Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau
istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya penanggulangan
secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta
masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.1,2
Meskipun dalam Kedokteran, sebagian besar golongan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya (NAPZA) masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi bila disertai
peredaran dijalur ilegal, akan berakibat sangat merugikan bagi individu maupun masyarakat luas
khususnya generasi muda. Maraknya penyalahgunaan NAPZA tidak hanya dikota-kota besar saja,
tapi sudah sampai ke kota-kota kecil diseluruh wilayah Republik Indonesia, mulai dari tingkat
sosial ekonomi menengah bawah sampai tingkat sosial ekonomi atas. Dari data yang ada,
penyalahgunaan NAPZA paling banyak berumur antara 15–24 tahun.1,2
Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi.1,3 Peran
penting sektor kesehatan sering tidak disadari oleh petugas kesehatan itu sendiri, bahkan para
pengambil keputusan, kecuali mereka yang berminat dibidang kesehatan jiwa, khususnya
penyalahgunaan NAPZA.1,2
Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan narkoba merupakan penyakit mental dan perilaku
yang berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial.
Ditinjau dari sejumlah kasus, walaupun tidak ada data yang pasti mengenai jumlah kasus penyalah
guna narkoba, namun diperkirakan beberapa tahun terakhir jumlah kasus penyalah guna narkoba
cenderung semakin meningkat, bahkan jumlah yang sebenarnya diperkirakan sesuai dengan
fenomena “gunung es”, dimana jumlah kasus yang ada jauh lebih besar daripada kasus yang
dilaporkan atau dikumpulkan. Masyarakat secara umum memandang masalah gangguan
penggunaan narkoba lebih sebagai masalah moral daripada masalah kesehatan. Berdasarkan data

1
BNN sebagian besar jumlah tersangka narkoba menurut jenis pekerjaan dalam kurun waktu 2008-
2012 adalah pekerja swasta diikuti wiraswasta, pengangguran dan buruh.3
Berdasarkan pendataan dari aplikasi SIN (Sistem Informasi Narkoba) jumlah tersangka
narkotika yang berhasil diungkap selama 5 tahu terakhir dari tahun 2012-2016 per tahun sebanyak
71,62%. Kenaikan paling pada tahun 2013 ke tahun 2014 yaitu 146,03%. Tahun 2016 jumlah
angka tersangka narkotika yang berhasil diungkap adalah 1.330 kasus, jumlah ini meningkat
16,67% dari tahun 2015.4

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyalahgunaan NAPZA


2.1.1 Definisi
NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/obat yang bila
masuk kedalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak/susunan saraf pusat,
sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi sosialnya karena terjadi
kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. Istilah NAPZA
umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan, yang menitik beratkan pada upaya
penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial. NAPZA sering disebut juga sebagai
zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga menimbulkan perubahan perilaku,
perasaan, dan pikiran.2,5,6
Narkoba adalah singkatan Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Istilah ini sangat populer
di masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum yang sebetulnya mempunyai
makna yang sama dengan NAPZA. Ada juga menggunakan istilah Madat untuk NAPZA Tetapi
istilah Madat tidak disarankan karena hanya berkaitan dengan satu jenis Narkotika saja, yaitu
turunan Opium.2,5,6

2.1.2 Epidemiologi
Prevalensi penyalahgunaan narkoba di dunia sejak tahun 2006 hingga 2013 mengalami
peningkatan. Walaupun kurva terlihat landau namun secara jumlah totalnya cukup tinggi. Besaran
prevalensi penyalahgunaan di dunia di estimasi sebesar 4,9% atau 208 juta pengguna di tahun 2006
kemudian mengalami sedikit penurunan pada tahun 2008 dan 2009 menjadi 4,6% dan 4,8%.
Namun kemudian meningkat kembali menjadi 5,2% di tahun 2011 dan tetap stabil hingga 2012.
Secara absolut, diperkirakan ada sekitar 167-315 juta orang penyalahguna dari populasi penduduk
dunia yang berumur 15-64 tahun yang menggunakan narkoba minimal sekali dalam setahun di
tahun 2013.3,4
Berdasarkan pendataan dari aplikasi Sistem Informasi Narkoba (SIN) jumlah kasus
narkotika yang berhasil diungkap selama 5 tahun terakhir dari tahun 2012-2016 per tahun sebesar
76,53%. Kenaikan paling tinggi pada tahun 2013 ke tahun 2014 yaitu 161,22%. Tahun 2016

3
jumlah kasus narkotika yang berhasil diungkap adalah 868 kasus, jumlah ini meningkat 36,05%
dari tahun 2015 seperti tampak pada gambar berikut.3,4

Gambar 2.1. Jumlah kasus narkotika dan prekursor narkotika yang berhasil diungkan BNN tahun
2012-2016

2.1.3 Teori Penyalahgunaan NAPZA1,2


Penyalahgunaan NAPZA dapat disebabkan oleh beberapa teori, yaitu:
1. Teori psikodinamika, bahwa penggunaan zat merupakan pencerminan dari fungsi ego yang
terganggu atau berhubungan dengan depresi atau gangguan kepribadian.
2. Teori sosial, menyatakan bahwa penggunaan zat berhubungan dengan pola hidup,
keluarga, masyarakat dan peran faktor lain.
3. Teori perilaku, menjelaskan bahwa penyalahgunaan zat terjadi karena adanya perilaku
mencari zat (substance seeking behavior) yang muncul sehubungan dengan pengalaman
seseorang menggunakan zat menemukan efek yang menyenangkan.
4. Teori genetik, menyatakan bahwa peran genetik ada pada penyalahgunaan alkohol dan
belum jelas pada penyalahgunaan yang lainnya.

2.1.4 Narkotika
Menurut Undang-Undang RI Nomor 22 tahun 1997 tentang Narkotika, adalah zat atau obat
yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat

4
menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. NARKOTIKA dibedakan
kedalam golongan-golongan7 :
1. Narkotika Golongan I :
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan, dan tidak ditujukan untuk
terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh :
heroin/putauw, kokain, ganja.
2. Narkotika Golongan II :
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan
dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : morfin, petidin.
3. Narkotika Golongan III
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan
ketergantungan. Contoh : kodein.
Narkotika yang sering disalahgunakan adalah Narkotika Golongan I :
- Opiat : morfin, herion (putauw), petidin, candu, dan lain-lain
- Ganja atau kanabis, marihuana, hashis
- Kokain, yaitu serbuk kokain, pasta kokain, daun koka.

Gambar 2.2 Ganja


2.1.5 Psikotropika
Menurut Undang-undang RI No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika yang dimaksud dengan
psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika, yang berkhasiat

5
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai
berikut7 :
1. Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan tidak
digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : ekstasi, shabu, LSD.
2. Psikotropika Golongan II
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan/atau tujuan
ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh
amfetamin, metilfenidat atau Ritalin.
3. Psikotropika Golongan III
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma
ketergantungan. Contoh : pentobarbital, Flunitrazepam.
4. Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau
untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom
ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam, Fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide,
nitrazepam, seperti pil BK, pil Koplo, Rohip, Dum, MG).
5. Psikotropika yang sering disalahgunakan antara lain :
- Psikostimulansia : amfetamin, ekstasi, shabu
- Sedatif & Hipnotika (obat penenang, obat tidur): MG, BK, DUM, Pil koplo dan lain-lain
- Halusinogenika : Iysergic acid dyethylamide (LSD), mushroom.

2.1.6 Zat Adiktif Lain


Yang dimaksud disini adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar yang disebut
Narkotika dan Psikotropika, meliputi7 :
1. Minuman beralkohol
Mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan syaraf pusat, dan sering
menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan

6
sebagai campuran dengan narkotika atau psikotropika, memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam
tubuh manusia. Ada 3 golongan minuman berakohol, yaitu :
a. Golongan A : kadar etanol 1-5%, (Bir)
b. Golongan B : kadar etanol 5-20%, (Berbagai jenis minuman anggur)
c. Golongan C : kadar etanol 20-45 %, (Whiskey, Vodca, TKW, Manson House, Johny
Walker, Kamput.)
2. Inhalansia
Gas yang dihirup dan solven zat pelarut mudah menguap berupa senyawa organik, yang
terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Yang
sering disalahgunakan, antara lain : Lem, thinner, penghapus cat kuku, bensin.
3. Tembakau
Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Pada upaya
penanggulangan NAPZA di masyarakat, pemakaian rokok dan alkohol terutama pada remaja,
harus menjadi bagian dari upaya pencegahan, karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu
masuk penyalahgunaan
4. NAPZA lain yang lebih berbahaya
Bahan/ obat/zat yang disalahgunakan dapat juga diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Sama sekali dilarang : Narkotika golongan I dan Psikotropika Golongan I.
b. Penggunaan dengan resep dokter : amfetamin, sedatif hipnotika.
c. Diperjual belikan secara bebas : lem, thinner dan lain-lain.
d. Ada batas umur dalam penggunannya : alkohol, rokok.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga
golongan :
1. Golongan Depresan (Downer)
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini menbuat
pemakaiannya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan tidak sadarkan diri.
Golongan ini termasuk Opioida (morfin, heroin/putauw, kodein), Sedatif (penenang), hipnotik
(otot tidur), dan tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
2. Golongan Stimulan (Upper)

7
Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja.
Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang termasuk golongan
ini adalah : Amfetamin (shabu, esktasi), Kafein, Kokain
3. Golongan Halusinogen
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah perasaan
dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda sehingga seluruh perasaan
dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis. Golongan ini termasuk :
Kanabis (ganja), LSD, Mescalin
4. Golongan Entaktogen
Adalah termasuk stimulan yang telah dimodifikasi yang juga memiliki sifat-sifat halusinogen
5. Golongan Kanabinoid
Termasuk kelompok unik yang mempengaruhi reseptor tertentu pada otak.

