Anda di halaman 1dari 24

Bab I

PENDAHULUAN

Latar belakang

Dunia Barat mengklaim bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang telah diraih
selama berabad-abad merupakan akibat langsung dari terpisahnya agama dari kehidupan
praktis manusia dengan konsep pemisahan antara gereja dengan negara. Sepanjang
sejarah Eropa, kekuatan gereja telah banyak menindas dan memperlakukan rakyat dengan
semena-mena, sehingga tidak ada sedikit pun kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan
yang berhasil diraih. Oleh karena itu, agama dianggap tidak praktis, tidak fleksibel, dan
penuh dengan pertentangan sehingga dipandang sebagai penghambat perkembangan dan
kemajuan manusia.

Namun, hal ini berbeda dengan kenyataan yang dialami oleh umat Islam
terdahulu. Sejarah mencatat bahwa mereka telah mengukir zaman keemasannya dengan
terang dan gemilang. Pada abad ke-10, kemajuan sains dan teknologi serta peradaban
telah mencapai puncak kemajuan dan perkembangannya. Pada abad itu pusat-pusat
perkembangan sains telah muncul di berbagai tempat. Ada tiga tempat yang dapat
memicu perkembangan sains yang sangat gemilang, yaitu Timur Tengah Mesir, Pantai
Utara Afrika, dan Andalusia. Saat itu dunia Islam memiliki gaya hidup khas yang lebih
superior daripada dunia Barat. Baghdad, ibu kota Khilafah Abbasiyah yang tetap
merupakan kota terbesar dan merupakan kosmopolitan yang menjadi perantara antara
dunia Mediterania dan Hindu-Cina di Timur.

Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa pemerintahan Islam tersebut antara


lain karena adanya definisi yang jelas tentang ilmu pengetahuan (science). Islam
membedakan dua wilayah bahasan yang berkaitan dengan pengetahuan. Wilayah pertama
berkaitan dengan urusan-urusan kemanusiaan yang mencakup politik, sosial, ekonomi,
hukum, peribadahan, dan lainnya. Wilayah kedua berkaitan dengan ilmu pengetahuan
murni.

Pada wilayah pertama, pengetahuan harus bersumber dari wahyu (kitab suci
Allah). Wahyu menyuruh dan memerintahkan seluruh umat Islam untuk mengembalikan
seluruh persoalan hanya kepada Allah (Al- Qur’an). Ada pun wilayah kedua bersifat
terbuka, yaitu yang berkaitan dengan ilmu murni (pure science), yang dihasilkan dari hasil
olah pemikiran dan pemahaman manusia terhadap alam semesta. Ilmu pengetahuan ini
tidak berkaitan dengan pandangan hidup seseorang, baik kapitalisme, Budhaisme,
Kristianisme, maupun Islamisme.

1
Dengan pembagian dan definisi tersebut, umat Islam pada masa pemerintahannya
di masa silam mampu meraih kemajuan dalam semua bidang ilmu pengetahuan yang ada
masa itu, bahkan mampu menjadi pionir dalam mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan
yang baru. (salim, 2010)

Rumusan masalah

Dalam makalah ini masalah yang akan dibahas diantaranya :

1) Apa itu geodesi ?


2) Bagaimana peran ilmu geodesi dalam ibadah haji ?
3) Bagaimana peran ilmu geodesi dalam pembuatan peta dunia ?
4) Bagaimana peran ilmu geodesi dalam pertambangan ?
5) Siapakah tokoh muslim yang ahli geodesi ?
1. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk :
1) Mengetahui apa itu geodesi
2) Mengetahui apa peran ilmu geodesi dalam ibadah haji
3) Mengetahui apa peran ilmu geodesi dalam pembuatan peta dunia
4) Mengetahui apa peran ilmu geodesi dalam pertambangan
5) Mengetahui sispskah tokoh muslim yang ahli geodesi

2
PEMBAHASAN

1. Geodesi

Sebelum mengetahui lebih dalam terhadap peran ilmu dalam dunia nyata, alangkah
baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu geodesi. Geodesi adalah bidang ilmu
inter-disiplin yang menggunakan pengukuran-pengukuran pada permukaan Bumi serta
dari wahana pesawat dan wahana angkasa untuk mempelajari bentuk dan ukuran bumi,
planet-planet dan satelitnya, serta perubahan-perubahannya;menentukan secara teliti
posisi serta kecepatan dari titik-titik ataupun objek-objek pada permukaan bumi atau yang
mengorbit Bumi dan planet-planet dalam suatu sistem referensi tertentu; serta
mengaplikasikan pengetahuan tersebut untuk berbagai aplikasi ilmiah dan rekayasa
menggunakan matematika, fisika, astronomi, dan ilmu komputer.

Berdasarkan definisi terkini Geodesi yang diberikan oleh IAG, bidang kajian utama
geodesi penentuan posisi, penentuan medan gaya berat, dan variasi temporal dari
posisi dan medan gaya berat, dimana domain spasialnya adalah Bumi beserta benda-
benda langit lainnya. Setiap bidang kajian di atas mempunyai spektrum yang sangat luas,
dari teoretis sampai praktis, dari bumi sampai benda-benda langit lainnya, dan juga
mencakup matra darat, laut, udara, dan juga luar angkasa. (iping, 2012)

Sejak zaman dahulu, Ilmu Geodesi digunakan oleh manusia untuk keperluan navigasi.
Secara signifikan, kegiatan pemetaan bumi sebagai bidang ilmu Geodesi telah dimulai
sejak banjir sungai nil (2000 SM) oleh kerajaan Mesir Kuno. Perkembangan Geodesi
yang lebih signifikan lagi pada saat manusia mempelajari bentuk bumi & ukuran bumi
lebih dalam oleh tokoh Yunani, Erastotenes yang dikenal sebagai bapak geodesi. Hingga
teknik geodesi dijadikan sebagai disiplin ilmu akademis hampir disetiap negara. Saat ini,
dikarenakan kemajuan teknologi informasi, cakupan ilmu geodesi semakin luas.
(hernawati, 2012)

3
2. Peran geodesi dalam ibadah haji

Pergi haji maupun perdagangan didalam kerajaan Islam yang luas telah memerlukan
komunikasi-komunikasi. Tiap-tiap saat surat-surat telah berangkat untuk sesuatu tempat
yang dituju atau lain. Khalifah Umar biasa telah mengumumkannya didalam kota besar
sehingga surat-surat pribadi dapat juga dikirimkan didalam waktunya melalui kurir-kurir
resmi. Para Direktur pos-pos telah menyediakan pimpinan-pimpinan perjalanan, yang
penerbitannya selalu disertai dengan lebih kurang gambaran ekonomi historis (historico-
economic) yang terperinci dari masing-masing tempat, nama-nama tempat sering diatur
secara alfabetis. Ilmu bumi karangan Claudius Ptolomeaus (ahli ilmu bumi bangsa Greek
abad II yang hidup di Alexandria)telah diterjemhkan kedalam Bahasa Arab, dan demikian
pula karya-karya para pengarang India. Cerita perjalana-perjalanan darat dan laut telah
meningkatkan pengetahuan orang umum setiap hari. Keragaman-keragaman data telah
merintangi semua kemungkinan Chauvinism : seseorang telah dapat meletakkan segala
sesuatu kepada pengujian dan percobaan yang praktis. Dialog Abu Hanifah (wafat 767)
yang terkenal : seorang Mu’tazilah telah bertanya kepadanya di manakah pusat bumi, dan
telah dijawab : “Ditempat yang terang dimana engkau sedang duduk!” Jawaban ini bukti
tertentu bahwa pembicara telah bermaksud untuk menyampaikan bahwa bumi adalah
bulat. Juga peta-peta dunia terdahulu yang disiapkan oleh orang Islam, menggambarkan
bumi didalam bentuk yang bulat. Pembuatan peta Ibn Hauqal (kira-kira tahun 975),
umpamanya, tidak menunjukkan kesukaran sama sekali untuk mengenal negara-negara
Laut Tengah atau Timur Dekat. Peta al-Idrisi, yang disiarkan untuk Raja Roger dari Sicili
(1101-54), mengagumkan kita karena sangat tepat dan seksamanya; ia menandai pula
sumber-sumber sungai Nil. Seseorang harus mengingat bahwa peta-peta orang Islam
Arab menunjuk keatas untuk selatan, utara menjadi kebawah. Perjalanan-perjalanan laut
mengharuskan daftar garis-garis bujur dan garis-garis lintang maupun penggunaan alat-
alat pengukur tinggi bintang atau alat-alat pelayaran lain. Beribu-ribu uang logam Islam,
yang ditemukan didalam penggalian-penggalian di Skandinavia, Finlandia, Rusia, Kazan,
dan sebagainya, menunjukkan dengan pasti kegiatan perdagangandari para pemimpin
kafilah Islam sejak abad-abad pertengahan. Ibn Majid, yang telah bekerja sebagai

