Anda di halaman 1dari 10

Definisi

Borrelia adalah genus dari bakteri kelas


spirochaete. Spesies borrelia yang dikenal saat ini
ada 37 spesies. Borrelia recurrentis merupakan
sejenis spirochaeta gram negatif dan bersifat
anaerob yang dapat menyebabkan penyakit
Louseborne relapsing fever (LBRF) atau Demam
berulang. Penyakit ini merupakan salah satu
penyakit yang paling berbahaya yang dibawa oleh
Gambar bakteri B. recurrentis
arthropoda, yaitu Pediculus humanus subspesies
humanus sebagai vektornya. Sejak tahun 1800-an, kutu badan telah dikenal sebagai satu-
satunya vektor yang diketahui. Penyakit demam berulang bersifat endemik di berbagai tempat
di dunia. Karakteristik penyakit ini muncul sebagai epidemi apabila ditularkan oleh tungau,
sedangkan bersifat endemis apabila ditularkan melalui kutu.

B. recurrentis DNA ditemukan pada 23% dari


kutu kepala dari pasien dengan demam kambuh kutu yang
ditanggung di Ethiopia. Apakah kutu kepala dapat
menularkan bakteri ini dari satu orang ke orang lain tetap
harus ditentukan. Hal ini penting karena kemampuannya
untuk mengubah protein yang diekspresikan pada
permukaannya, yang menyebabkan karakteristik demam
kambuh.
Gambar kutu Pediculus Humanus

Beberapa spesies dari borrelia


 Borrelia afzelii  Borrelia hermsii
 Borrelia anserina  Borrelia recurrentis
 Borrelia burgdorferi  Borrelia valaisiana
 Borrelia garinii  dan lain-lain
Klasifikasi

Kingdom : Bacteria
Phylum : Spirochaetes
Classis : Spirochaetes
Ordo : Spirochaetales
Familia : Spirochaetaceae
Genus : Borrelia
Species : Borrelia recurrentis

Morfologi

Borrelia recurrentis berbentuk spiral tidak teratur, panjangnya 10-30 μm dan lebarnya
0,3 μm. Jarak antara putaran spiral berkisar antara 2-4 μm. Dapat bergerak aktif dan sangat
fleksibel, bergerak dengan rotasi atau membelit. B. recurrentis mudah diwarnai dengan zat
warna bakteriologik maupun dengan zat warna darah seperti Giemsa atau Wright. Bakteri ini
termasuk ke dalam jenis bakteri gram negatif.

Gambar Bakteri Borrelia recurrentis


Bakteri Borrelia recurrentis tidak dapat dikultur namun dapat di kembang biakan dengan
cepat pada embrio anak ayam ketika darah dari pasien di inkubasi ke dalam membran Chorio
Allantoic. Bakteri ini dapat berkembang biak pada pembenihan cair yang mengandung darah,
serum atau jaringan, namun dapat dengan cepat kehilangan sifat patogeniknya jika dipindah
biakkan berulang-ulang kali in vitro. Bakteri ini bersifat anaerob obligat dan memerlukan lipid
untuk pertumbuhannya, selain itu juga dapat memanfaatkan lisolesitin. Organisme ini dapat
bertahan hidup hingga beberapa bulan dalam darah yang terinfeksi pada suhu 40oC dan dapat
hidup bebas sebagai parasit (pathogen). Pada beberapa kutu (tetapi bukan lice), spiroketa
diwariskan dari generasi ke generasi. Reproduksi berlangsung secara tranversal dan ditularkan
oleh tuma/sengkenit. Variasi yang signifikan dari Borrelia tergantung dari struktur antigennya.
Antibodi berkembang didalam titer tinggi yang kental setelah infeksi oleh Borrelia.
Antibodi menghasilkan kinerja/fungsi yang utama sebagai faktor selektif yang memungkinkan
antigen untuk bertahan hanya dari varian yang berbeda secara antigen. Selama masa satu
infeksi saja struktur antigen organisme dapat berubah-berubah. Akibat perkembang biakan
varian antigen, maka penyakit ini sering mengalami kekambuhan (demam kambuhan),
sehingga inang harus memproduksi antibodi yang baru. Namun demam kambuhan pada
akhirnya dapat sembuh dengan total setelah mengalami kekambuhan 3 – 10 kali, hal ini terjadi
setelah muncul antibodi terhadap beberapa varian antigennya.

