Anda di halaman 1dari 71

Apa itu Abortus??

dari catatan kuliah yang saya dapatkan


Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah
kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan, dimana beratnya masih di bawah 500
gram atau sebelum usia kehamilan 20 minggu
Lalu Penyebabnya apa??

1. Faktor janin: dimana terjadi gangguan pertumbuhan pada zigot, embrio atau plasenta.
2. Faktor maternal (Faktor Ibu): terjadi infeksi (virus, bakteri) pada awal trimester 1 dan 2.
3. Faktor eksternal: dapat disebabkan oleh radiasi obat – obatan dan bahan kimia.

Dan Apa dampaknya?


Abortus sangat berbahaya jika dilakukan oleh tenaga yang belum terlatih. Karena dapat
mengakibatkan kematian akibat pendarahan yang terus menerus dan infeksi pada saat melakukan
abortus. Di samping itu aborsi juga berdampak pada kondisi psikologis. Perasaan sedih karena
kehilangan bayi, beban batin akibat timbulnya perasaan bersalah dan penyesalan yang dapat
mengakibatkan depresi.

Gugur kandungan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Adegan abortus pada relief Candi Borobudur (abad ke-9)

Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum
usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat
(hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran
prematur.

Dalam ilmu kedokteran, istilah-istilah ini digunakan untuk membedakan aborsi:


 Spontaneous abortion: gugur kandungan yang disebabkan oleh trauma kecelakaan
atau sebab-sebab alami.
 Induced abortion atau procured abortion: pengguguran kandungan yang disengaja.
Termasuk di dalamnya adalah:
o Therapeutic abortion: pengguguran yang dilakukan karena kehamilan
tersebut mengancam kesehatan jasmani atau rohani sang ibu, kadang-
kadang dilakukan sesudah pemerkosaan.
o Eugenic abortion: pengguguran yang dilakukan terhadap janin yang cacat.
o Elective abortion: pengguguran yang dilakukan untuk alasan-alasan lain.

Dalam bahasa sehari-hari, istilah "keguguran" biasanya digunakan untuk spontaneous abortion,
sementara "aborsi" digunakan untuk induced abortion.

Daftar isi
 1 Pengaturan oleh pemerintah Indonesia
 2 Klasifikasi Abortus
o 2.1 Abortus spontanea
o 2.2 Abortus provokatus
 3 Penyebab Abortus
o 3.1 Maternal
 4 Alasan untuk melakukan tindakan Abortus Provokatus
 5 Akibat Abortus Provokatus Kriminalis
 6 Lain-lain
 7 Diagnosis abortus
o 7.1 Tanda Pasti
 8 Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus Criminalis
 9 DAFTAR PUSTAKA

Pengaturan oleh pemerintah Indonesia

Status internasional hukum pengguguran kandungan

Tindakan aborsi menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) di Indonesia


dikategorikan sebagai tindakan kriminal. Pasal-pasal KUHP yang mengatur hal ini adalah pasal
299, 341, 342, 343, 346, 347, 348, dan 349. Menurut KUHP, aborsi merupakan:
 Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium perkembangannya sebelum masa
kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu).
 Pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (berat kurang
dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).Dari segi medikolegal maka istilah abortus,
keguguran, dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan
pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup.

Klasifikasi Abortus
Beberapa tipikal abortus dapat diklasifikasikan sebagai berikut

Abortus spontanea

Abortus spontanea merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan, dalam hal ini
dibedakan sebagai berikut:

 Abortus imminens, Peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum
20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.

A. Pengertian Abortus imminen adalah perdarahan bercak yang menunjukkan ancaman terhadap
kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini kehamilan masih mungkin berlanjut
atau dipertahankan. (Syaifudin. Bari Abdul, 2000) Abortus imminen adalah perdarahan
pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa tanda-tanda dilatasi serviks yang
meningkat ( Mansjoer, Arif M, 1999) Abortus imminen adalah pengeluaran secret pervaginam
yang tampak pada paruh pertama kehamilan ( William Obstetri, 1990)

B. Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab yaitu:

1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus pada kehamilan


sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah:

 a. Kelainan kromosom, terutama trimosoma dan monosoma X


 b. Lingkungan sekitar tempat impaltasi kurang sempurna
 c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan temabakau dan alkohol

2. kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
3. faktor maternal seperti pneumonia, typus, anemia berat, keracunan, dan
toksoplasmosis.
4. kelainan traktus genetalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trimester
kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan kelainan bawaan uterus.

C. Gambaran Klinis

1. Terlambat haid atau amenorhe kurang dari 20 minggu


2. pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak lemah kesadaran menurun, tekanan darah
normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau
meningkat
3. perdarahan pervaginam mungkin disertai dengan keluarnya jaringan hasil konsepsi
4. rasa mulas atau kram perut, di daerah atas simfisis, sering nyeri pinggang akibat
kontraksi uterus
5. pemeriksaan ginekologi:

 a. Inspeksi Vulva: perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi,
tercium bau busuk dari vulva
 b. Inspekulo: perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah
tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau
jaringan berbau busuk dari ostium.
 c. Colok vagina: porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak
jaringan dalam cavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa,
cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

D. Patofisiologi Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis
jaringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam
uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Pada kehamilan
kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi
dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih
dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada
kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil
konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas
bentuknya (blightes ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus,
maserasi atau fetus papiraseus.

Komplikasi:

1. Perdarahan, perforasi syok dan infeksi


2. pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan
pembekuan darah.

E. Pathway

F. Pemeriksaan penunjang

1. Tes kehamilan positif jika janin masih hidup dan negatif bila janin sudah mati
2. pemeriksaan Dopler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup
3. pemeriksaan fibrinogen dalam darah pada missed abortion

Data laboratorium

1. Tes urine
2. hemoglobin dan hematokrit
3. menghitung trombosit
4. kultur darah dan urine

G. Masalah keperawatan

1. Kecemasan
2. intoleransi aktivitas
3. gangguan rasa nyaman dan nyeri
4. defisit volume cairan

H. Diagnosis keperawatan

1. Cemas berhubungan dengan pengeluaran konsepsi


2. nyeri berhubungan dengan kontraksi uterus
3. risiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan
4. kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi
5. intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri

I. Tujuan

DX I: Mengurangi atau menghilangkan kecemasan


DX II: Mengurangi atau menghilangkan rasa sakit
DX III: Mencegah terjadinya defisit cairan
DX IV: Mengurangi atau meminimalkan rasa kehilangan atau duka cita
DX V: Klien dapat melakukan aktivitas sesuai dengan toleransinya

J. fokus intervensi DX I: Cemas berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi Intervensi:

- Siapkan klien untuk reaksi atas kehilangan


- Beri informasi yang jelas dengan cara yang tepat

DX II: nyeri berhubungan dengan kontraksi uteri Intervensi:

- Menetapkan laporan dan tanda-tanda yang lain. Panggil pasien dengan nama lengkap.
Jangan tinggalkan pasien tanpa pengawasan dalam waktu yang lama
- Rasa sakit dan karakteristik, termasuk kualitas waktu lokasi dan intensitas
- Melakukan tindakan yang membuat klien merasa nyaman seperti ganti posisi, teknik
relaksasi serta kolaburasi obat analgetik

DX III: Resiko tinggi defisit volume cairan berhubungan dengan perdarahan Intervensi:

- Kaji perdarahan pada pasien, setiap jam atau dalam masa pengawasan

1. Kaji perdarahan Vagina: warna, jumlah pembalut yang digunakan, derajat aliran dan
banyaknya
2. kaji adanya gumpalan
3. kaji adanya tanda-tanda gelisah, taki kardia, hipertensi, dan kepucatan

- monitor nilai HB dan Hematokrit

DX IV: Kehilangan berhubungan dengan pengeluaran hasil konsepsi Intervensi:

- Pasien menerima kenyataan kehilangan dengan tenang tidak dengan cara menghakimi
- Jika diminta bisa juga dilakukan perawatan janin
- Menganjurkan pada pasien untuk mendekatkan diri pada Tuhan YME

DX V: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri Intervensi:

- Menganjurkan pasien agar tiduran


- Tidak melakukan hubungan seksual

 Abortus insipiens, Peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu


dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalam
uterus.
 Abortus inkompletus, Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
 Abortus kompletus, semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.

Abortus provokatus

Abortus provokatus merupakan jenis abortus yang sengaja dibuat/dilakukan, yaitu dengan cara
menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar tubuh ibu. Pada umumnya bayi
dianggap belum dapat hidup diluar kandungan apabila usia kehamilan belum mencapai 28
minggu, atau berat badan bayi kurang dari 1000 gram, walaupun terdapat beberapa kasus bayi
dengan berat dibawah 1000 gram dapat terus hidup. Pengelompokan Abortus provokatus secara
lebih spesifik:

 Abortus Provokatus Medisinalis/Artificialis/Therapeuticus, abortus yang dilakukan


dengan disertai indikasi medik. Di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik
adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Syarat-syaratnya:

1. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai
dengan tanggung jawab profesi.
2. Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain, agama, hukum, psikologi).
3. Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat.
4. Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga/peralatan yang memadai, yang
ditunjuk oleh pemerintah.
5. Prosedur tidak dirahasiakan.
6. Dokumen medik harus lengkap.
 Abortus Provokatus Kriminalis, aborsi yang sengaja dilakukan tanpa adanya indikasi
medik (ilegal). Biasanya pengguguran dilakukan dengan menggunakan alat-alat atau
obat-obat tertentu.

Penyebab Abortus
Karakteristik ibu hamil dengan abortus yaitu:

1. Umur

Dalam kurun reproduksi sehat dikenal bahwa usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah
20-30 tahun. Kematian maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah 20 tahun
ternyata 2-5 kali lebih tinggi daripada kematian maternal yang terjadi pada usia 20-29 tahun.
Kematian maternal meningkat kembali sesudah usia 30-35 tahun. Ibu-ibu yang terlalu muda
seringkali secara emosional dan fisik belum matang, selain pendidikan pada umumnya rendah,
ibu yang masih muda masih tergantung pada orang lain.

Keguguran sebagian dilakukan dengan sengaja untuk menghilangkan kehamilan remaja yang
tidak dikehendaki. Keguguran sengaja yang dilakukan oleh tenaga nonprofesional dapat
menimbulkan akibat samping yang serius seperti tingginya angka kematian dan infeksi alat
reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan. Abortus yang terjadi pada
remaja terjadi karena mereka belum matured dan mereka belum memiliki sistem transfer
plasenta seefisien wanita dewasa.

Abortus dapat terjadi juga pada ibu yang tua meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi
kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai menurun sehingga dapat memengaruhi janin
intra uterine.

2. Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat

Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik,
persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan
baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan
mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk
karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan
berat lahir rendah.

3. Paritas ibu

Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin dan perdarahan saat
persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah lemah. Paritas 2-3 merupakan paritas paling
aman ditinjau dari sudut kematian maternal. Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai
angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal.
Risiko pada paritas 1 dapat ditangani dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan risiko pada
paritas tinggi dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada
paritas tinggi adalah tidak direncanakan.
4 Riwayat Kehamilan yang lalu

Menurut Malpas dan Eastman kemungkinan terjadinya abortus lagi pada seorang wanita ialah
73% dan 83,6%. Sedangkan, Warton dan Fraser dan Llewellyn Jones memberi prognosis yang
lebih baik, yaitu 25,9% dan 39% (Wiknjosastro, 2007).

Maternal

Penyebab dari segi Maternal

Penyebab secara umum:

 Infeksi akut

1. virus, misalnya cacar, rubella, hepatitis.


2. Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.
3. Parasit, misalnya malaria.

 Infeksi kronis

1. Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.


2. Tuberkulosis paru aktif.
3. Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.
4. Penyakit kronis, misalnya:
1. hipertensi
2. nephritis
3. diabetes
4. anemia berat
5. penyakit jantung
6. toxemia gravidarum
5. Gangguan fisiologis, misalnya Syok, ketakutan, dll.
6. Trauma fisik.

 Penyebab yang bersifat lokal:

1. Fibroid, inkompetensia serviks.


2. Radang pelvis kronis, endometrtis.
3. Retroversi kronis.
4. Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan
abortus.

Penyebab dari segi Janin:

 Kematian janin akibat kelainan bawaan.


 Mola hidatidosa.
 Penyakit plasenta dan desidua, misalnya inflamasi dan degenerasi.
Alasan untuk melakukan tindakan Abortus Provokatus
Abortus Provokatus Medisinalis

 Abortus yang mengancam (threatened abortion) disertai dengan perdarahan yang terus
menerus, atau jika janin telah meninggal (missed abortion).
 Mola Hidatidosa atau hidramnion akut.
 Infeksi uterus akibat tindakan abortus kriminalis.
 Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, misalnya kanker serviks atau jika dengan
adanya kehamilan akan menghalangi pengobatan untuk penyakit keganasan lainnya pada
tubuh seperti kanker payudara.
 Prolaps uterus gravid yang tidak bisa diatasi.
 Telah berulang kali mengalami operasi caesar.
 Penyakit-penyakit dari ibu yang sedang mengandung, misalnya penyakit jantung organik
dengan kegagalan jantung, hipertensi, nephritis, tuberkulosis paru aktif, toksemia
gravidarum yang berat.
 Penyakit-penyakit metabolik, misalnya diabetes yang tidak terkontrol yang disertai
komplikasi vaskuler, hipertiroid, dan lain-lain.
 Epilepsi, sklerosis yang luas dan berat.
 Hiperemesis gravidarum yang berat, dan chorea gravidarum.
 Gangguan jiwa, disertai dengan kecenderungan untuk bunuh diri. Pada kasus seperti ini,
sebelum melakukan tindakan abortus harus dikonsultasikan dengan psikiater.

