Anda di halaman 1dari 23

# TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.

06
Halaman : 1 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

1. TUJUAN
Menentukan kondisi minimum yang dibutuhkan untuk unload liquid di sumur gas

## 2. METODE DAN PERSYARATAN

2. 1. METODE
1. Alternate flow/ Shut-in
2. Swabbing
3. Small Tubing String
4. Flow Control
5. Injeksi Soap (Sabun)
6. Beam Pump Units
7. Plunger Lift
8. Gas Lift
9. Coiled Tubing/Nitrogen
10. Venting

2. 2. PERSYARATAN

3. LANGKAH KERJA
l. Siapkan data penunjang
• Specifik Gravity gas
• Diameter pipa, d (in)
• Temperatur di dasar sumur, Td (°F)
• Tekanan di kepala sumur, Pwh (psi)
• Ukuran Tubing
2. Untuk air, menggunakan nilai σ = 60 dyne/cm, ρL = 67 lbm/cuft :

5.62(67 − 0.0031 p )1 / 4
ug =
(0.0031 p )1 / 2

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 2 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

Untuk kondensat :
4.02(45 − 0.0031 p )1 / 4
ug =
(0.0031 p)1 / 2
3. Hitung luas area saluran
π
A= d2
4
4. Hitung laju alir minimum
3.06 p u g A
qg =
Tz
5. Pendekatan baru oleh Nosseir, dkk
( ρ L − ρ g ) 0.25
u g ,turbulent = 1.935σ 0.25 0.25
ρg
( ρ g ) sc = 0.00279 ( Pkepala sumur )

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 3 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

4. DAFTAR PUSTAKA
1. Turner, R.G., M.G. Hubbard, and A.E. Dukler. “Analysis and Prediction of Minimum Flow Rate
for the Continuous Removal of Liquids from Gas Wells”, Journal of Petroleum Technology,
p.1475, November 1969.
2. Vitter,A.L.Jr.: ”Back Pressure Test of Gas – Condensate Wells”, API Drilling and Production
Prac. p.79, 1942
3. Lea Jr., J.F, dan Tighe, R.E.: Gas well operation with liquid production”, SPE 11583, 1983.
4. Coleman, S.B., Clay, H.B., McCurdy, D.G., dan Norris III, H.L.: “A new look at predicting gas-
5. Coleman, S.B., Clay, H.B., McCurdy, D.G., dan Norris III, H.L.: “The blowdown-limit model”,
JPT, March 1991.
6. Coleman, S.B., Clay, H.B., McCurdy, D.G., dan Norris III, H.L.: “Understanding gas-well load-up
behavior”, JPT, March 1991.
7. Coleman, S.B., Clay, H.B., McCurdy, D.G., dan Norris III, H.L.: “Applying gas-well load-up
technology”, JPT, March 1991.
8. Putra, S.A. dan Christiansen, R.L.: Design of tubing collar inserts for producing gas wells below
their critical velocity”, SPE 71554, 2001.
9. Nosseir, M.A., Darwich, T.A., Sayyouh, M.H. and El Sallaly, M.: “A new approach for accurate
prediction of loading in gas wells under different flowing conditions”, SPE Prod. & Facilities, Vol
15(4), November 2000.
10. Osman, E-S. A.: Prediction of critical gas flow rate for gas wells uloading”, SPE 78568, 2002.
11. Li, M., Sun, L., and Li, S.: New view on continuous removal liquids from gas wells”, SPE 70016,
2001

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 4 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

5. DAFTAR SIMBOL
A = luas area saluran, ft2
Ap = luas daerah partikel, ft2
CD = koefisien drag
D = diameter butiran (drop), ft
g = gravitational acceleration, ft/sec2
p = tekanan, psia
mp = massa partikel jatuh, lbm
T = flowing temperatur, oR
ρp = densitas partikel, lbm/cuft
ρ = densitas fluida, lbm/cuft
ρL = densitas liquid lbm/cuft
ρg = densitas gas, lbm/cuft
ug = ut = velocity gas , ft/sec
ut = terminal velocity of free falling particle, ft/sec
z = faktor deviasi gas
σ = tegangan permukaan, dyne/cm

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 5 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

6. LAMP I RAN
Adanya fasa cair selama produksi gas telah dikenal sebagai penghalang aliran gas. Suatu sumur gas
mulai ter load up oleh cairan ketika kecepatan fasa gas tidak mampu mentransportasikan fasa liquid
ke permukaan, sehingga liquid mulai terakumulasi di dasar sumur, dan menimbulkan back pressure
ke formasi.

