Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sistem pemerintahan suatu negara berguna bagi negara lain. Salah
satu keguanaan penting sistem pemerintahan suatu negara adalah menjadi
bahan perbandingan bagi negara lain. Jadi, negara-negara lainpun dapat
mencari dan menemukan beberapa persamaan dan perbedaan antara sistem
pemerintahannya.
Tujuan selanjutnya adalah negara dapat mengembangkan suatu sistem
pemerintahan yang dianggap lebih baik dari sebelumnya setelah melakukan
perbandingan tadi. Mereka bisa pula mengadopsi sistem pemerintahan negara
lain sebagai sistem pemerintahan negara yang bersangkutan. Sistem
pemerintahan negara-negara di dunia ini berbeda-beda sesuai dengan kondisi
sosial budaya dan politik yang berkembang di negara yang bersangkutan.
Fungsi dari membandingkan dua objek adalah agar mengetahui
apakah diantara keduanya terdapat persamaan dan perbedaan, jika memang
ada, bagaimana dan seperti apa. Pembahasan kali ini akan mengupas perihal
perbandingan sistem tata pemerintahan antara negara Indonesia dan Negara
Jepang. Sebelum masuk pada pokok bahasan terlebih dahulu akan kita bahas
mengenai perbandingan sistem tata pemerintahan diantara keduanya. Yang
dimaksudkan dengan memperbandingkan di sini ialah mencari dan
mensinyalir perbedaan-perbedaan serta persamaan-persamaan dengan
memberi penjelasannya.

Perbandingan Administrasi Publik 1


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan ulasan latar belakang diatas, maka permasalahan yang
akan dibahas yaitu:
1. Bagaimana Sistem Politik Di Indonesia?
2. Bagaimana Sistem Pemerintahan Di Indonesia?
3. Bagaimana Sistem Sosial dan Kebudayaan Di Indonesia?
4. Bagaimana Perbandingan Negara Indonesia Dengan Negara Jepang?
5. Bagaimana Persamaan dan Perbedaan Kedua Negara Tersebut?
6. Bagaimana Kelemahan dan Kelebihan Kedua Negara Tersebut?

1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, penulis merumuskan tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk Mengetahui Bagaimana Sistem Politik Di Indonesia?
2. Untuk Mengrtahui Bagaimana Sistem Pemerintahan Di Indonesia?
3. Untuk Mengrtahui Bagaimana Sistem Sosial dan Kebudayaan Di
Indonesia?
4. Untuk Mengrtahui Bagaimana Perbandingan Negara Indonesia Dengan
Negara Jepang?
5. Untuk Mengrtahui Bagaimana Persamaan dan Perbedaan Kedua Negara
Tersebut?
6. Untuk Mengrtahui Bagaimana Kelemahan dan Kelebihan Kedua Negara
Tersebut?

1.4 Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari penulisan ini terdapat pada aspek
praktis yaitu dimana hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi masukan
mengenai sistem politik, sistem pemerintahan dan sistem sosial &
kebudayaan Negara Indonesia, serta mengenai perbandingan Negara
Indonesia dengan negara Jepang untuk melihat persamaan, perbedaan,
kelebihan dan kelemahan dari kedua negara tersebut.

Perbandingan Administrasi Publik 2


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sistem Politik Indonesia


Sistem Politik Indonesia adalah sebuah sistem politik yang berlaku di
Indonesia. Artinya bahwa sistem politik Indonesia merupakan sistem politik
yang dianut oleh Indonesia yang berdasarkan nilai budaya Indonesia yang
bersifat turun-temurun dan juga bisa diadopsi dari nilai budaya asing yang
positif bagi pembangunan sistem politik Indonesia. Sistem politik
Indonesia diartikan sebagai kumpulan atau keseluruhan berbagai
kegiatan dalam Negara Indonesia yang berkaitan dengan kepentingan umum
termasuk proses penentuan tujuan, upaya-upaya mewujudkan tujuan,
pengambilan keputusan, seleksi dan penyusunan skala prioritasnya. Politik
adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam
konstitusi negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif).
Dalam Penyusunan keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya
kekuatan yang seimbang dan terjalinnya kerjasama yang baik antara
suprastruktur dan infrastruktur politik sehingga memudahkan terwujudnya
cita-cita dan tujuan-tujuan masyarakat/Negara. Dalam hal ini yang
dimaksud suprastruktur politik adalah Lembaga-Lembaga Negara. Lembaga-
lembaga tersebut di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yakni MPR, DPR,
DPD, Presiden dan Wakil Presiden, Mahkamah Agung, Mahkamah
Konstitusi, Komisi Yudisial. Lembaga-lembaga ini yang akan membuat
keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan umum. Badan
yang ada di masyarakat seperti Parpol, Ormas, media
massa,Kelompok kepentingan (Interest Group), Kelompok Penekan
(Presure Group),Alat/Media Komunikasi Politik, Tokoh Politik (Political
Figure), dan pranata politik lainnya adalah merupakan infrastruktur
politik, melalui badan-badan inilahmasyarakat dapat menyalurkan
aspirasinya. Tuntutan dan dukungan sebagai input dalam proses pembuatan

Perbandingan Administrasi Publik 3


keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakat diharapkankeputusan yang
dibuat pemerintah sesuai dengan aspirasi dan kehendak rakyat.
Proses Politik Di Indonesia
Sejarah Sistem politik Indonesia dilihat dari proses politiknya bisa
dilihat darimasa-masa berikut ini:1)
a) Masa prakolonial-Masa kolonial (penjajahan);
b) Masa Demokrasi Liberal;
c) Masa Demokrasi terpimpin;
d) Masa Demokrasi Pancasila;
e) Masa Reformasi.
Masing-masing masa tersebut kemudian dianalisis secara sistematis
dari aspek:
a) Penyaluran tuntutan-Pemeliharaan nilai;
b) Kapabilitas-Integrasi vertical;
c) Integrasi horizontal;
d) Gaya Politik;
e) Kepemimpinan;
f) Partisipasi massa;
g) Keterlibatan militer;
h) Aparat negara;
i) Stabilitas.2)
Bila diuraikan kembali maka diperoleh analisis sebagai berikut :
 Masa prakolonial (Kerajaan)
a) Penyaluran tuntutan : Rendah dan terpenuhi.
b) Pemeliharaan nilai : Disesuikan dengan penguasa.
c) Kapabilitas :SDA melimpah.
d) Integrasi vertical : Atas bawah.
e) Integrasi horizontal : Nampak hanya sesama penguasa kerajaan.
f) Gaya politik : Kerajaan.
Nugroho Notosusanto, “Sejarah Nasional Indonesia”, Balai Pustaka, 2008, hlm. 14-28
1)

Nazaruddin, “Profil Budaya Politik Indonesia”, Pustaka Utama, 1991, hlm. 8-11
2)

Perbandingan Administrasi Publik 4


g) Kepemimpinan : Raja, pangeran dan keluarga kerajaan.
h) Partisipasi massa : Sangat rendah.
i) Keterlibatan militer : Sangat kuat karena berkaitan dengan perang.
j) Aparat negara : Loyal kepada kerajaan dan raja yang memerintah.
k) Stabilitas : stabil dimasa aman dan instabil dimasa perang.

 Masa kolonial (penjajahan)


a) Penyaluran tuntutan : Rendah dan tidak terpenuhi.
b) Pemeliharaan nilai : Sering terjadi pelanggaran HAM.
c) Kapabilitas : Melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah.
d) Integrasi vertical : Atas bawah tidak harmonis.
e) Integrasi horizontal : Harmonis dengan sesama penjajah atau elit
pribumi.
f) Gaya politik : Penjajahan, politik belah bambu (memecah belah).
g) Kepemimpinan : Dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat.
h) Partisipasi massa : Sangat rendah bahkan tidak ada.
i) Keterlibatan militer : Sangat besar.
j) Aparat negara : Loyal kepada penjajah.
k) Stabilitas : Stabil tapi dalam kondisi mudah pecah.

 Masa Demokrasi Liberal


a) Penyaluran tuntutan : Tinggi tapi sistem belum memadani.
b) Pemeliharaan nilai : Penghargaan HAM tinggi.
c) Kapabilitas : Baru sebagian yang dipergunakan,
kebanyakan masih potensial.
d) Integrasi vertical : Dua arah, atas bawah dan bawah atas.
e) Integrasi horizontal : Disintegrasi, muncul solidarity makers dana
dministrator.
f) Gaya politik : Ideologis.
g) Kepemimpinan : Angkatan sumpah pemuda tahun 1928.
h) Partisipasi massa : Sangat tinggi, bahkan muncul kudeta.

Perbandingan Administrasi Publik 5


i) Keterlibatan militer : Militer dikuasai oleh sipil.
j) Aparat negara : Loyak kepada kepentingan kelompok atau partai.
k) Stabilitas : Instabilitas.
 Masa Demokrasi terpimpin
a) Penyaluran tuntutan : Tinggi tapi tidak tersalurkan karena adanya Front
nasional.
b) Pemeliharaan nilai : Penghormatan HAM rendah.
c) Kapabilitas : Abstrak, distributif dan simbolik, ekonomi tidak
maju.
d) Integrasi vertical : Atas bawah.
e) Integrasi horizontal : Berperan solidarity makers.
f) Gaya politik : Ideolog, nasakom.
g) Kepemimpinan : Tokoh kharismatik dan paternalistic.
h) Partisipasi massa : Dibatasi.
i) Keterlibatan militer : Militer masuk ke pemerintahan.
j) Aparat negara : Loyal kepada negara.
k) Stabilitas : Stabil.
 5. Masa Demokrasi Pancasila
a) Penyaluran tuntutan : Awalnya seimbang kemudian tidak terpenuhi
karena fusi.
b) Pemeliharaan nilai : Terjadi Pelanggaran HAM tapi ada pengakuan
HAM.
c) Kapabilitas : Sistem terbuka.
d) Integrasi vertical : Atas bawah.
e) Integrasi horizontal : Nampak.
f) Gaya politik : Intelek, pragmatik, konsep pembangunan.
g) Kepemimpinan : Teknokrat dan ABRI.
h) Partisipasi massa : Awalnya bebas terbatas, kemudian lebih banyak
dibatasi.
i) Keterlibatan militer : Merajalela dengan konsep dwifungsi ABRI.
j) Aparat negara : Loyal kepada pemerintah (Golkar).

Perbandingan Administrasi Publik 6


k) Stabilitas : Stabil.

 Masa Reformasi
a) Penyaluran tuntutan : Tinggi dan terpenuhi.
b) Pemeliharaan nilai : Penghormatan HAM tinggi.
c) Kapabilitas : Disesuaikan dengan Otonomi daerah.
d) Integrasi vertical : Dua arah, atas bawah dan bawah atas.
e) Integrasi horizontal : Nampak, muncul kebebasan (euforia).
f) Gaya politik : Pragmatic.
g) Kepemimpinan : Sipil, purnawiranan, politisi.
h) Partisipasi massa : Tinggi.
i) Keterlibatan militer : Dibatasi.
j) Aparat negara : Harus loyal kepada negara bukan pemerintah.
k) Stabilitas : Instabilitas.

2.2 Sistem Pemerintahan Indonesia


Sistem pemerintahan adalah sistem yang dimiliki suatu negara dalam
mengatur pemerintahannya. Sesuai dengan kondisi negara masing-masing,
sistem ini dibedakan menjadi: Presidensial, Parlementer, Semipresidensial,
Komunis, Demokrasi liberal dan Liberal. Sistem pemerintahan mempunyai
sistem dan tujuan untuk menjaga suatu kestabilan negara itu. Namun di
beberapa negara sering terjadi tindakan separatisme karena sistem
pemerintahan yang dianggap memberatkan rakyat ataupun merugikan rakyat.
Sistem pemerintahan mempunyai fondasi yang kuat dimana tidak bisa diubah
dan menjadi statis. Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga
kestabilan masyarakat, menjaga tingkah laku kaum mayoritas maupun
minoritas, menjaga fondasi pemerintahan, menjaga kekuatan politik,
pertahanan, ekonomi, keamanan sehingga menjadi sistem pemerintahan yang
kontinu dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil
dalam pembangunan sistem pemerintahan tersebut.

Perbandingan Administrasi Publik 7


2.2.1 Pemerintahan Berdasarkan Konstitusi
Istilah konstitusi berasal dari bahasa Perancis, yaitu constituer
berarti membentuk, yang dimaksud ialah membentuk suatu negara,
dalam bahasa Inggris dipakai istilah constitution yang dalam bahasa
Indonesia disebut konstitusi, dalam praktek dapat berarti lebih luas dari
pada pengertian Undang-Undang Dasar, tetapi ada juga yang
menyamakan dengan Undang-Undang Dasar (Dahlan Thaib, 2008 : 7).
Dalam bahasa Latin, kata konstitusi merupakan gabungan dari dua kata,
yaitu cume adalah sebuah reposisi yang berarti bersama dengan…….,
dan statuere berasal dari kata sta yang membentuk kata kerja pokok
stare yang berarti berdiri. Atas dasar itu maka kata statuere mempunyai
arti membuat sesuatu agar berdiri atau mendirikan atau menetapkan
(Dahlan Thaib, 2008 : 7)3)
Pengertian konstitusi menurut bahasa Perancis, bahasa Inggris
dan bahasa Latin, pada intinya adalah suatu ungkapan untuk
membentuk, mendirikan/menetapkan, lebih lanjut dikenal dengan
maksud pembentukan, penyusunan atau menyatakan suatu negara,
maka dengan kata lain secara sederhana, konstitusi dapat diartikan
sebagai suatu pernyataan tentang bentuk dan susunan suatu negara,
yang dipersiapkan sebelum maupun sesudah berdirinya negara yang
bersangkutan (Jazim Hamidi, 2009 : 87).4)
Berdasarkan definisi konstitusi menurut C.F. Strong, yang
ditulis oleh Jazim Hamidi, terdapat tiga unsur yang termuat dalam
konstitusi, yaitu :
1. Prinsip-prinsip mengenai kekuasaan pemerintahan;
2. Prinsip-prinsip mengenai hak-hak mengenai warga negara; dan
3. Prinsip-prinsip mengenai hubungan antara warga negara dengan
pemerintah (Jazim Hamidi, 2009 : 88).
3)
Dahlan Thaib, Teori dan Hukum Konstitusi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008),
hlm. 7.
4)
Jazim Hamidi, Hukum perbandingan Konstitusi, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publiser,
2009), hlm. 87.

