Anda di halaman 1dari 18

BAB I

KONSEP DASAR MEDIS

A. DEFINISI

Trauma kapitis adalah trauma mekanik terhadap kepala baik secara

langsung ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi

neurologi yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi psikososial baik temporer

maupun permanen (Sjahrir,2004).

Trauma pada kepala dapat menyebabkan fraktur pada tengkorak

dan trauma jaringan lunak / otak atau kulit seperti kontusio/ memar otak,

edema otak, perdarahan atau laserasi, dengan derajat yang bervariasi

tergantung pada luas daerah trauma (Sjahrir,2004).

B. ETIOLOGI

Menurut Brain Injury Association of America dalam safri jafar (2008),

penyebab utama trauma kepala adalah sebagai berikut :

1. Kecelakaan Lalu Lintas

Kecelakaan lalu lintas adalah dimana sebuah kenderan bermotor

bertabrakan dengan kenderaan yang lain atau benda lain sehingga

menyebabkan kerusakan atau kecederaan kepada pengguna jalan raya

2. Jatuh didefinisikan sebagai (terlepas) turun atau meluncur ke bawah

dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih di gerakan turun

maupun sesudah sampai ke tanah.

3. Kekerasan

Kekerasan didefinisikan sebagai suatu perihal atau perbuatan seseorang

atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau

menyebabkan kerusakan fisik pada barang atau orang lain (secara

paksaan)

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 1
4. PATOFISIOLOGI

Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan

glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam sel-sel saraf

hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak tidak punya cadangan

oksigen, jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan

menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan

glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari

20 mg%, karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak

25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa

plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi

serebral (jafar, 2008).

a. Faktor kardiovaskuler

Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup

aktivitas atipikal miokardial, perubahan tekanan vaskuler dan edema

paru. Tidak adanya stimulus endogen saraf simpatis mempengaruhi

penurunan kontraktilitas ventrikel. Hal ini menyebabkan penurunan

curah jantung dan meningkatkan tekanan atrium kiri. Akibatnya tubuh

berkompensasi dengan meningkatkan tekanan sistolik. Pengaruh dari

adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema paru.

b. Faktor Respiratori

Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokonstriksi paru

atau hipertensi paru menyebabkan hiperpnoe dan bronkokonstriksi

Konsentrasi oksigen dan karbon dioksida mempengaruhi aliran darah.

Bila PO2 rendah, aliran darah bertambah karena terjadi vasodilatasi.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 2
Penurunan PCO2, akan terjadi alkalosis yang menyebabkan

vasokonstriksi (arteri kecil) dan penurunan CBF (cerebral blood fluid).

Edema otak ini menyebabkan kematian otak (iskemik) dan tingginya

tekanan intra kranial (TIK) yang dapat menyebabkan herniasi dan

penekanan batang otak atau medulla oblongata.

c. Faktor Metabolisme

Pada trauma kepala terjadi perubahan metabolisme seperti trauma

tubuh lainnya yaitu kecenderungan retensi natrium dan air dan

hilangnya sejumlah nitrogen. Retensi natrium juga disebabkan karena

adanya stimulus terhadap hipotalamus, yang menyebabkan pelepasan

ACTH dan sekresi aldosteron.

d. Faktor Gastrointestinal

Trauma kepala juga mempengaruhi sistem gastrointestinal.

Setelah trauma kepala (3 hari) terdapat respon tubuh dengan

merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal. Hal ini akan

merangsang lambung menjadi hiperasiditas.

e. Faktor Psikologis

Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien, trauma

kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. Gejala

sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis pasien.

Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan

kesadaran dan penurunan fungsi neurologis akan mempengaruhi

psikososial pasien dan keluarga.

5. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala trauma kepala (irwan, 2011) yaitu:

a. Commutio cerebri

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 3
1) Tidak sadar selama kurang atau sama dengan 10 menit

2) Mual muntah

3) Nyeri kepala (pusing)

4) Nadi, suhu, tekanan darah menurun atau normal

b. Contosio cerebri

1.Tidak sadar lebih dari 10 menit

2.Amnesia anterograde

3.Mual muntah

4.Penurunan tingkat kesadaran

5.Gejala neurologi, seperti parese

c. Laserasi serebri

1.Jaringan robek akibat fragmen

2.Pingsan maupun tidak sadar selama berhari-hari/ berbulan-bulan

3.Kelumpuhan anggota gerak

4.Kelumpuhan saraf otak

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/ PENUNJANG

Menurut irwan (2011) pemeriksaan diagnostic yang dapat

dilakukan adalah:

a. CT Scan (dengan atau tanpa kontras)