4
pengemudi Vasco da Gama sejauh India, berbicara tentang kompas sebagai suatu barang
yang sudah dikenal. Para pelaut Islam mengagumkan kita dengan kecakapan dan
pengalaman mereka didalam pelayara-pelayaran mereka dari Basrah (Irak) sampai ke
China. Kata-kata admiral (laksamana), cable (kabel, kawat), monsoon (musim), douane
(duane), tariff (tarif), yang semuanya berasal dari Arab, adalah bukti kuat tentang
pengaruh Islam pada kultur Barat Modern. (Hamidullah, 1974)

Ibadah haji yang dilakukan kaum muslimin setiap tahun mendorong penelitian di kaum
muslimin. Kaum muslimin menganggap Makkah sebagai titik pusat dunia dan berusaha
menemukan jalan, arah dan jarak dari kota-kota ke titik pusat itu. Di samping itu
diperlukan juga menemukan arah kiblat yang benar dari setiap tempat menuju menuju ke
Makkah sehingga kaum muslimin akan dapat bersembahyang setiap hari dengan tepat
menghadap kearah Makkah. Ketika pengaruh dan keimanan kaum muslimin meluas
sampai ke tempat-tempat yang jauh di belahan bumi sebelah utara, di timur, di barat, dan
selatan, usaha untuk menemukan jarak dan lokasi tiap daerah kearah Makkah menjadi
lebih diperlukan lagi.

Hal ini mendorong untuk menentukan titik / garis bujur dan garis lintang dari ratusan kota
secara lebih teliti dan tepat dari sebelumnya. Penciptaanjarum kompas juga
dimungkinkan oleh karena adanya dorongan keperluan ini untuk menemukan arah kiblat
yang benar dari bagian-bagian dunia lainnya. (Rahman, 1989)

5
3. Peran geodesi dalam peta dunia

Jika Anda ditanya siapa penemu benua Amerika? Tentu jawaban yang terlintas adalah
Columbus. Pria penjelajah dari Spanyol yang lahir di tahun 1451 dan memiliki nama
lengkap Christopher Columbus ini oleh para siswa dan guru sangat dikenal sebagai pelaut
dan pedagang yang pertama kali menemukan benua tersebut. Namun apakah itu benar?
Ternyata tidak.

Catatan berbagai sejarah dan penemuan-penemuan yang berhasil dikumpulkan oleh para
sejarahwan terungkap bahwa telah banyak orang-orang yang berprofesi sama dari Negeri
Eropa juga pernah mengekspansi dagangannya ke benua tersebut. banyak sejahrawan
pula yang berdebat bahwa para pedagang dari Negeri Chinalah yang pertama kali
mendaratkan kakinya di benua Paman Sam tersebut pada abad ke-11.

Namun terlepas dari bukti-bukti dan perdebatan yang panjang, tahukah Anda bagimana
mereka bisa berjalan-jalan dan menyeberangi lautan yang maha luas tersebut. Jawaban
sederhananya tentu saja dengan berbekal peta dan penunjuk arah mereka bisa
menyeberangi lautan. Dari perjalanan mereka tersebut maka tersingkaplah peta-peta yang
terus berevolusi berdasarkan pengamatan para pelaut yang terus turun temurun. Dan
untuk pertama kalinya peta dunia terlengkap dibuat pada tahun 1513.

Adalah karya seorang pelaut Piri Reis yang membuat para peneliti dan sejahrawan
terkagum-kagum. Tidak hanya kagum dengan bagimana hasil pemetaan tersebut dapat
digambarkan, akan tetapi para ahli satelit sendiri pun merasa terkejut dengan model
pemetaan yang dibuat oleh tokoh Muslimin tersebut.

Bagimana tidak, peta yang dibuat diatas sepotong kulit rusa berukuran 90×65 centimeter
tersebut benar-benar digambarkan lengkap dan cukup detail. Bahkan hasil perbandingan
dengan pemotretan dari angkasa luar yang dilakukan menggunakan satelit saat ini
memiliki bentuk yang sangat mirip.

Mulanya para sejahrawan tidak percaya akan bukti keberadaan peta tersebut. Di peta yang
terlihat jelas hanyalah kawasan Laut Timur Tengah. Sementara kawasan lainnya seperti

6
benua Afrika dan Amerika sama sekali tergambar sangat berbeda. Baru setelah gambar
hasil pemotretan satelit jaman modern ini dipadukan dengan peta kuno karya muslimin
bangsa Turki tersebut sangat nyata kebenarannya bahwa gambar yang ditorehkan dalam
kulit tersebut memang sangat detail dan terperinci.

Peta asli dipadukan dengan peta masa kini dari satelit, sangat akurat dan sempurna

Peta asli jaman dahulu, dibuat tanpa bantuan satelit

Penemuan kuno tersebut memberikan bukti bahwa memang ilmu kemajuan jaman dahulu
sudah sangat maju dalam bidang astronomi. Entah bisa disangkal atau tidak akan tetapi
bukti-bukti lain beserta keajaiban dunia yang ditinggalkan masa pemerintahan masa lalu
menunjukkan bahwa ilmuwan pada masa itu menguasai ilmu pengetahuan dengan sangat
baik dan bisa menyamai peralatan canggih yang dimiliki oleh manusia jaman modern saat
ini.

7
Meski sejahrawan masa sekarang tidak mengetahui bagaimana Piri Reis bisa
menggambarkan peta dunia tersebut dengan sangat akurat, namun Piri Reis
mengungkapkan semasa hidupnya bahwa peta tersebut berhasil ia buat dari penyatuan
beberapa peta yang dibuat oleh para pelancong dari berbagai negara. Ia menyebutkan
menggunakan 34 sumber yang berbeda. Karya tersebut berasal dari jaman Alexander
sebanyak 20 peta, 8 peta dari karya ahli geografi Muslim, 4 peta dari Portugis dan 1 peta
dari Columbus. (Muslim, Ilmuwan muslim pencipta peta dunia pertama, 2011)

4. Peran geodesi dalam pertambangan (ma’adin)

Islam sebagai agama yang yang sempurna yang telah diberikan Tuhan kepada
umat manusia sebagai rahmatan lil alamin. Islam memiliki kitab suci yang telah dijamin
kesempurnaannya dan senantiasa dijaga oleh Allah yakni, Al-Quran. Al-Quran
diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk menyempurnakan
kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan didakwahkan kepada umat manusia
sebagai sumber utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari manusia.

Al-Quran sebagai kitab yang sempurna mengatur dan menceritakan segala sesuatu
yang berhubungan dengan hidup manusia baik saat sekarang, yang telah lalu dan yang
akan datang. Al-Quran membahas proses kejadian manusia hingga apa yang akan
menjadi rezeki bagi manusia agar dapat menjalani hidupnya di Dunia. Salah satunya
mengenai dunia pertambangan.