Perbandingan Administrasi Publik 8


Konstitusi secara umum memiliki sifatsifat formil dan materiil.
Konstitusi dalam arti formil berarti konstitusi yang tertulis dalam suatu
ketatanegaraan suatu negara, Dalam pandangan ini suatu konstitusi baru
bermakna apabila konstitusi tersebut telah berbentuk nakskah tertulis
dan diundangkan, misalnya UUD 1945, Sedangkan konstitusi materiil
adalah suatu konstitusi jika orang melihat dari segi isinya, isi konstitusi
pada dasarnya menyangkut hal-hal yang bersifat dasar atau pokok bagi
rakyat dan negara ( Titik Triwulan Tutik, 2006 : 2).5)
Berikut merupakan perkembangan dan perubahan konstitusi di
Indonesia seperti diuraikan dalam pembahasan berikut ini :
a) Periode 18 Agustus 1945 sampai dengan27 Desember 1949,
masa berlakunya Undang-Undang Dasar 1945.
Pada masa periode pertama kali terbentuknya Negara
RepublikIndonesia, konstitusi atau Undang-Undang Dasar yang
pertama kali berlaku adalah UUD 1945 hasil rancangan BPUPKI,
kemudian disahkan oleh PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945.
Menurut UUD 1945 kedaulatan berada ditangan rakyat dan
dilaksanakan oleh MPR yang merupakan lembaga tertinggi negara.
Berdasarkan UUD 1945, MPR terdiri dari DPR, Utusan
Daerah dan Utusan Golongan. dalam menjalankan kedaulatan
rakyat mempunyai tugas dan wewenang menetapkan UUD,
GBHN, memilih dan mengangkat Presiden dan wakil Presiden
serta mengubah UUD. Selain MPR terdapat lembaga tinggi negara
lainnya dibawah MPR, yaitu Presiden yang menjalankan
pemerintahan, DPR yang membuat Undang-Undang, Dewan
Pertimbangan Agung (DPA) dan Mahkamah Agung (MA).
Menyadari bahwa negara Indonesia baru saja terbentuk,
tidak mungkin semua urusan dijalankan berdasarkan konstitusi,

5)
Titik Triwulan Tutik, Pokok-pokok Hukum Tata Negara, (Jakarta: Prestasi Pustaka
Publiser, 2006), hlm. 2.

Perbandingan Administrasi Publik 9


maka berdasarkan hasil kesepakatan yang termuat dalam Pasal 3
Aturan Peralihan menyatakan:”Untuk pertama kali Presiden dan
Wakil Presiden dipilih oleh PPKI.” Kemudian dipilihlah secara
aklamasi Soekarno dan Moh. Hatta sebagai Presiden dan Wakil
Presiden Republik Indonesia yang pertama kali. Dalam
menjalankan tugasnya presiden dibantu oleh Komite Nasional,
dengan sistem pemerintahan presidensial artinya kabinet
bertanggung jawab pada presiden.
Pada masa ini terbukti bahwa konstitusi belum dijalankan
secara murni dan konsekuen, sistem ketatanegaraan berubah-ubah,
terutama pada saat dikeluarkannya maklumat Wakil Presiden No.
X tanggal 16 Oktober 1945, yang berisi bahwa Komite Nasional
Indonesia Pusat (KNIP) sebelum terbentuknya MPR dan DPR
diserahi tugas legislatif dan menetapkan GBHN bersama Presiden,
KNIP bersama Presiden menetapkan Undang-Undang, dan dalam
menjalankan tugas sehari-hari dibentuklah badan pekerja yang
bertanggung jawab kepada Komite Nasional Pusat ( Titik Triwulan
Tutik, 2006 : 67).6)

b) Periopde 27 Desember 1949 sampai dengan 17 Agustus 1950,


masaberlakunya Undang-Undang DasarRepublik Indonesia
Serikat (RIS).
Sebagai rasa ungkapan ketidakpuasan bangsa Belanda atas
kemerdekaan Republik Indonesia, terjadilah kontak senjata (agresi)
oleh Belanda pada tahun 1947 dan 1948, dengan keinginan
Belanda untuk memecah belah NKRI menjadi negara federal agar
dengan secara mudah dikuasai kembali oleh Belanda,

6)
Ibid., hlm 67.

Perbandingan Administrasi Publik 10


akhirnya disepakati untuk mengadakan Konferensi Meja Bundar
(KMB) di Den Haag Belanda, dengan menghasilkan tiga buah
persetujuan antara lain :
 Mendir ikan Negara Republik Indonesia Serikat;
 Penyerahan kedaulatan KepadaRepublik Indonesia Serikat;
dan
 Didirikan Uni antara RepublikIndonesia Serikat dengan
KerajaanBelanda ( Titik Triwulan Tutik, 2006:69).7)
Pada tahun 1949 berubahlah konstitusi Indonesia yaitu dari
UUD 1945 menjadi Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Serikat (UUD RIS), maka berubah pula bentuk Negara Kesatuan
menjadi negara Serikat (federal), yaitu negara yang tersusun dari
beberapa negara yang semula berdiri sendiri-sendiri kemudian
mengadakan ikatankerja sama secara efektif, atau dengankata lain
negara serikat adalah negara yang tersusun jamak terdiri dari
negara-negara bagian.
Kekuasaan kedaulatan Republik Indonesia Serik at dilak
ukan oleh pemerintah bersama-sama dengan DPR dan Senat.
Sistem pemerintahan presidensial berubah menjadi parlementer,
yang bertanggung jawab kebijaksanaan pemerintah berada di
tangan Menteri-Menteri baik secara bersama-sama maupun sendiri-
sendiri bertanggung jawab kepada parlemen (DPR), Namun
demikian pada konstitusi RIS ini juga belum dilaksanakan secara
efektif, karena lembaga-lembaga negara belum dibentuk sesuai
amanat UUD RIS.

7)
Ibid., hlm 69.

Perbandingan Administrasi Publik 11


c) Periode 17 Agustus 1950 samapi dengan5 Juli 1959, masa
berlaku Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950(UUDS
1950).
Ternyata Konstitusi RIS tidak berumur panjang, hal itu
disebabkan karena isi konstitusi tidak berakar dari kehendak
rakyat, juga bukan merupakan kehendak politik rakyat Indonesia
melainkan rekayasa dari pihak Balanda maupun PBB, sehingga
menimbulkan tuntutan untuk kembali ke NKRI. Satu persatu
negara bagian menggabungkan diri menjadi negara Republik
Indonesia, kemudian disepakati untuk kembali ke NKRI dengan
menggunakan UUD sementara 1950.
Bentuk negara pada konstitusi ini adalah Negara Kesatuan,
yakni negara yang bersusun tunggal, artinya tidak ada negara
dalam negara sebagaimana halnya bentuk negara serikat.
Ketentuan Negara Kesatuan ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (1)
UUDS 1950 yang menyatakan Republik Indonesia merdeka dan
berdaulat ialah negara hukum yang demokrasi dan berbentuk
kesatuan. Pelaksanaan konstitusi ini merupakan penjelmaan dari
NKRI berdasarkan Proklamasi 17 Agustua 1945, serta didalamnya
juga menjalankan otonomi atau pembagian kewenangan kepada
daerah-daerah di seluruh Indonesia.
Sistem pemerintahannya adalah sistem pemerintahan
parlementer, karena tugas-tugas ekskutif dipertanggungjawabkan
oleh Menteri-Menteri baiksecara bersama-sama maupun sendiri-
sendiri kepada DPR. Kepala negara sebagai pucuk pimpinan
pemerintahan tidak dapat diganggu gugat karena kepala negara
dianggap tidak pernah melakukan kesalahan, kemudian apabila
DPR dianggap tidak representatif maka Presiden berhak
membubarkan DPR (Dasril Radjab, 2005 : 202).8)

8)
Dasril Radjab, Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 202.

Perbandingan Administrasi Publik 12


d) Periode 5 Juli 1959 sampai dengan 19 Oktober 1999, masa
berlaku Undang-Undang Dasar 1945.
Pada periode ini UUD 1945 diberlakukan kembali dengan
dasar dekrit Prsiden tanggal 5 Juli tahun 1959. Berdasarkan
ketentuan ketatanegaraan dekrit presiden diperbolehkan karena
negara dalam keadaan bahaya oleh karena itu Presiden atau
Panglima Tertinggi Angkatan Perang perlu mengambil tindakan
untuk menyelamatkan bangsa dan negara yang diproklamasikan 17
Agustus 1945.
Berlakunya kembali UUD 1945 berarti merubah sistem
ketatanegaraan, Presiden yang sebelumnya hanya sebagai kepala
negara selanjutnya juga berfungsi sebagai kepala pemerintahan,
dibantu Menteri-Menteri kabinet yang bertanggung jawab kepada
Presiden. Sistem pemerintahan yang sebelumnya parlementer
berubah menjadi sistem presidensial.
Dalam praktek ternyata UUD 1945 tidak diberlakukan
sepenuhnya hingga tahun 1966. Lembaga-lembaga negara yang
dibentuk baru bersifat sementara dan tidak berdasar secara
konstitusional, akibatnya menimbulkan penyimpangan-
penyimpangan kemudian meletuslah Gerakan 30 September 1966
sebagai gerakan anti Pancasila yang dipelopori oleh PKI, walaupun
kemudian dapat dipatahkannya. Pergantian kepemimpinan nasional
terjadi pada periode ini, dari Presiden Soekarno digantikan
Soeharto, yang semula didasari oleh Surat Perintah Sebelas Maret
1966 kemudian dilaksanakanpemilihan umum yang kedua pada
tahun 1972.
Babak baru pemerintah orde baru dimulai, sistem
ketatanegaraan sudah berdasarkan konstitusi, pemilihan umun
dilaksanakan setiap 5 tahun sekali, pembangunan nasional berjalan
dengan baik, namun disisi lain terjadi kediktaktoran yang luar biasa
dengan alasan demi terselenggaranya stabilatas nasional dan

Perbandingan Administrasi Publik 13


pembangunan ekonomni, sehingga sistem demokrasi yang
dikehendaki UUD 1945 tidak berjalan dengan baik.
Keberadaan partai politik dibatasi hanya tiga partai saja,
sehingga demokrasi terkesan mandul, tidak ada kebebasan bagi
rakyat yang ingin menyampaikan kehendaknya, walaupun pilar
kekuasaan negara seperti ekskutif, legislatif dan yudikatif sudah
ada tapi perannya tidak sepenuhnya, kemauan politik menghendaki
kekuatan negara berada ditangan satu orang yaitu Presiden,
sehingga menimbulkan demontrasi besar pada tahun 1998 dengan
tuntutan reformasi, yang berujung pada pergantian kepemimpinan
nasional.

e) Periode 19 Oktober 1999 sampaidengan 10 Agustus 2002, masa


berlaku pelaksanaan perubahan Undang-Undang Dasar 1945.
Sebagai implementasi tuntutan reformasi yang
berkumandang pada tahun 1998, adalah melakukan perubahan
terhadap UUD 1945 sebagai dasar negara Republik Indonesia.
Dasar hukum perubahan UUD 1945 adalah Pasal 3 dan Pasal 37
UUD 1945 yang dilakukan oleh MPR sesuai dengan
kewenangannya, sehingga nilai-nilai dan prinsip-prinsip demokrasi
di Negara Kesatuan Rapublik Indonesia nampak diterapkan dengan
baik.
Dalam melakukan perubahan UUD 1945, MPR
menetapkan lima kesepakatan, yaitu :
 Tidak mengubah Pembukaan UUDNegara Republik Indonesia
1945;
 Tetap mempertahankan NegaraKesatuan Republik Indonesia;
 Mempertegas sistem pemerintahanpresidensial;
 Penjelasan Undang-Undang DasarNegara Republik Indonesia
Tahun1945 yang memuat hal-hal normatifakan dimaksukkan
kedalam pasalpasal(batang tubuh); dan

Perbandingan Administrasi Publik 14


 Melakukan perubahan dengan caraadendum.
Pada periode ini UUD 1945 mengalami perubahan hingga
ke empat kali, sehingga mempengaruhi proses kehidupan
demokrasi di Negara Indonesia. Seiring dengan perubahan UUD
1945 yang terselenggara pada tahun 1999 hingga 2002, maka
naskan resmi UUD 1945 terdiri atas lima bagian, yaitu UUD 1945
sebagai naskah aslinya ditambah dengan perubahan UUD 1945
kesatu, kedua , ketiga dan keempat, sehingga menjadi dasar negara
yang fundamental dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa
dan bernegara.

f) Periode 10 Agustus 2002 sampai dengan sekarang masa


berlaku Undang-Undang Dasar 1945, setelah mengalami
perubahan.
Bahwa setelah mengalami perubahan hingga keempat
kalinya UUD 1945 merupakan dasar Negara Republik Indonesia
yang fundamental untuk menghantarkan kehidupan berbangsa dan
bernegara bagi bangsa Indonesia, tentu saja kehidupan
berdemokrasi lebih terjamin lagi, karena perubahan UUD 1945
dilakukan dengan cara hatihati, tidak tergesa-gesa, serta dengan
menggunakan waktu yang cukup, tidak seperti yang dilakukan
BPUPKI pada saat merancang UUD waktu itu, yaitu sangat
tergesa-gesa dan masih dalam suasana dibawah penjajahan Jepang.
Pada awalnya gagasan untuk melaksanakan perubahan
amandemen UUD 1945 tidak diterima oleh kekuatan politik yang
ada, walaupun perdebatan tentang perubahan UUD 1945 sudah
mulai hangat pada tahun 1970 an. Pada saat reformasi, agenda
yang utama adalah melaksanakan perubahan UUD 1945, yaitu
telah terselenggara pada Sidang Umum MPR tahun 1999 dan
berhasil menetapkan perubahan UUD 1945 yang pertama,
kemudian disusul perubahan kedua, ketiga hingga keempat.