Abortus Provokatus Kriminalis

Abortus provokatus kriminalis sering terjadi pada kehamilan yang tidak dikehendaki. Ada
beberapa alasan wanita tidak menginginkan kehamilannya:

 Alasan kesehatan, di mana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.


 Alasan psikososial, di mana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau untuk punya anak lagi.
 Kehamilan di luar nikah.
 Masalah ekonomi, menambah anak berarti akan menambah beban ekonomi keluarga.
 Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan, janin cacat.
 Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga).
 Selain itu tidak bisa dilupakan juga bahwa kegagalan kontrasepsi juga termasuk tindakan
kehamilan yang tidak diinginkan.

faktor: umur ketidaksiapan mempunyai momongan ketidak setujuan keluarga memiliki iman
yang minim nakal pergaulan bebas ekonomi minim lemah nya pantauan orang tua

Akibat Abortus Provokatus Kriminalis


Komplikasi medis yang dapat timbul pada ibu

Perforasi
Dalam melakukan dilatasi dan kerokan harus diingat bahwa selalu ada kemungkinan terjadinya
perforasi dinding uterus, yang dapat menjurus ke rongga peritoneum, ke ligamentum latum, atau
ke kandung kencing. Oleh sebab itu, letak uterus harus ditetapkan lebih dahulu dengan seksama
pada awal tindakan, dan pada dilatasi serviks tidak boleh digunakan tekanan berlebihan.

Kerokan kuret dimasukkan dengan hati-hati, akan tetapi penarikan kuret ke luar dapat dilakukan
dengan tekanan yang lebih besar. Bahaya perforasi ialah perdarahan dan peritonitis. Apabila
terjadi perforasi atau diduga terjadi peristiwa itu, penderita harus diawasi dengan seksama
dengan mengamati keadaan umum, nadi, tekanan darah, kenaikan suhu, turunnya hemoglobin,
dan keadaan perut bawah. Jika keadaan meragukan atau ada tanda-tanda bahaya, sebaiknya
dilakukan laparatomi percobaan dengan segera.

Luka pada serviks uteri

Apabila jaringan serviks keras dan dilatasi dipaksakan maka dapat timbul sobekan pada
serviks uteri yang perlu dijahit. Apabila terjadi luka pada ostium uteri internum, maka
akibat yang segera timbul ialah perdarahan yang memerlukan pemasangan tampon pada
serviks dan vagina. Akibat jangka panjang ialah kemungkinan timbulnya incompetent
cerviks.

Pelekatan pada kavum uteri

Melakukan kerokan secara sempurna memerlukan pengalaman. Sisa-sisa hasil konsepsi


harus dikeluarkan, tetapi jaringan miometrium jangan sampai terkerok, karena hal itu
dapat mengakibatkan terjadinya perlekatan dinding kavum uteri di beberapa tempat.
Sebaiknya kerokan dihentikan pada suatu tempat apabila pada suatu tempat tersebut
dirasakan bahwa jaringan tidak begitu lembut lagi.

Perdarahan

Kerokan pada kehamilan yang sudah agak tua atau pada mola hidatidosa terdapat bahaya
perdarahan. Oleh sebab itu, jika perlu hendaknya dilakukan transfusi darah dan sesudah
itu, dimasukkan tampon kasa ke dalam uterus dan vagina.

Infeksi

Apabila syarat asepsis dan antisepsis tidak diindahkan, maka bahaya infeksi sangat besar.
Infeksi kandungan yang terjadi dapat menyebar ke seluruh peredaran darah, sehingga
menyebabkan kematian. Bahaya lain yang ditimbulkan abortus kriminalis antara lain
infeksi pada saluran telur. Akibatnya, sangat mungkin tidak bisa terjadi kehamilan lagi.

Lain-lain...

Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl hipertonik adalah
apabila larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau ke dalam pembuluh darah
dan menimbulkan gejala-gejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian
pernapasan, atau hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan
pada pemberian prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.

Komplikasi yang dapat timbul pada Janin:

Sesuai dengan tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka
nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal.
Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin kemungkinan
besar mengalami cacat fisik.

Lain-lain
Komplikasi yang dapat timbul dengan segera pada pemberian NaCl hipertonik adalah apabila
larutan garam masuk ke dalam rongga peritoneum atau ke dalam pembuluh darah dan
menimbulkan gejala-gejala konvulsi, penghentian kerja jantung, penghentian pernapasan, atau
hipofibrinogenemia. Sedangkan komplikasi yang dapat ditimbulkan pada pemberian
prostaglandin antara lain panas, rasa enek, muntah, dan diare.

Komplikasi yang Dapat Timbul Pada Janin:

Sesuai dengan tujuan dari abortus itu sendiri yaitu ingin mengakhiri kehamilan, maka
nasib janin pada kasus abortus provokatus kriminalis sebagian besar meninggal.
Kalaupun bisa hidup, itu berarti tindakan abortus gagal dilakukan dan janin kemungkinan
besar mengalami cacat fisik.

Secara garis besar tindakan abortus sangat berbahaya bagi ibu dan juga janin yaitu bisa
menyebabkan kematian pada keduanya.

Cara – cara Abortus Provokatus Kriminalis Kekerasan Mekanik:

1. Umum.

a. Latihan olahraga berlebihan


b. Naik kuda berlebihan
c. Mendaki gunung, berenang, naik turun tangga
d. Tekanan/trauma pada abdomen

Wanita cemas akan kehilangan kehamilannya karena olah raga yang berlebih dan mungkin
kekerasan yang berpengaruh terhadap janinnya. Aktivitas hiruk pikuk, mengendarai kuda
biasanya tidak efektif dan beberapa wanita mencari kekerasan dari suaminya. Meninju dan
menendang perut sudah umum dan kematian akibat ruptur organ dalam seperti hati, limpa atau
pencernaan, telah banyak dilaporkan. Ironisnya, uterus biasanya masih dalam kondisi baik.

2. Lokal.
a. Memasukkan alat-alat yang dapat menusuk ke dalam vagina: pensil, paku, jeruji
sepeda
b. Alat merenda, kateter atau alat penyemprot untuk menusuk atau menyemprotkan
cairan kedalam uterus untuk melepas kantung amnion
c. Alat untuk memasang IUD
d. Alat yang dapat dilalui arus listrik
e. Aspirasi jarum suntik

Metode hisapan sering digunakan pada aborsi yang merupakan cara yang ilegal secara medis
walaupun dilakukan oleh tenaga medis. Tabung suntik yang besar dilekatkan pada ujung kateter
yang dapat dilakukan penghisapan yang berakibat ruptur dari chorionic sac dan mengakibatkan
abortus. Cara ini aman asalkan metode aseptic dijalankan, jika penghisapan tidak lengkap dan
masih ada sisa dari hasil konsepsi maka dapat mengakibatkan infeksi.

Tujuan dari merobek kantong kehamilan adalah jika kantong kehamilan sudah rusak maka secara
otomatis janin akan dikeluarkan oleh kontraksi uterus. Ini juga dapat mengakibatkan dilatasi
saluran cerviks, yang dapat mengakhiri kehamilan. Semua alat dapat digunakan dari pembuka
operasi sampai jari-jari dari ban sepeda.

Paramedis yang melakukan abortus suka menggunakan kateter yang kaku. Jika digunakan oleh
dokter maupun suster, yang melakukan mempunyai pengetahuan anatomi dan menggunakan alat
yang steril maka risikonya semakin kecil. Akan tetapi orang awam tidak mengetahui hubungan
antara uterus dan vagina. Alat sering digunakan dengan cara didorong ke belakang yang orang
awam percayai bahwa keadaan cerviks di depan vagina. Permukaan dari vagina dapat menjadi
rusak dan alat mungkin masuk ke usus bahkan hepar.

Penetrasi dari bawah atau tengah vagina dapat juga terjadi perforasi. Jika cerviks dimasuki oleh
alat, maka cerviks dapat ruptur dan alat mungkin masuk lewat samping. Permukaan luar dapat
cedera dengan pengulangan, usaha yang ceroboh yang berusaha mengeluarkan benda yang
terlalu tebal ke saluran yang tidak membuka. Jika sukses melewati saluran dari uterus, mungkin
langsung didorong ke fundus, yang akan merusak peritoneal cavity. Bahaya dari penggunaan alat
adalah pendarahan dan infeksi.

Perforasi dari dinding vagina atau uterus dapat menyebabkan pendarahan, yang mungkin
diakibatkan dari luar atau dalam. Sepsis dapat terjadi akibat penggunaan alat yang tidak steril
atau kuman berasal dari vagina dan kulit. Bahaya yang lebih ringan(termasuk penggunaan jarum
suntik) adalah cervical shock. Ini dapat membuat dilatasi cerviks, dalam keadaaan pasien yang
tidak dibius, alat mungkin menyebabkan vagal refleks, yang melalui sistem saraf parasimpatis,
yang dapat mengakibatkan cardiac arrest. Ini merupakan mekanisme yang berpotensi
menimbulkan ketakutan yang dapat terjadi pada orang yang melakukan abortus kriminalis.

Kekerasan Kimiawi / Obat-obatan atau Bahan-bahan yang Bekerja Pada Uterus

Berbagai macam zat yang digunakan baik secara lokal maupun melalui mulut telah banyak
digunakan untuk menggugurkan kandungan. Beberapa zat mempunyai efek yang baik sedangkan
beberapa lainnya berbahaya. Zat yang digunakan secara lokal contohnya fenol dan lysol, merkuri
klorida, potassium permagnat, arsenik, formaldehid, dan asam oxalat. Semua mempunyai bahaya
sendiri, baik dari korosi lokal maupun efek sistemik jika diserap.

Pseudomembran yang nekrotik mungkin berasal dari vagina dan kerusakan cerviks mungkin
terjadi. Potasium permangat adalah zat yang muncul selama perang yang terakhir dan
berlangsung beberapa tahun, 650 kasus dilaporkan hingga tahun 1959, yang parah hanya
beberapa. Ini dapat menyebabkan nekrosis pada vagina jika diserap yang dapat mempunyai efek
sistemik yang fatal termasuk kerusakan ginjal. Permanganat dapat menyebabkan pendarahan
vagina dari nekrosis, yang mana dapat membahayakan janin

Diagnosis abortus
Sekitar 20 persen kehamilan berakhir dengan keguguran, sebagian besar terjadi 5-6 minggu
pertama kehamilan. Wanita mungkin mengalami beberapa pendarahan atau kram ringan dan
USG dilakukan untuk mendeteksi apakah embrio masih hidup. Kriteria diagnosis keguguran
dengan USG bervariasi di seluruh dunia. Di Inggris, kantung kehamilan kosong dengan diameter
lebih dari 20 milimeter diklasifikasikan sebagai keguguran, sementara di Amerika Serikat
diameter 16 milimeter. Jika sebuah kantung kecil terdeteksi kosong, wanita biasanya disarankan
menjalani scan kedua 7 sampai 14 hari kemudian

Jenis obat-obatan yang dipakai untuk menginduksi abortus antara lain:

 a. Emmenagogum: obat untuk melancarkan haid

Cara kerja: Indirect Congesti + engorgement mucosa ↓ Bleeding ↓ Kontraksi Uterus ↓ Foetus
dikeluarkan

Direct: Bekerja langsung pada uterus/saraf motorik uterus.

Misal: Aloe, Cantharides (racun irritant), Caulopylin, Borax, Apiol, Potassium permanganate,
Santonin, Senega, Mangan dioksida, dll.

 b. Purgativa/Emetica: obat-obatan yang menimbulkan kontraksi GI tract

Misal:

Colocynth: Aloe

Castor oil: Magnesim sulfate, Sodium sulfate.

 c. Ecbolica: menimbulkan kontraksi uterus secara langsung.

Misal: Apiol, Ergot, Ergometrine, Extract secale, Extract pituatary, Pituitrine, Exytocin.

Cara kerja ergot: Merangsang alpha 1 receptor pada uterus


Kontraksi uterus yang kuat dan lama

 d. Garam dari logam: biasanya sebelum mengganggu kehamilannya sudah


membahayakan keselamatan ibu. Dengan tujuan menimbulkan tonik kontraksi pada
uterus.

Misal: Arsenicum, HgCl, Potassium bichromate, Ferro sulfate, ferri chlorida

Diagnosis kehamilan ditegakkan atas dasar adanya tanda kehamilan. Tanda kehamilan dibagi
menjadi 2 yakni:

1. Tanda pasti
2. Tanda tidak pasti

i. Tanda mungkin (probable signs)


ii. Tanda dugaan (presumptive signs)

Tanda Pasti

Tanda pasti kehamilan antara lain:

1. Pada inspeksi didapatkan gerakan janin pada minggu ke 16-18.


2. Pada palpasi didapatkan gerakan janin dan teraba bagian-bagian janin pada minggu ke
20.
3. Pada auskultasi didapatkan detak jantung janin pada miggu ke 18-20.
4. Pada pemeriksaan Rontgen didapatkan kerangka fetus pada minggu ke 16.
5. Pada pemeriksaan USG didapatkan gestasional sac pada minggu ke 4.

Tanda mungkin (probable signs)

Tanda mungkin kehamilan antara lain:

1. Pembesaran perut dan uterus.


2. Perlunakan serviks dan serviks-uterus (Tanda Piscaseck)
3. Kontraksi uterus (Braxton Hicks)
4. Ballotment (palpasi kepala janin)
5. Tes hormon β-HCG urine, kadar β-HCG urine maksimal pada minggu 5-18.

Tanda dugaan (Presumptive signs)

Tanda dugaan kehamilan antara lain:

1. Amenore
2. Nausea-Vomiting
3. Malaise
4. Polakisuria
5. Hiperpigmentasi kulit
6. Striae gravidarum
7. Kebiruan pada serviks dan vagina (Tanda Chadwick)
8. Payudara: hipertrofi mammae, hiperpigmentasi areola, hipertrofi kelenjar Montgomery,
kolostrum (mingggu ke 12).

Tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan

Uterus pada wanita tidak hamil kira-kira sebesar telur ayam. Pada palpasi tidak dapat diraba.
Pada kehanilan uterus tumbuh secara teratur, kecuali jika ada gangguan pada kehamilan tersebut.
Perkiraan tinggi fundus uteri sesuai usia kehamilan:

1. Kehamilan usia 12 minggu: tepat di atas simfisis (syarat pemeriksaan vesica urinaria
dikosongkan dahulu).
2. Kehamilan usia 16 minggu: setengah jarak simfisis ke pusat.
3. Kehamilan usia 20 minggu: tepi bawah pusat.
4. Kehamilan usia 24 minggu: tepi atas pusat.
5. Kehamilan usia 28 minggu: sepertiga jarak pusat ke processus xyphoideus atau 3 jari di
atas pusat.
6. Kehamilan usia 32 minggu: setengah jarak pusat ke processus xyphoideus.
7. Kehamilan usia 36 minggu: pada 1 jari bawah processus xyphoideus.

Tanda-tanda post Partus (Masa Puperium)

Masa puerpurium atau masa nifas mulai setelah partus selesai, dan berakhir setelah kira-
kira 6 minggu. Akan tetapi, seluruh alat genital baru pulih kembali seperti sebelum ada
kehamilan dalam waktu 3 bulan.

Aspek Hukum dan Medikolegal Abortus Povocatus


Criminalis
Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada undang-
undang yang mengatur mengenai tindakan abortus. Peraturan mengenai hal ini pertama kali
dikeluarkan pada tahun 4 M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu maka
undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun
terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di
berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus.

Hukum abortus di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai
berikut:

 Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.


 Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu),
seperti di Perancis dan Pakistan.
 Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada, Muangthai
dan Swiss.
 Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia,
Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.
 Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia,
dan Yugoslavia.
 Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-
indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris,
Hongaria, USSR, Singapura.
 Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan
bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India
 Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil
akibat perkosaan) seperti di Jepang,

Negara-negara yang mengadakan perubahan dalam hukum abortus pada umumnya


mengemukakan salah satu alasan/tujuan seperti yang tersebut di bawah ini:

 Untuk memberikan perlindungan hukum pada para medisi yang melakukan abortus atas
indikasi medik.
 Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya abortus provocatus criminalis.
 Untuk mengendalikan laju pertambahan penduduk.
 Untuk melindungi hal wanita dalam menentukan sendiri nasib kandungannnya.
 Untuk memenuhi desakan masyarakat.

Di Indonesia, baik menurut pandangan agama, Undang-Undang Negara, maupun Etik


Kedokteran, seorang dokter tidak diperbolehkan untuk melakukan tindakan pengguguran
kandungan (abortus provokatus). Bahkan sejak awal seseorang yang akan menjalani profesi
dokter secara resmi disumpah dengan Sumpah Dokter Indonesia yang didasarkan atas Deklarasi
Jenewa yang isinya menyempurnakan Sumpah Hippokrates, di mana ia akan menyatakan diri
untuk menghormati setiap hidup insani mulai dari saat pembuahan.

Dari aspek etika, Ikatan Dokter Indonesia telah merumuskannya dalam Kode Etik Kedokteran
Indonesia mengenai kewajiban umum, pasal 7d: :Setiap dokter harus senantiasa mengingat akan
kewajiban melindungi hidup makhluk insani. Pada pelaksanaannya, apabila ada dokter yang
melakukan pelanggaran, maka penegakan implementasi etik akan dilakukan secara berjenjang
dimulai dari panitia etik di masing-masing RS hingga Majelis Kehormatan Etika Kedokteran
(MKEK). Sanksi tertinggi dari pelanggaran etik ini berupa "pengucilan" anggota dari profesi
tersebut dari kelompoknya. Sanksi administratif tertinggi adalah pemecatan anggota profesi dari
komunitasnya.

Ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus justru tidak bersifat mutlak. Abortus
buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua golongan yakni:
1. Abortus buatan legal Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan
cara-cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Populer juga disebut dengan abortus provocatus
therapeticus, karena alasan yang sangat mendasar untuk melakukannya adalah untuk
menyelamatkan nyawa ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang
Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan:

PASAL 15

1) Dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medis tertentu.
2) Tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) hanya dapat dilakukan:
a. Berdasarkan indikasi medis yang mengharuskan diambilnya tindakan tersebut.
b. Oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan
dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli.
c. Dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya.
d. Pada sarana kesehatan tertentu.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan medis tertentu sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pada penjelasan UU no 23 tahun 1992 pasal 15 dinyatakan sebagai berikut:

Ayat (1): Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun,
dilarang karena bertentangan dengan norma hukum, norma agama, norma kesusilaan dan
norma kesopanan. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan
jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu
Ayat (2)

 Butir a: Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil
tindakan medis tertentu sebab tanpa tindakan medis tertentu itu, ibu hamil dan janinnya
terancam bahaya maut.
 Butir b: Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga
yang memiliki keahlian dan wewenang untuk melakukannya yaitu seorang dokter ahli
kandungan seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.
 Butir c: Hak utama untuk memberikan persetujuan ada ibu hamil yang bersangkutan
kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya ,dapat
diminta dari semua atau keluarganya.
 Butir d: Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan
peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan ditunjuk oleh pemerintah.

Ayat (3): Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanan dari pasal ini dijabarkan antara
lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau
janinnya,tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan wewenang bentuk persetujuan,
sarana kesehatan yang ditunjuk.

2. Abortus Provocatus Criminalis (Abortus buatan illegal) Yaitu pengguguran kandungan


yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan si ibu, dilakukan oleh tenaga
yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang dibenarkan oleh undang-
undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus criminalis karena di
dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan. Beberapa pasal yang mengatur abortus
provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP):

PASAL 299

1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya diobati,
dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya
dapat digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda
paling banyak empat pulu ribu rupiah.
2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan
perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib, bidan
atau juru obat, pidananya dapat ditambah sepertiga.
3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencaharian,
maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian.

PASAL 346

Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau


menyuruh orang lain untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

PASAL 347

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang


wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
2) Jika perbuatan itu menyebabkan matinya wanita tersebut, dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.

PASAL 348

1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seseorang


wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun
enam bulan.
2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana
penjara paling lama tujuh tahun.

PASAL 349

Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut
pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang
diterangkan dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat
ditambah dengn sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam
mana kejahatan dilakukan.

PASAL 535
Barang siapa secara terang-terangan mempertunjukkan suatu sarana untuk menggugurkan
kandungan, maupun secara terang-terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupun
secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai
bisa didapat, sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling
lama tiga bulan atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Dari rumusan pasal-pasal tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan:

1. Seorang wanita hamil yang sengaja melakukan abortus atau ia menyuruh orang lain,
diancam hukuman empat tahun.
2. Seseorang yang sengaja melakukan abortus terhadap ibu hamil, dengan tanpa persetujuan
ibu hamil tersebut diancam hukuman 12 tahun, dan jika ibu hamil itu mati diancam 15
tahun
3. Jika dengan persetujuan ibu hamil, maka diancam hukuman 5,5 tahun penjara dan bila
ibu hamil tersebut mati diancam hukuman 7 tahun penjara.
4. Jika yang melakukan dan atau membantu melakukan abortus tersebut seorang dokter,
bidan atau juru obat (tenaga kesehatan) ancaman hukumannya ditambah sepertiganya dan
hak untuk praktek dapat dicabut.

Meskipun dalam KUHP tidak terdapat satu pasal pun yang memperbolehkan seorang dokter
melakukan abortus atas indikasi medik, sekalipun untuk menyelamatkan jiwa ibu, dalam
prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum bila ia dapat mengemukakan alasan yang
kuat dan alasan tersebut diterima oleh hakim (Pasal 48). Selain KUHP, abortus buatan yang
ilegal juga diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan:

PASAL 80

Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2),
dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling
banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

DAFTAR PUSTAKA
Apuranto, H dan Hoediyanto. 2006. Ilmu Kedokteran Forensik Dan Medikolegal. Surabaya: Bag.
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran UNAIR

Chadha, P. Vijay.1995.

Catatan kuliah ilmu forensic & toksikologi (Hand book of forensic medicine &
toxicology Medical jurisprudence). Jakarta: Widya Medika

Dewi, Made Heny Urmila. 1997.


Aborsi Pro dan Kontra di Kalangan Petugas Kesehatan. Jogjakarta: Pusat Penelitian
Kependudukan UGM

Prawirohardjo, Sarwono. 2002.

Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Pradono, Julianty et al.

Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997. Jurnal Epidemiologi


Indonesia. Volume 5 Edisi I-2001. hal. 14-19.

Safe Motherhood Newsletter.

Unsafe Abortion – A Worldwide Problem. Issue 28, 2000 (1).

Utomo, Budi et al.

Incidence and Social-Psychological Aspects of Abortion in Indonesia: A Community-


Based Survey in 10 Major Cities and 6 Districts, Year 2000. Jakarta: Center for Health
Research University of Indonesia, 2001.

World Health Organization.

Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of Incidence of and Mortality due to
Unsafe Abortion with a Listing of Available Country Data. Third Edition. Geneva:
Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO, 1998.

KUHP

UU Kesehatan

Peraturan Pemerintah
Pubertas
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Pubertas adalah masa ketika seorang anak mengalami perubahan fisik, psikis, dan pematangan
fungsi seksual. Masa pubertas dalam kehidupan kita biasanya dimulai saat berumur delapan
hingga sepuluh tahun dan berakhir lebih kurang di usia 15 hingga 16 tahun. Pada masa ini
memang pertumbuhan dan perkembangan berlangsung dengan cepat. Pada wanita pubertas
ditandai dengan menstruasi pertama (menarche), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan
mimpi basah.[1]. Kini, dikenal adanya pubertas dini pada remaja. Penyebab pubertas dini ialah
bahwa bahan kimia DDT sendiri, DDE, mempunyai efek yang mirip dengan hormon estrogen.
Hormon ini diketahui sangat berperan dalam mengatur perkembangan seks wanita[2].

Daftar isi
 1 Ciri pubertas
 2 Penyebab munculnya pubertas
 3 Penyebab perubahan pubertas[5]
 4 Catatan kaki
 5 Pranala luar

Ciri pubertas

1 Follicle-stimulating hormone - FSH


2 Luteinizing hormone - LH
3 Progesterone
4 Estrogen
5 Hypothalamus
6 Pituitary gland
7 Ovary
8 Pregnancy - hCG (Human chorionic gonadotropin)
9 Testosterone
10 Testicle
11 Incentives
12 Prolactin - PRL

Ketiak remaja laki-laki yang mulai menumbuhkan rambut ketiak

Seorang anak akan menunjukkan tanda-tanda awal dari pubertas, seperti suara yang mulai
berubah, tumbuhnya rambut-rambut pada daerah tertentu dan payudara membesar untuk seorang
gadis. Untuk seorang anak perempuan, tanda-tanda itu biasanya muncul pada usia 10 tahun ke
atas dan pada anak laki-laki, biasanya lebih lambat, yaitu pada usia 11 tahun ke atas[3].
Perubahan fisik yang terjadi pada masa pubertas bertanggung-jawab atas munculnya dorongan
seks. Pemuasan dorongan seks masih dipersulit dengan banyaknya tabu sosial, sekaligus juga
kekurangan pengetahuan yang benar tentang seksualitas. Namun sejak tahun 1960-an, aktivitas
seksual telah meningkat di antara remaja; studi akhir menunjukkan bahwa hampir 50 persen
remaja di bawah usia 15 dan 75 persen di bawah usia 19 melaporkan telah melakukan hubungan
seks[4].

Penyebab munculnya pubertas


Penyebab munculnya pubertas ini adalah hormon yang dipengaruhi oleh hipofisis (pusat dari
seluruh sistem kelenjar penghasil hormon tubuh). Berkat kerja hormon ini, remaja memasuki
masa pubertas sehingga mulai muncul ciri-ciri kelamin sekunder yang dapat membedakan antara
perempuan dan laki-laki. Dengan kata lain, pubertas terjadi karena tubuh mulai memproduksi
hormon-hormon seks sehingga alat reproduksi telah berfungsi dan tubuh mengalami perubahan.

Hormon seks yang memengaruhi perempuan adalah estrogen dan progesteron yang diproduksi di
indung telur, sedangkan pada laki-laki diproduksi oleh testis dan dinamakan testosteron.
Hormon-hormon tersebut ada di dalam darah dan memengaruhi alat-alat dalam tubuh sehingga
terjadilah beberapa pertumbuhan[1].

Penyebab perubahan pubertas[5]


1. Peran Kelenjar Pituitary – Kelenjar pituitary mengeluarkan dua hormon yaitu hormon
pertumbuhan yang berpengaruh dalam menentukan besarnya individu, dan hormon
gonadotrofik yang merangsang gonad untuk meningkatkan kegiatan. Sebelum masa
puber secara bertahap jumlah hormon gonadotrofik semakin bertambah dan kepekaan
gonad terhadap hormon gonadotrofik dan peningkatan kepekaan juga semakin
bertambah, dalam keadaan demikian perubahan-perubahan pada masa puber mulai
terjadi.
2. Peran Gonad- Dengan pertumbuhan dan perkembangan gonad, organ-organ seks yaitu
ciri-ciri seks primer : bertambah besar dan fungsinya menjadi matang, dan ciri-ciri seks
sekunder, seperti rambut kemaluan mulai berkembang.
3. Interaksi Kelenjar Pituitary dan Gonad – Hormon yang dikeluarkan oleh gonad, yang
telah dirangsang oleh hormon gonadotrofik yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary,
selanjutnya bereaksi terhadap kelenjar ini dan menyebabkan secara berangsur-angsur
penurunan jumlah hormon pertumbuhan yang dikeluarkan sehingga menghentikan proses
pertumbuhan, interaksi antara hormon gonadotrofik dan gonad berlangsung terus
sepanjang kehidupan reproduksi individu, dan lambat laun berkurang menjelang wanita
mendekati menopause dan pria mendekati climacteric.

