Anda di halaman 1dari 17

TUGAS PRESENTASI KASUS

Blok Early Clinical Community Exposure III


“Salpingitis”

Tutor:
dr. Agus Budi Setiawan, Sp. BS

Kelompok E1 :

Jatmiko Edy Nugroho G1A011043


Agustus Wiji Gunardi G1A011044
Diana Rizki R. G1A011045
Aisyah Aulia Wahida G1A011046

JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2014
I. PENDAHULUAN

Salpingitis merupakan suatu peradangan yang terjadi pada tuba falopii,


sehingga penyakit ini biasa dikaitkan dengan penyakit radang panggul atau Pelvic
Iflammatory Disease (PID). PID merupakan suatu infeksi alat gental interna, mulai
dari endometrium, tuba falopii, miometrium, parametrium, serta peritoneum panggul.
Saat ini PID dikenal sebagai suatu penyakit infeksi yang perlu penanganan serius, dan
merupakan suatu akibat komplikasi dari penyakit menular seksual (Anwar et al.,
2011).
Secara umum, kasus PID ini memiliki insiden cukup tinggi di Amerika
Serikat. Dilaporkan ada lebih dari 1 juta kasus yang diterapi dalam satu tahun. Di
antaranya bahkan sampai dirawat di rumah sakit untuk kasus PID. Mengingat
penyakit ini merupakan komplikasi dari penyakit menular seksual, maka insidensinya
memiliki peluang yang sangat tinggi untuk terus bertambah setiap tahun (Fielding, et
al., 2011).
PID ini memiliki angka kejadian yang cukup tinggi di Indonesia, diperkirakan
sekitar 850 ribu kasus baru terdapat di Indonesia setiap tahun. Infeksi ini sering
menyerang kaum wanita dengan usia 16-25 tahun. Risiko lebih lanjut dari PID ini
adalah dapat berakhir pada infertilitas atau kemandulan. Risiko terjadinya infertilitas
sekitar 8-17% pada orang dengan PID. Selain itu, peluang infertilitas juga bergantung
pada keparahan penyakit yang terjadi. Kehamilan ektopik juga merupakan suat risiko
yang mungkin terjadi akibat adanya infeksi akibat PID ini, terutama salpingitis. Hal
ini merupakan alasan untuk menjadi perhatian pentingnya kewaspadaan terhadap
salpingitis dan penyakit yang tergolong PID lainnya (Fielding, et al., 2011).
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Salpingitis merupakan penyakit yang sering disinonimkan dengan
penyakit radang panggul atau Pelvic Inflammatory Disease (PID). Salpingitis
adalah peradangan yang terjadi pada tuba falopii, sedangkan untuk istilah PID ini
merujuk pada infeksi traktus genital bagian atas. Infeksi yang terjadi pada PID ini
mencakup salah satunya pada tuba fallopii, atau struktur lain, seperti
endometrium, ovarium, dan peritoneum beserta struktur di sekitarnya (Dutta,
2014).
Salpingitis dibagi menjadi dua, yakni salpingitis akut, dan salpingitis
kronis. Salpingitis akut adalah suatu peradangan yang bersifat purulen pada epitel
tuba fallopii yag merupakan respon terhadap adanya mikropatogen. Sedangkan
salpingitis kronis adalah kelanjutan dari salpingitis akut yang tidak ditangani,
sehingga menimbulkan efek jangka panjang pada penderita (Jaiyeoba & Soper,
2011).

