
antagonis. Contoh: untuk membengkokkan tangan, otot biseps mengecut dan
pasangan antagonisnya, otot triseps mengendur (m.s.1039 Campbell; m.s. 846
Audesirk & Audesirk). Bagaimanakah pasangan otot antagonis dikawal?
Maklumat eferen somatik merangsang otot pertama (melalui neurotransmiter
perangsang) dan merencat otot kedua (melalui neurotransmiter perencat). Otot
rangka kelihatan berjalur dan tersusun dalam keadaan selari. b. Otot Polos Otot
polos disebut juga otot tak sadar atau otot alat dalam (otot viseral). Otot polos
tersusun dari sel – sel yang berbentuk kumparan halus. Masing – masing sel
memiliki satu inti yang letaknya di tengah. Kontraksi otot polos tidak menurut
kehendak, tetapi dipersarafi oleh saraf otonom. Otot polos terdapat pada alat-alat
dalam tubuh, misalnya pada: 1. Dinding saluran pencernaan 2. Saluran-saluran
pernapasan 3. Pembuluh darah 4. Saluran kencing dan kelamin c. Otot
Jantung Otot jantung mempunyai struktur yang sama dengan otot lurik hanya
saja serabut-serabutnya bercabang - cabang dan saling beranyaman serta
dipersarafi oleh saraf otonom. Otot jantung hanya terdapat di jantung. Otot
jantung terlihat berjalur seperti otot rangka. Otot jantung dikawal oleh sistem saraf
autonomi. Setiap sel bersambung-sambung dengan sel lain melalui cakera
interkalari yang berupaya mengalirkan arus elektrik dari sel ke sel. Manfaat:
supaya pengecutan jantung terselaras untuk mengepam darah. Otot jantung
mengecut secara spontan walaupun tiada rangsangan diterima dari sistem saraf
pusat. Letak inti sel di tengah. Dengan demikian, otot jantung disebut juga otot
lurik yang bekerja tidak menurutkehendak
.Ciri-Ciri Otot Lurik :

 Bentuk selindris dengan garis gelap terang


 Melekat pada rangka
 Bekerja secara sadar dengan perintah otak
 Cepat dan mudah lelah
 Bentuk yang panjang dan m
 emiliki banyak inti sel (multi sel)
 Mempunya pigmen mioglobin
 Inti sel yang berada di tepi

Gambar 2 otot lurik

2.5.3. Otot Jantung

Otot jantung atau myocardium adalah otot yang bekerja secara terus menerus
tampa istirahat atau berhenti. Otot jantung merupakan perpaduan antara otot lurik
dan otot polos karna adanya persamaan yang ada pada otot jantung misalnya,
memiliki sisi gelap terang dan inti sel yang berada ditengah. Otot jantung
berfungsi dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Otot Jantung bekerja dibawah
kesadaran manusia saraf yang memengaruhi otot jantung adalah saraf simpatik
dan parasimpatik

Ciri-Ciri Otot Jantung :


- Otot jantung yang berbentuk silindris
- Memiliki percabangan disebut sinsitium
- Otot Jantung terletak pada jantung
- Memiliki satu Inti sel yang berada ditengah
- Bekerja tampa kesadaran manusia
- Bekerja terus menerus dan tak membutuhkan istirahat