Mengidentifikasi adanya perdarahan, menentukan ukuran vertikel

pergeseran jaringan otak.

b. MRI (Magnetik Resonance Imaging)

Sama dengan CT Scan dengan atau tanpa konras

c. PET(Positron Emission Tomografphy) menunjukan perubahan

aktifitas metabolic otak.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 4
d. Echocncephalografi: melihat keberadaan dan perkembangan

gelombang patologis.

e. Fungsi lumbal/istemografi: dapat menduga kemungkinan adanya

perdarahan subracnoid.

f. X-ray: mendeteksi adanya perubahan struktur tulang, pergeseran

struktur garis tengah, adanya fragmen tulang.

g. Cek elektrolit darah: untk mengetahui ketidakseimbangan yang

berperan dalam peningkatan TIK.

h. Analisa gas darah: untuk medeteksi jumlah ventilasi dan oksigenasi.

i. EEG: untuk melihat aktifitas dan hantaran listrik di otak.

j. Darah lengkap untuk mengetahui kekuatan hemoglobin dalam

mengikat o2

7. PENATALAKSANAAN

Menurut safar (2008) penetalaksanaan pada trauma kapitis adalah:

a. Medik

1) Manitol IV

a) Dosis awal 1 g / kg BB

b) Evaluasi 15 – 20 menit (bila belum ada perbaikan

tambahan dosis 0,25 g / kg BB)

c) Hati-hati terhadap kerusakan ginjal

b. Steroid : digunakan untuk mengurangi edema otak

c. Bikarbonas Natrikus : untuk mencegah terjadinya asidosis

d. Antikonvulsan : prifilaksis kejang

e. Terapi Koma : merupakan langkah terakhir untuk mengendalikan

TIK secara konservatif. Terapi ini menurunkan metabolisme otak,

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 5
mengurangi edema & menurunkan TIK Biasanya dilakukan 24 – 48

jam.

f. Antipiretik : Demam akan memperburuk keadaan karena akan

meningkatkan metabolisme dan dapat terjadi dehidrasi, kerusakan

otak. Jika penyebab infeksi tambahkan antibiotik.

g. Sedasi : gaduh, gelisah merupakan gejala yang sering ditemukan pada

penderita cidera otak dan dapat meningkatkan TIK.

h. Lorazepam (ativan) 1 – 2 mg IV/IM dapat diberikan dan dapat

diulang pemberiannya dalam 2 – 4 jam. Kerugian : tidak dapat

memantau kesadaran penderita.

i. Antasida – AH2 : untuk mencegah perdarahan GIT : simetidin,

ranitidin, famotidin. Furosemid adakalanya diberikan bersama

dengan obat anti edema lain. Dosis : 1 mg/kg BB IV, dapat diulang

tiap 6 – 12 jam.

1. Non-Medik

a. Pengelolaan Pernapasan:

1) Pasien ditempatkan dalam posisi miring atau seperti posisi

koma.

2) Periksa mulut, keluarkan gigi palsu bila ada.

3) Jika banyak ludah atau lendir atau sisa muntahan lakukan

penghisapan.

4) Hindari flexi leher yang berlebihan karena bias menyebabkan

terganggunya jalan napas/peningkatan TIK.

5) Trakeostomi dilakukan bila lesi di daerah mulut atau faring

parah.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 6
6) Perawat mengkaji frekuensi dan upaya pernapasan pasien,

warna kulit, bunyi pernapasan dan ekspansi dada.

7) Berikan penenang diazepam.

8) Posisi pasien selalu diubah setiap 3 jam dan lakukan fisioterapi

dada 2x/sehari

b. Gangguan Mobilitas Fisik

1) Posisikan tubuh pasien dengan posisi opistotonus; perawatan

harus dilakukan dengan tujuan untuk menghentikan pola

refleksif dan penurunan tonus otot abnormal.

