Anda di halaman 1dari 20

UNIVERSITAS PALANGKARAYA

FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN ARSITEKTUR
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kasih karunia-Nya lah
kami dapat menyelesaikan Teori Arsitektur tentang ‘‘Ruang pada menara Petronas “, ini sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu
Titiani Widati, ST, M.Sc selaku Dosen Teori Arsitektur yang telah memberikan tugas ini kepada
kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta
pengetahuan kita. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat banyak
kekurangan dan jauh dari apa yang saya harapkan. Untuk itu, saya berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa sarana yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan
saya memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Palangkaraya, 3 Desember 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman Judul.......................................................................... 1

Kata Pengantar........................................................................ 2

Daftar Isi..................................................................................... 3

BAB 1 Pendahuluan......................................................................... ........ 4


1.1. Latar Belakang................................................................. ........ 4
1.2. Rumusan Masalah........................................................... ........ 4
1.3. Tujuan………….......................................................... ........ 5
1.4. Manfaat ………………………………………………… ….... 5

BAB 2 Isi........................................................................................ ........ 5

A. Deskripsi Objek ................................................................ ........ 6

B. Analisa Ruang ……………………………………….. …… …… 7

1. Elemen Ruang ……………………………. 7-8

2. Bentuk ruang ……………………………. 9 - 10

3. Hubungan Ruang ……………………………. 10 - 11

4. Kualitas ruang ……………………………. 12 - 17

5. Hubungan Ruang dan bentuk ……………………………. 18

3.1 Kesimpulan..................................................... ........ 19

DAFTAR PUSTAKA...................................................................... ........ 20


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pelaksanaan gedung tinggi tidak sekedar masalah menambah jumlah lantai saja. Itu terkait
erat dengan kemajuan ilmu dan teknologi untuk material, komputer simulasi (gempa, angin
maupun tahapan konstruksi), uji terowongan angin, sistem perancah, pompa beton kapasitas
tinggi dan lainnya. Dapat dikatakan, mempelajari progress kemajuan gedung tinggi, ibarat
mengenal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Saat ini gedung tinggi tidak
sekedar super -tinggi, dengan selesainya Burj-Khalifa Tower (828 m, 2010) di Dubai, maka
era gedung mega- tinggi sudah dimulai. Apakah itu relevan dipelajari.

Tidak disangkal lagi, adanya kebanggaan dan kepercayaan diri akan kemajuan negara atau
bangsa, perlu bukti fisik dengan adanya bangunan besar dan megah. Hal ini sudah terjadi
sejak awal mula peradaban. Ingatlah legenda Menara Babel yang tertulis di kitab Kejadian,
karya tulis manusia tertua yang masih terpelihara sampai sekarang. Juga adanya peninggalan
bangunan kuno di tiap-tiap peradaban maju yang dianggap pernah ada, misal bangunan
Piramid dari jaman Mesir kuno dan Maya (Meksiko kuno), ataupun Tembok Besar di China.
Itu semua menjadi petunjuk betapa tingginya tingkat kemajuan peradaban bangsa-bangsa
tersebut. Suatu negara berupaya membangun sesuatu yang tertinggi atau semacamnya, agar
meningkat reputasinya, Kemajuan negara atau kekayaan peradaban dapat diukur dari
bangunan besar dan megah di wilayahnya.

Menara kembar Petronas adalah dua buah Gedung pencakar langit kembar di Kuala Lumpur,
Malaysia yang sempat menjadi gedung tertinggi di dunia dilihat dari tinggi pintu masuk
utama ke bagian struktur paling tinggi.

Menara tersebut dirancang dan dibangun oleh perusahaan asing yaitu Adamson Associates
Architects, dari Kanada bersama dengan Cesar Pelli dari Cesar Pelli of Cesar Pelli &
Associates Architects Amerika Serikat dengan desain Interior yang merefleksikan budaya
Islam yang mengakar di Malaysia.