Gambar 3 otot jantung


Gambar 4 tabel perbedaan otot polos,otot lurik dan otot jantung

2.6. Sifat Kerja Otot Sifat kerja otot dibedakan menjadi dua, yaitu :
2.6.1 Antagonis
Otot antagonis adalah dua otot atau lebih yang tujuan kerjanya berlawanan. Jika
otot pertama berkontraksi dan yang kedua berelaksasi, akan menyebabkan tulang
tertarik atau terangkat. Sebaliknya, jika otot pertama berelaksasi dan yang kedua
berkontraksi akan menyebabkan tulang kembali ke posisi semula. Contoh otot
antagonis adalah otot bisep dan trisep. Otot bisep adalah otot yang memiliki dua
ujung (dua tendon) yang melekat pada tulang dan terletak di lengan atas bagian
depan. Otot trisep adalah otot yang memiliki tiga jung (tiga tendon) yang melekat
pada tulang, terletak di lengan atas bagian belakang. Untuk mengangkat lengan
bawah, otot bisep berkontraksi dan otot trisep berelaksasi. Untuk menurunkan
lengan bawah, otot trisep berkontraksi dan otot bisep berelaksasi. Antagonis juga
adalah kerja otot yang kontraksinya menimbulkan efek gerak berlawanan,
contohnya adalah:
1. Ekstensor( meluruskan) dan fleksor (membengkokkan), misalnya otot trisep
dan otot bisep.
2. Abduktor (menjauhi badan) dan adductor (mendekati badan) misalnya gerak
tangan sejajar bahu dan sikap sempurna.
3. Depresor (ke bawah) dan adduktor ( ke atas), misalnya gerak kepala merunduk
dan menengadah.
4. Supinator (menengadah) dan pronator (menelungkup), misalnya gerak telapak
tangan menengadah dan gerak telapak tangan menelungkup.
2.6.2 Sinergis
Sinergis juga adalah otot-otot yang kontraksinya menimbulkan gerak searah.
Contohnya pronator teres dan pronator kuadratus (Otot yang menyebabkan
telapak tngan menengadah atau menelungkup). Otot sinergis adalah dua otot
atau lebih yang bekerja bersama – sama dengan tujuan yang sama. Jadi, otot – otot
itu berkontraksi bersama dan berelaksasi bersama. Misalnya, otot – otot antar
tulang rusuk yang bekerja bersama ketika kita menarik napas, atau otot pronator,
yaitu otot yang menyebabkan telapak tangan menengadah atau menelungkup.
Gerakan pada bagian tubuh, umumnya melibatkan kerja otot, tulang, dan sendi.
Apabila otot berkontraksi, maka otot akan menarik tulang yang dilekatinya
sehingga tulang tersebut bergerak pada sendi yang dimilikinya. Otot yang
sedang bekerja akan berkontraksi sehingga otot akan memendek, mengeras, dan
bagian tengahnya menggembung. Karena memendek, tulang yang dilekati otot
tersebut tertarik atau terangkat. Kontraksi satu macam otot hanya mampu untuk
menggerakan tulang ke satu arah tertentu. Agar tulang dapat kembali ke posisi
semula, otot tersebut harus mengadakan relaksasi. Namun relaksasi otot ini saja
tidak cukup. Tulang harus ditarik ke posisi semula. Oleh karena itu, harus ada otot
lain yang berkon traksi yang merupakan kebalikan dari kerja otot pertama. Jadi,
untuk menggerakan tulang dari satu posisi ke posisi yang lain, kemudian kembali
ke posisi semula, diperlukan paling sedikit dua macam otot dengan kerja berbeda.
Berdasarkan tujuan kerjanya tadi, otot dibedakan menjadi otot antagonis dan otot
sinergis.

2.7. Mekanisme Gerak Otot


Dari hasil penelitian dan pengamatan dengan mikroskop elektron dan difraksi
sinar X, Hansen dan Huxly (l955) mengemukkan teori kontraksi otot yang disebut
model sliding filaments. Model ini menyatakan bahwa kontraksi didasarkan
adanya dua set filamen di dalam sel otot kontraktil yang berupa filament aktin dan
filamen miosin.. Rangsangan yang diterima oleh asetilkolin menyebabkan
aktomiosin mengerut (kontraksi). Kontraksi ini memerlukan energi. Pada waktu
kontraksi, filamen aktin meluncur di antara miosin ke dalam zona H (zona H
adalah bagian terang di antara 2 pita gelap). Dengan demikian serabut otot
menjadi memendek yang tetap panjangnya ialah ban A (pita gelap), sedangkan
ban I (pita terang) dan zona H bertambah pendek waktu kontraksi. Ujung miosin
dapat mengikat ATP dan menghidrolisisnya menjadi ADP. Beberapa energi
dilepaskan dengan cara memotong pemindahan ATP ke miosin yang berubah
bentuk ke konfigurasi energi tinggi. Miosin yang berenergi tinggi ini kemudian
mengikatkan diri dengan kedudukan khusus pada aktin membentuk jembatan
silang. Kemudian simpanan energi miosin dilepaskan, dan ujung miosin lalu
beristirahat dengan energi rendah, pada saat inilah terjadi relaksasi. Relaksasi ini
mengubah sudut perlekatan ujung myosin menjadi miosin ekor. Ikatan antara
miosin energi rendah dan aktin terpecah ketika molekul baru ATP bergabung
dengan ujung miosin. Kemudian siklus tadi berulang Iagi.