Reproduksi

Bakteri pada umunya berkembang biak secara vegetatif dengan pembelahan biner ke arah
transversal. Satu sel bakteri memberikan dua bakteri baru, salah satunya adalah bakteri
Borrelia recurrentis yang dapat berkembang biak secara tranversal. Pembelahan ini
berlangsung sangat cepat, yaitu setiap 15-20 menit. Reproduksi dalam arti sesungguhnya untuk
menghasilkan individu baru yang jumlahnya lebih banyak dari kedua induknya hanya dapat
dilakukan dengan pembelahan binner, sebab reproduksi secara generatif dengan metode
paraseksual pada bakteri hanya menghasilkan individu baru dengan variasi gen yang baru, tidak
menambah jumlah individu baru.
Bakteri Borrelia recurrentis akan berkembang biak di seluruh tubuh kutu Pediculus
humanus yang menjadikan kutu tetap infektif selama hidupnya. Namun bakteri Borrelia
recurrentis juga dapat melakukan reproduksi menggunakan metode lain, yaitu melibatkan
pembentukan kista. Bakteri memanfaatkan pembentukan tunas yang kemudian akan berubah
menjadi kista. Kista merupakan kantung berisi udara dan beberapa cairan tertutup oleh
membran yang terbentuk ketika bakteri B.reccurentis tunggal dari bentuk sel spiral menjadi
kepompong. Kemampuannya untuk mereproduksi adalah salah satu cara untuk
mempertahankan hidupnya.
Siklus Hidup
Borrelia recurrentis merupakan penyebab demam berulang epidemik dengan Pediculus
humanus subspesies humanus sebagai vektornya. Pediculus humanus, pada saat tungau itu
menggigit sehingga mencemari luka atau cairan sendi dari kutu argasid. Jenis argasid tersebut
terutama adalah Ornithodoros bermsi dan O. Turicata di Amerika Serikat, O. Rudis dan O.
Talafe di Amerika Tengah dan Selatan, O. Moubata dan O. Hispanica di Afrika dan o.
Tholozani Timur Tengah dan Timur Dekat. Kutu-kutu ini biasanya makan pada waktu malam
hari, mereka makan secara cepat dan kemudian meninggalkan host-nya; mereka mempunyai
masa hidup yang panjang yaitu selama 2-5 tahun dan tetap infektif selama masa hidupnya.

Kutu yang telah mengisap darah penderita dapat menjadi sumber infeksi bagi orang-
orang di sekitarnya dan penularan terjadi sebagai akibat gosokan bangkai kutu pada luka
gigitan (bakteri dikeluarkan dan memasuki kulit yang sudah digaruk atau digigit). Pada saat
kutu tersebut menginfeksi penderita melalui membran mukosa, B. recurrentis dilepaskan ke
dalam tubuh penderita bersamaan dengan aliran darah. Pada kasus-kasus fatal, bakteri ini
dalam jumlah besar dapat ditemukan dalam bentuk spirokheta di dalam limpa, hati, dalam
organ parenkim lainnya yang telah mengalami nekrosis, dan dalam lesi-lesi hemoragik di
dalam ginjal traktus garstrointestinal. Pada penderita dengan meningitis, bakteri dapat
ditemukan dalam likuor serebropinalis dan jaringan otak. Ternyata pada binatang percobaan,
otak dapat merupakan reservoir setelah bakteri menghilang dari peredaran darah.

Patogenesis
Bakteri masuk ke tubuh manusia melalui vector kutu Pediculus humanus yang sudah
terinfeksi bakteri Borrelia recurrentis, karena bakteri ini bisa berkembang biak pada kutu
tubuh. Ketika kutu menggigit manusia, bakteri akan masuk menembus kulit karena kutu pecah
akibat garukan. Masa inkubasi Borrelia recurrentis selama 3 – 10 hari. Selama masa inkubasi,
dalam darah orang yang terinfeksi organisme ini terdapat banyak sekali jumlah spirroketa.
B.recurrentis akan memasuki aliran darah dan menyebar ke organ – organ tubuh.
Pada periode pertama bakteri ditemukan di dalam aliran darah, demam timbul disertai
menggigil dan suhu yang naik dengan drastis dan mendadak. Demam berlangsung selama 3 –
5 hari dan kemudian menurun menyebabkan pasien dalam keadaan lemah tetapi tidak sakit.
Masa tanpa demam ini (lemah) berlangsung 4 – 10 hari. Pada periode tanpa demam, bakteri
akan tinggal di dalam organ tubuh seperti pada system saraf pusat, susmsum tulang, liver dan
limpa.
Pada periode kedua dengan durasi lebih pendek dengan derajat kesakitan yang menurun,
bakteri kembali dilepaskan ke dalam aliran darah dan berulangnya demam diikuti
menggigil,sakit kepala hebat dan lesu. Kejadian ini berlangsung sampai 3 – 10 kali. Antibodi
yang melawan spiroketa muncul selama tahap inkubasi dan serangan akan diakhiri dengan
aglutinasi dan efek litik. Antibodi-antibodi ini memisahkan varian yang berbeda secara antigen
untuk berkembang biak dan menyebabkan relaps. Beberapa varietas antigen borrelia yang
berbeda diisolasi dari satu orang pasien yang mengalami relaps berantai, meski mengikuti
percobaan inokulasi dengan satu organisme.
Spiroketa penyebab demam kambuhan memperlihatkan variasi antigen permukaan yang
khas, antibodi dapat membersehkan tubuh dari organisme tadi tetapai timbul organisme varian
baru dan menyebabkan terjadinya perkambuhan.

