Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Umat islam dalam perjalanan sejarahnya tidak pernah bebas dari perselisihan antar
sesama yang kadang-kadang memuncak sampai pada level yang sangat
memperihatinkan. Banyak sekali factor-faktor yang memicu kondisi semacam ini.
Selain kepentingan politik dan ekonomi, salah satu faktor yang sangat dominan dan
menghambat terciptanya kesatuan dan persatuan umat Islam dalam suasana ukhuwah
yang mesra adalah sikap tamaththu’ (sok suci, konsekuen), tatharruf (ekstrem) dan
ta’ashshub (fanatik), sebuah sikap yang membuat pemiliknya cenderung
memutlakkan pendapat dan pemahaman sendiri sebagai yang paling benar tanpa
mencoba memahami secara bijak pendapat dan pemahaman orang lain. Sikap ini
bahkan kerapkali melahirkan kegemaran menghakimi dan memvonis orang lain
sebagai sesat dan menyesatkan.

Faktor lain yang justru menjadi pangkal dari sikap ini adalah literatur dan informasi
yang tidak memadai sehingga menimbulkan pemahaman yang tidak utuh.
Tasawuf dan tarikat adalah korban yang paling sering dihujat sesat oleh saudara-
saudara seiman yang didominasi oleh sikap tersebut. Mereka memandang tasawuf
dan tarikat sebagai sarang bid’ah – hal-hal yang baru yang diklaim tidak pernah
diajarkan dalam Islam atau tidak pernah dilakukan dan diperintahkan oleh Rasul
Dalil utama yang sering dikemukakan mereka adalah hadis Nabi saw yang sangat
terkenal dan diriwayatkan oleh banyak imam hadis, “Hindarilah perkara-perkara
yang baru (diada-adakan), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan bid’ah
adalah sesat.”

1.2 Rumusan Masalah

Dalam makalah ini, kami akan merumuskan masalah sebagai berikut :


1. Apakah pengertian tasawuf ?
2. Apakah pengertian tarekat ?
3. Bagaimanakah posisi tarekat dalam islam ?
4. Bagaimana hubungan antara tasawuf dan tarekat ?

1.3 Tujuan
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui :
1. Pengertian tasawuf
2. Pengertian tarekat
3. hubungan tasawuf dan tarekat

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Tasawuf

Kenapa gerakan tasawuf baru muncul paska era Shahabat dan Tabi'in? Kenapa tidak
muncul pada masa Nabi? Jawabnya, saat itu kondisinya tidak membutuhkan tasawuf.
Perilaku umat masih sangat stabil. Sisi akal, jasmani dan ruhani yang menjadi garapan
Islam masih dijalankan secara seimbang. Cara pandang hidupnya jauh dari budaya
pragmatisme, materialisme dan hedonisme.

Tasawuf sebagai nomenklatur sebuah perlawanan terhadap budaya materialisme belum


ada, bahkan tidak dibutuhkan. Karena Nabi, para Shahabat dan para Tabi\'in pada
hakikatnya sudah sufi: sebuah perilaku yang tidak pernah mengagungkan kehidupan
dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Selalu ingat pada Allah Swt sebagai sang Khaliq
Ketika kekuasaan Islam makin meluas. Ketika kehidupan ekonomi dan sosial makin
mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi ruhani. Budaya hedonisme pun menjadi
fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf (sekitar abad 2 Hijriah). Gerakan
yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Konon, menurut pengarang
Kasf adh-Dhunun, orang yang pertama kali dijuluki as-shufi adalah Abu Hasyim as-
Shufi (w. 150 H) .

2.2 Pengertian Tasawuf

Secara bahasa tasawuf diartikan sebagai Sufisme (bahasa arab: ‫ ) تصوف‬adalah ilmu
untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun
dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya
merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam
perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam
Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi
dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang
tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Beberapa sumber perihal etimologi dari kata "Sufi". Pandangan yang umum adalah kata
itu berasal dari Suf (‫)صوف‬, bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana
yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah
atau pakaian dari wol.1 Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari
Sufi adalah Safa (‫)صفا‬, yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada
Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal
dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. Yang lain menyarankan bahwa

1 (Secara etimologi bahwa tasawuf berasal dari kata suf yaitu wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik
muslim(Prof.Dr.M.Solihin M.Ag dan Prof.Dr.Rosihon Anwar, M.Ag,Ilmu Tasawuf), 2014)

2
etimologi dari Sufi berasal dari "Ashab al-Suffa" ("Sahabat Beranda") atau "Ahl al-
Suffa" ("Orang orang beranda"), yang mana adalah sekelompok muslim pada waktu
Nabi Muhammad yang menghabiskan waktu mereka di beranda masjid Nabi,
mendedikasikan waktunya untuk.