Perbandingan Administrasi Publik 15


Dahulu setiap gagasan amandemen UUD 1945 selalu dianggap
salah dan dianggap bertendensi subversi atas negara dan
pemerintah, tetapi dengan adanya perubahan pertama ditahun
1999, mitos tentang kesaktian dan kesakralan konstitusi itu
menjadi runtuh (Muh, Mahfud MD, 2003 : 176).9)
Nuansa demokrasi lebih terjamin pada masa UUD 1945
setelah mengalami perubahan. Keberadaan lembaga negara sejajar,
yaitu lembaga ekskutif (pemerintah), lembaga legislatif (MPR,
yang terdiri dari DPR dan DPD), lembaga Yudikatif (MA, MK dan
KY), dan lembaga auditif (BPK). Kedudukan lembaga negara
tersebut mempunyai peranan yang lebih jelas dibandingkan masa
sebelumnya. Masa jabatan presiden dibatasi hanya dua periode
saja, yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
Pelaksanaan otonomi daerah terurai lebih rinci lagi dalam
UUD 1945 setelah perubahan, sehingga pembangunan disegala
bidang dapat dilaksanakan secara merata di daerah-daerah.
Pemilihan kepala daerah dilaksanakan secara demokratis,
kemudian diatur lebih lanjut dalam UU mengenai pemilihan kepala
daer ah se cara langsung, sehingga rakyat dapat menentukan secara
demokrtis akan pilihan pemimpin yang sesuai dengan kehendak
rakyat.
Jaminan terhadap hak-hak asasi manusia dijamin lebih baik
dan diurai lebih rinci lagi dan UUD 1945, sehingga kehidupan
demokrasi lebih terjamin. Keberadaan partai politik tidak
dibelenggu seperti masa sebelumnya, ada kebebasan untuk
mendirikan partai politik dengan berasaskan sesuai dengan
kehendaknya asalkan tidak bertentangan dengan Pancasila dan
UUD 1945, serta dilaksanakannya pemilihan umum yangjujur dan
adil.
9)
Muh, Mahfud MD, Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Studi Tentang Interaksi
politik dan Kehidupan Ketatanegaraan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm. 176.

Perbandingan Administrasi Publik 16


Jadi pada saat ini Konstitusi Negara Indonesia menganut
bentuk negara kesatuan. Hal ini dapat dicerna dalam Pasal 1 ayat
(1) UUD 1945 yang menyatakan bahwa “Negara Indonesia adalah
negara kesatuan yang berbentuk Republik“. Dengan demikian dari
pasal tersebut sudah tercermin bentuk negara Indonesia dalam arti
bahwa pemerintah daerah memiliki kekuasaan yang terinci sesuai
dengan pemberian pemerintah pusat yang diatur dalam undang-
undang, sedangkan pemerintah pusat mempunyai kekuasaan yang
sangat luas. Bentuk negara kesatuan Indonesia akan melahirkan
strategi dalam pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah guna
mewujudkan tujuan dari negara sebagaimana di atur dalam aline ke
IV pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan
seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta dalam
melaksanakan ketertiban dunia.

2.2.2 Sistem Hukum Indonesia


Sistem hukum ini berkembang di negara- negara Eropa daratan
dan sering disebut sebagai “Civil Law” yang semula berasal dari
kodifikasi hukum yang berlaku di kekaisaran romawi pada masa
pemerintahan Kaisar justinianus abad VI sebelum masehi.10)
Negara negara penganut sistem hukum Eropa Koninental atau
civil law antara lain negara negara Perancis, Jerman, Belanda dan bekas
jajahan Belanda antara lain Indonesia, Jepang dan Thailand. Pada
sistem ini, putusan pengadilan berdasarkan pada peraturan perundang
undangan yang berlaku, contohnya bisa UUD 45, Tap MPR, UU/Perpu,
Peraturan Pemerintah, Perpres/Kep Pres, MA, Keputusan Menteri dan
lain lain. jadi, keputusan pengadilan bersifat fleksibel (berubah ubah)
tergantung hakim yang memutuskan berdasarkan fakta atau bukti yang
ada.
10)
Dedi Soemardi, Pengantar Hukum Indonesia, (Jakarta: Indhillco, 1997), hlm.73.

Perbandingan Administrasi Publik 17


Tidak menganut sistem juri karena negara negara tersebut
menganut faham bahwa orang awam yang tidak tahu hukum tidak bisa
ikut andil/menentukan nasib seseorang, tetapi putusan Hakim yang
menentukan berdasarkan fakta sumber sumber dan saksi saksi yang
mendukung.
Sistem Civil Law mempunyai tiga karakteristik, yaitu adanya
kodifikasi, hakim tidak terikat kepada presiden sehingga undang-
undang menjadi sumber hukum yang terutama, dan sistem peradilan
bersifat inkuisitorial. Karakteristik utama yang menjadi dasar sistem
Hukum Civil Law adalah hukum memperoleh kekuatan mengikat,
karena diwujudkan dalam peraturan-peraturan yang berbentuk undang-
undang dan tersusun secara sistematik di dalam kodifikasi.
Karakteristik dasar ini dianut mengingat bahwa nilai utama yang
merupakan tujuan hukum adalah kepastian hukum. Kepastian hukum
hanya dapat diwujudkan kalau tindakan-tindakan hukum manusia
dalam pergaulan hidup diatur dengan peraturan-peraturan hukum
tertulis. Dengan tujuan hukum itu dan berdasarkan sistem hukum yang
dianut, hakim tidak dapat leluasa menciptakan hukum yang mempunyai
kekuatan mengikat umum. Hakim hanya berfungsi menetapkan dan
menafsirkan peraturan-peraturan dalam batas-batas wewenangnya.
Putusan seorang hakim dalam suatu perkara hanya mengikat para pihak
yang berperkara saja (Doktrins Res Ajudicata).
Karakteristik kedua pada sistem Civil Law yaitu yang menjadi
pegangan hakim adalah aturan yang dibuat oleh parlemen, yaitu
undang-undang.11) Karakteristik ketiga pada sistem hukum Civil Law
adalah apa yang oleh Lawrence Friedman disebut sebagai digunakannya
sistem Inkuisitorial dalam peradilan.

11)
Jeremias Lemek, Mencari Keadilan: Pandangan Kritis Terhadap Penegakan Hukum
DiIndonesia, (Jakarta: Galang Press, 2007), Hlm. 45.

Perbandingan Administrasi Publik 18


Di dalam sistem itu, hakim mempunyai peranan yang besar
dalam mengarahkan dan memutuskan perkara; hakim aktif dalam
menemukan fakta dan cermat dalam menilai alat bukti. Menurut
pengamatan Friedman, hakim di dalam sistem hukum Civil Law
berusaha untuk mendapatkan gambaran lengkap dari peristiwa yang
dihadapinya sejak awal. Sistem ini mengandalkan profesionalisme dan
kejujuran hakim. Bentuk-bentuk sumber hukum dalam arti formal
dalam sistem hukum Civil Law berupa peraturan perundang-undangan,
kebiasaan-kebiasaan, dan yurisprudensi. Dalam rangka menemukan
keadilan, para yuris dan lembaga-lembaga yudisial maupun quasi-
judisial merujuk kepada sumber-sumber tersebut. Dari sumber-sumber
itu, yang menjadi rujukan pertama dalam tradisi sistem hukum Civil
Law adalah peraturan perundang-undangan. Negara-negara penganut
civil law menempatkan konstitusi pada urutan tertinggi dalam hirarki
peraturan perundang -undangan. Semua negara penganut civil law
mempunyai konstitusi tertulis.
Dalam perkembangannya, sistem hukum ini mengenal
pembagian hukum publik dan hukum privat. Hukum publik mencakup
peraturan-peraturan hukum yang mengatur kekuasaan dan wewenang
penguasa/negara serta hubungan-hubungan antara masyarakat dan
negara (sama dengan hukum publik di sistem hukum Anglo-Saxon).
Hukum Privat mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur
tentang hubungan antara individu-individu dalam memenuhi kebutuhan
hidup demi hidupnya.12)
Sistem hukum ini memiliki segi positif dan negatif. Segi
positifnya adalah hampir semua aspek kehidupan masyarakat serta
sengketa-sengketa yang terjadi telah tersedia undang-undang/hukum
tertulis, sehingga kasus-kasus yang timbul dapat diselesaikan dengan
mudah,
12)
Soerojo Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum adat, (Jakarta: Gunung
Agung, 1983), hlm. 27-31.

Perbandingan Administrasi Publik 19


disamping itu dengan telah tersedianya berbagai jenis hukum tertulis
akan lebih menjamin adanya kepastian hukum dalam proses
penyelesaiannya. Sedang segi negatifnya, banyak kasus yang timbul
sebagai akibat dari kemajuan zaman dan peradaban manusia, tidak
tersedia undang-undangnya. Sehingga kasus ini tidak dapat diselesaikan
di pengadilan. Hukum tertulis pada suatu saat akan ketinggalan zaman
karena sifat statisnya. Oleh karena itu, sistem hukum ini tidak menjadi
dinamis dan penerapannya cenderung kaku karena tugas hakim hanya
sekedar sebagai alat undang-undang. Hakim tak ubahnya sebagai abdi
undang-undang yang tidak memiliki kewenangan melakukan penafsiran
guna mendapatkan nilai keadilan yang sesungguhnya.Berikut beberapa
perbedaan antara sistem hukum Eropa kontinental dengan sistem anglo
saxon sebagai berikut :
 Sistem hukum eropa kontinental mengenal sistem peradilan
administrasi, sedang sistem hukum anglo saxon hanya mengenal
satu peradilan untuk semua jenis perkara.
 Sistem hukum eropa kontinental menjadi modern karena
pengkajian yang dilakukan oleh perguruan tinggi sedangkan sistem
hukum anglo saxon dikembangkan melalui praktek prosedur
hukum.
 Hukum menurut sistem hukum eropa kontinental adalah suatu
sollen bulan sein sedang menurut sistem hukum anglo saxon adalah
kenyataan yang berlaku dan ditaati oleh masyarakat.
 Penemuan kaidah dijadikan pedoman dalam pengambilan
keputusan atau penyelesaian sengketa, jadi bersifat konsep atau
abstrak menurut sistem hukum eropa kontinental sedang penemuan
kaidah secara kongkrit langsung digunakan untuk penyelesaian
perkara menurut sistem hukum anglo saxon.
 Pada sistem hukum eropa kontinental tidak dibutuhkan lembaga
untuk mengoreksi kaidah sedang pada sistem hukum anglo saxon
dibutuhkan suatu lembaga untuk mengoreksi,yaitu lembaga equaty.

Perbandingan Administrasi Publik 20


Lembaga ini memberi kemungkinan untuk melakukan elaborasi
terhadap kaidah-kaidah yang ada guna mengurangi ketegaran.
 Pada sistem hukum eropa kontinental dikenal dengan adanta
kodifikasi hukum sedangkan pada sistem hukum anglo saxon tidak
ada kodifikasi.
 Keputusan hakim yang lalu (yurisprudensi) pada sistem hukum
eropa kontinental tidak dianggap sebagai kaidah atau sumber
hukum sedang pada sistem hukum anglo saxon keputusan hakim
terdahulu terhadap jenis perkara yang sama mutlak harus diikuti.
 Pada sistem hukum eropa kontinental pandangan hakim tentang
hukum adalah lebih tidak tekhnis, tidak terisolasi dengan kasus
tertentu sedang pada sistem hukum anglo saxon pandangan hakim
lebih teknis dan tertuju pada kasus tertentu.
 Pada sistem hukum eropa kontinental bangunan hukum, sistem
hukum, dan kategorisasi hukum didasarkan pada hukum tentang
kewajiban sedang pada sistem hukum anglo saxon kategorisasi
fundamental tidak dikenal.Pada sistem hukum eropa kontinental
strukturnya terbuka untuk perubahan sedang pada sistem hukum
anglo saxon berlandaskan pada kaidah yang sangat kongrit.13)
Kesimpulannya yaitu bahwa system hukum Indonesia menganut
system Hukum Eropa Koninental atau Civil Law System.