Sistem Reproduksi Manusia


Posted on 23/09/2011 | 3 Comments

Reproduksi merupakan ciri utama makhluk hidup yang bertujuan untuk mempertahankan
kelestarian jenisnya. Reproduksi pada manusia diawali oleh peleburan sel kelamin jantan
(sperma) dengan sel kelamin betina (ovum) yang menghasilkan zigot. Berdasarkan kepemilikan
alat kelaminnya, manusia dikelompokkan menjadi organisme yang bersifat gonochoris (satu
individu memiliki satu alat kelamin).

Sistem reproduksi manusia, baik laki-laki maupun wanita, memiliki empat komponen utama
dalam sistem reproduksinya, yaitu:

1. Organ penghasil sel kelamin,

2. Saluran reproduksi,

3. Kelenjar tambahan, dan

4. Alat kopulasi (senggama)

1. Sistem Reproduksi Laki-laki

Sistem reproduksi laki-laki dirancang untuk menghasilkan, menyimpan dan mengirimkan


sperma. Sistem reproduksi laki-laki terdiri dari:

§ Alat kelamin luar : terdiri dari skrotum dan penis.


§ Alat kelamin dalam : terdiri atas testis, kelenjar aksesori dan tubulus.

Gambar Sistem Reproduksi Laki-Laki

a. Testis

Testis merupakan bagian alat kelamin yang berfungsi menghasilkan sperma dan hormon
testosteron. Di dalam testis terdapat beberapa bagian sebagai berikut.

1) Tubulus seminiferus : saluran berkelok-kelok tempat pembentukan sperma (terjadi


spermatogenesis).

2) Sel leydig (sel intestisial) : berfungsi menghasilkan hormon testosteron.

3) Tunica albicans : lapisan pembungkus testis, berupa lapisan fibrosa.

4) Sel sertoli : berfungsi untuk menyediakan makanan bagi sperma.

b. Skrotum

Merupakan sebuah kantung yang berfungsi untuk menjaga agar suhu testis di bawah suhu tubuh
atau tidak jauh di bawah suhu tubuh. Ketika udara di luar skrotum rendah, skrotum akan
mendekat pada tubuh (mengerut) supaya testis mendapat suhu lebih tinggi. Sebaliknya, jika suhu
normal, skrotum akan menjauhi tubuh supaya suhu testis tidak terlalu tinggi. Hal ini disebabkan
karena spermatogenesis tidak berlangsung baik pada suhu tubuh normal manusia ( ).

c. Vas deferens

Berfungsi menyalurkan sperma menuju uretra (saluran air seni yang juga sebagai saluran
ejakulasi sperma). Di bagian ujungnya terdapat ampula, yang merupakan pelebaran saluran ini,
fungsinya sebagai muara dari kantong semen (vesica seminalis).

d. Epididimis

Sebuah saluran berkelok-kelok yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan pematangan
sperma.

e. Uretra

Uretra merupakan saluran sperma. Uretra berfungsi membawa sperma ke luar tubuh.

f. Tubulus recti

Tempat bermuaranya saluran dari tubulus seminiferus.

g. Penis

Penis merupakan alat kopulasi. Kopulasi merupakan peristiwa masuknya penis ke dalam vagina
untuk melakukan reproduksi (menyalurkan sel sperma).

h. Kelenjar tambahan

1) Kantung semen (vesica seminalis)

Kantung penampung semen (pemberi nutrisi bagi sperma).

2) Kelenjar prostat

Menghasilkan cairan berwarna putih susu yang bersifat basa (cairan ini berfungsi untuk
melindungi sperma dari suasana asam yang membahayakan sperma saat berada di dalam vagina
sehingga sperma dapat bergerak aktif.

3) Kelenjar Cowper (Bolbouretra)

Berfungsi menghasilkan cairan pelicin (lendir) dan menambah cairan semen.

2. Sistem Reproduksi wanita


Sistem reproduksi wanita terdiri dari:

§ Alat kelamin luar (eksternal), meliputi klitoris, labia mayora dan labia minora, lubang saluran
kencing, lubang vagina, fundus (lipatan paha).

§ Alat kelamin dalam (internal), meliputi sepasang ovarium (gonad), tuba fallopi (oviduk), dan
uterus (rahim).

Gambar Sistem Reproduksi Wanita

a. Ovarium (indung telur)

Sepasang ovarium terdapat di rongga perut dan berfungsi menghasilkan sel telur (ovum) dan
hormon (estrogen dan progesteron). Proses pembentukan ovum di ovarium bersiklus selama 30
hari sekali dan disebut oogenesis,. Sel telur yang sudah matang akan dikeluarkan dari ovarium.
Peristiwa ini disebut ovulasi.

b. Tuba fallopi (oviduk)

Merupakan saluran telur yang berjumlah sepasang (kanan dan kiri) dengan panjang 12 cm.
Bentuknya mirip corong dan berfungsi untuk menangkap sel telur (ovum) serta menyalurkan
ovum ke arah rahim dengan gerakan peristaltik dan dibantu oleh gerakan silia yang terdapat di
dinding tuba fallopi. Pada saluran inilah terjadi pembuahan ovum oleh sperma.

c. Rahim (uterus)

Organ ini berbentuk seperti kantong dan berfungsi sebagai tempat implantasi embrio (ovum yang
dibuahi sperma akan menjadi embrio). Dinding rahim tersusun atas tiga lapis jaringan, yaitu
lapisan luar (serosa), lapisan tengah (myometrium) dan lapisan dalam (endometrium).
Pada saat ovulasi, dinding rahim menebal. Namun jika tidak terjadi pembuahan, maka dinding
rahim yang seharusnya menjadi tempat melekat (implan) embrio akan meluruh. Peristiwa ini
disebut menstruasi.

Aktivitas ovulasi dan menstruasi memiliki empat tahapan:

1) Tahap menstruasi; tahap dikeluarkannya dinding rahim dari dalam tubuh karena kurangnya
kadar hormon progesteron.

2) Tahap praovulasi ; masa pembentukan dan pematangan ovum dalam ovarium karena dipicu
oleh hormon estrogen.

3) Tahap ovulasi; Keluarnya sel telur dari ovarium.

4) Tahap pascaovulasi ; masa kemunduran sel telur jika tidak terjadi pembuahan. Tahap ini
terjadi penambahan junlah hormon progesteron sehingga dinding rahim menebal. Jika tidak
terjadi pembuahan maka dinding sel akan meluruh, disebabkan berkurangnya hormon
progesteron.

d. Vagina

Merupakan alat kopulasi wanita sekaligus jalan keluarnya janin dari dalam rahim ke dunia.
Selain sebagai organ kelamin, vagina juga berfungsi sebagai alat untuk mengeluarkan dinding
endometrium yang meluruh saat menstruasi.

3. Sperma dan Ovum

Sel sperma dan sel telur memiliki tahap pembentukan yang berbeda dengan sel tubuh. Sel
kelamin terbentuk melalui pembelahan meiosis. Selama pembelahan, setiap sel membelah dua
kali berturut-turut sehingga membentuk empat sel anakan. Satu spermatosit akan membentuk
empat sperma matang. Sedangkan pada sel telur, satu oosit akan membentuk satu ovum
fungsional yang ukurannya lebih besar dari tiga ovum disfungsional lainnya. Ukuran sel telur
jauh lebih besar dari sel sperma, oleh karena itu saat akan terjadi pembuahan ribuan sel sperma
berebut uuntuk bisa membuahi sebuah sel telur saja.
Gambar Sel Sperma yang Mencoba Menembus Dinding Sel Ovum

3.1 Proses pembentukan gamet

Proses pembentukan sperma disebut spermatogenesis dan pembentukan sel telur (ovum) disebut
oogenesis.

§ Spermatogenesis
Gambar Proses Spermatogenesis yang Berlangsung di Testis
IPA SPOT

Tahun 1694, ketika ilmu pengetahuan di Eropa masih sederhana, ilmuwan mengira bahwa
terdapat Homunculus di dalam kepala sperma laki-laki. Homunculus adalah miniatur bayi kecil
yang duduk meringkuk dan menunggu saat masuk ke rahim lalu tumbuh menjadi manusia.

Spermatogonium (sel induk sperma) ? spermatosit primer (diploid) ? mengalami meiosis I


menjadi 2 spermatosit sekunder (haploid)? mengalami meiosis II menjadi spermatid (haploid) ? 4
spermatozoa (sel sperma).

Spermatozoa mengalami pematangan di epididimis, masuk ke vas deferens bercampur dengan


produk kelenjar (dari vesikula seminalis, prostate, cowper) yang berfungsi menjaga kehidupan
sperma dan memberi suasana basa pada semen. Kemudian masuk ke uretra dan siap dikeluarkan.

§ Oogenesis
Gambar Proses Oogenesis yang Berlangsung di Ovarium (Indung Telur)

Oogonium (sel induk telur) ? oosit primer ? mengalami meiosis I? oosit sekunder dan sel
kutub/polar (polosit primer) ? oosit sekunder mengalami meiosis II menjadi ootid dan sel
polar/polosit primer membelah menjadi sel polosit sekunder ? Ootid berkembang menjadi 1 sel
telur (haploid) à hasil akhirnya terbentuk satu sel telur fungsional dan 3 polosit nonfungsional à
telur yang telah masak disalurkan melalui tuba fallopi melalui infundibulum. Pembuahan terjadi
di sepertiga bagian permulaan tuba fallopi atau oviduk.

Tahukah Anda?

BAYI TABUNG

Pada tahun 1969, R.G Edwards dari Inggris berhasil mengambil ovum manusia dari folikel
(sebelum ovulasi). Sel telur itu diambil untuk dimasukkan tabung dan diberi sperma sehingga
terjadi fertilisasi di tabung (in vitro). Ternyata zigot yang terbentuk dapat berkembang sampai
tahap blastula.

Tahun 1977, Edwards memindahkan blastula ke dalam rahim wanita sehingga blastula itu
tumbuh di rahim secara in vivo (tumbuh di dalam tubuh mahluk hidup). Maka tanggal 25 Juli
1978 lahirlah seorang bayi tabung perempuan yang menjadi bayi tabung pertama di dunia.

3.2 Fertilisasi dan Perkembangan Embrio

Fertilisasi merupakan peristiwa meleburnya gamet jantan (sperma) dengan gamet betina (ovum)
menghasilkan zigot. Pada peristiwa ini, sel telur hanya akan dibuahi oleh satu sel sperma.
Dengan fertilisasi, bersatu pula materi genetik pembawa sifat dari dua individu. Sifat induk
jantan akan berpadu dengan sifat induk betina. Zigot yang terbentuk akan berkembang menjadi
embrio.
Berikut ini adalah tahap-tahap perkembangan embrio.

a. Zigot: hasil peleburan sel kelamin jantan dengan betina.

b. Morula: kumpulan sel berbentuk bola yang merupakan hasil pembelahan sel secara terus
menerus dari zigot.

c. Blastula: kumpulan sel berbentuk bola yang berongga. Rongga ini disebut blastocoel dan
semula berisi cadangan makanan.

d. Gastrula: kumpulan sel yang terdiri dari tiga lapisan (ektoderm, mesoderm dan endoderm).
Ketiga lapisan ini terbentuk dari hasil migrasi (pengkutuban) sel-sel blastula.

e. Morfogenesis dan organogenesis: Tahap pembentukan organ dan morfologi tubuh.

Ketika embrio menempel (implantasi) ke rahim, akan terbentuk plasenta dan tiga sistem
membran yang terdiri dari :

a. Amnion: membungkus embrio dan menghasilkan cairan amnion yang berfungsi melindungi
embrio dari benturan.

b. Korion: lapisan tempat terjadinya pertukaran unsur makanan, limbah metabolisme, antibodi
antara ibu dan embrio.

c. Alantois: membran yang menghubungkan embrio dengan ibu, membran inilah yang kemudian
akan membentuk plasenta (tali pusar).

3.3. Hormon yang berperan dalam tahapan menstruasi


Gambar Siklus Menstruasi pada Wanita

a. Fase menstruasi: hormon yang berpengaruh adalah estrogen dan progresteron yang berfungsi
menebalkan endometrium. Saat menstruasi, hormon ini mengalami reduksi dan dinding
endometrium robek dan meluruh.

b. Fase praovulasi: hormon yang berperan adalah FSH dan LH yang merangsang sel-sel folikel
menghasilkan hormon estrogen dan progesteron.

c. Fase ovulasi: Hormon yang berperan adalah LH (Luthenizing Hormon).

d. Fase pascaovulasi: FSH (Folikel Stimulating Hormon).

Tahukah Anda?

Saat ini telah berhasil disuntikkan suntikan progestin pada pria. Efeknya adalah sperma menjadi
infertile (mandul), sehingga suntikan ini menjadi salah satu metode KB yang ditetapkan pada
kaum pria. Jika ingin kembali memiliki keturunan, maka suntikan dihentikan dan spermanya
menjadi fertil (subur) kembali.

3.4. Hormon kehamilan dan persalinan


a. Estrogen dan progesteron sampai bulan ke-4 untuk menjaga penebalan dinding uterus dan
menjaga kebutuhan zigot.

b. HCG, yang dihasilkan plasenta.

c. Hormon relaksin (dihasilkan plasenta) yang mempengaruhi fleksibilitas simfisis pubis (tulang
kelamin) dan organ lainnya untuk mempermudah kelahiran.

d. Oksitosin memacu kontraksi uterus untuk melepaskan janin.