Fasa cair harus ditransportasikan ke permukaan dalam bentuk droplet oleh gas. Aliran biasanya dalam
bentuk mist flow dimana gas sebagai fasa kontinu dan liquid sebagai fasa diskontinu. Liquid loading
atau akumulasi cairan dalam sumur gas terjadi jika fasa gas tidak memiliki cukup energi untuk
mengangkat cairan secara kontinu dari dasar sumur ke permukaan. Akumulasi cairan mengakibatkan
back pressure ke formasi dan menghalangi produksi sumur. Dalam hal sumur memiliki tekanan yang
rendah, cairan bahkan dapat mematikan sumur, dan jika tekanan tinggi maka dapat saja terjadi well
slugging yang akan mempengaruhi hasil pengujian sumur.

- Stage 1 : Pada awal komplesi, sumur gas pada umumnya memiliki kecepatan gas yang cukup
untuk mentransportasikan cairan sampai ke permukaan. Pada stage ini, kecepatan gas
lebih besar atau sama dengan kecepatan gas minimum yang dibutuhkan untuk
memindahkan cairan secara kontinu dari sumur. Hal ini terjadi karena sumur masih
memiliki tekenan reservoir inisial yang tinggi dan laju alir inisial yang tinggi pula.
Gambar (1.a) memperlihatkan droplet liquid yang tersuspensi dalam kecepatan gas
yang tinggi selama ditransportasikan ke permukaan.

- Stage 2 : Seiring dengan berjalannya waktu, tekanan reservoir akan berkurang sehingga
menurunkan laju alir gas. Karena kecepatan gas berkaitan langsung dengan laju alir
gas maka kecepatan gas pun akan menurun. Pertama kecepatan gas turun di bawah
kecepatan gas kritis yang diperlukan untuk mengangkat cairan. Kemudian droplet
cairan yang tersuspensi dalam fasa gas mulai turun dan terakumulasi di dasar sumur.
Fenomena ini akan menghalangi flow area efektif bagi gas dan mengganggu proses
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 6 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

produksi gas. Gambar (1.b) memperlihatkan bahwa cairan mulai terakumulasi di dasar
sumur. Operator sudah seharusnya memperhatikan penurunan produksi gas pada stage
ini.

- Stage 3 : Seperti yang telah dijelaskan diatas, akumulasi cairan di dasar sumur, seakan-akan
membentuk downhole choke, akan menurunkan flow area bagi fasa gas. Karena
kecepatan gas berbanding terbalik dengan flow area, maka kecepatan gas akan
meningkat. Pengurangan flow area ini akan mengakibatkan pressure drop yang lebih
besar melalui kolom akumulasi cairan. Pressure drop tersebut akan terus bertambah
sampai tekanan downstream mendapatkan tekanan yang diperlukan untuk mengangkat
cairan melalui tubing ke permukaan. Gambar (1.c) memperlihatkan slug cairan selama
terbawa ke permukaan.

- Stage 4 : Umumnya sebuah sumur akan mengalami siklus bolak-balik antara stage 2 dan stage 3.
Bagaimanapun, seiring dengan berjalannya waktu, selisih waktu antara slug cairan yang
terproduksi di permukaan akan semakin besar. Hal ini terjadi karena bertambahnya
waktu yang diperlukan tekanan reservoir untuk mendapatkan tekanan yang diperlukan
untuk mendorong slug cairan ke permukaan. Akhirnya, penambahan back pressure
yang semakin mendesak ke formasi oleh akumulasi cairan akan menghalangi energi
reservoir, sehingga sumur akan terload up dan mati seperti yang diperlihatkan pada
Gambar (1.d).

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 7 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

Keempat stage yang dijelaskan diatas adalah tipe sumur gas yang telah mengalami problem liquid
loading. Perbedaan waktu antar stage dapat bervariasi antara sumur yang satu dengan yang lain.
Perbedaan ini terutama disebabkan oleh ukuran diameter tubing, volume liquid yang terproduksi,
specific gravity, permeabilitas formasi, dan bottom hole pressure. Masalah liquid loading akan lebih
sering terjadi pada sumur yang memiliki permeabilitas rendah dan tekanan formasi yang rendah
karena laju alir gas yang rendah muncul dari tipe reservoir seperti ini.

