Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) yang
dinyatakan di dalam resolusi PBB 70/1 yang berjudul “Transforming Our World: The 2030
Agenda For Sustainable Development”, merupakan rencana aksi global untuk melindungi
dan membangun bumi dan seluruh manusia didalamnya bersamaan dengan pembangunan
kesejahteraan dan perdamaian bagi semua pada tahun 2030. SDG berupaya menyelesaikan
misi MDG, sekaligus memetakan agenda ke depan yang lebih luas. Tujuan Bekelanjutan 2
(SDG 2) bertujuan mencari solusi berkelanjutan untuk mengakhiri kelaparan dan segala
bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan pangan. Pemerintah Indonesia
sangat berkomitmen terhadap Agenda 2030 dan telah mengintegrasikan ke dalam Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.1
World Health Organization (WHO) pada tahun 2002 melaporkan bahwa 54%
kematian balita di seluruh dunia disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh gizi
kurang dan gizi buruk.2 Angka ini belum banyak berubah pada data WHO tahun 2011, yang
melaporkan bahwa 45% kematian balita di seluruh dunia terkait dengan malnutrisi. 3 Data
WHO memperlihatkan bahwa penurunan berat badan mulai terjadi pada usia 4-6 bulan yang
dikenal sebagai periode penyapihan. Hal ini juga diperkuat dengan temuan bahwa dua per
tiga balita yang meninggal tersebut mempunyai pola makan bayi yang salah antara lain tidak
mendapatkan air susu ibu (ASI) eksklusif serta mendapat makanan pendamping ASI (MPASI)
yang terlalu dini atau terlambat disertai komposisi zat gizi yang tidak lengkap, tidak
seimbang dan tidak higienis.4
Kementerian Kesehatan (2018) menunjukkan prevalensi status gizi balita berdasarkan
berat badan per umur pada tahun 2017 di Indonesia, sebanyak 3,8% balita mempunyai status
gizi buruk dan 14% balita mempunyai status gizi kurang. Sedangkan status gizi balita umur
0-59 bulan berdasarkan indeks berat badan per umur tahun 2017 di Jawa Timur didapatkan
gizi buruk sebanyak 2,9% balita, gizi kurang sebanyak 12,6% balita, gizi baik 82,3% balita
dan gizi lebih sebanyak 2,2% balita.5 Untuk mencapai sasaran pembangunan kesehatan pada
RPJMN 2015-2019, prevalensi gizi kurang pada anak balita tahun 2013 sebanyak 19,6% dan
ditargetkan pada tahun 2019 turun menjadi 17%.6
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita penting untuk dikaji. Dengan
mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi maka kita dapat mengambil langkah

