Anda di halaman 1dari 2

Mencegah Korupsi di Daerah

Selasa, 01 Maret 2016 | 10:22


Penyakit akut korupsi tidak hanya menjangkiti elite penyelenggara negara di tingkat pusat. Pejabat pemerintahan di daerah, termasuk kalangan
legislatif dan yudikatif pun, turut larut dalam kubangan perilaku yang merugikan keuangan negara tersebut.

Praktik korupsi di daerah sejatinya tak kalah dahsyatnya. Mereka tidak hanya merampok uang daerah, dan juga dana dari APBN yang ditransfer ke
daerah, dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, baik berupa desentralisasi, dekonsentrasi, maupun asas tugas pembantuan.

Korupsi yang terjadi di daerah tak boleh dianggap kecil. Indonesia Corruption Watch (ICW) merilis data, sepanjang 2015, kasus korupsi yang masuk
tahap penyidikan sebanyak 550 kasus, dengan total kerugian negara sebesar Rp 3,1 triliun. Korupsi paling besar terjadi di sektor keuangan daerah,
yakni sebanyak 105 kasus dengan kerugian negara Rp 385,5 miliar, atau lebih 10 persen dari total kerugian negara sepanjang tahun lalu.

Tak heran, jika pihak yang paling banyak ditindak pada tahun 2015 adalah pejabat, baik pegawai pemda atau kementerian, yakni sebanyak 379 orang,
kepala dinas sebanyak 48 orang, serta kepala desa, camat dan lurah sebanyak 25 orang.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan menyebut satu provinsi yang diyakini mayoritas kepala daerah dan elite pemerintahannya tersandung
kasus korupsi. Di samping itu, diyakini pula penyakit korupsi telah terjadi secara sistemik di sejumlah daerah. Salah satu indikasinya ada satu provinsi
yang tiga gubernurnya terlibat kasus korupsi.

Besarnya potensi korupsi di daerah, tentu tak bisa lepas dari dua hal. Pertama, rezim pilkada langsung tanpa aturan pendanaan yang jelas dan ketat,
serta ancaman sanksi berat, membuka celah calon kepala daerah jor-joran mengguyur dana saat kampanye. Tak bisa dimungkiri, politik uang masih
menjadi andalan para calon untuk memenangkan pilkada.
Kondisi itu otomatis membuat mereka mencari cara untuk mengembalikan “investasi politik” saat pilkada. Satu-satunya cara adalah menyalahgunakan
kewenangannya sebagai kepala daerah untuk mencuri APBD.

Kedua, kepala daerah umumnya elite parpol baik yang duduk di pengurus pusat maupun daerah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kader parpol
yang duduk di eksekutif maupun legislatif mendapat tugas tambahan untuk mencari sumber dana bagi partai. Semakin besar dana yang berhasil
dihimpun untuk partai, semakin besar pengaruhnya di partai, sehingga dia seolah bisa mendapat dukungan atas jabatan politik yang dimintanya.
Relasi yang tidak sehat ini tentu melahirkan penyalahgunaan wewenang oleh kepala daerah selama dia menjabat. Selain mencari celah merampok
anggaran daerah untuk kepentingan pihak-pihak yang telah berjasa dalam perjalanan politiknya, diyakini para kepala daerah juga memanfaatkan
situasi tersebut untuk memperkaya diri sendiri.

Mengapa korupsi di daerah masih marak? Persoalannya ada mulai dari hulu hingga hilir. Di hulu, perencanaan anggaran masih menjadi sumber utama
tindak pidana korupsi keuangan daerah. Revolusi mental dan reformasi birokrasi belum menyentuh semua provinsi serta kabupaten dan kota yang ada
di Indonesia. Akibatnya, penyusunan anggaran selalu diwarnai kongkalikong antara oknum pejabat pemda dan DPRD.

Karena sejak perencanaan sudah ada niat untuk dikorupsi, dipastikan hal itu berlanjut saat pelaksanaan anggaran di lapangan. Korupsi tidak hanya
dilakukan oknum penyusun anggaran, tetapi juga pihak-pihak yang bertanggung jawab di lapangan. Akibatnya, program pembangunan tidak bisa
berjalan optimal, karena dukungan pembiayaan yang tidak maksimal.