Namun dalam perjalananya, tasawuf diperdebatkan asal usul kehadiranya. Sebagian


menyebut tasawuf berasal dari agama islam, sebagian lagi menyatakan bahwa tasawuf
bukan berasal dari islam tetapi dari sinkretisme berbagai ajaran agama samawi maupun
ardi. Beberapa pendapat yang menyatakan tasawuf berasal dari islam diantaranya:
Asal-usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan untuk
bersungguh-sungguh terhadap Allah merupakan aturan di antara para muslim awal,
yang bagi mereka adalah sebuah keadaan yang tak bernama, kemudian menjadi disiplin
tersendiri ketika mayoritas masyarakat mulai menyimpang dan berubah dari keadaan
ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995).

Seorang penulis dari mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha'rani mendefinisikan


Sufisme sebagai berikut: "Jalan para sufi dibangun dari Qur'an dan Sunnah, dan
didasarkan pada cara hidup berdasarkan moral para nabi dan yang tersucikan. Tidak
bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur'an, sunnah,
atau ijma." [11. Sha'rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.]
Beberapa pendapat bahwa tasawuf bukan berasal dari islam diantaranya:
Sufisme berasal dari bahasa Arab suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol pada kaum
asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan).
Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan paham
tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam ajaran Islam (Mr. G.B.J Hiltermann &
Prof.Dr.P.Van De Woestijne). (Sufisme)yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut
sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa
semua yang muncul di dunia ini sebagai sesuatu yang khayali (als idealish verschijnt),
manusia sebagai pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha untuk kembali
bersatu dengan DIA (J. Kramers Jz).

Al Quran pada permulaan Islam diajarkan cukup menuntun kehidupan batin umat
Muslimin yang saat itu terbatas jumlahnya. Lambat laun dengan bertambah luasnya
daerah dan pemeluknya, Islam kemudian menampung perasaan-perasaan dari luar, dari
pemeluk-pemeluk yang sebelum masuk Islam sudah menganut agama-agama yang kuat
ajaran kebatinannya dan telah mengikuti ajaran mistik, keyakinan mencari-cari
hubungan perseorangan dengan ketuhanan dalam berbagai bentuk dan corak yang
ditentukan agama masing-masing. Perasaan mistik yang ada pada kaum Muslim abad 2
Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Islam, semisal
orang India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-orang Persi yang sebelumnya
beragama Zoroaster atau orang Siria yang sebelumnya beragama Masehi) tidak
ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena pada mereka masih terdapat
kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan.

3
Keyakinan dan gerak-gerik (akibat paham mistik) ini makin hari makin luas mendapat
sambutan dari kaum Muslim, meski mendapat tantangan dari ahli-ahli dan guru
agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini yang pada
permulaannya ada yang berasal dari aliran mistik Masehi, Platonisme, Persi dan India
perlahan-lahan mempengaruhi aliran-aliran di daam Islam (Prof.Dr.H.Abubakar Aceh).
Paham tasawuf terbentuk dari dua unsur, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang ada pada
sementara orang Islam sejak awal perkembangan Agama Islam,(2) Adat atau kebiasaan
orang Islam baru yang bersumber dari agama-agama non-Islam dan berbagai paham
mistik. Oleh karenanya paham tasawuf itu bukan ajaran Islam walaupun tidak sedikit
mengandung unsur-unsur Ajaran Islam, dengan kata lain dalam Agama Islam tidak ada
paham Tasawuf walaupun tidak sedikit jumah orang Islam yang menganutnya (MH.
Amien Jaiz, 1980).