2.2.3 Struktur Lembaga Negara Di Indonesia


Sistem pemerintahan negara RI menurut UUD 1945 Sistem
Pemerintahan menurut UUD ’45 sebelum diamandemen: 1. Kekuasaan
tertinggi diberikan rakyat kepada MPR. 2. DPR sebagai pembuat UU.
3. Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan. 4. DPA sebagai
pemberi saran kepada pemerintahan. 5. MA sebagai lembaga
pengadilan dan penguji aturan 6. BPK pengaudit keuangan.
13)
George Winterton, “Comparative Law Teaching” dalam the American Journal of
Comparative Law, Vol. 23, No. 1. (Winter, 1975), hal. 69-118.

Perbandingan Administrasi Publik 21


Sistem Pemerintahan setelah amandemen (1999 –2002) 1. MPR
bukan lembaga tertinggi lagi. 2. Komposisi MPR terdiri atas seluruh
anggota DPR ditambah DPD yang dipilih oleh rakyat. 3. Presiden dan
wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat. 4. Presiden tidak dapat
membubarkan DPR. 5. Kekuasaan Legislatif lebih dominan.
Perbandingan satu sistem pemerintahan yang dianut satu negara
terhadap negara lain Berdasarkan penjelasan UUD ’45, Indonesia
menganut sistem Presidensial.

 Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)


Sebelum Amandemen
MPR merupakan lembaga negara yang sudah ada sejak
adanya sebelum perubahan UUD Tahun 1945. Sebelum adanya
perubahan UUD 1945 MPR adalah lembaga yang tertinggi di
negara Indonesia dimana semua kekuasaan penuh berada ditangan
MPR. MPR sebagai sebuah nama dalam struktur ketatanegaraan
Republik Indonesia sudah ada sejak lahirnya negara ini. Awal
disahkannya UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 MPR
memiliki posisi sebagai lembaga negara tertinggi. Sebagai lembaga
negara tertinggi saat itu MPR ditetapkan dalam UUD 1945 sebagai
pemegang kedaulatan rakyat. Sebagai pemegang kedaulatan rakyat
MPR mempunyai wewenang memilih dan mengangkat Presiden
dan Wakil Presiden untuk jangka waktu lima tahunan. Oleh karena
mempunyai wewenang memilih dan mengangkat Presiden dan
Wakil Presiden. MPR mempunyai wewenang untuk
memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden sebelum masa
jabatannya berakhir apabila Presiden dan Wakil Presiden apabila
dianggap melanggar haluan negara.

Perbandingan Administrasi Publik 22


Pasal 2 ayat (1) UUD 1945 sebelum perubahan menyatakan bahwa
MPR terdiri atas anggota-anggota DPR ditambah dengan utusan
dari daerah dan golongan, menurut aturan yang ditetapkan dengan
undang-undang. 14)
Presiden yang diangkat oleh Majelis, tunduk dan
bertanggung jawab kepada Majelis. Ia adalah mandataris dari
majelis, ia wajib menjalankan putusan-putusan majelis.
MPR sebagai lembaga negara tertinggi menetapkan
kebijakan tentang garis-garis besar dari pada haluan negara, dan
melalui garis-garis besar dari pada haluan negara ini pemerintahan
dijalankan. Garis-garis besar dari pada haluan negara merupakan
pedoman pemerintah Presiden dalam menjalankan roda
pemerintahan. Jadi Presiden dalam menjalankan pemeritahan
berpedoman pada garis-garis besar haluan negara yang ditetapkan
oleh MPR. Apabila Presiden melanggar garis-garis besar haluan
negara yang ditetapkan oleh MPR, maka Presiden dapat
diberhentikan oleh MPR. Hal ini dianggap wajar sebab Presiden
adalah mandataris MPR, maksudnya MPR memberikan mandat
kepada Presiden untuk menjalankan pemerintahan, bila Presiden
melanggar mandat yang diberikan oleh rakyat maka rakyat dapat
memberhentikan Presiden.15)
Tugas MPR sebagai pemegang kekuasaan tertinggi adalah :
a) Menetapkan UUD
b) Menetapkan garis-Garis Besar haluan Negara
c) Memilih Presiden, dan melantik presiden dan wakil presiden

14)
Assidiqie Jimmly, Perkembangan dan konsolidasi lembaga Negara Pasca Reformasi,
(Jakarta: Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan MK RI, 2006), hlm. 14.
15)
Patrialis Akbar, Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD NRI Tahun 1945, (Jakarta:
Sinar Grafika, 2002), hlm. 10.

Perbandingan Administrasi Publik 23


Sedangkan kewenangan MPR adalah :
a) Membuat putusan yang tidak dapat dibatalkan oleh lembaga
negara lain, termasuk penetapan GBHN
b) Meminta pertanggungjawaban Presiden mengenai pelaksanaan
GBHN dan menilai pertanggungjawabannya
c) Mencabut kekuasaan dan memberhentikan presiden dalam
masa jabatannya apabila presiden sungguh-sungguh melanggar
GBHN dan/UUD
d) Mengubah UUD
Sesudah Amandemen
Dalam Perubahan UUD 1945, MPR tetap dipertahankan
keberadaannya dan diposisikan sebagai lembaga Negara. Namun
kedudukannya bukan lagi sebagai lembaga tertinggi supreme body
tetapi sebagai lembaga negara yang sejajar posisinya dengan
lembaga-lembaga negara yang lain. Predikat MPR yang selama ini
berposisi sebagai lembaga tertinggi negara telah dihapuskan
kekuasaan tertinggi di tangan majelis. MPR tidak lagi diposisikan
sebagai lembaga penjelmaan kedaulatan rakyat. Hal ini
dikarenakan pengalaman sejarah selama orde baru lembaga MPR
telah terkooptasi kekuasaan eksekutif Suharto yang amat kuat yang
menjadikan MPR hanyalah sebagai pengemban stempel penguasa
dengan berlindung pada hasil pemilihan umum yang secara rutin
setiap lima tahun sekali telah dilaksanakan dengan bebas, umum
dan rahasia. Dari pengalaman sejarah pemerintahan Orde Baru
itulah reposisi MPR perlu dilakukan.
Yang perlu mendapat catatan terhadap posisi MPR setelah
perubahan UUD 1945 adalah bahwa kewenangan MPR menjadi
dipersempit, maksudnya MPR hanyalah memiliki satu kewenangan
rutin yaitu melantik Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil
pemilihan umum. Sisanya merupakan kewenangan insidental
MPR, seperti memberhentikan Presiden dan Wakil Presiden.

Perbandingan Administrasi Publik 24


Dalam masa jabatannya menurut UUD Pasal 3 ayat (3) UUD 1945
Perubahan, mengubah dan menetapkan UUD Pasal 3 ayat (1) UUD
1945 Perubahan serta kewenangan insidental lain sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945
Perubahan ke empat. Perbedaan kewenangan rutin dengan
kewenangan insidental ini adalah bahwa kewenangan rutin pasti
dilaksanakan yaitu setiap lima tahun sekali, sedangkan
kewenangan insidental akan dilaksanakan jika terjadi sesuatu hal
yakni bila ada keinginan untuk merubah UUD, ataupun bila terjadi
Presiden dan Wakil Presiden terbukti melakukan pelanggaran
hukum atau sudah tidak dapat lagi menjalankan kewajibannya
sebagai Presiden dan Wakil Presiden.
Pasca perubahan UUD 1945, kewenangan MPR ada lima, yaitu :
a) Mengubah dan menetapkan UUD
b) Melantik presiden dan/wakil presiden
c) Memberhentikan presiden dan atau wakil presiden dalam masa
jabatannya menurut UUD
d) Memilih wakil presiden dari dua calon yang diusulkan oleh
presiden apabila terjadi kekosongan jabatan wakil presiden
dalam masa jabatannya
e) Memilih presiden dan wakil presiden apabila keduanya
berhenti secara bersamaan dalam masa jabatannya, dari dua
pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan
oleh partai politik atau gabungan partai politik yang pasangan
capres dan cawapresnya meraih suara terbanyak pertama dan
kedua dalam Pemilu sebelumnya sampai berakhir masa
jabatannya.

Perbandingan Administrasi Publik 25


 Dewan Perwakilah Rakyat (DPR)
Perubahan pertama UUD 1945 membawa dampak
perubahan pada kekuasaan DPR khususnya dalam hal membuat
Undang-undang.Sebelum perubahan UUD, kekuasaan membentuk
undang-undang ada di tangan presiden.Setelah perubahan,
kekuasaan membentuk undang-undang ada di tangan DPR,
sedangkan presiden berhak mengajukan rancangan undang-undang
kepada DPR.Berdasarkan perubahan pertama ini telah terjadi
pengurangan kekuasaan presiden dan penambahan kekuasaan
DPR. Penambahan kekuasaan tersebut meliputi :
a) Presiden harus memperhatikan pertimbangan dari DPR
dalam mengangkat dan menerima Duta, serta dalam
pemberian amnesti dan abolisi
b) Presiden harus mendapat persetujuan dari DPR dalam
mengangkat kepala kepolisian negara, Panglima TNI dan
Gubernur Bank Indonesia
c) DPR memilih anggota dan calon pimpinan lembaga tinggi
negara yang akan diangkat oleh presiden.
Selain kekuasaan di atas, DPR mempunyai fungsi legislasi,
anggaran dan pengawasan. Secara umum tugas dan wewenang
DPR adalah :
a) Membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan
presiden untuk mendapat persetujuan bersama
b) Menerima dan membahas usulan RUU yang disampaikan
DPD
c) Menetapkan APBN bersama dengan presiden dengan
memperhatikan pertimbangan DPD
d) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan UU,
APBN serta kebijakan pemerintah

Perbandingan Administrasi Publik 26


e) Membahas dan menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas
pertanggungjawaban keuangan negara yang disampaikan
oleh BPK
f) Memberikan persetujuan kepada presiden untuk
menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian
dengan negara lain.
g) Menyerap, menghimpun, menampung dan
menindaklanjuti aspirasi rakyat
Dalam menjalankan fungsinya, anggota DPR mempunyai
hak interpelasi (meminta keterangan), hak angket (mengadakan
penyelidikan), hak amandemen (mengadakan perubahan), hak
menyatakan pendapat, hak mengajukan RUU, mengajukan
pertanyaan, menyampaikan usul dan pendapat, membela diri, hak
imunitas, serta hak protokoler.
Dalam konsep Trias Politica, di mana DPR berperan
sebagai lembaga legislatif yang berfungsi untuk membuat undang-
undang dan mengawasi jalannya pelaksanaan undang-undang yang
dilakukan oleh pemerintah sebagai lembaga eksekutif. Fungsi
pengawasan dapat dikatakan telah berjalan dengan baik apabila
DPR dapat melakukan tindakan kritis atas kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah yang tidak sesuai dengan kepentingan
rakyat. Sementara itu, fungsi legislasi dapat dikatakan berjalan
dengan baik apabila produk hukum yang dikeluarkan oleh DPR
dapat memenuhi aspirasi dan kepentingan seluruh rakyat.16)

16)
Muhammad Iqbal, Sejarah Terbentuknya DPR, (Jakarta: Darma Pustaka, 2011), hlm.
13.

Perbandingan Administrasi Publik 27


 Dewan Perwalikan Daerah (DPD)
DPD merupakan representasi penduduk dalam satu wilayah
ruang yang akan mewakili kepentingan-kepentingan daerah dalam
proses pengambilan keputusan-keputusan politik penting di tingkat
nasional.17) Menurut Pasal 22 D UUD 1945, DPD memiliki tugas
dan wewenang antara lain sebagai berikut.
a) Mengajukan keputusan mengenai rancangan Undang-Undang
yang berkaitan dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan
daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan
daerah, pengelolaan sumberdaya alam dan sumberdaya
ekonomi, dan perimbangan keuangan pusat dan daerah.
b) Memberikan pertimbangan kepada lembaga DPR tentang
RAPBN dan RUU yang berkaitan dengan pendidikan, pajak,
dan agama.
c) Melakukan pengawasan atas pelaksanaan Undang-Undang
mengenai hal-hal yang berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan, pemekaran dan
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan
sumber daya ekonomi, serta pengembangan keuangan
pusatdan daerah.
Dari uraian diatas dapat dijelaskan DPD mempunyai peran
penting dalam pengembangan di daerahnya, untuk menunjang
hubungan daerahnya dengan pusat itu adalah tugas dan wewenang
DPD sebagai perwakilan dari daerah. Sukses tidaknya daerah
tersebut tergantung dari DPD dan Pemerintah Daerah tersebut.

17)
H.R DaengNaja, Dewan Perwakilan Daerah Bikameral Setengah Hati, (Yogyakarta:
Media Pressindo,2004), hlm. 16.