Potensi korupsi di daerah sejatinya sudah ada solusinya. Kemajuan teknologi informasi sangat membantu pengelolaan anggaran secara transparan
dan akuntabel. Pemerintah pusat, sudah saatnya mewajibkan semua daerah menerapkan e-government, yakni pengelolaan pemerintahan, termasuk
anggaran, berbasis teknologi informasi. E-government bisa diterapkan mulai penyusunan anggaran (e-budgeting) serta pengadaan barang dan jasa
(e-procurement).
Selain itu, penyelesaian transaksi (pembayaran) dengan pihak-pihak yang menjadi rekanan pemda harus dilakukan secara cashless payment atau
tidak boleh menggunakan uang tunai. Dengan demikian, besarnya uang yang ditransfer ke rekanan harus sesuai dengan proposal anggaran. Cara ini
mengunci ruang korupsi, dan sekaligus memudahkan melacak di mana letak kebocoran atau siapa oknum yang dengan sengaja merampok uang
negara.
Penerapan e-government, juga harus dilakukan secara terbuka, atau bisa diakses oleh publik. Dengan demikian, akan meningkatkan pengawasan
terhadap penyelenggaraan pemerintahan di daerah, terutama berkaitan dengan pengelolaan program pembangunan dan penggunaan APBD.
Simultan dengan itu, upaya pengawasan, baik oleh inspektorat wilayah, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) di daerah harus diperkuat. Kapasitas sumber daya manusia di level pengawasan anggaran harus ditingkatkan, terutama
integritas dan kejujuran para pemeriksanya.

Hal utama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan kapasitas dan memperbaiki sikap mental para kepala daerah, dan segenap pimpinan satuan
kerja perangkat daerah (SKPD), serta para anggota DPRD. Sebab, merekalah yang menyusun, melaksanakan, dan mempertanggungjawabkan
program pembangunan dan pelaksanaan APBD.
TAJUK RENCANA: Komitmen Anti Korupsi (Kompas) LUAR biasa pernyataan sikap para gubernur yang tergabung dalam Asosiasi
Pemerintahan Provinsi Seluruh Indonesia atau APPSI. APPSI yang dipimpin Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo menegaskan
komitmen gubernur di depan Presiden Joko Widodo untuk mendukung pemberantasan korupsi. Bahkan, mereka siap dipenjara dan
dihukum mati! Luar biasa komitmen itu. Hukuman mati untuk koruptor hanya bisa diterapkan jika penyelenggara negara mengorupsi dana
bencana alam. Meski konstitusional, hukuman mati tetaplah kontroversi. Ada yang pro, ada yang kontra. Kita hargai penuh sikap para
gubernur untuk tidak melakukan korupsi. Namun, selain komitmen untuk tidak korupsi, ada pula harapan gubernur agar mereka yang
dituduh korupsi itu diperiksa secara intern terlebih dahulu oleh aparat pengawas internal, inspektorat, BPKP, sebelum dibawa ke penegak
hukum. Para gubernur itu juga mengeluhkan ekspose media massa yang mendahului seluruh rangkaian penegakan hukum. Korupsi adalah
musuh utama bangsa ini. Korupsi telah membuat bangsa ini jatuh miskin. Menurut data harian ini, sudah ada 12 gubernur, 42 wali
kota/bupati, dan 76 anggota DPR/DPRD yang terjerat kasus korupsi. Semangat perang terhadap korupsi menjadi perang semesta dari
masyarakat pegiat anti korupsi, termasuk media massa. Jurnalisme investigasi yang berkembang telah ikut membongkar berbagai korupsi.
Praktik korupsi yang terungkap ke permukaan justru dibongkar dari luar lembaga pengawas internal. Lembaga pengawas internal terkesan
mandul karena terkooptasi struktur kekuasaan. Meski kita memandang positif komitmen gubernur, pegiat anti korupsi Indonesia
Corruption Watch, Emerson Yuntho, berharap perang terhadap korupsi tidak perlu dengan mengumbar janji. Masuk akal memang
pernyataan Emerson karena banyak janji pejabat yang bombastis, dan kemudian terjebak dalam korupsi. Dalam panggung kampanye
menyatakan tidak kepada korupsi, ternyata masuk penjara paling duluan karena korupsi. Penguatan lembaga pengawas internal, apakah
inspektorat atau BPKP, adalah keniscayaan. Tanpa ada penguatan kelembagaan, keinginan memberantas korupsi dari dalam tidak akan
tercapai. Karena itulah, kita memandang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai garda terdepan pemberantasan korupsi, meski
kenyataannya KPK kewalahan menangani tersangka korupsi. Dengan dalih kekurangan penyidik, banyak tersangka korupsi yang tetap
bebas berkeliaran. Aspek pencegahan korupsi harus terus dikedepankan selain penindakan. Sekali lagi, kita hargai komitmen gubernur
untuk tidak melakukan korupsi. Korupsi terjadi karena bertemunya dua hal: keinginan (untuk korupsi) dan kesempatan (untuk korupsi).
Dengan dimatikannya keinginan korupsi, korupsi akan berkurang. Namun, perang terhadap korupsi membutuhkan dukungan dan contoh
dari pimpinan nasional dan para menteri.

Copy the BEST Traders and Make Money : http://ow.ly/KNICZ