Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTEK PENCAPAN

PENCAPAN ZAT WARNA PIGMEN


PADA SERAT KAPAS

DISIUSUN OLEH :
NAMA : 1. IHWAL ILHAMI
2. AFREDO Y.P
NIM : 1. 174017
2. 164007

AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA


SEPTEMBER 2018
A. TUJUAN
1. Untuk melakukan pencapan pada serat kapas dengan zat warna pigmen dengan proses curing
menggunakan katalisator (DAP).
2. Untuk melakukan pencapan pada serat kapas dengan zat warna pigmen dengan proses curing tanpa
menggunakan katalisator (DAP).
3. Membandingan hasil pencapan ZW Pigmen pada serat kapas antara penggunaan DAP dan tanpa
DAP.

B. DASAR TEORI
Pencapan adalah suatu proses untuk mewarnai bahan tekstil dengan melekatkan zat warna pada kain secara tidak
merata sesuai dengan motif yang diinginkan. Motif yang akan diperoleh pada kain cap nantinya harusnya dibuat dulu
gambar pada kertas. Kemudian dari gambar ini masing-masing warna dalam komponen gambar yang akan dijadikan
motif dipisahkan dalam kertas film. Dari kertas film inilah motif dipindahkan ke screen, dimana dalam screen ini bagian-
bagian yang tidak ada gambarnya akan tertutup oleh zat peka cahaya sedangkan untuk bagian-bagian yang merupakan
gambar akan berlubang dan dapat meneruskan pasta cap ke bahan yang akan dicap.
Pencapan dengan zat warna pigmen banyak dilakukan karena mempunyai beberapa keuntungan
antara lain pembuatan pasta capnya sederhana, tidak perlu pengerjaan iring setelah pencapan, zat
warna dapat dicapkan bersama-sama dengan zat warna lain tanpa mengubah warna yang lainnya.
Namun terdapat pula kekurangnnya, antara lain hasil pencapan tidak tahan gosok dan kaku. Pasta
cap terdiri dari zat warna pigmen, binder, pengental dan katalis. Zat pengikat pada umumnya
merupakan zat yang larut/terdispersi dalam air dan pada suhu tinggi akan berpolimer. Pengental
yang digunakan dalam pencapan ini menggunakan pengental emulsi, pengental emulsi adalah
dispersi dari zat cair didalam zat cair lai dan tidak saling melarutkan. Pencapan menggunakan
pengental emulsi menghasilkan pegangan yang lemas. sedangkan katalisnya adalah senyawa yang
pada pemanasan tinggi dapat memberikan reaksi asam.