Perintah iqra (membaca) dalam Al-quran sesungguhnya tidak terbatas hanya


untuk orang-orang Islam, tetapi juga bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, Al-
Qur`an adalah rahmat bagi umat manusia, tidak dibatasi hanya untuk umat Islam.

Ketika kita membicarakan ilmu pengetahuan di dalam konteks Islam, maka terasa
ada hal yang samar-samar dan kurang jelas. Sikap kita selama ini mendua dan kadangkala
tidak konsisten antara pendekatan ilmiah, rasional, objektif, dan sikap meloncat kepada
kesimpulan normatif, ideal, dan sikap mensakralkan ilmu keislaman sebagai informasi
yang telah baku dan pasti.

Pandangan bahwa ajaran Al-Qur`an sudah komplit cenderung mengabaikan


eksploirasi keilmuan, dan kalau terjadi lalu dianggap ilmu sekuler. Karena sudah komplit,
untuk apa kita berpikir. Yang penting bagi kita adalah mengikuti saja apa yang di dalam
Al-Qur`an.

8
Kita tinggal menjalankan yang tertulis di dalam Al-Qur`an, tak perlu lagi bagi kita
untuk mengupas dan memperdalam kandungannya. Al-Qur`an memang mengenalkan
basic principle, selebihnya kita harus mencari sendiri. Banyak wilayah keilmuan yang
memang diserahkan kepada kita, sebagaimana dicontohkan pada uswah hasanah Nabi
Muhammad. Ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur`an hanya ayat lafdziyah yang sudah turun
berakhir pada Nabi Muhammad SAW.

Kita seharusnya memperhatikan perintah Al-Qur`an untuk lebih memperhatikan


ayah-ayat ijtimaiyah (sosial), ayat-ayat tarikhiyah (sejarah), ayat-ayat nafsiyah (jiwa).
Kita harus banyak belajar dari peristiwa kemanusiaan. Sayangnya selama ini kita belajar
hanya teks yang struktural. Mungkin kita tidak serius mendengar Alquran itu sendiri.

Al-Qur`an menyuruh kita untuk menafsirkan ayat-ayatnya melalui riset ilmiah.


Banyak istilah konseptual yang sulit ditangkap tanpa dukungan ilmu pengetahuan
modern. Misalnya tentang proses pertumbuhan janin dalam perut, statemennya baru
menjadi jelas setelah berkembang ilmu kedokteran modern.

Semua ayat Allah yang bertebaran di alam semesta tak akan terbaca kalau
seseorang tidak mampu menggunakan nalarnya untuk menganalisa dan merenungkan
asal-usulnya dan kehebatan penciptanya. Maka berkembanglah dalam tradisi pemikiran
Islam apa yang disebut ilmu mantiq (logika), ilmu kalam, filsafat, ilmu tafsir, dan ushul
fiqih yang dengan penalaran sistimatis ingin menangkap keberadaan dan kehendak Tuhan
melalui jejak-jejak karya dan kalam-Nya.

Bagi para sufi, mengenal dan mendekati Allah tidak bisa dengan jalan penalaran,
melainkan dengan matahati, dengan rasa (dzawq). Akal manusia itu terbatas, tidak bisa
menembus misteri alam gaib. Makanya Allah memberikan kalbu yang kedalamannya
berlapis-lapis.

Al-Quran sangat banyak memuat ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu


pertambangan, memuat masalah bahan-bahan galian ataupun kandungan dalam bumi
yang manusia pijak ini. Bahan-bahan galian yang berupa mineral dan batuan merupakan
objek utama dalam dunia pertambangan yang memiliki nilai ekonomis dibutuhkan
manusia dalam menjalani hidupnya di dunia sebagai perhiasan, sebagaimana firman
Allah swt dalam Quran Surah Ali 'Imran Ayat 14 :

9
Artinya : Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di
sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Pada ayat ini, Allah memberikan gambaran bahwa emas dan perak merupakan
salah satu keindahan dalam hidup manusia yang dicintai keberadaannya karena nilainya
yang tinggi. Emas dan perak merupakan salah satu bahan galian yang menjadi objek
dalam dunia pertambangan. Ini semua Allah ciptakan sebagai kesenangan hidup di dunia
bagi manusia.

Teknologi pertambangan sudah lama dikenal oleh dunia dan ternyata ilmuan
pertama yang mengembangkan teknologi pertambangan berasal dari ilmuan Islam.
Walhasil sebenarnya dunia pertambangan harus berterima kasih kepada Islam. Karena
dari kejeniusan berpikir para ilmuan Islam, dunia petambangan bisa maju pesat seperti
saat ini. Ilmuan islam dalam menjalani hidupnya menjadikan al-quran sebagai landasan
berfikir termasuk saat menemukan teknologi pertambangan yang sangat berhubungan
denga Quran. Wajar memang, jika dunia pertambangan Islam begitu maju. Karena jika
melakukan survey, negara-negara yang kaya akan sumber daya alam adalah negeri-negeri
kaum muslim. Cadangan minyak terbesar misalnya terdapat di daerah timur tengah. Lalu
bagaimana dengan Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Ada data
yang perlu semua ketahui tentang kekayaan alam Indonesia, misalnya :

• Kekayaan minyak di Aceh ternyata memiliki cadangan 17,1 triliun kubik gas. Dengan
kapasitas produksi 220 kargo atau 6,5 juta ton pertahun. Pembagian keuntungannya
Pertamina 55%, Exxon Mobil 30%, Japan Indonesia LNC (15%).

• Di Blok cepu cadangan minyak 781 juta barel. Produksi puncaknya 165 ribu barel perhari.
Dengan produksi seperti ini potensi pendapatannya 700 juta – 1,2 miliar US dollar.
Pembagian keuntungannya Exxon mobile 45%, pertamina 45 % dan sisnya dikembalikan
ke daerah.

• Di papua, cadangan emasnya terbesar kedua di dunia 86,2 juta ons emas, 32,2 juta ton
tembaga, 154,9 juta ons perak. Total produksi 25,8 juta ons emas dan 7,5 juta ton tembaga
sejak tahun 1988 – 2004. Pembagian keuntungannya Freeport (81,28%), PT. indocopper
investama (9,4%) dan pemerintah Indonesia (9,4%).

10
Kita belum berbicara potensi yang dimiliki oleh negeri-negeri kaum muslimin
yang ada di timur tengah. Bayangkan bagaimana seandainya institusi kekhilafahan masih
tegak dan seluruh negeri kaum muslimin bersatu dalam institusi tersebut? Tentu negara
Islam akan tampil sebagai negara adidaya.

Oleh karena itu, kaum muslimin dahulu terpicu semangatnya untuk melakukan
rekayasa teknologi dalam pertambangan. Namun sayang sejarah emas ini seolah-oleh
sengaja dipendam dari hadapan kaum muslimin.

Ilmuan muslim dulu yang merekayasa teknologi pertambangan tidak dipicu


dengan iming-iming materi tetapi mereka bergerak karena ada dorongan ruhiyah yang
begitu besar, dan semata-semata sebagai wujud pengabdian kepada Allah. Maka wajar
saja jika Allah menurunkan pertolongannya. Karena janji Allah dalam al-quran surah
Muhammad ayat 7 : siapa saja yang menolong agama Allah, maka Allah akan
menolongnya dan meneguhakan kedudukannya.

Ketika mencapai masa keemasannya, peradaban Islam menguasai pertambangan


aneka kekayaan alam. Dunia Islam dengan luas wilayah yang terbentang di tiga benua--
Asia, Afrika, dan Eropa--memiliki sumber daya alam yang melimpah. Tak heran jika pada
masa kekhalifahan Islam, industri pertambangan menjadi salah satu penopang kejayaan.