Tasawuf dan sufi berasal dari kota Bashrah di negeri Irak. Dan karena suka
mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut
dengan "Sufi". Soal hakikat Tasawuf, ia itu bukanlah ajaran Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wassalam dan bukan pula ilmu warisan dari Ali bin Abi Thalib Radiyallahu
‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah berkata: “Tatkala kita
telusuri ajaran Sufi periode pertama dan terakhir, dan juga perkataan-perkataan mereka
baik yang keluar dari lisan atau pun yang terdapat di dalam buku-buku terdahulu dan
terkini mereka, maka sangat berbeda dengan ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita
tidak pernah melihat asal usul ajaran Sufi ini di dalam sejarah pemimpin umat manusia
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam, dan juga dalam sejarah para shahabatnya
yang mulia, serta makhluk-makhluk pilihan Allah Ta’ala di alam semesta ini. Bahkan
sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi dari kerahiban
Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha" - At Tashawwuf Al
Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc)

Para ahli yang menolak tasawuf sebagai bagian dari islam mengambil contoh kesalahan
pemahaman tasawuf yaitu Faham Wujud. Faham wujud adalah berisi keyakinan bahwa
manusia dapat bersatu dengan Tuhan. Penganut paham kesatuan wujud ini mengambil
dalil Al Quran yang dianggap mendukung penyatuan antara ruh manusia dengan Ruh
Allah dalam penciptaan manusia pertama, Nabi Adam AS:
“...Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh Ku;
maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (As Shaad; 72)”
Sehingga ruh manusia dan Ruh Allah dapat dikatakan bersatu dalam sholat karena
sholat adalah me-mi'rajkan ruh manusia kepada Ruh Allah Azza wa Jalla .

Atas dasar pengaruh 'penyatuan' inilah maka kezuhudan dalam sufi dianggap bukan
sebagai kewajiban tetapi lebih kepada tuntutan bathin karena hanya dengan
meninggalkan/ tidak mementingkan dunia lah kecintaan kepada Allah semakin
meningkat yang akan bepengaruh kepada 'penyatuan' yang lebih mendalam.
Paham ini dikalangan penganut paham kebatinan juga dikenal sebagai paham
manunggaling kawula lan gusti yang berarti bersatunya antara hamba dan Tuhan .

4
2.3 Dasar-Dasar Qur’ani Tasawuf

Para pengkaji tentang tasawuf sepakat bahwasanya tasawuf berazaskan kezuhudan


sebagaimana yang diperaktekkan oleh Nabi Saw, dan sebahagian besar dari kalangan
sahabat dan tabi'in. Kezuhudan ini merupakan implementasi dari nash-nash al-Qur'an
dan Hadis-hadis Nabi Saw yang berorientasi akhirat dan berusaha untuk menjuhkan diri
dari kesenangan duniawi yang berlebihan yang bertujuan untuk mensucikan diri,
bertawakkal kepada Allah Swt, takut terhadap ancaman-Nya, mengharap rahmat dan
ampunan dari-Nya dan lain-lain. Meskipun terjadi perbedaan makna dari kata sufi akan
tetapi jalan yang ditempuh kaum sufi berlandasakan Islam. Diantara ayat-ayat Allah
yang dijadikan landasan akan urgensi kezuhudan dalam kehidupan dunia adalah firman
Allah dalam al-Qur'an yang Artinya: “Barang siapa yang menghendaki keuntungan di
akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki
keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak
ada baginya suatu bahagianpun di akhirat”. (Q.S Asy-Syuura [42] : 20).

Diantara nash-nash al-Qur'an yang mememerintahkan orang-orang beriman agar


senantiasa berbekal untuk akhirat adalah firman Allah dalam Q.S al-Hadid [57] ayat: 20
yang Artinya: “Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-
tanamannya mengagumkan para petani; Kemudian tanaman itu menjadi kering dan
kamu lihat warnanya kuning Kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab
yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia Ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu”.Ayat ini menandaskan bahwa kebanyakan
manusia melaksanakan amalan-amalan yang menjauhkannya dari amalan-amalan yang
bermanfaat untuk diri dan keluarganya, sehingga mereka dapat kita temukan
menjajakan diri dalam kubangan hitamnya kesenangan dan gelapnya hawa nafus mulai
dari kesenangan dalam berpakaian yang indah, tempat tinggal yang megah dan segala
hal yang dapat menyenangkan hawa nafsu, berbangga-bangga dengan nasab dan
banyaknya harta serta keturunan (anak dan cucu). Akan tetapi semua hal tesebut bersifat
sementar dan dapat menjadi penyebab utama terseretnya seseorang kedalam azab yang
sangat pedih pada hari ditegakkannya keadilan di sisi Allah, karena semua hal tersebut
hanyalah kesenangan yang melalaikan, sementara rahmat Allah hanya terarah kepada
mereka yang menjauhkan diri dari hal-hal yang melallaikan tersebut.