Mekanisme Infeksi
Vektor kutu atau sengkenit yg terinfeksi → manusia akibat garukan → Borrelia
recurrentis akan memasuki aliran darah dan menyebar ke organ-organ tubuh. Spiroketemia →
merangsang terbentuknya antibodi IgM spesifik untuk menyingkirkan bakteri - bakteri tersebut
dari aliran darah → Demam. Periode demam yaitu ketika bakteri ditemukan di dalam aliran
darah. Sedangkan periode tanpa demam ketika bakteri akan tinggal dalam organ tubuh seperti
pada sistem saraf pusat, sumsum tulang, liver dan limpa. Bakteri kembali dilepaskan ke dalam
aliran darah setelah mengalami perubahan variasi antigenik → merangsang kembali
pembentukan antibodi IgM spesifik yg baru → berulangnya episode demam. Borrelia
recurrentis dapat melewati plasenta ibu hamil → aborsi atau infeksi serius pada bayi yang
dikandungnya.

Epidemiologi
B.recurrentis ini menyebabkan penyakit demam berulang (relapsing fever). Relapsing
fever ini bersifat endemik pada banyak bagian dunia. Karakteristik penyakit ini muncul sebagai
epidemi apabila ditularkan oleh tungau, sedangkan bersifat endemis apabila ditularkan melalui
kutu. Louseborne relapsing fever (LBRF) terjadi di daerah yang terbatas di Asia, Afrika Timur
(Ethiopia dan Sudan), daerah dataran tinggi d Afrika Tengah dan Amerika Selatan. Kasus
terjadi sporadis pada manusia dan sesekali muncul KLB (Kejadian Luar Biasa) sebagian barat
Amerika Serikat dan Kanada bagian Barat. B. Recurrentis reservoirnya adalah manusia.
Cara Penularan
Penyakit Louseborne relapsing fever (LBRF) atau Demam berulang ditularkan melalui
kutu tubuh dan umumnya terjadi pada tempat-tempat pengungsian. Kutu tubuh terinfeksi oleh
bakteri pada saat mengisap darah penderita. Infeksi bisa menyebar pada orang lain jika kutu
berpindah tempat tinggalnya. Jika kutu tergilas, bakteri akan keluar dan memasuki kulit yang
sudah digaruk atau digigit.
Dalam tubuh kutu Pediculus humanus yang lunak dapat terjadi transmisi Borrelia dari
generasi ke generasi secara transovarium. Bakteri dapat ditemukan di seluruh jaringan tubuh
kutu. Penularan terjadi lewat gigitan atau penghancuran kutu. Penyakit yang ditularkan oleh
kutu ini bersifat sporadik.
Jika penderita demam berulang tersebut juga terjangkit kutu (Pediculus humanus), maka
4-5 hari kemudian kutu yang telah mengisap darah penderita dapat menjadi sumber infeksi bagi
orang-orang di sekitarnya dan penularan terjadi sebagai akibat gosokan bangkai kutu pada luka
gigitan. Penularan oleh kutu manusia ini dapat mengakibatkan terjadinya epidemi pada
penduduk yang telah terjangkit kutu dan penyebaran dipermudah dalam keadaan tertentu,
antara lain penduduk yang sangat padat, kekurangan gizi dan pada iklim yang dingin. Di daerah
endemik, kadang-kadang infeksi pada manusia terjadi sebagai akibat kontak dengan darah atau
jaringan binatang mengerat yang telah terkena infeksi. Pada kasus-kasus sporadik
mortalitasnya rendah, tetapi pada kasus epidemik mortalitasnya dapat mencapai 50%.