1.2.Rumusan masalah
 Bagaimana deskripsi objek arsitektur Menara Kembar Petronas?
 Bagaimana analisa ruang Menara Kembar Petronas?
 Bagaimana analisa tentang hubungan ruang dengan bentuk dari Menara Kembar
Petronas?
1.3.Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah membuat analisis ruang dan hubungan ruang dengan bentuk dari
Menara Kembar Petronas yang dapat dikembangkan lebih lanjut dan dapat menjadi media
pembelajaran bagi pembaca.

1.4.Manfaat
 Untuk mengetahui deskripsi objek arsitektur dari bangunan Menara Kembar Petronas,
yaitu data tentang arsitektur Menara Kembar Petronas,arsitek dari bangunan tersebut, dan
data tentang bangunan.
 Untuk mengetahui analisa tentang ruang, elemen ruang, bentuk ruang, hubungan ruang,
serta kualitas ruang terhadap elemen arsitektur.
 Untuk mengetahui hubungan ruang dengan bentuk Menara Kembar Petronas.
BAB II
ISI

2.1. DESKRIPSI OBJEK ARSITEKTUR

a. PENDIRI PETRONAS TOWER

César Pelli (lahir 12 Oktober 1926), ia adalah seorang arsitek Argentina yang telah
mendesain beberapa bangunan tertinggi di dunia dan bangunan utama perkotaan
lainnya. Beberapa kontribusinya yang paling terkenal termasuk Menara Petronas di
Kuala Lumpur

b. PEMBANGUNAN

Pembangunan menara ini dimulai pada tahun 1992 dan selesai pada tahun 1998 di
Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan ketinggian menara 451,9 meter (1483 kaki) sudah
termasuk antena menara dan total lantai dari Twin Towers ini adalah 88 lantai. Antara
Tower I dan Tower II, yang lebih dahulu selesai pembangunannya adalah Tower II
yang dikerjakan oleh perusahaan Korea, satu bulan lebih awal selesai dibangun dari
pada Tower I.

c. DESKRIPSI OBJEK

Desain bangunan Metallic, pengaruh gaya art deco Dalam desain , Mr Pelli telah
menghindari prasangka formalistik , dan percaya bahwa bangunan harus menjadi
warga negara yang bertanggung jawab dan bahwa kualitas estetika bangunan harus
tumbuh dari karakteristik spesifik dari masing-masing proyek , seperti lokasi ,
teknologi konstruksi dan tujuannya . Menara Petronas yang dirancang oleh arsitek
César Pelli dari Argentina selesai dibangun pada tahun 1998. Setelah menghabiskan
waktu tujuh tahun, menara ini menjadi bangunan tertinggi di dunia sewaktu
diresmikan. Menara ini dibangun di atas fondasi pacuan kuda Kuala Lumpur.
Kedalaman batuan dasar menjadikan bangunan ini dibangun dengan fondasi paling
dalam di dunia Fondasi sedalam 120 meter itu memerlukan sejumlah beton yang tidak
sedikit untuk dibangun dalam waktu 12 bulan (1 tahun) oleh Bachy Soletanche.

Menara setinggi 88 lantai ini sebagian besar dibangun dari beton bertulang dengan
eksterior bangunan dari baja dan kaca yang dirancang menyerupai motif kesenian
Islam yang mencerminkan agama Islam di Malaysia. Pengaruh seni Islam lainnya
dalam bangunan ini adalah penampang lintang kedua menara yang berbentuk Rub al-
hizb, ditambah dengan bagian bundar untuk memenuhi keperluan ruang kantor.
Menara 1 dibangun oleh konsorsium Jepang yang dipimpin oleh Hazama Corporation
sementara Menara 2 dibangun oleh dua kontraktor Korea Selatan, yaitu Samsung C&T
dan Kukdong Engineering & Construction. Jembatannya pun dikerjakan oleh
Kukdong.
2.2. ANALISA RUANG

a. Elemen Ruang
Elemen ruang ada 2 , yaitu elemen horizontal dan vertical

1. Elemen Horizontal
Secara elemen horizontal , elemen yang digunakan pada tower petronas ada 2 ,
yaitu:

a. Bidang yang diangkat

Terlihat dari bentuk bangunan tersebut , bangunan tersebut di angkat di atas


bidang dasar atau Bentuk denah bangunan Petronas tersebut berupa segiempat
tumpuk dengan salah satu segiempat diputar 45º pada sumbu tengah sehingga
membentuk corak asas geometri Islam dan untuk menambahkan jumlah ruang
maka bagian melengkung ditambahkan pada tekukan segiempat susun,
sehingga menghasilkan permukaan-permukaan vertikal di sepanjang tepinya
yang memperkuat perpisahan visual antara areanya dengan bidang dasar di
sekelilingnya.
b. Bidang di atas