Salah satu bukti bahwa peradaban Islam telah menguasai aneka jenis
pertambangan ditandai dengan kata ma'din (bentuk jamaknya ma'adin) yang artinya
merujuk pada kata 'pertambangan'. Sedangkan kata mu'addin berarti "penambang".
Namun, dalam bahasa Arab modern untuk kata pertambangan menggunakan kata
manjam.

Sedangkan, ma'din atau ma'dan digunakan untuk 'logam' atau 'mineral'. Sejarah
pertambangan di dunia Islam tercatat dalam buku-buku geografi, buku-buku tentang
mineralogi, dan berbagai rujukan lainnya, ditambah lagi dengan penemuan arkeologis.
Aneka pertambangan yang telah dikembangkan umat Islam di era kekhalifahan, antara
lain, emas, perak, timah hitam, bijih tembaga, bijih seng, besi, baja, garam, tawas, dan
batu mulia.

Bijih logam dan mineral

11
Bijih logam dan mineral tercatat sebagai hasil tambang yang menduduki posisi
terpenting pada era itu. Hasil tambang berupa bijih besi, sangat dibutuhkan untuk
persenjataan. Peradaban Islam dikenal sangat menguasai teknologi pembuatan pedang
dan berbagai peralatan militer lainnya.

Berkat persenjataan yang canggih dan mutakhir pada zamannya, dunia Islam pun
menjadi adidaya. Selain untuk bahan persenjataan, bijih besi juga digunakan umat Islam
pada masa itu untuk membuat alat-alat pertanian, seperti cangkul, sekop, dan mata bajak.
Sedangkan, mineral digunakan masyarakat Islam untuk beragam kebutuhan sehari-hari.

Yang pertama menggagas senjata pemusnah massal adalah kaum muslimin


dimasa pemerintahan sultan Muhammad II atau yang sering disebut sebagai Muhammad
al faith. Pada saat itu kaum muslimin sudahmempunyai senjata yang berat pelurunya saja
sekitar 680 kg dan senjatanya digerakkan dengan menggunakan 200 ekor unta.
Subhanallah, begitu kuatnya tentara umat islam dulu.

Emas

Hasil tambang lainnya yang utama di masa kejayaan Islam adalah emas. Saat itu,
pertambangan emas ditemukan di beberapa wilayah, antara lain, Arab bagian barat,
Mesir, Afrika, dan beberapa negara Islam lainnya di bagian timur. Sebagai contoh,
pertambangan emas terdapat di Wadi Al-'Allaqi--sebelah timur hulu Sungai Nil--terletak
di Buja antara Ethiopia dan Nubia.

"Tambang tersebut berada di daerah gurun antara Sungai Nil dan Laut Merah,
kota terdekat dari tempat itu adalah Aswan di Sungai Nil dan 'Aydhab di Laut Merah,"
jelas Ahmad Y Al-Hasan dan Donald R Hill dalam bukunya Islamic Technology: An
Illustrated History. Hasan dan Hill dalam bukunya juga mengutip pernyataan Al-Biruni
yang menyebutkan, daerah pertambangan emas lainnya, seperti di selatan Sahara,
Senegal, daerah hulu Nigeria, dan Mali yang saat itu dikenal sebagai 'Maghrib Sudan'.
Sedangkan, ahli geografi Muslim dari Spanyol, Al-Idrisi, mengungkapkan, keberadaan
salah satu daerah pertambangan emas di daerah Wanqara, Nigeria. Daerah ini merupakan
pusat pertambangan terpenting untuk Nigeria. Saat itu, hasil tambang emas bisa ditukar
dengan garam, pakaian, ataupun komoditas lainnya.

Ini juga dapat dijadikan bukti bahwa daerah kekuasaan Islam mencapai daerah
Nigeria. Dan ketika Islam yang menguasai Nigeria ternyata daerah tersebut makmur
sentosa, sangat berbeda dengan saat ini.

12
Perak

Perak bisa ditambang secara terpisah ataupun bersamaan dengan bijih besi. Saat
itu, daerah penghasil tambang perak yang paling utama terletak di provinsi sebelah timur
negara Islam, misalnya Hindu Kush di Kota Panjhir dan Jaruyana, yang merupakan
wilayah yang bertetangga dengan Balkan. Bahkan, dalam sejarah tercatat ada sekitar 10
ribu penambang yang bekerja di Panjhir. Tambang perak juga dikenal di kawasan
Spanyol, Maghribi, Iran, serta Asia Tengah.

Timah Hitam

Tambang timah hitam pada masa keemasan bisa ditemukan di wilayah Islam,
seperti Spanyol, Sisilia, Maghribi, Iran, Mesopotamia Hulu, dan Asia Kecil. Timah hitam
ini diperoleh dari galena (timah sulfida), bahkan kadang-kadang bercampur perak.
Namun, hanya ada dua jenis timah yang penting dijadikan sebagi bahan mentah, yakni
cerrusite (timah karbonat) dan anglesite (timah sulfat).

Bijih Seng

Dalam bahasa Arab, bijih seng menggunakan kata tutiya, selain biasanya
digunakan juga kata calamine atau tutia. Kata tersebut khususnya digunakan untuk seng
karbonat dan seng oksida putih yang diperoleh ketika mengolah bijih alami.
Pertambangan ini bisa ditemukan di Provinsi Kerman di daerah timur dan ada pula di
daerah Spanyol.

Besi dan Baja

Tambang besi dan baja bisa ditemukan di seluruh wilayah Islam. Terdapat lima
wilayah utama tambang besi di wilayah Spanyol, antara lain, Toledo, Murcia. Sedangkan
di wilayah Maghribi terdapat 10 tempat utama, yakni di daerah Maroko, Aljazair, dan
Tunisia. Adapula, tambang di Jabal Al-Hadid di Aljazair dan Majjanat Al-Ma'dan di
Tunisia.

Tambang bijih besi juga diproduksi dan diekspor dari Sisilia. Selain itu, terdapat
pula di Gurun Libya serta di Distrik Fezzan, sebelah tenggara negeri itu. Di Mesir juga
terdapat tambang bijih besi di wilayah Nubia dan di pantai Laut Merah. Sedangkan Syria,
terkenal dengan metarulugi besi dan bajanya (baja Damaskus). "Provinsi Fars di Iran
mempunyai paling sedikit empat pusat tambang besi yang penting, sementara tambang

13
yang sama tersebar pula di Khurasan, Tracoxiana, Azerbaijan, dan armenia," kata Al-
Hasan dan Hill. Di Indonesia kita dapat menemukan berbagai wilayah yang kaya akan
bijih besi, misalnya di Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Tawas

Tambang tawas yang sangat terkenal berasal dari wilayah Yaman. Namun,
menurut Al-Idrisi, sumber tawas yang utama berada di Chad. Tawas-tawas tersebut
diekspor ke Mesir dan seluruh negara-negara Afrika Utara. Tapi, Mesir juga merupakan
pusat penghasil tawas dan natrium yang utama.

Batu Mulia

Al-Biruni dalam bukunya Al-Jamahir menjelaskan mineralogi serta batu mulia


dan seni pemotongannya. Batu rubi ditambang di Bazakhstan dan dibawa dari Sarandib.
Sedangkan, mutiara berasal dari Hindustan dan Sarandib (Sri Lanka). Batu onyx
ditemukan di Yaman dan zamrud serta lapis-lazuli dari Nishapur. "Penyelaman untuk
mencari mutiara menjadi pekerjaan yang juga berkembang pesat, sementara batu koral
diperoleh dari pantai-pantai Afrika Utara dan Sisilia," kata Al-Hasan dan Hill. N desy
susilawati.

