Anda di halaman 1dari 12

 Demensia Alzaimer

Demensia Alzheimer
Berdasarkan kriteria diagnostik DSM-IV, demensia didefinisikan sebagai
penurunan fungsi kognitif yang mutipel, yang setidaknya disertai salah satu antara
afasia, apraxia, agnosia, atau gangguan fungsi eksekutif. Penurunan fungsi kognitif
yang dimaksud adalah yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi sosial dan
okupasional, dan bersifat progresif. Dan penilaian fungsi kognitif dilakukan ketika
penderita memiliki kesadaran penuh, dan tidak ketika mengalami delirium, acute
confusional state, atau delirium.
Epidemiologi
Di Amerika pada usia lanjut diatas 70 tahun, 10%-nya mengalami gangguan
memori atau gangguan kognitif, yang dimana 50%-nya menderita demensia
alzheimer. Kejadian demensia alzheimer meningkat sebanyak kurang lebih 5%
setiap tahunnya. Dan baik pada pria maupun wanita memiliki faktor resiko yang
sama besarnya untuk menderita demensia alzheimer.

Etiologi dan Faktor resiko


Salah satu faktor resiko dari demensia alzheimer adalah defek genetik.
Terdapat tiga defek genetik yang berperan, antara lain defek gen protein prekursor
amiloid (Amyloid precursor protein) pada kromosom 21, gen presenilin 1 (PS-1)
pada kromosom 14 dan gen presenilin 2 (PS-2) pada kromosom 1. Kelainan pada
gen PS-1 berhubungan erat dengan demensia alzheimer onset cepat (sebelum 65
tahun dan sering sebelum 50 tahun, rata-rata pada umur 45 tahun) dan durasi
progresif yang lebih cepat (rata-rata 6-7 tahun) dibanding mutasi pada gen PS-2
(rata-rata terkena pada umur 53 tahun dengan durasi 11 tahun, namun ada
beberapa carrier mutasi PS-2 yang menyebabkan demesia alzheimer setelah umur
70 tahun). Mutasi gen presenilin jarang menyebabkan demensia alzheimer onset
lambat. Mutasi pada gen PS-1 lebih sering dibandingkan pada gen PS-2.
Penderita dengan mutasi pada gen-gen ini memiliki level Aβ 42 yang meningkat

1
dalam plasma. Penyakit genetik trisomi kromosom 21 (sindrom Down) juga
merupakan faktor resiko demensia alzheimer onset cepat. Penderita trisomi
kromosom 21 memiliki insidensi demensia alzheimer yang tinggi pada dekade ke-4
dalam hidupnya. Dan baik pada pria maupun wanita memiliki faktor resiko yang
sama besarnya untuk menderita demensia alzheimer.

Patofisiologi
Secara biokimia, demensia alzheimer dikaitkan dengan penurunan tingkat
kortikal beberapa protein dan neurotransmiter, terutama asetilkolin, enzim sintetis
kolin asetiltransferase, dan reseptor kolinergik nikotinik. Penurunan asetilkolin
mungkin berhubungan dengan sebagian degenerasi neuron kolinergik di nucleus
basalis dari Meynert yang memproyeksikan seluruh korteks. Ada juga penipisan
noradrenergik dan serotonergik akibat degenerasi inti batang otak seperti coeruleus
locus dan dorsal raphe.

2
Manifestasi klinis
Pada demensia alzheimer, manifestasi yang paling utama adalah adanya
gangguan kognitif, baik ringan maupun yang berprogresi menjadi berat. Pada awal
mulanya, gangguan yang dialami dapat berawal dari gangguan memori dan
kemudian menyebar ke gangguan bahasa, defisit visuospatial, gangguan untuk
membaca navigasi, hingga ke gangguan pada kegiatan sehari-hari, seperti
mengatur keuangan, mengikuti perintah pada pekerjaan, menyetir, berbelanja, dan
mengatur rumah tangga, atau mengatur hal-hal yang lain. Gangguan bahasa, atau
aphasia yang dialami penderita dimulai dari kesulitannya untuk menamai suatu
benda, kemudian komprehensifnya, hingga kelancaran berbicaranya. Namun,
sekitar 20% penderita dengan demensia alzheimer tidak mengeluhkan gangguan

3
memori namun dengan keluhan kesulitan menemukan kata-kata yang ingin
diucapkan, mengatur sesuatu, atau kesulitan navigasi.

Berdasarkan dr. Barry Reisberg, direktur klinik Universitas New York, fase
perkembangan demensia alzheimer dibagi menjadi 7 bagian, yaitu:

 Fase pertama : normal


Merupakan fase normal dari setiap manusia pada usia berapapun akan
normalnya baik fungsi kognitif, emosi, maupun tingkah laku. Fase ini disebut
sebagai manusia yang sehat mental.

