Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

SATUAN OPERASI

PENDINGINAN

Disusun Oleh:
Adi atfallah
NIM A1C015005

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2018
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahan pangan berdasarkan umur simpannya dibedakan menjadi tiga jenis

yaitu bahan pangan yang mudah rusak (perishable), bahan pangan semi-

perishable, dan bahan pangan non-perishable. Untuk memperpanjang umur

simpan bahan pangan maka dilakukan pengawetan. Pengawetan bahan pangan

dapat dilakukan dengan berbagi cara yang umumnya bekerja atas dasar

mematikan atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme guna memperpanjang

daya simpan suatu bahan pangan. Salah satu metode pengawetan bahan pangan

tersebut yaitu dengan pengawetan suhu rendah atau pendinginan (cooling).

Pengawetan bahan pangan pada suhu rendah dapat memperlambat reaksi

metabolisme. Selain itu dapat juga mencegah pertumbuhan mikroorganisme

penyebab kerusakan atau kebusukan bahan pangan. Pendinginan merupakan salah

satu cara pengawetan yang tertua. Pendinginan dapat mengawetkan bahan pangan

sampai beberapa hari atau minggu tergantung pada bahan yang digunakan.

Pendinginan hanya dapat mempertahankan mutu suatu bahan tetapi tidak dapat

menambah mutu bahan tersebut. mutu hasil pendinginan sangat dipengaruhi oleh

mutu bahan pada saat proses awal pendinginann.

Pendinginan atau refrigerasi adalah proses pengambilan panas dari suatu

bahan sehingga suhunya akan menjadi lebih rendah dari sekelilingnya. Bila suatu

medium pendingin kontak dengan benda lain misalnya bahan pangan, maka akan

terjadi pemindahan panas dari bahan pangan tersebut ke medium pendingin


sampai suhu keduanya sama atau hampir sama. Pendinginan telah lama digunakan

sebagai salah satu upaya pengawetan bahan pangan, karena dengan pendinginan

tidak hanya citarasa yang dapat dipertahankan, tetapi juga kerusakan-kerusakan

kimia dan mikrobiologis dapat dihambat.

Pembekuan merupakan suatu cara pengawetan bahan pangan dengan cara

membekukan bahan pada suhu di bawah titik beku pangan tersebut. Dengan

membekunya sebagian kandungan air bahan atau dengan terbentuknya es

(ketersediaan air menurun), maka kegiatan enzim dan jasad renik dapat dihambat

atau dihentikan sehingga dapat mempertahankan mutu bahan pangan. Mutu hasil

pembekuan masih mendekati buah segar walaupun tidak dapat dibandingkan

dengan mutu hasil pendinginan.

B. Tujuan

1. Memahami prinsip dasar pendinginan dan pembekuan serta pengaruhnya

terhadap bahan pangan.

2. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pendinginan dan pembekuan.

3. Mengetahui kalor yang dilepas pada proses pendinginan dan pembekuan

produk pangan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Pendinginan atau refrigerasi adalah penyimpanan pada suhu di atas titik

beku yaitu di antara -2 oC dan 16 oC. Suhu lemari es umumnya berkisar antara 4

C – 7 oC (Tjahjadi, 2011).
o

Tujuan penyimpanan suhu dingin (cold storage) adalah untuk mencegah

kerusakan tanpa mengakibatkan pematangan abnormal atau perubahan yang tak

diinginkan sehingga mempertahankan komoditas dalam kondisi yang dapat

diterima oleh konsumen selama mungkin (Tranggono, 1990).

Sebelum pendinnginan dilakukan, biasanya ada perlakuan-perlakuan khusus

yang diterapkan pada bahan. Salah satu jenis perlakuannya adalah blanching.

Proses blanching mempunyai beberapa tujuan. Namun demikian tidak dapat

diaplikasikan untuk semua buah dan sayuran yang diperlakukan. Ada beberapa

reaksi yang merugikan yang dapat mempengaruhi kualitas produk (Larousse,

1997).

Pembekuan merupakan salah satu metode pengawetan pangan, dimana

produk pangan diturunkan suhunya sehingga berada dibawah suhu bekunya.

Selama pembekuan terjadi pelepasan energi (panas sensibel dan panas laten).