B. Etiologi dan Predisposisi


Salpingitis merupakan suatu infeksi yang diakibatkan oleh karena adanya
infeksi asenden oleh bakteri melalui vagina atau serviks. Penyebab yang sering
pada salpingitis adalah bakteri Chlamydia trachomatis, serta Neisseria
gonorrhoeae. Salpingitis sering terjadi akibat infeksi polimikrobial, yakni bakteri
yang menyerang tidak hanya satu jenis saja. Bakteri lain juga dapat menyebabkan
salpingitis, antara lain, bakteri gram negatif, bakteri fakultatif, anaerob, serta
Streptococcus. Salpingitis juga biasa tejadi akibat adanya infeksi yang terjadi di
sekitar struktur tuba, misalnya apendiksitis (Fielding et al., 2011).
Akibat infeksi asenden ini, beberapa bakteri lain pun mampu berperan
dalam menyebabkan penyakit salpingitis. Beberapa bakteri yang dikenal dapat
menyebabkan vaginosis bakterial seperti Gardnerella vaginalis, serta mikoplasma
yang terdapat pada traktus genital seperti M. genitalium juga dapat menyebabkan
salpingitis. Mikroorganisme yang berperan dalam patogenesis salpingitis ini dapat
diketahui berdasarkan pemeriksaan kuldosintesis (Sweet, 2011)

Gambar 2.1 Penyebaran mikroorganisme penyebab salpingitis (Sweet, 2011)

Faktor risiko lain yang berperan dalam kejadian salpingitis antara lain
(Dutta, 2014):
1. Orang dengan partner seksual lebih dari satu (multiple sexual partner)
2. Riwayat penggunaan IUD
3. Daerah dengan angka prevalensi penyakit menular seksual tinggi
4. Riwayat PID akut sebelumnya
C. Epidemiologi
Pelvic Inflammatory Disease atau PID merupakan infeksi yang sering
terjadi pada wanita yang sudah aktif secara seksual. Angka kejadian salpingitis
dibandingkan dengan infeksi yang berkaitan dengan PID lainnya memiliki jumlah
paling tinggi (Nucci & Oliva, 2009). Di Amerika Serikat penderita PID ini
mencapai angka 1 juta kasus yang menyerang wanita usia 16-25 tahun tahun
(Fielding, et al., 2011).
Prevalensi PID di Indonesia juga cukup tinggi, diperkirakan ada 850 ribu
kasus baru setiap tahun. Angka ini mengalami peningkatan yang cukup tinggi
akibat beberapa faktor, antara lain faktor penggunaan kontrasepsi Intra Uterine
Device (IUD) serta infeksi menular seksual yang semakin meluas, terutama
akibat C. trachomatis (Anwar et al., 2011).
Salpingitis akut merupakan salah satu bagian dari PID yang patut untuk
diwaspadai. Penyakit ini sering terjadi pada wanita dengan usia reproduksi yang
belum hamil atau sedang tidak hamil. Problem salpingitis ini bahkan dapat
dikatakan sebagai salah satu masalah kesehatan mayor. Hal ini dikaitkan dengan
risiko jangka panjang pasien yang sudah pernah mengalami ID, antara lain
infertilitas tuba, kehamilan ektopik, serta PID kronik. Biaya yang digunakan
untuk menunjang masalah kesehatan ini bahkan mencapai 2 milyar dolar
Ameriksa Serikat di negara tersebut (Sweet, 2011).

D. Patogenesis dan Patofisiologi


Infeksi biasanya berasal dari vagina yang kemudian naik ke tuba falopi.
Infeksi paling sering disebabkan oleh gonococus, disamping itu Staphilococus,
Stretptococus dan bakteri TBC. Infeksi ini dapat menyebar melalui pembuluh
getah bening. Infeksi dapat terjadi sebagai berikut (Berek, 2007) :
1. Organisme patogen dari kanalis serviks akan memasuki uterus dan tinggal
dituba falopi.
2. Lapisan tuba falopi menjadi endomatous.
3. Epitel kolumner bersilia pada tuba falopi terkikis dan menyebabkan tuba falopi
dipenuhi pus dan kemudian mengalami pembengkakan yang disebut
piosalping.
4. Setelah sembuh tuba falopi mengalami adhesi atau striktur yang kemudian
dapat menyebabkan infertilitas.