 Fase kedua : usia normal pelupa


Pada usia diatas 65 tahun, penderita sering kali mengeluhkan kesulitan
kognitif dan atau kesulitan fungsional. Geriatri pada usia ini kesulitan untuk
mengingat nama – nama yang diketahuinya 5-10 tahun yang lalu, dan juga
terkadang mereka mengeluhkan akan kesulitannya untuk mengingat dimana
ia meletakkan barang – barang tertentu

 Fase ketiga : gangguan kognitif ringan (mild cognitive impairment / MCI)


Pada fase ketiga ini, manifestasi dari demensia alzheimer menjadi semakin
banyak dan beragam, yang sering kali lebih disadari oleh orang terdekat
disekitarnya. Sering kali penderita meminta mengulang sesuatu hal. Selain
itu kemampuan untuk melakukan fungsi eksekutif juga dapat terganggu.
Sebagai contoh, penderita demensia alzheimer yang memiliki pekerjaan,
dapat mendadak terganggu, prestasinya dapat menurun, sedangkan pada
penderita yang baru mendapatkan pekerjaan, dapat terlihat penurunan
kemampuan bekerjanya, dan pada penderita yang tidak bekerja, hal ini
tampak sebagai ketidakmampuannya atau kegagalannya untuk mengatur
suatu acara.

 Fase keempat : mild Alzheimer disease


Demensia alzheimer telah terlihat pada fase keempat, yakni fase yang dapat
muncul selama kurang lebih dua tahun. Ciri-ciri yang paling menonjol adalah

4
terganggunya kemampuan untuk melakukan aktivitas kompleks sehari-hari.
Contohnya pada fase ini adalah terganggunya kemampuan untuk mengatur
keuangan keluarga, kemampuan untuk menyiapkan makanan, tidak dapat
mengingat atau menuliskan tanggal, atau musim, ataupun menuliskan cek
uang.

 Fase kelima : moderate Alzheimer disease


Pada fase kelima, kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari
semakin terhambat. Penderita sering kali lupa mengenai kejadian-kejadian
yang terjadi, baik kejadian kecil ataupun kejadian besar. Selain itu penderita
juga kesulitan untuk memilih baju yang harus digunakan tanpa asistensi.

 Fase keenam : moderately severe Alzheimer disease


Pada fase keenam, perkembangan penyakit ini dibagi 5 bagian, yaitu fase 6a
– 6e. Pada fase 6a, penderita tidak hanya kesulitan untuk memilih baju,
namun penderita mengalami kesulitan untuk memakai baju dengan benar,
dalam mengenakan baju dapat terbalik, atau bahkan terkadang penderita
dapat mengenakan pakaian perginya diluar pakaian tidur, atau dapat pula
disebut apraxia. Pada fase 6b, penderita membutuhkan bantuan untuk
mandi, hal yang paling menonjol adalah oleh karena kesulitannya untuk
mengatur air panas dan dingin secara mekanis. Pada fase 6c, penderita
mengalami kesulitan untuk mandi ataupun melakukan hal-hal toilet tanpa
bantuan. Pada fase 6d, penderita memerlukan bantuan oleh karena
mengalami inkontinensia, oleh karena itu penderita memerlukan bantuan
untuk melakukan toilet training. Sedangkan pada fase 6e, fungsi kognitif
penderita sangat terganggu, hingga penderita pun mengalami gangguan
untuk mengenali orang-orang terdekat disekitarnya, baik orang tua atau
anak-anaknya, dan bahkan istri / suaminya sendiri. Pada fase ini sering kali
penderita dapat mengalami sindrom Capgras, yakni dimana penderita
merasa orang yang merawatnya atau orang lain yang disekitarnya, adalah
orang asing yang mencoba untuk meniru perawat atau orang disekitarnya,

5
atau dengan kata lain, orang-orang disekitarnya telah digantikan oleh
impostor.

Selain itu penderita juga sering kali berdelusi akan adanya pencuri / maling
yang mencuri barang-barang yang dimilikinya, padahal yang terjadi
sesungguhnya, penderita lupa dimana ia meletakkan barang-barangnya
tersebut.

