Anda di halaman 1dari 20

A.

KASUS (MASALAH UTAMA

Perubahan persepsi sensori: halusinasi

B. PROSES TERJADINYA MASALAH

1. Defenisi

Berdasarkan definisi yang dapat dikemukakan oleh beberapa ahli,

yaitu :

a. Halusinasi merupakan gangguan persepsi tanpa rangsangan

eksternal (Igrain, 1995).

b. Halusinasi adalah penginderaan tanpa ada rangsangan apapun

pada pancaindera seorang klien yang terjadi dalam keadaan sadar

atau bangun, dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik

ataupun histeria. (Carpenito, 2001).

c. Halusinasi merupakan pencerapan tanpa adanya rangsangan

apapun pada pancaindera seorang pasien, yang terjadi dalam

keadaan sadar/bangun dasarnya mungkin organik, fungsional,

psikotik ataupun histeria. (Maramis, 2005).

d. Halusinasi merupakan pengalaman pancaindera tanpa ada

rangsangan atau stimulus misalnya penderita mendengar suara-

suara/bisikan-bisikan ditelinga pada hal tidak ada sumber dari

suara/bisikan itu (Hawari, 2006).

2. Macam-macam halusinasi

Maramis, 2004 menjelaskan bahwa halusinasi dapat dibagi

menjadi lima macam, yaitu :

a. Halusinasi Pendengaran

Klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungan

dengan stimulus yang nyata atau lingkungan, dengan kata lain

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 1
orang yang berada disekitar klien tidak mendengar suara atau

bunyi yang didengar klien.

b. Halusinasi Penglihatan

Klien melihat gambaran yang jelas atau samar-samar atau tanpa

adanya stimulus yang nyata dari lingkungan dengan kata lain

orang yang berada disekitar klien tidak melihat gambaran serta

apa yang dikatakan klien.

c. Halusinasi Penciuman

Klien mencium sutatu bau yang muncul dari sumber tertentu

tanpa stimulus yang nyata, artinya orang yang berada disekitar

klien tidak mencium sesuatu seperti apa yang dirasakan klien.

d. Halusinasi Perabaan

Klien merasa seperti ada sesuatu yang merayap-rayap

ditubuhnya atau kulitnya tanpa ada stimulus yang nyata.

e. Halusinasi Pengecapan

Biasanya terjadi bersamaan dengan halusinasi bau atau hirup.

Individu itu merasa mengecap sesuatu dimulutnya

3. Etiologi

Faktor penyebab yang mungkin mengakibatkan perubahan persepsi

sensori : halusinasi adalah aspek biologis, psikologis, dan sosial

budaya (Stuart and Sundeen, 1998 dikutip oleh Hamid, 2005) yaitu :

a. Biologis

Gangguan perkembangan dan fungsi otak susunan saraf pusat

dapat menimbulkan gangguan halusinasi seperti hambatan

perkembangan otak khususnya korteks prontal, temporal, dan

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 2
limbik. Gejala yang mungkin terjadi adalah dalam belajar, daya

ingat dan mungkin muncul perilaku menarik diri atau kekerasan

b. Psikologis

Keluarga, pengasuh, dan lingkungan sangat mempengaruhi respon

psikologis dari klien, sikap atau keadaan yang dapat

mempengaruhi Kehidupan sosial budaya dapat pula

mempengaruhi terjadinya halusinasi dimana terjadi konflik sosial

budaya (peperangan, kerusuhan, kerawanan) kemiskinan,

kehidupan yang terisolasi disertai stress yang menumpuk.

4. Proses terjadinya halusinasi

Menurut Stuart and Laraia, 2001 bahwa halusinasi dapat

berkembang dalam empat fase :

a. Fase Pertama

Comporting (ansietas sedang), halusinasi menyenangkan.

