Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT

DARURAT PADA PASIEN SUBDURAL HEMATOMA (SDH)

A. DEFINISI
Limfoma Non-Hodgkin adalah sekelompok keganasan (kanker) yang
berasal dari sistem kelenjar getah bening dan biasanya menyebar ke seluruh
tubuh. Beberapa dari limfoma ini berkembang sangat lambat (dalam beberapa
tahun), sedangkan yang lainnya menyebar dengan cepat (dalam beberapa bulan).
Penyakit ini lebih sering terjadi dibandingkan dengan penyakit Hodgkin.
Limfoma malignum non-Hodgkin atau Limfoma non-Hodgkin adalah suatu
keganasan kelenjar limfoid yang bersifat padat. Limfoma nonhodgkin hanya
dikenal sebagai suatu limfadenopati lokal atau generalisata yang tidak nyeri.
Namun sekitar sepertiga dari kasus yang berasal dari tempat lain yang
mengandung jaringan limfoid ( misalnya daerah orofaring, usus, sumsum tulang,
dan kulit. Meskipun bervariasi semua bentuk limfoma mempunyai potensi untuk
menyebar dari asalnya sebagai penyebaran dari satu kelenjar kekelenjar
lain yang akhirnya menyebar ke limfa, hati, dan sumsum tulang.

B. ETIOLOGI
Etiologi belum jelas mungkin perubahan genetik karena bahan – bahan
limfogenik seperti virus EBV, bahan kimia, mutasi spontan, radiasi dan
sebagainya. Terdapat beberapa fakkor resiko terjadinya LNH, antara lain :
 Imunodefisiensi.
 Agen infeksius Paparan lingkungan dan pekerjaan
 Diet dan Paparan lsinya
C. MANIFESTASI KLINIS
Gejala umum penderita limfoma non-Hodgkin yaitu :
1. Pembesaran kelenjar getah bening tanpa adanya rasa sakit.
2. Demam
3. Keringat malam.
4. Rasa lelah yang dirasakan terus menerus.
5. Gangguan pencernaan dan nyeri perut.
6. Hilangnya nafsu makan.
7. Nyeri tulang
8. Bengkak pada wajah dan leher dan daerah-daerah nodus limfe yang terkena

D. KLASIFIKASI

Ada 2klasifikasi besar penyakit ini yaitu:


a. Limfoma non Hodgkin agresif
Limfoma non Hodgkin agresif kadangkala dikenal sebagai limfoma non
Hodgkin tumbuh cepat atau level tinggi.karena sesuai dengan namanya,
limfoma non Hodgkin agresif ini tumbuh dengan cepat. Meskipun nama
‘agresif’ kedengarannya sangat menakutkan, limfoma ini sering memberikan
respon sangat baik terhadap pengobatan. Meskipun pasien yang penyakitnya
tidak berespon baik terhadap standar pengobatan lini pertama, sering berhasil
baik dengan kemoterapi dan transplantasi sel induk. Pada kenyataannya,
limfoma non Hodgkin agresif lebih mungkin mengalami kesembuhan total
daripada limfoma non Hodgkin indolen.

b. Limfoma non Hodgkin indolen


Limfoma non Hodgkin indolen kadang-kadang dikenal sebagai limfoma
non Hodgkin tumbuh lambat atau level rendah. Sesuai dengan namanya,
limfoma non Hodgkin indolen tumbuh hanya sangat lambat. Secara tipikal ia
pada awalnya tidak menimbulkan gejala, dan mereka sering tetap tidak
terditeksi untuk beberapa saat. Tentunya, mereka sering ditemukan secara
kebetulan, seperti ketika pasien mengunjungi dokter untuk sebab lainnya.
Dalam hal ini, dokter mungkin menemukan pembesaran kelenjar getah bening
pada pemeriksaan fisik rutin. Kadangkala, suatu pemeriksaan, seperti
pemeriksaan darah, atau suatu sinar-X, dada, mungkin menunjukkan sesuatu
yang abnormal, kemudian diperiksa lebih lanjut dan ditemukan terjadi akibat
limfoma non Hodgkin. Gejala yang paling sering adalah pembesaran kelenjar
getah bening, yang kelihatan sebagai benjolan, biasanya di leher, ketiak dan
lipat paha. Pada saat diagnosis pasien juga mungkin mempunyai gejala lain dari
limfoma non Hodgkin. Karena limfoma non Hodgkin indolen tumbuh lambat
dan sering tanpa menyebabkan stadium banyak diantaranya sudah dalam
stadium lanjut saat pertama terdiagnosis.