Gambar 2.2 Patofisiologi Salpingitis (Berek, 2007)


E. Penegakan Diagnosis
1. Gejala dan tanda
Dalam kasus ringan salpingitis, gejala mungkin tidak hadir. Ketika
gejala yang hadir, mereka biasanya muncul setelah periode menstruasi. Gejala
yang paling umum dari salpingitis adalah (Cunningham, 2005) :
a. Nyeri perut bagian bawah
b. Perdarahan pervaginam diantara waktu menstruasi
c. Keputihan
d. Gejala penyerta seperti, demam/menggigil, anoreksia, nausea, vomitus,
disuria, poliuria
e. Menstruasi meningkat jumlah dan lamanya
f. Ada riwayat kontrasepsi AKDR.
2. Pemeriksaan Fisik :
Pemeriksaan Umum
a. Suhu biasanya meningkat
b. Tekanan darah normal
c. Denyut nadi cepat
Pemeriksaan Abdomen
a. Nyeri perut bawah, lokasi ini merupakan hal yang paling sering
dikeluhkan oleh pasien dengan PID.
b. Nyeri lepas, yakni ketika perut ditekan kemudian dilakukan pelepasan
penekanan, maka akan terasa nyeri
c. Rigiditas otot
d. Bising usus menurun
e. Distensi abdomen
Pemeriksaan Inspekulo : Tampak sekret purulen di ostium serviks.
Pemeriksaan pelvis bimanual yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana
kelunakan dari uterus untuk mengetahui apakah ada peluang endometritis,
atau kelunakan organ adneksa pada kasus salpingitis. Pemeriksaan traktus
genital bawah juga perlu dilakukan, untuk mengetahui apakah terdapat mukus
yang berwarna kehijauan atau kekuningan (Jaiyeoba & Soper, 2011).
3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan


darah lengkap, di mana akan didapatkan hasil leukosit cenderung meningkat.
Saat ini masih terdapat keterbatasan dalam membedakan penyebab nyeri perut
bawah akut pada wanita dengan usia produktif secara seksual. Berikut
beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan (Jaiyeoba & Soper, 2011):
a. Pemeriksaan mikroskopik, untuk mengetahui adanya kemungkinan
bakterial vaginosis dengan sekret vagina. Selanjutnya dapat dilakukan
pemeriksaan asam nukleat yang bertujuan untuk memeriksan bakteri N.
gonorrhoeae dan C. trachomatis.
b. Pemeriksaan laboratorium, selain ditemukan peningkatan leukosit, dapat
ditemukan hasil sebagai berikut (Jaiyeoba & Soper, 2011):
1) Peningkatan laju endap darah namun hanya75% pasien PID dengan
kondisi ini, hal ini dikarenakan LED merupakan penanda adanya
inflamasi nonspesifik.
2) Peningkatan CRP (C-reactive protein) yang merupakan penanda
infamasi dan memiliki sensitivitas baik, yakni 93% serta spesifisitas
yang baik pula, yakni sekitar 83% dalam mendiagnosis PID.
c. Biopsi endometrium, dibandingkan dengan pemeriksaan laparoskopi yang
lebih invasif, pemeriksaan ini tengah banya diteliti. Hasil yang dapat
ditemukan antara lain neutrofil dan sel plasma yang mengindikasikan
adanya endometritis (jika PID pada seseorang terjadi akibat endometritis).
d. Pemeriksaan USG, pemeriksaan ini tidak terglong pemeriksaan yang
invasif dan banyak tersedia di unit pelayanan kesehatan. Pemeriksaan
yang dianjurkan adalah USG transvaginal dibandingkan transabdominal.
Penegakan dagnosis dari salpingitis ditegakkan pada pasien yang
mengalami Pelvic Inflammatory Disease dan kemudian dicari penyebabnya.
Kriteria Pelvic Inflammatory Disease adalah (Berek, 2007):
a. Minimal kriteria
1) Sakit pada servik
2) Sakit pada uterine
3) Sakit pada adneksa
b. Kriteria tambahan untuk diagnosis
1) Temperatur oral >38,3o celcius
2) Terdapat discharge abnormal pada vagina atau serviks
3) Adanya sel darah putih (leukosit) pada pemeriksaan saline dari sekresi
vagina
4) Naiknya jumlah leukosit
5) Naiknya C-reaktif protein
6) Hasil lab dari infeksi servik terdapat N.gonorrhoeae atau
C.trachomatis.
7) Spesifik kriteria untuk salpingitis : Pada transvaginal sonografi
memperlihatkan tuba menebal karena terisi cairan.
4. Gold Standard
Pemeriksaan baku emas atau gold standard untuk salpingitis adalah
laparoskopi. Laparoskopi, pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan gold
standard untuk salpingitis. Kriteria minimal untuk salpingitis akut antara lain
(Jaiyeoba & Soper, 2011):
a. hiperemis pada permukaan tuba
b. edema pada dinding tuba
c. eksudat tebal pada permukaan tuba dari fimbriae.
Gejala yang
mengarah pada
PID