Macam-macam bahan Narkotika dan Psikotropika yang terdapat di masyarakat serta akibat
pemakaiannya :
a) Opioida
Opioida dibagi dalam tiga golongan besar yaitu :
 Opioida alamiah (opiat): morfin, cpium, kodein
 Opioida semi sintetik : heroin/putauw, hidromorfin
 Opioida sintetik : meperidin, propoksipen, metadon
 Nama jalannya putauw, ptw, black heroin, brown sugar
 Heroin yang murni berbentuk bubuk putih, sedangkan heroin yang tidak murni berwarna
putih keabuan
 Dihasilkan dari cairan getah opium poppy yang diolah menjadi morfin kemudian dengan
proses tertentu menghasil putauw, dimana putauw mempunyai kekuatan 10 kali melebihi
morfin. Opioid sintetik yang mempunyai kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin.
 Opiat atau opioid biasanya digunakan dokter untuk menghilangkan rasa sakit yang sangat
(analgetika kuat). Berupa pethidin, methadon, Talwin, kodein dan lain-lain
 Reaksi dari pemakaian ini sangat cepat yang kemudian timbul rasa ingin menyendiri untuk
menikmati efek rasanya dan pada taraf kecanduan sipemakai akan kehilangan rasa percaya
diri hingga tak mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Mereka mulai membentuk

8
dunia mereka sendiri. Mereka merasa bahwa lingkungannya adalah musuh. Mulai sering
melakukan manipulasi dan akhirnya menderita kesulitan keuangan yang mengakibatkan
mereka melakukan pencurian atau tindak kriminal lainnya.
b) Kokain
 Kokain mempunyai dua bentuk yaitu : kokain hidroklorid dan free base. Kokain berupa
kristal pitih. Rasa sedikit pahit dan lebih mudah larut dari free base. Free base tidak
berwarna/putih, tidak berbau dan rasanya pahit
 Nama jalanan dari kokain adalah koka,coke, happy dust, charlie, srepet, snow salju, putih.
Biasanya dalam bentuk bubuk putih
 Cara pemakaiannya : dengan membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris
lurus diatas permukaan kaca atau benda-benda yang mempunyai permukaan datar
kemudian dihirup dengan menggunakan penyedot deperti sedotan. Atau dengan cara
dibakar bersama tembakau yang sering disebut cocopuff. Ada juga yang melalui suatu
proses menjadi bentuk padat untuk dihirup asapnya yang populer disebut freebasing.
Penggunaan dengan cara dihirup akan berisiko kering dan luka pada sekitar lubang hidung
bagian dalam.
 Efek rasa dari pemakaian kokain ini membuat pemakai merasa segar, kehilangan nafsu
makan, menambah rasa percaya diri, juga dapat menghilangkan rasa sakit dan lelah.
c) Kanabis
 Nama jalanan yang sering digunakan ialah: grass. Cimeng, ganja dan gelek, hasish,
marijuana, bhang
 Ganja berasal dari tanaman kanabis sativa dan kanabis indica. Pada tanaman ganja
terkandung tiga zat utama yaitu tetrehidro kanabinol,kanabinol dan kanabidiol
 Cara penggunaannya adalah dihisap dengan cara dipadatkan mempunyai rokok atau
dengan menggunakan pipa rokok.
 Efek rasa dari kanabis tergolong cepat,sipemakai : cenderung merasa lebih santai,rasa
gembira berlebih (euforia), sering berfantasi. Aktif berkomonikasi, selera makan tinggi,
sensitif, kering pada mulut dan tenggorokan
d) Amphetamines
 Nama generik amfetamin adalah D-pseudo epinefrin berhasil disintesa tahun 1887, dan
dipasarkan tahun 1932 sebagai obat

9
 Nama jalannya : seed,meth,crystal,uppers,whizz dan sulphate
 Bentuknya ada yang berbentuk bubuk warna putih dan keabuan,digunakan dengan cara
dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet biasanya diminum dengan air.
Ada dua jenis amfetamin :
 MDMA (methylene dioxy methamphetamin), mulai dikenal sekitar tahun 1980 dengan
nama Ekstasi atau Ecstacy.
Nama lain : xtc, fantacy pils, inex, cece, cein, e
Terdiri dari berbagai macam jenis antara lain : white doft, pink heart, snow white, petir
yang dikemas dalam bentuk pil atau kapsul
 Methamfetamin ice, dikenal sebagai SHABU. Nama lainnya shabu-shabu. SS, ice, crystal,
crank. Cara penggunaan : dibakar dengan menggunakan kertas alumunium foil dan
asapnya dihisap, atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus
(bong)
e) LSD (Lysergic acid)
 Termasuk dalam golongan halusinogen,dengan nama jalanan : acid, trips, tabs, kertas.
 Bentuk yang bisa didapatkan seperti kertas berukuran kotak kecil sebesar seperempat
perangko dalam banyak warna dan gambar, ada juga yang berbentuk pil, kapsul.
 Cara menggunakannya dengan meletakkan LSD pada permukaan lidah dan bereaksi
setelah 30-60 menit sejak pemakaian dan hilang setelah 8-12 jam.
 Efek rasa ini bisa disebut tripping. Yang bisa digambarkan seperti halusinasi terhadap
tempat. Warna dan waktu. Biasanya halusinasi ini digabung menjadi satu. Hingga timbul
obsesi terhadap halusinasi yang ia rasakan dan keinginan untuk hanyut didalamnya,
menjadi sangat indah atau bahkan menyeramkan dan lama-lama membuat paranoid.
f) Sedatif-Hipnotik (Benzodiazepin)
 Digolongkan zat sedatif (obat penenang) dan hipnotika (obat tidur)
 Nama jalanan dari Benzodiazepin : BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp.
 Pemakaian benzodiazepin dapat melalui : oral,intra vena dan rectal
 Penggunaan dibidang medis untuk pengobatan kecemasan dan stres serta sebagai hipnotik
(obat tidur).
g) Solvent/Inhalasia

10
 Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup.Contohnya : Aerosol, aica aibon, isi
korek api gas, cairan untuk dry cleaning, tiner,uap bensin.
 Biasanya digunakan secara coba-coba oleh anak dibawah umur golongan kurang mampu/
anak jalanan
 Efek yang ditimbulkan : pusing, kepala terasa berputar, halusinasi ringan, mual, muntah,
gangguan fungsi paru, liver dan jantung.
h) Alkohol
 Merupakan salah satu zat psikoaktif yang sering digunakan manusia. Diperoleh dari proses
fermentasi madu, gula, sari buah dan umbi-umbian. Dari proses fermentasi diperoleh
alkohol dengan kadar tidak lebih dari 15%, dengan proses penyulingan di pabrik dapat
dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100%.
 Nama jalanan alkohol : booze, drink
 Konsentrasi maksimum alkohol dicapai 30-90 menit setelah tegukan terakhir. Sekali
diabsorbsi, etanol didistribisikan keseluruh jaringan tubuh dan cairan tubuh. Sering dengan
peningkatan kadar alkohol dalam darah maka orang akan menjadi euforia, mamun sering
dengan penurunannya pula orang menjadi depresi.5,7

2.2 Cara Kerja Narkoba Dan Pengaruhnya Pada Otak


Narkoba berpengaruh pada bagian otak yang bertanggung jawab atas kehidupan perasaan
adalah sistem limbus: Hipotalamus adalah bagian bagian dari sistem limbus, sebagai pusat
kenikmatan pada otak. Dalam sel otak terdapat bermacam-macam zat kimia yang disebut
neurotransmitter. Zat kimia ini bekerja pada sambungan sel saraf yang satu dengan sel saraf
lainnya (sinaps). Beberapa di antara neurotransmitter itu mirip dengan beberapa jenis narkoba.
Semua zat psikoaktif (narkotika, psikotropika dan bahan adiktif lain) dapat mengubah perilaku,
perasaan dan pikiran seseorang melalui pengaruyhna terhadap salah satu atau beberapa
neurotransmitter. Neurotransmitter yang paling berperan dalam terjadinya ketergantungan adalah
dopamin. Narkoba menghasilkan perasaan ‘high’ dengan mengubah susunan biokimia molekul
pada sel otak yang disebut neuro-transmitter. Jika narkoba masuk ke dalam tubuh, dengan cara
ditelan, dihirup, atau disuntikkan, maka narkoba mengubah susunan biokimiawi neurotransmitter
pada sistem limbus. Karena ada asupan narkoba dari luar, produksi dalam tubuh terhenti atau
terganggu, sehingga ia akan selalu membutuhkan narkoba dari luar. Yang terjadi pada

11
ketergantungan adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan. Jika
mengonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan orang itu. Jika merasa nyaman, otak
mengeluarkan neurotransmitter dopamin dan akan memberikan kesan menyenangkan. Jika
memakai narkoba lagi, orang kembali merasa nikmat seolah-olah kebutuhan batinnya terpuaskan.
Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai prioritas sebab menyenangkan.7
Dapat dikatakan bahwa otak bekerja dengan motto jika merasa enak, lakukanlah. Otak
dilengkapi alat untuk menguatkan rasa nikmat dan menghindarkan rasa sakit atau tidak enak, guna
membantu memenuhi kehidupan dasar manusia, seperti rasa lapar, haus, rasa hangat, dan tidur.
Mekanisme ini merupakan mekanisme pertahanan diri. Jika lapar, otak menyampaikan pesan agar
mencari makanan yang dibutuhkan. Kita berupaya mencari makanan itu dan menempatkannya
diatas segala-galanya. Kita rela meninggalkan pekerjaan dan kegiatan lain, demi memperoleh
makanan itu.7
Yang terjadi pada adiksi adalah semacam pembelajaran sel-sel otak pada pusat kenikmatan.
Jika mengonsumsi narkoba, otak membaca tanggapan kita. Jika merasa nikmat, otak mengeluarkan
neurotransmitter yang menyampaikan pesan: “Zat ini berguna bagi mekanisme pertahanan tubuh”.
Jadi, ulangi pemakaiannya. “Jika memakai narkoba lagi, kita kembali merasa nikmat seolah-olah
kebutuhan kita terpuaskan”. Otak akan merekamnya sebagai sesuatu yang harus dicari sebagai
prioritas. Akibatnya, otak membuat program salah, seolah-olah kita memang memerlukannya
sebagai mekanisme pertahanan diri. Maka terjadilah kecanduan.7

2.3 Penyalahgunaan dan Ketergantungan


Penyalahgunaan dan Ketergantungan adalah istilah klinis/medik-psikiatrik yang
menunjukan ciri pemekaian yang bersifat patologik yang perlu di bedakan dengan tingkat
pemakaian psikologik-sosial, yang belum bersifat patologik. Penyalahgunaan napza adalah
penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara berkala atau teratur diluar indikasi
medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
Sedangkan ketergantungan Napza adalah keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan
psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila
pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal syamptom).
Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya dengan cara apapun,
agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara “normal”.7

12
2.4 Tingkat Pemakaian Napza7
a. Pemakaian coba-coba (experimental use), yaitu pemakaian NAPZA yang tujuannya ingin
mencoba,untuk memenuhi rasa ingin tahu. Sebagian pemakai berhenti pada tahap ini, dan
sebagian lain berlanjut pada tahap lebih berat.
b. Pemakaian sosial/rekreasi (social/recreational use) : yaitu pemakaian NAPZA dengan tujuan
bersenang-senang,pada saat rekreasi atau santai. Sebagian pemakai tetap bertahan pada tahap
ini,namun sebagian lagi meningkat pada tahap yang lebih berat
c. Pemakaian Situasional (situasional use) : yaitu pemakaian pada saat mengalami keadaan
tertentu seperti ketegangan, kesedihan, kekecewaan, dan sebagainnya, dengan maksud
menghilangkan perasaan-perasaan tersebut.
d. Penyalahgunaan (abuse): yaitu penggunaan salah satu atau beberapa jenis NAPZA secara
berkala atau teratur diluar indikasi medis,sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik,
psikis dan gangguan fungsi sosial.
e. Ketergantungan (dependence use) : yaitu keadaan dimana telah terjadi ketergantungan fisik dan
psikis, sehingga tubuh memerlukan jumlah NAPZA yang makin bertambah (toleransi), apabila
pemakaiannya dikurangi atau diberhentikan akan timbul gejala putus zat (withdrawal
syamptom). Oleh karena itu ia selalu berusaha memperoleh NAPZA yang dibutuhkannya
dengan cara apapun, agar dapat melakukan kegiatannya sehari-hari secara “normal”.