Bidang horizontal yang terdapat di atas mendefinisikan sebuah volume ruang


antara dirinya sendiri dengan bidang dasarnya .

Bidang petronas yang ditutup


agar terlihat bervolume
Sebagai penutup

2. Elemen Vertikal

Elemen vertical pada bangunan tersebut membentuk huruf U sehingga


mendefinisikan volume ruang yang diorientasikan terutama menuju ujung terbuka
pada konfigurasi tersebut . Sehingga konfigurasinya memiliki focus ke dalam
maupun luar .
b. Bentuk Ruang

1. Bentuk pada bangunan Petronas membentuk terpusat dan linier, terlihat pada denahnya
sejumlah bentuk sekunder yang dikelompokkan terhadap sebuah bentuk berinduk
pusat, dominan. Bentuk-bentuk terpusat di dominasi visual sebuah bentuk yang teratur
secara geometris dan diletakkan secara terpusat . Bentuk liniernya terdapat pada
sirkulasinya dan ruang perantara ( jembatan penghubung) , yang memanjang keluar
yang mengaskan sebidang akses masuk ke dalam ruang-ruang lainnnya.

Ruang perantara ini merupakan ruang


linier untuk menghubungkan 2 ruang yang
jauh satu sama lain , atau menggabungkan
seluruh rangkaian ruang yg tidak memiliki
hubungan langsung dengan 1 sama lain
3. Bentuk Ruang Sirkulasi
Bentuk ruang sirkulasi pada bangunan Petronas ini menggunakan sirkulasi
terbuka pada salah satu sisi nya .

c. Hubungan Ruang

1. Hubungan ruang pada Petronas , terhubung satu sama lain dengan cara Ruang
yang berdekatan dan Ruang-ruang yang dihubungkan oleh sebuah ruang
bersama , terlihat dari denah dan bentuk bangunan tersebut pada bagian lantai
bawah sampai atas bangunan-bangunan tersebut berdekatan saling bersentuhan
satu sama lain dan membagi garis bersama-sama, sedangkan ruang yang
dihubungkan oleh ruang lainnya terdapat pada jembatan penghubung antara
bangunan petronas yang satu ke lainnya .

Saling berdekatan 1 dengan yang

lainnya
Ruang yang dihubungkan oleh sebuah

Ruang bersama , bentuknya linier

2. Hubungan ruang dan jalan

Hubungan ruang dan jalan yang ada pada petronas adalah berakhir dalam ruang

Terlihat dari denah hanya ada 1 sirkulasi


d. Kualitas Ruang

1. Warna

Warna pada bagian tembok luar stainless steel , dan warna emas pada bagian
detailnya. Sedangkan pada bagian dalam berwarna putih

BAGIAN
LUAR

BAGIAN
DALAM

2. Material

a. Material/ kulit selubung bangunan di dominasi oleh stainless steel dan


Aluminium sebagai antisipasi terhadap pelapukan karena merupakan bahan
tahan karat .