Pembekuan menurunkan aktivitas air dan mengehntikan aktivitas mikroba

(bahkan beberapa dirusak, reaksi enzimatis, kimia dan biokimia. Dengan

demikian produk beku dapat memiliki daya awet yang lama (Kusnandar, 2010).

Pembekuan dapat mempertahankan rasa dan nilai gizi bahan pangan yang

lebih baik daripada metoda lain, karena pengawetan dengan suhu rendah
(pembekuan) dapat menghambat aktivitas mikroba mencegah terjadinya

reaksireaksi kimia dan aktivitas enzim yang dapat merusak kandungan gizi bahan

pangan. Walaupun pembekuan dapat mereduksi jumlah mikroba yang sangat

nyata tetapi tidak dapat mensterilkan makanan dari mikroba (Frazier, 1977)

Pembekuan berarti pemindahan panas dari bahan yang disertai dengan

perubahan fase dari cair ke padat, dan merupakan salah satu proses pengawetan

yang umum dilakukan untuk penanganan bahan pangan. Pada proses pembekuan,

penurunan suhu akan menurunkan aktifitas mikroorganisma dan sistem enzim,

sehingga mencegah kerusakan bahan pangan. Selain itu, kristalisasi air akibat

pembekuan akan mengurangi kadar air bahan dalam fase cair di dalam bahan

pangan tersebut sehingga menghambat pertumbuhan mikroba atau aktivitas

sekunder enzim (Tambunan,1999).

Proses pembekuan terjadi secara bertahap dari permukaan sampai pusat

bahan. Pada pemukaan bahan, pembekuan berlangsung cepat sedangkan pada

bagian yang lebih dalam, proses pembekuan berlangsung lambat (Brennan, 1981).

Teknologi pembekuan makanan adalah teknologi mengawetkan makanan

dengan menurunkan temperaturnya hingga di bawah titik beku air. Hal ini

berlawanan dengan pemrosesan termal, di mana makanan dipaparkan ke

temperatur tinggi dan memicu tegangan termal terhadap makanan, dapat

mengakibatkan hilangnya nutrisi, perubahan rasa, tekstur, dan sebagainya, atau

pemrosesan kimia dan fermentasi yang dapat mengubah sifat fisik dan kimia

makanan. Makanan beku umumnya tidak mengalami hal itu semua, membekukan

makanan cenderung menjaga kesegaran makanan (Santoso, S. 2010).


Tujuan pendinginan dan pembekuan adalah perubahan karakteristik produk

dapat dijaga serendah-rendahnya. Perubahan sensoris akibat reaksi enzimatis atau

aktivitas mikroba sangat sedikit terjadi sehingga nutrisi produk dapat

dipertahankan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pendinginan dan pembekuan yaitu:

1. Suhu

2. Kualitas bahan mentah

Sebaiknya bahan yang akan disimpan mempunyai kualitas yang baik

3. Perlakuan pendahuluan yang tepat

Misalnya pembersihan atau pencucian atau blanching

4. Kelembaban

Umumnya RH dalam pendinginan sekitar 80 – 95 %. Sayur-sayuran disimpan

dalam pendinginan dengan RH 90 – 95 %

5. Aliran udara yang optimum

Distribusi udara yang baik menghasilkan suhu yang merata di seluruh tempat

pendinginan, sehingga dapat mencegah pengumpulan uap air setempat

(lokal).

Berikut ini adalah beberapa contoh teknik pendinginan, yaitu:

a. Pendinginan Hembusan Udara Dingin

Teknik pendinginan ini merupakan proses pendinginan cepat sehingga

cocok untuk produk pangan yang sangat mudah rusak. Laju optimumnya 2-

3m/detik untuk mendinginkan bahan pangan yang tebal. Laju pergerakan

udara dingin yang tepat dibutuhkan untuk meminimumkan waktu


pendinginan. Faktor lain yang harus diperhatikan yaitu kelembapan udara

relatif tinggi jika produk pangan yang didinginkan tidak dikemas.

Contoh alat pendingin yang menggunakan teknik ini adalah cabinet

cooler dan alat pendingin dengan sirkulasi udara tetap (fixed air cooler) dan

chilling tunnel. Alat ini umumnya dilengkapi dengan rak beroda, nampan atau

rak, gantungan untuk meletakkan produk.

b. Ruang Pendingin

Ruang pendingin digunakan untuk menjaga suhu bahan atau produk

tetap rendah, tetapi tidak cocok jika digunakan untuk pendinginan cepat.