2.8. Sumber Energi Gerak Otot


Sumber energi utama untuk gerakan (kontraksi) otot yaitu adenosin tri fosfat
(ATP). Akan tetapi, jumlah yang tersedia hanya dapat digunakan untuk kontraksi
dalam waktu beberapa detik saja. Otot vertebrata mengandung lebih banyak
cadangan energi fosfat yang tinggi berupa kreatin fosfat sehingga akan dibebaskan
sejumlah energi yang segera dipakai untuk membentuk ATP dari ADP. ATP
dihasilkan dari proses oksidasi (pembakaran) karbohidrat dan lemak. Terjadinya
kontraksi otot sebagai akibat adanya interaksi antara protein otot aktin dan miosin
yang membutuhkan ATP melalui bantuan enzim yang dikenal sebagai enzim
ATP-ase.

Sumber energi lainnya pada otot, yaitu fosfokreatin. Fosfokreatin ini adalah suatu
bentuk persenyawaan fosfat berenergi tinggi yang terdapat pada otot dalam
konsentrasi yang tinggi. Fosfokreatin tidak dapat digunakan secara langsung
sebagai sumber energi, tetapi dapat memberikan energinya kepada ADP.
Banyaknya fosfokreatin yang terdapat pada otot lurik, lebih dari lima kali jumlah
ATP. Proses terpecahkan ATP dan fosfokreatin untuk menghasilkan energi tidak
membutuhkan oksigen bebas (respirasi anaerob). Oleh karena itu, disebut proses
anaerob. Apabila otot melakukan kontraksi secara terus-menerus dalam jangka
waktu yang lama maka otot akan mengalami kelelahan. Hal tersebut terjadi
sebagai akibat turunnya kandungan konsentrasi ATP dan fosfokreatin. Sebaliknya,
pada saat ini justru akan terjadi kenaikan konsentrasi ADP, AMP, dan asam laktat.
Sumber lain untuk menghasilkan energi, yaitu dengan cara mengubah glikogen
menjadi glukosa (proses glikolisis). Proses glikolisis terjadi di sitoplasma sel otot
(sarkoplasma) yang membutuhkan enzim-enzim sebagai katalisator reaksi. Proses
ini terjadi cepat namun hasil ATP-nya sedikit. Proses ini dapat terjadi dalam
kondisi aerob (ada oksigen) atau dalam kondisi anaerob (tanpa ada oksigen).
Normalnya asam piruvat yang dihasilkan oleh reaksi glikolisis akan memasuki
mitokondria untuk menjalani proses selanjutnya yang disebut fosforilasi oksidatif.
Bila tidak tersedia cukup oksigen maka jalur anaerobiklah yang akan dominan,
asam piruvat tidak masuk ke mitokondria tetapi dimetabolisme menjadi asam
laktat.
Biasanya persediaan kreatin fosfat di otot sangat sedikit. Persediaan ini harus
segera dipenuhi lagi dengan cara oksidasi karbohidrat. Cadangan karbohidrat di
dalam otot adalah glikogen. Glikogen dapat diubah dengan segera menjadi
glukosa-6-fospat. Perubahan tersebut merupakan tahapan pertama dari proses
respirasi sel yang berlangsung dalam mitokondria yang menghasilkan ATP.
Glikogen adalah senyawa yang tidak larut. Oleh karena itu, harus dilarutkan
dahulu menjadi laktasidogen. Laktasidogen ini diubah menjadi glukosa dan asam
laktat. Glukosa yang dihasilkan dioksidasi menjadi CO2, H2O, dan energi. Energi
yang dibebaskan selanjutnya digunakan untuk membentuk ATP dan fosfokreatin.
Proses ini terjadi pada saat otot berelaksasi, dan membutuhkan oksigen bebas
(respirasi aerob). Oleh karena itu, proses relaksasi disebut fase aerob.
Penimbunan asam laktat yang terlalu banyak di dalam otot, dapat menyebabkan
kelelahan. Asam laktat yang berlebihan tersebut akan dioksidasi oleh oksigen,
apabila terlalu banyak dibutuhkan oksigen untuk mengoksidasi asam laktat dapat
menyebabkan gangguan pada pernafasan (nafas tersengal-sengal