Karakteristik : klien mengalami perasaan mendalam seperti

ansietas, kesepian, rasa bersalah, takut dan mencoba untuk

berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan

ansietas. Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,

megnggerakan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon

verbal lambat jika sedang asyik, diam dan asyik sendiri.

b. Fase Kedua

Comdemming (ansietas berat), halusinasi menjadi

menjijikan. Karakteristik : Pengalaman sensori menjijikan dan

menakutkan, klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba

untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan,

klien mungkin mengalami dipermalukan oleh pengalama sensori

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 3
dan menarik diri dari orang lain, psikotik ringan. Perilaku klien :

Meningkatkan tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas

seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah.

Rentang perhatian menyempit, asyik dengan pengalaman sensorik

dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi.

c. Fase ketiga

Controling (ansietas berat), pengalaman sensori menjadi

berkuasa Karakteristik : Pengalaman klien berhenti melakukan

perlawanan terhadap halusinasi dan mengarah pada halusinasi

tersebut, kesepian jika sensori halusinasinya berhenti. Klien

mengalami psikotik. Perilaku klien : Kemauan yang dikendalikan

halusinasi akan lebih diikuti kerusakan berhubungan dengan orang

lain, rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit, adanya

tanda-tanda ansietas berat : berkeringat, tremor, tidak mampu

mematuhi perintah.

d. Fase Keempat

Conquering (panik), umunya menjadi lebur dalam

halusinasinya Karakteristik : Pengalaman sensori beberapa jam

atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik. Klien mengalami

psikotik berat, Perilaku klien : Perilaku tremor akibat panik,

potensi kuat, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau

katatonik. Tidak mampu berespon terhadap berita komplit dan

lebih satu orang. Halusinasi berubah menjadi mengancam,

memerintah dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak

berdaya, hilang control dan tidak dapat berhubungan secara nyata

dengan orang lain dan lingkungan.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 4
5. Tanda dan gejala

Tanda dan gejalanya dilihat dari beberapa aspek, yaitu :

a. Aspek fisik :

1) Makan dan minum kurang

2) Tidur kurang atau terganggu

3) Penampilan diri kurang

4) Keberanian kurang

b. Aspek emosi :

1) Bicara tidak jelas, merengek, menangis seperti anak kecil

2) Merasa malu, bersalah

3) Mudah panik dan tiba-tiba marah

c. Aspek sosial

1) Duduk menyendiri

2) Selalu tunduk

3) Tampak melamun

4) Tidak peduli lingkungan

5) Menghindar dari orang lain

6) Tergantung dari orang lain

d. Aspek intelektual

1) Putus asa

2) Merasa sendiri, tidak ada sokongan

3) Kurang percaya diri

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 5
C. POHON MASALAH

(Efek)…. Risiko Perilaku Kekerasan

Gangguan Pemenuhan
(Core Problem)….. Perubahan Persepsi Sensori :
Halusinasi Kesehatan

Defisit Perawatan Diri :


(Etiologi)….. Isolasi Sosial : Menarik Diri
Mandi dan Berhias

Gangguan Konsep Diri : Harga


Diri Rendah

Berduka Disfungsional

Gambar 2 : Pohon Masalah (Keliat, 2005)

D. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

1. Masalah keperawatan

a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi

c. Isolasi sosial : menarik diri

2. Data yang perlu dikaji

a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

1) Data Subyektif :

- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.

- Klien suka membentak dan menyerang orang yang

mengusiknya jika sedang kesal atau marah.

- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 6
2) Data Objektif :

- Mata merah, wajah agak merah.

- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,

menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.

- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.

- Merusak dan melempar barang-barang.

b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi

1) Data Subjektif :

- Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan

dengan stimulus nyata

- Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus

yang nyata

- Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus

- Klien merasa makan sesuatu

- Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya

- Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan

didengar

- Klien ingin memukul/melempar barang-barang

2) Data Objektif :

- Klien berbicara dan tertawa sendiri

- Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu

- Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan

sesuatu

- Disorientasi

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 7
c. Isolasi sosial: menarik diri

1) Data Subyektif :

Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-

apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan

malu terhadap diri sendiri.