Udara dingin yang dihembuskan dari bagian atas ruang pendingin dan

bergerak menuju bagian bawah.

c. Pendinginan Kriogenik

Teknik pendinginan ini menghasilkan proses pendinginan yang sangat

cepat sehingga sesuai untuk mendinginkan produk yang hangat. Contoh:

pencelupan pada nitrogen atau CO2 cair.

d. Pendinginan dengan Air (Hydrocooling)

Pendinginan dengan air digunakan terutama untuk menghilangkan

panas setelah pemanenan untuk buah-buahan atau sayuran. Pendinginan air

ini dilakukan dengan cara perendaman, penyemprotan, atau pencelupan pada

air dingin.

Proses pendinginan dapat bersifat kontinu dengan waktu berkisar 20-40

menit. Keuntungan dari teknik ini yaitu dapat mencegah pembekuan, tidak

terjadi penyusutan berat, dan dapat memulihkan produk yang layu.


e. Pendinginan Vakum

Teknik pendinginan ini digunakan untuk sayuran berdaun yang

mempunyai permukaan luas dan jumlah air bebas yang tinggi, seperti selada.

Teknik ini tidak sesuai untuk produk atau bahan pangan yang bervolume

besar, tebal, dan mempunyai lapisan lilin.

Teknik pendinginan vakum didasarkan pada efek pendinginan akibat

penguapan air pada tekanan rendah. Contoh: selada dapat didinginkan pada

suhu 2-3oC ketika kondisi vakum tercapai. Beberapa produk tanaman pangan

harus disemprot dengan air sebelum didinginkan untuk meminimumkan

penyusutan berat. Pada teknik pendinginan ini penyusutan berat sebesar 1%

terjadi pada setiap penurunan suhu 50C.

Berikut ini ada beberapa teknik pembekuan, yaitu:

a. Pembekuan dengan tekanan tinggi

b. Dehydrofreezing

c. Plate Freezing

d. Immersion Freezing

e. Blast Freezing

f. Fluidized Bed Freezing


III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Timbangan digital

2. Refrigrator

3. Freezer

4. Termometer alkohol

5. Termometer infrared

6. Berbagai jenis buah

7. Oven 105 oC

B. Prosedur Kerja

1. Alat dan bahan disiapkan.

2. Bahan ditimbang dengan timbangan digital sebesar100 gram.

3. Suhu bahan diukur, lingkungan, refrigrator dan freezer sebagai suhu awal.

4. Bahan dimasukan ke dalam refrigrator dan freezer.

5. Suhu bahan, lingkungan dan refrigrator diukur setiap 15 menit selama 1 jam.

6. Kalor yang dilepas (Q) oleh bahan dihitung, kemudian bahan dimasukkan ke

dalam oven dan melakukan pengukuran massa setiap 30 menit sebanyak 4

kali.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Data Pengamatan Suhu (oC)

Tabel 1. Data pengamatan pendinginan dengan Refrigerator


Waktu T Bahan T Lingkungan T Refrigrator Mbuah
o o
(menit) ( C) ( C) (oC) (gr)
0 29,5 28,5 8 50
15 14,6 29 15 49,66
30 17,5 28,5 16 48,77
45 18,2 29 12 48,66
60 17,3 29 11 47,95

Tabel 2. Data pengamatan pendinginan dengan Freezer


Waktu T Bahan T Lingkungan T Freezer Mbuah
(menit) (oC) (oC) (oC) (gr)
0 29,5 28,5 0 50
15 7,6 29 -2 49,43
30 8 28,5 -1 49,21
45 8,8 29 -1 48,95
60 7,9 29 -1 48,63

2. Data pengamatan massa bahan setelah dioven

Tabel 3. Data pendinginan Refrigerator


Waktu (menit) M buah (gr
30 9,18
60 8,29

Tabel 4. Data pendinginan Freezer


Waktu (menit) M buah (gr
30 9,63
60 8,12
1. Perhitungan

Kadar air (Ka)