2.5 Penyebab Penyalahgunaan Napza7


Penyebab penyalahgunaan NAPZA sangat kompleks akibat interaksi antara faktor yang
terkait dengan individu, faktor lingkungan dan faktor tersedianya zat (NAPZA). Tidak terdapat
adanya penyebab tunggal (single cause). Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya
penyalahgunaan NAPZA adalah sebagian berikut :
1. Faktor individu :
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai atau terdapat pada masa remaja, sebab remaja yang
sedang mengalami perubahan biologik, psikologik maupun sosial yang pesat merupakan individu
yang rentan untuk menyalahgunakan NAPZA. Anak atau remaja dengan ciri-ciri tertentu
mempunyai risiko lebih besar untuk menjadi penyalahguna NAPZA. Ciri-ciri tersebut antara lain:
Cenderung memberontak dan menolak otoritas; cenderung memiliki gangguan jiwa lain
(komorbiditas) seperti Depresi,Cemas, Psikotik, Keperibadian dissosial; Perilaku menyimpang

13
dari aturan atau norma yang berlaku; Rasa kurang percaya diri (low selw-confidence), rendah diri
dan memiliki citra diri negatif (low self-esteem); Sifat mudah kecewa, cenderung agresif dan
destruktif; Mudah murung,pemalu, pendiam; Mudah mertsa bosan dan jenuh; Keingintahuan yang
besar untuk mencoba atau penasaran; Keinginan untuk bersenang-senang (just for fun); Keinginan
untuk mengikuti mode,karena dianggap sebagai lambang keperkasaan dan kehidupan modern.;
Keinginan untuk diterima dalam pergaulan; Identitas diri yang kabur, sehingga merasa diri kurang
“jantan” ; Tidak siap mental untuk menghadapi tekanan pergaulan sehingga sulit mengambil
keputusan untuk menolak tawaran NAPZA dengan tegas; Kemampuan komunikasi rendah;
Melarikan diri sesuatu (kebosanan,kegagalan, kekecewaan,ketidakmampuan, kesepian dan
kegetiran hidup,malu dan lain-lain); Putus sekolah; Kurang menghayati iman kepercayaannya

2. Faktor Lingkungan :
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan baik disekitar rumah,
sekolah, teman sebaya maupun masyarakat.Faktor keluarga,terutama faktor orang tua yang ikut
menjadi penyebab seorang anak atau remaja menjadi penyalahguna NAPZA antara lain adalah :
a. Lingkungan Keluarga antara lain
Meliputi sebagai berikut : komunikasi orang tua-anak kurang baik/efektif; Hubungan
dalam keluarga kurang harmonis/disfungsi dalam keluarga; Orang tua bercerai,berselingkuh atau
kawin lagi; Orang tua terlalu sibuk atau tidak acuh; Orang tua otoriter atau serba melarang; Orang
tua yang serba membolehkan (permisif); Kurangnya orang yang dapat dijadikan model atau
teladan; Orang tua kurang peduli dan tidak tahu dengan masalah NAPZA; Tata tertib atau disiplin
keluarga yang selalu berubah (kurang konsisten); Kurangnya kehidupan beragama atau
menjalankan ibadah dalam keluarga; Orang tua atau anggota keluarga yang menjadi penyalahduna
NAPZA
b. Lingkungan Sekolah
Meliputi sebagai berikut : Sekolah yang kurang disiplin, Sekolah yang terletak dekat tempat
hiburan dan penjual NAPZA, Sekolah yang kurang memberi kesempatan pada siswa untuk
mengembangkan diri secara kreatif dan positif, Adanya murid pengguna NAPZA
c. Lingkungan Teman Sebaya
Berteman dengan penyalahguna dan tekanan atau ancaman teman kelompok atau pengedar
d. Lingkungan masyarakat/sosial

14
Lemahnya penegakan hukum dan situasi politik, sosial dan ekonomi yang kurang mendukung

3. Faktor Napza
Mudahnya NAPZA didapat dimana-mana dengan harga “terjangkau”, banyaknya iklan
minuman beralkohol dan rokok yang menarik untuk dicoba, khasiat farakologik NAPZA yang
menenangkan, menghilangkan nyeri, menidur-kan, membuat euforia/fly/stone/high/teler dan lain-
lain.
Faktor-faktor tersebut diatas memang tidak selalu membuat seseorang kelak menjadi
penyalahguna NAPZA. Akan tetapi makin banyak faktor-faktor diatas, semakin besar
kemungkinan seseorang menjadi penyalahguna NAPZA. Penyalahgunaan NAPZA harus
dipelajari kasus demi kasus. Faktor individu, faktor lingkungan keluarga dan teman
sebaya/pergaulan tidak selalu sama besar perannya dalam menyebabkan seseorang
menyalahgunakan NAPZA. Karena faktor pergaulan, bisa saja seorang anak yang berasal dari
keluarga yang harmonis dan cukup kominikatif menjadi penyalahguna NAPZA.1,7

2.6 Gejala Klinis Penyalahgunaan Napza7


1. Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung jenis zat yang digunakan, tapi secara umum dapat digolongkan
sebagai berikut :
 Pada saat menggunakan NAPZA : jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak
acuh), mengantuk, agresif,curiga
 Pengaruh kesehatan :
 Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang, halusinasi,
gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi
 Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti: infeksi akut otot
jantung, gangguan peredaran darah
 Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi, eksim
 Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi pernapasan, kesukaran
bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
 Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan
sulit tidur

15
 Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan
pada endokrin, seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,
testosteron), serta gangguan fungsi seksual
 Dampak penyalahgunaan narkoba terhadap kesehatan reproduksi pada remaja
perempuan antara lain perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan
amenorhoe (tidak haid)
 Bila kelebihan dosis (overdosis) : nafas sesak,denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba
dingin, nafas lambat/berhenti, meninggal.
 Bila sedang ketagihan (putus zat/sakau) : mata dan hidung berair,menguap terus
menerus,diare,rasa sakit diseluruh tubuh,takut air sehingga malas mandi,kejang, kesadaran
menurun.
 Pengaruh jangka panjang, penampilan tidak sehat,tidak peduli terhadap kesehatan dan
kebersihan, gigi tidak terawat dan kropos, terhadap bekas suntikan pada lengan atau bagian
tubuh lain (pada pengguna dengan jarum suntik)

2. Perubahan Sikap dan Perilaku


Prestasi sekolah menurun,sering tidak mengerjakan tugas sekolah,sering membolos, pemalas,
kurang bertanggung jawab.
 Pola tidur berubah,begadang,sulit dibangunkan pagi hari,mengantuk dikelas atau tampat
kerja.
 Sering berpegian sampai larut malam,kadang tidak pulang tanpa memberi tahu lebih dulu
 Sering mengurung diri, berlama-lama dikamar mandi, menghindar bertemu dengan
anggota keluarga lain dirumah
 Sering mendapat telepon dan didatangi orang tidak dikenal oleh keluarga,kemudian
menghilang
 Sering berbohong dan minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tak jelas
penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau milik
keluarga, mencuri, mengomengompas terlibat tindak kekerasan atau berurusan dengan
polisi.
 Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar sikap bermusuhan,
pencuriga, tertutup dan penuh rahasia

16
 Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah, hilang kepercayaan diri, apatis,
pengkhayal, penuh curiga
 Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal, sulit berkonsentrasi, perasaan kesal
dan tertekan, cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri

3. Perubahan terhadap lingkungan sosial


 Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
 Merepotkan dan menjadi beban keluarga
 Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram

2.7 Menegakkan Diagnosis7


Penegakkan diagnosis pada penderita/penyalahguna NAPZA sering kali tidak mudah
dilakukan oleh kerena adanya stigma di masyarakat terhadap penyalahguna. Hal ini membuat
pasien bersifat tertutup dan menghindar untuk mengatakan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena
itu diperlukan keterampilan khusus untuk membuat pasien percaya dan mau berterus terang.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menegakkan diagnosis :
a) Sikap Mental Petugas Kesehatan
Bersikap positif, penuh perhatian dan menerima pasien apa adanya. Berempati (dapat
memahami dan meraba rasakan masalahnya) dan tidak menghina, mengkritik, menertawakan,
mengejek, menyalahkan, karena hal ini akan menyebabkan pasien tertutup sehingga akan
mengganggu proses autoanamnesis.
b) Teknik Wawancara
Wawancara dapat dilakukan secara alloanamnesis maupun autoanamnesis. Urutan
pelaksanaannya dapat dilakukan alloanamnesis terlebih dahulu atau sebaliknya dan dapat juga
bersamaan tergantung situasi dan kondisi.
1. Alloanamnesis dilakukan sebelum Autoanamnesis
 Petugas telah memperoleh informasi tentang pasien, sehingga autoanamnesis lebih terarah
 Kemungkinan pasien lebih terbuka dan tidak menyangkal lagi
 Pasien menyangkal dan bertahan mengatakan tidak menggunakan NAPZA
 Pasien menyatakan sudah berhenti menggunakan
 Petugas terpengaruh orang tua/guru yang terlalu kuatir, pada hal pasien tidak menggunakan