Pemeriksaan N.
gonorrhoeae, C.
trachomatis, T.
Evaluasi adanya inflamasi vaginalis,
pada traktus genital Bakterialis
bawah dan pemeriksaan Vaginosis
pelvis bimanual

Pelvic Inflammation Pelvic Inflammation


Tidak ada leukore
Disease (PID) dengan Disease (PID) dengan
atau servisitis
tingkat ringan tingkat parah

Mulai
Alternatif Mulai terapi 1.antibiotik IV
diagnosis antibiotik 2.Rawat Inap
3.Pemeriksaan
Tambahan
4.USG atau radiologi
lain

Gambar 2.3 Diagram alur penegakan diagnosis PID (Jaiyeoba &


Soper, 2011)
F. Penatalaksanaan
1. Medikamentosa
Perawatan penyakit salpingitis dilakukan dengan pemberian antibiotik
(sesering mungkin sampai beberapa minggu). Antibiotik dipilih sesuai dengan
mikroorganisme yang menginfeksi. Pasangan yang diajak hubungan seksual
harus dievaluasi, disekrining dan bila perlu dirawat, untuk mencegah
komplikasi sebaiknya tidak melakukan hubungan seksual selama masih
menjalani perawatan untuk mencegah terjadinya infeksi kembali. Perawatan
dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu (Sarwono, 2007):
a. Antibiotik : untuk menghilangkan infeksi, dengan tingkat keberhasilan
85% dari kasus.
b. Perawatan di rumah sakit : memberikan obat antibiotik melalui
Intravena(infuse) Jika terdapat keadaan-keadaan yang mengancam jiwa
ibu.
c. Pembedahan : dilakukan jika pengobatan dengan antibiotik menyebabkan
terjadinya resistan pada bakteri.
d. Berobat jalan
e. Jika keadaan umum baik, tidak demam maka berikan antibiotik
1) Cefotaksitim 2 gr IM atau
2) Amoksisilin 3 gr peroral atau
3) Ampisilin 3,5 per os
Masing-masing disertai dengan pemberian probenesid 1gr per os. Diikuti
dengan
i. Dekoksisiklin 100 mg per os dua kali sehari selama 10-14 hari
ii. Tetrasiklin 500 mg per os 4 kali sehari (dekoksisilin dan tetrasiklin
tidak digunakan untuk ibu hamil)

