Anda di halaman 1dari 15

TUGAS

MATA KULIAH ENDAPAN MINERAL

PERSEBARAN URANIUM DI INDONESIA

Disusun Oleh :

ANANTHA BUDI SATRYA L2L 007 007

GEBYAR JAYA SETIADI L2L 007 024

M. DINUL HAQ L2L 007 038

NURI EVITASARI L2L 007 041

DWANDARI RALANARKO L2L 006 012

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010
1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pada dasarnya kegiatan penambangan sudah ada sejak


keberadaan manusia di dunia ini. Kegiatan yang dilakukan
dengan maksud untuk memanfaatkan sumber daya mineral
yang terdapat di bumi demi kesejahteraan manusia ini
diyakini sebagai usaha kedua setelah pertanian/agrikultur.
Banyak mineral yang berharga yang ada di bumi ini yang
dapat ditambang dan dimanfaatkan baik secara langsung
ataupun dengan melakukan pengolahan terlebih dahulu.
Uranium merupakan salah satu mineral yang berharga
dan merupakan aset negara yang penting. Untuk masa
sekarang ini uranium sangat diperlukan sebagai bahan
bakar nuklir, dimana diketahui bahwa energi nuklir adalah
salah satu sumber energi alternatif yag sedang
dikemabangkan sebagai bahan pengganti munyak bumi
yang cadangannya semakin lama semakin langka. Energi
nuklir tersebut dapat menjadi energi alternatif sebagai
bahan untuk suplai kebutuhan energi listrik di Indonesia.
Cadangan uranium yang potensinya cukup banyak di
Indonesia seperti di Kalimantan misalnya diharapkan
mampu memberikan pasokan bagi bahan bakar nuklir.
Dengan cadangan uranium yang cukup di wilayah kita ini
diharapkan mampu memenuhi pasokan sebagai bahan
bakar di teras reaktor yang nantinya dapat menjadi suplai
bagi ketersediaan energi listrik yang semakin lama semakin
berkurang.

2
BAB II
PENGERTIAN & METODE PENAMBANGAN

2.1 PENGERTIAN URANIUM

Uranium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang U dengan nomor atom 92. Uranium merupakan sebuah logam berat
dengan sifat beracun, berwarna putih keperakan dan termasuk ke dalam radioaktif
alami, uranium termasuk ke seri aktinida (actinide series). Uranium biasanya
terdapat dalam jumlah kecil di bebatuan , tanah , air , tumbuhan , dan hewan.

2.2 PENAMBANGAN URANIUM

Secara garis besar metode penambangan uranium dapat di bagi menjadi 3 metode,
yaitu:

1. tambang terbuka (surface mining),

2. tambang bawah tanah (underground mining),

3. tambang bawah air (underwater mining).

2.2.1 Tambang terbuka

Tambang terbuka adalah metode penambangan yang segala aktivitas


penambangannya dilakukan di atas atau relatif dekat dengan permukaan bumi
dan tempat kerjanya berhubungan langsung dengan udara bebas.

3
Gambar.1 Penambangan Uranium dengan metode open pit

Gambar.2 Penambangan Uranium dengan metode open cut/open cast/open mine

2.2.2 Tambang bawah tanah

Tambang bawah tanah adalah metode penambangan yang segala kegiatan atau
aktivitasnya dilakukan di bawah permukaan bumi dan tempat kerjanya tidak
langsung berhubungan dengan udara luar

2.2.3 Tambang bawah air

tambang bawah air adalah tambang yang penggaliannya atau mineral


berharganya terletak di bawah permukaan air

4
Menambang uranium ini pada dasarnya sama dengan menambang mineral lain
yaitu dengan melakukan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Prospeksi yaitu kegiatan penyelidikan, pencarian endapan-endapan


mineral berharga.

2. Eksplorasi yaitu kegiatan lanjutan setelah ditemukannya endapan mineral


berharga dengan tujuan mengetahui dan mendapatkan ukuran, bentuk,
letak, kadar rata-rata dan jumlah cadangan endapan.