 Fase ketujuh : severe Alzheimer disease


Pada fase ketujuh ini juga dibagi menjadi beberapa tahap. Pada tahap
pertama fase ketujuh, 7a, penderita mengalami kesulitan untuk berbicara,
yakni kosakata yang dimilikinya mulai menurun, yang dimana fase ini dapat
dialami selama kurang lebih 1 tahun. Sedangkan pada fase 7b, yang dapat
dialami selama 1,5 tahun, penderita semakin mengalami penurunan
kosakata yang dimiliki, hingga 1-2 kata saja. Pada fase 7c, penderita
membutuhkan asistensi atau bantuan seluruhnya untuk melakukan kegiatan
sehari-hari, dan tidak hanya untuk mandi, toilet, atau mengenakan baju saja.
Dan pada fase 7d, penderita dapat membutuhkan bantuan untuk duduk, oleh
karena setiap kali penderita duduk, penderita seringkali terjatuh kembali.
Pada fase 7e, penderita kehilangan kemampuannya untuk tersenyum. Pada
fase 7f, penderita kehilangan kemampuannya untuk mengangkat kepalanya
tanpa bantuan, dan seringkali penderita mengalami imobilitas pada fase ini.
Dan pada demensia alzheimer pada fase-fase akhir, penderita sering kali
mengalami rigiditas atau kontraksi otot pada beberapa sendi-sendi tubuh,
sehingga sering kali penderita mempunyai manifestasi klinis yaitu cara
jalannya yang aneh. Selain itu, kontraksi tersebut dapat menimbulkan nyeri
yang dashyat, dan semakin memperberat keadaan penderita demensia
alzheimer. Pada fase akhir ini pula, dapat ditemukan refleks-refleks tanda
regresi neurologis, dan refleks babinski juga dapat ditemukan positif.

Pada fase akhir dari penderita demensia alzheimer, penderita cenderung


pasif, tidak berbicara, mengalami inkontinensia, dan bedridden.12 Namun, untuk

6
alasan yang tidak diketahui, sebagian penderita demensia alzheimer dapat
menunjukkan penurunan dalam fungsi, sementara yang lain tidak.

Diagnosis
Fungsi kognitif dari demensia alzheimer dapat dinilai dari tes kognitif
diantaranya Azheimer’s Disease Assesstment Scale’s Cognitive subscale
(ADAS_cog), Mini Mental Status Examination (MMSE), dan Functional Activities
Questionnaire (FAQ).

Kriteria diagnostic demensia alzheimer menurut DSM IV (Diagnostic and


Statistical Manual of Mental Disorders, fourth revision) adalah sebagai berikut:

1. Perkembangan defisit kognitif multiple terdiri dari:


a. Gangguan memori (gangguan kemampuan dalam mempelajari
informasi baru atau mengingat informasi yang sudah dipelajari)
b. Salah satu (atau lebih) gangguan kognitif berikut ini:
i. Afasia (gangguan berbahasa)
ii. Apraksia (gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas
motorik dalam keadaan fungsi otot yang normal)
iii. Agnosia (kegagalan untuk mengenali atau menamai objek)
iv. Gangguan fungsi berpikir abstrak (misalnya merencanakan,
berorganisasi)
2. Gangguan kognitif pada kriteria A 1 dan A2 menyebabkan gangguan yang
berat pada fungsi sosial dan pekerjaan penderita.
3. Kelainan ini ditandai dengan proses yang bertahap dan penurunan fungsi
kognitif yang berkelanjutan.
4. Gangguan kognitif kriteria A1 dan A2 tidak disebabkan hal-hal berikut:
a. Kelainan SSP lain yang menyebabkan ganggguan memori yang
progresif misalnya gangguan peredaran darah otak, Parkinson,
dan tumor otak)
b. Kelainan sistemik yang dapat menyebabkan demensia misalnya
hipotiroidisme, defisiensi vitamin B12 dan asam folat, defisiensi
niasin, hiperkalemi, neurosifilis, dan infeksi HIV)
5. Kelainan tidak disebabkan oleh delirium
6. Kelainan tidak disebabkan oleh kelainan Aksis 1 misalnya gangguan
depresi dan skizofrenia

7
Pemeriksaan fisik ditunjang dengan pemeriksaan MMSE (Mini Mental State
Examination) yang berguna untuk mengetahui kemampuan dan orientasi, registrasi,
perhatian, daya ingat, kemampuan bahasa dan berhitung.

8
PET (positron emission tomography) images obtained with the amyloid-imaging

agent Pittsburgh Compound-B ([11C]PIB) in a normal control (left); three different


patients with mild cognitive impairment (MCI, center); and a mild AD patient (right).
Some MCI patients have control-like levels of amyloid, some have AD-like levels of
amyloid, and some have intermediate levels.