1
2

tepat dalam upaya perbaikan gizi masyarakat yang diharapkan dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dan menciptakan SDM yang berkualitas. Gizi kurang dan gizi buruk
pada balita berakibat terganggunya pertumbuhan jasmani dan kesehatan. Secara tidak
langsung gizi kurang dan gizi buruk dapat menyebabkan anak balita mengalami defisiensi zat
gizi yang dapat berakibat panjang, yaitu berkaitan dengan kesehatan anak, pertumbuhan anak,
penyakit infeksi dan kecerdasan anak seperti halnya karena serangan penyakit tertentu.
Apabila hal ini dibiarkan tentunya balita sulit sekali berkembang. Balita termasuk dalam
kelompok rentan gizi, dimana pada umur 0 – 4 tahun merupakan saat pertumbuhan bayi yang
relatif cepat. Dan pada masa ini merupakan masa pertumbuhan besar yang akan
mempengaruhi dan menentukan perkembangan anak selanjutnya.7
Terdapat 4 masalah utama kurang gizi di Indonesia yaitu KEP (Kekurangan Energi
Protein), Anemia defisiensi zat besi, Kurang Vitamin A dan Gangguan akibat kurang yodium.
Salah satu dampak paling fatal dari Kurang Energi Protein pada balita adalah kematian.
Karena kekurangan kalori dan protein berkorelasi positif dengan angka kematian bayi.8
Konsumsi makanan balita sangat tergantung dengan orang dewasa di sekitarnya.9
Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita banyak sekali, diantaranya
adalah pendapatan, pengetahuan gizi ibu, akses pelayanan kesehatan, kejadian diare,
pemberian ASI ekslusif, sumber air bersih, pola asuh orang tua, Nutrisi pada masa kehamilan
dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Pendapatan keluarga dapat mempengaruhi pola
konsumsi suatu keluarga. Perolehan pendapatan yang tinggi, maka akan semakin mencukupi
konsumsi makan yang kaya akan asupan gizi. Tetapi sebaliknya, perolehan pendapatan yang
rendah dalam suatu keluarga maka akan semakin rendah pula mengkonsumsi makanan yang
kaya akan gizi bagi keluarganya. Setiap daerah tentunya memiliki penyebab potensi gizi
buruk dan gizi kurang yang berbeda-beda, sehingga penting untuk mengetahui permasalah
utamanya. Pemerintah dalam usahanya memerangi gizi buruk dan gizi kurang sudah cukup
baik. Pemerintah sudah melakukan banyak program untuk menekan angka gizi kurang antara
lain melalui revitalisasi Posyandu dalam meningkatkan cakupan penimbangan balita,
penyuluhan dan pendampingan pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) atau
Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Peningkatan akses dan pelayanan kesehatan,
penanggulangan penyakit menular dan pemberdayaan masyarakat melalui keluarga sadar
gizi, tetapi angka gizi kurang dan gizi buruk masih tetap ada.10
Puskesmas Brondong merupakan salah satu Puskesmas di Kabupaten Lamongan yang
memiliki program dari pemerintah seperti pemberian imunisasi, pemberian makanan
3

tambahan (PMT Penyuluhan dan Pemulihan) dan pemberian vitamin A dapat menjadikan
Puskesmas Brondong memiliki potensi yang baik untuk menekan atau menghilangkan angka
kekurangan gizi. Jumlah balita berdasarkan data puskesmas Brondong tahun 2017 sebanyak
5219 balita dan yang berada di BGM (Bawah Garis Merah) sebanyak 447 balita. Sedangkan
pada tahun 2018 pada bulan Januari hingga Mei, balita yang berada di BGM (Bawah Garis
Merah) sebanyak 120 balita dan yang mengalami gizi buruk sebanyak 6 balita. Berdasarkan
tingginya masalah kekurangan gizi pada balita di Kecamatan Brondong maka peneliti ingin
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi pada balita di Puskesmas Brondong.

1.2 Rumusan Masalah


Apakah ada hubungan antara umur ibu, pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu, tingkat
pengetahuan gizi ibu, jumlah anak, tingkat pendapatan keluarga dan jumlah anggota keluarga
dengan status gizi pada balita di Puskesmas Brondong pada tahun 2018?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi pada
balita di Puskesmas Brondong pada tahun 2018.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui pengaruh umur ibu dan pekerjaan ibu terhadap status gizi balita
di Puskesmas Brondong.
b. Untuk mengetahui pengaruh tingkat pendidikan ibu dan pengetahuan ibu tentang
gizi terhadap status gizi balita di Puskesmas Brondong.
c. Untuk mengetahui pengaruh jumlah anak, jumlah anggota keluarga dan besarnya
pendapatan keluarga terhadap status gizi balita di Puskesmas Brondong.

1.4 Manfaat Penelitian


1) Manfaat bagi puskesmas
Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita sehingga
bisa digunakan sebagai dasar mengambil langkah penyelesaian masalah.
2) Manfaat Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan masyarakat untuk mempersiapkan status
gizi normal pada balita.
4

3) Manfaat bagi peneliti


Untuk menambah pengetahuan bagaimana memperoleh satus gizi balita
normal dengan dasar mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap status
gizi balita dan untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan program
Internsip Dokter Indonesia.