3.5. Prinsip kontrasepsi dalam reproduksi

a. KB susuk, suntik dan pil, bekerja dengan menghambat atau menghentikan secara hormonal
terjadinya ovulasi dengan sintetik progestin dan estrogen.

b. Diafragma atau spiral (IUD) bagi perempuan untuk menghambat bertemunya spema dengan
ovum secara mekanik, bagi laki-laki menggunakan kondom.

c. Spermatisida, jeli, buih, atau vaginal doushe untuk mencegah bertemunya sperma dan sel telur
.

d. Sterilisasi, yaitu vasektomi pada laki-laki (pemotongan saluran sperma) dan tubektomi pada
perempuan (pemutusan saluran telur).

e. Kalender, yaitu hubungan kelamin dilakukan pada waktu hari-hari dimana wanita sedang tidak
dalam masa subur.

4. Penyakit Menular Seksual pada Organ Reproduksi

a. Penyakit Menular Seksual (PMS) yang diakibatkan oleh virus

1) AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) adalah penyakit berupa menurunnya


kekebalan tubuh pada penderitanya. Hal ini dikarenakan limfosit (penghasil antibodi)
dihancurkan oleh HIV (Human Immunideficiency Virus).

Cara penularan HIV melalui:

§ Hubungan seksual dengan penderita HIV/ AIDS.

§ Ibu yang menginfeksi janin yang dikandungnya atau lewat ASI.

§ Jarum suntik yang tidak steril dan digunakan secara bergantian (narkoba).

§ Transfusi darah yang tercemar virus HIV.


Gambar Gejala yang Muncul pada Penderita HIV/ AIDS

2) Herpes : diakibatkan oleh virus Herpes simplex. Gejalanya adalah pembengkakakan kelenjar
di lipatan paha, demam, nyeri serta munculnya bintil kemerahan di alat kelamin yang terasa perih
dan panas.

b. Penyakit Menular Seksual (PMS) yang diakibatkan oleh Jamur dan Protozoa

1) Kandidiasis : disebabkan oleh Candidia albicans. Gejalanya adalah keluarnya cairan


keputihan pada vagina, gatal, dan kemerahan di sekitar alat kelamin berbusa dan jika akut akan
mengeluarkan cairan berwarna kehijauan dengan bau busuk.

2) Trikomoniasis : disebabkan oleh protozoa Trychomonas vaginalis. Gejalanya adalah


keluarnya cairan keputihan pada vagina, gatal, dan jika parah akan mengeluarkan cairan
berwarna kehijauan dengan bau busuk.

c. PMS yang diakibatkan oleh Bakteri

Gambar Luka di Sekujur Tubuh Penderita Sipilis (1) dan Bakteri Treponema pallidum (2)
(1)

(2)

1) Sipilis : disebut juga Raja Singa. Penyebabnya adalah infeksi bakteri Treponema pallidum.
Gejalanya adalah munculnya luka di sekitar labia kemaluan atau leher rahim pada wanita,
sedangkan pada laki-laki muncul luka berdarah di sekeliling penis. Pada tahapan selanjutnya
dapat menyerang organ dalam seperti otak, jantung, pembuluh darah, sumsum tulang belakang
dan saraf dan dapat mengakibatkan kematian yang menyakitkan.

2) Gonorhoe : disebabkan oleh bakteri Nisseria gonorhoe. Gejala yang ditunjukkan pada laki-
laki dan perempuan berbeda. Pada laki-laki ditandai dengan munculnya rasa nyeri saat ereksi
atau buang air seni, kemudian diikuti kencing nanah terutama di pagi hari. Pada wanita ditandai
dengan nyeri di perut bagian bawah, nyeri pada kelamin, keputihan dan rasa perih menyengat
saat buang air kecil

3) Klamidiasis : Ditandai dengan pengeluaran darah pada alat kelamin dan gejalanya mirip
dengan Gonorhoe, namun penyebabnya adalah Chlamidia trachomatis.
MATERI

ABORSI?????????

ABORSI

Dewasa ini banyak perempuan hamil di luar nikah dan melakukan aborsi sebagai pertanda
degradasi moral. Dadang Hawari (2005) menyatakan bahwa kehamilan yang tidak di inginkan
bukan alasan untuk membunuh janin. Janin (bayi) adalah makhluk Allah swt., mengapa harus
dibunuh? Yang salah adalah penzinanya atau pemerkosanya bukan janinnya. Janin (bayi) juga
punya hak untuk hidup. Melegalkan aborsi bukan solusi untuk menekan AKI (Angka Kematian
Ibu). Jumlahnya malah akan bertambah, sebab ada kemungkinan pemilik janin (bayi) mengaku
diperkosa agar dapat di aborsi. Selanjutnya dikemukakan bahwa Dadang Hawari (2005)
menyangsikan aparat pemerintah mampu menjalankan amanat sesuai UU jika aborsi dilegalkan
(Media Indonesia, 28/8/2005).

Kondisi aborsi di Indonesia menyatakan bahwa aborsi diatur oleh :

1. UU No. 1 Tahun 1946, tentang Kitab-Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) : ”


dengan alasan apapun aborsi adalah tindakan aborsi melawan hukum”, sampai saat ini masih
diterapkan.

2. UU No. 7 Tahun 1984, tentang Pengesahan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk


Diskriminasi terhadap Perempuan.

3. UU No. 23 Tahun 1992, tentang kesehatan : “dalam kondisi tertentu bisa dilakukan
tindakan medis tertentu (aborsi)”, sampai saat ini masih diterapkan.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan sejahat-
jahatnya perjalanan (terkutuk)” (Q.S. Al Israa’, 17 : 33)

Pengertian Aborsi
Aborsi atau pengguguran kandungan adalah terminasi (penghentian) kehamilan yang disengaja
(abortus provocatus). Yakni, kehamilan yang di provokasi dengan berbagai macam cara
sehingga terjadi pengguguran. Sedangkan keguguran adalah kehamilan berhenti karena faktor-
faktor alamiah (abortus spontaneous).

Aborsi Menurut Agama Islam

“Apakah dosanya maka dia dibunuh ?” (Q.S. At Takwiir, 81 : 9).

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan, Kami-lah yang
member rezeki kepada mereka dan kepada kamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah
dosa besar” (Q.S. Al Israa’, 17 : 31).

Dari kedua ayat tersebut jelaslah bahwa membunuh anak termasuk bayi dalam kandungan
(aborsi) adalah perbuatan dosa besar. Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1983
menyatakan sebagai berikut :

“Pengguran kandungan (abortus) termasuk “menstrual regulation” (MR) dengan cara apapun
dilarang oleh jiwa dan semangat ajaran Islam, hukumnya haram, baik dikala janin sudah
bernyawa (di atas 4 bulan dalam kandungan) ataupun dikala janin belum bernyawa (belum
berumur 4 bulan dalam kandungan), kareena perbuatan itu termasuk pembunuhan terselubung
yang dilarang oleh syariat Islam, kecuali untuk menyelamatkan jiwa si ibu”.

Aborsi Yang Diperbolehkan

Penghentian kehamilan yang didasarkan pertimbangan medic, misalnya bila kehamilan itu
diteruskan dapat membahayakan keselamatan nyawa ibu yang bersangkutan. Atas pertimbangan
medic maka janin yang dikandungnya dapat digugurkan. Atau ibu ini mengidap suatu penyakit,
misalnya mengalami gangguan jiwa atau jantung. Apalagi ibu ini sedang meminum obat-obatan
yang dapat mengakibatkan gangguan perkembangan janin dalam kandungan.

Allah swt. Berfirman dalam surah Al Furqaan ayat 68, yang artinya sebagai berikut :
“Dan orang-orang yang tidak menyeru tuhan yang lain bersama Allah, dan tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan alasan yang benar, dan tidak
berzina. Dan barang siapa yang mengerjakan demikian, niscaya dia akan mendapat dosa” (Q.S.
Al Furqaan, 25 : 68).

Resiko Bagi Perempuan Yang Melakukan Aborsi

Statistik membuktikan :

- Pertama, kematian perempuan karena aborsi jauh lebih besar dari kematian Ibu karena
melahirkan (bersalin) secara normal.

- Kedua, perempuan yang melakukan aborsi berlatar belakang criminal biasanya banyak
pertimbangan. Antara lain karena hamil akibat hubungan yang tidak sah, lalu pacar atau
keluarganya mendesaknya untuk menggugurkan kandungan, karena malu menanggung aib.
Padahal perempuan yang bersangkutan sma sekali tidak menghendakinya. Akibat dirinya
menjadi serba salah dan pasrah.

- Ketiga, permpuan yang melakukan aborsi akan mengalami gangguan kejiwaan seperti
stress pasca trauma aborsi.

Solusi (Jalan Keluar)

Untuk mencegah semakin maraknya aborsi yang dilakukan baik oleh dukun maupun oleh dokter,
maka 7 butir solusi berikut ini dapat dipertimbangkan, yaitu :

1. Pendidikan agama sejak dini diberikan agar anak kelak bila memasuki masa remaja atau
dewasa muda memiliki pengetahuan bahwa perzinaan atau seks bebas atau hubungan seks diluar
nikah dilarang oleh agama, hukumnya haram dan melakukannya merupakan perbuatan dosa.

2. Dalam islam tidak dikenal istilah “pacaran” atau pergaulan bebas, namun yang ada adalah
sebatas perkenalan. Selama masa perkenalan inipun baik laki-laki maupun perempuan tidak
boleh “berduaan” ditempat yang sepi, sebab dikhawatirkan yang ketiganya adalah setan yang
menggoda dua insane tadi untuk berbuat perzinaan.

3. Bila terjadi juga “kecelakaan” (kehamilan di luar nikah) sebaiknya remaja yang
bersangkutan dinikahkan. Bila tidak mungkin, kehamilan dapat diteruskan hingga melahirkan
secara normal. Bayi dapat dirawat sendiri atau dirawat oleh orang lain (adopsi).

4. Orangtua dirumah (ayah dan ibu), orangtua disekolah (bapak dan Ibu guru) serta orang tua
di masyarakat (ulama, tokoh masyarakat, pejabat, aparat dan pengusaha) hendaknya menciptakan
tatanan kehidupan bermasyarakat yang religious, dan tidak memberikan peluang berupa sarana
dan prasarana yang dapat menjurus kepergaulan bebas (perzinaan), misalnya pornografi,
pornoaksi, dan NAZA.
5. Diperlukan penyuluhan kepada masyarakat terutama pada remaja tentang dampak buruk
aborsi akibat pergaulan bebas atau hubungan seks di luar nikah dari sudut pandang biologis,
psikologis, social dan spiritual (agama).

6. Kepada mereka yang melakukan tindakan penguguran (abortus criminalis) dikenakan


sanksi hokum yang berat sesuai dengan hukum perundang-undangan yang berlaku. Bagi
“korban” dianjurkan untuk bertobat minta ampunan kepada Allah swt dan berjanji tidak akan
mengulanginya lagi.

7. Organisasi profesi seperti IDI (Ikatan Dokter Indonesia) dan POGI (Perhimpunan Obstetri
Ginekologi Indonesia) hendaknya dapat menertibkan para anggotanya yang melakukan tindak
pengguguran (abortus criminalis).

Penyakit Menular Seksual

-
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui perilaku seksual, seperti
hubungan seksual, oral sex, dan anal sex.

Penyebab dari penyakit menular seksual ada bermacam-macam yaitu : bakteri (contoh: sifilis,
gonorrhea, Chlamydia), jamur (contoh : candidiasis), virus (contoh : HIV, herpes), dan parasit
(contoh : scabies).

Penularan beberapa penyakit menular seksual dapat melalui penggunaan jarum suntik setelah
sebelumnya digunakan oleh orang yang terinfeksi. Penyakit menular seksual juga dapat
diturunkan dari ibu ke bayinya dan juga melalui air susu ibu. Sebagian besar penyakit menular
seksual ditularkan melalui membran mukosa dari penis, vagina, rektum, saluran kemih, mulut,
saluran napas, dan mata. Beberapa penyakit juga dapat ditularkan melalui sentuhan kulit
langsung seperti herpes simplex. Semua perilaku seksual yang melibatkan kontak dengan cairan
tubuh harus dipikirkan memiliki risiko penularan penyakit menular seksual.

Pencegahan yang paling efektif untuk penularan penyakit menular seksual adalah dengan cara
mencegah kontak bagian tubuh atau cairan tubuh dari orang yang telah ter-infeksi. Perilaku
hubungan seksual yang aman sangat dianjurkan, seperti penggunaan kondom sebagai cara yang
paling dipercaya dapat menurunkan risiko penularan penyakit menular seksual. Perpindahan dan
paparan cairan tubuh seperti transfusi darah, jarum suntik bekas pakai, jarum tattoo bekas pakai
adalah beberapa cara penularan lainnya.

Tidak semua penyakit menular seksual menimbulkan gejala, dan biasanya gejala-gejala
tidak langsung timbul setelah ter-infeksi. Pada kasus yang tidak menimbulkan gejala akan
meningkatkan risiko penularan penyakit terhadap orang lain. Beberapa penyakit menular seksual
yang tidak diobati dapat berujung pada infertilitas, nyeri kronis, bahkan kematian. Identifikasi
dan pengobatan sedini mungkin dapat menurunkan angka penyebaran penyakit menular seksual.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN ABORTUS

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dewasa ini, terdapat beberapa macam kelainan dalam kehamilan, dan yang paling sering terjadi
adalah abortus. Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas, dimana masa gestasi
belum mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (liewollyn, 2002). Terdapat beberapa
macam abortus, yaitu abortus spontan, abortus buatan, dan abortus terapeutik. Abortus spontan terjadi
karena kualitas sel telur dan sel sperma yang kurang baik untuk berkembang menjadi sebuah janin.
Abortus buatan merupakan pengakhiran kehamilan dengan disengaja sebelum usia kandungan 28
minggu. Pengguguran kandungan buatan karena indikasi medik disebut abortus terapeutik
(Prawirohardjo, 2002).