Perbandingan Administrasi Publik 28


Sebagai lembaga legislatif dan eksekutif kedua lembaga ini harus
mampu mengoptimalkan peran, tugas dan wewenang mereka
masing-masing dalam menciptakan daerah yang maju, nyaman dan
cerdas teknologi hal inimerupakan impian dari masyarakat didaerah
yang disalurkan aspirasinya melalui DPD.18)

 Presiden dan Wakil Presiden


Presiden Indonesia merupakan kepala negara sekaligus
kepala pemerintahan yang memegang kekuasaan eksekutif
menjalankan roda pemerintahan. Selain menjadi kepala negara
presiden juga mempunyai tanggung jawab atas negara, apabila ada
konfrensi maka presiden lah yang harus mewakili dari negaranya.
Presiden dan wakil presiden dipilih langsung melalui pemilu oleh
rakyat sesuai UUD 1945 sekarang. Masa jabatan presiden dan
wakil presiden adalah lima tahun dua kali masa jabatan sejak
mengucap janji dan dilantik oleh ketua MPR dalam sidang MPR.
Dalam menjalankan program dan kebijakan, pelaksanaannya harus
sesuai dengan UUD 1945 dan sesuai dengan tujuan negara dalam
pembukaan Undang-undang dasar 1945 serta dibantu oleh kabinet
menteri yang disusun secara otoriter oleh presiden sendiri.19)
Wewenang Presiden sebagai kepala negara yaitu sebagai
berikut: 1) Membuat perjanjian dengan negara lain melalui
persetujuan DPR. Membuat perjanjian dengan negara lain ini dapat
diartikan perjanjian kerjasama dalam peningkatan pembangunan
atau bisnis yang berkembang untuk kedua belah negara dan dalam
hal ini harus melibatkan DPR agar terlihat transparansi agar tidak
terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

18)
Asshiddiqie Jimly, 2005, Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran Kekuasaan
Dalam UUD 1945, Yogyakarta, UII Press, hlm 160.
19)
Dr. Patrialis Akbar, 2002, Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD NRI Tahun 1945,
Jakarta, Sinar Grafika, hlm 116.

Perbandingan Administrasi Publik 29


2) Mengangkat duta dan konsul itu adalah otoriter presiden hal ini
tidak dapat diintervensi oleh pihak manapun sebab orang-orang
yang dijadikan sebagai duta konsul adalah orang yang mempunyai
kapabilitas serta dipercaya oleh presiden karena hal ini
menyangkut kehormatan negara apabila memilih duta konsul untuk
negara lain. 3) Menerima duta dari negara asing hanya presiden
saja karena sebagai kepala negara yang mempunyai wewenang
untuk menerima duta dari negara lain adalah presiden.
Sebagai kepala negara presiden juga mempunyai wewenang
untuk memberikan gelar, tanda jasa, tanda kehormatan kepada
WNI ataupun WNA yang berjasa bagi Indonesia hal ini dilakukan
sebagai bukti bahwa presiden itu dekat dan peduli dengan
masyarakat tidak ada yang namanya tembok yang menghalangi
derajat seorang presiden dengan masyarakat sipil biasa. Selain itu
Presiden juga mempunyai wewenang sebagai kepala pemerintahan
yaitu: a) Menjalankan kekuasaan pemerintah sesuai UUD. Yaitu
melaksanakan roda pemerintahan sesuai Undang-Undang Dasar
1945 tidak keluar dari tujuan dari Undang-Undang Dasar 1945. b)
Berhak mengusulkan RUU kepada DPR. Mengusulkan rancangan
undang-undang kepada DPR apabila diperlukan, dan RUU tersebut
tidak bertentangan UUD 1945. c) Menetapkan peraturan
pemerintah pengganti Undang-Undang. Hak tersebut dibuat ketika
Negara mengalami keadaan genting. d) Memegang teguh UUD dan
menjalankan seluruh undang-undang dan peraturan dengan selurus-
lurusnya serta berbakti kepada Nusa dan Bangsa. e) Memberi grasi
atau potongan masa hukuman tahanan pada narapidana pada saat
hari-hari besar kenegaraan atau hari raya agama dan memberikan
rehabilitasi sebagai bentuk kepedulian untuk menyelamatkan
generasi bangsa yang menjadi korban narkoba. f) Memberi amnesti
dan abolisi dengan pertimbangan DPR.

Perbandingan Administrasi Publik 30


Selain sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan,
Presiden merupakan panglima angkatan tertinggi yang memiliki
wewenang sebagai berikut: a) menyatakan perang, perdamaian,
perjanjian dengan negara lain dengan persetujuan DPR. b)
membuat perjanjian internasional dengan persetujuan DPR. c)
menyatakan keadaan bahaya.
Dalam sistem pemerintahan Indonesia ditentukan adanya
satu jabatan presiden dan satu jabatan wakil presiden.Pada
hakikatnya presiden dan wakil presiden adalah satu lembaga
(institusi) yang tidak terpisahkan. Oleh karena itu, presiden dan
wakil presiden di Indonesia dipilih dalam satu paket pemilihan.
Presiden dan wakil presiden tidak dapat dijatuhkan atau
diberhentikan karena alasan politik. Jika dapat diberhentikan
karena alasan politik, kedua-duanya harus berhenti secara bersama-
sama. Jika ada alasan yang bersifat hukum (pidana), sesuai dengan
prinsip yang berlaku dalam hukum pertanggungjawaban pidana
pada pokoknya bersifat individu. Jadi, siapa saja di antara
keduanya yang bersalah secara hukum, atas dasar prinsip hukum ia
dapat diberhentikan sesuai prosedur yang ditentukan dalam
konstitusi. Jika presiden berhenti atau diberhentikan, wakil
presiden tidak secara otomatis ikut bersalah atau ikut
diberhentikan, sehingga ia dapat tampil mengambil alih kursi
kepresidenan. Demikian juga jika presiden berhenti karena
meninggal dunia, dengan sendirinya wakil presiden tampil sebagai
penggantinya. Wakil presiden Republik Indonesia mempunyai
kedudukan dan kekuasaan sebagai pengganti presiden.
Pemberhentian presiden dan/atau wakil presiden dapat
dilaksanakan oleh beberapa alasan. Diantaranya apabila telah
terjadi pelanggaran hukum (berupa pengkhianatan terhadap negara,
korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, perbuatan tercela

Perbandingan Administrasi Publik 31


dan terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan atau
wakil presiden.

 Dewan Pertimbangan
Pasal 16 sebelum amandemen, mengatur tentang Dewan
Pertimbangan Agung (DPA).Tugas dari DPA adalah memberikan
nasihat dan pertimbangan kepada presiden. Presiden tidak terikat
dengan nasihat dan pertimbangan yang diberikan oleh
DPA.Kedudukan Presiden dan DPA sejajar. Karena pertimbangan
untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas, maka dalam
perubahan pertama UUD1945, DPA dihapus. Sebagai gantinya
presiden mempunyai kekuasaan untuk membentuk Dewan
Pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan
pertimbangan kepada presiden dan berkedudukan di bawah
presiden. Dengan kedudukan di bawah presiden, tugas Dewan
Pertimbangan akan lebih efektif dan efisien karena langsung
berada di bawah dan koordinasi presiden. Ketentuan mengenai
Dewan Pertimbangan presiden diatur dalam UU No. 19 tahun
2006.

 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)


Badan Pemeriksa Keuangan adalah bab baru dalam UUD
1945 yang sudah diamandemen. Sebelumnya, BPK diatur dalam
satu ayat yakni dalam Ayat (5) Pasal 23 UUD 1945.Sesudah
amandemen, BPK diatur dalam tiga pasal yaitu Pasal 23E, Pasal 23
F dan Pasal 23G.
Dipisahkannya BPK dalam bab tersendiri berujuan agar
memberikan dasar hukum yang kuat serta memberikan kedudukan
yang mandiri serta sebagai lembaga negara yang berfungsi
memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

Perbandingan Administrasi Publik 32


Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan
pertimbangan DPD.

 Mahkamah Agung (MA)


Mahkamah Agung merupakan lembaga peradilan tertinggi
hal ini mengandung arti bahwa putusan yang yang diberikan di
tingkat akhir oleh badan peradilan lain, dapat dimintakan kasasi ke
MA. Sesuai dengan ketentuan Pasal 24A ayat (1), wewenang MA
adalah :
a) Mengadili pada tingkat kasasi
b) Menguji peraturan perundang-undangn di bawah undang-
undang terhadap undang-undang
c) Wewenang lainnya yang diberikan oleh Undang-Undang
Pengusulan calon hakim agung dilakukan oleh Komisi
Yudisial (KY) dengan persetujuan DPR. Ketentuan ini
memberikankewenangan kepada rakyat melalui DPR untuk
menentukan siapa saja yang paling tepat menjadi hakim agung
sesuai denga aspirasi dan kepentingan rakyat untuk memperoleh
jaminan kepastian hukum dan keadilan.

 Mahkamah Konstitusi (MK)


Perubahan UUD 1945 mengatur tentang kewenangan
Mahkamah Konsitusi di pasal 24C ayat (1), (2), (3), (4), ayat (5)
dan ayat (6). Adapun kewenangan itu adalah :
a) Menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang dasar
b) Memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang
kewenangannya diberikan oleh UUD
c) Memutus pembubaran partai Politik
d) Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum

Perbandingan Administrasi Publik 33


e) Wajib memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai
dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau wakil presiden
menurut UUD.

 Komisi Yudisial (KY)


Kewenangan komisi Yudisial (KY) tercantum dalam Pasal
24B ayat (1), ayat (2), dan ayat (3). Kewenangan tersebut adalah :
a) Mengusulkan pengangkatan hakim agung
b) Menjaga kehormatan dan menegakkan kehormatan, keluhuran
martabat serta perilaku hakim.
Keberadaan MK ini didasari paada pemikiran bahwa hakim
agung (hakim yang menjadi anggota MA) dan hakim di lembaga
peradilan di bawahnya merupakan figur yang sangat menentukan
dalam penegakan hukum dan keadilan di indonesia. Hal ini
menjadikan masalah kehormatan, keluhuran martabat dan perilaku
hakim merupakan hal yang sangat penting untuk mendukung upaya
menegakkan sistem peradilan yang handal dan mewujudkan
indonesia sebagai negara hukum.
Komisi Yudisial dapat mewujudkan terciptanya lembaga
peraadilan yang sesuai dengan harapan rakyat sekaligus dapat
mewujudkan penegakan hukum dan tercapainya keadilan yang
diputuskan oleh hakim yang terjaga kehormatan dan keluhuran
martabat serta perilakunya.Anggota KY diangkat dan
diberhentikan oleh presiden dengan persetujuan DPR.

2.2.4 Tujuan Sistem Pemerintahan


Tujuan pemerintahan negara pada umumnya didasarkan pada
cita-cita atau tujuan negara. Misalnya, tujuan pemerintahan negara
Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa,
serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan

Perbandingan Administrasi Publik 34


kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social. Lembaga-lembaga
yang berada dalam satu system pemerintahan Indonesia bekerja secara
bersama dan saling menunjang untuk terwujudnya tujuan dari
pemerintahan di negara Indonesia.

2.3 Sistem Sosial Dan Kebudayaan Indonesia


Sistem sosial budaya Indonesia adalah sebagai totalitas nilai, tata
sosial, dan tata laku manusia Indonesia harus mampu mewujudkan pandangan
hidup dan falsafah negaraPancasila ke dalam segala segi kehidupan berbangsa
dan bernegara. Asas yang melandasi pola pikir, pola tindak, fungsi, dan
proses sistem sosial budaya Indonesia yang diimplementasikan haruslah
merupakan perwujudan nilai- nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945.

2.3.1 Pola Fikir dan Pola Tindak Budaya Indonesia


Pola Pikir Sistem Sosial Budaya Indonesia
a) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa
Kehidupan Beragama atau kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa harus dapat mewujudkan kepribadian bangsa
Indonesia yang percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.20)
b) Negara Persatuan
Negara Republik Indonesia adalah negara persatuan yang
mendasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini
berarti bahwa penyelenggaraan kehidupan negara harus
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara
murni dan konsekuen. Maka, pembangunan nasional adalah
pengamalan Pancasila dan hakikatnya pembangunan nasional itu
adalah pembangunan seluruh manusia Indonesia dalam kehidupan
manusia yang serba cepat dan canggih.
20)
Zainal Muttaqin, Sistem Sosial Budaya Indonesia, (Banten: Universitas Serang Raya,
2010), hlm. 15-30.

Perbandingan Administrasi Publik 35


c) Demokrasi Pancasila
Dalam negara Republik Indonesia yang berkedaulatan
rakyat, berdasarkan atas kerakyatan dan permusyawaratan
perwakilan, kehidupan pribadi atau keluarga dalam bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara harus mampu memilih perwakilannya dan
pemimpinnya yang dapat bermusyawarah untuk mufakat dalam
mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan golongan
dan perseorangan demi terselenggaranya kesejahteraan sosial bagi
seluruh rakyat. Karena itu, sistem menejemen sosial perlu
ditegakkan, baik melalui peraturan perundang- undangan maupun
moral.
d) Keadilan Sosial bagi Semua Rakyat
Letak geografis Indonesia, sumberdaya alam, dan penduduk
Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus
mempunyai politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan
keamanan yang berkeadilan bagi semua rakyat.
e) Budi Pekerti
Setiap pribadi atau keluarga dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus memelihara budi
pekerti kemanusiaan yang luhur dan memegang teguh cita-cita
moral rakyat yang luhur. Berarti bahwa kemerdekaan tiap-tiap
penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadah
menurut agama dan kepercayaannya itu harus dijamin, dimana
pendidikan dan pengajaran menjadi hak warga negara yang
membutuhkan suatu sistem pendidikan nasional. Kebudayaan
Nasional adalah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budi
daya rakyat Indonesia seluruhnya, termasuk kebudayaan lama dan
asli yang terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan didaerah-
daerahseluruh Indonesia. Kebudayaan harus menuju kearah
kemajuan serta tidak menolak bahan- bahan baru dari kebudayaan
asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya

Perbandingan Administrasi Publik 36


kebudayaan bangsa sendiri serta mempertinggi derajat
kemanusiaan bangsa Indonesia.
Pola Tindak Sistem Sosial Budaya Indonesia yaitu:
a) Gotong Royong
Persatuan dan kesatuan hanya terwujud melalui gotong
royong, suatu sikap kebersamaan dan tenggang rasa, baik dalam
duka maupun suka, kehidupan keluarga, bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara.
b) Prasaja
Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat tidak akan
terwujud apabila kehidupan yang sederhana, hemat, cermat,
disiplin, professional, dan tertib tidak dilaksanakan.
c) Musyarawah untuk Mufakat
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan
golongan atau perorangan dapat menemui perbedaan yang tidak
yang tidak diakhiri dengan perpecahan atau perpisahan, maupun
pertentangan.
d) Kesatria
Persatuan dan kesatuan, maupun keadilan sosial tidak dapat
terwujud tanpa keberanian, kejujuran, kesetiaan, pengabdian, dan
perjuangan yang tidak mengenal menyerah demi kehidupan
bersama.
e) Dinamis
Kehidupan pribadi/keluarga, bangsa dan negara juga
bersifat dinamis sesuai dengan zaman, sehingga waktu sangat
penting dalam rangka persatuan dan kesatuan, maupun keadilan
sosial bagi seluruh rakyat.