6.1.1 Laju Alir Untuk Pemisahan Liquid Kontinu (Metode Turner et al)
Turner, Hubbard dan Dukler telah menganalisa dua model fisik pemisahan liquid di sumur gas:
1. Pergerakan film liquid sepanjang dinding pipa
2. Butiran liquid yang masuk kedalam core bervelocity gas tinggi.

Kedua model ini akan mendekati kondisi aktual dan ada pertukaran liquid antara core gas dan
film.Perhitungan model dinding film lebih kompleks membutuhkan integrasi numerik. Pergerakan
film ke arah bawah akan secepatnya berubah menjadi butiran.Turner menguji model ini dengan data
lapangan dan menemukan model ini paling bagus. Kondisi minimum yang dibutuhkan untuk unload
liquid di sumur gas adalah dimana butiran liquid terbesar yang berada di arus gas (gas stream) akan
bergerak.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 8 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

sebagai berikut :
2 g m p (ρ p − ρ)
ut = (1)
ρ p ρ Ap C D

dimana :
ut = terminal velocity of free falling particle, ft/sec
g = kecepatan gravitasi, ft/sec2
mp = massa partikel jatuh, lbm
ρp = densitas partikel, lbm/cuft
ρ = densitas fluida, lbm/cuft
Ap = luas daerah partikel, ft2
CD = koefisien drag
Persamaan umum free settling velocity :
D(ρ L − ρ g )
u t = 6.55 (2)
ρg CD

dimana
ρL= densitas liquid lbm/cuft
ρg = densitas gas, lbm/cuft
D = diameter butiran (drop), ft

Dari persamaan 2 terlihat bahwa semakin besar butiran, semakin besar laju alir gas yang
dibutuhkan untuk menghilangkannya. Jika diameter butiran terbesar dapat ditentukan, maka laju
alir gas yang dapat menjamin bahwa pergerakan ke arah atas seluruh butiran dapat pula
ditentukan.

Weber Number (Nwe) yang merupakan perbandingan antara velocity pressure dan surface tension
pressure merupakan suatu ukuran yang menunjukkan kemampuan droplet untuk tetap utuh (tidak

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 9 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

u 2 ρ g /g c u 2 ρg D
N we = atau N we = (3)
σ/D σ gc
Butiran akan hancur jika bilangan Weber melebihi nilai kritik sebesar 20 hingga 30. Maksimum
30 σσ c
Dm = (4)
ρ g ut

## Persamaan di atas dikenal dengan dengan persamaan Hinze

σ 1/ 4(ρ L − ρ g )1/ 4
u t = 17.6 1/ 2
(5)
ρg

dimana :
σ = tegangan permukaan, dyne/cm
CD = 0.44
kira-kira 20 % untuk menghilangkan seluruh butiran.
σ 1/ 4(ρ L − ρ g )1/ 4
u t = 20.4 1/ 2
(6)
ρg

## Volumetrik laju alir gas :

3.06 p u g A
qg = (7)
Tz
dimana :
p = tekanan, psia
ug = ut = velocity gas , ft/sec
A = luas area saluran, ft2
T = flowing temperatur, oR
z = faktor deviasi gas
Untuk kondisi lapangan, persamaan khusus diturunkan untuk air dan kondensat.
Untuk air, menggunakan nilai σ = 60 dyne/cm, ρL = 67 lbm/cuft :

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 10 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

5.62(67 − 0.0031 p )1 / 4
ug = (8)
(0.0031 p )1 / 2
Untuk kondensat :
4.02( 45 − 0.0031 p )1 / 4
ug = (9)
(0.0031 p )1 / 2

## TABEL 1 HARGA PARAMETER CAIRAN YANG SERING DIGUNAKAN

Water : Condensate :
σ = 60 dyne/cm σ = 20 dyne/cm
o o
T = 120 C=580 R T = 120oC=580oR
ρ = 67 lbm/ft3 ρ = 45 lbm/ft3
Gas gravity = 0.6

GAMBAR 2
NOMOGRAPH UNTUK MENGHITUNG LAJU GAS UNTUK MENGANGKAT LIQUID
BERBAGAI UKURAN TUBING

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 11 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

Nosseir, dkk melakukan penelitian di Suez Oil Company dengan membuat pendekatan analitis untuk
menjawab pertanyaan adanya perbedaan penggunaan persamaan Turner awal sementara yang lain
menggunakan persamaan Turner yang telah di-adjusted. Lescarboura mengambil persamaan Turner
dan membuatnya dalam program komputer untuk memperkirakan laju alir kritis untuk menjaga agar
liquid tetap mengalir ke permukaan. Kemudian Coleman,dkk menemukan hasil matching yang baik
antara actual field records dengan perhitungan Turner tanpa perubahan.