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan biopsy kelenjar atau massa tumor untuk mengetahui subtype LNH,
bila perlu sitologi jarum halus (FN HB) ditempat lain yang dicurigai.
2. Ct-Scan atau USG abdomen, untuk mengetahui adanya pembesaran kelenjar
getah bening pada aorta abdominal atau KGB lainnya, massa tumor abdomen,
dan metastase kebagian intraabdominal.
3. Pencitraan toraks (PA dan lateral) untuk mengetahui pembesaran kelenjar media
stinum, bila perlu CT scan toraks.
4. Pemeriksaan THT untuk melihat keterlibatan cincin waldeyer terlibat
dilanjutkan dengan tindakan gastroskopi
5. Jika diperlukan pemeriksaan bone scan atau bone survey untuk melihat
keterlibatan tulang.
F. PENATALAKSANAAN
Terapi ditentukan berdasarkan tipe dan stadium penyakit, usia, dan status
kesehatan secara umum. Pilhan terapinya yaitu.
1. Kemoterapi terutama diberikan untuk limfoma jenis derajat keganasan sedang-
tinggi dan pada stadium lanjut.
2. Radiasi. Radiasi dosis tingi bertujuan untuk membunuh sel kanker dan
mengecilkan ukuran tumor. Terapi radiasi umumnya diberikan untuk limfoma
derajat rendah dengan stadium awal. Namun kadang-kadang dikombinasikan
dengan kemoterapi pada limfoma dengan derajat keganasan sedang atau untuk
terapi tempat tertentu, seperti di otak
3. Transplantasi sel induk. Terutama jika akan diberikan kemoterapi dosis tinggi,
yaitu pada kasus kambuh. Terapi ini umumnya digunakan untuk limfoma derajat
sedang-tinggi yang kambuh setelah terapi awal pernah berhasil
G. 4. Observasi. Jika limfoma bersifat lambat dalam pertumbuhan, maka
dokter mungkin akan memutuskan untuk observasi saja. Limfoma yang
tumbuh lambat dengan gejala yang ringan mungkin tidak memerlukan
terapi selama satu tahun atau lebih.
H. 5. Radioimunoterapi. Merupakan terapi terkini untuk limfoma non-
Hodgkin. Obat yang telah mendapat pengakuan dari FDA untuk
radioimunoterapi adalah ibritumomab dan tositumomab. Terapi ini
menggunakan antibody monoclonal bersamaan dengan isotop radioaktif.
Antibodi tersebut akan menempel pada sel kanker dan radiasi akan
mengahancurkan sel kanker.
ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORI

1. Pengkajian
a) Anamnesis
a. Identitas klien mencakup nama dan usia. Hematoma subdural pada bayi
bisa menyebabkan kepala bertambah besar karena tulang tengkoraknya
masih lembut dan lunak.
b. Keluhan utama pada umumnya akan terlihat bila sudah terjadi disfungsi
neurologis. Keluhan yang sering didapatkan meliputi: Nyeri kepala
mendadak, adanya tanda rangsang meningeal (mual, muntah,
fotofobia/intoleransi cahaya, kaku kuduk), penurunan kesadaran, serangan
epileptik, defisit neurologis fokal (disfasia, hemiparesis, hemihipestesia
(berkurangnya ketajaman sensasi pada satu sisi tubuh).
c. Riwayat penyakit sekarang yang mungkin didapatkan meliputi adanya
riwayat trauma, riwayat jatuh, keluhan mendadak lumpuh pada saat klien
melakukan aktivitas, keluhan pada gastrointestinal seperti mual, muntah,
bahkan kejang sampai tidak sadar, di samping gejala kelumpuhan separuh
badan atau ganggguan fungsi otak yang lain, selisah, letargi, lelah, apatis,
perubahan pupil, dll.
d. Riwayat penyakit dahulu meliputi penggunaan obat-obatan (analgesik,
sedatif, antidepresan, atau perangsang syaraf), keluhan sakit kepala
terdahulu, riwayat trauma kepala, kelainan kongenital, peningkatan kadar
gula darah dan hipertensi.
e. Riwayat penyakit keluarga perlu ditanyakan tentang adanya keluarga yang
menderita hipertensi atau diabetes.
f. Pengkajian psikososial meliputi status emosi, kognitif, dan perilaku klien.
g. Kemampuan koping normal meliputi pengkajian mengenai dampak yang
timbul pada klien seperti ketakutan akan kecacatan, rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah.
h. Pengkajian sosioekonomispiritual mencakup pengkajian terhadap fungsi
neurologis dengan dampak gangguan neurologis yang akan terjadi pada
gaya hidup individu.

b) Pemeriksaan Fisik
1. Tingkat kesadaran
Tingkat Responsivitas Klinis
Terjaga Normal
Sadar Dapat tidur lebih dari biasanya, sedikit bingung saat
pertama kali terjaga, tetapi berorientasi sempurna ketika
Letargi terbangun.
Mengantuk tetapi dapat mengikuti perintah sederhana
Stupor ketika dirangsang.
Sangat sulit untuk dibangunkan, tidak konsisten dalam
mengikuti perintah sederhana atau berbicara satu kata atau
Semikomatosa frase pendek.
Gerak bertujuan ketika dirangsang tidak mengikuti
Koma perintah, atau berbicara koheren.
Dapat berespon dengan postur secara refleks ketika
distimulasi atau dapat tidak beresepon pada setiap stimulus.

Respon motorik Respon verbal Membuka mata


Menurut 6 Orientasi 5 Spontan 4
Terlokalisasi 5 Bingung 4 Terhadap panggilan 3
Menghindar 4 Kata tidak dimengerti 3 Terhadap nyeri 2
Fleksi abnormal 3 Hanya suara 2 Tidak dapat 1
Ekstensi abnormal 2 Tidak ada 1
Tidak ada 1

2. Keadaan Umum
1. Breathing.
2. BlooD
3. Brain
4. BladdeR
5. Bowel
6. Bone
2. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan
Tahanan pembuluh darah; perdarahan pada bagian subarachnoid otak
2. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan tekanan intracranial (TIK)
3. Ketidakefektifan bersihan jalan berhubungan dengan penumpukan secret
4. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan berkurangnya perfusi
pada area brocca
5. Gangguan sensori persepsi penglihatan berhubungan dengan penurunan
perfusi pada bagian oksipitalis otak
6. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan neutronsmiter/kelemahan
fisik