𝑀 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑀 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
𝐾𝑎 = 𝑥100%
𝑀 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙

a. Ka Refrigrator

10 − 8,29
𝐾𝑎 = 𝑥100% = 17,1%
10

b. Ka Freezer

10 − 8,12
𝐾𝑎 = 𝑥100% = 18,8%
10

Massa jenis (Cp)

a. Refrigerator

Cp = 4,1868 (0,008 ( 17,1/100 ) + 0,2 )

= 4,1868 (0.201368)

= 0,843 J/gram

b. Freezer

Cp = 4,1868 (0,008 ( 18,8/100 ) + 0,2 )

= 4,1868 (0.201504)

= 0,8436 J/gram

Kalor (Q)

a. Refrigerator

Q = m.cp.∆t (t = 30 menit)

= 48,77 . 0,843 (29,9 – 17,5)

= 509,8 Joule
Q = m.cp.∆t (t = 60 menit)

= 47,95 0,843 (29,9 – 17,3)

= 509,32 Joule

b. Freezer

Q = m.cp.∆t (t = 30 menit)

= 49,21 . 0,8436 (29,9 – 8)

= 892,54 Joule

Q = m.cp.∆t (t = 60 menit)

= 48,63 0,8436 (29,9 – 7,9)

= 886,12 Joule
B. Pembahasan

Pada praktikum acara pendinginan dan pembekuan setiap kelompok

diberikan beberapa jenis buah, pada kelompok ini diberikan buah papaya dan

kelompok yang lain juga diberikan buah seperti apel, pear, manga dan melon serta

buah buah yang lain. Pada praktikum kali ini buah yang telah dibagikan ditimbang

masing masing 50 gr. Setelah ditimbang, melakukan 2 perlakuan yaitu yang

dimasukan kedalam freezer untuk melakukan prosers pembekuan dan dimasukkan

kedalam dan dimasukan ke refrigator untuk proses pendinginan.

Jalannya praktikum acara ini berjalan dengan lancar namun pada saat

praktikum berlangsung kurang efektif dikarenakan ruangan yang terlalu panas,

sehingga pada saat praktikum berlangsung tidak efektif karena kepanasan, alat

yang kurang lengkap sehigga praktikan tidak semuanya mengikuti langkah-

langkah praktikum acara 1 ini.

Kendala pada saat praktikum yaitu time keeper kurang tepat dalam waktu

pengamatannya sehingga terjadi hasil pengamatan yang tidak konsisten, freezer

dan oven sebelum waktu pengamatan ada yang membuka sehingga data yang

diperoleh kurang makimal, ruangan yang kurang luas mengakibatkan jalannya

praktikum kurang optimal.

Pendinginan atau refrigerasi adalah proses pengambilan panas dari suatu

bahan sehingga suhunya akan menjadi lebih rendah dari sekelilingnya. Bila suatu

medium pendingin kontak dengan benda lain misalnya bahan pangan, maka akan

terjadi pemindahan panas dari bahan pangan tersebut ke medium pendingin

sampai suhu keduanya sama atau hampir sama. Pendinginan telah lama digunakan
sebagai salah satu upaya pengawetan bahan pangan, karena dengan pendinginan

tidak hanya cita rasa yang dapat dipertahankan, tetapi juga kerusakan-kerusakan

kimia dan mikrobiologis dapat dihambat. Sebelum pendinnginan dilakukan,

biasanya ada perlakuan-perlakuan khusus yang diterapkan pada bahan. Salah satu

jenis perlakuannya adalah blanching. Proses blanching mempunyai beberapa

tujuan. Namun demikian tidak dapat diaplikasikan untuk semua buah dan sayuran

yang diperlakukan. Ada beberapa reaksi yang merugikan yang dapat

mempengaruhi kualitas produk (Larousse, 1997).

Prinsip pendinginan itu sendiri adalah panas dari bahan diserap atau diambil

dan digantikan oleh udara yang memiliki tekanan yang lebih rendah dibandingkan

tekanan di dalam sel, sehingga panas yang ada dalam bahan berkurang dan lama-

kelamaan akan berubah menjadi dingin mengikuti suhu udara pendinginan yang

digunakan.

Proses pendinginan dan pembekuan tidak mampu membunuh semua

mikroba, sehingga pada saat dicairkan kembali (thawing), sel mikroba yang tahan

terhadap suhu rendah akan mulai aktif kembali dan dapat menimbulkan masalah

kebusukan pada bahan pangan yang bersangkutan (Hudaya, 2008).