3. Studi Kelayakan yaitu kegiatan mengevaluasi data dan hasil analisis dari
kegiatan eksplorasi. Dengan studi kelayakan ini dapat diketahui apakah
endapan tersebut layak ditambang secara ekonomis dengan metode saat ini
atau tidak.

4. Perencanaan dan konstruksi yaitu kegiatan membuat lubang-lubang


bukaan ke arah dan di dalam endapan bijih.

5. Penambangan yaitu kegiatan membongkar mineral berharga dari batuan


induknya, baik di atas permukaan atau di bawah permukaan bumi.

6. Pengangkutan yaitu kegiatan pemindahan material dari tempat


penambangan ke tempat penimbunan (stock pile) atau pemurnian (mill).

7. Pemurnian yaitu kegiatan meningkatkan kadar bijih dari kadar rendah ke


kadar tinggi.

8. Pemasaran yaitu kegiatan menjual produk ke konsumen.

5
BAB III

PERSEBARAN URANIUM

Uranium ditemukan dalam jumlah kecil sebagai mineral uranium oksida


uraninite (pitchblende) dalam sulfide veins di granit atau batuan beku felsic
lainnya (mengandung mineral felspar, felspathoid, silica) - batuan beku asam.

Uranium juga ditemukan dalam batuan sedimen. Di bawah kondisi air tanah
dekat permukaan, uranium dalam batuan beku dapat teroksidasi dan teruraikan,
ditransportasi air tanah, kemudian diendapkan sebagai uraninit dalam batuan
sedimen.

Deposit uranium terbesar Amerika ditemukan justru di batuan sedimen


berumur Trias-Yura di Plato Colorado (Utah, Arizona, Wyoming, New Mexico).

(Awang Satyana, 2008)

3.1 PERSEBARAN URANIUM DI INDONESIA

Pemetaan bersistem sumberdaya mineral radioaktif oleh Sastratenaya dan


Tjokrokardono (dipublikasi IAGI, 1985) bisa menjadi acuan awal kita untuk
mengetahui persebaran uranium di Indonesia (khususnya di wilayah Indonesia
Barat).

Selama ini, kita hanya mengenal Kalimantan sebagai sumber uranium


terbesar di Indonesia. Potensi kandungan uranium di bumi Borneo, termasuk
Kaltim, lebih tinggi dibanding kandungan uranium lain yang ditemukan di dunia.

Kandungan uranium di Kalimantan mencapai 24 ribu ton yang setara dengan


kebutuhan listrik 9.000 megawatt selama 125 tahun. Lokasinya di Desa Kalan,
Kecamatan Ella Hilir, Melawai, Kalimantan Barat.

6
Selama ini indikasi mineralisasi uranium di Kalimantan telah ditemukan pada
batuan metamorfik dan granit di Pegunungan Schwaner yang membentang antara
Kalimantan Barat dengan Kalimantan Tengah, berupa anomali radioaktivitas dan
anomali geokimia uranium.

Geologi regional Pegunungan Schwaner yang merupakan "watershed“


Kalimantan Barat-Kalimantan Tengah terdiri dari batuan metamorfik Pinoh yang
diintrusi oleh batuan tonalit dan granit alkali.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sendiri telah melakukan sejumlah


pemboran dengan kedalaman hampir 400 meter di sejumlah wilayah Kalimantan
Tengah untuk mengetahui eksistensi pemineralan U di bawah permukaan dan
bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang potensi sumberdaya uranium.

Mineralisasi uranium dijumpai dalam dua lobang bor pada zone rekahan atau
fraktur yang terisi urat sulfida dan magnetit dengan mineral radioaktif berupa
uraninit dan branerit. Banyaknya U yang ada di sekitar dua lubang bor itu sampai
kedalaman sekitar 55 m diperkirakan 623,21 kg.