1.1. Tata laksana dan Prognosis


Untuk terapi non-farmakologis bagi penderita demensia alzheimer dapat
diberikan bantuan-bantuan terutama untuk membantu kualitas hidup penderita,
untuk membantu penderita melakukan hal-hal mandiri, menjaga agar penderita
aman, menghindari angka kemungkinan jatuh.

Untuk terapi farmakologis adalah sebagai berikut :

Nama obat Golongan Indikasi Dosis Efek samping

Donepezil Penghambat Demensia Dosis awal 5 Mual, muntah,


kolinesterase Alzheimer mg/hr bila perlu, diare,
ringan sampai setelah 4-6 insomnia
sedang minggu menjadi
10 mg/hr

Galantamine Penghambat Demensia Dosis awal 8 Mual, muntah,


kolinesterase Alzheimer mg/hr, setiap diare,

9
ringan sampai bulan dosis anoreksia
sedang dinaikkan 8
mg/hr hingga
dosis maksimal
24 mg/hr

Rivastigmin Penghambat Demensia Dosis awal 2 x Mual, muntah,


e kolinesterase Alzheimer 1,5 mg/hr; setiap pusing, diare,
ringan sampai bulan dinakkan anoreksia
sedang 2 x 1,5 mg/hr
hingga dosis
maksimal 2 x 6
mg/hr

Memantine Penghambat Demensia Dosis awal 5 Pusing, nyeri


reseptor Alzheimer mg/hr; setelah 1 kepala,
NMDA (N- sedang minggu. Dosis konstipasi
methyl-D- sampai berat dinaikkan
aspartate), menjadi 2 x 5
yang mg/hr dan
berfungsi seterusnya
untuk hingga dosis
memblok maksimal 2 x 10
aktivitas mg/hr
glutamate

Kolinesterase inhibitor dan NMDA merupakan jenis obat-obatan yang telah


diakui dan disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA).

Untuk mengatasi gejala simptomatis seperti depresi, agitasi, anxietas, dan


perilaku obsesif, pada demensia alzheimer dapat diberikan obat sebagai berikut:

Depresi

10
Nama obat Dosis Efek samping

Sitalopram 10-40 mg/hr Mual, mengantuk, nyeri kepala,


tremor, disfungsi seksual

Esitalopram 5-20 mg/hr Insomnia, diare, mual, mulut


kering, mengantuk

Sertralin 25-100 mg/hr Mual, diare, mengantuk, mulut


kering, disfungsi seksual

Fluoksetin 10-40 mg/hr Mual, diare, mengantuk,


insomnia, tremor, ansietas

Venlafaksin 37.5 – 225 mg/hr Nyeri kepala, mual, anoreksia,


insomnia, mulut kering

Dulosektin 30-60 mg/hr Penurunan nafsu makan, mual,


mengantuk, insomnia

Agitasi, ansietas dan perilaku obsesif

Quetiapin 25-300 mg/hr Mengantuk, pusing, mulut kering,


konstipasi, dyspepsia,
peningkatan berat badan

Dianzapin 2.5-10 mg/hr Peningkatan berat badan, mulut


kering, peningkatan nafsu
makan, pusing, mengantuk dan
tremor

Risperidon 0.5 – 1 mg/hr Mengantuk, tremor, insomnia,


pandangan kabur, pusing, nyeri
kepala, mual, peningkatan berat
badan

Zipresidon 20-80 mg/hr Kelelahan, mual, pusing, diare

Divalproex 125-500 mg 2x/hr Mengantuk, kelemahan, diare,


konstipasi, dispepsia, depresi,
ansietas, tremor

11
Gabapentine 100-300 mg 3x/hr Konstipasi, dyspepsia,
kelemahan, hipertensi,
anoreksia, vertigo, pneumonia,
peningkatan kadar kreatinin

Alprazolam 0.25-1 mg 3x/hr Sedasi, disartria, inkoordinasi,


gangguan ingatan

Lorazepam 0.5-2 mg 3x/hr Kelelahan, mual, inkoordinasi,


konstipasi, muntah, disfungsi
seksual

Insomnia

Zolpidem 5-10 mg malam hari Diare, mengantuk

Trazodon 25-100 mg malam hari Pusing, nyeri kepala, mulut


kering, konstipasi

Prognosis dari demensia alzheimer sering kali buruk, oleh karena


perkembangan penyakitnya yang progresif dan irreversible. Kematian seringkali
terjadi kurang lebih setelah 5-12 tahun dari manifestasi awal demensia alzheimer.
Dan pada penderita demensia alzheimer, penyebab kematiannya yang paling
sering adalah infeksi dan aspirasi. Selain itu dapat juga terjadi kematian karena
malnutrisi, emboli paru, dan penyakit jantung.

12