Ayat al-Qur'an lainnya yang dijadikan sebagai landasan kesufian adalah ayat-ayat yang
berkenaan dengan kewajiban seorang mu'min untuk senantiasa bertawakkal dan
berserah diri hanya kepada Allah swt semata serta mencukupkan bagi dirinya cukup
Allah sebagai tempat menggantungkan segala urusan, ayat-ayat al-Qur'an yang
menjelaskan hal tersebut cukup variatif tetapi penulis mmencukupkan pada satu
diantara ayat –ayat tersebut yaitu firman Allah dalam Q.S ath-Thalaq [65] ayat : 3 yang
Artinya: “Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan
barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki) Nya.
5
Sesungguhnya Allah Telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”.
Diantara ayat-ayat al-Qur'an yang menjadi landasan munculnya kezuhudan dan menjadi
jalan kesufian adalah ayat-ayat yang berbicara tentang rasa takut kepadan Allah dan
hanya berharap kepada-Nya diantaranya adalah firman Allah dalam Q.S as-Sajadah [ ]
ayat : 16 yang berbunyi : yang Artinya: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya
dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap
Maksud dari perkataan Allah Swt : "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya" adalah
bahwa mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat
malam”.

Terdapat banyak ayat yang berbicara tentang urgensi rasa takut dan pengharapan hanya
kepada Allah semata akan tetapi penulis cukupkan pada kedua ayat terdahulu.
Diantara ayat-ayat yang menjadi landasan tasawuf adalah nash-nash Qura'ny yang
menganjurkan untuk beribadah pada malam hari baik dalam bentuk bertasbih ataupun
quyamullail diantaranya adalah firman Allah yang Artinya:
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah
tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang
Terpuji.(Q.S al-Isra' [17] ayat : 79 yang Artinya: “Dan sebutlah nama Tuhanmu pada
(waktu) pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, Maka sujudlah kepada-Nya
dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang dimalam hari”. (Q.S al-Insan
[76] ayat : 25-26) yang Artinya: “Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud
dan berdiri untuk Tuhan mereka”

Tiga ayat di atas menunjukkan bahwa mereka yang senantiasa menjauhi tempat tidur di
malam hari dengan menyibukkan diri dalam bertasbih dan menghidupkan malam-
malamnya dengan shalat dan ibadah-ibadah sunnah lainnya hanya semata-mata untuk
mengharapkan rahmat, ampunan, ridha, dan cinta Tuhannya kepadanya akan
mendapatkan maqam tertinggi di sisi Allah.
Selain daripada hal-hal yang telah penulis uraikan sbelumnya, diantara pokok-pokok
ajaran tasawuf adalah mencintai Allah dengan penuh ketulusan dan keikhlasan hal ini
berlandaskan kepada firman Allah swt dalam Q.S at-Taubah ayat : 24 yang Artinya:
”Katakanlah: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah
dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan Keputusan-Nya". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang fasik”.

Ayat ini menunjukkan bahwa kecintaan terhadap Allah, Rasul-Nya dan berjihad di
jalan-Nya harus menjadi prioritas utama di atas segala hal, bahkan kecintaan kepada
Allah dan Rasul-Nya harus melebihi di atas kecintaan kepada ayah, ibu, anak, istri,
keluarga, harta, perniagaan dan segala hal yang bersifat duniawi, atau dengan kata lain
bahwa seseorang yang ingin mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan
mendambakan tempat terbaik diakhirat hendaknya menjadikan Allah dan Rasul-Nya
sebagai kecintaan tertinggi dalam dirinya.
6
2.4 Perkembangan Tasawuf