Nosseir menemukan bahwa perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh adanya perbedaan flowing
condition antara sumur yang satu dengan sumur yang lain. Misalnya aliran laminer yang
diperkenalkan oleh Stokes (1851) terjadi pada bilangan Reynold kurang dari 1. Sedangkan aliran
transisi yang ditemukan oleh Allen (1900) didapatkan pada range 1 < NR e< 1000. Sementara aliran
Turbulen yang merupakan aliran yang paling umum dijumpai pada aliran gas adalah sekitar 1000 <
NRe < 200000 dimana kofisien drag pada angka ini relatif konstant sebesar 0.44.

Turner mengasumsikan persamaannya (drop model) sebagai aliran turbulen dan selalu berada pada
range 104 < NRe < 2.105. Untuk membuktikan asumsi Turner ini, Nosseir membandingkan dua
statistical survey yaitu data aktual Turner dan Exxon actual data. Tabel 2.b memperlihatkan Reynold
Number dan hasil perhitungan laju alir dengan menggunakan persamaan Turner. Cukup jelas terlihat
2.105 sampai 106 sehingga koefisien drag berharga 0.2 seperti yang diperlihatkan pada Gambar 3.
Sementara itu, Tabel 2.a terlampir memperlihatkan data dari Exxon dengan kebanyakan bilangan
Reynold berada pada range 104 sampai 2.105, sesuai dengan asumsi Turner, sehingga hasil matching
yang didapatkan cukup baik antara data aktual dengan perhitungan Turner tanpa adjusted.

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 12 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## TABEL 2 PERBANDINGAN DATA AKTUAL TERHADAP HASIL PERHITUNGAN

DENGAN PERSAMAAN TURNER

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 13 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

(a) (b)

Dengan menggunakan teori yang sama untuk droplet liquid berbentuk speroidal, Nosseir dkk
membuat dua pendekatan baru, yaitu kecepatan kritis pada aliran transisi yang dimulai dari
persamaan Allen, dan kecepatan kritis pada pola aliran highly turbulent dari hukum Newton, serta
melibatkan persamaan Hinze untuk diameter drop paling besar.

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 14 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## 6.1.3 Persamaan kecepatan kritis untuk aliran transisi

Persamaan Allen untuk aliran transisi adalah sebagai berikut :

 (
ρ − ρg
0.2  g c L
)

0.72
xDL
1.18
ρ 
ut =  g  (10)
0.45
µ 
 ρ 
 g 

1.18
 30 g σ 
 c 
u t = 0.2

 u t ρ g 
2
 (
ρ − ρg
xg c L
 ) 0.72
(11)
0.45 ρ 
µ   g 
 ρ 
 g 

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 15 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

 
 0.72 − 2.36 
 (ρ L − ρ g  σ 1.18
ut
u t = N NS   x x  (12)
 ρg  ρ g 1.18 0.45 
  µ 
 ρ  
  g  

Dimana
NNS = 0.2 (gc)0.72 x (30)1.18 x (gc)1.18
N NS = 0.2(32.2) 0.72 (30)1.18 (32.2)1.18 = 8094.5011
Dengan mengumpulkan ut ke dalam satu ruas, maka persamaan (12) menjadi :

 
 0.72 
 (ρ L − ρ g )  σ 1.18
3.36 
= N NS  
ut
 ρ g  x 0.45 
(13)
 
 ρ g 1.18  µ ρ  
  g  

 
 0.21 
 (ρ L − ρ g )  σ 0 .35
u t = N NS 3.36  
1
 x (14)
 ρ  0.134 
 
  ρ g 0.35  µ ρ 
g

  g  

## 14.6σ 0.35 ( ρ L − ρ g ) 0.21

ut = (15)
µ 0.134 ρ g 0.426

## 6.1.4 Persamaan kecepatan kritis untuk aliran highly turbulent

Persamaan gaya gesek dan gravitasi dengan mensubstitusikan persamaan Hinze adalah sebagai
berikut :
 g ρ − ρ ( )  
0.5 0. 5
 σg 
u t = 1.154 x 30 2 c  
c L g
(16)
 ρ g CD   u ρg  
   t  