2) Data Obyektif :

Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih

alternatif tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri

hidup, Apatis, Ekspresi sedih, Komunikasi verbal kurang,

Aktivitas menurun, Posisi janin pada saat tidur, Menolak

berhubungan, Kurang memperhatikan kebersihan

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Perubahan sensori perseptual : halusinasi

2. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

3. Isolasi sosial : menarik diri

F. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

N Dx Percencanaan
Rasional
o Keperawatan Tujuan Kriteria Intervensi
1 Gangguan TUM : - Klien a. Bina hubungan a. Menjalin
sensori Setelah menunjukkan saling percaya trust dengan
persepsi : dilakukan tanda dengan terapeutik klien
Halusinasi asuhan percaya pada b. Sapa klien dengan b. Memberikan
pendengaran keperawatan perawat ramah baik verbal kenyamanan
selama 5 kali - Ekspresi maupun non verbal. pada klien
pertemuan wajah c. Perkenalkan nama, c. Meningkatka
klien dapat bersahabat nama panggilan dan n keercayaan
mengontrol - Ada kontak tujuan perawat klien pada
halusinasi mata berkenalan. perawat
TUK 1 : - Mau berjabat d. Tanyakan nama d. Memberikan
Klien dapat tangan lengkap dan nama kesan akrab
membina - Bersedia panggilan yang dengan klien
hubungan mengungkap disukai klien e. Memudahka

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 8
saling kan masalah e. Buat kontrak yang n klien
percaya yang jelas mengingat
dihadapi f. Tunjukkan sikap kontrak
jujur dan menepati f. Hubungan
janji setiap kali yang saling
interaksi. percaya
g. Tanyakan perasaan dengan klien
klien dan masalah g. Menggali
yang dihadapi klien. kebutuhan
intervensi
klien
TUK 2 : Klien dapat a. Adakan kontak a. Memudahka
Klien dapat menyebutkan sering dan singkat n klien
mengenali :jenis, isi, secara bertahap. mengingat
halusinasinya waktu, b. Observasi tingkah b. Mengetahui
frekuensi, laku klien terkait perubahan
perasaan, situasi dengan tingkah laku
dan kondisi halusinasinya akibat
yang Tanyakan apakah halusinasi
menimbulkan klien mengalami
halusinasi, sesuatu halusinasi
responnya saat dengar, Jika klien
mengalami menjawab ya,
halusinasi. tanyakan apa yang
sedang didengarnya,
lanjutkan suara apa
yang katakana
bahwa perawat
percaya klien
mengalami hal
tersebut, namun
perawat sendiri tidak
mengalaminya (
dengan nada
bersahabat tanpa
menuduh atau
menghakimi )
Katakan bahwa ada
klien lain yang
mengalami hal yang
sama, katakan
perawat akan
membantu klien.
Jika klien tidak
sedang berhalusinasi
klarifikasi tentang

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 9
adanya pengalaman
halusinasi,
diskusikan dengan
klien :Isi, waktu dan
frekuensi terjadinya
halusinasi ( pagi, c. Menggali
siang, sore, malam respon klien
atau sering dan selama
kadang-kadang ) halusinasi
Situasi dan kondisi
yang menimbulkan
atau tidak
menimbulkan
halusinasi. d. Mengetahui
c. Diskusikan dengan mekanisme
klien apa yang koping klien
dirasakan jika terjadi
halusinasi dan beri e. Meghindarka
kesempatan klien n klien
untuk masuk ke
mengungkapkan tahap
perasaannya. halusinasi
d. Diskusikan dengan comforting
klien apa yang
dilakukan untuk
mengatasi masalah
tersebut.
e. Diskusikan tentang
dampak yang akan
dialaminya bila
klien menikmati
halusinasinya.
TUK 3 : a. Klien dapat a. Identifikasi bersama a. Melibatkan
Klien dapat menyebutkan klien cara atau klien dalam
mengontrol tindakan yang tindakan yang mengambil
halusinasinya biasanya dilakukan jika terjadi solusi
dilakukan halusinasi.
untuk b. Diskusikan cara yang
mengendalika digunakan klien,Jika b. Reinforceme
n cara yang digunakan nt
halusinasinya. adaptif beri pujian, meningkatka
b. Klien dapat Jika cara yang n motivasi
menyebutkan digunakan klien
cara baru maladaptive
mengontrol diskusikan kerugian
halusinasi. cara tersebut