2) Perawat menghindarkan terjadinya kontraktur dengan

melakukan ROM pasif dengan merenggangkan otot dan

mempertahankan mobilitas fisik.

c. Kerusakan Kulit : menghilangkan penekanan dan lakukan

intervensi mobilitas.

d. Masalah Hidrasi : pada cidera kepala terjadi kontriksi arteri-arteri

renalis sehingga pembentukan urine berkurang dan garam ditahan

didalam tubuh akibat peningkatan tonus ortosimpatik.

e. Nutrisi pada Trauma otak berat

1) memerlukan jumlah kalori 2 kali lipat dengan meningkatnya

aktivitas system saraf ortosimpatik yang tampak pada

hipertensi dan takikardi.

2) kegelisahan dan tonus otot yang meningkat menambah

kebutuhan kalori. bila kebutuhan kalori tidak terpenuhi maka

jaringan tubuh dan lemak akan diurai, penyembuhan luka akan

lebih lama, timbul dekubitus, daya tahan menurun

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 7
8. PROGNOSIS

Prognosis setelah cedera kepala sering mendapat perhatian besar,

terutama pada pasien dengan cedera berat. Skor GCS waktu masuk rumah

sakit memiliki nilai prognostik yang besar: skor pasien 3-4 memiliki

kemungkinan meninggal 85% atau tetap dalam kondisi vegetatif,

sedangkan pada pasien dengan GCS 12 atau lebih kemungkinan

meninggal atauvegetatif hanya 5 - 10%. Sindrom pascakonkusi

berhubungan dengan sindrom kronis nyeri kepala, keletihan, pusing,

ketidakmampuan berkonsentrasi, iritabilitas, dan perubahan kepribadian

yang berkembang pada banyak pasien setelah cedera kepala. Sering kali

berturnpang-tindih dengan gejala depresi (Fatimah,2013).

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 8
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Aktifitas/ Istirahat

Gejala : Letih, lelah, malaise, perubahan kesadaran dan kehilangan

keseimbangan. Sakit kepala yang hebat pada saat perunahan postur

tubuh/ aktivitas. Keterbatasan akibat keadaan.

2. Sirkulasi

Gejala : riwayat hipertensi

Tanda : Hipertensi. Denyutan vaskuler, misalnya daerah temporal.

Pucat, wajah tampak kemerahan.

3. Integritas Ego

Gejala : Perasaan ketidakmampuan, keputusasaan, ketidakberdayaan,

depresi. Peka rangsangan selama nyeri kepala. Faktor-faktor stress

emosional/ lingkungan tertentu.

4. Makanan/ cairan

Gejala : Makan-makanan yang tinggi kandungan vasoaktifnya,

misalnya kafein, coklat, daging, makanan berlemak. Mual/muntah,

anoreksia. Penurunan berat badan

5. Neurosensori

Gejala : Pusing, disorientasi, tidak mampu berkosentrasi. Riwayat

cedera kepala yang baru terjadi, trauma, infeksi intracranial,

Kraniotomy. Penurunan tingkat kesadaran. Status mental :

mengobservasi penampilan klien dan tingkah laku. Perubahan visual,

sensitive terhadap cahaya/ suara yang keras. Kelemahan progresif

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 9
Tanda : Perubahan pola bicara/proses fakir. Mudah terangsang, peka

terhadap stimulus. Penurunan reflektendon dalam. Papil edema

6. Nyeri/ Kenyamanan

Karakteristik tergantung pada jenis sakit kepala : Pascatraumatik :

berat dan biasanya bersifat kronis, kontiniu atau intermiten, setempat

atau umum, intensitas beragam, diperburuk oleh gangguan emosional,

perubnahan posisi tubuh.

Tanda : Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah. Respon

emosional/ perilaku tak terarah, gelisah.

7. Ventilasi

Pada cedera kepala tertutup disarankan untuk melalukukan

hiperventilasi manual dengan memberikan oksigen

8. Hiportermi

Penurunan laju metabolisme serebral akan oksigen menyebabkan

penurunan darah serebral

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan trauma kepala

2. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan

penghentian aliran darah (hemoragi, hematoma); edema cerebral;

penurunan TD sistemik/hipoksia (hipovolemia, disritmia jantung)

3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan jaringan trauma,

kulit rusak, prosedur invasif. Penurunan kerja silia, stasis cairan

tubuh. Kekurangan nutrisi. Respon inflamasi tertekan (penggunaan

steroid).