Gejala Klinik
Semua bentuk demam berulang memberikan gejala klinik yang serupa. Penyakitnya
berlangsung secara mendadak, demam menggigil, sakit kepala hebat, seringkali disertai nyeri
otot dan persendian, limpa agak membesar dan gejala-gejala ikterus. Masa tunas antara 3-10
hari. Dalam waktu demam, bakteri dapat ditemukan di dalam darah.
Pada stadium awal, bisa timbul kemerahan di daerah yang tertutup celana pendek, lengan
dan tungkai. Dokter bisa melihat adanya pembuluh darah yang pecah pada lapisan yang
menutupi bola mata dan pada kulit serta selaput lendir. Sejalan dengan berkembangnya
penyakit, bisa timbul demam, sakit kuning, pembesaran hati dan limpa, peradangan jantung
dan gagal jantung; terutama pada infeksi yang ditularkan tuma.
Demam berlangsung selama 3-5 hari, kemudian suhu menurun dan meninggalkan
penderita dalam keadaan tidak demam, tetapi dengan keadaan tubuh yang lemah. Masa tanpa
demam berlangsung selama 4-10 hari dan segera diikuti dengan serangan kedua dengan gejala-
gejala yang sama dengan serangan yang pertama. Serangan-serangan tersebut dapat terjadi
berulang-ulang 3-10 kali, pada umumnya dengan gejala-gejala yang semakin ringan. Dalam
waktu tidak demam, bakteri tidak dapat ditemukan di dalam darah. Bakteri jarang ditemukan
di dalam air seni. Antibodi terhadap Borrelia muncul dalam masa demam dan kemungkinan
efek aglutinasi dan lisisnya dapat dengan segera mengakhiri serangan. Varian yang tidak
terkena efek ini dengan leluasa berkembang biak dan menimbulkan serangan baru. Pada
seorang penderita yang telah mengalami beberapa kali serangan, dapat diisolasi beberapa
varian antigen. Keadaan ini juga dapat dijumpai pada percobaan inokulasi dengan satu macam
bakteri.
Setelah 7-10 hari, demam dan gejala lainnya kembali muncul secara tiba-tiba, sering
disertai dengan nyeri sendi. Sakit kuning serta timbul pada saat demam kambuh. Demam
kambuhan yang ditularkan tuma biasanya disertai oleh kambuhan tunggal, sedangkan
kambuhan yang multiple (2-10 kali dengan jarak 1-2 minggu) terjadi pada saat demam kambuh
yang ditularkan oleh kutu anjing. Periode demam secara bertahap akan berkurang, dan akhirnya
penderita akan sembuh sejalan dengan terbentuknya kekebalan.
Adapun komplikasi dari penyakit ini adalah peradangan mata, asma, dan eritema
multiformis (erupsi kemerahan) di seluruh tubuh. Peradangan juga bisa mengenai otak, medulla
spinalis dan iris mata. Wanita hamil bisa mengalami keguguran.
Diagnosis
Diagnosis penyakit ini dapat ditegakkan berdasarkan adanya demam berulang pada
seseorang yang tinggal pada daerah yang berisiko tinggi. Dugaan ini kemungkinan benar jika
kemudian demam diikuti dengan adanya kondisi kegawatan, dan jika penderita memiliki
riwayat terpapar kutu. Untuk memastikan diagnosa, dapat dilakukan pemeriksaan terhadap
contoh darah selama periode demam untuk menemukan bakteri penyebabnya.
Bahan pemeriksaan berasal dari darah yang diambil dari penderita pada waktu demam
meningkat. Dibuat sediaan darah tebal yang diwarnai secara Wright atau Giemsa dan dicari
bakteri di antara sel-sel darah merah. Selanjutnya darah dari pasien di inokulasikan secara
intraperitoneum dalam membran Chorio Allantoic. Setelah 2 - 4 hari dibuat sediaan darah dan
dicari bakterinya.
Tes pengikatan komplemen dapat dikerjakan dengan menggunakan bakteri yang ditanam
dalam suatu perbenihan sebagai antigen. Cara penyediaan antigen yang baik tidaklah mudah
dan pada umumnya hasil tes serologi kurang bermanfaat untuk diagnosis, dikarenakan oleh
banyaknya varian antigen yang dapat ditemukan pada seorang penderita. Pada penderita
dengan demam berulang epidemik dapat terbentuk aglutinin terhadap bakteri Proteus OXK dan
serum penderita juga memberikan hasil positif pada tes VDRL.