B.1 Pencapan dengan Zat Warna Pigmen

Pencapan dengan zat warna pigmen dapat digunakan pada semua jenis serat. Zat warna pigmen
tidak mempunyai afinitas terhadap serat, maka fiksasinya ke dalam serat diperlukan bantuan zat
pengikat yaitu binder. Kekuatan ikatan antara zat warna pigmen dengan serat tergantung pada daya
ikat dari binder yang digunakan. Oleh karena sifat fiksasi zat warna pigmen yang demikian, maka zat
warna pigmen dapat diaplikasin pada semua jenis serat termasuk serat-serat gelas. Ditinjau dari segi
ekonomis, metoda pencapan zat warna pigmen sangat sederhana dan murah. Proses pencucian yang
dimaksudkan untuk menghilangkan sisa-sisa zat warna, pengental dan zat-zat pembantu, tidak
diperlukan pada metoda pencapan pigmen. Oleh sebab itu metoda ini sangat luas digunakan dalam
industri.
Pengental emulsi dibagi dua jenis, yaitu emulsi air dalam minyak (w/o) dan emulsi minyak dalam air
(o/w). Emulsi air dalam minyak adalah air merupakan fasa terdispersi dan minyak sebagai medium
terdispersi. Emulsi minyak dalam air adalah minyak merupakan fasa terdispersi dan air sebagai
medium pendispersi.kesuksesan system pencapan pigmen didasarkan pada tiga komponen yang
sama penting yaitu, dispersi pigmen, binder dan zat pengikat silang, pengental dan zat pembantu
untuk mendapatkan sifat-sifat yang disyaratkan.
Dalam perkembangannya, saat ini sudah banyak diproduksi selain zat warna pigmen sintentik juga
binder sintentik yang lebih menjamin hasil cap sesuai keinginan. Demikian pula halnya dengan
penggunaan pengental, dari mulai pengental alam berkembang menjadi pengental emulsi air dalam
minyak (w/o), kemudian emulsi minyak dalam air (o/w) dan pada akhirnya pengental sintetis.
Komponen pasta cap pigmen didasarkan pada tiga hal penting, yaitu : dispersi zat warna pigmen,
binder dan zat pembantu ikatan silang, serta pengetal yang sesuai. Hasil pencapan pigmen yang baik
ditandai dengan tingkat kecerahan yang tinggi, sifat pegangan yang tidak kaku dan sifat daya
ketahanan yang tinggi terhadap gosok dan pencucian.(Agus Suprapto,dkk., 2006, Bahan Ajar
Teknologi Pencapan 1)
Binder merupakan zat kimia yang berperan penting dalam proses pencapan dengan zat warna
pigmen untuk meningkatkan daya ketahanan luntur warna. binder adalah suatu zat yang akan
membentuk lapisan tipis yang terbuat dari makromolekul rantai panjang yang pada saat
diaplikasikan pada tekstil berwarna.(Agus Suprapto,dkk., 2006, Bahan Ajar Teknologi Pencapan 1)
Zat warna pigmen adalah zat warna yang tidak larut dalam air, diperdagangkan dalam bentuk
terdispersi kerap disebut juga emulsi pigmen. Terutama dibuat dari bahan baku sintetis, selain
tersedia cukup banyak warna-warna, untuk pigmen putih digunakan bahan dasar titanium dioksida,
campuran kupro dan alumunium untuk warna metalik serta besi oksida untuk mendapatkan warna
kecoklatan.
Dalam melakukan pemilihan zat warna pigmen yang penting diperhatikan selain harganya juga sifat-
sifat ketahanan lunturnya, kecerahannya dan kekuatan pewarnaannya. Pasta cap yang digunakan
sebaiknya mempunyai sifat reologi seperti plastik, dapat dipindahkan pada tekstil dengan mudah
tetapi penetrasinya terbatas. Jika terjadi perakelan pasta akan mengencer dan setelah perakelan
kembali menjadi solid pada permukaan kain, sehingga tidak berpenetrasi lebih jauh ke dalam tekstil
hanya tinggal di permukannya saja, sehingga menghasilkan tingkat pewarnaan yang lebih baik.
Pada penggunaan pengental dispersi, untuk menghindari ketidakrataan warna pada pencapan kain-
kain halus dan kain-kain hidrofob dan juga terjadinya screen fram marks, dapat dikombinasikan
dengan pengental koloid (misal dari jenis eter selulosa) yang mengurangi efek pecahnya lapisan
pasta cap. Namun demikian perlu tetap diperhatikan efek pegangan kaku jika penambahan
pengental koloid semakin besar.

Keuntungan dari zat warna pigmen adalah:


 Pencapan pigmen ekonomis karena tidak perlu dilakukan pencucian setelah fiksasi, pengambilan
contoh cepat dan tidak memerlukan waktu yang lama.
 Dapat dilakukan pada semua jenis bahan.
 Pewarnaan tidak mempunyai banyak masalah.
 Lebih ramah lingkungan karena tidak ada proses pencucian.

Kerugian dari zat warna pigmen adalah:


 Hasil celup relatif kaku (apabila tanpa menggunakan softener )
 Tahan luntur tergantung dari konsentrasi dan jenis binder.
 Zat warna hanya menempel pada permukaan kain saja dan
 tahan terhadap gosokan jelek. (Diktat pencapan, Agus suprapto,dkk,2006)

Pigmen terdiri dari beberapa macam :


 Endapan zat warna kation ( lakes).
Zat warna basa yang bersifat kation diendapkan suatu anion misalnya asam fostungs molidat akan
memberikan endapan.
 Endapan zat warna anion
Zat warna anion diendapkan dalam barium, endapan garam logam tersebut tahan terhadap pelarut
organik tetapi biasanya tahan lunturnya kurang baik terhadap asam dan alkali.
 Komplek logam.
Adalah senyawa gabungan atau senyawa kordinat, dimana molekul zat warna yang mengandung
atom oksigen atau nitrogen mampu memberikan elektron kepada atom logam.
 Senyawa netral bebas logam
Merupakan jenis pigmen yang paling banyak dipakai dan berasal dari sebagian besar zat warna
monoazo, diazo dan beberapa dari golongan azina, indigo dan antrakinon sehingga warnanya
melengkapi seluruh warna spektrum.(Lubis, Arifin, dkk. 1998. Teknologi Pencapan Tekstil. Sekolah
Tinggi Teknologi Tekstil Bandung)
Zat warna pigmen tidak mempunyai afinitas terhadap semua serat oleh karena itu maka diperlukan
zat pengikat (binder) yang akan membentuk lapisan film yang sangat tipis diatas bahan dan
membentuk ikatan dengan serat.
Syarat zat pengikat antara lain:
. Gugus reaktif dapat mengadakan ikatan dengan serat
. Daya kohesi adesi pada suptrat
. Tidak berwarna dan stabil
. Daya tahan terhadap hidrolisa terhadap pelarut.
. Tahan terhadap zat kimia, panas dan cuaca.
Binder mempunyai gugus reaktif dalam kopolimer yang akan membentuk ikatan silang (cross linking)
antar molekul-molekul kopolimer atau dengan hidroksi, amino dan gugus lainnya dari serat pada
saat proses curing. Reaksi ikatan silang membutuhkan suhu tinggi dan katalis yang bersifat asam.
Katalis yang banyak digunakan pada pencapan dengan zat warna pigmen adalah diamonium posfat.
Reaksi ikatan silang dari binder terjadi pada kondisi asam yang dapat digambarkan sebagai berikut :
B−CH2OH + HO−CH2−B B−CH2OCH2−B + HOH pH <5
B−CH2OH + HOB B−CH2−OB + HOH pH <5