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 10
c. Klien dapat c. Diskusikan cara baru
memilih dan untuk c. Menyesuaika
memperagaka memutus/mengontrol n dengan
n cara timbulnya halusinasi : kebutuhan
mengatasi Katakan pada diri klien
halusinasi. sendiri bahwa ini
d. Klien tidak nyata ( “saya
melaksanakan tidak mau dengar ’’ )
cara yang pada saat halusinasi
telah dipilih terjadi temui orang
untuk lain ( perawat/ teman/
mengendalika anggota keluarga )
n untuk menceritakan
halusinasinya. tentang halusinasinya,
e. Klien membuat dan
mengikuti melaksanakan jadwal
terapi aktivitas kegiatan sehari-hari
kelompok yang telah disusun,
Meminta keluarga /
teman / perawat
menyapa jika sedang d. Cara yang
berhalusinasi. sesuai
d. Bantu klien memilih keinginan
cara yang sudah klien
diajurkan dan latih meningkatka
untuk mencobanya. n hasil
e. Beri kesempatan percobaan
untuk melakukan cara e. Menghindark
yang dipilih dan an
dilatih. ketergantung
f. Pantau pelaksanaan an klien pada
yang telah dipilih dan perawat
dilatih, jika berhasil f. Meningkatka
beri pujian. n motivasi
g. Anjurkan klien klien
mengikuti terapi g. Kelompok
aktifitas kelompok, menambah
orientasi realita, pengalaman
stimulasi persepsi. dan harga
diri klien

TUK 4 : a. Keluarga a. Buat kontrak dengan a. Memberikan


Klien dapat dapat keluarga kesiapan
dukungan membina b. Diskusikan dengan pada
dari keluarga hubungan keluarga : keluarga
dan saling pengertian b. Menghindark

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 11
mengontrol percaya halusinasi, tanda dan an salah
halusinasi dengan gejala halusinasi, interpretasi
perawat proses terjadinya pada
b. keluarga halusinasi, cara yang keluarga
menyebutkan dapat dilakukan kllien
pengertian, klien dan keluarga
tanda dan untuk memutus
gejala, proses halusinasi, obat-
terjadinya obatan halusinasi,
halusinasi cara merawat
dan tindakan anggota keluarga
untuk yag halusinasi di
mengendalik rumah (beri
an halusinasi. kegiatan, jangan
biarkan sendiri,
makan bersama,
berpergian bersama,
memantau obat-
obatan dan cara
pemberiannya untuk
mengatasi
halusinasi). c. Menghindark
c. Beri informasi an pasien
waktu control relaps obat
kerumah sakit dan
bagaimana cara
mencari bantuan jika
halusinasi tidak
dapat diatasi di
rumah.
TUK 5 : Klien a. Diskusikan dengan a. Meningkatka
Klien dapat menyebutkan : klien tentang n kesadaran
menunjukkan manfaat minum manfaat dan klien tentang
perilaku obat, kerugian kerugian tidak minum obat
teratur tidak munum minum obat, warna, b. Menghindari
minum obat obat, nama, dosis, cara, efek kebiasaan
warna, dosis, terapi dan efek klien yang
efek terapi dan samping salah
efek samping penggunaan obat. c. Meningkatka
obat, klien b. Pantau klien saat n motivasi
mendemonstrasi penggunaan obat. klien minum
kan penggunaan c. Beri pujian jika obat
obat dengan klien menggunakan
benar, klien obat dengan benar. d. Meningkatka
menyebutkan d. Diskusikan akibat n kesadaran
akibat berhenti berhenti minum obat klien tentang