Dari gambar 3 diketahui bahwa untuk pola aliran highly turbulent didapatkan harga CD yang relatif
konstan sekitar 0.2.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 16 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## Dengan mensubstitusikan CD = 0.2 maka persamaan 16 di atas menjadi :

(ρ L − ρ g σ 0.5 )
u t = 454.67 (17)
ρ g ut

(ρ L − ρg )
0.25

u t = 21.3σ 0.25
(18)
ρ g 0. 5

Dengan mengkonversi satuan tegangan permukaan dari lbf/ft menjadi dyne/cm, masing-masing
persamaan (15) dan persamaan (18) menjadi :

( ρ L − ρ g ) 0.21
u g ,transisi = 0.508σ 0.35
(19)
µ 0.134 ρ g 0.426

( ρ L − ρ g ) 0.25
u g ,turbulent = 1.935σ 0.25 (20)
ρ g 0.25

6.2.1 Alternate flow/ Shut-in
Metode ini melakukan penutupan sumur dengan waktu tertentu untuk mem-build up sumur dan
kemudian memproduksikannya kembali. Pressure build up dicapai dengan membiarkan gas
memenuhi lubang sumur dan annulus. Ketika intermitter dibuka, sumur akan kembali mengalir
dan gas yang terakumulasi tadi akan mendorong akumulasi liquid ke permukaan. Kemudian
sumur ditutup lagi untuk dibuild up lagi, dan seterusnya.

Dalam metode ini, peralatan yang dipelukan adalah intermitter dan controller. Tidak ada
modifikasi downhole yang dibutuhkan. Jika terdapat packer, hubungan antara production string
dan tubing-casing annulus harus dibuat dengan menarik packer atau memperforasi tubing diatas
packer. Meskipun metode ini cukup berhasil dalam mengangkat cairan ke permukaan, tetapi
metode ini dipandang hanya sebagai solusi sementara. Seiring dengan berjalannya waktu, waktu
yang diperlukan untuk mem-build up sumur akan terus bertambah yang selanjutnya akan
mengurangi pendapatan karena lost production.
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 17 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

6.2.2 Swabbing
penyedot ke bawah permukaan dan mengangkat fluida ke permukaan. Tujuan dari metode ini
hanya mengangkat cairan dari lubang sumur sampai energi reservoir mampu menanggulangi
head hidrostatik yang tersisa sehingga dapat mengalir dengan sendirinya. Waktu yang
dibutuhkan oleh sumur untuk ter-load up dengan liquid bervariasi antara sumur yang satu
dengan sumur yang lain dan pada dasarnya merupakan fungsi dari volume liquid yang
terproduksi, specific gravity, permeabilitas, dan tekanan dasar sumur.

Ketika swabbing dipilih sebagai metode yang tepat untuk memproduksikan liquid, faktor yang
paling penting diperhitungkan adalah frekuensi untuk melakukan penyedotan. Trip penyedotan
rata-rata dapat menarik 1000-1500 ft fluid. Jika dikonversikan untuk tubing berukuran 2 3/8
inch, yaitu sekitar 3-5 barrel. Swabbing merupakan metode yang sangat mahal karena harus
terus diulang setiap kali sumur terload up dan lagi frekuensi melakukan penyedotan akan lebih
besar seiring dengan decline tekanan dasar sumur. Karena alasan tersebut, swabbing dipandang
awal stage liquid loading dimana sumur akan mengalir secara natural untuk periode waktu yang
cukup lama. Metode ini juga dipakai dalam hal dimana sumur terisi dengan killing fluid pada
operasi workover.