5. Tokoh muslim yang ahli geodesi

Selain memiliki kandungan alam yang besar ternyata dunia Islam juga punya
ilmuan tambang yang tidak usah lagi diragukan ke geniusannya mereka itu antara lain:

Al-Biruni

Dia adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam seluruh sejarah manusia. Begitulah,
AI Sabra menjuluki Al-Biruni, ilmuwan Muslim serbabisa dari abad ke-10 M. Bahkan
dunia barat pun mengakui kehebatan al-biruni.Bapak sejarah sains Barat, George Sarton,
pun begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu.
''Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat
sepanjang zaman,'' kata Sarton.

Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mengatakannya sebagai seorang
ilmuwan yang agung. Sejatinya, Al-Biruni memang seorang ilmuwan yang sangat
fenomenal. Sejarah mencatat, Al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji

14
dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens
mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.

Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam


aspek tentang India, Al-Biruni pun dinobatkan sebagai Bapak Indolog studi tentang India.
Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia, itu juga dinobatkan sebagai Bapak
Geodesi. Di era keemasan Islam, Al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu
cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi.

Dalam kitabnya berjudul Kitab al-Jawahir atau Book of Precious Stones, Al-
Biruni menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasikan setiap mineral berdasarkan
warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.

Pada suatu malam tanggal 24 Mei 997, pria berusia 23 tahun itu berdiri di luar kota
Kath yang terletak di sungai Oxus di Asia Tengah, menunggu gerhana bulan dimulai.
Ratusan mil dari sana, orang lainnya bernama Abul Wafa (w. 997 atau 998) sudah
menunggu mulainya gerhana bulan yang sama di Baghdad. Kedua orang tersebut telah
bersepakat menggunakan gerhana bulan sebagai sinyal waktu untuk menghitung
perbedaan panjang busur antara Kath dan Baghdad. Nama orang yang pertama adalah
Abu Rayhan Al-Biruni. Ia lahir pada tanggal 4 September 973 di Khwarizm (sekarang
di Uzbekistan) dan meninggal di Ghazna (kini Ghazni, Afganistan) sekitar 1050.
Tempat lahirnya berada di lingkungan Kath yang terletak di tepi timur sungai Oxus
(nama lokalnya adalah Amu Darya) berada di timur laut Khiva. Jurjaniyya (di
Turkmenistan) sebuah kota utama dari wilayah barat laut Khiva yang terletak di
seberang sungai. Al-Biruni menghabiskan banyak waktu di Jurjaniyya selama awal
hidupnya dan mulai melakukan pelatihan ilmiah pada usia dini. “Dia telah mempelajari
astronom dan matematikawan terkemuka Khwariziam bernama Abu Nashr Mansur.
Pada usia tujuh belas ia menggunakan cincin pengukur derajat untuk mengamati
meridian surya di ketinggian Kath, sehingga dapat menyimpulkan garis lintang bumi”
(Kennedy, 1980:147-58).

Seperti kebanyakan orang terpelajar pada masanya, Al-Biruni tertarik dalam berbagai
macam disiplin pengetahuan, termasuk astronomi, astrologi, matematika terapan,
farmakologi, dan geografi. “Dia tidak lemah dalam filsafat dan disiplin ilmu spekulatif
lainnya, tapi memiliki ketertarikan luar biasa terhadap studi fenomena yang dapat
diamati, yaitu mengenai alam dan manusia. Dalam ilmu-ilmu itu sendiri, ia tertarik
dengan bidang-bidang matematika analisis. Sekitar setengah dari total karyanya dalam
bidang astronomi, astrologi, dan bidang yang terkait lainnya; dalam sains ilmu pasti ia
memiliki keunggulan tersendiri” (Kennedy, 1980:151-52). Pria ini dihormati oleh
orang-orang sezamannya dengan gelar kehormatan “Master” (Al-Ustadz), tetapi “tidak
diketahui oleh abad pertengahan Barat, kecuali dengan nama Maitre Aliboron”
(Kennedy, 1980:156). Ia telah meninggalkan sembilan belas karya pada bidang

15
geografi, geodesi, dan teori pemetaan yang direferensikan dalam berbagai karya
lainnya.

Karya Al-Biruni dalam bidang geografi ditulis pada saat ilmu ini sudah mapan di dunia
Muslim. Berbagai karya pra-Islam dari ahli geografi Mesir, India, Yunani, dan Persia
telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab atau sedang diterjemahkan pada waktu itu.
Saat itu adalah waktu penemuan dan ekspansi besar. Berbagai teknik baru seperti
pembuatan kapal laut untuk perjalanan laut yang lebih aman sedang dikembangkan.
Pedagang Muslim, ilmuwan, ulama, dan pendeta melakukan perjalanan panjang melalui
rute kuno perdagangan; kota-kota baru didirikan dan eksis, dan ada minat besar dalam
pencatatan dan otentikasi koordinat geografis dari tempat yang jauh. Setidaknya
beberapa kepentingan dalam geografi ini didorong oleh persyaratan keagamaan seperti
haji sebagai perjalanan ziarah tahunan ke Makkah. Banyak ahli geografi pada waktu itu
merupakan sejarawan, astronom, ahli matematika, dan cendekiawan agama. Abu
Rayhan Al-Biruni adalah contoh yang sangat baik sebagai seorang ilmuwan, sepertinya
sampai hari ini hasil karyanya masih eksis berjudul The Book of the Determination of
the Coordinates of Positions for the Correction of Distance between. Di dalamnya berisi
informasi tidak hanya mengenai geografi tetapi juga kosmologi, sejarah, praktek agama,
kebiasaan sosial, situasi politik dan ekonomi, hubungan antara ilmuwan, perdebatan
antara ilmuwan dan sarjana di zamannya, dan banyak bidang lainnya (Al-Biruni terj.
1967)

Al-Biruni tidak membatasi bidang yang ditulisnya; pekerjaan ilmiah layaknya milik
sendiri, risalah geografis muncul dari tradisi yang sudah melewati banyak perubahan
besar sejak kemunculannya dalam peradaban Islam. Pada waktu perkembangan Islam,
orang Arab punya pengetahuan praktis tentang wilayah geografis di mana mereka
melakukan perjalanan atau dari di mana para peziarah datang ke Makkah. Mereka juga
memiliki konsep umum sifat Bumi yang telah menjadi bagian dari cerita rakyat selama
berabad-abad.

Namun pengetahuan ini menjadi tidak memadai karena alasan agama maupun praktis.
Aspek agama menjadi tidak memadai (namun tidak sepenuhnya) karena turunnya ayat
tertentu Al-Quran yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad kira-kira enam belas
bulan setelah migrasi ke Madinah. Ayat ini (QS. 2:144) terkadang disebut ayat
“perubahan kiblat”, “Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja
kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya”. Persyaratan agama yang mengikat
ini berupa menghadap Kabah ketika shalat wajib lima kali sehari telah melahirkan
dimensi baru geografi. “Geografi suci” ini—kadang-kadang disebut begitu—(King,
1999:51) adalah ranting keseluruhan geografi Islam yang mendorong pengembangan
sejumlah kesatuan ilmu seperti matematika, trigonometri, kartografi, dan geografi
matematis. Penentuan arah kiblat ketika berada Madinah mudah sekali, karena semua
orang tahu bahwa arahnya sebelah selatan dari Makkah. Tapi begitu tentara Muslim
mulai melintasi perbatasan Saudi menjadi masalah yang mendesak. Bayangkan bila
tentara Muslim tiba di sebuah kota terpencil di Iran, setelah melewati berbagai gunung,
bukit, dan padang pasir mereka kehilangan arah apa pun dari pergerakan matahari dan

16
bintang-bintang. Tentara-tentara ini mempunyai kebutuhan mendesak, sebelum shalat
wajib mereka perlu mengetahui arah Kabah. Apa yang bisa mereka lakukan?