Perbandingan Administrasi Publik 37


Fungsi Sistem Sosial Budaya Indonesia yaitu:
a) Dalam Keluarga
Keluarga adalah lahan pembibitan manusia seutuhnya.
Keluarga adalah organisasi alami yang penuh kasih sayang.21)
b) Dalam Masyarakat
Organisassi sosial kemasyrakatan ini adalah lahan
pengkaderan, sebagai keluarga buatan, gotong royong buatan, yang
penuh perbedaan kepentingan.
c) Dalam Berbangsa dan Bernegara
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
penyelenggaraan negara dan pemerintah harus mengutamakan
kepentingan umum.
Proses Sistem Sosial Budaya Indonesia
Masyarakat mempunyai bentuk – bentuk struktural, yang
dinamakan struktur sosial.22) Struktur sosial ini bersifat statis dan
bentuk dinamika masyarakat disebut proses sosial dan perubahan sosial.
Masyarakat yang mempunyai bentuk – bentuk strukturalnya tentu
mengalami pola – pola perilaku yang berbeda – beda juga tergantung
dengan situasi yang dihadapi masyarakat tersebut. Perubahan dan
perkembangan masyarakat yang mengarah pada suatu dinamika sosial
bermula dari masyarakat tersebut melakukan suatu komunikasi dengan
masyarakat lain, mereka membina hubungan baik itu berupa perorangan
atau kelompok sosial.

21)
Paul B. Horton, "Sosiologi", (Jakarta: Erlangga, 1987), hlm. 246-250.
22)
George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 505-509, 550,
558-560.

Perbandingan Administrasi Publik 38


2.4 Pebandingan Negara Republik Indonesia Dengan Negara Jepang
2.4.1 Konstitusi Negara
Pancasila sebagai Ideologi Negara Indonesia
Secara etimologis, ideologi berasal dari bahasa Yunani yaitu
idea dan logia. Idea berasal dari idein yang berarti melihat. Idea juga
diartikan sesuatu yang ada di dalam pikiran sebagai hasil perumusan
sesuatu pemikiran atau rencana. Kata logia mengandung makna ilmu
pengetahuan atau teori, sedang kata logis berasal dari kata logos dari
kata legein yaitu berbicara.
Istilah ideologi sendiri pertama kali dilontarkan oleh Antoine
Destutt de Tracy (1754 – 1836), ketika bergejolaknya Revolusi Prancis
untuk mendefinisikan sains tentang ide. Jadi dapat disimpulkan secara
bahasa, ideologi adalah pengucapan atau pengutaraan terhadap sesuatu
yang terumus di dalam pikiran.Dalam tinjauan terminologis, ideology is
Manner or content of thinking characteristic of an individual or class
(cara hidup/ tingkah laku atau hasil pemikiran yang menunjukan sifat-
sifat tertentu dari seorang individu atau suatu kelas).
Ideologi adalah ideas characteristic of a school of thinkers a
class of society, a plotitical party or the like (watak atau ciri-ciri hasil
pemikiran dari pemikiran suatu kelas di dalam masyarakat atau partai
politik atau pun lainnya). Ideologi ternyata memiliki beberapa sifat,
yaitu dia harus merupakan pemikiran mendasar dan rasional. Kedua,
dari pemikiran mendasar ini dia harus bisa memancarkan sistem untuk
mengatur kehidupan. Ketiga, selain kedua hal tadi, dia juga harus
memiliki metode praktis bagaimana ideologi tersebut bisa diterapkan,
dijaga eksistesinya dan disebarkan.
Pancasila dijadikan ideologi dikerenakan, Pancasila memiliki
nilai-nilai falsafah mendasar dan rasional. Pancasila telah teruji kokoh
dan kuat sebagai dasar dalam mengatur kehidupan bernegara. Selain
itu, Pancasila juga merupakan wujud dari konsensus nasional karena
negara bangsa Indonesia ini adalah sebuah desain negara moderen yang

Perbandingan Administrasi Publik 39


disepakati oleh para pendiri negara Republik Indonesia kemudian nilai
kandungan Pancasila dilestarikan dari generasi ke generasi.
Pancasila pertama kali dikumandangkan oleh Soekarno pada
saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan
Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI). Pada pidato
tersebut, Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara.
Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen, filsafat,
pemikiran yang mendalam, serta jiwa dan hasrat yang mendalam, serta
perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki karakter sendiri yang
berasal dari kepribadian bangsa.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara
formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945. Di
samping pengertian formal menurut hukum atau formal yudiris maka
Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti
(unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut). Tepat 64 tahun usia
Pancasila, sepatutnya sebagai warga negara Indonesia kembali
menyelami kandungan nilai-nilai luhur tersebut.
Ketuhanan (Religiusitas)
Nilai religius adalah nilai yang berkaitan dengan keterkaitan
individu dengan sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuatan sakral,
suci, agung dan mulia. Memahami Ketuhanan sebagai pandangan hidup
adalah mewujudkan masyarakat yang beketuhanan, yakni membangun
masyarakat Indonesia yang memiliki jiwa maupun semangat untuk
mencapai ridlo Tuhan dalam setiap perbuatan baik yang dilakukannya.
Dari sudut pandang etis keagamaan, negara berdasar Ketuhanan
Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-
tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama
dan kepercayaan masing-masing. Dari dasar ini pula, bahwa suatu
keharusan bagi masyarakat warga Indonesia menjadi masyarakat yang
beriman kepada Tuhan, dan masyarakat yang beragama, apapun agama
dan keyakinan mereka.

Perbandingan Administrasi Publik 40


Kemanusiaan (Moralitas)
Kemanusiaan yang adil dan beradab, adalah pembentukan suatu
kesadaran tentang keteraturan, sebagai asas kehidupan, sebab setiap
manusia mempunyai potensi untuk menjadi manusia sempurna, yaitu
manusia yang beradab. Manusia yang maju peradabannya tentu lebih
mudah menerima kebenaran dengan tulus, lebih mungkin untuk
mengikuti tata cara dan pola kehidupan masyarakat yang teratur, dan
mengenal hukum universal.
Kesadaran inilah yang menjadi semangat membangun
kehidupan masyarakat dan alam semesta untuk mencapai kebahagiaan
dengan usaha gigih, serta dapat diimplementasikan dalam bentuk sikap
hidup yang harmoni penuh toleransi dan damai.
Persatuan (Kebangsaan) Indonesia
Persatuan adalah gabungan yang terdiri atas beberapa bagian,
kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk
bersengketa. Bangsa Indonesia hadir untuk mewujudkan kasih sayang
kepada segenap suku bangsa dari Sabang sampai Marauke. Persatuan
Indonesia, bukan sebuah sikap maupun pandangan dogmatik dan
sempit, namun harus menjadi upaya untuk melihat diri sendiri secara
lebih objektif dari dunia luar. Negara Kesatuan Republik Indonesia
terbentuk dalam proses sejarah perjuangan panjang dan terdiri dari
bermacam-macam kelompok suku bangsa, namun perbedaan tersebut
tidak untuk dipertentangkan tetapi justru dijadikan persatuan Indonesia.
Permusyawaratan dan Perwakilan
Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan hidup
berdampingan dengan orang lain, dalam interaksi itu biasanya terjadi
kesepakatan, dan saling menghargai satu sama lain atas dasar tujuan
dan kepentingan bersama. Prinsip-prinsip kerakyatan yang menjadi
cita-cita utama untuk membangkitkan bangsa Indonesia, mengerahkan
potensi mereka dalam dunia modern, yakni kerakyatan yang mampu

Perbandingan Administrasi Publik 41


mengendalikan diri, tabah menguasai diri, walau berada dalam kancah
pergolakan hebat untuk menciptakan perubahan dan pembaharuan.
Hikmah kebijaksanaan adalah kondisi sosial yang menampilkan
rakyat berpikir dalam tahap yang lebih tinggi sebagai bangsa, dan
membebaskan diri dari belenggu pemikiran berazaskan kelompok dan
aliran tertentu yang sempit.
Keadilan Sosial
Nilai keadilan adalah nilai yang menjunjung norma berdasarkan
ketidak berpihakkan, keseimbangan, serta pemerataan terhadap suatu
hal. Mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
merupakan cita-cita bernegara dan berbangsa. Itu semua bermakna
mewujudkan keadaan masyarakat yang bersatu secara organik, dimana
setiap anggotanya mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh
dan berkembang serta belajar hidup pada kemampuan aslinya. Segala
usaha diarahkan kepada potensi rakyat, memupuk perwatakan dan
peningkatan kualitas rakyat, sehingga kesejahteraan tercapai secara
merata.

2.4.2 Hakko Ichiu sebagai Ideologi Negara Jepang


Shinto adalah agama asli Jepang yang berakar pada kepercayaan
animis Jepang kuno. Kata Shinto berasal dari bahasa Tionghoa, “Shen”
artinya roh, “Tao” berarti jalannya dunia, bumi, dan langit.1) Dengan
demikian Shinto berarti perjalanan roh yang baik.
Menurut Shinto, Hakko Ichiu itu diperintahkan oleh Jimmu
Tenno (Tenno pertama ± 660 SM) sebagai dewa kepada bangsa Jepang
untuk membentuk kekeluargaan yang meliputi seluruh dunia. Hakko
Ichiu dianggap sebagai titah dewa yang harus dilaksanakan. Selanjutnya
Hakko Ichiu diterangkan bahwa bangsa Jepang merupakan keluarga
yang sah, sedangkan bangsa-bangsa lain tidak, karena itu Jepang boleh
memperlakukannya dengan sewenang-wenang. Sebagai keluarga yang

Perbandingan Administrasi Publik 42


sah, Jepang berhak atas seluruh dunia agar dunia dapat disusun sebagai
satu kekeluargaan.
Sejak Restorasi Meiji (1868), agama Shinto dijadikan agama
negara dan mendapat kedudukan istimewa dalam pemerintahan.
Pejabat-pejabat Shinto mendapat kedudukan penting dalam kabinet, dan
doktrin-doktrin yang didasarkan pada Shinto dipropagandakan oleh
pemerintah. Isi Hakko Ichiu dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan
pada masa itu. Isinya Hakko Ichiu sebagai berikut:
1. Jepang adalah pusat dunia dan Kaisar sebagai pemimpinnya. Kaisar
adalah Dewa di dunia yang mendapat kedewaannya dari Amaterasu
Omikami langsung.
2. Kami (dewa), melindungi Jepang dengan segala kekuatannya. Hal
ini menjadikan Jepang superior, lebih kuat, istimewa dibanding
negara lain di dunia.
3. Semua hal tersebut adalah dasar dari Kodoshugisa (jalan
Kekaisaran) sehingga Jepang memiliki misi suci untuk menjadikan
dunia sebagai satu keluarga dengan Jepang sebagai pemimpin.
Menurut Hasbulla Bakri bahwa agama Shinto ini memang
mempunyai kelebihan, yakni dapat menarik hati golongan atas karena
kekolotan mereka, dan dapat menarik hati golongan bawah karena
takhyul mereka. Itulah sebabnya agama Shinto sering digunakan
sebagai alat poltik.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hakko Ichiu (dunia
sebagai satu keluarga) adalah ajaran Shinto yang mengatakan bahwa
Jepang harus menyusun dunia ini sebagai satu “keluarga besar”, dan
Jepang bertindak sebagai “kepala keluarga”. Ajaran Hakko Ichiu ini
tentunya tak dapat terlaksana tanpa kemajuan yang telah dicapai oleh
Jepang, terutama dalam bidang perdagangan dan industri. Ajaran
tersebut telah ada sejak tahun 660 SM yang merupakan perintah dari
Tenno, namun pada kenyataannya nanti pada abad ke-19 Jepang
menjadi negara imperialis. Hal ini menunjukkan bahwa kemajuan yang

Perbandingan Administrasi Publik 43


dicapai setelah Restorasi Meiji merupakan faktor utama yang
menyebabkan Jepang menjadi negara imperialis.