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 12
minum obat tanpa konsultasi relaps obat
tanpa konsultasi dengan dokter. e. Tindakan
dokter. e. Ajurkan klien untuk kolaboratif
konsultasi kepada mendukung
dokter/perawat jika proses
terjadi hal-hal yang kesembuhan
tidak diinginkan. klien
2 Risiko TUM : a. Klien mau a. Beri salam/ panggil a. Memanggil
mencederai Setelah membalas nama dengan
diri, orang lain dilakukan salam nama
dan asuhan b. Klien mau panggilan
lingkungan keperawatan menjabat dapat
selama 5 kali tangan b. Sebutkan nama mempercepa
pertemuan c. Klien mau perawat sambil t dalam
klien menyebutka jabat tangan membina
terhindar dari n nama hubungan
risiko d. Klien mau c. Jelaskan maksud saling
perilaku tersenyum hubungan interaksi percaya
kekerasan e. Klien mau b. Jabat tangan
TUK 1: kontak mata d. Jelaskan tentang menunjukka
Klien dapat f. Klien mau kontrak yang akan n sikap
membina mengetahui dibuat ramah
hubungan nama e. Beri rasa aman dan perawat
saling perawat. sikap empati kepada klien
percaya
dengan f. Lakukan kontak c. Klien
perawat singkat tapi sering mungkin
bisa takut
atau curiga
tanpa
didahului
penjelasan
tujuan
interaksi

d. Menjaga
kepercayaan
klien

e. Menunjukka
n kepedulian
perawat
terhadap
klien

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 13
f. Mempermud
ah
pemahaman
klien
TUK 2: a. Klien a. Beri kesempatan a. Memberikan
Klien dapat mengungka untuk keleluasaan
mengidentifi pkan mengungkapkan klien untuk
kasi perasaannya perasaannya menyampaik
penyebab b. Klien dapat b. Bantu klien untuk an
perilaku mengungka mengungkapkan perasaanya.
kekerasan. pkan penyebab perasaan b. Menegetahui
penyebab jengkel/ kesal penyebab
perasaan perilaku
jengkel/ kekerasan
kesal (dari
diri sendiri,
dari
lingkungan/
orang lain).
TUK 3: a. Klien dapat a. Anjurkan klien a. Memberikan
Klien dapat mengungkap untuk keleluasaan
mengindentif kan perasaan mengungkapkan klien untuk
ikasikan saat marah/ yang dialami dan mengungkap
tanda jengkel rasakan saat kan
perilaku b. Klien dapat jengkel/ kesal perasaannya
kekerasan menyimpulk b. Observasi tanda b. Mengetahui
an tanda- perilaku kekerasan tanda-tanda
tanda pada klien. perilaku
jengkel/ c. Simpulkan bersama kekerasan
kesal yang klien tanda-tanda sejak dini
dialami jengkel/kesal yang c. Menyimpulk
dialami klien an bersama
klien untuk
menyamaka
n persepsi
tanda-tanda
kesal.
TUK 4: a. Klien dapat a. Anjurkan klien a. Memberikan
Klien dapat mengungkap untuk men keleluasaan
mengindentif kan perilaku gungkapkan klien untuk
ikasi kekerasan perilaku kekerasan bercerita
perilku yang biasa yang biasa perilaku
kekerasan dilakukan dilakukan klien kekerasan
yang biasa b. Klien dapat yang pernah
dilakukan. bermain dilakukan
peran b. Bantu klien bermain