Pencegahan
Pencegahan terutama dilakukan dengan cara menghindari kontak atau berdekatan dengan
kutu dan memberantasnya, baik dengan cara menjaga kebersihan atau dengan menggunakan
insektisida seperti penyemprotan dengan permethrin sebanyak 0,003 – 0,3 kg/hektar (2,47 acre)
terhadap lingkungan di sekitar penderita.
Bagi masyarakat yang tinggal di daerah endemis sediakan fasiltas untuk mandi dan
mencuci pakaian secukupnya dan lakukan kegiatan active survellance. Apabila infeksi
menyebar, lakukan penaburan permethrin secara sistematis kepada semua anggota masyarakat
sedangkan untuk tickborne relapsing fever, permethrin atau arcaricide lainya ditaburkan di
wilayah dimana kutu sebagai vektor penyakit ini diperkirakan ada di wilayah tersebut. Agar
sustainabilitas upaya pemberantasan tercapai maka lakukan upaya-upaya di atas selama masa
penularan dengan siklus setiap bulan sekali.
Jika sudah tergigit kutu tubuh (kutu menempel dan sudah menusuk kulit) cabut kutu
tersebut dengan hati-hati sehingga bagian mulut kutu tidak tertinggal didalam kulit. Tidak ada
vaksin untuk penyakit ini.
Imunitas

Setelah suatu infeksi, pada tubuh penderita terbentuk antibodi lisis, aglutinin dan
spirokhetisidin. Pada umumnya imunitas yang terbentuk setelah suatu serangan
demamberulang bersifat jangka pendek. Imunitas jangka panjang dapat terbentuk, jika
infeksinya menetap, yaitu imunitas terhadap superinfkesi yang kemungkinan merupakan
imunitas seluler.

Pengobatan
Banyaknya variabilitas dari remisi spontan pada relapsing fever membuat evaluasi
kemoterapi sulit dilakukan. Pengobatan dengan tetrasiklin, terutama klortetrasiklin merupakan
obat pilihan. Penisilin ternyata juga efektif untuk pengobatan. Selain antibiotika kepada
penderita demam berulang juga perlu diberikan cairan dan elektrolit. Biasanya diberikan per-
oral (melalui mulut), tetapi bisa juga diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah) jika
terjadi muntah-muntah yang berat yang membuat penderita sulit menelan. Berikut beberapa
obat yang biasa digunakan diantaranya yaitu :
1. Tetrasiklin untuk spiroketa, Dosis : dewasa sehari 1-2 g :anak 20-25 mg/kgBB dalam
dosis bagi : Injeksi IM : Dewasa 3-4 x sehari 100mg anak sehari 7-10 mg/kgBB dalam
dosis bagi : Injeksi IV : Dewasa : tiap 8-12 jam 200-500 mg , anak 8th sehari 15-25
mg/kgBB dalam dosis bagi. Km : dos 10x10 kapsul 250mg,50x10 kapsul : vial 10ml
(500mg/10ml).
2. Eritromisin untuk demam rheuma yang recurrent, Dosis : tergantung berat ringan dan
jenis penyakit : dewasa : 1-2g sehari dalam dosis terbagi : anak – anak : 30-
50mg/kgBB/hari dalam dosis terbagi. Km : dos 10x10 kapsul : 10x10 tablet chewable
: botol 60ml syrup.
3. Amoksilin untuk pengobatan terhadap infeksi bakteri.

Untuk mencapai hasil yang optimal, pengobatan harus dimulai pada stadium awal
demam atau selama suatu interval yang tanpa gejala. Pengobatan yang dimulai pada akhir dari
suatu periode demam, bisa memicu terjadinya reaksi Jarisch-Herxheimer, dimana demam yang
sangat tinggi disertai tekanan darah yang turun-naik (kadang sampai tekanan rendah yang
berbahaya). Reaksi ini sangat khas dan kadang berakibat fatal. Dehidrasi diobati dengan cairan
yang diberikan secara intravena (melalui pembuluh darah). Nyeri kepala hebat diobati dengan
obat pereda nyeri seperti kodein. Untuk mualmual bisa diberikan dimenhidrinat atau
proklorperazin.
Daftar Pustaka

Jawetz, 1996, Mikrobiologi Kedokteran , Edisi 20, 320-322, EGC, Jakarta

Anonim, 2008, Borrelia reccurentis, www.descipher.com [diakses tanggal 25


November 208]

Anonim, 2008, Relapsing Fever, www.pppl.depkes.go.id, [diakses tanggal 25


November 208]

Cutler, 2008, Borrelia recurrentis characterization and comparison with relapsing-


fever, Lymeassociated, and other Borrelia spp, www.ncbi.nlm [diakses
tanggal 25 November 208]

Susanti F. 2010. Apa Itu Borrelia recucentis. www.mikrobia.files.wordpress.com


[diakses tanggal 25 November 208]

Anonim, 2011. Borrelia. https://id.scribd.com [diakses tanggal 25 November 208]

Zalmi, MA. 2016. Apa itu Borrelia recucentis. www.scribd.com [diakses tanggal 25
November 208]