Anda di halaman 1dari 23

PEDOMAN KESELAMATAN PASIEN

DI RUMAH SAKIT BUMI WARAS


BANDAR LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2010
KATA PENGANTAR

Rumah Sakit merupakan institusi pelayanan yang sangat kompleks, padat profesi, padat
modal dan padat masalah. Dengan kemajuan IPTEK Kedokteran dan makin tingginya tingkat
pendidikan masyarakat menyebabkan tuntutan terhadap keberhasilan upaya keselamatan
kesehatan makin tinggi untuk mengantisipasi kepadatan masalah tersebut dengan peningkatan
dan perbaikan mutu layanan.

Namun layanan yang bermutu tersebut tidak menjamin terhindarnya Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) yang tidak jarang berakhir dengan tindakan hukum. Oleh karena itu perlu
program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena KTD sebagian dapat merupakan
kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat di cegah melalui rencana pelayanan
yang komprehensif dengan melibatkan pasien berdasarkan haknya. Program tersebut yang
kemudian dengan istilah program keselamatan pasien (Pasien Safety Program).

Dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien RS. Bumi waras menyusun Pedoman
Keselamatan Pasien Rumah Sakit dengan harapan kepercayaan masyarakat terhadap
pelayanan RS. Bumi waras dapat meningkat sekaligus memperkecil sengketa medis, tuntutan
dan proses hukum.

Akhirnya kepada semua pihak yang berkepentingan kiranya dapat mempergunakan pedoman
ini sebagai acuan dalam melaksanakan Program Keselamatan Pasien di RS Bumi waras
Bandar Lampung.

Bandar Lampung, 13 Maret 2010


Direktur Utama
Rumah Sakit Bumi waras

` dr. Kuswandi, Sp. JP


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Dasar Pemikiran

Upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit merupakan suatu proses yang
meliputi program dengan penerapan Quality Assurance, total Quality Manajemen, audit
medis, indikator klinis dan lain-lain, baik aspek struktur proses maupun output. Namun
layanan yang bermutu tersebut tidak menjamin terhindarnya Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD) yang tidak jarang berakhir dengan tindakan hukum. Oleh karena itu
perlu program untuk lebih memperbaiki proses pelayanan, karena KTD sebagian dapat
merupakan kesalahan dalam proses pelayanan yang sebetulnya dapat di cegah melalui
rencana pelayanan yang komprehensif dengan melibatkan pasien berdasarkan haknya.
Program tersebut yang kemudian dengan istilah program keselamatan pasien (Pasien
Safety Program).
Dengan meningkatnya keselamatan pasien rumah sakit diharapkan kepercayaan
masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit dapat meningkat. Selain itu keselamatan
pasien juga dapat mengurangi KTD, yang selain berdampak pada peningkatan biaya
pelayanan juga dapat mengurangi KTD, yang selain berdampak terhadap peningkatan
biaya pelayanan juga dapat menimbulkan konflik antara dokter / petugas kesehatan
pasien, menimbulkan sengketa medis, tuntutan dan proses hukum, tuduhan mal praktek,
Blow Up ke mass media yang akhirnya menimbulkan opini negatif tehadap pelayanan
rumah sakit, selain itu rumah sakit dan dokter berusaha melindungi dirinya dengan
asuransi, pengacara dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya tidak ada pihak yang menang,
bahkan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.

1.2. Pengertian
Keselamatan pasien (Patien Safety) rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman. Sistem tersebut meliputi assessmen resiko,
identifikasi dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan
analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lajutnya, serta
implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya resiko.
1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum


Diharapkan dapat mencegah terjadinya cidera yang disebabkan kesalahan akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak melakukan tindakan yang seharusnya
dilakukan.

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
2. Meningkatnya akutanbilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
3. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di rumah sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan Kejadian Tidak diharapkan (KTD).
BAB II
STANDAR KESELAMATAN PASIEN RUMAH SAKIT

Mengingat pelaksanaan keselamatan pasien di RS. Bumi Waras merupakan masalah yang
perlu di tangani segera di RS. Bumi Waras yang merupakan acuan bagi RS. Bumi Waras
untuk melaksanakan kegiatan KPRS (Keselamatan Pasien Rumah Sakit).
Adapun standar keselamatan pasien terdiri dari 7 (tujuh) standar yaitu :
1. Hak pasien
2. Mendidik pasien dan keluarganya
3. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan
4. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien.