4. kecemasan berhubungan dengan Krisis situasional: perubahan status

kesehatan.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 10
Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)
Valdesyiah S.Kep 11
C. INTERVENSI

1. Nyeri akut
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :


dengan:  Pain Level,  Lakukan pengkajian nyeri secara
Agen injuri (biologi, kimia,  pain control, komprehensif termasuk lokasi,
fisik, psikologis), kerusakan  comfort level karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
jaringan Setelah dilakukan dan faktor presipitasi
tinfakan keperawatan  Observasi reaksi nonverbal dari
DS: selama …. Pasien tidak ketidaknyamanan
- Laporan secara verbal mengalami nyeri, dengan  Bantu pasien dan keluarga untuk
DO: kriteria hasil: mencari dan menemukan dukungan
- Posisi untuk menahan  Mampu mengontrol  Kontrol lingkungan yang dapat
nyeri nyeri (tahu penyebab mempengaruhi nyeri seperti suhu
- Tingkah laku berhati-hati nyeri, mampu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
- Gangguan tidur (mata menggunakan tehnik  Kurangi faktor presipitasi nyeri
sayu, tampak capek, sulit nonfarmakologi untuk  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk
atau gerakan kacau, mengurangi nyeri, menentukan intervensi
menyeringai) mencari bantuan)  Ajarkan tentang teknik non farmakologi:
- Terfokus pada diri sendiri  Melaporkan bahwa napas dala, relaksasi, distraksi, kompres
- Fokus menyempit nyeri berkurang dengan hangat/ dingin
(penurunan persepsi menggunakan  Berikan analgetik untuk mengurangi
waktu, kerusakan proses manajemen nyeri nyeri: ……...

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 12
berpikir, penurunan  Mampu mengenali nyeri  Tingkatkan istirahat
interaksi dengan orang (skala, intensitas,  Berikan informasi tentang nyeri seperti
dan lingkungan) frekuensi dan tanda penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
- Tingkah laku distraksi, nyeri) berkurang dan antisipasi
contoh : jalan-jalan,  Menyatakan rasa ketidaknyamanan dari prosedur
menemui orang lain nyaman setelah nyeri  Monitor vital sign sebelum dan sesudah
dan/atau aktivitas, berkurang pemberian analgesik pertama kali
aktivitas berulang-ulang)  Tanda vital dalam
- Respon autonom (seperti rentang normal
diaphoresis, perubahan  Tidak mengalami
tekanan darah, perubahan gangguan tidur
nafas, nadi dan dilatasi
pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam rentang
dari lemah ke kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 13
2. Gangguan perfusi aringan cerebral
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Perfusi jaringan cerebral NOC : NIC :


tidak efektif b/d gangguan  Circulation status  Monitor TTV
afinitas Hb oksigen,  Neurologic status  Monitor AGD, ukuran pupil,
penurunan konsentrasi Hb,  Tissue Prefusion : ketajaman, kesimetrisan dan reaksi
Hipervolemia, cerebral  Monitor adanya diplopia, pandangan
Hipoventilasi, gangguan Setelah dilakukan asuhan kabur, nyeri kepala
transport O2, gangguan selama………ketidakefek  Monitor level kebingungan dan
aliran arteri dan vena tifan perfusi jaringan orientasi
cerebral teratasi dengan  Monitor tonus otot pergerakan
DO kriteria hasil:
 Monitor tekanan intrkranial dan
- Gangguan status mental  Tekanan systole dan respon nerologis
- Perubahan perilaku diastole dalam  Catat perubahan pasien dalam
- Perubahan respon motorik rentang yang merespon stimulus
- Perubahan reaksi pupil diharapkan  Monitor status cairan
- Kesulitan menelan  Tidak ada  Pertahankan parameter hemodinamik
- Kelemahan atau paralisis ortostatikhipertensi  Tinggikan kepala 0-45o tergantung
ekstrermitas  Komunikasi jelas pada konsisi pasien dan order medis
- Abnormalitas bicara  Menunjukkan
konsentrasi dan
orientasi
 Pupil seimbang dan
reaktif

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 14
 Bebas dari aktivitas
kejang
 Tidak mengalami
nyeri kepala

3. Resiko infeksi
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil

Risiko infeksi NOC : NIC :