Sejarah tasawuf dimulai dengan Imam Ja’far Al Shadiq ibn Muhamad Bagir ibn Ali
Zainal Abidin ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Imam Ja’far juga dianggap sebagai
guru dari keempat imam Ahlulsunah yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i dan Ibn
Hanbal. Ucapan – ucapan Imam Ja’far banyak disebutkan oleh para sufi seperti Fudhail
ibn Iyadh Dzun Nun Al Mishri, Jabir ibn Hayyan dan Al Hallaj. Diantara imam mazhab
di kalangan Ahlulsunah, Imam Maliki yang paling banyak meriwayatkan hadis dari
Imam Ja’far. Kaitan Imam Ja’far dengan tasawuf, terlihat dari silsilah tarekat, seperti
Naqsyabandiyah yang berujung pada Sayyidina Abubakar Al Shidiq ataupun yang
berujung pada Imam Ali selalu melewati Imam Ja’far.

Kakek buyut Imam Ja’far, dikenal mempunyai sifat dan sikap sebagai sufi. Bahkan
(meski sulit untuk dibenarkan) beberapa ahli menyebutkan Hasan Al Bashri, sufi-zahid
pertama sebagai murid Imam Ali. Sedangkan Ali Zainal Abidin (Ayah Imam Ja’far)
dikenal dengan ungkapan-ungkapan cintanya kepada Allah yang tercermin pada
do’anya yang berjudul “Al Shahifah Al Sajadiyyah”.
Tasawuf lahir dan berkembang sebagai suatu disiplin ilmu sejak abad k-2 H, lewat
pribadi Hasan Al Bashri, Sufyan Al Tsauri, Al Harits ibn Asad Al Muhasibi, Ba Yazid
Al Busthami. Tasawuf tidak pernah bebas dari kritikan dari para ulama (ahli fiqh, hadis
dll). Praktik – praktik tasawuf dimulai dari pusat kelahiran dan penyiaran agama Islam
yaitu Makkah dan Madinah, jika kita lihat dari domisili tokoh-tokoh perintis yang
disebutkan di atas. Pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di dunia Islam dapat
dikelompokan ke dalam beberapa tahap :

1. Tahap zuhud (asketisme)

Tahap awal perkembangan tasawuf dimulai pada akhir abad ke-1H sampai kurang
lebih abad ke-2H. Gerakan zuhud pertama kali muncul di Madinah, Kufah dan
Basrah kemudian menyebar ke Khurasan dan Mesir. Awalnya merupakan respon
terhadap gaya hidup mewah para pembesar negara akibat dari perolehan kekayaan
melimpah setelah Islam mengalami perluasan wilayah ke Suriah, Mesir,
Mesopotamia dan Persia.

2. Tahap tasawuf (abab ke-3 dan ke-4 H)

Paruh pertama pada abad ke-3 H, wacana tentang Zuhud digantikan dengan tasawuf.
Ajaran para sufi tidak lagi terbatas pada amaliyah (aspek praktis), berupa
penanaman akhlak, tetapi sudah masuk ke aspek teoritis (nazhari) dengan
memperkenalkan konsep-konsep dan terminology baru yang sebelumnya tidak
dikenal seperti, maqam, hâl, ma’rifah, tauhid (dalam makna tasawuf yang khas);
fana, hulul dan lain- lain. Tokoh-tokohnya, Ma’ruf Al Kharkhi (w. 200 H), Abu
Sulaiman Al Darani (w. 254 H), Dzul Nun Al Mishri (w. 254 H) dan Junaid Al
Baghdadi.

7
Muncul pula karya-karya tulis yang membahas tasawuf secara teoritis, termasuk
karya Al Harits ibn Asad Al Muhasibi (w. 243 H); Abu Said Al Kharraz (w. 279 H);
Al Hakim Al Tirmidzi (w. 285 H) dan Junaid Al Baghdadi (w. 294 H) Pada masa
tahap tasawuf, muncul para sufi yang mempromosikan tasawuf yang berorientasi
pada “kemabukan” (sukr), antara lain Al Hallaj dan Ba Yazid Al Busthami, yang
bercirikan pada ungkapan – ungkapam ganjil yang sering kali sulit untuk dipahami
dan terkesan melanggar keyakinan umum kaum muslim, seperti “Akulah
kebenaran” (Ana Al Haqq) atau “Tak ada apapun dalam jubah-yang dipakai oleh
Busthami selain Allah” (mâ fill jubbah illâ Allâh), kalau di Indonesia dikenal
dengan Syekh Siti Jenar dengan ungkapannya “Tiada Tuhan selain Aku”.