Pembekuan merupakan salah satu metode pengawetan pangan, dimana

produk pangan diturunkan suhunya sehingga berada dibawah suhu bekunya.

Selama pembekuan terjadi pelepasan energy (panas sensible dan panas laten).

Pembekuan menurunkan aktivitas air dan mengehntikan aktivitas mikroba

(bahkan beberapa dirusak, reaksi enzimatis, kimia dan biokimia. Dengan

demikian produk beku dapat memiliki daya awet yang lama (Kusnandar, 2010).
Proses pembekuan terjadi secara bertahap dari permukaan sampai pusat

bahan. Pada permukaan bahan, pembekuan berlangsung cepat sedangkan pada

bagian yang lebih dalam, proses pembekuan berlangsung lebih lambat. Pada awal

proses pembekuan terjadi fase precooling dimana suhu bahan diturunkan dari

awal ke suhu titik beku. Pada tahap ini semua kandungan air bahan berada dalam

keadaan cair. Setelah tahap precooling terjadi tahap perubahan fase, pada tahap ini

terjadi pemebentukan kristal es. (Heldman dan Singh,1981 dalam Rohanah,

2002).

Prinsip pembekuan adalah panas pada bahan diambil dan diturunkan hingga

mencapai titik dibawah titik beku bahan sehingga segala mekanisme perubahan

pada bahan dapat dihambat dan masa simpan dapat diperpanjanga. Secara umum

mekanisme pembekuan dibagi menjadi 3 tahap. Tahap pertama panas sensible

bahan pangan diambil sehingga suhu menjadi turun sampai titik beku. Tahap

kedua, pada proses pembekuan dilepaskan sejumlah energi panas sehingga bahan

pangan dan air yang terkandung didalamnya membeku. Dan tahap ketiga setelah

terjadi pembekuan energi panas tetap dilepaskan sehingga suhu menurun sampai

suhu tertentu (Estiasih,2011).

Terjadi fluktasi yaitu karena pada awal proses pembekuan terjadi fase

precooling dimana suhu bahan diturunkan dari awal ke suhu titik beku. Selama

pembekuan, suhu produk pangan menurun hingga di bawah titik bekunya, dan

sebagian dari air berubah wujud dari fase cair ke fase padat dan membentuk

kristal es. Adanya kristalisasi air ini menyebabkan mobilitas air terbatas sehingga

aktivitas air pun menurun. Penurunan aktivitas air ini berpengaruh pada
penghambatan pertumbuhan mikroba, serta reaksi-reaksi kimia dan bioki¬mia

yang mempengaruhi mutu dan keawetan produk pangan. Dengan demikian,

pengawetan oleh proses pembekuan disebabkan oleh adanya kombinasi

penu¬runan suhu dan penurunan aktivitas air (Kusnandar, 2010). Sedangkan pada

pendinginan suhu rendah dapat menghambat kerusakan makanan, antara lain

kerusakan fisiologis, kerusakan enzimatis maupun kerusakan mikrobiologis. Pada

pengawetan dengan suhu rendah dibedakan antara pendinginan dan pembekuan.

Pendinginan dan pembekuan merupakan salah satu cara pengawetan yang tertua.

Penyimpanan dingin dapat menyebabkan kehilangan bau dan rasa beberapa bahan

bila disimpan berdekatan. Misalnya: Mentega dan susu akan menyerap bau ikan

dan bau buah-buahan, serta telur akan menyerap bau bawang.

Tidak pada perlakuan pendingian, karena pada produk/ jenis bahan saat

proses pendinginan memiliki karakteristik masing masing. Pendininginan

biasanya digunakan untuk jenis baha yang mudah mengalami kerusakan dana

peka terhadap kondisi lingkungan disekitarnya.

Tidak pada perlakuan pembekuan, karena pada produk/ jenis bahan saat

proses pendinginan memiliki karakteristik masing masing. Jenis bahan

berpengaruh pada perubahan yang terjadi tergantung dari komposisi makanan

sebelum dibekukan.

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diperoleh data pengamatan

suhu refrigerator dan freezer, serta pengamatan massa bahan yang telah di oven.