Gambar 5 Berbagai sumber energi untuk gerakan otot


2.9. Kontraksi dan relaksasi Otot

Gambar 6 : kontraksi dan relaksasi otot


 Tahap-tahap kontraksi dan relaksasi otot

1. Sinyal listrik masuk ke dalam sel saraf yang menyebabkan sel saraf
mengeluarkan sinyal kimia (neurotransmiter) di celah (sinapsis) antara sel saraf
dan sel otot.
2. Sinyal kimia memasuki sel otot dan berikatan langsung dengan protein reseptor
yang ada di membrane plasma sel otot (sarkolema) dan menimbulkan potensial
aksi di sel otot.
3. Potensial aksi yang terjadi ini menyebar ke seluruh bagian sel otot dan masuk
ke sel melalui T-tubule.
4. Potensial aksi membuka gerbang bagi tempat penyimpanan kalsium
(sarcoplasmic reticulum).
5. Ion Ca2+ bergerak ke sitoplasma sel otot (sarkoplasma) tempat di mana aktin
dan miosin berada.
6. Ion kalsium berikatan pada molekul troponin-tropomiosin yang terletak di
daerah lekukan filamen aktin. Biasanya molekul tropomiosin melilit aktin di
mana miosin dapat membentuk crossbrigdes.
7. Saat berikatan dengan ion kalsium, troponin mengubah bentuk dan menggeser
tropomiosin keluar dari lekukan aktin, memperlihatkan ikatan aktin-miosin.
8. Miosin berinteraksi dengan aktin melalui putaran crossbrigdes. Dan kemudian
otot berkontraksi, menghasilkan tenaga dan memendek.
9. Setelah potensial aksi lewat gerbang Ca2+ menutup kembali, Ca2+ yang ada di
retikulum sarkoplasma akhirnya dilepaskan dari sarkoplasma.
10. Saat itu juga troponin kehilangan konsentrasi Ca2+.
11. Troponin kembali ke posisi semula dan tropomiosin kembali melilit ikatan
aktin-miosin di filamen aktin.
12. Karena tidak terbentuknya site di mana terjadi ikatan aktin-miosin, maka tidak
ada crossbridges yang terbentuk dan otot kembali rileks.

Semua aktivitas di atas memerlukan energi. Otot menggunakan energi


dalam bentuk ATP. Energi dari ATP dipakai untuk mengulang kembali dari awal
kepala crossbridges miosin dan melepaskan filamen aktin. Dan untuk
menghasilkan ATP, otot melakukan hal berikut:

1. Memecah fosfokreatin (bentuk penyimpanan fosfat berenergi tinggi) dan


menambahkan fosfat pada ADP untuk membentuk ATP.
2. Melakukan respirasi anaerob, menghasilkan asam laktat dan membentuk ATP.
3. Melakukan respirasi aerob, memecah glukosa, lemak, dan protein dalam
suasana O2 menghasilkan ATP.

Gambar 7 : Perbedaan posisi aktin dan miosin saat relaksasi dan kontraksi

2.10. Kelainan Pada Otot


1. Atrofi otot, merupakan penurunan fungsi otot karena otot mengecil atau
karena kehilangan kemampuan berkontraksi, misalnya lumpuh.
2. Distorsi otot, penyakit ini diperkirakan merupakan penyakit genetis dan
bersifat kronis pada otot anak-anak.
3. Hipertrofi otot, merupakan kelainan otot yang menyebabkan otot menjadi
lebih besar dan lebih kuat karena sering digunakan, misalnya pada
binaragawan.
4. Hernia abdominal, kelainan ini terjadi apabila dinding otot abdominal sobek
dan menyebabkan usus melorot masuk ke rongga perut.
5. Kelelahan otot, karena kontraksi secara terus-menerus menyebabkan kram
atau kejang.
6. Tetanus, merupakan penyakit yang menyebabkan otot menjadi kejang karena
bakteri tetanus.
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Struktutr otot terdiri atas berkas-berkas serabut otot, berkas serabut otot ini
terdiri atas sel-sel otot. Di dalam setiap sel otot terdiri atas sarkolemna,
sarkoplasma, dan miofibril. Miofibril memliliki struktur gelap dan strukur terang.
Dalam pola gelap dan terang tersebut terdapat miofilamen yang terdiri atas
filamen tipis dan filamen tebal. Filamen tipis merupakan aktin sedangkan filamen
tebal merupakan mioisin. Aktin dan miosin merupakan protein sel otot yang
bertanggung jawab atas kontraksi otot, selain aktin dan miosin, terdapat pula
beberapa protein otot yang mempunyai peran penting dalam kontraksi otot, yaitu
titin, tropomiosin, dan troponin.

3.2 Saran

a. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.

b. Semoga dengan adanya materi pada makalah ini bisa menunjang pambelajaran
dan diskusi didalam kelas.

c. Penyusun makalah mengharapkan kritik dan saran yang membangun bagi


kelancaran dan kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya
DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar S. Biologi. 2011. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian


Pendidikan Nasional.

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan


Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi U. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2.


Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.