3. Tahap Tasawuf Falsafi (Abad ke-6 H)

Pada tahap ini, tasawuf falsafi merupakan perpaduan antara pencapaian pencerahan
mistikal dan pemaparan secara rasional-filosofis. Ibn Arabi merupakan tokoh utama
aliran ini, disamping juga Al Qunawi, muridnya. Sebagian ahli juga memasukan Al
Hallaj dan Abu (Ba) Yazid Al Busthami dalam aliran ini. Aliran ini kadang disebut
juga dengan Irfân (Gnostisisme) karena orientasinya pada pengetahuan (ma’rifah
atau gnosis) tentang Tuhan dan hakikat segala sesuatu.

2.5 Tasawuf Akhlaqi

Tasawuf akhlaqi adalah tasawuf yang berkonstrasi pada teori-teori perilaku, akhlaq atau
budi pekerti atau perbaikan akhlaq. Dengan metode-metode tertentu yang telah
dirumuskan, tasawuf seperti ini berupaya untuk menghindari akhlaq mazmunah dan
mewujudkan akhlaq mahmudah. Tasawuf seperi ini dikembangkan oleh ulama’ lama
sufi.
Dalam pandangan para sufi berpendapat bahwa untuk merehabilitasi sikap mental yang
tidak baik diperlukan terapi yang tidak hanya dari aspek lahiriyah. Oleh karena itu pada
tahap-tahap awal memasuki kehidupan tasawuf, seseorang diharuskan melakukan
amalan dan latihan kerohanian yang cukup berat tujuannya adalah mengusai hawa nafsu,
menekan hawa nafsu, sampai ke titik terendah dan -bila mungkin- mematikan hawa
nafsu sama sekali oleh karena itu dalam tasawuf akhlaqi mempunyai tahap sistem
pembinaan akhlak disusun sebagai berikut:
a. Takhlili
Takhalli merupakan langkah pertama yang harus di lakukan oleh seorang
sufi.Takhalli adalah usaha mengosongkan diri dari perilaku dan akhlak tercela. Salah
satu dari akhlak tercela yang paling banyak menyebabkan akhlak jelek antara lain
adalah kecintaan yang berlebihan kepada urusan duniawi.
b. Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi dan menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri
dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Tahapan tahalli dilakukan kaum sufi setelah
mengosongkan jiwa dari akhlak-akhlak tercela. Dengan menjalankan ketentuan agama
baik yang bersifat eksternal (luar) maupun internal (dalam). Yang disebut aspek luar
adalah kewajiban-kewajiban yang bersifat formal seperti sholat, puasa, haji dll. Dan

8
adapun yang bersifat dalam adalah seperti keimanan, ketaatan dan kecintaan kepada
Tuhan.
c. Tajalli
Untuk pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka
rangkaian pendidikan akhlak selanjutnya adalah fase tajalli. Kata tajalli bermakna
terungkapnya nur ghaib. Agar hasil yang telah diperoleh jiwa dan organ-organ tubuh –
yang telah terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah terbiasa melakukan
perbuatan-perbuatan yang luhur- tidak berkurang, maka, maka rasa ketuhanan perlu
dihayati lebih lanjut. Kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran optimum dan rasa
kecintaan yang mendalam dengan sendirinya akan menumbuhkan rasa rindu kepada-
Nya.

2.6 Tahap Tarekat

Meskipun tarekat telah dikenal sejak jauh sebelumnya, seperti tarekat Junaidiyyah yang
didirikan oleh Abu Al Qasim Al Juanid Al Baghdadi (w. 297 H) atau Nuriyyah yang
didirikan oleh Abu Hasan Ibn Muhammad Nuri (w. 295 H), baru pada masa-masa ini
tarekat berkembang dengan pesat. Seperti tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Abdul
Qadir Al Jilani (w. 561 H) dari Jilan (Wilayah Iran sekarang); Tarekat Rifa’iyyah
didirikan oleh Ahmad Rifai (w. 578 H) dan tarekat Suhrawardiyyah yang didirikan oleh
Abu Najib Al Suhrawardi (w. 563 H). Tarekat Naqsabandiyah yang memiliki pengikut
paling luas, tarekat ini sekarang telah memiliki banyak variasi , pada mulanya didirikan
di Bukhara oleh Muhammad Bahauddin Al Uwaisi Al Bukhari Naqsyabandi.