Solusi awalnya adalah perkiraan. Selama abad ketujuh dan kedelapan, ketika masjid
baru dibangun di kota-kota seperti Marv di Asia Tengah dan Sevilla di Al-Andalus
(Spanyol), Muslim tidak memiliki metode ilmiah untuk menemukan arah Kabah yang
benar dan hanya bergantung pada hasil astronom secara umum. Mereka bercerita bahwa
dasar empat persegi panjang dari Kabah itu selaras astronomis dengan sumbu utama
menunjuk terbitnya bintang Canopus, sumbu minor menuju terbitnya bulan pada
pertengahan musim panas dan pada pertengahan musim dingin (King, 1999:49). Dari
abad kesembilan dan seterusnya, pemakaian metode ilmiah mulai muncul. (birch, 2011)

Kebutuhan untuk menentukan kiblat itu bukan satu-satunya alasan umat Islam untuk
mengembangkan minat dalam bidang geografi dan ilmu serumpun lainnya. Di dalam
narasi Al-Quran disebutkan beberapa negara kuno yang telah terjadi mendapat murka
Allah karena terus-menerus menentang nabi yang datang untuk membimbing mereka.
Ketika menaklukkan daerah baru dan menemukan peninggalan-peninggalan tua, umat
Muslim berusaha untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang disebutkan dalam Al-
Quran. Penelitian geografis ini menjadi bagian integral dari penafsiran terhadap Al-
Quran. Al-Quran juga menyebutkan gunung tertentu (misalnya, gunung tempat perahu
Nuh mendarat; gunung tempat Musa dipanggil oleh Tuhan; gunung Tur yang diberkati),
tujuh langit, dan tujuh Bumi. Patunjuk-petunjuk ini secara tidak langsung menginspirasi
bagi munculnya cabang-cabang geografi yang berkaitan dengan bentuk, luas, dan
topografi Bumi.

Jadi, pada masa Al-Biruni sudah ada beberapa sekolah yang mengembangkan pemikiran
yang digunakan sebagai kerangka penelitian untuk mempelajari Bumi dan fitur-fiturnya.
Terjemahan membawa perspektif yang lebih segar. Selama pemerintahan Khalifah Al-
Mansur pada masa Dinasti Abbasiyah, risalah Surya Siddhanta dalam bahasa
Sansekerta diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pekerjaan lain yang cukup besar
pengaruhnya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab saat itu adalah Aryabhatiya
karya Aryabhata dari Kususmapura (lahir tahun 476), di situ penulis mengusulkan rotasi
harian langit merupakan fenomena yang disebabkan oleh rotasi bumi pada sumbunya,
dan lebih lanjut dikatakan bahwa proporsi air dan tanah di permukaan bumi adalah sama
(Ahmad, 1991:577). Pengaruh awal lainnya yang dominan datang dari Persia dengan
mengemukakan gagasan tujuh kishwar (Haft Iqlim). Dalam skema ini, dunia dibagi ke
dalam tujuh lingkaran geometris yang sama, masing-masing mewakili sebuah kishwar.
Literatur maritim Persia juga berpengaruh dalam pengembangan studi geografis dalam
tradisi Islam.

Dengan munculnya terjemahan Geography karya Claudius Ptolemeus ke dalam bahasa


Arab, pengaruh Yunani menjadi jelas. Karya Ptolemeus ini beberapa kali diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab selama periode Abbasiyah, dan setiap kalinya muncul terjemahan
dengan kritik baru.

17
Ketika domain Muslim diperluas, data-data baru juga telah ditambahkan. Selain karya
Ptolemeus, Geography karya Marinos dari Tirus (70-130 M), Timaeus karya Plato,
Meteorology, De Caelo, dan Metaphysics karya Aristoteles juga mempengaruhi
perkembangan bidang geografi di dunia Muslim. Gerakan terjemahan menghasilkan
banyak kegiatan dan pada awal abad kesembilan ilmu geografi sudah mapan. Hal ini
mendapat dorongan lebih lanjut dari Khalifah Al-Mamun yang memiliki ketertarikan
pribadi dalam bidang geografi. Selama kekuasaannya, “dilakukan pengukuran lengkung
meridian (memberi hasil 562/3 mil Arab sebagai panjang derajat busur, sebuah nilai
yang sangat akurat); tabel astronomi yang disebut al-Zidj al-Mumtahan (The verified
tables) telah disusun. Lahirlah Peta Dunia yang disebut al-Surat al-Ma’muniyya”
(Ahmad, 1991:578)(the making of islamic science, 2007).

Al-Idrisi

Ilmuwan tersohor yang banyak mengamati perkembangan dunia pertambangan di


dunia Islam itu, bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad Ibnu Al-Idrisi Ash-Sharif.
Ia dikenal sebagai seorang ahli kartografi dan ahli geografi. Al-Idrisi terlahir di Ceuta,
Maroko, Afrika Utara, pada tahun 1100 M. Dia dikenal juga dengan nama singkat, Al-
Sharif Al-Idrisi Al-Qurtubi. Orang Barat memanggilnya dengan sebutan Edrisi atau
Dreses.

Al-Idrisi merupakan ilmuwan Muslim yang mendapatkan pendidikan di Kota


Cordoba, Spanyol. Sejak muda, dia sudah tertarik dengan studi geografi. Laiknya ahli
geografi kebanyakan, Al-Idrisi juga sempat menjelajahi banyak tempat yang jaraknya
terbilang jauh, meliputi Eropa dan Afrika Utara. Dia sempat mengembara ke Prancis,
Spanyol, Portugal, Inggris, dan negeri lainnya di belahan Benua Eropa. IM mungkin yang
kita tahu para penjelajah dunia itu seperti Marcopolo, cristopher kolombus, namun kita
lupa jika umat Islam juga punya penjelajah dunia seperti Idrisi.

Dia mengembara untuk mengumpulkan data-data tentang geografi. Pada masa itu,
para ahli geografi Muslim sudah mampu mengukur permukaan bumi secara akurat serta
peta seluruh dunia. Sebagai ilmuwan yang cerdas, Al-Idrisi mengombinasikan
pengetahuan yang diperolehnya dengan hasil penemuannya. Itulah yang membuat
pengetahuannya terhadap seluruh bagian dunia sangat komprehensif. Pengetahuannya
yang luas tentang geografi dan kartografi membuat Al-Idrisi dikenal dunia. Para navigator
laut dan ahli strategi militer pun begitu tertarik dan menaruh perhatian terhadap pemikiran

18
Al-Idrisi. Dibandingkan ahli geografi Muslim lainnya, figur dan hasil karya Al-Idrisi
lebih kesohor di Benua Eropa. Al-Idrisi meninggal pada tahun 1160 M di Sicilia.

Ia banyak menghasilkan karya berupa buku-buku dalam bidang tersebut, di


antaranya buku pengantar bertajuk Geography. Seiring waktu, pada 1154 M, Al-Idrisi
juga membuat bola peta (globe) atau yang dikenal sebagai Tabula Rogeriana.

IM jika kita ingin kembali menguasai peradaban dunia maka tidak ada jalan lain
kecuali kembali berislam secara kaffah. Mulai dari kehidupan pribadi harus sesuai dengan
syariat Islam,dalam pengaturan masyarakat harus selaras dengan Islam dan dalam
mengatur negara pun harus sesuai dengan Islam. Hanya dengan begitu Islam akan tegak
dan kaum muslimin kembali menjadi umat yang mulia. Dan sebentar lagi akan lahir
ilmuan-ilmuan muslim yang agamis dan intelek dari rahim Teknik Pertambangan,
Fakultas Teknologi Industri, Universitas Muslim Indonesia Makassar. Amiienn

Saatnya kita membuktikan bahwa kita adalah umat yang terbaik, umat yang akan
menguasai peradaban dunia,dan insya Allah tak lama lagi impian itu akan tercapai.