Standar 1.Hak Pasien

Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang


rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD).

Kriteria :
1.1. Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan;
1.2. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan;
1.3. Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan pelayanan secara
jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil
pelayanan, pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan
terjadinya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD);
Standar 2.Mendidik Pasien dan Keluarga

Rumah Sakit harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan
tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.

Kriteria :
Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan keterlibatan pasien
yang merupakan partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di rumah sakit harus
ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban
dan tangung jawab pasien dalam asuhan pasien.
Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat :
1. Memberikan informasi yang benar, jelas, lengkap dan jujur;
2. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga;
3. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti;
4. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan;
5. Mematuhi intruksi dan menghormati peratuan rumah sakit;
6. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa;
7. Memenuhi kewajiban financial yang disepakati.

Standar 3.Keselamatan Pasien dan Kesinambungan Pelayanan

Rumah sakit menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar


tenaga dan antar unit pelayanan.
Kriteria :
3.1. Terdapat koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saat pasien
masuk, pemeriksaan, diagnosis, perencanaan pelayanan, tindakan
pengobatan, rujukan dan saat pasien keluar dari rumah sakit;
3.2. Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaiakan dengan kebutuhan pasien
dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan sehingga pada seluruh
tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan dengan baik dan
lancar;
3.3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi
untuk memfasilitasi dukungan keluarga, pelayanan, keperawatan, pelayanan
sosial, konsultasi dan rujukan, pelayanan kesehatan primer dan tidak lanjut
lainnya;
3.4. Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga
dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan, aman dan efektif.
Standar 4.Penggunaan Metoda-metoda Peningkatan Kinerja Untuk
Melakukan Evaluasi dan Program Peningkatan Keselamatan Pasien.

Rumah Sakit harus mendesign proses baru atau memperbaiki proses yang ada,
memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data, menganalisis
secara intensif Kejadian Tidak Diharapkan (KTD), dan melakukan perubahan
untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien.

Kriteria :
Setiap Rumah Sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik, mengacu pada
Visi, Misi dan Tujuan Rumah Sakit, kebutuhan pasien, petugas pelayanan kesehatan, kaidah
klinis terkini, praktik bisnis yang sehat, dan faktor-faktor lain yang berpotensi resiko bagi
pasien sesuai dengan 7 (tujuh) langkah menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KPRS);
Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait
dengan : pelaporan insiden, akreditasi, manajemen info, utilisasi, mutu pelayanan, keuangan.
Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan semua Kejadian Tidak
Diharapkan (KTD), dan secara pro aktif melakukan evaluasi satu proses kasus resiko tinggi;
Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis untuk
menentukan perubahan sistem yang diperlukan, agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin.

Standar 5.Peran Kepemimpinan dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien

1. Pemimpin mendorong dan menjamin implementasi program keselamatan


pasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “7 (tujuh)
langkah menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit”;
2. Pimpinan menjamin berlangsungnya program produktif untuk identifikasi
resiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD);
3. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antara
unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang
keselamatan pasien,
4. pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, dan meningkatkan kinerja rumah sakit serta meningkatkan
keselamatan pasien;
5. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam
meningkatkan kinerja rumah sakit dan keselamatan pasien

Kriteria :
Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien;
Tersedia program proaktif untuk identifikasi resiko keselamatan dan program
meminimalkan insiden, yang mencakup jenis-jenis kejadian yang
memerlukan perhatian, mulai dari “Kejadian nyaris Cidera” (Near Miss)
sampai dengan kejadian tidak diharapkan (Adverse event);
Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari rumah
sakit terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien;
Tersedia prosedur “cepat tanggap” terhadap insiden, termasuk asuhan kepada
pasien yang terkena musibah, membatasi resiko pada orang lain dan
penyampaian informasi yang benar untuk keperluan analisis.
Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan insiden
termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelas tentang analis akar
masalah (Root Causa Analisis), Kejadian Nyaris Kerja (Near Miss) dan
kejadian sentinel (KS) pada saat program keselamatan pasien mulai
dilaksanakan;
Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden, misalnya menangani
kejadian “Kejadian Sentinel” (Sentinel Event) atau kegiatan proaktif untuk
memperkecil resiko, termasuk mekanisme untuk mendukung staf dalam
kaitan dengan kejadian sentinel;
Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar
pengelola pelayanan didalam rumah sakit dengan pendekatan antara disiplin;
Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan
perbaikan kinerja rumah sakit dan perbaikan keselamatan pasien, termasuk
evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut;
Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria
objektif untuk mengevaluasi efektivitas kinerja rumah sakit dan keselamat
pasien,termasuk rencana tindak lanjut dan implementasinya.
Standar 6.Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien

1. Rumah sakit memiliki proses pendidikan, pelatihan dan orientasi untuk


setiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatan pasien
secara jelas.
2. Rumah sakit menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan yang
berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompentesi staf serta
mendukung pendekatan interdisiplin dalam penyelamatan pasien.

Kriteria :
6.1 Setiap rumah sakit harus memiliki program pendidikan, pelatihan dan
orientasi bagi staf baru yang memuat topik keselamatan pasien sesuai
dengan tugasnya masing-masing;
6.2 Setiap rumah sakit harus mengintegrasikan topik keselamatan dalam setiap
kegiatan inservice training dan memberi pedoman yang jelas tentang
insiden;
6.3 Setiap rumah sakit harus menyelenggarakan pelatihan tentang kerja sama
kelompok ( time work ) guna mendukung pendekatan interdisiplin dan
kolaboratif dalam rangka melayani pasien.

Standar 7. Komunikasi Merupakan Kunci bagi Staf Untuk Mencapai


Keselamatan Pasien

a. Rumah sakit merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi


keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan
eksternal
b. Transmisi data dan informasi harus tepat waktu dan akurat

Kriteria :
Perlu disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal yang
terkait dengan keselamatan pasien;
Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk merevisi
manajemen informasi yang ada.

BAB III

TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN


DI RUMAH SAKIT

3.1. LANGKAH PERTAMA

Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien dengan menciptakan


kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil di RS. Bumi Waras.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi Waras :


- Membuat kebijakan yang menjabarkan apa yang harus dilakukan staf segera
setelah terjadi insiden, bagaimana langkah-langkah pengumpulan fakta harus
dilakukan dengan dukungan apa yang harus diberikan kepada staf, pasien dan
keluarga;
- Membuat kebijakan yang menjabarkan peran dan akuntabilitas individual bila
mana ada insiden;
- Menciptakan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang terjadi di RS.
Bumi Waras;
- Menyusun asesmen dengan mengunakan survei penilaian keselamatan pasien.

b. Bagi Tim KPRS :


- Membangun kepedulian dan keberanian lapor bila ada insiden;
- Mensosialisasika ukuran-ukuran atau asesmen di RS. Bumi Waras yang
memastikan semua laporan dibuat secara terbuka dan terjadi proses
pembelajaran serta pelaksanaan tindakan / solusi yang tepat.

3.2. LANGKAH KEDUA

Membangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang keselamatan pasien di RS.
Bumi Waras.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi Waras :


- Membentuk Tim KPRS dimana Manajemen atau Pimpinan RS. Bumi Waras
bertanggung jawab terhadap keselamatan pasien dengan melibatkan orang-orang
disetiap bagian yang dapat diandalkan menjadi “penggerak” dalam Gerakan
Keselamatan Pasien (GKP);
- Memprioritaskan keselamatan pasien dalam agenda Rapat Pimpinan atau Rapat
Manajemen RS. Bumi Waras;
- Menyusun program diklat atau pelatihan staf rumah sakit mengenai KPRS.

b. Bagi Tim KPRS :


- Menyusun Tim yang mampu menjadi penggerak Gerakan Keselamatan Pasien
(GKP);
- Sosialisasi kepada Tim tentang relevansi dan pentingnya serta manfaat bagi
anggota dengan menjalankan GKP;
- Menumbuhkan budaya menghargai pelaporan insiden.
3.3. LANGKAH KETIGA