Tokoh-tokohnya menurut tempat perkembangannya :

1. Madinah

Dari kalangan sahabat Nabi Muhammad Saw, Abu Ubaidah Al Jarrah (w. 18 H);
Abu Dzar Al Ghiffari (W. 22 H); Salman Al Farisi (W.32 H); Abdullah ibn Mas’ud
(w. 33 H); sedangkan dari kalangan satu genarasi setelah masa Nabi (Tabi’în)
diantaranya, Said ibn Musayyab (w. 91 H); dan Salim ibn Abdullah (w. 106 H).

2. Basrah

Hasan Al Bashri (w. 110 H); Malik ibn Dinar (w. 131 H); Fadhl Al Raqqasyi,
Kahmas ibn Al Hadan Al Qais (w. 149 H); Shalih Al Murri dan Abul Wahid ibn
Zaid (w. 171 H)

3. Kufah

Al Rabi ibn Khasim (w. 96 H); Said ibn Jubair (w. 96 H); Thawus ibn Kisan (w. 106
H); Sufyan Al Tsauri (w.161 H); Al Laits ibn Said (w. 175 H); Sufyan ibn Uyainah
(w. 198 H).

9
4. Mesir
5. Salim ibn Attar Al Tajibi (W. 75H); Abdurrahman Al Hujairah ( w. 83 H); Nafi,
hamba sahaya Abdullah ibn Umar (w. 171 H).
6. Pada masa-masa terakhir tahap ini, muncul tokoh-tokoh yang dikenal sebagai sufi
sejati, diantaranya, Ibrahim ibn Adham (w. 161 H); Fudhail ibn Iyadh (w. 187 H);
Dawud Al Tha’i (w. 165 H) dan Rabi’ah Al Adawiyyah.

2.7 Sejarah Tarekat

Benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat dipungkiri sudah ada sejak dalam kehidupan
Nabi Muhammad SAW. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi
dalam hidup, dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu
semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Cikal bakal inilah yang diteruskan
pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para
Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman
muta-akhirin sekarang ini. Para Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat,
merumuskan bagaimana sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus
dilalui oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat bertaqarrub,
mendekatkan diri kehadirat Allah SWT. Kenyataan dalam sejarah juga menunjukkan,
bahwa peran serta aktif dari para sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar
dalam dakwah islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah
ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.

Pendapat yang menyatakan bahwa tasawuf dan tarekat itu menghambat kemajuan atau
menyebabkan umat menjadi terbelakang adalah sangat keliru. Kenyataan juga
membuktikan, sejak dahulu sampai sekarang, kemajuan pembangunan yang serba
canggih buah dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), tanpa dikendalikan oleh
iman dan taqwa(IMTAQ), tidak hanya mengancam timbulnya kehancuran umat
manusia. Dengan kata lain, kemajuan dalam bidang benda material tanpa diimbangi
degan kemajuan pembinaan mental spiritual , akan menjurus kepada kehancuran
menyeluruh.

2.8 Pengertian Tarekat

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab thoriqoh, jamaknya thoraiq, yang berarti: (1) jalan
atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan
(al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (‘amud
al-mizalah). Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali (740-816 M), tarekat ialah
metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala
melalui tahapan-tahapan/maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian,
pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam
mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai
persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal

10
seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai
tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem
hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.
Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan
berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafa’ah
atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham
tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada al-Thoriqoh al-Mu'tabarah al-Ahadiyyah,
Tarekat Qadiriyah, THORIQOH NAQSYABANDIYAH, Tarekat Rifa'iah, Tarekat
Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai
sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara
langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan.
Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi
Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja. Bahkan di Manado ada juga
Biara Nasrani yang menggunakan istilah Tarekat, seperti Tarekat SMS Joseph. Kaum sufi
berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan spiritual umum dalam Islam, yaitu syari'at,
tariqah, haqiqah, dan tingkatan keempat ma'rifat yang merupakan tingkatan yang 'tak
terlihat'. Tingkatan keempat dianggap merupakan inti dari wilayah hakikat, sebagai esensi
dari seluruh tingkatan kedalaman spiritual beragama tersebut.