Reaksi antara binder dengan serat dapat digambarkan sebagai berikut :


B−CH2OR + HO−Sel B−CH2−O−Sel + ROH
Dimana R adalah CH3 atau H dan B adalah molekul binder.
Hasil pencapan zat warna pigmen yang baik ditandai dengan tingkat kecerahan yang tinggi, sifat
pegangan yang tidak kaku, dan sifat daya tahan yang cukup tinggi terhadap pencucian, kurang baik
terhadap gosokan.
Katalisator adalah suatu zat yang dapat mempengaruhi kecepatan reaksi tanpa zat tersebut ikut
bereaksi mekanismenya pembentukan ikatan sialang tiga dimensi diperlukan suasan asam dan suhu
tinggi, dan asam ini diperoleh dari katalisator.
Penggunaan katalisator harus optimum karena bila kurang maka proses polimerisasi tidak sempurna.
Pengental digunakan untuk mendapatkan kekentalan pasta cap pada kain atau
memindahkan/melekatkan pasta cap pada kain. Sebagai penetrasi yang baik dan motif yang tajam.
Syarat pengental :
 Stabil selama proses pencapan
 Tidak berwarna maupun mewarnai ahan tekstil serta tidak bereaksi dengan zat warna.
 Mudah kering dan tidak menimbulkan busa.
 Dapar menahan resapan larutan/uap air sehingga diperoleh motif yang tajam.
 Dapat memindahkan zat warna sebanyak mungkin ke bahan tekstil.
 Dapat bercampur dengan baik dengan zat pembantu tekstil lainnya dan tidak mengadakan
reaksi/antaraksi.
 Mudah dihilangkan pada pencucian.
 Daya rekat yang baik.
Pengental ada beberapa macam : alam, sintetik, modifikasi, emulsi, dan semi emulsi.(Diktat
Pencapan, Agus Suprapto,dkk,2006)

C. ALAT DAN BAHAN


 Alat yang dipergunakan adalah :
1. Srcreen Printing
2. Meja printing
3. Rakel
4. Oven (Mesin Curing)
5. Alat bantu : - mixer
- pengaduk
- neraca
- gelar ukur
- dsb

 Bahan yang diperlukan adalah :


 Pengental : - Sintetik
 Air
 Zat warna Pigmen (Sky Pg Yellow F9)
 Zat Warna Pigmen (Sky Pg Flua Pink S-77))
 Softener
 DAP
 Binder
 Urea
D. RESEP
a. Resep Pasta Pengental Sintetik
Pengental : 6 g
Air : 94 g
100 g

b. Resep Pencapan ZW Pigmen dengan katalisator


PASTA MOTIF 1 {ZW Pigmen (Sky Pg Yellow F9)}
Zat warna : 3 g
Binder : 6 g
Softener : 2 g
Urea : 3 g
Katalisator : 7 g
Manutex 6% : 25 g
Balance : 4 g
50 g

PASTA MOTIF 2 {ZW Pigmen (Sky Pg Fluo Pink S-77 )}


Zat warna : 3 g
Binder : 6 g
Softener : 2 g
Urea : 3 g
Katalisator : 7 g
Manutex 6% : 25 g
Balance : 4 g
50 g

c. Resep Pencapan ZW Pigmen tanpa katalisator


PASTA MOTIF 1 {ZW Pigmen (Sky Pg Yellow F9)}
Zat warna : 3 g
Binder : 6 g
Softener : 2 g
Urea : 3 g
Manutex 6% : 25 g
Balance : 4 g
50 g

PASTA MOTIF 2 {ZW Pigmen (Sky Pg Fluo Pink S-77 )}


Zat warna : 3 g
Binder : 6 g
Softener : 2 g
Urea : 3 g
Manutex 6% : 25 g
Balance : 4 g
50 g

d. Resep Penyabunan
Teepol : 2 g/l
Na2CO3 : 1 g/l
Temperatur : 70 ˚C selama 10 menit