Mengintegrasikan aktifitas pengelolaan resiko dengan menyumbangkan sistem dan


proses pengelolaan resiko serta melakukan identifikasi dan asesmen hal yang potensial
bermasalah di RS. Bumi Waras.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi Waras :


- Menelaah kembali struktur dan proses yang ada dalam manajemen resiko klinis
dan non klinis, serta pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi dengan
keselamatan pasien dan staf;
- Mengembangkan indikator-indikator kinerja bagi sistem pengelolaan resiko
yang dapat dimonitor oleh Direksi atau Pimpinan RS. Bumi Waras;
- Megembangkan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem
pelaporan insiden dan asesmen resiko untuk dapat secara pro aktif
meningkatkan kepedulian terhadap pasien.

b. Bagi Tim KPRS :


- Mendiskusikan isu-isu keselamatan pasien dalam forum-forum di RS. Bumi
Waras guna memberikan umpan balik terhadap Manajemen terkait;
- Menyusun penilaian resiko pada individu pasien dalam proses asesmen resiko
rumah sakit;
- Melakukan proses asesmen resiko secara teratur, untuk menentukan
akseptabilitas setiap resiko, dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk
memperkecil resiko, yang mana penilaian resiko tersebut sebagai masukan
keproses asesmen dan pencatatan resiko rumah sakit.

3.4. LANGKAH KEEMPAT

Mengembangkan sistem pelaporan dengan memastikan staf RS. Bumi Waras agar
dengan mudah dapat melaporkan kejadian / insiden, serta rumah sakit mengatur
pelaporan kepada Tim Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi waras :


- Melengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden ke dalam maupun
ke luar yang harus di laporkan ke KPPRS – PERSI;

b. Bagi Tim KPRS :


- Menciptakan budaya segera lapor secara aktif setiap insiden yang terjadi tetapi
tetap terjadi juga, untuk pembelajaran dimasa yang akan datang.

3.5. LANGKAH KELIMA

Mengembangkan cara-cara berkomunikasi yang terbuka dengan pasien.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi waras :


- Membuat kebijakan yang menjabarkan cara-cara komunikasi terbuka tentang
insiden dengan para pasien dan keluarganya;
- Membuat Prosedur Tetap atau alur komunikasi kepada pasien dan keluarga
sehingga mereka mendapat informasi yang jelas dan benar apabila terjadi
insiden;
- Membina staf agar selalu terbuka pada pasien dan keluarganya dengan
memberikan pelatihan, dukungan, dan dorongan semangat.

b. Bagi Tim KPRS :


- Menyusun Prosedur Tetap pemberian informasi kepada pasien dan keluarganya
bila terjadi insiden;

3.6. LANGKAH KEENAM

Mendorong staf RS. Bumi Waras untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar
bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi Waras :


- Mengembangkan kebijakan yang menggambarkan dengan jelas pelaksanaan
analis akar masalah (Root Cause Analysis/ RCA) atau Failure Modus and
Effects Analysis (FMEA) atau Metoda analis lain, yang harus mencakup semua
insiden yang telah terjadi dan minimum satu kali per tahun untuk proses resiko
tinggi;
- Mengadakan diklat atau pelatihan kepada staf (Tim KPRS) sehingga mampu
melakukan kajian insiden secara tepat yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi penyebab.

b. Bagi Tim KPRS :


- Menyusun Prosedur Tetap identifikasi dan analisis insiden dalam Tim KPRS.

3.7. LANGKAH KETUJUH

Mencegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien dengan


menggunakan informasi yang ada tentang kejadian / masalah untuk melakukan
perubahan pada sistem pelayanan di RS. Bumi Waras.

Langkah Penerapan :

a. Bagi RS. Bumi Waras :


- Menyusun prosedur sistem pelaporan asesmen resiko, kajian insiden, dan audit
serta analis, untuk menentukan solusi setempat yang mencakup penjabaran
ulang sistem (Struktur dan Proses), penyesuaian pelatihan staf dan / atau
kegiatan klinis, termasuk penggunaan instrumen yang menjamin keselamatan
pasien;
- Menyusun asesmen resiko untuk setiap perubahan yang direncanakan;
- Menyusun Prosedur Tetap sosialisasi solusi yang dikembangkan KKPRS –
PERSI;
- Menyusun Prosedur Tetap umpan balik pelaporan atas insiden yang dilaporkan
staf.

c.Bagi Tim KPRS :


- Mengembangkan metode untuk membuat asuhan pasien lebih baik dan lebih
aman;
- Menyusun Program Evaluasi atau telaah atau tindak lanjut tentang insiden yang
dilaporkan kepada seluruh anggota Tim.