Berikut ayat yang berhubungan dengan pertambangan :

Surah Al A'raaf, Ayat 148 :

Artinya : Dan kaum Musa, setelah kepergian Musa ke gunung Thur membuat dari perhiasan-
perhiasan (emas) mereka anak lembu yang bertubuh dan bersuara. Apakah mereka tidak
mengetahui bahwa anak lembu itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak dapat
(pula) menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan)
dan mereka adalah orang-orang yang zalim.

19
Surah Ar Ra'd, Ayat 17 :

Artinya : Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah
menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang. Dan dari apa
(logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada
(pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi)
yang benar dan yang batil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada
harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Dari semua ini, sudah sangat jelas hubungan Al-Quran dengan pertambangan.
Ilmu pertambangan didapatkan dari al-quran dan saat menambang, penambangan
menjadikan quran sebagai panutan agar tidak salah dalam melakukan tindakan saat
mengambil hasil bumi sehingga tidak terjadi Bencana. (munir, 2013)

Banyak ahli geografi Muslim yang juga menjadi filsuf, matematikawan, astronom, dan
yang lebih penting lagi ahli dalam bidang agama. Misalnya, Al-Kindi menguasai

20
beberapa risalah geografi, astronomi, logika, metafisika, dan psikologi. Ilmuwan lain
yang menulis mengenai geografi selama abad kedelapan dan kesembilan adalah Al-
Fazari (abad kedelapan), Al-Khawarizmi (w. 847 M), Al-Farghani (w. 861 M), Al-
Balkhi (w. 886 M), dan yang paling penting Ibn Khurradadhbih (w. 911 M) yang
menghasilkan karya yang berjudul al-Masalik wa al-Mamalik (Highways and
Countries) ditulis pada tahun 846 M dan direvisi pada tahun 885 M. Ibn Khurradadhbih
adalah Direktur Departemen Pos dan Intelijen di Baghdad, pekerjaan ini memberinya
kesempatan untuk melakukan perjalanan dan menemukan banyak bahan geografis.

Karena pekerjaan cemerlang dari ahli-ahli geografi pada abad kedelapan dan
kesembilan, maka muncul dua kategori yang berbeda: yang pertama berhubungan
dengan munculnya ilmuwan Muslim, yang kedua menggambarkan fitur geografis yang
dikenal di seluruh dunia. Karya jenis pertama termasuk informasi mengenai topografi
dan sistem yang berjalan di dunia Islam, sementara yang dihasilkan jenis kedua berupa
peta dan deskripsi umum seluruh dunia. Sangat menarik untuk didiskusikan bahwa tidak
semua pekerjaan dalam bidang geografi menggunakan sistem yang sama untuk
menggambarkan fisik, manusia, dan geografi ekonomi. Beberapa materi disajikan
dengan menggunakan arah kardinal sebagai referensinya, sementara yang lain
menggunakan sistem Persia Iqlim (region). Penggunaan sistem yang terakhir ini
mengambil Makkah sebagai pusat dunia. Termasuk kategori ini adalah karya-karya Al-
Istakhari (semester pertama abad kesepuluh), Ibnu Hawqal (pertengahan abad
kesepuluh), dan Al-Muqaddasi (w. 1000 M) dan mereka kadang-kadang dikatakan
berasal dari Sekolah Balkhi (diambil dari nama Ibn Sahl Al-Balkhi, w. 934 M). Sekolah
ini, “secara positif memberi warna Islam untuk geografi Arab”, (Ahmad, 1991:581) dan
memperkenalkan inovasi-inovasi seperti unsur perspektif dalam kartografi. Mereka juga
menjadikan Makkah sebagai posisi sentral dalam representasi geografis.

Informasi dan peta yang digunakan ahli geografi Muslim dalam buku-buku mereka
semakin meneguhkan penemuan-penemuan pertama. Banyak karya sebelumnya dari
Yunani, Persia, dan India yang dikoreksi oleh ahli geografi Muslim. Misalnya, Al-
Mas`udi “menjawab [teori] Ptolemeus mengenai keberadaan terra incognita di belahan
bumi selatan, Samudera Hindia diyakini dikelilingi oleh tanah pada semua sisi kecuali
di timur yang bergabung dengan bagian laut Pasifik. Dia diberitahu para pelaut dari
Samudra Hindia (al-bahr al-habashi) bahwa laut ini tidak memiliki batas ke selatan”
(Ahmad, 1981:172). Perjalanan-perjalanan ini menyediakan sumber informasi yang
bagus untuk ahli geografi. Ketika perjalanan maritim meningkat, maka banyak buku
baru yang ditulis untuk menggambarkan lautan dan pelayaran.

Dengan begitu membanjirnya data-data, maka pengerjaan ensiklopedia pun dimulai.


Termasuk di dalamnya geografi dunia, kamus geografi, literatur sastra yang
memberikan rincian lautan dan wilayah pesisir, kompilasi khusus berbagai wilayah, dan
catatan perjalanan umum. Untuk kategori terakhir yang paling terkenal adalah The
Travels of Ibn Jubayr (w. 1217 H) dan Ibn Battuta (w. 1377 H). Abu Al-Fida (w. 1331
M) telah meninggalkan sebuah karya luar biasa yang disebut Taqwim al-Buldan, sebuah
geografi umum dengan prolog yang menarik, di dalamnya disertai pengamatan seperti

21
keuntungan atau kerugian ketika melakukan perjalanan dunia serta deskripsi berbagai
sungai, danau, laut, dan gunung-gunung.

Salah satu ahli geografi terbesar pada abad kedua belas dan ketiga belas adalah Yaqut
Al-Hamawi (w. 1229 M). Dia keturunan Yunani yang semenjak kecil berada di
Baghdad. Ia menerima Islam, belajar bahasa Arab, dan menghabiskan sisa hidupnya
dengan melakukan perjalanan di dunia Muslim. Sebagai seorang terpelajar, Yaqut
meninggalkan banyak karya ensiklopedis yang empat di antaranya telah ditemukan. Di
antara karyanya adalah Mu`ajam al-Buldan yang klasik dan masih digunakan sebagai
referensi para ulama di dunia Muslim serta di Barat. Dengan pengaturan dalam urutan
abjad, Mu`ajam melestarikan kekayaan informasi tidak hanya posisi geografis, batas-
batas, dan koordinat tapi juga mengenai sarjana, seniman, dan ilmuwan. Pekerjaan
geografis Yaqut terkait erat dengan sejarah; dia juga sungguh-sungguh mempelajari
ortografi, karena bila salah sedikit saja dapat menyebabkan kesalahan yang besar.
Inspirasinya untuk mengkompilasi kamus geografis berasal dari Al-Quran, sebagaimana
yang ia tulis dalam pengantarnya (Al-Hamawi, 1959) (iqbal, science and islam, 2007)

Bagian barat Islam (al-Maghrib) secara khusus menghasilkan geografi berdasarkan


pengamatan asli, terjemahan, dan catatan perjalanan. Al-Idrisi (w. 1165 M) terkenal
karena Kitab Nuzhat al-Mushtaq fi al-Ikhtiraq al-Afaq yang ditulis atas permintaan dari
Roger II, yaitu Raja Norman dari Sisilia. Buku ini adalah kunci untuk mempelajari
perjalanan berdasarkan bintang yang telah disampaikan kepada raja dan selesai tahun
1154 M. Buku ini menggambarkan peta berbagai daerah dan enam jilid naskah
lengkapnya masih digunakan sampai sekarang.