2.5 Persamaan dan Perbedaan


Sistem Pemerintahan Indonesia dan Jepang
Secara lompatan sejarah, maka Jepang melakukan lompatan yang
sangat jauh dan cepat perkembangannya, sejak pra sejarah, zaman klasik,
pertengahan sampai zaman modern Jepang memberikan sebuah pelajaran
bagi dunia tentang bagaimana cara bangkit dari kehancuran dan melompat
dengan cepat dan dengan jarak yang jauh, (Kaizen, perbaikan terus menerus).
Jepang modern, memiliki konsep demokrasi yang khas, “dengan ini
memproklamasikan bahwa kekuasaan tertinggi terletak ditangan
rakyat” adalah bunyi bagian dari Pembukaan Konstitusi Jepang. Namun di
tengah konsep demokrasi itu, konsep Kekaisaran masih tetap dipertahankan
(monarkhi konstitusional). “Kaisar harus merupakan lambang dari
negaradan dari persatuan rakyat, yang memperoleh kedudukannya dari
kehendak rakyat yang memegang kedaulatan tertinggi.” (Pasal 1 Konstitusi
Jepang).
Jepang adalah anti Perang. Pasal 9 Bab II tentang Penolakan Terhadap
Perang, yang berbunyi: Paragraf pertama “Dengan mencita-citakan secara
sungguh-sunguh akan suatu perdamaian internasional yang didasarkan atas
keadilan dan ketertiban, rakyat Jepang selama-lamanya menolak perang
sebagai suatu hak berdaulat dari bangsa serta ancaman atau
penggunaan dari kekuatan sebagai sarana-sarana penyelesaian perselisihan
internasional.”Paragraf kedua: “Agar supaya untuk melengkapi sasaran dari
paragraphsebelumnya, angkatan-angkatan darat, laut dan udara, demikian
pula potensi perang lainnya, tidak akan dipelihara Hak mengenai pernyataan
perang dari pemerintah tidak akan dikenal”. Sehingga dengan ini Jepang
disebut sebagai
Negara Demokrasi Pasifis Jepang menganut Sistem Pemerintahan
Parlementer, dengan argumnetasi: Pertama, Kabinet Jepang dipimpin oleh

Perbandingan Administrasi Publik 44


Perdana Menteri yang dibentuk oleh atau atas dasar kekuatan dan atau
kekuatan-kekuatan yang menguasai parlemen. (Pasal 66 Konstitusi
Jepang), Kedua, Para anggota kabinet Jepang mayoritas harus dipilih dari
antara anggota-anggota parlemen (Diet). (Pasal 68 Konstitusi
Jepang), Ketiga, Kabinet dengan ketuanya bertanggungjawab kepada
parlemen. Apabila kabinet atau seorang atau beberapa orang anggotanya
mendapat mosi tidak percaya dari parlemen, maka kabinet atau seorang atau
beberapa orang daripadanya harus mengundurkan diri.(Pasal 66 dan 69
Konstitusi Jepang), Keempat, Sebagai imbangan dapat dijatuhkannya kabinet,
maka Kaisar Jepang dengan saran atau nasehat perdana menteri dapat
membubarkan parlemen. (Pasal 7 Konstitusi Jepang), Kelima, Hubungan
yang erat antara Legislatif (parlemen) dengan Eksekutif. Dimana kabinet
hanya hanya bisa menjalankan program bila ada persetujuan dari
parlemen. Keenam, Adanya hubungan saling ketergantungan
(interdependensi). Ketujuh, Sifat hubungan antara Eksekutif dan Legislatif
bersifat Sub dan Supra ordinatif. (Pasal 41 Konstitusi Jepang)
Ketatanegaraan Indonesia setelah Amandemen UUD 1945 melahirkan
perubahan yang sangat besar dimana UUD 1945 setelah perubahan
memunculkan lembaga-lembaga baru seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi
Yudisial, Komisi Pemilihan Umum, dan Bank Indonesia. DPR juga
dipertegas kewenangannya baik dalam fungsi legislasi maupun fungsi
pengawasan. Aturan tentang BPK ditambah. MPR berubah kedudukannya
dari lembaga tertinggi negara menjadi lembaga join session antara DPR dan
DPD (bicameral). DPA dihapus karena dilihat fungsinya tidak lagi strategis.
Amandemen UUD 1945 telah memberikan nilai pergeseran yang
sangat berarti dan besar dalam penyelenggaraan sistem ketatanegaraan
Indonesia yang mencoba untuk lebih demokratis. Hal ini terlihat jelas dalam
Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 perubahan ketiga, dinyatakan bahwa “kedaulatan
berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar”. Kerangka pemikiran tersebut diatas telah memperkuat sistem

Perbandingan Administrasi Publik 45


pemerintahan Presidensiil di Indonesia, dengan mengubah pola hubungan
antara lembaga-lembaga tinggi negara.
MPR yang pasca amandemen UUD 1945 merupakan join
session antara DPR dan DPD merubah paradigma sistem lembaga perwakilan
rakyat Indonesia yang lama, sehingga sekarang Indonesia menganut sistem
dua kamar (bicameral) yang mana pada sistem ini dikenal dua badan terpisah,
seperti DPR dan Senat, atau Majelis Tinggi dan Majelis Rendah. Dengan dua
majelis yang terpisah ini lebih menguntungkan karena menjamin kualitas
produk legislatif dan pengawasan atas eksekutif dapat dilakukan dua kali
(double check), menurut Harun Alrasid, susunan MPR dengan sistem dua
kamar ini bisa merumuskan tugas dan wewenang lembaga legislatif,
eksekutif, dan yudikatif lebih fundamental dan lebih efektif dibandingkan
dengan mengusulkan reposisi lembaga MPR, DPR, dan kepresidenan; apakah
menganut trias politica murni atau tidak dalam pembagian kekuasaan dan
kewenangan lembaga-lembaga negara.
Perubahan dari sistem satu kamar (unicameral) menjadi dua kamar
(bicameral) tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dengan sistem
pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat. Karena pada dasarnya,
prinsip tersebut menurut Suwoto M. berkaitan dengan ketentuan pola
hubungan antar lembaga yang meliputi pada proses pembentukan dan
pengawasan kabinet, pertanggungjawaban kebijakan, serta pemberhentian
Presiden dalam masa jabatan. Dengan ketentuan tentang “impeachment” ini
maka akan semakin jelas tentang perbedaan mekanisme pemberhentian dalam
masa jabatan yang dilakukan oleh parlemen terhadap Presiden.

Perbandingan Sosial Budaya Indonesia dengan Jepang


1. Tradisi Penamaan di Jepang
Nama di Jepang terdiri dari dua bagian : family name dan first
name. Nama ini harus dicatatkan di kantor pemerintahan (kuyakusho),
selambat-lambatnya 14 hari setelah seorang bayi dilahirkan. Semua orang
di Jepang kecuali keluarga kaisar, memiliki nama keluarga. Tradisi

Perbandingan Administrasi Publik 46


pemakaian nama keluarga ini berlaku sejak jaman restorasi Meiji,
sedangkan di era sebelumnya umumnya masyarakat biasa tidak memiliki
nama keluarga. Sejak restorasi meiji, nama keluarga menjadi keharusan
di Jepang. Dewasa ini ada sekitar 100 ribu nama keluarga di Jepang, dan
diantaranya yang paling populer adalah Satou dan Suzuki. Jika seorang
wanita menikah, maka dia akan berganti nama keluarga, mengikuti nama
suaminya. Namun demikian, banyak juga wanita karir yang tetap
mempertahankan nama keluarganya. Dari survey yang dilakukan
pemerintah tahun 1997, sekitar 33% dari responden menginginkan agar
walaupun menikah, mereka diizinkan untuk tidak berganti nama keluarga
[2]. Hal ini terjadi karena pengaruh struktur masyarakat yang bergeser
dari konsep “ie”(家) dalam tradisi keluarga Jepang. Semakin banyak
generasi muda yang tinggal di kota besar, sehingga umumnya menjadi
keluarga inti (ayah, ibu dan anak), dan tidak ada keharusan seorang
wanita setelah menikah kemudian tinggal di rumah keluarga suami.
Tradisi di Jepang dalam memilih first name, dengan memperhatikan
makna huruf Kanji, dan jumlah stroke, diiringi dengan harapan atau doa
bagi kebaikan si anak.
2. Tradisi penamaan di Indonesia
Adapun masyarakat di Indonesia tidak semua suku memiliki
tradisi nama keluarga. Masyarakat Jawa misalnya, tidak memiliki nama
keluarga. Tetapi suku di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi memiliki nama
keluarga. Dari nama seseorang, kita dapat memperkirakan dari suku
mana dia berasal, agama apa yang dianut dsb. Berikut karakteristik nama
tiap suku di Indonesia
 Suku Jawa (sekitar 45% dari seluruh populasi) : biasanya diawali
dengan Su (untuk laki-laki) atau Sri (untuk perempuan), dan
memakai vokal “o”. Contoh : Sukarno, Suharto, Susilo, Joko, Anto,
Sri Miranti, Sri Ningsih.
 Suku Sunda(sekitar 14% dari seluruh populasi) : banyak yang
memiliki perulangan suku kata. Misalnya Dadang, Titin, Iis, Cecep

Perbandingan Administrasi Publik 47


 Suku Batak : beberapa contoh nama marga antara lain Harahap,
Nasution.
 Suku Minahasa : beberapa contoh nama marga antara lain Pinontoan,
Ratulangi.
 Suku Bali : Ketut, Made, Putu, Wayan dsb. Nama ini menunjukkan
urutan, bukan merupakan nama keluarga.
Selain nama yang berasal dari tradisi suku, banyak nama yang
diambil dari pengaruh agama. Misalnya umat Islam : Abdurrahman
Wahid, Abdullah, dsb. Sedangkan umat Katolik biasanya memakai nama
baptis : Fransiskus, Bonivasius, Agustinus, dsb.

3. Perbandingan kedua tradisi


Persamaan antara kedua tradisi :
Baik di Jepang maupun di Indonesia dalam memilih nama (first
name) sering memilih kata yang mensimbolkan makna baik, sebagai doa
agar si anak kelak baik jalan hidupnya. Khusus di Jepang, banyaknya
stroke kanji yang dipakai juga merupakan salah satu pertimbangan
tertentu dalam memilih huruf untuk anak. Umumnya laki-laki di Jepang
berakhiran “ro” (郎), sedangkan perempuan berakhiran “ko” (子)
Perbedaan antara kedua tradisi sbb.
1. Di Jepang, nama keluarga dimasukkan dalam catatan sipil secara
resmi, tetapi di Indonesia nama keluarga ini tidak dicatatkan secara
resmi di kantor pemerintahan. Nama family/marga tidak
diperkenankan untuk dicantumkan di akta kelahiran
2. Di Jepang setelah menikah seorang wanita akan berganti nama
secara resmi mengikuti nama keluarga suaminya. Sedangkan di
Indonesia saat menikah, seorang wanita tidak berganti nama
keluarga. Tapi ada juga yang nama keluarga suami dimasukkan di
tengah, antara first name dan nama keluarga wanita, sebagaimana di
suku Minahasa. Di Indonesia umumnya setelah menikah nama suami
dilekatkan di belakang nama istri. Misalnya saja Prio Jatmiko

Perbandingan Administrasi Publik 48


menikah dengan Sri Suwarni, maka istri menjadi Sri Suwarni
Jatmiko. Tetapi penambahan ini tidak melewati proses
legalisasi/pencatatan resmi di kantor pemerintahan.
3. Huruf Kanji yang bisa dipakai untuk menyusun nama anak di Jepang
dibatasi oleh pemerintah (sekitar 2232 huruf, yang disebut jinmeiyo
kanji), sedangkan di Indonesia tidak ada pembatasan resmi untuk
memilih kata yang dipakai sebagai nama anak

4. Pemakaian gesture/gerak tubuh untuk memberikan penghormatan


dan kasih sayang
Salah satu topik menarik untuk dibahas adalah bagaimana
memakai bahasa tubuh untuk mengungkapkan penghormatan. Jepang dan
Indonesia memiliki cara berlainan dalam mengekspresikan terima kasih,
permintaan maaf, dsb.
 Ojigi
Dalam budaya Jepang ojigi adalah cara menghormat dengan
membungkukkan badan, misalnya saat mengucapkan terima kasih,
permintaan maaf, memberikan ijazah saat wisuda, dsb. Ada dua
jenis ojigi : ritsurei (立礼)
dan zarei (座礼). Ritsurei adalah ojigi yang dilakukan sambil berdiri.
Saat melakukanojigi, untuk pria biasanya sambil menekan pantat
untuk menjaga keseimbangan, sedangkan wanita biasanya menaruh
kedua tangan di depan badan. Sedangkan zarei adalah ojigi yang
dilakukan sambil duduk. Berdasarkan intensitasnya, ojigi dibagi
menjadi 3 : saikeirei (最敬礼), keirei (敬礼), eshaku (会釈).
Semakin lama dan semakin dalam badan dibungkukkan
menunjukkan intensitas perasaan yang ingin
disampaikan. Saikeirei adalah level yang paling tinggi, badan
dibungkukkan sekitar 45 derajat atau lebih. Keirei sekitar 30-45
derajat, sedangkan eshaku sekitar 15-30 derajat. Saikeirei sangat