17
 Pasien mencurigai petugas sudah terpengaruh dengan orang tua/guru yang mengantar,
sehingga tidak kooperatif
2. Alloanamnesis dilakukan sesudah Autoanamnesis
 Petugas belum dipengaruhi oleh keterangan yang diberikan orang tua/ pengantar lain.
 Pasien tidak berprasangka bahwa petugas telah dipengaruhi orang tua/guru atau berpihak
pada orang tua/guru yang menyalahkan pasien
 Kemungkinan pasien membohongi atau tidak terbuka pada petugas
3. Autoanamnesis dan Alloanamnesis dilakukan bersamaan
 Pasien tidak dapat berbohong mengenai hal-hal yang diketahui orang tua/guru
 Pasien dapat bersikap tertutup
Pada pasien yang bersikap tertutup, menanyakan langsung perihal penggunaan NAPZA biasanya
tidak membawa hasil. Sebaiknya anamnesis dilakukan secara tidak langsung misalnya dengan
pertanyaan sebagai berikut :
 Apakah ada yang bisa dibantu ?
 Apakah ada masalah dengan orang tua,guru,teman pacar ?
 Apakah ada kesulitan belajar,malas kerja,sulit tidur ?
 Apakah sering tidak betah dirumah,sering begadang ?
 Apakah sering mengalami stres,kegelisahan,kesedihan ?
 Apakah untuk mengatasi kegelisahan atau kebosanan merokok lebih banyak dari biasa ?
 Bila sedang frustasi, lalu minum minuman keras, apakah pernah mabok atau teler?
 Bila minum minuman keras apakah dicampur obat tidur,masing-masing berapa banyak dan
berapa sering ?
Pada pasien sudah bersikap terbuka, anamnesis/pertanyaan mengenai NAPZA meliputi:
 Keluhan pasien dan riwayat perjalanan penyakit terdahulu yang pernah diderita
 Riwayat penyalahgunaan NAPZA :
 Jenis NAPZA yang dipakai
 Lamanya pemakaian
 Dosis,Frekuensi dan cara pemakaian
 Riwayat/gejala intoksikasi/gejala putus zat
 Alasan penggunaan

18
 Taraf Fungsi sosial :
 Riwayat pendidikan
 Latar belakang kriminal
 Status keluarga
 Kegiatan sosial lain
 Evaluasi keadaan psikologis :
 Keadaan emosi
 Kemampuan pengendalian impuls
 Kemungkinan tindak kekerasan,bunuh diri
 Riwayat perawatan terdahulu
c) Pemeriksaan7
Penampilan pasien,sikap wawancara,gejolak emosi dan lain-lain perlu diobservasi. Petugas
harus cepat tanggap apakah pasien perlu mendapatkan pertolongan kegawat darurat atau tidak,
dengan memperhatikan tanda-tanda dan gejala yang ada.
1. Fisik
a. Adanya bekas suntikan sepanjang vena di lengan,tangan kaki bahkan pada tempat-tempat
tersembunyi misalnya dorsum penis.
b. Pemeriksaan fisik terutama ditujukan untuk menemukan gejala intoksikasi/ioverdosis/putus
zat dan komplikasi medik seperti Hepatitis, Eudokarditis, Bronkoneumonia, HIV/AIDS dan
lain-lain.
c. Perhatikan terutama : kesadaran, pernafasan, tensi, nadi pupil,cara jalan, sklera ikterik,
conjunctiva anemis, perforasi septum nasi, caries gigi, aritmia jantung,edema paru,
pembesaran hepar dan lain-lain
2. Psikis
a) derajat kesadaran
b) daya nilai realitas
c) gangguan pada alam perasaan (misal cemas, gelisah, marah, emosi labil, sedih, depresi,
euforia)
d) gangguan pada proses pikir (misalnya waham, curiga, paranoid, halusinasi)
e) gangguan pada psikomotor (hipperaktif/ hipoaktif, agresif gangguan pola tidur, sikap
manipulatif dan lain-lain)

19
3. Penunjang
a) Analisa Urin
Bertujuan untuk mendeteksi adanya NAPZA dalam tubuh (benzodiazepin, barbiturat,
amfetamin, kokain, opioida, kanabis) . Pengambilan urine hendaknya tidak lebih dari 24
jam dari saat pemakaian zat terakhir dan pastikan urine tersebut urine pasien.
b) Penunjang lain
Untuk menunjang diagnosis dan komplikasi dapat pula dilakukan pemeriksaan
Laboratorium rutin darah,urin, EKG, EEG, Foto toraks dan lain-lain sesuai kebutuhan
(HbsAg, HIV, Tes fungsi hati, Evaluasi Psikologik, Evaluasi Sosial).

2.8 Dampak Penyalahgunaan Zat Psikoaktif 8,9


Dampak penyalahgunaan zat psikoaktif digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran
yang telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang akan
mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan pada sistem saraf pusat
(SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan ginjal. Dampak penyalahgunaan
zat psikoaktif pada seseorang sangat tergantung pada jenis zat yang dipakai, kepribadian pemakai
dan situasi atau kondisi pemakai. Secara umum, dampak kecanduan zat psikoaktif dapat terlihat
pada fisik, psikis maupun sosial seseorang. Berdasarkan efek yang ditimbulkan terhadap
pemakainya, dampak penggunaan zat psikoaktif dikelompokkan sebagai berikut:
1. Dampak Penyalahgunaan zat psikoaktif Terhadap Fisik yaitu3 :
a. Gangguan pada sistem saraf (neurologis) yaitu kejang-kejang, halusinasi, gangguan
kesadaran, kerusakan saraf tepi. Depresan yaitu efek dari zat psikoaktif yang bisa menekan
sistem saraf pusat dan mengurangi aktivitas fungsional tubuh, sehingga pemakai merasa
tenang bahkan tertidur dan tidak sadarkan diri. Halusinogen yaitu efek dari zat psikoaktif
bisa mengakibatkan seseorang menjadi berhalusinasi dengan melihat suatu hal atau benda
yang sebenarnya tidak ada atau tidak nyata bila dikonsumsi dalam sekian dosis tertentu.
Adiktif yaitu efek dari zat psikoaktif yang menimbulkan kecanduan. Seseorang yang sudah
mengonsumsi zat psikoaktif biasanya akan ingin dan ingin lagi karena zat tertentu dalam zat
psikoaktif mengakibatkan seseorang cenderung bersifat pasif karena secara tidak langsung
zat psikoaktif dapat memutuskan saraf-saraf dalam otak.

20
b. Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti infeksi akut otot
jantung, gangguan peredaran darah. Stimulan yaitu efek dari zat psikoaktif yang bisa
mengakibatkan kerja jantung dan otak lebih cepat dari biasanya sehingga mengakibatkan
penggunanya lebih bertenaga serta cenderung membuatnya lebih senang dan gembira untuk
sementara waktu.
c. Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti penanahan (abses), alergi dan eksim.
d. Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti penekanan fungsi pernapasan, kesukaran
bernapas, pengerasan jaringan paru-paru.
e. Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, suhu tubuh meningkat, pengecilan hati dan sulit
tidur.
f. Dampak penyalahgunaan zat psikoaktif terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan
pada endokrin, seperti penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,
testosteron) serta gangguan fungsi seksual. Pada wanita antara lain perubahan periode
menstruasi, ketidakteraturan menstruasi dan amenorhoe (tidak haid).
g. Bagi pengguna zat psikoaktif melalui jarum suntik dapat menimbulkan bekas suntikan pada
lengan., khususnya pemakaian jarum suntik secara bergantian, resikonya adalah tertular
penyakit seperti hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya.
h. Penyalahgunaan zat psikoaktif bisa berakibat fatal ketika terjadi overdosis yaitu konsumsi
zat psikoaktif melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya serta bisa sering terjadi napas
sesak, denyut jantung dan nadi lambat, kulit teraba dingin bahkan hingga meninggal.

2. Dampak penyalahgunaan zat psikoaktif terhadap psikis yaitu8,9 :


a. Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang, gelisah, jalan sempoyongan, bicara pelo dan
mengantuk.
b. Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal dan penuh curiga.
c. Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal.
d. Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan.
e. Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri.
f. Bila terjadi ketagihan maka dapat ditemukan mata merah, hidung berair, menguap terus,
diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, kesadaran menurun.

21
g. Pengaruh jangka panjang yaitu penampilan tidak sehat, tidak perduli terhadap kesehatan dan
kebersihan, gigi keropos.
3. Dampak penyalahgunaan zat psikoaktif terhadap sikap dan perilaku yaitu4 :
a. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, mengantuk di tempat kerja.
b. Sering berpergian hingga larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin.
c. Sering mengurung diri, berlama - lama di kamar mandi, menghindar bertemu dengan
anggota keluarga yang lain.
d. Sering berbohong, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga,
mencuri, terlibat kekerasan dan sering berurusan dengan polisi.
e. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan, pencurigaan,
tertutup dan penuh rahasia.
4. Dampak penyalahgunaan zat psikoaktif terhadap lingkungan sosial yaitu :
a. Gangguan mental, antisosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan.
b. Merepotkan dan menjadi beban keluarga.
c. Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram.
Dampak fisik, psikis, sikap dan perilaku dan lingkungan sosial berhubungan erat.
Ketergantungan fisik akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa, bila terjadi putus obat (tidak
mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa keinginan sangat kuat untuk
mengkonsumsi. Gejata fisik dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan
untuk membohongi orang tua dan sekitarnya, mencuri, pemarah, manipulatif, dan lain-lain.8,9,11
1) Terapi dan Rehabilitasi8,10
Gawat darurat medik akibat penggunaan zat psikotik merupakan tanggung jawab profesi medis.
Profesi medis memegang teguh dan patuh kepada etika medis, karena itu diperlukan keterampilan
medis yang cukup ketat dan tidak dapat didelegasikan kepada kelompok profesi lain. Salah satu
komponen penting dalam keterampilan medis yang erat kaitannya dengan gawat darurat medik
adalah keterampilan membuat diagnosis. Dalam rehabilitasi pasien ketergantungan zat psikoaktif,
profesi medis (dokter) mempunyai peranan terbatas. Proses rehabilitasi pasien ketergantungan zat
psikoaktif melibatkan berbagai profesi dan disiplin ilmu. Namun dalam kondisi emergency, dokter
merupakan pilihan yang harus diperhitungkan. Gawat darurat yang berkaitan dengan
penyalahgunaan zat psikoaktif. Gawat darurat yang terjadi meliputi berbagai gejala klinis
berikut8,9,11 :

22
a. Intoksikasi
b. Overdosis
c. Sindrom putus zat psikoaktif
d. Berbagai macam komplikasi medik (fisik dan psikiatrik)

Berbagai bentuk terapi dan rehabilitasi :