E. FLOW PROSES
1. Curing
2.
Print DRY CURING
100oC 160oC
3’ 1’

F. CARA KERJA
Metode CURING :
a. Siapkan Pengental sesuai kebutuhan
b. Buat pasta cap pencapan dengan zat zat yamg sudah ditentukan dalam resep
c. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka sempurna dan konstan pada
meja cap.
d. Screen diletakkan tepat berada pada bahan yang akan dicap
b. Dengan bantuan rakel, pasta cap ditaburkan pada screen pada bagian pinggir kasa (tidak mengenai
motif) secara merata pada seluruh permukaan.
c. Frame ditahan agar mengepres pada bahan, kemudian dilakukan proses pencapan dengan cara
memoles screen dengan pasta cap menggunakan rakel.
d. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke bawah agar dapat mendorong
zat warna masuk ke motif.
e. screen dilepaskan ke atas.
f. Biarkan pasta cap agak mengering, kemudian lakukan untuk motif ke 2.
g. Setelah semua motif sudah tercap, angkat kain dan masukkan ke mesin Dry.
h. Setelah pasta cap benar benar kering lakukan proses fiksasi
i. Kemudian lakukan Washing Off

G. FUNGSI ZAT & PROSES


FUNGSI ZAT
1. Zat Warna Pigmen : Untuk memberikan arah warna pencapan pada kain
2. Pengental : Sebagai media transfer zat warna
3. Binder : Sebagai zat pengikat yang membentuk lapisan film/jaringan yang
sangat tipis diatas bahan dan membentuk ikatan dengan serat
sehingga hasil pencapan memiliki ketahanan gosok yang lebih
baik.
4. DAP : sebagai zat katalis atau donor asam, yang pada suhu tinggi akan
Mengeluarkan asam sebagai syarat terjadinya fiksasi antara zat
pengikat dengan serat.
5. Urea : zat higroskopis untuk menjaga kelembaban kain.
6. Na2CO3 + Teepol : Sebagai zat cuci sabun
H. HASIL PRAKTIKUM
Metode CURING

Metode STEAM
I. DISKUSI

Pada pencapan ZW Pigmen dalam kain kapas menggunakan metode Curing dengan
perbandingan antara penggunaan DAP dan tanpa DAP didapatkan hasil pembahasan
tentang ketuaan warna, ketajaman warna dan kerataan warna.

1. Ketuaan Warna
Ketuaan warna pada pencpaan ZW Pigmen menggunakan zat katalisator DAP
didapatkan hasil arah warna yang lebih tua dibandingkan pencapan ZW PIgmen tanpa
penggunaan DAP. Hal ini dikarenakan tanpa zat katalis proses fiksasi atau terikatnya
zat katalis kurang maksimal.

2. Ketajaman Warna
Ketajaman warna yang didapatkan pun lebih baik pada resep yang menggunakan DAP,
hal ini dikarenakan proses fiksasi tidak dapat bekerja dengan baik pada saat proses
fiksasi yang menyebabkan warna menguap pada proses fiksasi bersamaan dengan zat
zat lainnya pada saat proses curing dengan suhu tinggi.

3. Kerataan Warna
Kerataan warna pu didapatkan hasil yang lebih baik pada resep yang menggunakan zat
katalis, hal ini bisa disebabkan beberapa hal. Screen yang tidak bersih waktu
pembersihan yang menyebabkan ketidakrataan pada motif pencapan dan juga karena
zat katalisator yang tidak digunakan membuat fiksasi berjalan lambat dan
menyebabkan zw pigmen tidak dapat terikat dengan sempurna secara merata pada
serat.

J. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa zat warna pigmen mampu mencap serat kapas dengan baik,
tetapi pemilihan penggunaan zat bantu yang tepat dapat berpengaruh terhadap hasil
pencapan. Penggunaan zat DAP dalam pencapan ZW Pigmen dapat memberikan hasil
pencapan yang lebih baik dibandingkan tanpa penggunaan zat katalisator DAP.
K. DAFTAR PUSTAKA
a. Ir.Hj. Subiyati, MT. BUKU TEORI PENCAPAN II,AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA,2018.
b. Ir.Hj. Subiyati, MT. BUKU PRAKTIKUM PENCAPAN II,AKADEMI TEKNOLOGI WARGA SURAKARTA,2018.
c. Catatan Praktikum Cap I, Agus Kustanto, STTT, BAndung, 2004
d. Ir.Rasjid Djufri M.Sc dkk, Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan Pencapan, ITT, 1973
e. Sunarto, Teknik Pencelupan dan Pencapan, JILID 3, 2008