Perbandingan Administrasi Publik 49


jarang dilakukan dalam keseharian, karena dipakai saat
mengungkapkan rasa maaf yang sangat mendalam atau untuk
melakukan sembahyang. Untuk lebih menyangatkan,ojigi dilakukan
berulang kali. Misalnya saat ingin menyampaikan perasaan maaf
yang sangat mendalam. Adapun dalam budaya Indonesia, tidak
dikenal ojigi.
 Jabat Tangan
Tradisi jabat tangan dilakukan baik di Indonesia maupun di
Jepang melambangkan keramahtamahan dan kehangatan. Tetapi di
Indonesia kadang jabat tangan ini dilakukan dengan merangkapkan
kedua tangan. Jika dilakukan oleh dua orang yang berlainan jenis
kelamin, ada kalanya tangan mereka tidak bersentuhan. Letak tangan
setelah jabat tangan dilakukan, pun berbeda-beda. Ada sebagian
orang yang kemudian meletakkan tangan di dada, ada juga yang
diletakkan di dahi, sebagai ungkapan bahwa hal tersebut tidak
semata lahiriah, tapi juga dari batin.
 Cium Tangan
Tradisi cium tangan lazim dilakukan sebagai bentuk
penghormatan dari seorang anak kepada orang tua, dari seorang
awam kepada tokoh masyarakat/agama, dari seorang murid ke
gurunya. Tidak jelas darimana tradisi ini berasal. Tetapi ada dugaan
berasal dari pengaruh budaya Arab. Di Eropa lama, dikenal tradisi
cium tangan juga, tetapi sebagai penghormatan seorang pria terhadap
seorang wanita yang bermartabat sama atau lebih tinggi. Dalam
agama Katolik Romawi, cium tangan merupakan tradisi juga yang
dilakukan dari seorang umat kepada pimpinannya (Paus, Kardinal).
Di Jepang tidak dikenal budaya cium tangan.
 Cium Pipi
Cium pipi biasa dilakukan di Indonesia saat dua orang
sahabat atau saudara bertemu, atau sebagai ungkapan kasih sayang

Perbandingan Administrasi Publik 50


seorang anak kepada orang tuanya dan sebaliknya. Tradisi ini tidak
ditemukan di Jepang.
 Sungkem
Tradisi sungkem lazim di kalangan masyarakat Jawa, tapi
mungkin tidak lazim di suku lain. Sungkem dilakukan sebagai tanda
bakti seorang anak kepada orang tuanya, seorang murid kepada
gurunya. Sungkem biasa dilakukan jika seorang anak akan
melangsungkan pernikahan, atau saat hari raya Idul Fitri (bagi
muslim), sebagai ungkapan permohonan maaf kepada orang tua, dan
meminta doa restunya.
Baik budaya Jepang maupun Indonesia memiliki keunikan
tersendiri dalam mengekspresikan rasa hormat, rasa maaf. Jabat tangan
adalah satu-satunya tradisi yang berlaku baik di Jepang maupun
Indonesia. Kesalahan yang sering terjadi jika seorang Indonesia baru
mengenal budaya Jepang adalah saat melakukan ojigi, wajah tidak ikut
ditundukkan melainkan memandang lawan bicara. Hal ini mungkin
terjadi karena terpengaruh gaya jabat tangan yang lazim dilakukan sambil
saling berpandangan mata. Kesalahan lain yang juga sering terjadi adalah
mencampurkan ojigi dan jabat tangan. Hal ini juga kurang tepat
dipandang dari tradisi Jepang.
Perbandingan antara Jepang dan Indonesia

Perbandingan Jepang Indonesia

Bentuk Negara Monarkhi Republik (Negara


Konstitusional Kesatuan)

Demokrasi Demokrasi Pasifis Demokrasi Pancasila

Sistem Parlementer Presidensiil


Pemerintahan

Kepala Negara Kaisar Presiden

Perbandingan Administrasi Publik 51


Kepala Perdana Menteri Presiden
Pemerintahan

Sistem dua kamar (bicameral) kita masih setengah-setengah,


peranan DPD sangatlah minim, hal ini juga sejalan dengan bentuk
Negara kita yang berbentuk Negara Kesatuan, bukan sebagai Negara
Federal, walaupun dengan keberadaan Otonomi Daerah yang ada
sekarang ini akhirnya menambah campur aduknya sistem yang ada,
Antara Federal dan Kesatuan, antara Parlementer dan Presidensil,
Antara satu kamar (unicameral) dan dua kamar (bicameral).

Perbandingan Administrasi Publik 52


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Sistem pemerintahan Republik Indonesia (RI) menurut UUD yang sudah
diamandemen adalah sistem pemerintahan Presidensial yang tidak
bertanggung jawab kepada parlemen. Ekonomi, Budaya, Politik memiliki
keterkaitan dalam membawa Indonesia menjadi lebih baik.
 Antara Indonesia maupun Jepang memiliki persamaan dalam hal budaya,
ekonomi, maupun politik. Kedua Negara memiliki bentuk demografi
yang sama, sehingga dalam pembangunan ekonomi Indonesia-Jepang
sama-sama menekankan terhadap ekonomi kelautan yang dimilikinya.
Faktor penjajahan yang dilakukan Jepang terhadap Indonesia telah
membuat sistem-sistem budaya dalam masyarakat memiliki persamaan,
sebagai contoh penghormatan terhadap yang lebih tua menjadi nilai
moral yang tinggi. Dalam kepemerintahan dan politik kedua Negara
sama-sama menerapkan sistem demokrasi, namun dalam pelaksanaan
kepemerintahan Indonesia dilaksanakan oleh Presiden sedangkan Jepang
Perdana Menteri. Kaisar hanya dijadikan sebagai symbol pemersatu
rakyat.
 Perbandingan budaya antara Indonesia dan Jepang bermanfaat untuk
mengetahui pola berfikir bangsa Indonesia dan bangsa Jepang. Salah satu
kesulitan utamanya adalah perbedaan karakteristik kedua bangsa.
 Baik budaya Jepang maupun Indonesia memiliki keunikan tersendiri
dalam mengekspresikan rasa hormat, rasa maaf. Jabat tangan adalah satu-
satunya tradisi yang berlaku baik di Jepang maupun Indonesia.
 Setelah melihat kepada Administrasi Negara Jepang yang berfaham
Leberalisme, Administrasi Nergara Indonesia yang berfaham pancasila,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
 Tidak ada badan-badan Administrasi Negara pada tiap-tiap Negara
yang sama satu sama lain.

Perbandingan Administrasi Publik 53


 Top Public Administrator pada setiap Negara berbeda-beda, ada
yang pada Presiden, Raja atau Perdana Menteri.
 Kebijaksanaan Negara Jepang atau Public Policy dibuat hanya oleh
Badan Perwakilan Politik.
 Mekanisme Aministrasi Negara satu sama lain berbeda, yaitu adan
Badan Eksekutif yang dapat membubarkan Badan Legislatif
(Parlemen), ada Badan Legislatif yang dapat menjatuhkan Badan
Eksekutif dan ada pula Badan Eksekutif yang menjadi Kepala Badan
Yudikatif.
 Jumlah Kementerian/Badan Eksekutif setiap Administrasi
Negarapun tidak sama
 Sistim Administrasi negarapun berbeda-beda.
 Dalam konstitusinya sebagai landasan tindakan administrasi
negaranya ada yang memasukkan hak azasi manusia, yaitu
diantaranya hak hidup, hak kemerdekaan dan hak milik dan ada pula
yang tidak memasukkan hak kemerdekaan dan hak milik
perseorangan, sehingga dalam kegiatan administrasi negaranya itu
banyak melakukan overheidsdaad atau detournement du pouvoir atau
penyalah gunaan kekuasaan, sehingga rakyat menjadi abdi atau
kawulo dari pada penguasa.
 Hampir setiap Top Public Administrator disamping menjalankan
eksekutif/administrasi /pemerintahan, ikut pula dalam kekuasaan
Legislatif dan Judikatif.

3.2 Saran
 Di dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan,
tetapi itu semua tertutupi oleh kesukaran dalam pembuatan makalah serta
usaha dalam mengerjakannya.
 Semoga kedepannya makalah ini dapat menjadi bahan bacaan ataupun
literasi untuk khalayak pada umumnya terutama bagi para pembaca,

Perbandingan Administrasi Publik 54


besar harapan kelompok kami yang telah membuat makalh ini agar
dipergunakan sebagai mana mestinya.
 Akhir kata, Semoga makalah ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa
pada umumnya khususnya mahasiswa yang menempuh studi di jurusan
Administrasi Publik.

Perbandingan Administrasi Publik 55


DAFTAR PUSTAKA

Akbar,Patrialis. 2002. Lembaga-lembaga Negara Menurut UUD NRI Tahun 1945.


Jakarta: Sinar Grafika.
Andriansyah. “Sistem Politik Di Indonesia”. DALAM https://edoc.site/sistem-
politik-di-indonesia-pdf-free.html. Diakses pada 26 Agustus 2018.
Arfa’i. “Bentuk Negara Republik Indonesia Ditinjau Pengaturan Tentang
Pemerintahan Daerah Dalam Peraturan Perundang-Undangan”. Dalam
https://media.neliti.com/media/publications/43244-ID-bentuk-negara-republik-
indonesia-ditinjau-pengaturan-tentang-pemerintahan-daerah.pdf. Diakses pada 24
Agustus 2018.
BNDS, Kajian Keberadaan Fungsi dan Peran DPD RI,
https://bnpds.wordpress.com/2011/05/29/kajian-keberadaan-fungsi-dan-peran-
dewan-perwakilan-daerah-republik-indonesia, Diakses pada 25 Agustus 2018.
DaengNaja, H.R. 2004. Dewan Perwakilan Daerah Bikameral Setengah Hati.
Yogyakarta: Media Pressindo.
Fajar Nurhardianto. “SISTEM HUKUM DAN POSISI HUKUM INDONESIA”.
Dalam https://media.neliti.com/.../132702-ID-sistem-hukum-dan-posisi-hukum-
indonesia.pdf. Diakses pada 25 Agustus 2018.
Hakim, Zainul. 2015. “Perbandingan Administrasi Negara Indonesia Dengan
Jepang”. Dalam http://onnaed.blogspot.com/2015/02/makalah-perbandingan-
administrasi_11.html. Diakses Pada 25 Agustus 2018.
Hamidi, Jazim. 2009. Hukum perbandingan Konstitusi. Jakarta: Prestasi Pustaka
Publiser.
Haposan Siallagan. 2016. “ Penerapan Prinsip Negara Hukum Di Indonesia”.
Dalam jurnal.unpad.ac.id/sosiohumaniora/article/download/9947/6476. Diakses
pada 23 Agustus 2018.
Horton, B, Paul. 1987. "Sosiologi". Jakarta: Erlangga.
Interaksi politik dan Kehidupan Ketatanegaraan. Jakarta: Rineka Cipta.
Iqbal,Muhammad. 2011. Sejarah Terbentuknya DPR. Jakarta: Darma Pustaka

Perbandingan Administrasi Publik 56


Jimly, Asshiddiqie. 2005. Format Kelembagaan Negara dan Pergeseran
Kekuasaan Dalam UUD 1945. Yogyakarta: UII Press.
Jimmly, Assidiqie. 2006. Perkembangan dan konsolidasi lembaga Negara Pasca
Reformasi. Jakarta: Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan MK RI.
Lemek,Jeremias. 2007. Mencari Keadilan: Pandangan Kritis Terhadap
Penegakan Hukum DiIndonesia. Jakarta: Galang Press.
M. Agus Santoso. 2013. “PERKEMBANGAN KONSTITUSI DI INDONESIA”.
Dalam https://jurnal.uns.ac.id/yustisia/article/download/10168/9070. Diakses pada
23 Agustus 2018.
MD, Muh, Mahfud. 2003. Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia, Studi Tentang
Soemardi,Dedi. 1997. Pengantar Hukum Indonesia. Jakarta: Indhillco.
Muttaqin, Zainal. 2010. Sistem Sosial Budaya Indonesia. Banten: Universitas
Serang Raya
Nazaruddin. 1991. “Profil Budaya Politik Indonesia”. Pustaka Utama.
Notosusanto,Nugroho.2008 “Sejarah Nasional Indonesia”, Balai Pustaka.
Puji Wahyumi. 2016. “Struktur Ketatanegaraan Ri Berdasarkan Pancasila Dan
Uud 1945 (Sebelum Dan Sesudah Amandemen)”. Dalam
jurnal.polines.ac.id/jurnal/index.php/bangun_rekaprima/article/view/702/617.
Diakses pada 25 Agustus 2018.
Radjab, Dasril. 2005. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana.
RIZQY SULTAN ALFAROBY. 2009. “SISTEM HUKUM”. Dalam
http://alfaroby.wordpress.com/2009/01/13/sistem-hukum/. Diakses pada 25
Agustus 2018.
Suyato. “SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA”. Dalam
https://anzdoc.com/sistem-pemerintahan-indonesia-suyato.html. Diakses pada 24
Agustus 2018.
Thaib, Dahlan. 2008. Teori dan Hukum Konstitusi. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Triwulan Tutik, Titik. 2006. Pokok-pokok Hukum Tata Negara. Jakarta: Prestasi
Pustaka Publiser.

Perbandingan Administrasi Publik 57


Wignjodipoero,Soerojo. 1983. Pengantar dan Asas-asas Hukum adat.
Jakarta: Gunung Agung.
Winterton,George. 1975. “Comparative Law Teaching” dalam the American
Journal of Comparative Law.Vol. 23, No. 1.
https://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_sosial_budaya_Indonesia. Diakses pada 25
Agustus 2018.
http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/5178/BAB%20II.pdf?seq
uence=6&isAllowed=y. Diakses Pada 25 Agustus 2018.
http://yoyongkhosonddlapan.blogspot.com/2014/10/makalah-perbandingan-
indonesia-dengan_7.html. Diakses Pada 25 Agustus 2018.

Perbandingan Administrasi Publik 58