1. Terapi medis (terapi Organo-Biologi) terapi ini antara lain yaitu :
a) Terapi terhadap keadaan intoksikasi :
 Intoksikasi opioida : Beri Naloxone HC 1 0,4mg IV, IM atau SC dapat pula diulang
setelah 2-3 menit sampai 2-3 kali.
 Intoksikasi kanabis (ganja) : Ajaklah bicara yang menenangkan pasien. Bila perlu beri
Diazepam 10-30mg oral atau parenteral, Clobazam 3x10mg.
 Intoksikasi kokain dan amfetamin : Beri Diazepam 10-30mg oral atau parenteral, atau
Klordiazepoksid 10-25mg oral atau Clobazam 3x10mg. Dapat diulang setelah 30-60
menit. Untuk mengatasi palpitasi beri propanolol 3x(10-40mg) oral.
 Intoksikasi alkohol : Mandi air dingin bergantian air hangat, minum kopi kental, aktivitas
fisik (sit-up, push-up), bila belum lama diminum bisa disuruh muntahkan.
 Intoksikasi sedatif-hipnotif (Valium, pil BK, MG, Lexo, Rohip) : Melonggarkan pakaian,
membersihkan lendir pada saluran napas, bila oksigen dan infus garam fisiologis.
b) Terapi terhadap keadaan overdosis :
 Usahakan agar pernapasan berjalanlancar yaitu lurus dan tengadahkan (ekstenikan) leher
kepada pasien (jika diperlukan dapat memberikan bantalan dibawah bahu). Kendurkan
pakaian yang terlalu ketat. Hilangkan obstruksi pada saluran napas. Bila perlu berikan
oksigen.
 Usahakan agar peredaran darah berjalan lancar. Bila jantung berhenti, lakukan masase
jantung eksternal, injeksi adrenalin 0,1-0,2cc IM. Bila timbul asidosis (misalnya bibir dan
ujung jari biru, hiperventilasi) karena sirkulasi darah yang tidak memadai, beri infus 50ml
sodium bikarbonas.
 Pasang infus dan berikan cairan (misalnya: RL atau NaC1 0.9%) dengan kecepatan
rendah (10-12 tpm) terlebih dahulu sampai ada indikasi untuk memberikan cairan.

23
Tambahkan kecepatan sesuai kebutuhan, jika didapatkan tanda-tanda kemungkinan
dehidrasi.
 Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau
trauma yang membahayakan.
 Observasi terhadap kemungkinan kejang. Bila timbul kejang berikan diazepam 10mg IV
atau perinfus dan dapat diulang sesudah 20 menit jika kejang belum teratasi.
 Bila ada hipoglikemi, beri 50ml glukosa 50% IV.
c) Terapi pada sindrom putus zat
 Terapi putus zat opioida terapi ini sering dikenal dengan istilah detoksifikasi. Terapi
detoksifikasi dapat dilakukan dengan cara berobat jalan maupun rawat inap. Lama
program terapi detoksifikasi berbeda-beda yaitu 1-2 minggu untuk detoksifikasi
konvensional dan 24-48 jam untuk detoksifikasi opioid dalam anestesi cepat (Rapid
Opiate Detoxification Treatment). Detoksifikasi hanyalah merupakan langkah awal
dalam proses penyembuhan dari penyalahgunaan atau ketergantungan zat psikoaktif.
Beberapa jenis cara mengatasi putus opioida yaitu tanpa diberi terapi apapun, putus obat
seketika (abrupt withdrawal atau cold turkey). Terapi hanya simptomatik yaitu untuk
nyeri diberi analgetika kuat seperti Tramadol, Analgetik non-narkotik, asam mefenamat
dan sebagainya, untuk rhinore beri dekongestan, misalnya fenilpropanolamin, untuk mual
beri metopropamid, untuk kolik beri spasmolitik, untuk gelisah beri antiansietas, untuk
insomnia beri hipnotika, misalnya golongan benzodiazepin. Terapi putus opioida
bertahap (gradual withdrawal) dapat diberi morfin, petidin, metadon atau kodein dengan
dosis dikurangi sedikit demi sedikit contohnya diberi kodein 3x(60-80mg) selanjutnya
dikurangi 10mg setiap hari dan seterusnya. Disamping itu diberi terapi simptomatik.
Terapi putus opioida dengan substitusi non-opioda dipakai Clonidine dimulai dengan
17mg/kgBB perhari dibagi dalam 3-4 kali pemberian. Dosis diturunkan bertahap dan
selesai dalam 10hari. Sebaiknya dirawat inap (bila sistole <100mmHg atau diastole
<70mmHg), terapi harus dihentikan. Terapi putus opioida dengan metode detoksifikasi
cepat dalam anestesi (Rapid Opioid Detoxification). Prinsip terapi ini hanya untuk kasus
single drug opiat saja, dilakukan di RS dengan fasilitas rawat intensif oleh Tim
Anestesiolog dan Psikiater, dilanjutkan dengan terapi menggunakan anatagonist opiat
(naltrekson) lebih kurang 1 tahun.

24
 Terapi putus zat sedative/hipnotika dan alkohol harus secara bertahap dan dapat diberikan
Diazepam. Tentukan dahulu test toleransi dengan cara memberikan benzodiazepin mulai
dari 10mg yang dinaikan bertahap sampai terjadi gejala intoksikasi. Selanjutnya
diturunkan kembali secara bertahap 10mg perhari sampai gejala putus zat hilang.
 Terapi putus Kokain atau Amfetamin rawat inap perlu dipertimbangkan karena
kemungkinan melakukan percobaan bunuh diri. Untuk mengatasi gejala depresi berikan
anti depresi.
 Terapi untuk waham dan delirium pada putus zat psikoaktif pada gangguan waham karena
amfetamin atau kokain berikan Inj. Haloperidol 2,5-5mg IM dan dilanjutkan peroral
3x(2,5-5mg/hari). Pada gangguan waham karena ganja beri Diazepam 20-40mg IM. Pada
delirium putus sedativa/hipnotika atau alkohol beri Diazepam seperti pada terapi
intoksikasi sedative/hipnotika atau alkohol.
 Terapi putus opioida pada neonatus gejala putus opioida pada bayi yang dilahirkan dari
seorang ibu yang mengalami ketergantungan opioida, timbul dalam waktu sebelum 48-
72jam setelah lahir. Gejalanya antara lain menangis terus (melengking), gelisah, sulit
tidur, diare, tidak mau minum, muntah, dehidrasi, hidung tersumbat, demam, berkeringat.
Berikan infus dan perawatan bayi yang memadai. Selanjutnya berikan Diazepam 1-2mg
tiap 8 jam setiap hari diturunkan bertahap, selesai dalam 10 hari.
d) Terapi terhadap komorbiditas
Setelah keadaan intoksikasi dan sindroma putus zat psikoaktif dapat teratasi, maka perlu
dilanjutkan dengan terapi terhadap gangguan jiwa lain yang terdapat bersama-sama dengan
gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif (comorbid
psychopathology) yaitu psikofarmakologis yang sesuai dengan diagnosis, psikoterapi
individual, konseling bila dijumpai masalah dalam komonikasi interpersonal, psikoterapi
asertif bila pasien mudah terpengaruh dan mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan
yang bijaksana, psikoterapi kognitif bila dijumpai depresi psikogen, psikoterapi kelompok.
Terapi keluarga bila dijumpai keluarga yang patologik. Terapi marital bila dijumpai masalah
marital. Terapi relaksasi untuk mengatasi ketegangan dirujuk atau konsultasi ke RS Umum
atau RS Jiwa.

25
e) Terapi terhadap komplikasi medik
Terapi disesuaikan dengan besaran masalah dan dilaksanakan secara terpadu melibatkan
berbagai disiplin ilmu kedokteran, contohnya komplikasi paru dirujuk ke Bagian Penyakit
Paru, komplikasi Jantung di rujuk ke Bagian Penyakit Jantung atau Interna/Penyakit Dalam,
HIV/AIDS dirujuk ke Bagian Interna atau Pokdisus AIDS.
f) Terapi maintenance (rumatan)
Terapi maintenance/rumatan ini dijalankan pasca detoksifikasi dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya komplikasi medis serta tindak kriminal. Secara medis terapi ini
dijalankan dengan menggunakan terapi psikofarmaka menggunakan Naltrekson (Opiat
antagonis) atau Metadon. Terapi perilaku diselenggarakan berdasarkan pemberian hadiah
dan hukum. Self-help group didasarkan kepada beberapa fillosofi antara lain 12-steps.
2) Rehabilitasi
Setelah selesai detoksifikasi, penyalahgunaan zat psikoaktif perlu menjalani Rehabilitasi.
Kenyataan menunjukkan bahwa mereka yang telah selesai menjalani detoksifikasi sebagian
besar akan mengulangi kebiasaan menggunakan zat psikoaktif, oleh karena rasa rindu (craving)
terhadap zat psikoaktif yang selalu terjadi. Dengan rehabilitasi diharapkan pengguna zat
psikoaktif dapat mempunyai motivasi untuk tidak menyalahgunakan zat psikoaktif lagi, mampu
menolak tawaran penyalahgunakan zat psikoaktif. Pulih kepercayaan dirinya, hilang rasa
rendah dirinya, mampu mengelola waktu dan berubah perilaku sehari-hari dengan baik, dapat
berkonsentrasi untuk belajar atau bekerja, dapat diterima dan dapat membawa diri dengan baik
dalam pergaulan di lingkungannya. Beberapa bentuk program pendekatan rehabilitasi yang ada,
antara lain :
a. Program Antagonis Opiat (Naltrexon) setelah detoksifikasi (dilepaskan dari ketergantungan
fisik) terhadap opioid (heroin/putauw/PT) penderita sering mengalami keadaan rindu yang
sangat kuat (craving, kangen, sugesti) terhadap efek heroin. Antagonis opiat (Naltrexon
HCI) dapat mengurangi kuatnya dan frekuensi datangnya perasaan rindu itu. Apabila pasien
menggunakan opieat lagi, ia tidak merasakan efek euforiknya sehingga dapat terjadi
overdosis. Oleh karena itu perlu seleksi dan psikoterapi untuk membangun motivasi pasien
yang kuat sebelum memutuskan pemberian antagonis. Antagonis opiat diberikan dalam
dosis tunggal 50mg sekali sehari secara oral, selama 3-6 bulan. Karena hepatotoksik, perlu
tes fungsi hati secara berkala.