BAB IV

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
1. Membentuk Tim KPRS dengan susunan organisasi sebagai berikut :
Ketua : Dokter Spesialis
Sekretaris : Sarjana Hukum
Anggota : - Dokter Bedah Umum
- Dokter Bedah Tulang
- Dokter Spesialis Kebidanan
- Dokter Spesialis Anastesi
- Dokter Spesialis Penyakit Dalam
- Dokter Gigi
- Perawat Gawat Darurat
- Tenaga Kefarmasian
- Tenaga Laboratorium
- Tenaga Radiologi.

2. Mengembangkan sistem informasi Pencatatan dan Pelaporan (PPL) internal tentang


insiden.
3. Menyusun prosedur pelaporan insiden ke KKPRS – PERSI secara rahasia.
4. Menyusun standar keselamatan pasien dan menerapkan tujuh langkah menuju KPRS.

BAB V

PENCATATAN DAN PELAPORAN


DI RUMAH SAKIT BUMI WARAS BANDAR LAMPUNG
1. Menyediakan formulir untuk diisi dengan kejadian yang terkait dengan keselamatan
pasien baik kejadian nyaris cidera, KTD atau kejadian sentinel;
2. Membuat alur pelaporan semua kejadian yang terkait dengan keselamatan pasien
Kejadian Nyaris Cidera (KNC), KTD atau KS (Kejadian Sentinel) kepada Tim KPRS;
3. Tim KPRS melakukan analisis akar penyebab masalah semua kejadian yang dilaporkan
oleh unit kerja kemudian merekomendasikan solusi pemecahan dan mengirimkan hasil
solusi pemecahan masalah kepada Pimpinan Rumah Sakit;
4. Pimpinan Rumah Sakit melaporkan insiden dan hasil solusi masalah ke KPPRS – PERSI
setiap terjadinya insiden.

BAB VI

MONITORING DAN EVALUASI


DI RUMAH SAKIT BUMI WARAS BANDAR LAMPUNG
Pimpinan RS. Bumi Waras melakukan monitoring dan evaluasi pada unit-unit kerja di RS.
Bumi Waras terkait dengan pelaksanaan keselamatan pasien di unit kerja.

BAB VII

PENUTUP

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan di RS. Bumi Waras,
maka pelaksanaan kegiatan keselamatan pasien rumah sakit sangatlah penting. Melalui
kegiatan ini diharapkan terjadi penekanan/penurunan insiden sehingga dapat lebih
meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap RS. Bumi Waras. Program keselamatan
pasien merupakan nerver ending process, karena itu diperlukan budaya termasuk motivasi
yang cukup tinggi untuk bersedia melaksanakan program keselamatan pasien secara
berkesinambungan dan berkelanjutan.