 Immune Status  Pertahankan teknik aseptif
Faktor-faktor risiko :  Knowledge : Infection  Batasi pengunjung bila perlu
- Prosedur Infasif control  Cuci tangan setiap sebelum dan
- Kerusakan jaringan dan  Risk control sesudah tindakan keperawatan
peningkatan paparan Setelah dilakukan  Gunakan baju, sarung tangan sebagai
lingkungan tindakan keperawatan alat pelindung
- Malnutrisi selama…… pasien tidak  Ganti letak IV perifer dan dressing
- Peningkatan paparan mengalami infeksi dengan sesuai dengan petunjuk umum
lingkungan patogen kriteria hasil:  Gunakan kateter intermiten untuk
- Imonusupresi  Klien bebas dari tanda menurunkan infeksi kandung kencing
- Tidak adekuat pertahanan dan gejala infeksi  Tingkatkan intake nutrisi
sekunder (penurunan Hb,  Menunjukkan  Berikan terapi
Leukopenia, penekanan kemampuan untuk antibiotik:.................................
respon inflamasi) mencegah timbulnya  Monitor tanda dan gejala infeksi
- Penyakit kronik infeksi sistemik dan lokal
- Imunosupresi  Jumlah leukosit dalam  Pertahankan teknik isolasi k/p
- Malnutrisi batas normal  Inspeksi kulit dan membran mukosa

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 15
- Pertahan primer tidak  Menunjukkan perilaku terhadap kemerahan, panas, drainase
adekuat (kerusakan kulit, hidup sehat  Monitor adanya luka
trauma jaringan,  Status imun,  Dorong masukan cairan
gangguan peristaltik) gastrointestinal,  Dorong istirahat
genitourinaria dalam  Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan
batas normal gejala infeksi
 Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

4. Kecemasan
Diagnosa Keperawatan/ Rencana keperawatan
Masalah Kolaborasi
Tujuan dan Kriteria Intervensi
Hasil
Kecemasan berhubungan NOC : NIC :
dengan - Kontrol kecemasan
Anxiety Reduction (penurunan
- Koping
Faktor keturunan, Krisis kecemasan)
Setelah dilakukan asuhan
situasional, Stress,
selama ……………klien  Gunakan pendekatan yang
perubahan status kesehatan,
kecemasan teratasi dgn menenangkan
ancaman kematian,
kriteria hasil:  Nyatakan dengan jelas harapan
perubahan konsep diri,
 Klien mampu terhadap pelaku pasien
kurang pengetahuan dan
mengidentifikasi dan  Jelaskan semua prosedur dan apa
hospitalisasi
mengungkapkan yang dirasakan selama prosedur
gejala cemas  Temani pasien untuk memberikan
DO/DS:  Mengidentifikasi, keamanan dan mengurangi takut
mengungkapkan dan

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 16
- Insomnia menunjukkan tehnik  Berikan informasi faktual mengenai
- Kontak mata kurang untuk mengontol diagnosis, tindakan prognosis
- Kurang istirahat cemas  Libatkan keluarga untuk
- Berfokus pada diri sendiri  Vital sign dalam batas mendampingi klien
- Iritabilitas normal  Instruksikan pada pasien untuk
- Takut  Postur tubuh, ekspresi menggunakan tehnik relaksasi
- Nyeri perut wajah, bahasa tubuh  Dengarkan dengan penuh perhatian
- Penurunan TD dan denyut dan tingkat aktivitas  Identifikasi tingkat kecemasan
nadi menunjukkan  Bantu pasien mengenal situasi yang
- Diare, mual, kelelahan berkurangnya menimbulkan kecemasan
- Gangguan tidur kecemasan
 Dorong pasien untuk
- Gemetar mengungkapkan perasaan, ketakutan,
- Anoreksia, mulut kering persepsi
- Peningkatan TD, denyut
 Kelola pemberian obat anti
nadi, RR
cemas:........
- Kesulitan bernafas
- Bingung
- Bloking dalam
pembicaraan
- Sulit berkonsentrasi

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 17
DAFTAR PUSTAKA

Sjahrir, Hasan(2004). Ilmu Penyakit Saraf Neurologi Khusus, Dian Rakyat,


Jakarta.
jafar,safri (2008).Lp Trauma Capitis.
Http://Id.Scribd.Com/Doc/99263419/Lp-Trauma-Capitis
Diakses Pada 5 november 2015

Irwan, Muhammad,(2011). askep trauma kapitis ringan.


HTTP://ID.SCRIBD.COM/DOC/75426646/ASKEP-TRAUMA-KAPITIS-
RINGAN
Diakses Pada 5 november 2015

Wilkinson,Judith.2002. buku saku diagnosis keperawatan edisi 9. EGC.Jakarta.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (KMB)


Valdesyiah S.Kep 18