Dalam pemetaan yang dilakukan oleh Sastratenaya dan Tjokrokardono


deposit mineral radioaktif di Indonesia dibagi menjadi tiga kategori :

1. DSS (daerah sumberdaya spekulatif),

2. DSSb (daerah sumberdaya spekulatif berindikasi),

3. DSP (daerah sumberdaya potensial).

Berikut ini adalah wilayah-wilayah di indonesia yang memiliki kandungan


unsur radioaktif dengan tingkat DSSb :

 Aceh Tenggara Tapanuli, Sibolga,

 Sawahlunto Muarabungo

 Sarko Lampung Tengah

 Tukul Bakumpai

7
 Bulit Mahakam Hulu

Berikut ini adalah wilayah-wilayah di indonesia yang memiliki kandungan


unsur radioaktif dengan tingkat DSP :

1. Jalur Timah

2. Laur Ella

Secara geologi, Laur Ella ini merupakan septa malihan dalam jalur tonalit
Mesozoic Schwaner. Mineralisasi tipe urat dan stock werk dalam fraktur
sekistositas dan breksi sesar, umumnya berasosiasi dengan sulfida. Mineralisasi
seingkapan, bongkah batuan berkadar U tinggi, asosiasi sulfida dan monazit.
Mineralisasi tidak beraturan, berasosiasi dengan greisen, lamprofir dan material
granitik, sulfida.

2.5 PERSEBARAN URANIUM DI INDONESIA TIMUR

Persebaran uranium di wilayah Indonesia timur telah diindikasi tujuh


daerah di Sulawesi termasuk Banggai Sula dan empat daerah di Papua,yang di
wilayah2 yang secara geologi terdapat batuan granitik dan felsik lainnya.

8
BAB IV
MANFAAT URANIUM

Uranium adalah bahan bakar nuklir yang sangat penting. Uranium 238
bisa diubah menjadi Plutonium.Kegunaan bahan bakar nuklir untuk menghasilkan
energi listrik, untuk membuat isotop yang digunakan untuk tujuan damai, dan
sebagai peledak, sangat diketahui dengan baik. Kapasitas 429 reaktor pembangkit
listrik tenaga nuklir di seluruh dunia yang beroperasi pada Januari 1990
dierkirakan mencapai 311000 megawatt.

Uranium digunakan dalam peralatan petunjuk inert, dalam kompas giro,


sebagai imbangan berat untuk permukaan kontrol penerbangan, sebagai pemberat
untuk kendaraan pembawa missil, dan sebagai bahan pelindung. Logam uranium
digunakan untuk target sinar X untuk memproduksi sinar X berenergi tinggi;
uranium nitrat berguna untuk tinta fotografi, dan uranium asetat digunakan dalam
kimia analisis.

Kristal uranium bersifat triboluminesens (fenomena optis di mana cahaya


dihasilkan ketika ikatan asimetris rusak karena zatnya tergores atau dihancurkan).
Garam uranium juga digunakan untuk memproduksi kaca dan kilau Vaseline
kuning. Uranium dan senyawanya sangat beracun, baik dari sudut pandang kimia
dan radiologi.

4.1 Sebagai proyektil (penembus berbasis energi kinetik )

Secara kimiawi, uranium merupakan logam berat berwarna keperakan


yang sangat padat. Sebuah kubus uranium bersisi 10 cm memiliki massa
mendekati 20 kg dan secara umum 70 % lebih padat dibanding timbal (timah
hitam). Pada suhu 600 - 700°C dalam tekanan yang sangat tinggi logam DU akan
menyala dengan sendirinya, membentuk kabut Aerosol DU yang bersifat cair dan
sangat panas. Sifat-sifat kimiawi dan fisis semacam ini yang menyebabkan

9
kalangan militer menyukai DU untuk digunakan dalam sistem persenjataan
konvensional yang bersifat taktis. Tidak sebagai bahan peledak nuklir,

DU digunakan sebagai senjata penembus berenergi kinetis dan biasa


digunakan dalam bentuk Senjata Antitank (atau ankerucutti kendaraan lapis baja
lainnya). Jadi senjata ini benar-benar konvensional, sama sekali tak melibatkan
reaksi berantai didalamnya (baik reaksi fisi maupun reaksi fusi). Senjata ini
sebagian besar menggunakan prinsip yang dikenal dengan Efek Munroe.