Bandar Lampung, 13 Maret 2010


Direktur Utama
Rumah Sakit Bumi Waras

dr. Kuswandi, Sp. JP


Lampiran : GLOSARIUM KKP-RS PERSI

No Istilah Definisi / Penjelasan


1 Keselamatan Pasien Rumah Suatu sistem dimana rumah sakit membuat
Sakit (Patient safety) asuhan pasien lebih aman. Hal ini termasuk:
asesmen risiko; identifikasi dan pengelolaan hal
yang berhubungan dengan risiko pasien;
pelaporan dan analisis insiden; kemampuan
belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implementasi solusi untuk meminimalkan
timbulnya resiko. Sistem ini mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh
kesalahan suatu tindakan atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil
2 Kejadian Tidak Diharapkan Suatu kejadian yang tidak diharapkan yang
(KTD) (Adverse event) mengakibatkan cedera pasien akibat
melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil,
dan bukan karena penyakit dasarnya atau kondisi
pasien. Cidera dapat diakibatkan oleh kesalahan
medis atau bukan kesalahan medis karena tidak
dapat dicegah
3 KTD yang tidak dapat dicegah Suatu KTD akibat komplikasi yang tidak dapat
(Unpreventable adverse event) dicegah dengan pengetahuan yang mutakhir
4 Kejadian Nyaris Cedera (KNC) Suatu kesalahan akibat melaksanakan suatu
(Near miss) tindakan (commission) atau tidak mengambil
tindakan yang seharusnya diambil (omission),
yang dapat menciderai pasien, tetapi cedera
serius tidak terjadi, karena “keberuntungan”
(misal pasien terima suatu obat kontra indikasi
tetapi tidak timbul reaksi obat), karena
“pencegahan” (suatu obat dengan overdosis
lethal akan diberikan, tetapi staff mengetahui
dan membatalkannya sebelum obat diberikan),
atau “peringanan” (suatu obat dengan overdosis
lethal diberikan diketahui secara dini lalu
diberikan antidotenya)
5 Kesalahan Medis (Medical Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan
Errors) medis yang mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien. Kesalahan
termasuk gagal melaksanakan sepenuhnya suatu
rencana atau menggunakan rencana yang salah
untuk mencapai tujuannya. Dapat akibat
melaksanakan suatu tindakan (Commission) atau
tidak mengambil tindakan yang seharusnya
diambil (omission)
6 Insiden Keselamatan Pasien Setiap kejadian yang tidak disengaja dan tidak
(Patient Safety Incident) diharapkan, yang dapat mengakibatkan atau
berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien
7 Pelaporan Insiden Keselamatan Suatu sistem untuk mendokumentasikan insiden
Pasien Rumah Sakit yang tidak disengaja dan tidak diharapkan, yang
dapat mengakibatkan atau berpotensi
mengakibatkan cedera pada pasien.
Sistem ini juga mendokumentasikan kejadian
kejadian yang tidak konsisten dengan
operasional rutin rumah sakit atau asuhan
pasien.
8 Analisis Akar Masalah ( Root Suatu proses terstruktur untuk mengidentifikasi
Cause Analysis) faktor penyebab atau faktor yang berpengaruh
terhadap terjadinya penyimpangan kinerja,
termasuk KTD
9 Manajemen Risiko ( Risk Dalam hubungannya dengan operasional rumah
Management) sakit, istilah manajemen risiko dikaitkan kepada
aktifitas perlindungan diri yang berarti
mencegah ancaman yang nyata atau berpotensi
nyata terhadap kerugian keuangan akibat
kecelakaan, cedera atau malpraktik medis.
10 Kejadian Sentinel (Sentinel Suatu KTD yang mengakibatkan atau cedera
Event) yang serius, biasanya dipakai untuk kejadian
yang sangat tidak diharapkan atau tidak dapat
diterima seperti: operasi pada bagian tubuh yang
salah.
Pemilihan kata “sentinel” terkait dengan
keseriusan cedera yang terjadi (misalnya
amputasi pada kaki yang salah, dsb) sehingga
pencarian fakta terhadap kejadian ini
mengungkapkan adanya masalah yang serius
pada kebijakan dan prosedur yang berlaku.

Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit


PERSI

(logo PERSI)

LAPORAN INSIDEN
(Incident Report)

Laporan ini hanya dibuat jika timbul kejadian yang mengyakut pasien. Laporan ini bersifat
anonim, tidak mencantumkan nama, hanya diperlukan rincian kejadian. Segera kirimkan
laporan ini langsung ke Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS) PERSI.

1. Data Pasien :
Umur : .............. Tahun Jenis Kelamin : Laki- Laki Perempuan
Berat Badan : ........Kg

2. Data Rumah Sakit :


Jenis Rumah Sakit Umum Khusus Pemerintah Swasta Lain-lain
Kapasitas : ............... tempat tidur
Lokasi Rumah Sakit di Propinsi :.............................................................................