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 14
dengan peran sesuai dengan b. Bermain
perilaku perilaku kekerasan peran dapat
kekerasan yang biasa membantu
yang biasa dilakukan klien untuk
dilakukan c. Diskusikan dengan mengendalik
c. Klien dapat klien, apakah an perilaku
dilakukan dengan cara yang kekerasanny
cara yang klien lakukan a
biasa dapat masalahnya selesai
menyelesaik c. Diskusi
an masalah membantu
atau tidak. menyelesaik
an masalah
klien dan
menjadikan
koping
individu
klien efektif.
TUK 5: a. Klien dapat a. Diskusikan akibat/ a. Menyadarka
Klien dapat menjelaskan kerugian dari cara n klien jika
mengidentifi akibat dari yang dilakukan perbuatanny
kasi cara yang klien a merugikan
akibat digunakan b. Bersama klien bagi dirinya
perilaku klien menyimpu lkan dan orang
kekerasan akibat dari cara lain
yang digunakan b. Menyadarka
oleh klien n klien jika
c. Tanyakan pada perbuatanny
klien “apakah ia a merugikan
ingin mempelajari bagi dirinya
cara baru yang dan orang
sehat?” lain
c. Mengeksplo
r keinginan
klien untuk
berubah.
TUK 6: Klien dapat a. Tanyakan pada a. Mengeksplo
Klien dapat melakukan cara klien “apakah ia re keinginan
mendefisinisi berespon ingin mempelajari klien untuk
kan terhadap cara baru yang berubah.
cara kemarahan sehat?”
konstruktif secara b. Berikan pujian jika b. Pujian dapat
dalam konstruktif klien mengetahui meningkatka
berespon cara lain yang sehat n semangat
terhadap c. Diskusikan dengn klien untuk
kemarahan klien cara lain yang menjadi

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 15
sehat: lebih baik
1) Secara fisik:
tarik napas dala c. Diskusi
m, jika sedang membantu
kesal/ memukul menyelesaik
bantal/ an masalah
kasuratau olah klien dan
raga atau menjadikan
pekerjaan yang koping
memerlukan individu
tenaga klien efektif.
2) Secara verbal:
katakan bahwa
anda sedang
kesal/
tersinggung/
jengkel (saya
kesal anda
berkata seperti
itu , saya marah
karena mama
tidak memenuhi
keinginan saya)
3) Secara sosial:
lakukan dalam
kelompok cara-
cara yang sehat,
latihan asertif.
Latihan
manajemen
perilaku
kekerasan
4) Secara spiritual:
anjurkan klien
sembahyang,
berdoa/ ibadah
lain, meminta
pada Tuhan,
untuk diberi
kesabaran,
mengadu pada
Tuhan tentang
kekerasan/
kejengkelan.
TUK 7: a. Kien dapat a. Bantu klien a. Meyakinkan
Klien dapat mendemonst mengidentifikasi klien untuk

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 16
mendemonstr rasi-kan cara manfaat cara yang melakukan
asikan mengontrol telah diplih cara yang
cara perilaku b. Bantu klien baik
mengontrol kekerasan menstimulasikan b. Mengajarkan
perilaku b. Fisik: tarik tersebut (role play) klien untuk
kekerasan napas c. Beri reinforcement melakukan
dalam, olah positif atas dengan
raga, pukul keberhasilan klien benar
kasur dan menstimulasi cara c. Pujian
bantal. tersebut menjadikan
c. Verbal: d. Anjurkan klien klien lebih
mengatakan untuk termotivasi
secara menggunakan cara untuk
langsung yang telah melakukan
dengan tidak dipelajari saat cara yang
menyakiti jengkel atau marah positif
d. Spiritual: e. Susun jadwal d. Menerapkan
sembahyang melakukan cara cara yang
, berdoa atau yang telah benar untuk
ibadah klien dipelajari menghilangk
an rasa
jengkel
e. Mempelajari
cara
mengendalik
an pkdengan
teratur
TUK 8: a. Klien dapat a. Jelaskan jenis-jenis a. Klien
Klien dapat menyebutka obat yang diminum memahami
menggunaka n obat-obat klien tentang obat
n obat yang b. Diskusikan manfaat yang
dengan benar diminum minum obat dan diminum
(sesuai dan kerugian berhenti b. Memotivasi
program kegunaanny minum obat tanpa klien untuk
pengobatan) a (jenis, seizing dokter teratur
waktu, dosis, c. Jelaskan prinsip minum obat
dan efek) benar minum obat
b. Klien dapat (baca nama yang
minum obat tertera pada botol o c. Meminimali
sesuai bat, dosis obat, sir adanya
dengan waktu dan cara pemberian
program minum) salah obat
pengelolaan d. Jelaskan manfaat pada pasien
minum obat dan
efek obta yang
perlu diperhatikan d. Memotivasi