26
b. Program Metadon adalah opiat sintetik yang bisa dipakai untuk menggantikan heroin yang
dapat diberikan secara oral sehingga mengurangi komplikasi medik.
c. Program yang berorientasi psikososial menitik beratkan berbagai kegiatannya pada terapi
psikologik (kognitif, perilaku, suportif, asertif, dinamika kelompok, psikoterapi individu,
desensitisasi dan lain-lain) dan keterampilan sosial yang bertujuan mengembangkan
keperibadian dan sikap mental yang dewasa, serta meningkatkan mutu dan kemampuan
komunikasi interpersonal. Berbagai variasi psikoterapi sering digunakan dalam rehabilitasi,
tergantung pada sasaran terapi yang digunakan. Psikoterapi yang menggunakan sasaran
pencegahan kambuh seperti Cognitivif Behaviour Therapy dan Relaps Prevention Training,
Supportive Expressive Psychotherapy, Psychodrama adalah psikoterapi yang dijalankan
secara individual.
d. Therapeutic Community berupa program terstruktur yang diikuti oleh mereka yang tinggal
dalam suatu tempet. Dipimpin oleh bekas penyalahguna yang dinyatakan memenuhi syarat
sebagai konselor, setelah melalui pendidikan dan latihan. Tenaga profesional hanya sebagai
konsultan, penderita dilatih keterampilan mengelola waktu dan perilakunya secara efektif
serta kehidupannya sehari-hari, sehingga dapat mengatasi keinginan memakai zat psikoaktif
atau sugesti (craving) dan mencegah kambuh. Dalam komunitas ini semua ikut aktif dalam
proses terapi. Ciri perbedaan anggota dihilangkan. Mereka bebas menyatakan perasaan dan
perilaku sejauh tidak membahayakan orang lain. Tiap anggota bertanggung jawab terhadap
perbuatannya, ganjaran bagi yang berbuat positif dan hukuman bagi yang berperilaku negatif
diatur oleh mereka sendiri.
e. Program yang berorientasi sosial program ini memusatkan kegiatan pada keterampilan
sosial, sehingga mereka dapat kembali kedalam kehidupan masyarakat yang normal
termasuk mampu bekerja.
f. Program yang berorientasi kedisiplinan menerapkan modifikasi behavioral atau perilaku
dengan cara melatih hidup menurut aturan disiplin yang telah ditetapkan.
g. Program dengan pendekatan religi atau spiritual pesantren dan beberapa pendekatan agama
lain melakukan trial and error untuk menyelenggarakan rehabilitasi ketergantungan zat
psikoaktif.
h. Lain-lain beberapa profesional bidang kedokteran mencoba menggabungkan berbagai
modalitas terapi dan rehabilitasi. Hasil keberhasilan secara ilmiah dan dapat

27
dipertanggungjawabkan masih ditunggu. Beberapa bentuk terapi lainnya yang saat ini
dikembangkan di Indonesia adalah penggunaan tenaga dalam peranan dan meditasi. Terapi
yang mengandalkan adanya kekuatan spiritual baik dalam arti kata kekuatan diri maupun
Keagungan Allah telah dikembangkan hampir diseluruh dunia.
3) Program Pasca Rawat (After care)
Setelah selesai mengikuti suatu program rehabilitasi, penyalahguna zat psikoaktif masih
harus mengikuti program pasca rawat (after care) untuk memperkecil kemungkinan kambuh.
Setiap tempat atau panti rehabilitasi yang baik mempunyai program pasca rawat ini.
4) Narcotics Anonymous
Narcotics anpnymous adalah kumpulan orang, baik laki-laki maupun perempuan yang saling
berbagi rasa tentang pengalaman, kekuatan, dan harapan untuk menyelesaikan masalah dan
saling menolong untuk lepas dari zat psikoaktif. Satu-satunya syarat untuk menjadi anggota
narcotics anonymous adalah keinginan untuk berhenti memakai zat psikoaktif, tidak terikat
pada agama tertentu, pada politik tertentu maupun institusi tertentu. Mereka mengadakan
pertemuan seminggu sekali. Pertemuan ini biasanya tertutup, hanya bagi anggota saja atau
terbuka dengan mengundang pembicara dari luar.

2.9 Hubungan Penyalahgunaan Zat pada Pekerja Profesional


Penyalahgunaan NAPZA adalah orang yang menggunakan salah satu atau beberapa jenis
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lain (NAPZA), secara berkala atau teratur diluar indikasi
medis, sehingga menimbulkan gangguan kesehatan fisik, psikis dan gangguan fungsi sosial.
Sedangkan penyalahguna NAPZA adalah orang yang menggunakan NAPZA tanpa sepengetahuan
dan pengawasan dokter, hanya ingin menikmati efek sampingnya saja bukan mengharapkan efek
pengobatannya dan merupakan tindakan melawan hukum.12
Di Indonesia, penyalahgunaan NAPZA terus mengalami peningkatan dari tahun 2007
hingga tahun 2011. Pada tahun 2007 prevalensi penyalahgunaan NAPZA sebesar 1,5 atau sekitar
2,9 hingga 3,2 juta orang dan pada tahun 2011, meningkat menjadi 2,8 per jumlah penduduk usia
10 hingga 58 tahun. Tahun 2010 diperkirakan 3,6 juta orang menjadi penyalahguna NAPZA dan
angka itu sekitar 15 ribu orang harus meregang nyawa setiap tahun karena penyalahgunaan
NAPZA. Angka itu juga belum termasuk mereka yang terkena dampak lain akibat penyalahgunaan
NAPZA, Lebih dari 500 ribu orang positif terkena Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan

28
Acquired Immune Deficiency Syndrome(AIDS), yang menjadi salah satu penyakit penyebab
kematian terbesar di dunia.
Badan Narkotika Nasional menyebutkan bahwa jumlah penyalahgunaan narkoba di
Indonesia adalah berkisar 1,5 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 2,9 sampai 3,2 juta.
Di Kalimantan Selatan populasi pengguna narkoba lebih tinggi dibandingkan polulasi nasional,
yaitu sekitar 2 % dari jumlah penduduk. Tahun 2008 Pengguna narkoba di Kalimantan Selatan
adalah sebesar 40.810, tahun 2010 sebesar 46.966 dan tahun 2012 adalah sebesar 52.472.13,14
Berdasarkan hasil penelitian Mawimiyadi, analisa keeratan hubungan antara pekerjaan
dengan penyalahguna NAPZA diperoleh nilai OR=1,93, artinya orang yang tidak bekerja
berpeluang 1,93 kali untuk menyalahgunakan NAPZA dibandingkan dengan orang yang berkerja.
Maka dapat disimpulkan bahwa, ada perbedaan yang signifikan proporsi penyalahguna NAPZA
antara orang yang tidak bekerja dan orang yang bekerja.15
Menurut BNN orang yang tidak bekerja tentu mempunyai beban perekonomian dan beban
psikologis yang sangat berat, hal tersebut tentu dapat menimbulkan ketegangan jiwa sehingga tidak
mustahil akan mencari pelarian dari masalah dan mencari ketenangan jiwa dengan mengkonsumsi
NAPZA. Selain itu, orang yang tidak bekerja mempunyai banyak waktu luang yang
memungkinkan seseorang untuk mengisi waktu luang tersebut dengan menyalahgunakan
NAPZA.15
Menurut peneliti, masyarakat perlu mempunyai pekerjaan yang tetap sehingga mempunyai
penghasilan dan aktifitas yang rutin. Dengan pekerjaan tetap, masyarakat dapat terhindar dari
permasalahan ekonomi yang dapat menimbulkan ketegangan jiwa dan waktu luang dapat diisi
dengan bekerja, tidak diisi dengan tindakan menyalahgunakan NAPZA.
Hasil penelitian Syaifullah menunjukkan bahwa faktor stres psikologis adalah sebanyak
48% atau cukup berpengaruh terhadap penyalahgunaan narkoba disebabkan oleh karena faktor
pekerjaan.Tuntutan kedisiplinan, kemampuan kerja dan adanya persaingan kerja dapat
menimbulkan stres.16,17
Berdasarkan pekerjaan kasus penyalahguna terbesar yang terus meningkat sepanjang tahun
adalah pekerja di sektor wiraswasta dan pengangguran. Pada tahun 2002, sebagian besar
penyalahguna narkoba adalah pekerja sektor swasta (18,6%) yang selanjutnya diikuti oleh
pelajar/mahasiswa (10,7%) dan pengangguran (24%).18

29
2.10 Gangguan Penggunaan Zat Psikoaktif
DSM-V mengenali substance related disorders akibat dari digunakannya sepuluh
kelompok ZAT: alkohol, kafein, kanabis. Halusinogen (phencyclidine atau yang serupa
arylcyclohexylamines), halusinogen lainnya seperti LSD, inhalan, opioid, sedatif, hipnotik,
anxiolytik, stimulan (termasuk amphetamine-type substances, kokain, dan stimualan lainnya),
tembakau, dan zat lain yang tidak diketahui. Jadi ketika ditemui zat, dan efeknya serupa dengan
zat lainnya dalam kelompok, maka ia masuk dalam gangguan terkait zat atau gangguan adiksi.
DSM 5 menyatakan bahwa zat ini mengaktifkan sistem reward di otak, disinilah masalah
utamanya. Perasaan mendapatkan kesenangan sebagai umpan balik penggunaan demikian
dirasakan, sehingga keinginan mengulang penggunaan menjadi besar, membesar dan kemudian
sulit dikendalikan. Kesulitan mengendalikan penggunaan, membuat penggunanya mengabdikan
hampir seluruh waktunya untuk mencari, menggunakan dan mengatasi rasa tak nyaman jika tidak
menggunakan. Dengan demikian waktu untuk bekerja/sekolah, bersosialisasi, menikmati masa
santai/liburan terabaikan, bersama dengan terabaikan hampir semua kewajiban dalam hidupnya.
Pengaktifan pusat sistem reward, membuat penggunanya eforia, dan oleh kelompok mereka
disebut “high”. 19
DSM 5 juga mengenali bahwa orang tidak serta merta berkembang menjadi pengguna zat
ketika ia menggunakannya. Beberapa individu cenderung meneruskan penggunaan ketika
memulai, mereka adalah kelompok yang kendali dirinya rendah, berdasarkan adanya cacat dalam
otaknya, sehingga mereka cenderung menjadi pengguna yang sulit lepas penggunaannya. Ketika
terpapar zat. Ada dua kelompok substance-related disorders: substance use disorders dan
substance-induced disorders. 19
1. Substance use disorders merupakan pola penggunaan zat yang menghasilkan simtom
menggunakan zat yang diteruskan oleh individu, meski individu tahu dan mengalami
akibatnya.
2. Substance-induced disorders termasuk intoksikasi, putus zat, gangguan mental yang
diinduksi oleh penggunaan zat termasuk psikosis akibat penggunaan zat, gangguan bipolar
dan yang terkait penggunaan zat, gangguan cemas akibat penggunaan zat, gangguan
depresi akibat penggunaan zat, gangguan obsesif-kompulsif akibat penggunaan zat,
gangguan disfungsi seksual akibat penggunaan zat, delirium akibat penggunaan zat, dan
gangguan neurpkognitif akibat penggunaan zat.