3. Jenis Kejadian :
Kejadian Tidak Diharapkan (Adverse Event)
Kejadian ”Nyaris Cedera ” (Near miss)
Akibat Penggunaan Alat (Misalnya : alat rusak atau tidak berfungsi)
Akibat Pemberian Obat
Lain – lain

4. Tanggal dan Waktu Kejadian


Tanggal : ………………………….Waktu…………………(Gunakan pola waktu 24 jam)

5. Kejadian menyangkut :
Pasien Rawat Inap Pasien Rawat Jalan Pasien UGD

6. Tempat Kejadian :
Unit Kerja/Departemen : ................................... Lokasi Kejadian.............................

7. Akibat Kejadian Terhadap pasien :


Kematian
Membahayakan Jiwa (Lie Threatening)
Perlu Perawatan di Rumah Sakit
Perpanjangan Perawatan
Timbul Cedera
Timbul Kecacatan (Permanent disability)
Memerlukan Tindakan/Intervensi untuk mencegah kecacatan
Lain – lain

8. Orang Pertama yang melaporkan kejadian


Petugas Kesehatan (Dokter/Perawat/Petugas lain
Pasien
Keluarga/Penunggu Pasien
Pengunjung Rumah Sakit
Lain –lain
9. Kronologi Kejadian :
a. ..................................................................................................................
b. ..................................................................................................................
c. ..................................................................................................................
dst.

10. Tindakan yang dilakukan segera setelah kejadian, dan hasilnya:


a. ..................................................................................................................
b. ..................................................................................................................
c. ..................................................................................................................
dst.
Tindakan Dilakukan Oleh : ............................Dokter/Dokter Ahli/Perawat/Lainnya

11. Faktor – faktor yang berpengaruh (Aspek sistem/staf/pasien apa yang ada sebelum
timbul kejadian?)
a. ..................................................................................................................
b. ..................................................................................................................
c. ..................................................................................................................

12. Kemungkinan Tindakan Pencegahan


(Pemikiran tentang kemungkinan pencegahan yang dapat diambil)
a. ..................................................................................................................
b. ..................................................................................................................
c. ..................................................................................................................

13. Riwayat Penyakit :


..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................

14. Catatan Petugas yang bertanggung jawab di lokasi pada saat kejadian
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................

15. Catatan Kepala Unit Kerja


(Pastikan laporan ini diisi dengan lengkap. Catat langkah apa yang telah diambil untuk
mencegah terulangnya kejadian)
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................

16. a. Apakah kejadian ini pernah terjadi di unit kerja yang sama ?
Ya Tidak
Apabila ya, isilah yang dibawah ini
Unit Kerja yang sama yang pernah mengalami kejadian sama (langkah apa yang telah
diambil untuk mencegah terulangnya kejadian )
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................

16. b. Apakah kejadian ini pernah terjadi di unit kerja yang lain ?
Ya Tidak

Apabila ya, isilah yang dibawah ini


Unit Kerja yang sama yang pernah mengalami kejadian sama (langkah apa yang telah
diambil untuk mencegah terulangnya kejadian )
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................
..................................................................................................................................

17. Kemungkinan Penyebab : Obat


a. Nama Obat ...............................................................................................................
.......................................................................................................................................
b Dosis ..........................................................................................................................
c. Cara Pemberian .........................................................................................................
d. Indikasi .....................................................................................................................
e. Saat Pemberian .........................................................................................................
f. Gejala yang tak diharapkan berhenti setelah pemberian obat dihentikan :
Ya Tidak

18. Kemungkinan Penyebab : Alat Kesehatan


a. Nama Alat ...............................................................................................................
b Tipe/Model dan Tahun/Batch No ...................................................................................
c. Nama Pabrik yang memproduksi .............................................................................
d. Yang mengoperasikan alat:
Petugas kesehatan
Pasien sendiri
Lain lain
e. Apakah alat masih tersedia untuk di evaluasi ?
Ya Tidak Dikembalikan ke Pabrik

19 Tanggal Pengiriman laporan Kejadian / Insiden report ke KKP-RS


.......................................................................................................................
Kirimkan segera laporan ini dalam amplop tertutup dan lewat POS atau KURIR ke alamat :
Ketua KKP-RS d/a Kantor PERSI : jl Bolevard Artha Gading blok A-7 A No 28, Kelapa
Gading Jakarta Utara 14240 - telp (021) 458. 453. 03 / 04.