Kemudian dilakukan perhitungan kadar air refrigerator dan freezer, massa jenis

refrigerator dan freezer, serta perhitungan kalor refrigerator dan freezer.


Tabel 5. Data pengamatan pendinginan dengan Refrigerator
Waktu T Bahan T Lingkungan T Refrigrator Mbuah
(menit) (oC) (oC) (oC) (gr)
0 29,5 28,5 8 50
15 14,6 29 15 49,66
30 17,5 28,5 16 48,77
45 18,2 29 12 48,66
60 17,3 29 11 47,95

Tabel 6. Data pengamatan pendinginan dengan Freezer


Waktu T Bahan T Lingkungan T Freezer Mbuah
(menit) (oC) (oC) (oC) (gr)
0 29,5 28,5 0 50
15 7,6 29 -2 49,43
30 8 28,5 -1 49,21
45 8,8 29 -1 48,95
60 7,9 29 -1 48,63

Berdasarkan praktikum dapat disimpulkan bahwa semakin lama buah

disimpan dalam refrigerator dan freezer maka massa buah akan semakin

menurun. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Fellow (2000), menyatakan bahwa

penyusutan berat selama pendinginan dapat disebabkan karena kelembaban yang

ada pada bahan meninggalkan permukaan bahan dan menuju ke udara

disekitarnya melalui proses kondensasi uap air. Kerusakan struktur molekul akibat

pendinginan ini juga dapat menyebabkan penyusutan berat. Praktikum pada kali

ini hasilnya tidak efektif antara hasil refrigertaor dan freezer pada saat

praktikum yaitu belum waktunya 15 menit sudah dibuka sehingga menyebabkan

hasil yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pendinginan adalah penyimpanan bahan pangan di atas titik beku (-2 s/d 16
o
C) sedangkan pembekuan adalah peyimpanan bahan pangan di bawah titik

beku.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendinginan yaitu: Suhu, kualitas bahan

mentah, perlakuan pendahuluan yang tepat misalnya pembersihan/pencucian

atau blansing, kelembaban, aliran udara yang optimum.

3. kalor atau panas yang dilepas bahan pada saat praktikum dari refrigerator

yaitu 509,8 Joule pada selang waktu 0-30 menit dan 509,32 pada selang

waktu 0-60 menit. Pada bahan dari freezer kalor yang dilepas sebesar 829,54

Joule selama waktu 0-30 menit dan 886,12 Joule selama 0-60 menit.

B. Saran

Diharapkan asisten lebih mengkondisikan praktikan sehingga praktikum

acara pendingian dapat berjalan dengan lancar dan kondusif


DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., dan Wootton, M. 1985. Ilmu Pangan
(terjemahan oleh Hari Purnomo dan Adiono). Jakarta: UI Press.
Brennan, J.G. 1981. Food Freezing Operation. Applied Science Publisher, Ltd.
London.
Broto, W., Sabari, S.D., Widiatmoko, Dondy Anggono Setyabudi, dan
Yulianingsih. 2002. Pembekuan Cepat buah mangga gedong dan
karakteristik mutunya selama penyimpanan beku. Jurnal Hortikultura
12(2):131-140.
Desrosier, NW 1988, Teknologi pengawetan pangan, UI Press, Jakarta.
Frazier, W.C. and P.C. Westhoff, 1977. Food Microbiology. Mc. Graw Hill Book
Co.Inc. New York.
Julianti, R. 2010. Pembekuan bahan pangan hewani. Jember: Fakultas
Manajemen, Politeknik Negeri Jember.
Kusnandar, F, 2010. Kimia Pangan Komponen Makro. Jakarta: Dian Rakyat.
Larousse, Jean., Brown, Bruce. E., 1997. Food Canning Technology. Wiley
VHC,Inc. Canada.
Santoso, S. 2010. Perlakuan pendinginan dan pembekuan terhadap kualitas hasil
pertanian. Rantau: Teknik Pertanian, Politeknik Islam Syekh Salman Al
Farisi.
Tambunan, Tulus. 1999. Perkembangan Industri Skala Kecil Di Indonesia.
Jakarta: Mutiara Sumber Widya.
Tranggonodan, Sutardi. 1990. Biokima dan Teknologi Pasca Panen. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
Winarno, F.G., 1993. Pangan Gizi Teknologi dan Konsumen. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.