STAINLESS STEEL
b. Material pada Struktur bangunan
Material yang digunakan pada struktur bangunan adalah baja dan beton
bertulang.
BETON BERTULANG

BAJA

3. Tekstur
Tekstur pada bagian luar didominasi tekstur Halus, berupa :
1. kaca blue whale jenis laminated glass Butacite PVB
2. Logam untuk lapisan dinding

LOGAM

KACA
BLUE
WHALE
3. Skala
Skala pada bangunan Petronas adalah monumental, terlihat dari bangunan
sekitarnya
4. Cahaya

Cahaya pada bangunan tersebut bersumber ada 2 , yaitu pencahayaan alami dan
buatan

a. Pencahayaan alami yang terdapat dari kaca-kaca yang melapisi bangunan


tersebut

b. Pencahayaan buatan di dalam dengan tambahan lampu-lampu


5. Susunan Ruang
Susunan ruang pada petronas adalah sumbu dan hirarki , sumbu terdapat pada
bentuk bangunan dan ruang yang di tengahnya , sedangkan hirarki terdapat pada
denah dan ruangnya

a. Sumbu
b. Hirarki terdapat pada denahnya , yang bentuknya tetap sama , namun
semakin ke atas/ semakin tinggi bangunannya ukuran denahnya semakin
menyusut/mengecil
e. Hubungan ruang dan bentuknya

Bentuk dan penutup tiap ruang di dalam suatu bangunan bisa ditentukan oleh
bentuk ruang disekitarnya , Tiap kategori memiliki sebuah peranan aktif maupun
pasif di dalam mendefinisikan ruang . Ruang seperti petronas memiliki kebutuhan
fungsional dan teknis khusus sehingga membutuhkan bentuk khusus yang
mempengaruhi bentuk ruang mereka . Dengan menggunakan bentuk dasar
geometri untuk memecahkan masalah fungsional dan persegi-persegi dalam
batasannya . Dengan ruang yang menggunakan organisasi linier maka bentuk dari
petronas sendiri akan mengikuti ruangnya .
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan :

Menara petronas dengan tinggi 4519 m yang di bangun pada tahun 1992 dan selesai pada
1998, desain bangunan metallic, pengaruh gaya art deco dalam desain menara petronas yang
dirancang oleh arsitek césar pelli dari argentina selesai dibangun pada tahun 1998. Setelah
menghabiskan waktu tujuh tahun, menara ini menjadi bangunan tertinggi di dunia sewaktu
diresmikan. Menara ini dibangun di atas fondasi beton bertulang .

Menara setinggi 88 lantai ini sebagian besar dibangun dari beton bertulang dengan eksterior
bangunan dari baja dan kaca yang dirancang menyerupai motif kesenian islam

Memiliki elemen ruang yang horizontal bidang yang diangkat dan bidang di atas,elemen ruang
vertika membentuk hurup u, bentuk ruangnya terpusat dan linear dengan sirkulasi
terbuka,hubungan ruangnya yang terhubung satu dengan yang lain

kualitas ruang dengan warna pada bagian tembok luar stainless steel , dan warna emas
pada bagian detailnya. Sedangkan pada bagian dalam berwarna putih ,material material/ kulit
selubung bangunan di dominasi oleh stainless steel dan aluminium material pada struktur
bangunan material yang digunakan pada struktur bangunan adalah baja dan beton bertulang.
Tekstur pada bagian luar didominasi tekstur halus,skala pada bangunan petronas adalah
monumental, cahaya pada bangunan tersebut bersumber dari jendela dan lampu susunan ruang
pada petronas adalah sumbu dan pengulangan.

Dari materi di atas kita dapat mempelajari bahwa Dalam pembangunan bangunan bertingkat kita
harus mampu dalam memilih material yang bagus dan kuat dalam pembuatannya, juga pada
bagian eksteriornya mampu untuk membuatnya menarik, sehingga ruang ruang di dalamnya
dapat menjadi elemen positif
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, R. (2015). KRITIK ‘DEPIKTIF’ARSITEKTUR PADA PETRONAS TWIN TOWERS


KUALA LUMPUR. Sinektika: Jurnal Arsitektur, 13(2), 83-89.

King, A. (2004). Spaces of global cultures: architecture, urbanism, identity. Routledge.

Attoe, Wayne, 1978, Architectural And Critical Imagination, John Wiley & Sons, Ltd, New York.

Dirdjojuwono, Roestanto W, 2001, Sistem Bangunan Pintar, Intelligent Building-The Future,


Pustaka Wirausaha Muda, Bogor.