## 6.2.3 Beam Pump Units

Saat pompa beam digunakan untuk unload liquid dari sumur gas, liquid dipompa (pumped up)
melalui tubing dan gas diproduksi melalui annulus. Disarankan tubing di tempatkan dekat
dengan perforasi bagian bawah bahkan lebih baik ditempatkan di bawah perforasi. Hal ini
mencegah kerusakan akibat gas di dalam pompa. Jika diverter digunakan, no liquid cushion is
required. Pompa beam tidak tergantung pada velocity gas.Pompa beam murah untuk sumur
dangkal namun untuk sumur dalam dan tekanan yang lebih besar akan sangat mahal. Unit ini
baik untuk laju alir gas yang rendah dan laju produksi liquid lebih besar dari 10 bbl/hari.

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 18 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## 6.2.4 Plunger Lift

Metode yang paling sukses untuk menghilangkan liquid di sumur gas adalah dengan
menggunakan plunger lift. Plunger baja dengan sebuah katup ditempatkan dalam rangkaian
tubing. Pada bagian bawah tubing adalah tempat pembuka dimana gas dan liquid dapat lewat
ke dalam tubing.Ketika plunger di tempatkan pada bagian bawah tubing, tubing ditutup dan
seluruh produksi melalui annulus.

Tekanan casing naik dan energinya tersimpan di dalam annulus untuk menggerakkan plunger
dan liquid di atas plunger hingga ke permukaan. Sebuah katup (motor valve) digunakan untuk
mengontrol siklus laju alir plunger (di atur oleh waktu, time clock).

GAMBAR 3

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 19 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## 6.2.5 Small Tubing String

Tujuan penggunaan rangkain tubing kecil ini adalah mengurangi daerah alir sehingga
meningkatkan velocity gas dan liquid terangkat ke permukaan.Metode ini sukses dalam
mencegah terproduksinya liquid di sumur gas. Pengalaman lapangan yang dilaporkan oleh
Libson dan Henry menunjukkan bahwa velocity minimum 1000 fpm cukup untuk pemisahan
liquid in drop flow.

## 6.2.6 Flow Control

Alat ini mirip dengan katup gas lift dengan time control. Alat ini bekerja dengan prinsip
intermittent gas lift. Alat pengontrol ini tidak akan menyediakan laju produksi yang konsisten
dikarenakan oleh gas slippage dan liquid fallback. Alat kontrol permukaan beroperasi dengan
prinsip membiarkan sumur mengalir hingga laju alir gas kritik terjadi kemudian mematikan
sumur.

## 6.2.7 Soap Injection

Foaming agents merupakan metode yang cukup simpel dan cukup murah dalam unloading
liquid dari sumur gas. Tidak ada modifikasi downhole yang diperlukan dan peralatan
permukaan sangat minim tergantung pada tipe treatment dan stabilitas foam yang digunakan.
Foaming agents menimbulkan busa sebagai emulsi gas dan cairan dimana gelembung-
gelembung gas terpisah satu sama lain oleh liquid film. Tujuan penggunaan foaming agent
adalah untuk menciptakan ikatan molekul antara fasa gas dan fasa cair dan untuk menjaga
stabilitas foam sehingga akumulasi cairan dapat ditransportasikan ke permukaan dalam bentuk
slurry foam.

Foaming agent lebih dipilih untuk diaplikasikan pada sumur gas dengan rate produksi air yang
rendah. Molekul air bersifat polar dan terdapat kekuatan film yang relatif tinggi, sedangkan
kondensat hidrokarbon bersifat non-polar sehingga gaya atraksi antar molekul sangat sedikit.
Namun demikian, foaming agent dapat saja dipakai untuk memproduksikan kondensat dari
sumur gas, tetapi hasilnya foam tidak stabil dan mudah hilang. Jika air dan kondensat ada, maka
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 20 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

kondensat cenderung menjadi emulsi dan foam terbentuk pada fasa air bagian terluar.

Karakteristik fluida dan kondisi aliran sumur sangat mempengaruhi penggunaan foaming
agents. Foaming agents bekerja untuk menurunkan gas slippage dan juga liquid hold up dalam
tubing. Pengujian laboratorium terhadap jenis foaming agents yang akan digunakan dan juga
konsentrasi pencampurannya sangat dibutuhkan untuk memprediksi kinerja injeksi surfactant
terhadap aliran di dalam sumur. Penanganan pada aliran kontinu dilakukan dengan cara
memompakan surfactant ke dalam annulus dan mengisi casing sampai ke kedalaman tubing
Metode ini membutuhkan sistem regulasi pompa yang sangat baik agar memberikan jaminan
surfactant sampai ke kedalaman tubing intake.
Kekurangan dari penggunaaan foaming agent antara lain kurang efektif karena sering gagal
meskipun biayanya relatif lebih murah dibandingkan dengan metode yang lain tergantung dari
jenis foam yang dipakai dan frekuensi pemakaian. Skema dari foam injection dapat dilihat pada
Gambar 3 dan 4.