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 17
e. Anjurkan klien klien untuk
minta ob at dan teraturminu
minum obat tepat m obat
waktu
f. Anjurkan klien e. Meminimali
melapork an pada sir pasien
perawat/dokter jika lupameminu
merasakan efek m obat
yang tidak
menyenangkan f. Mengetahui
g. Beri pujian jika sejak dini
klien minum adanya efek
obatdengan samping
Benar obat yang
ditimbulkan

g. Memotivasi
klien untuk
rajin minum
obat
TUK 9: Keluarga klien a. Identifikasikan a. Keluarga
Klien dapat: kemampuan merupakan
mendapat a. Menyebutka keluarga dalam salah satu
dukungan n cara merawat klien dari faktor
keluarga merawat sikap apa yang terpenting
mengontrol klien yang telah dilakukan dalam
perilaku berperilaku keluarga terhadap pencapaian
kekerasan kekerasan klien selama ini kesehatan
b. Mengungka b. Jelaskan peran klien.
pkan rasa serta keluarga
puar dalam dalam merawat b. Pengetahuan
merawat klien Jelaskan cara- keluarga
klien cara merawat klien: dalam
1) Terkait dengan perawatan
cara klien dengan
mengontrol gangguan
perilaku marah jiwa mampu
secara membantu
konstuktif klien dalam
2) Sikap tenang, pengontrola
bicara tenang n perilaku
dan jelas kekerasan
3) Membantu c. Memastikan
klien mengenal keluarga
penyebab benar-benar
marah paham cara

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 18
c. Bantu keluarga perawatan
mendemonstrasika klien
n cara merawat d. Menjaga
klien ketenangan
d. Bantu keluarga keluarga dan
mengungkapkan respon
perasaannya setelah keluarga
melakukan terhadap
demonstrasi cara
perawatan
klien
3 Isolasi sosial : TUM : Klien dapat 1.Kaji Pengetahuan 1.Untuk
menarik diri Klien mampu menyebutkan klien tentang perilaku mengetahui
berinteraksi manfaat menarik diri. tingkat
dan merasa berhubungan pengetahuan
puas b/d dengan orang 2.Dorong klien untuk klien tentang
orang lain lain menyebutkan kembali menarik diri.
TUK 1  Mendapat penyebab menarik diri.
• Klien dapat kan 2.Membantu
membina teman mengetahui
hubungan  Mengung penyebab
salingt kapkan menarik diri
percaya perasaan 3.Beri reinforcement sehingga
dengan positif atas keberhasilan membantu dlm
perawat klien dalam melaksanakan
TUK 2 mengungkapkan intervensi
Klien penyebab menarik diri. selanjutnya.
mengenal
halusinasi 3.Membantu
yang di mengetahui
alaminya penyebab
menarik diri
sehingga
membantu dlm
melaksanakan
intervensi
selanjutnya.

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 19
DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino
Gonohutomo, 2003

Budi A, “Proses Keperawatan Jiwa”, Jakarta : EGC, 2005

Keliat BA. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta :
FIK UI. 1999

Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC,
1999

Maramis, WF, “Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa”, Surabaya : Penerbit Airlangga,


1995

Rasmun, SKp, “Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan


Keluarga”, Jakarta, EGC. 2001

Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995

Stuart, G.W, Anna Sudden, S.J.E.R, “Buku Saku Keperawatan Jiwa”, Jakarta.
EGC. 1995

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung,


RSJP Bandung, 2000

Program Studi Profesi Ners UIN Alauddin Makassar Angt. IX (Keperawatan Jiwa)
Valdesyiah Djuma S.Kep 20