Prinsip dari penerapan senjata berbasis DU ini dapat dijelaskan dengan


tabung yang didalamnya ada rongga yang berbentuk Kerucut, dengan dasar
kerucut tepat beririsan dengan dasar tabung. Dinding kerucut ini terbuat dari
lapisan DU, sementara ruang antara kerucut dan tabung diisi dengan bahan
peledak konvensional (anggaplah TNT). Di dasar kerucut terdapat sebentuk 'pipa'
kecil (lebih kecil dari tabung) yang sumbunya tepat berada pada sumbu tabung
dan kerucut, mengarah keluar. Pipa ini tertutup, diujungnya terdapat detonator dan
sekering sumbu waktu. Karena tertutup, maka rongga tadi dibuat hampa udara.
Jika TNT yang mengelilingi rongga kerucut tadi diledakkan, tekanan dan panas
yang dihasilkannya akan membuat DU yang menyusun ujung dan bagian tengah
dinding kerucut mencair dalam derajat yang berbeda. Di ujung kerucut DU
mencair sempurna dan oleh tekanan ledakan ia akan bergerak mengalir keluar
(menyusuri pipa) dengan kecepatan 10 km/detik (ini diistilahkan dengan jet).
Sementara DU yang menyusun bagian tengah dinding kerucut hanya mengalami
pencairan sebagian sehingga membentuk gumpalan-gumpalan kecil logam (pasir
logam) yang larut dalam cairan DU (dinamakan slug), dan melesat dengan
kecepatan 1000 m/detik melalui pipa. Jet dan slug inilah yang dengan mudah
mampu menembus dinding lapis baja (setebal apapun) akibat kecepatan dan sifat
cairnya.

Penembusan ini menyebabkan bagian dalam kendaraan lapis baja itu


terpanaskan dengan hebat, dan membuat tanki bahan bakar solar-nya meledak
sehingga kendaraan lapis baja ini akan terbakar dan personel yang ada didalamnya
terpanggang. Jet dan slug inilah yang merupakan bagian dari efek Munroe, dan

10
belum ada material baja yang mampu menangkalnya (meski material baja tersebut
sanggup menahan gelombang tekanan produk ledakan senjata nuklir sekalipun).

4.2 Pelapis kendaraan tempur

Digunakan oleh militer Amerika Serikat sebagai pelapis tank M1 Abrams,


yaitu campuran antara DU dan 0,7% Titanium.

4.3 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

Energi yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir terkendali di dalam reaktor
nuklir dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Instalasi pembangkitan
energi listrik semacam ini dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir
(PLTN).

Salah satu bentuk reaktor nuklir adalah reaktor air bertekanan (pressurized
water reactor/PWR) yang skemanya ditunjukkan dalam gambar. Energi yang
dihasilkan di dalam reaktor nuklir berupa kalor atau panas yang dihasilkan oleh
batang-batang bahan bakar. Kalor atau panas dialirkan keluar dari teras reaktor
bersama air menuju alat penukar panas (heat exchanger). Di sini uap panas
dipisahkan dari air dan dialirkan menuju turbin untuk menggerakkan turbin
menghasilkan listrik, sedangkan air didinginkan dan dipompa kembali menuju
reaktor. Uap air dingin yang mengalir keluar setelah melewati turbin dipompa
kembali ke dalam reaktor.

11
Untuk menjaga agar air di dalam reaktor (yang berada pada suhu 300oC)
tidak mendidih (air mendidih pada suhu 100oC dan tekanan 1 atm), air dijaga
dalam tekanan tinggi sebesar 160 atm. Tidak heran jika reaktor ini dinamakan
reaktor air bertekanan.