GAMBAR 4
SISTEM INJEKSI SOAP SUMUR GAS

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 21 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

GAMBAR 5
SISTEM INJEKSI SOAP (GROUND –LEVEL VIEW)

## 6.2.8 Gas Lift

Metode gas lift bisa digunakan secara kontinu maupun intermittent. Tujuan dari metode ini
head hidrostatik diatas titik tersebut dan membuat kecepatan gas mampu mentransportasikan
cairan ke permukaan. Intermittent gas lift telah dibuktikan lebih ekonomis untuk dibandingkan
dengan continuous gas lift untuk mengunload sumur gas yang memproduksikan cairan kurang
dari 50 bpd.

Meskipun gas lift tidak seefisien downhole pump, namun metode ini cukup flexibel, dan dapat
dikombinasikan dengan plunger lift. Banyak instalasi gas lift yang dilengakapi dengan plunger
sebagai interface antara gas dan liquid untuk menguragi liquid fallback.

Seperti halnya downhole pump, mahalnya biaya instalasi dan pengoperasian gas lift, maka
metode ini hanya dipakai jika metode yang lain gagal atau tidak dapat dilakukan, atau dalam
hal equipment gas lift memang sudah tersedia.

## Manajemen Produksi Hulu

TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 22 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## 6.2.9 Coiled Tubing/Nitrogen

Nitrogen yang diinjeksikan melalui coiled tubing terbukti efektif untuk mengunload cairan dari
sumur gas. Metode ini prinsipnya sama dengan gas lift. Penggunaaan nitrogen harus mendapat
perhatian lebih terutama jika tekanan dasar sumur rendah. Tetapi metode ini sangat mahal dan

6.2.10 Venting
Melakukan venting pada sumur ke atmosfer merupakan metode yang bisa dipakai untuk
melakukan unloading. Metode ini cukup murah dan relatif efektif. Kekurangan dari metode
ini biasanya terbentur pada peraturan lingkungan yang melarang venting gas ke atmosfer. Lagi
pula ada produksi yang hilang selama proses venting dilakukan. Biaya yang dikenakan untuk
metode ini sebesar produksi yang hilang
Manajemen Produksi Hulu
TEKNIK PRODUKSI NO : TP.06.06
Halaman : 23 / 23
JUDUL : PENANGGULANGAN
Revisi/Thn : 2/ Juli
MASALAH PRODUKSI 2003

## 6.3 Contoh Perhitungan

Sumur gas diproduksi dengan tekanan kepala sumur 1150 psia dengan ukuran tubing 3-1/2 (ID 2.992).
Temperatur kepala sumur 140 oF dan SG gas 0.7. Hitung laju alir minimum untuk menjaga sumur

## Dengan metode Turner et al :

Dari pers (8)
5.62(67 − 0.0031 (1150))1 / 4
ug = = 8.4 , ft/sec
(0.0031 (1150))1 / 2
P = 1150 psia, T = 140 oF, γ g =0.7 diperoleh z = 0.86

π 2
A= d = 0.7854 ( 2.992 / 12) 2 = 0.0488ft 2
4
3.06 p u g A 3.06 (1150) (8.4) (0.0488)
qg = = = 2.8MMscfd
Tz (600) (0.86)

## Pendekatan baru oleh Nosseir dkk

( ρ L − ρ g ) 0.25
u g ,turbulent = 1.935σ 0.25
0.25
ρg
( ρ g ) sc = 0.00279 ( Pkepala sumur ) = 0.00279(1150) = 3.208

− 3.2085) 0.25
0.25 (67
u g ,turbulent = 1.935 (60) = 11.37 ft/sec
3.2085 0.25
3.06 p u g A 3.06 (1150) (11.37) (0.0488)
qg = = = 3.78 MMscfd
Tz (600) (0.86)

## Manajemen Produksi Hulu

### Dapatkan aplikasi gratis kami

Hak cipta © 2022 Scribd Inc.

### Dapatkan aplikasi gratis kami

Hak cipta © 2022 Scribd Inc.