Angka kejadian abortus, terutama abortus spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat
mencapai angka 50% jika diperhitungkan banyaknya wanita mengalami yang kehamilan dengan usia
sangat dini, terlambatnya menarche selama beberapa hari, sehingga seorang wanita tidak mengetahui
kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan demikian setiap tahun
terdapat 500.000 - 750.000 janin yang mengalami abortus spontan.

Abortus terjadi pada usia kehamilan kurang dari 8 minggu, janin dikeluarkan seluruhnya karena
villi koriales belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan 8–14 minggu villi koriales
menembus desidua secara mendalam, plasenta tidak dilepaskan sempurna sehingga banyak
perdarahan. Pada kehamilan diatas 14 minggu, setelah ketubah pecah janin yang telah mati akan
dikeluarkan dalam bentuk kantong amnion kosong dan kemudian plasenta (Prawirohardjo, 2002).

Menariknya pembahasan tentang abortus dikarenakan pemahaman di kalangan masyarakat


masih merupakan suatu tindakan yang masih dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, pandangan yang
ada di dalam masyarakat tidak boleh sama dengan pandangan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan,
dalam hal ini adalah perawat setelah membaca pokok bahasan ini.

Peran perawat dalam penanganan abortus dan mencegah terjadinya abortus adalah dengan
memberikan asuhan keperawatan yang tepat. Asuhan keperawatan yang tepat untuk klien harus
dilakukan untuk meminimalisir terjadinya komplikasi serius yang dapat terjadi seiring dengan kejadian
abortus.

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa dapat melakukan dan menerapkan asuhan keperawatan pada ibu dengan kejadian
Abortus sesuai dengan konsep teori asuhan keperawatan

2. Tujuan Khusus

a) Mengetahui dan memahami definisi abortus

b) Mengetahui dan memahami jenis – jenis abortus beserta tanda dan gejalanya.

c) Mengetahui dan memahami epidemiologi dari abortus

d) Mengetahui dan memahami etiologi dan web of causation abortus

e) Mengetahui dan memahami komplikasi dari abortus

f) Mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari abortus


g) Mampu menyusun dan melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan abortus.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Abortus adalah pengeluaran atau ekstraksi janin atau embrio yang berbobot 500 gram atau
kurang, dari ibunya yang kira – kira berumur 20 sampai 22 minggu kehamilan (Moore, 2001).

Abortus adalah keluarnya janin sebelum mencapai viabilitas. Dimana masa gestasi belum
mencapai usia 22 minggu dan beratnya kurang dari 500gr (Liewollyn, 2002).

B. Epidemiologi

Frekuensi Abortus sukar ditentukan karena Abortus buatan banyak tidak dilaporkan, kecuali
apabila terjadi komplikasi. Abortus spontan kadang-kadang hanya disertai gejala dan tanda ringan,
sehingga pertolongan medik tidak diperlukan dan kejadian ini dianggap sebagai terlambat haid.
Diperkirakan frekuensi Abortus spontan berkisar 10-15%. Frekuensi ini dapat mencapai angka 50% bila
diperhitungkan wanita yang hamil sangat dini, terlambat haid beberapa hari, sehingga seorang wanita
tidak mengetahui kehamilannya. Di Indonesia, diperkirakan ada 5 juta kehamilan per-tahun, dengan
demikian setiap tahun 500.000-750.000 abortus spontan.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) diperkirakan 4,2 juta Abortus dilakukan setiap tahun di
Asia Tenggara, dengan perincian :

1. 1,3 juta dilakukan di Vietnam dan Singapura

2. antara 750.000 sampai 1,5 juta di Indonesia

3. antara 155.000 sampai 750.000 di Filipina


4. antara 300.000 sampai 900.000 di Thailand

Di perkotaan Abortus dilakukan 24-57% oleh dokter,16-28% oleh bidan/ perawat, 19-25% oleh
dukun dan 18-24% dilakukan sendiri. Sedangkan di pedesaan Abortus dilakukan 13-26% oleh dokter, 18-
26% oleh bidan/perawat, 31-47% oleh dukun dan 17-22% dilakukan sendiri.

Cara Abortus yang dilakukan oleh dokter dan bidan/perawat adalah berturut-turut: kuret isap
(91%), dilatasi dan kuretase (30%) sertas prostaglandin / suntikan (4%). Abortus yang dilakukan sendiri
atau dukun memakai obat/hormon (8%), jamu/obat tradisional (33%), alat lain (17%) dan pemijatan
(79%).

Data dan lapangan menunjukkan bahwa ternyata sekitar 70-80% wanita yang meminta tindakan
aborsi legal ternyata dalam status menikah, karena tidak menginginkan kehamilannya. Sisanya antara
lain dan kalangan remaja puteri, yang walaupun lebih sedikit namun menunjukkan kecenderungan
meningkat, terutama di kota besar atau di daerah tertentu seperti di Sulawesi Utara dan Bali. Bila
ditinjaulebih lanjut, penyebab kehamilan yang tidak diinginkan antara lain meliputi kegagalan KB, alasan
ekonomi, kehamilan di luar nikah atau kehamilan akibat perkosaan dan insest.

Abortus terkomplikasi berkontribusi terhadap kematian ibu sekitar 15%. Data tersebut seringkali
tersembunyi di balik data kematian ibu akibat perdarahan atau sepsis. Data lapangan menunjukkan
bahwa sekitar 60-70% kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, dan sekitar 60% kematian akibat
perdarahan tersebut, atau sekitar 35-40% dan seluruh kematian ibu, disebabkan oleh perdarahan
postpartum. Sekitar15-20% kematian ibu disebabkan oleh sepsis. Manajemen aktif kala III dalam
persalinan normal dikatakan dapat mencegah sekitar 50% perdarahan postpartum,atau sekitar 17-20%
kematian ibu. Dengan demikian, paket intervensi berupa pelayanan paska keguguran dan pertolongan
persalinan yang bersih dengan manajemen aktif kala III dapat berkontribusi dalam mencegah kematian
ibu sampai sekitar 50%.

C. Klasifikasi Abortus :

1. Abortus spontanea

Abortus spontanea adalah abortus yang terjadi tanpa tindakan atau terjadi dengan sendirinya.
Aborsi ini sebagian besar terjadi pada gestasi bulan kedua dan ketiga. Abortus spontan terdiri dari
beberapa jenis yaitu:
a. Abortus Imminens

Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum
20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.

Gejala-gejala abortus imminens antara lalin :

1) perdarahan pervagina pada paruh pertama kehamilan. Perdarahan biasanya terjadi beberapa jam
sampai beberapa hari. Kadang-kadang terjadi perdarahan ringan selama beberapa minggu.

2) nyeri kram perut. Nyeri di anterior dan jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah
yang menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul di garis
tengah suprapubis.

Untuk pemeriksaan penunjang abortus imminen digunakan Sonografi vagina, pemeriksaan


kuantitatif serial kadar gonadotropin korionik (HCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang
diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan apakah terdapat janin hidup
intrauterus. Selain itu, juga digunakan tekhnik pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam
dalam mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup.

Jika konseptus meninggal, uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang keluar harus
diperiksa untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali apabila janin dan plasenta dapat
didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan kuretase. Ultrasonografi abdomen atau probe vagina
dapat membantu dalam proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus terdapat
jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan dilakukan kuretase. Penanganan abortus imminens
meliputi :

1) Istirahat baring.

Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena cara ini menyebabkan
bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.

2) Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat progestasional sintetik peroral atau
secara intramuskular. Walaupun bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti.

3) Pemeriksaan ultrasonografi

b. Abortus Insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu
dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus.

Gejala-gejala abortus insipiens adalah:

1) rasa mules lebih sering dan kuat

2) perdarahan lebih banyak dari abortus imminens.

3) Nyeri karena kontraksi rahim kuat yang dapat menyebabkan pembukaan.

Pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan cunam ovum,
disusul dengan kerokan. Penanganan Abortus Insipiens meliputi :

1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan aspirasi vakum manual.

Jika evaluasi tidak dapat dilakukan, maka segera lakukan :

a) Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah 15 menit bila perlu) atau misoprostol
400 mcg per oral (dapat diulang sesudah 4 jam bila perlu).

b) Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari uterus.

2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :

a) Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa hasil konsepsi.

b) Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau larutan
ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil konsepsi.

c) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan

c. Abortus Inkompletus

Abortus Inkompletus merupakan pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum
20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian)
tertahan di uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda utama abortus
inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga
menyebabkan hipovolemia berat. Gejala-gejala yang terpenting adalah:
1) Setelah terjadi abortus dengan pengeluaran jaringan, perdarahan berlangsung terus.

2) Servux sering tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap corpus allienum,
maka uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan kontraksi. Tetapi setelah dibiarkan lama, cervix
akan menutup.

Penanganan abortus inkomplit :

1) Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi dapat dilakukan
secara digital atau dengan cunam ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler atau misoprostol 400 mcg per oral.

2) Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang 16 minggu, evaluasi hasil
konsepsi dengan :

a) Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam
sebaiknya hanya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia.

b) Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg intramuskuler (diulang setelah 15
menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila perlu).

3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:

a) Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena (garam fisiologik atau ringer laktat) dengan
kecepatan 40 tetes permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi

b) Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi
(maksimal 800 mcg)

c) Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

d) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.

d. Abortus kompletus

Pada jenis abortus ini, semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan. Pada penderita ditemukan
perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat
dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar
dengan lengkap.
Klien dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan khusus, hanya apabila penderita
anemia perlu diberikan tablet sulfas ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu
diberikan transfusi darah.

2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat)

Abortus provokatus adalah peristiwa menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di
luar tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan apabila kehamilan
belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badan bayi belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus
bahwa bayi dibawah 1000 gram dapat terus hidup.

a. Missed abortion

Kematian janin berusia sebelum 20 minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan
selama 8 minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone
progesterone. Pemakaian Hormone progesterone pada abortus imminens mungkin juga dapat
menyebabkan missed abortion.

Gejala missed abortion adalah :

1) Tanda-tanda abortus imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau setelah pengobatan.

2) Gejala subyektif kehamilan menghilang,

3) Mamma agak mengendor lagi,

4) Uterus tidak membesar lagi malah mengecil,

5) Tes kehamilan menjadi negatif

6) Gejala-gejala lain yang penting tidak ada, hanya amenorhoe berlangsung terus.

Dengan ultrasonografi dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya sesuai
dengan usia kehamilan. Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai oleh
gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini perlu
dilakukan. Tindakan pengeluaran janin, tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah kadar fibrinogen
dalam darah sudah mulai turun. Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari 1
bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu diperhatikan karena tidak jarang wanita
yang bersangkutan merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati, dan ingin supaya
janin secepatnya dikeluarkan.

Sekarang kecenderungan untuk menyelesaikan missed abortus dengan oxitocin dan antibiotic.
Setelah kematian janin dapat dipastikan

b. Abortus Habitualis

Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih berturut turut. Pada
umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil, tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu.

D. Etiologi

Sebab-sebab abortus tersebut antara lain:

1. Etiologi dari keadaan patologis

Abortus spontan terjadi dengan sendiri atau yang disebut dengan keguguran.Prosentase
abortus ini 20% dari semuajenis abortus. Sebab-sebab abortus spontan yaitu :

a. Faktor Janin

Perkembangan zigot abnormal. Kondisi ini menyebabkan kelainan pertumbuhan yang


sedemikian rupa sehingga janin tidak mungkin hidup terus. Abortus spontan yang disebabkan oleh
karena kelainan dari ovum berkurang kemungkinannya kalau kehamilan sudah lebih dari satu bulan,
artinya makin muda kehamilan saat terjadinya abortus makin besar kemungkinan disebabkan oleh
kelainan ovum. Beberapa sebab abortus adalah :

1) Kelainan kromosom

Pada umumnya kelainan kromosom yang terbanyak mempengaruhi terjadinya aborsi adalah
Trisomi dan Monosomi X. Trisomi autosom terjadi pada abortus trisemester pertama yang disebabkan
oleh nondisjuntion atau inversi kromosom. Sedangkan pada monosomi X (45, X) merupakan kelainan
kromosom tersering dan memungkinkan lahirnya bayi perempuan hidup (sindrom Turner).

2) Mutasi atau faktor poligenik


Dari kelainan janin ini dapat dibedakan dua jenis aborsi, yaitu aborsi aneuploid dan aborsi
euploid. Aborsi aneuploid terjadi karena adanya kelainan kromosom baik kelainan struktural kromosom
atau pun komposisi kromosom. Sedangkan pada abortus euploid, pada umumnyanya tidak diketahuai
penyebabnya. Namun faktor pendukung aborsi mungkin disebabkan oleh : kelainan genetik, faktor ibu,
dan beberapa faktor ayah serta kondisi lingkungan. (Williams,2006)

b. Faktort ibu

Berbagai penyakit ibu dapat menimbulkan abortus misalnya :

1) Infeksi yang terdiri dari :

a) Infeksi akut

 Virus, misalnya cacar, rubella, dan hepatitis.

 Infeksi bakteri, misalnya streptokokus.

 Parasit, misalnya malaria.

b) 2 Infeksi kronis

 Sifilis, biasanya menyebabkan abortus pada trimester kedua.

 Tuberkulosis paru aktif.

2) Keracunan, misalnya keracunan tembaga, timah, air raksa, dll.