4.4 Pada Bidang pertanian.

1) Pemberantasan hama dengan teknik jantan mandul

Radiasi dapat mengakibatkan efek biologis, misalnya hama kubis.


Di laboratorium dibiakkan hama kubis dalam bentuk jumlah yang cukup
banyak. Hama tersebut lalu diradiasi sehingga serangga jantan menjadi
mandul. Setelah itu hama dilepas di daerah yang terserang hama.
Diharapkan akan terjadi perkawinan antara hama setempat dengan jantan
mandul dilepas. Telur hasil perkawinan seperti itu tidak akan menetas.
Dengan demikian reproduksi hama tersebut terganggu dan akan
mengurangi populasi.

2) Pemuliaan tanaman

Pemuliaan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat


dilakukan dengan menggunakan radiasi. Misalnya pemuliaan padi, bibit
padi diberi radiasi dengan dosis yang bervariasi, dari dosis terkecil yang
tidak membawa pengaruh hingga dosis rendah yang mematikan. Biji yang
sudah diradiasi itu kemudian disemaikan dan ditaman berkelompok
menurut ukuran dosis radiasinya.

3) Penyimpanan makanan

Kita mengetahui bahwa bahan makanan seperti kentang dan


bawang jika disimpan lama akan bertunas. Radiasi dapat menghambat
pertumbuhan bahan-bahan seperti itu. Jadi sebelum bahan tersebut di

12
simpan diberi radiasi dengan dosis tertentu sehingga tidak akan bertunas,
dengan dernikian dapat disimpan lebih lama.

Pada Bidang Industri

1) Pemeriksaan tanpa merusak.

Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada


logam atau sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Tehnik
ini berdasarkan sifat bahwa semakin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka
intensitas radiasi yang diteruskan makin berkurang, jadi dari gambar yang
dibuat dapat terlihat apakah logam merata atau ada bagian-bagian yang
berongga didalamnya. Pada bagian yang berongga itu film akan lebih
hitam,

2) Mengontrol ketebalan bahan

Ketebalan produk yang berupa lembaran, seperti kertas film atau


lempeng logam dapat dikontrol dengan radiasi. Prinsipnya sama seperti
diatas, bahwa intensitas radiasi yang diteruskan bergantung pada ketebalan
bahan yang dilalui. Detektor radiasi dihubungkan dengan alat penekan.
Jika lembaran menjadi lebih tebal, maka intensitas radiasi yang diterima
detektor akan berkurang dan mekanisme alat akan mengatur penekanan
lebih kuat sehingga ketebalan dapat dipertahankan.

3) Pengawetan bahan

Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan


seperti kayu, barang-barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapat
menningkatkan mutu tekstil karena inengubah struktur serat sehingga lebih

13
kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis makanan
juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan
lebih lama.

BAB V
KESIMPULAN

 Uranium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki
lambang U dengan nomor atom 92. Yang memiliki sifat beracun,
berwarna putih keperakan dan termasuk ke dalam radioaktif alami,
uranium termasuk ke seri aktinida (actinide series).

 Secara garis besar metode penambangan uranium dapat di bagi menjadi 3


metode, yaitu:

1. tambang terbuka (surface mining),

2. tambang bawah tanah (underground mining),

3. tambang bawah air (underwater mining).

 Uranium ditemukan dalam jumlah kecil sebagai mineral uranium oksida


uraninite (pitchblende) dalam sulfide veins di granit atau batuan beku
felsic, dan atau pada batuan sedimen

 Sebagian besar uranium di Indonesia ditemukan pada batuan metamorfik


dan granit.

 Pada umumnya uranium ditemukan pada zone rekahan atau fraktur yang
terisi urat sulfida dan magnetit dengan mineral radioaktif berupa uraninit
dan branerit.

14
15