Berikut terdapat petunjuk terapi pada PID akut menurut Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) pada tahun 2010:
a. Terapi parenteral
Tabel 2.1 Terapi Parenteral menurut Guideline CDC (CDC, 2010)
Regimen A yang direkomendasikan
1) Cefotetan 2 gram IV setiap 12 jam, atau
2) Cefoxitin 2 gram IV setiap 6 jam
ditambah Doksisiklin 100 mg oral atau IV setiap 12 jam
Regimen B yang direkomendasikan
1) Klindamisin 900 mg IV setiap 8 jam ditambah Gentamisin loading
dose IV atau IM (2 mg/KgBB) diikuti dengan maintenance dose (1–5
mg/KgBB) setiap 8 jam.
2) Dosis tunggal (3–5 mg/Kg)
Regimen Alternatif
Ampisilin atau sulbactam 3 gram IV setiap 6 jam ditambah Doksisiklin
100 mg oral atau IV setiap 12 jam

b. Terapi oral
Tabel 2.2 Terapi oral menurut Guideline CDC (CDC, 2010)
Regimen yang direkomendasikan
1) Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal ditambah doksisiklin 100 mg
oral 2 kali sehari selama 10-14 hari, bisa ditambah Metronidazole
500 mg oral 2 kali sehari selama 10-14 hari.
2) Cefoxitin 2 gram IM dosis tunggal, tambah Probenecid 1 gram oral
ditambah doksisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 10-14 hari,
bisa ditambah Metronidazole 500 mg oral 2 kali sehari selama 10-14
hari.
3) Sefalosporin generasi 3 seperto cefotaxim dengan dosis tunggal
doksisiklin 100 mg oral 2 kali sehari selama 10-14 hari, bisa
ditambah Metronidazole 500 mg oral 2 kali sehari selama 10-14
hari.
2. Nonmedikamentosa
a. Tirah baring
b. Kunjungan ulang 2-3 hari atau jika keadaan memburuk
c. Bantu mencapai rasa nyaman:
1) Mandi teratur
2) Obat untuk penghilang gatal
3) Kompres hangat pada bagian abdomen yang merasa nyeri
4) Pemberian terapi analgesik
d. Konseling, dengan menjelaskan bahwa PID dapat menyebabkan
infertilitas karena tuba yang rusak.
e. Pendidikan kesehatan yang diberikan:
1) Pengetahuan tentang penyebab dan penyebaran infeksi serta efeknya
2) Kegiatan seksual dikurangi atau menggunakan pengaman
3) Cara mengetasi infeksi yang berulang
f. Pengobatan dilanjutkan sampai pasien pulang dan sembuh total
g. Edukasi pada pasien
1) Pasangan yang diajak hubungan seksual harus dievaluasi, disekrining
dan bila perlu dirawat,
2) Tidak melakukan hubungan seksual selama masih menjalani
perawatan untuk mencegah komplikasi

G. Pencegahan
Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Pencegahan dapat dilakukan dengan mecegah terjadi infeksi yang disebabkan
oleh kuman penyebab penyakit menular seksual, terutama chlamidya.
Peningkatan edukasi masyarakat, penapisan rutin, diagnosis dini, serta
penanganan yang tepat terhadap infeksi chlamidya berpengaruh besar dalam
menurunkan angka PID. Edukasi hendaknya fokus pada metode pencegahan
penyakit menular seksual, termasuk setia terhadap satub pasangan,
menghindari aktivitas seksual yang tidak aman, dan menggunakan pengaman
secara rutin.
2. Adanya program penapisan penyakit menular seksual dapat mencegah
terjadinya PID pada wanita. Mengadakan penapisan terhadap pria perlu
dilakukan untuk mencegah penularan kepada wanita.
3. Pasien yang telah didiagnosa dengan PID atau penyakit menular seksual harus
diterapi hingga tuntas, dan terapi juga dilakukan terhadap pasangannya untuk
mencegah penularan kembali.
4. Wanita usia remaja harus menghindari aktivitas seksual hingga usia 16 tahun
atau lebih.
5. Kontrasepsi oral dikatakan dapat mengurangi resiko PID.
6. Semua wanita berusia 25 tahun ke atas harus dilakukan penapisan terhadap
Chlamydia tanpa memandang faktor resiko.