30
Gangguan penggunaan zat mengundang berbagai masalah dan meliputi 11 kriteria:
1. Menggunaan zat dalam jumlah yang makin lama makin banyak atau waktu penggunaannya
lebih panjang daripada yang dibayangkan
2. Ingin menurunkan atau menghentikan penggunaan, namun tidak kuasa memenuhinya
3. Menghabiskan banyak waktu untuk mendapatkan, menggunakan, atau mengurus diri untuk
pulih dari penggunaan
4. Menagih dan meningkat dorongan untuk menggunakan
5. Tidak mampu mengelola diri atas kewajibannya: bekerja/sekolah, dirumah atau di tempat
kerja karena penggunaan
6. Tetap meneruskan penggunaan, meski hubungan/relasi dengan orang sekitar menjadi
bermasalah karenanya
7. Tidak lagi melakukan kewajiban utama social, okupasional ataub rekreasional karena
penggunaan
8. Terus menggunakan zat, lagi dan lagi, meski tahu akan bahayanya
9. Melanjutkan penggunaan, meski ada masalah fisik dan psikologik yang diakibatkan atau
diperburuk oleh penggunaan zat
10. Meningkatkan jumlah pemakaian untuk mendapatkan efek yang sama dengan sebelumnya
(toleransi)
11. Simptom putus zat, yang akan dapat diatasi dengan penggunaan zat yag makin banyak.

DSM 5 menyilakan para klinisi untuk menekankan keparahan penggunaan, tergantung


pada berapa banyak simtom yang terindikasi. Dua atau tiga simtom, mengindikasikan penggunaan
zat ringan, empat atau lima simtom penggunaan zat sedang, dan enam atau lebih simtom
diindikasikan berat. Klinisi dikatakan dapat menambahkan “in early remission”, “in sustained
remission,” “on maintenance therapy,” dan “in a controlled environment.”19
Remaja berisiko tinggi menggunakan, karenanya secara rutin dapat kita lakukan
pemeriksaan ketika mereka datang ke klinik. Faktor risiko yang menyertainya antara lain :
- Orangtuanya pengguna
- Kekerasan dalam rumah/ kekerasan seksual/ kekerasan verbal-nonverbal/ kekerasan fisk
- Perokok
- Keluarga disfungsi

31
- Teman sebayanya pengguna
- Tanda fisik: jejas penggunaan berulang jarum suntik, septum nasal perforasi
- Konstriksi pada pasien intoksikasi
- Mulut kering, konstipasi, disfungsi seksual, haid tidak teratur
Indikator psikososial:
Pengguna opioid menyembunyikan rasa sakit saat putus zat, dan rasa tak nyaman ketika
‘nagih’ dengan cara terus menggunakan opioid selama jangka waktu yang cukup panjang. Keluhan
fisik ini ditutupi oleh penggunaan opioid ulang atau muscle relaxant dan obat anti nyeri. Selain
menyembunyikan gejala fisik dengan bersembunyi dibalik obat, akan terlihat juga gejala
psikososial. Gejala itu adalah:
- Mood yang berubah-ubah, depresi, marah, mudah tersinggung
- Masalah perkawinan
- Membolos kerja/sekolah
- Kinerja akademik buruk, kinerja ditenmpat kerja juga buruk
- Masalah keuangan: berhutang
- Menarik diri dari hubungan social , tidak lagi bergaul dengan kawan2 (selain pengguna
zat)
Kriteria DSM-5 Penggunaan Zat19
Penggunaan Zat dalam Kriteria ini menggunakan diagnosis tunggal yang mengkombinasi
Substance Abuse and Substance Dependence.
Kriteria untuk diagnosis ini harus dipenuhi 2 dari 11 kriteria, Kriteria sama dengan DSM IV untuk
abuse dan dependence.
Jika memenuhi 2-3 kriteria maka digolongkan dalam penggunaan ringan,
4-5 kriteria digolongkan dalam penggunaan sedang;
6-7 kriteria penggunaan berat

2.11 Dampak Penyalahgunaan Zat pada Pekerja Profesional


Penulisan referat ini akan membahasa penyalahgunaan zat pada pekerja profesional yang meliputi:
1. TNI
Seorang militer adalah alat pertahanan negara, dimana militer yang seharusnya menjaga
ketentraman dan keamanan negara berdasarkan dengan Undang – Undang No. 34 Tahun 2004

32
Tentang Tentara Nasional Indonesia, Tidak seharusnya berbuat suatu tindakan yang bertentangan
dengan hukum. Kasus – kasus yang menimpa pada seorang militer yang melakukan sebuah tindak
pidana, baik secara umum maupun khusus dibedakan secara khusus di lingkup peradilannya.
Karena Hukum Militer itu sendiri merupakan salah satu daripada hukum khusus, maka sistem
peradilannya juga secara khusus. Kasus – kasus yang menjerat seorang militer sebagai subjek
hukum pidana tersebut disidangkan dan diadili secara khusus di Pengadilan Militer.20
Anggota TNI yang melakukan tindak pidana narkotika akan dijatuhi sanksi pidana sesuai
dengan yang diatur dalam Undang –Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika apabila
terbukti melakukan tindak pidana penyalahgunaan Narkotika. Sesuai dengan Pasal 6 KUHPM,
terhadap anggota militer yang melakukan tindak pidana selain dijatuhi pidana pokok juga dapat
dijatuhi pidana tambahan. Jenis pidana tambahan tersebut berupa pemecatan dari dinas militer,
penurunan pangkat dan pencabutan hak – hak tertentu. Untuk pidana tambahan yang berupa
pemecatan dinas dari militer dan penurunan pangkat tentunya tidak diatur dalam hukum pidana
umum.20

2. Dokter Gigi
Menurut Baldwin et al, penyalahgunaan alkohol adalah yang paling banyak masalah umum
yang dihadapi kedokteran gigi dan dapat berkembang selama sekolah, karena banyak siswa mulai
menggunakan alkohol dan obat-obatan untuk mengatasinya stress. Mayoritas dokter gigi berlatih
sendiri dan stres dalam mengelola latihan solo bisa lebih jauh berkontribusi terhadap
penyalahgunaan narkoba. Lainnya faktor yang dapat berkontribusi pada substansi penyalahgunaan
termasuk merasa percaya diri terhadap efek kecanduan obat-obatan, situasi sosial di mana obat
atau alkohol ditawarkan secara bebas, dan bersosialisasi dengan penyalahgunaan zat.21
Untuk mengetahui dan memahami faktor risiko alkohol dan obat-obatan kecanduan. Ini juga
penting untuk mengerti kapan dokter gigi atau staf anggota sedang tertekan. Anda bisa mencari
gejala penggunaan dan pengamatan perilaku yang tidak biasanya; namun, penyedia layanan
kesehatan yang sadar akan gejala obat dan penggunaan alkohol dapat menghadapi kecanduan
rekan kerja dengan percaya diri dan dalam cara yang tidak menghakimi dan mendukung.
Seseorang harus siap untuk menghadapinya penyangkalan, kemarahan, dan ancaman, bukan hanya
dari orang yang dihadapkan, tetapi juga dari anggota keluarga yang memungkinkan dan / atau staf.
Kalau yang kecanduan dokter gigi dalam penyangkalan seperti itu bahwa dia atau dia menolak

33
untuk mendengarkan, mungkin diperlukan untuk menghubungi komite kesejahteraan negara untuk
menemukan penyebab kecanduan. Sekali seseorang dengan kecanduan menerima kehadiran
penyakit ini dan mengekspresikan keinginan untuk berubah, perawatan bisa dimulai.21
Pengobatan harus dirancang untuk setiap individu oleh para profesional dengan pengalaman
dalam mengobati narkoba dan alkohol penyalahgunaan. Desain masing-masing program
tergantung pada tingkat kecanduan dan kepatuhan pasien, keluarga bersedia untuk mengirim
pecandu pada terapis dan aksesibilitasnya organisasi yang dapat menyediakan konseling kepada
pecandu dan atau keluarganya. Perawatan yang melibatkan pertanggungjawaban dan dukungan
akan dibutuhkan seumur hidup. Individu dan / atau konseling keluarga mungkin memerlukan
waktu yang lama. Hanya melalui kesadaran dan keinginan untuk terlibat sebagai profesional akan
dimungkinkan membantu penyedia layanan kesehatan yang kecanduan
terima perawatan yang mereka butuhkan mengatasi penyakit mereka.21

3. Supir
Penyalahgunaan narkotika yang dilakukan sopir angkutan umum terjadi di kota makassar.
Akibat dari pemakaian narkotika oleh sopir angkutan kota banyak menambah rejeki karena sopir
merasa setelah menggunakan narkotika jenis sabu sabu tenaganya bertambah untuk
mengemudikan mobil secara terus menerus. Penyebab penyalahgunaan narkotika yang dilakukan
oleh sopir angkot di kota Makassar periode 2010-2012 antara lain22 :
1) Faktor penyebab penyalahgunaan narkotika yang dilakukan oleh sopir disebabkan karena
faktor-faktor sebagai berikut :
a. Faktor Individual: kepribadian, perasaan ingin tahu dan keinginan untuk mencoba. ,
memecahkan persoalan.
b. Faktor lingkugan : keluarga dan pergaulan
2) Usaha-Usaha yang ditempuh selama ini dalam upaya menaggulangi kejahatan
penyalahgunaan narkotika terdiri dari :
a. Usaha mencegah/pre-emtif dan preventif dari POLRI,yakni pengadaan penyuluhan
hukum dibantu instansi terkait serta razia rutin transaksi terkait serta pemeriksaan tes
urine, dan patroli-patroli khususnya di daerah-daerah yang sering terjadi tindak
kejahatan.