Era Ottoman banyak menerjemahkan teks-teks Arab ke dalam bahasa Turki. Mereka
mengatur kembali naskah lama, mengoreksi informasi geografis, dan menambahkan
pengamatan baru. Misalnya, karya Abu Al-Fida Taqwim al-Buldan diterjemahkan ke
dalam bahasa Turki oleh Sipahizade Muhammad bin Ali (w. 1588 M) yang melengkapi
dan menata ulang naskah secara alfabetis. Ahli geografi Turki juga menghasilkan
literatur baru pada bidang geografi dan navigasi laut. Sayyidi Husayn bin Ali Ra`is (w.
1562 M)—juga dikenal sebagai Katib-e Rumi—menulis sebuah buku mengenai
Samudera Hindia yang berjudul Al-Muhit berdasarkan pengalaman pelaut Arab
Selatan—beberapa di antaranya pernah menjabat sebagai pemandu Vasco de Gama
dalam perjalanan ke Kalkuta (Taeschner, 1991:588). Piri Muhyi al-Din Ra`is (w. 1554
M) menghasilkan peta dunia pada tahun 1513 M berdasarkan sebagai sumber peta
penemuan-penemuan Portugis sampai tahun 1508 M, dan peta lain yang berisi
penemuan Christopher Columbus dalam perjalanan yang ketiga (1498 M). Dia
memperoleh peta ini dari pelaut Spanyol yang telah melakukan perjalanan dengan
Columbus ke Amerika selama tiga kali dan yang telah membawa tawanan Turki pada
tahun 1501 M di Valencia oleh paman Piri Ra`is sendiri yang bernama Kemal Ra`is
(Taeschner, 1991:588). Salah satu karya geografis yang paling komprehensif pada awal
abad ketujuh belas ditulis oleh Mustafa bin Abdallah yang dikenal sebagai Katib
Khelebi atau Haji Khalifah (1609-1657 M), setidaknya ia menggunakan satu sumber
Eropa berjudul Atlas Minor (1621 M) karya Gerhard Mercator (Taeschner, 1991:589).

22
Kartografi, sebuah ilmu mengenai pembuatan, konstruksi proyeksi, dan desain yang
menjadi kebutuhan dasar dunia Muslim generasi pertama ketika memperluas daerah.
Penaklukan-penaklukan daerah membutuhkan sistem administrasi baru untuk membuat
deskripsi secara terinci, dan peta awal muncul berdasarkan informasi dari tangan
pertama di daerah-daerah baru tersebut. Tradisi ini berawal dari dorongan langsung dari
persyaratan agama berupa kebutuhan menentukan kiblat.

Muslim telah menerima beberapa peta yang bersumber dari Yunani, India, dan Persia
ketika teks astronomi dan geografi dari bahasa-bahasa tersebut diterjemahkan ke dalam
bahasa Arab. Kita tidak memperoleh informasi rinci kapan peta dunia pertama dibangun
oleh Muslim, tetapi kita tahu bahwa tradisi pembuatan peta ini sudah ada di abad
kesembilan ketika sebuah peta dunia dibangun untuk Khalifah Al-Makmun (813-833)
yang dinamakan al–Surat al–Ma`muniyya; Al-Masu`di (w. 956) telah melihat dan
menyatakan sebagai berikut: “Itu (peta) menggambarkan alam semesta dengan bola,
bintang, tanah dan laut (wilayah dunia), permukiman penduduk, dan kota-kota”
(Ahmad, 1997:1078). Karya Al-Khawarizmi Kitab Surat al–Ard (The Book of the Shape
of the Earth) juga mengandung koordinat tempat (kota, sungai, gunung), dan naskah
aslinya berisi peta tetapi hilang entah kemana.

Setelah abad kesepuluh dikembangkan kartografi fitur Islam yang menunjukkan


pengaruh pandangan dunia Islam di berbagai bidang seperti politik, budaya serta
berbagai aspek ruhani Islam. Hal ini melahirkan suatu tradisi baru dalam geografi Islam
yang sudah disebutkan tadi—disebut Tradisi Balkhi yang merujuk kepada Abu Zaid
Ahmad bin Sahl Al-Balkhi (w. 934). Geografis karya Al-Balkhi Suwar al–Aqalim, di
situ ia menggambarkan fitur geografis dari dunia Muslim yang membagi masing-
masing provinsi berdasarkan iqlim. Karya Al-Balkhi disalin dan disempurnakan oleh
Al-Istakhari (w. 951). Kemudian disempurnakan lagi oleh orang yang sangat ahli dalam
bidang geografi, Ibnu Hawqal (w. 977) yang memetakan 22 peta termasuk peta dunia.

Tradisi baru kartografi Islam ini berbeda dari tradisi Yunani Muslim dalam banyak hal.
Kota suci Makkah menempati posisi sentral; selatan ditempatkan di atas sementara utara
di bawah, tidak diragukan lagi karena bentuk penghormatan yang ditunjukkan kepada
kota suci (Ahmad, 1997:1079). Selain aspek ilmiah dari peta, pertimbangan lain
mengenai aspek estetika khas Islam dan skema warna, bahan yang digunakan untuk
menggambar peta (berkisar antara kuningan sampai sutera halus), dan kesungguhan
yang berorientasi secara langsung kepada kiblat supaya terus-menerus mengingatkan
orang mengenai konsep Al-Quran “Jalan yang Lurus”. Geografi fisik ini berkaitan erat
dengan geografi suci non-fisik dan “di mana pun arah gunung, sungai, pulau, dll
menjadi simbol dari dunia surgawi” (Nasr, 1968:99). Dalam banyak kasus, para
ilmuwan mengatakan bahwa mereka diminta untuk mengamalkan ilmu mereka karena
kebutuhan religius suatu masyarakat, atau karena mereka merasa berkewajiban untuk
memperbaiki praktek tertentu yang salah. Bagian berikut merupakan cuplikan dari
Mu`ajam al-Buldan:

Buku ini berisi tentang nama-nama negara; mengenai pegunungan, lembah, dan
dataran; mengenai desa, rumah-rumah, dan tempat tinggal; mengenai laut, sungai, dan

23
danau; mengenai berhala, patung gambar, dan objek ibadah. Saya tidak menulis buku
ini atau mendedikasikan diri untuk menulis dalam semangat bermain-main atau
pengalihan. Saya tidak didorong oleh ketakutan atau keinginan; atau tidak digerakkan
oleh kerinduan akan kampung halaman; atau tidak atas permintaan orang yang
mencintai dan berbelas kasih. Sebaliknya, saya menganggap ini sebagai tugas diri
sendiri, dan saya mampu melakukan itu karena tertantang oleh kewajiban yang tak
terelakkan.

Saya dibuat sadar akan hal itu oleh Kitab yang besar dan mulia, dan dipandu oleh
Kabar Besar, Allah berfirman atas kemuliaan dan keagungan-Nya, ketika Dia ingin
mewujudkan makhluk-Nya, dengan tanda-tanda-Nya memberi peringatan dan supaya
bangkit dari rasa bersalah mereka dengan menjauhi penyebab turun murka-Nya yang
menyakitkan: Apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi? Dan
apakah mereka tidak memiliki hati untuk memahami, atau telinga untuk mendengar?
Tentunya atas hal-hal ini mata mereka tidak buta, tetapi hati yang di dalam dada
mereka buta.

Ini adalah teguran untuk orang yang telah melakukan perjalanan melalui dunia tetapi
tidak memperhatikan peringatan, dan untuk setiap orang yang telah merenungkan
perjalanan selama berabad-abad tetapi tidak melihat tanda-tanda keagungan-Nya (Al-
Hamawi, 1959:1-2). (malik, 2014)

KESIMPULAN

Ilmu Pengetahuan merupakan aspek terpenting dalam perkembangan peradaban. Dalam


Islam, ilmu pengetahuan mendapatkan perhatian serius sebagaimana terkandung dalam
ayat-ayat al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi. Pemaknaan dan pemahaman terhadap
kedua sumber itu yang menyebabkan perbedaan generasi umat Islam dari awal hingga
sekarang. Interptreasi itu pulalah yang menyebabkan gairah inteletual dalam lembaran
sejarah peradaban Islam mengalami fluktuasi. (Isnaeni, 2014)

24