H. Komplikasi
Abses tuba ovarian adalah komplikasi tersering dari PID akut, dan timbul
pada sekitar 15-30% wanita yang dirawat inap di RS. Sekuele yang
berkepanjangan, termasuk nyeri pelvis kronik, kehamilan ektopik, infertilitas, dan
kegagalan implantasi dapat timbul pada 25% pasien. Lebih dari 100000 wanita
diperkirakan akan mengalami infertilitas akibat PID.
Keterlambatan diagnosis dan penatalaksanaan dapat menyebabkan sekuele
seperti infertilitas. Mortalitas langsung muncul pada 0,29 pasien per 100000 kasus
pada wanita usia 15-44 tahun. Penyebab kematian yang utama adalah rupturnya
abses tuba-ovarian. Kehamilan ektopik 6 kali lebih sering terjadi pada wanita
dengan PID (Pernoll, 2001).

I. Prognosis
Prognosis pada umunya baik jika didiagnosa dan diterapi segera. Terapi
dengan antibiotik memiliki angka kesuksesan sebesar 33-85%. Terapi
pembedahan lebih lanjut dibutuhkan pada 15-20% kasus. Nyeri pelvis kronik
timbul pada 25% pasien dengan riwayat PID. Nyeri ini disangka berhubungan
dengan perubahan siklus menstrual, tapi dapat juga sebagai akibat perlengketan
atau hidrosalping. Gangguan fertilitas adalah masalah terbesar pada wanita
dengan riwayat PID. Rerata infertilitas meningkat seiring dengan peningkatan
frekuensi infeksi. Resiko kehamilan ektopik meningkat pada wanita dengan
riwayat PID sebagai akibat kerusakan langsung tuba fallopii (Pernoll, 2001).
III. KESIMPULAN

1. Salpingitis adalah peradangan yang terjadi pada tuba falopii, yang tercakup dalam
istilah Pelvic Inflammatory Disease (PID) yang merujuk pada infeksi traktus
genital bagian atas.
2. Etiologi yang seing menyebabkan salpingitis adalah infeksi asenden dari
Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae. Selain itu faktor lain juga
berpengaruh, antara lain : a) orang dengan partner seksual lebih dari satu (multiple
sexual partner); b) Riwayat penggunaan IUD; c) Daerah dengan angka prevalensi
penyakit menular seksual tinggi; d) Riwayat PID akut sebelumnya.
3. Gejala salpingitis ini antara lain nyeri perut bagian bawah, Perdarahan
pervaginam di antara waktu menstruasi, keputihan, gejala penyerta seperti,
demam/menggigil, anoreksia, nausea, vomitus, disuria, poliuria, Menstruasi
meningkat jumlah dan lamanya
4. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis salpingitis
adalah dengan pemeriksaan transvaginal sonografi terdapat penebalan tuba karena
terisi cairan
5. Pengobatan yang dilakukan antara lain pemberian antibiotik, dan perawatan lain
yang diperlukan seperti pemberia analgesik, istirahat, mandi teratur, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Anwar, M., Baziad, A., & Prabowo, P. R. 2011. Ilmu Kandungan Edisi Ketiga.
Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Berek, Jonathan S. 2007. Pelvic Inflammatory Disease dalam Berek & Novak’s
Gynekology 14th Edition. California : Lippincott William & Wilkins.

CDC. 2010. Sexually Transmitted Diseases Treatment Guidelines. CDC, 63-67.

Cunningham, F Gary dkk.2005. Obstetri Williams edisi 21. ECG:Jakarta.

Dutta, D. C. 2014. DC Dutta's Textbook of Gynecology. New Delhi: Jaypee Brothers


Medical Publishers.

Fielding, J. R., Brown, D. L., & Thurmond, A. S. 2011. Gynecologic Imaging: Expert
Radiology Series. Elsevier Saunders.

Nucci, M. R., & Oliva, E. 2009. Gynecologic Pathology. Elsevier

Pernoll, Martin L. 2001. Pelvic Inflammatory Disease dalam Benson & Pernoll’s
handbook of Obstetric and Gynecology 10th edition. USA : McGrawhill
Companies.

Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.