34
b. Usaha penindakan/represif oleh POLRI berupa upaya memproses sebagaimana
mestinya pelaku kejahatan sesuai dengan mekanisme peradilan pidana.
c. Usaha pembinaan, yakni membina para pelaku penyalahgunaan narkotika, yang terdiri
dari pembinaan spiritual,pembinaan keterampilan dan pembinaan sosial.
4. Atlit
Penyalahgunaan narkoba pada atlet adalah masalah signifikan yang memiliki banyak penyebab
yang potensial. Dorongan untuk menjadi yang terbaik dalam hal olahraga, seperti halnya
penggunaan zat meningkatkan kinerja. Dengan tekanan yang terus menerus dihadapi oleh para
atlet, tidak mengherankan bahwa penyalahgunaan narkoba oleh atlet ada di seluruh dasarnya
semua olahraga dan kelompok usia. Saran untuk mereka yang melakukan penelitian dan kerja
klinis dengan atlet termasuk23:
1) Jika penyedia menyadari seorang atlet menggunakan PED (performance-enhancing drugs),
mereka harus mendidik atlet tentang potensi risiko penggunaan lanjutan, terlepas dari bukti
yang menunjukkan ini mungkin tidak berpengaruh untuk semua atlet. Penyedia harus
mendorong penghentian substansi yang disalahgunakan.
2) Ada varians yang besar dalam program pengujian narkoba di olahraga yang berbeda dan pada
tingkat persaingan yang berbeda. Uji coba acak yang lebih berkualitas, prospektif, dan acak
harus dilakukan untuk menentukan keefektifan pencegahan berbagai jenis program skrining
PED, dan perubahan harus dilakukan. dibuat untuk jenis program penyaringan yang ditemukan
tidak efektif.
3) Dokter, pelatih, pelatih, orang tua, dan lain-lain di rombongan atlet perlu dilatih dengan baik
dalam mengenali tanda-tanda dan gejala penyalahgunaan narkoba, termasuk perubahan dalam
kesehatan fisik dan perilaku.
4) Kemanjuran pendidikan tentang penggunaan PED sebagai ukuran pencegahan perlu diteliti
lebih lanjut. Integrasi awal kurikulum pencegahan yang dirancang dengan baik ke dalam
program olahraga mungkin bermanfaat. Namun, seperti yang disinggung sebelumnya,
setidaknya satu studi awal menunjukkan bahwa program pendidikan yang hanya menekankan
efek negatif PED mungkin tidak efektif untuk atlet muda
5) Penyaringan dan pengobatan penyakit mental yang mendasarinya seperti depresi yang dapat
berkontribusi terhadap pengobatan sendiri dengan obat oleh atlet harus ditingkatkan.
Efektivitas skrining ini harus dipelajari.

35
6) Atlet yang menggunakan narkoba sering skeptis terhadap bidang medis. Ini mungkin sebagian
dengan alasan yang baik, karena banyak profesional perawatan kesehatan yang tidak terbiasa
dengan mentalitas atlet atau pola penyalahgunaan narkoba umum dalam populasi ini. Dengan
demikian, jaringan rujukan atau program bantuan tim yang terdiri dari profesional perawatan
kesehatan yang akrab dengan masalah ini harus ditetapkan untuk atlet dan tim. Efektivitas
model ini harus dipelajari.
7) Penelitian harus memeriksa perbedaan dalam pendekatan pengobatan yang mungkin
diperlukan untuk atlet yang telah menggunakan obat untuk jangka waktu yang lebih pendek
dan lebih lama.
8) Pelatih, pelatih, dan penyedia layanan kesehatan harus memberikan alternatif berbasis bukti
yang aman untuk penggunaan PED termasuk nutrisi optimal, strategi pelatihan beban, dan
pendekatan psikologis untuk meningkatkan kinerja, yang semuanya dapat membantu
kepercayaan diri atlet terhadap kemampuan alami mereka.

5. Artis
Banyak selebritis yang pertama kali menggunakan obat untuk meredakan gejala yang
diakibatkan dari stres yang ekstrim. Ini sesuai dengan tahap pertama proses kecanduan: rekreasi,
penggunaan narkoba sporadis. Di tahap kedua penggunaan narkoba yang intensif, berkelanjutan,
dan meningkatkan toleransi dan membutuhkan dosis semakin tinggi. Dalam perjalanan ke
ketergantungan obat, gejala penarikan diri dan efek negatif meningkat dalam keparahan. Pada titik
ini, selebritas yang kecanduan tidak lagi dapat melakukan pekerjaan mereka. Ini adalah tahap
ketiga - hilangnya kontrol asupan obat dan kecanduan penuh - di mana mereka menampilkan
kondisi tertentu yang memuaskan kriteria diagnostik psikiatri. Penggunaan zat berulang bahkan di
menghadapi efek negatif semacam itu adalah 'penggunaan obat-obatan kompulsif', yaitu tipikal
kecanduan, dan penggunaan kompulsif dilaporkan meningkat waktu dan dengan dosis yang lebih
besar. Dalam penelitian ini, temuannya kematian akibat overdosis dan komplikasi medis yang
berhubungan dengan tiga tahap untuk kecanduan oleh Piazza dan Deroche-Gamonet.24
Ketika selebriti meninggal karena penggunaan narkoba, mereka dikecam sebagai tidak
bermoral atau diidealkan sebagai romantis. Kedua fenomena itu terjadi karena penggunaan zat
adiktif sebelumnya tidak diakui sebagai kemungkinan langkah pertama perilaku adiktif. Seperti
yang ditunjukkan pada hasil dari penelitian ini, banyak kasus bunuh diri setelah penggunaan zat

36
dilakukan secara impulsif. Kita juga harus memperhatikan percabangan kematian selebritis yang
melibatkan penggunaan zat untuk pengguna substansi sebagai pengaruh selebritis tampak seperti
dalam efek Werther. Oleh menyelidiki kematian terkait dengan penggunaan zat dari kualitatif
perspektif dan menyediakan konteks yang lebih luas, studi ini harus menawarkan pandangan yang
berguna bahwa penggunaan zat adalah masalah sosial yang membutuhkan pencegahan dan
pengobatan.24
Studi ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya yang terkait dengan penggunaan zat
karena itu menawarkan kasus-kasus yang sangat akrab bagi publik. Penelitian lebih lanjut harus
dilakukan di bidang ini untuk memperluas basis pengetahuan tentang penggunaan program
kesehatan mental dalam mempromosikan kesadaran publik tentang bahaya penggunaan narkoba.
Studi ini perlu dibatasi karena orang lain mungkin memiliki perbedaan pendapat tentang penyebab
kematian selebritis, dan bahwa beberapa dari data yang dikumpulkan mungkin tidak akurat. Para
penulis berusaha keras untuk mengkonfirmasi penyebab resmi kematian selebritis dengan
mengumpulkan data yang relevan, memvalidasi redudansi, dan melakukan lintas validasi, dan
mereka menerima penyebab resmi sedapat mungkin. Sampai diakui sebagai penyakit kejiwaan,
substansi Pelecehan telah lama dianggap oleh sebagian besar masalah moral, dan kematian karena
penggunaan narkoba masih sering mengarah pada penindasan moral terhadap artis.24

37
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Masalah penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainya (NAPZA) atau
istilah yang populer dikenal masyarakat sebagai NARKOBA (Narkotika dan Bahan/ Obat
berbahanya) merupakan masalah yang sangat kompleks, yang memerlukan upaya
penanggulangan secara komprehensif dengan melibatkan kerja sama multidispliner,
multisektor, dan peran serta masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara
berkesinambungan, konsekuen dan konsisten.
2. Sektor kesehatan memegang peranan penting dalam upaya penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA, melalui upaya Promotif, Preventif, Terapi dan Rehabilitasi
3. Ditinjau dari jenisnya, ketergantungan narkoba merupakan penyakit mental dan perilaku
yang berdampak pada kondisi kejiwaan yang bersangkutan dan masalah lingkungan sosial.
4. Pekerjaan profesional yang rentan dalam penyalahgunaan zat adalah TNI, Dokter gigi,
Supir, Atlit dan Artis.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Hawari, D. 2000. Penyalahgunaan Narkotika dan Zat Aditif. Fakultas Kedokteran Umum
Universitas Indonesia: Jakarta.
2. Maramis, W.F. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University Press:
Surabaya
3. Gambaran umum penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI. 2014.
4. Antinarkoba sedunia. Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. 2017
5. M. Arief Hakim, Bahaya Narkoba Alkohol : Cara Islam Mengatasi, Mencegah dan
Melawan, Bandung : Nuansa, 2004.
6. http://www.bnn.or.id diakses pada 3 Desember 2018.
7. Nasution HH, Lubis WH, Sudibrata A. Penyalahgunaan Napza. Divisi Psikosomatis
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU. Universitas Sumatera Utara. Medan. 2015.
8. Kaplan H I and Saddock BJ, Sinopsis Psikiatri: ed saddock BJ. Vol. 1. 7th Edition. USA.
William and Wilkins, 2010: 571-632.
9. American Psychiatric Association.Substance-Related Disorders,Diagnostic and Statistics
Manual of Mental Disorder 4th Edition..Arlington,VA;2000.110-150.
10. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia. Edisi II. Direktorat
Kesehatan Jiwa. DepKes RI. 1983.
11. Departemen Kesehatan Indonesia. Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat
Psikoaktif,Pedoman Penggolongan dan diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Jakarta
; 1993. hal. 84 – 102.
12. Depkes. Pedoman Praktis Bagi Petugas Kesehatan (Puskesmas) Mengenai penyalahgunaan
Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif Lain (NAPZA).2011
13. Mere. Prevalensi Penyalahgunaan Narkoba diIndonesia.2011
http://www.suarapembaruan.com diakses pada 3 Desember 2018.
14. BNN. 2007d. Advokasi Pencegahan Penyalahgunaanan Narkoba. Jakarta: Badan
Narkotika Nasional Republik Indonesia.
15. Matwimiyadi,. Hubungan Terhadap Tingkat Pendidikan Dan Pekerjaan Dengan
Penyalahguna Napza. Jurnal Kesehatan Komunitas, Vol. 2, No. 5, Nopember 2014

39
16. Syaifullah Kholik. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyalahgunaan Narkoba Pada
Klien Rehabilitasi Narkoba Di Poli Napza Rsj Sambang Lihum. Jurnal Skala Kesehatan
Volume 5 No. 1 Tahun 2014
17. Matwimiyadi,. Hubungan Terhadap Tingkat Pendidikan Dan Pekerjaan Dengan
Penyalahguna Napza. Jurnal Kesehatan Komunitas, Vol. 2, No. 5, Nopember 2014
18. Arvida Bar. Determinan Penyalahgunaan Narkoba pada Pekerja Pengunjung Tempat
Hiburan. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional Vol. 2, No. 1, Agustus 2007
19. American Psychiatric Association, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders,
fifth edition, DSM-5, American Psychiatric Association, 2013.
20. Idrus W. Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika Oleh
Oknum Anggota TNI. Skripsi. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Makassar. 2016.
21. Fung EYK, Lange BM. Impact of druf abuse dependence on dentists. Sustaince Abuse.
2011.
22. Ayub APP. Tinjauan kriminologis terhadap penyalahgunaan narkotika oleh sopir pete-pete
di Makassar. Skripsi. Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Makassar. 2013.
23. Reardon CL, Creado S. Drug abuse in atheles. Department of Psychiatry. University pf
Wisconcin School of Medicine and Public Health. USA. Substance Abuse and
Rehabilitation. 2014:5. P. 95-105.
24. Na E, Lee KS, K Eunju, Jeon HJ, Yang Y, Roh S. Deaths of Celebrities and Substance
Use: A qualitative investigation. J Addiction Prevention. 2015;3(2):6.

40