3) Penyakit kronis, misalnya :

a) hipertensi  jarang menyebabkan abortus di bawah 80 minggu,

b) nephritis

c) diabetes  angka abortus dan malformasi congenital meningkat pada wanita dengan diabetes. Resiko
ini berkaitan dengan derajat control metabolic pada trisemester pertama.

d) anemia berat

e) penyakit jantung
f) toxemia gravidarum yang berat dapat menyebabkan gangguan sirkulasi pada plasenta

4) Trauma, misalnya laparatomi atau kecelakaan dapat menimbulkan abortus

5) Kelainan alat kandungan hipolansia, tumor uterus, serviks yang pendek, retro flexio utero incarcereta,
kelainan endometriala, selama ini dapat menimbulkan abortus.

6) Hubungan seksual yang berlebihan sewaktu hamil, sehingga menyebabkan hiperemia dan abortus

7) Uterus terlalu cepat meregang (kehamilan ganda,mola)

c. Pemakainan obat dan faktor lingkungan

1) Tembakau

merokok dapat meningkatkan resiko abortus euploid. Wanita yang merokok lebih dari 14 batang
per hari memiliki resiko 2 kali lipat dobandingkan wanita yang tidak merokok.

2) Alkohol

abortus spontan dapat terjadi akibat sering mengkonsumsi alkohol selama 8 minggu pertama
kehamilan.

3) Kafein

konsumsi kopi dalam jumlah lebih daari empat cangkir per hari tampak sedikit meningkatkan
abortus spontan

4) Radiasi

5) Kontrasepsi

alat kontrasepsi dalam rahim berkaitan dengan peningkatan insiden abortus septik setelah
kegagalan kontasepsi.

6) Toxin lingkungan

pada sebagian besar kasus, tidak banyak informasi yang menunjukkan bahan tertentu di
lingkungan sebagai penyebab. Namun terdapat buktibahwa arsen, timbal, formaldehida, benzena dan
etilen oksida dapat menyebabkan abortus (barlow, 1982)
d. Faktor Imunologis

1) Autoimun

2) Alloimun

e. Faktor ayah

Translokasi kromosom pada sperma dapat mnyebabkan abortus.(william,2006)

2. Etiologi non-patologis misalnya : aborsi karena permintaan wanita yang bersangkutan

E. Patofisiologi

Patofisiologi abortus dimulai dari perdarahan pada desidua yang menyebabkan necrose dari
jaringan sekitarnya. Selanjutnya sebagian / seluruh janin akan terlepas dari dinding rahim. Keadaan ini
merupakan benda asing bagi rahim, sehingga merangsang kontraksi rahim untuk terjadi eksplusi
seringkali fatus tak tampak dan ini disebut “Bligrted Ovum”.

Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti dengan nerkrosis jaringan sekitar
yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut.

Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi korialis belum menembus desidua secara dalam jadi
hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah
lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada
kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar
dalam bentuk seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes
ovum),janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau fetus
papiraseus.

F. Pemeriksaan ginekologi :

1. Inspeksi Vulva

Perdarahan pervaginam ada atau tidak jaringan hasil konsepsi, tercium bau busuk dari vulva.
2. Inspekulo

Perdarahan dari cavum uteri, osteum uteri terbuka atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan
keluar dari ostium, ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.

3. Colok vagina

Porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak jaringan dalam cavum uteri, besar
uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio digoyang, tidak nyeri pada
perabaan adneksa, cavum douglas tidak menonjol dan tidak nyeri.

G. Komplikasi

1. Perdarahan (haemorrogrie)

2. Perforasi

3. Infeksi dan tetanus

4. Payah ginjal akut

5. Syok, yang disebabkan oleh syok hemoreagrie (perdarahan yang banyak) dan syok septik atau
endoseptik (infeksi berat atau septis)

6. Pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah

H. Pemeriksaan penunjang

1. Tes Kehamilan

Positif bila janin masih hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus

2. Pemeriksaaan Doppler atau USG untuk menentukan apakah janin masih hidup

3. Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion

I. Penatalaksanaan Abortus

Teknik aborsi dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

1. Teknik bedah
a. Kuretose / dilatasi

Kurotase ( kerokan ) adalah cara menimbulkan hasil konsepsi memakai alat kuretase (sendok
kerokan) sebelum melakukan kuratase, penolong harus melakukan pemeriksaan dalam untuk
menentukan letak uterus, keadaan serviks. Mengan isi uterus dengan mengerok isinya disebut kuretase
tajam sedangang mengosongkan uterus dengan vakum disebut kuretase isap .

b. Aspirasi haid

Aspirasi rongga endometrium menggunakan sebuah kanula karman 5 atau 6 mm fleksibel dan
tabung suntik, dalam 1 sampai 3 minggu setelah keterlambatan haid disebut juga induksi haid, haid
instan dan mini abortus.

c. Laporotomi

Pada beberapa kasus, histerotomi atau histerektomi abdomen untuk abortus lebih disukai
daripada kuretase atau induksi medis. Apabila ada penyakit yang cukup significanpada uterus,
histerektomi mungkin merupakan terpa ideal.

2. Teknik medis

a. Oksitosin

b. Prostaglandin

c. Urea hiperosomik

d. Larutan hiperostomik intraamnion.


J. WOC ABORTUS
BAB 3

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. Pengkajian

1. Identitas klien

Meliputi nama, usia, alamat, agama ,bahasa, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
golongan darah, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosa medis. Ibu hamil pada usia kurang dari 20
tahun atau lebih dari 35 tahun rentang terjadi aborsi pada kandungannya. Pendidikan dan pekerjaan
yang semakin berat akan meningkatkan resiko aborsi.

2. Keluhan utama

Dalam kasus abortus masalah yang banyak dikeluhkan pasien pada umumnya adalah rasa nyeri
pada bagian abdomen. Tingkat nyeri yang dirasakan dapat menunjukkan jenis aborsi yang terjadi.

3. Riwayat kesehatan

Riwayat kesehatan yang dimonitor adalah riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan
dahulu(faktor pendukung terjadinya aborsi misalnya mioma uteri) dan keluarga(faktor genetik), riwayat
pembedahan ( seksio sesaria atau tidak), riwayat penyakit yang pernah dialami(misal : hipertensi, DM,
typhoid, dll), riwayat kesehatan reproduksi, riwayat seksual, riwayat pemakaian obat(misalnya : obat
jantung), pola aktivitas sehari – hari.

4. Pemeriksaan fisik

a. B1 (Breath)

1) RR= 18 x/menit

2) Tidak ada suara nafas tambahan

3) Tidak menggunakan alat bantu pernafasan

b. B2 (Blood)

1) Tekanan darah : 60/40 mmHg

2) Nadi : 50x/menit

3) Suhu : 39o C

4) Hb : 5 gr/Dl
5) Leukosit : 15.000

6) Akral dingin

7) CRT > 2 detik

c. B3 (Brain)

- Stupor, tidak mengalami gangguan tidur


a. B4 (Bladder) : -
b. B5 (Bowel)
- Nyeri di daerah perut
- Penurunan nafsu makan
- Frekuensi BAB 1 x/hari, berbau khas, konsistensi padat
c. B6 (Bone)
- Turgor kulit baik
- Pergerakan dalam batas normal
d. Psikologis
- Ansietas
e. Sosial
Hubungan dengan suami dan keluarga : baik
3.3.1. Pemeriksaan laboratorium
a. darah : leukosit naik 15.000
Hb : 5 gr/dL
B. Analisis Data

NO DATA ETIOLOGI PROBLEM

1 S :- Perdarahan Resiko syok hemorrhagic

O:

 Suhu pasien biasanya ≥ 39o, hb 5


gr/dl hipovolemik

 Pasien biasanya mengeluarkan


banyak darah
 Biasanya darah yang keluar + 1 syok
liter

2 S: Gangguan aktivitas
Perdarahan
 Biasanya pasien merasa lemas

O:

 Biasanya nadi lemah (50 x/menit) Anemia


dan pasien terlihat pucat

Kelemahan

Gangguan aktivitas

3 S: Gangguan rasa nyaman :


Keguguran janin nyeri
 Biasanya pasien mengeluh nyeri di
perut dan pasien merintih
kesakitan
Rangsangan pada uterus
O:

P = Aborsi
Prostaglandin
Q = Severe pain

R = Abdomen

S = (skala ± 8) Dilatasi serviks

T = Current

Nyeri
4 S:- Resiko Tinggi infeksi
Keguguran janin
O:

 Leukosit klien biasanya 15.000,

 Suhu 39oC Lepasnya buah kehamilan


dari implantasinya

Terputusnya pembuluh darah


ibu

Perdarahan

Resiko terjadi infeksi

5 S: Cemas
Keguguran janin
 px biasanya mengatakan
ketakutan tidak bisa memberi
keturunan
Terganggunya psikologis ibu
O:

 px akan terlihat gelisah dan


akralnya dingin Kecemasan

C. Diagnosa Keperawatan

1. Resiko syok hemorrhagic b.d perdarahan

2. Gangguan aktivitas b.d kelemahan, penurunan sirkulasi

3. Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d kerusakan jaringan intrauteri


4. Resiko tinggi infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab

5. Cemas b.d kurang pengetahuan


D. Rencana Asuhan Keperawatan

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi

1 Resiko syok hemorrhagic b.d Tidak terjadi devisit Mandiri :


Perdarahan volume cairan, seimbang
1. Cek Airway, Breathing, and Circulation 1. Sebagai
antara intake dan
output baik jumlah syok
2. Penderita dibaringkan dalam posisi
maupun kualitas trendelenburg, yaitu posisi telentang biasa
2. Mencegah
dengan kaki sedikit tinggi 30 derajat auto trans

3. Monitor kondisi TTV tiap 2 jam

3. Pengeluar
abortus m
4. Monitor input dan output cairan
4. Jumlah ca
harian dit
hilang per

Kolaborasi :

1. Berikan sejumlah cairan pengganti 1. Tranfusi


harian(NaCl 0.9%, RL, Dekstran), plasma perdaraha
dan transfusi darah

2. Evaluasi status hemodinamika

2. Penilaian
2. Setelah kebebasan jalan nafas terjamin pemeriksa
untuk meningkatkan oksigenasi dapat
3. Untuk men
diberi oksigen 100% kira- kira 5 liter pm
melalui jalan nafas dan bila perlu penderita
diberi cairan bikarbonat natricus

2 Gangguan Aktivitas b.d Klien dapat melakukan Mandiri :


kelemahan, penurunan aktivitas tanpa adanya
sirkulasi komplikasi 1. pantau tingkat kemampuan klien untuk
1. Mungkin
beraktivitas berarti,
diwaspada
buruk.

2. Aktivitas m
dan pulsas

3. Mengistira
2. Monitor pengaruh aktivitas terhadap
kondisi uterus/kandungan

3. Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan


4. Mengopt
aktivitas sehari-hari imminens,

4. Bantu klien untuk melakukan tindakan 5. Menilai ko


sesuai dengan kemampuan / kondisi klien

5. Evaluasi perkembangan kemampuan klien


melakukan aktivitas

3 Gangguan rasa nyaman : Klien dapat beradaptasi Mandiri :


Nyeri b.d Kerusakan dengan nyeri yang
jaringan intrauteri dialami 1. Monitor kondisi nyeri yang dialami klien 1. Pengukura
dengan sk

Edukasi:
2. Meningka
2. Terangkan nyeri yang diderita klien dan
guidance m
penyebabnya

Kolaborasi :
3. Mengura
3. Kolaborasi pemberian analgetika dilakukan
maupun si

4 Resiko tinggi Infeksi b.d Tidak terjadi infeksi Mandiri :


perdarahan, kondisi vulva selama perawatan
1. Monitor kondisi keluaran atau dischart
1. Perubahan
lembab perdarahan
yang keluar; jumlah, warna, dan bau setiap saa
lebih gela
merupaka

2. Inkubasi k
cepat dapa
2. Lakukan perawatan vulva 1. Infeksi
kebersihan

2. Berbagai m
Edukasi: nonspesifi
1. Terangkan pada klien pentingnya rasa nyeri
perawatan vulva selama masa perdarahan3. Pengertian

2. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi untuk keb


tanda infeksi perdaraha
reproduks
resiko infe

1. Berbagai
dischart
3. Anjurkan pada suami untuk tidak
melakukan hubungan senggama selama
masa perdarahan

Kolaborasi:

1. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart

5 Cemas b.d kurang Tidak terjadi kecemasan, Mandiri :


pengetahuan pengetahuan klien dan
1. Monitor tingkat pengetahuan/ persepsi 1. Ketidaktah
keluarga terhadap
penyakit meningkat klien dan keluarga terhadap penyakit. rasa cema

2. Monitor derajat kecemasan yang dialami


klien.
2. Kecemasa
penurunan
penyakit.

3. Kelibatan
3. Bantu klien mengidentifikasi penyebab
kecemasan keperawat
berguna b
diri klien.

4. Peningka
berkontibu

4. Asistensi klien menentukan tujuan


perawatan bersama. 1. Konseling
untuk m
membang
Edukasi : menguran

1. Terangkan hal-hal seputar aborsi yang


perlu diketahui oleh klien dan keluarga
Penyakit Menular Lewat Hubungan Seksual (PMS)

Dikirim pada 24 April 2009 di Pengetahuan

0 Comments and 0 Reactions

Penyakit menular seksual adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang
lain melalui hubungan seksual.

Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti
pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini
dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada
bayi yang baru lahir bahkan kematian.

Tanda dan gejala PMS

Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di luar tubuh, gejala PMS lebih mudah
dikenali, dilihat dan dirasakan. Tanda-tanda PMS pada laki-laki antara lain:

1. berupa bintil-bintil berisi cairan,

2. lecet atau borok pada penis/alat kelamin,

3. luka tidak sakit;

4. keras dan berwarna merah pada alat kelamin,

5. adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam,

6. rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin,

7. rasa sakit yang hebat pada saat kencing,

8. kencing nanah atau darah yang berbau busuk,

9. bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok.

Pada perempuan sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari. Jika ada gejala,
biasanya berupa antara lain:

1. rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual,

2. rasa nyeri pada perut bagian bawah,


3. pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin,

4. keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat
kelamin atau sekitarnya,

5. keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal,

6. timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual,

7. bintil-bintil berisi cairan,

8. lecet atau borok pada alat kelamin.

Cara menghindarkan diri dari PMS

Bagi remaja yang belum menikah, cara yang paling ampuh adalah tidak melakukan hubungan
seksual, saling setia bagi pasangan yang sudah menikah, hindari hubungan seksual yang tidak
aman atau berisiko, selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan PMS, selalu
menjaga kebersihan alat kelamin. Jenis-jenis PMS. Ada banyak macam penyakit yang bisa
digolongkan sebagai PMS. Di Indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah gonore (GO),
sifilis (raja singa), herpes kelamin, klamidia, trikomoniasis, kandidiasis vagina, kutil kelamin.

Pengobatan PMS

Kebanyakan PMS dapat diobati, namun ada beberapa yang tidak bisa diobati secara tuntas
seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin.

Jika kita terkena PMS, satu-stunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan. Jangan
mengobati diri sendiri. Selain itu, pasangan kita juga harus diobati agar tidak saling menularkan
kembali penyakit tersebut. Mitos-mitos seputar PMS. Perlu diketahui bahwa PMS tidak dapat
dicegah hanya dengan memilih pasangan yang kelihatan bersih penampilannya, mencuci alat
kelamin setelah berhubungan seksual, minum jamu-jamuan, minum antibiotik sebelum dan
sesudah berhubungan seks.

Sifilis

Sifilis adalah suatu penyakit kelamin yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum,
bentuknya sangat kecil. Bakteri tersebut umumnya hidup di mukosa (saluran) genetalia, rektum,
dan mulut yang hangat dan basah. Bakteri penyebab sifilis dapat ditularkan dari satu orang ke
orang yang lain melalui hubungan genito-genital (kelamin-kelamin) maupun oro-genital (seks
oral). Sifilis tidak ditularkan tanpa hubungan seksual, apalagi melalui benda mati seperti
misalnya bangku, tempat duduk toilet, handuk, gelas, atau benda-benda lain yang bekas
digunakan atau dipakai oleh pengindap. Sifilis merupakan penyakit kronis yang berkembang
lewat beberapa stadium. Gambaran klinis:
1. Sifilis primer, tanda klinis yang pertama muncul adalah tukak, dapat terjadi di mana saja di
daerah genitalia eksterna, 3 minggu setelah kontak. Lesi dapat khas, akan tetapi dapat juga tidak
khas. Jumlah tukak biasanya hanya satu, meskipun dapat juga multipel. Lesi awal biasanya
berupa papul yang mengalami erosi, teraba keras karena terdapat indurasi.

Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi.

2. Sifilis sekunder, berupa berbagai ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh. Dapat
disertai demam, malaise. Juga adanya kelainan kulit dan selaput lendir dapat diduga sifilis
sekunder.

3. Sifilis laten merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis, akan tetapi pemeriksaan serologis
reaktif. Dalam perjalanan penyakit sifilis selalu melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau
seumur hidup. Diagnosis sifilis laten ditegakkan setelah diperoleh anamnesis yang jelas, hasil
pemeriksaan fisik yang menunjukkan adanya kelainan yang awal mulanya di sebabkan oleh
sifilis.

4. Sifilis lanjut berupa endorteritis obliterans pada bagian ujung arteriol dan pembuluh darah
kecil yang menyebabkan peradangan dan nekrosis.

Trikomoniasis

Trikomoniasis merupakan penyakit infeksi protozoa yang disebabkan oleh Trichomonas


vaginalis, biasanya ditularkan melalui hubungan seksual dan sering menyerang saluran kencing
bagian bawah pada wanita. Masa tunas Trichomonas vaginalis sulit untuk dipastikan, tetapi
diperkirakan berkisar antara 3 sampai 28 hari. Pada wanita sering tidak menunjukkan keluhan
maupun gejala sama sekali. Bila ada keluhan biasanya berupa lendir vagina yang banyak dan
berbau. Lendir vagina yang klasik berwarna kehijauan dan berbusa, biasanya hanya ditemukan
pada 10 - 30% penderita. Lendir vagina sering menimbulkan rasa gatal dan perih pada vulva
serta kulit sekitarnya. Keluhan lain yang mungkin terjadi adalah pendarahan setelah melakukan
hubungan kelamin dan perdarahan diantara menstruasi. Pada pemeriksaan penderita dengan
gejala vaginitis akut, tampak edema dan eritema pada labium yang terasa nyeri, sedangkan pada
vulva dan paha bagian atas kadang-kadang ditemukan abses-abses kecil dan maserasi yang
disebabkan oleh fermen proteolitik dalam tubuh.

Kandidiasis

Kandidiasis adalah infeksi saluran kelamin yang disebabkan oleh Candida albicans dan ragi
(Yeast) lain dari genus kandida. Infeksi biasanya bersifat local. Selain pada vulva atau vagina,
juga pada hidung, mulut, tenggorok, usus, dan kulit. Candida adalah mikroorganisme oportunis,
dapat dijumpai di seluruh badan, terutama dalam mulut, kolon, kuku, vagina, dan saluran
anorektal.
Gejala yang biasanya muncul pada kandidosis adalah keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan
keputihan yang tidak berbau.

Pada pemeriksaan terdapat vulvitis, dengan eritema dan edema vulva, fisura perineal,
pseudomembran dan lesi satelit papulopustular disekitarnya. Gejala khas adalah rasa gatal atau
iritasi disertai keputihan tidak berbau, atau berbau asam (masam).

Keputihan biasa banyak, putih keju atau seperti kepala susu atau krim. Tetapi kebanyakkan
sedikit dan cair, atau seperti susu pecah. Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju.

Pada vulva atau vagina terdapat radang, disertai maserasi, pseudomembran fisura dan lesi satelit
papulopostular.

Gonore

Gonore (GO) adalah penyakit menular seksual (PMS), yang disebabkan oleh kuman yang
bernama Neisseria gonorrhoaea yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum
(usus bagian bawah), tenggorokan maupun bagian putih mata (Gonorhoaea Conjugtiva). Gonore
bisa menyebar melalui aliran darah kebagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian.

Pada wanita, gonore bisa naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul
sehingga menimbulkan nyeri panggul dan gangguan reproduksi. Diperkirakan terdapat lebih dari
150 juta kasus gonore di dunia setiap tahunnya, meskipun di beberapa negara cenderung
menurun, namun negara lainnya cenderung meningkat. Penularan penyakit gonore (GO) yang
lazimnya terjadi, adalah dengan melakukan hubungan seks, ataupun dengan variasinya antara
lain: oral-seks (terjadinya faringitis GO), anal-seks (terjadinya proktitis GO) juga terjadinya
gonoblenorrhoea pada mata bayi yang baru lahir dari ibu-ibu yang menderita GO ataupun
terjadinya kolpitis GO pada bayi atau anak wanita karena orang tua atau pengasuh yang merawat
sehariharinya menderita GO adalah merupakan cara penularan lain yang dapat terjadi karena
hidup yang tidak higienis.

Ciri-ciri orang yang terkena gonore adalah: apabila pria, ia akan merasa panas ketika buang air
kecil (kencing), dan bila diamati, ternyata setelah mengeluarkan air seni, dari ujung alat
kelaminnya akan terlihat adanya nanah yang ikut terbawa keluar. Pada wanita gonore umumnya
tidak menimbulkan rasa panas atau sakit, terkecuali jika ia terjangkit penyakit keputihan dengan
gejala keluarnya semacam lendir atau cairan kuning kehijau-hijauan (semacam nanah), dalam
jumlah yang cukup banyak. Selain menimbulkan rasa panas dan bernanah, gonore juga dapat
menyebabkan merah dan bengkak pada ujung alat kelamin kaum pria, juga di sekeliling vagina
(liang senggama) kaum wanita yang terinfeksi gonore.
HIV/AIDS

Perdebatan seputar asal-usul AIDS telah sangat menarik perhatian dan sengketa sejak awal
epidemi. Namun, bahaya mencoba mengenali dari mana AIDS berasal. Orang-orang dapat
menggunakannya sebagai bahan perdebatan untuk menyalahkan kelompok tertentu atau gaya
hidup.

Kasus AIDS pertama ditemukan di AS pada 1981, tetapi kasus tersebut hanya sedikit memberi
informasi tentang sumber penyakit ini. Sekarang ada bukti jelas bahwa AIDS disebabkan oleh
virus yang dikenal dengan HIV. Jadi untuk menemukan sumber AIDS kita perlu mencari asal-
usul HIV. Asal-usul HIV bukan hanya menyangkut masalah akademik, karena tidak hanya
memahami dari mana asal virus tersebut tetapi juga bagaimana virus ini berkembang menjadi
penting sekali untuk mengembangkan vaksin HIV dan pengobatan yang lebih efektif.

Juga, pengetahuan tentang bagaimana epidemi AIDS timbul menjadi penting dalam menentukan
bentuk epidemi di masa depan serta mengembangkan pendidikan dan program pencegahan yang
efektif.

Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS

• Penurunan berat badan sehingga 10% yang tidak diketahui puncaknya

• batuk yang kronik dan berterusan

• Demam yang berpanjangan. Demam ini berlaku secara berkala ataupun berterusan

• Pembengkakan nodus limfa terutamanya di leher, ketiak dan selakangan.

• Terserang herpes zoster yang berulang-ulang. Herpes zoster merupakan infeksi saraf oleh virus
yang dicirikan oleh kehadiran lepuhan pada kulit.

• Kandidiasis di mulut dan tekak. Kandidiasis merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh
sejenis kulat (fungus).

Cara menghindar dari HIV/AIDS?

• Lebih aman berhubungan seks dengan pasangan tetap (tidak berganti-ganti pasangan seksual).

• Hindari hubungan seks di luar nikah.

• Menggunakan kondom jika melakukan hubungan seksual berisiko tinggi seperti dengan pekerja
seks komersial.
• Sedapat mungkin menghindari tranfusi darah yang tidak jelas asalnya; menggunakan alat-alat
medis dan non media yang terjamin streril.

Tokoh biologi memiliki pengaruh yang besar dalam kemajuan peradaban dunia. Salah satunya
dalam bidang ilmu kesehatan dan kedokteran.

Tiga tokoh biologi dan kontribusinya dalam bidang kesehatan.

1. Louis Pasteur

Dia adalah seorang ilmuwan biologi dan kimia yang berasal dari Perancis. Lahir pada tahun 1822
dan meninggal dunia pada tahun 1895. Pasteur terkenal karena memperkenalkan sebuah metode
yang dapat mencegah susu dan anggur menjadi asam. Metode ini kemudian diberi nama sama
seperti namanya yakni pasteurisasi.

Selain itu ia juga dikenal sebagai pendiri Ilmu Mikrobiologi. Ia banyak meneliti tentang kuman
yang menyebabkan penyakit. Pasteur menjadi orang pertama yang menemukan vaksin rabies dan
menjadi tokoh utama dalam penelitian tentang bakteriologi.

2. Robert Koch
Dia adalah ilmuwan biologi yang dilahirkan pada tahun 1843 dan berasal dari Jerman. Koch
merupakan pendiri ilmu bakteriologi kedokteran modern. Yang juga telah berhasil mengisolasi
beberapa jenis bakteri penyebab penyakit salah satunya TBC. Mendapatkan hadiah nobel karena
menemukan bakteri TBC pada tahun 1905. Serta telah berhasil menemukan hewan-hewan yang
menjadi penyebab penyakit berbahaya. Salah satu penemuan yang menjadikannya terkenal ialah
karena telah menemukan bakteri antraks atau dalam bahasa latin ialah Bacillus anthracis.

3. Edwart Jenner

Seorang ilmuwan yang berhasil menemukan vaksin menyembuhkan penyakit cacar. Ia dilahirkan
pada tahun 1749 dan meninggal pada tahun 1823. Jenner adalah tokoh biologi yang
memperkenalkan istilah virus. Jenner berprofesi sebagai seorang dokter yang berhasil
menemukan vaksin untuk menyembuhkan cacar. Seorang peletak dasar ilmu tentang kekebalan
tubuh atau imunologi.
Pada abad ke-18 cacar menjadi penyebab kematian terbesar pada saat itu. Hingga ia tergerak
untuk mengamati bahwa ternyata antara pasiennya yang pada sebelumnya terkena cacar ringan
yang berasal dari hewan ternak memiliki kekebalan yang lebih baik daripada yang tidak pernah
terkena cacar sama sekali. Akhirnya pada tahun 1796 tokoh biologi satu ini memaparkan tentang
penyakit cacar ringan yang di derita oleh seorang anak. Dan pada akhirnya anak tersebut tidak
terkena cacar lagi.

Peran Penting Mereka Bagi Dunia


Secara langsung maupun tidak peran mereka sangat berpengaruh terhadap kemajuan peradaban
yang ada didunia. Termasuk kontribusinya dalam upaya menyelamatkan umat manusia terhadap
berbagai jenis penyakit yang ada.

Seperti salah satu tokoh biologi diatas. Bahwa dengan kontribusi mereka menemukan vaksin
serta berbagai bakteri yang nantinya dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati penyakit
yang saat itu menjadi penyebab kematian nomor satu. Untuk itulah perlu adanya penelitian-
penelitian yang terus dilakukan serta orang-orang seperti mereka yang tekun dalam menemukan
inovasi-inovasi dan penemuan dalam berbagai bidang. Description: 3 Tokoh Biologi Paling Berjasa
Dalam Dunia Kesehatan Rating: 4.5 Reviewer: Bodrex Caem - ItemReviewed: 3 Tokoh Biologi Paling Berjasa
Dalam Dunia Kesehatan