2.9 Mempelajari Tarekat

Syarat

Muhammad Hasyim Asy'ari sebagaimana dikutip oleh Muhammad Sholikhin, seorang peng-
analisis tarekat dan sufi mengatakan bahwa ada delapan syarat dalam mempelajari tarekat:[1]

 Qashd shahih, menjalani tarekat dengan tujuan yang benar. Yaitu menjalaninya
dengan sikap ubudiyyah, dan dengan niatan menghambakan diri kepada Tuhan.
 Shidq sharis, haruslah memandang gurunya memiliki rahasia keistimewaan yang
akan membawa muridnya ke hadapan Ilahi.
 Adab murdhiyyah, orang yang mengikuti tarekat haruslah menjalani tata-krama yang
dibenarkan agama.
 Ahwal zakiyyah, bertingkah laku yang bersih/sejalan dengan ucapan dan tingkah-laku
Nabi Muhammad SAW.
 Hifz al-hurmah, menjaga kehormatan, menghormati gurunya, baik ada maupun tidak
ada, hidup maupun mati, menghormati sesama saudaranya pemeluk Islam, hormat
terhadap yang lebih tua, sayang terhadap yang lebih muda, dan tabah atas
permusuhan antar-saudara.
 Husn al-khidmah, mereka-mereka yang mempelajari tarekat haruslah mempertinggi
pelayanan kepada guru, sesama, dan Allah SWT dengan jalan menaati segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
 Raf' al-himmah, orang yang masuk tarekat haruslah membersihkan niat hatinya, yaitu
mencari khashshah (pengetahuan khusus) dari Allah, bukan untuk tujuan duniawi.

11
 Nufudz al-'azimah, orang yang mempelajari tarekat haruslah menjaga tekat dan
tujuan, demi meraih makrifat khashshah tentang Allah.

Tujuan

Tujuan tarekat adalah membersihkan jiwa dan menjaga hawa-nafsu untuk melepaskan diri
dari pelbagai bentuk ujub, takabur, riya', hubbud dunya (cinta dunia), dan sebagainya.
Tawakal, rendah hati/tawadhu', ridha, mendapat makrifat dari Allah, juga menjadi tujuan
tarekat.

Aliran-aliran Tarekat Dalam Islam Dan Tokohnya

1. Tarekat Qadiriyah

Qadiriyah didirikan oleh Abd Al-Qadir Jailani [470/1077-561/1166] atau quthb al-
awiya. Ciri khas dari Tarekat Qadiriyah ini adalah sifatnya yang luwes,tidak sempit
sehingga tuan syekh atau Syekh Mursyid yang baru dapat menentukan langkahnya
menuju kehadirat Allah SWT guna mendapat keridlaan-Nya. Keluwesan dan
kemandirian inilah, yang menyebabkan tarekat ini cepat berkembang di sebagian
besar dunia Islam. Terutama di Turki, Yaman, Mesir, India, Suria, Afrika dan
termasuk ke Indonesia.

2. Syadziliyah
Tarekat Syadziliyah didirikan oleh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili [593/1196-
656/1258]. Syadziliyah menyebar luas di sebagian besar Dunia Muslim. Ia diwakili
di Afrika Utara teerutama oleh cabang-cabang Fasiyah dan Darqawiyah serta
berkembang pesat di Mesir, tempat 14 cabangnya dikenal secara resmi pada tahun
1985.

3. Tarekat Naqsabandiyah

Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-


Awisi Al-Bukhari [w. 1389M] di Turkistan. Tarekat ini mempunyai dampak dan
pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-
beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki,
Suriah, Afganistan, dan India. Cirri menonjol Tarekat Naksabandiyah adalah :
Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang
menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir
dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran
golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama.

4. Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah

Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi [w. 562H/1169M] dan disusul
tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani [w.

12
617 H/1220 M]. kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid Al-Bustami
[w. 425 H/1034 M] dan dilanjutkan oleh Abu Al-Farmadhi [w. 477 H/1084 M].[7]
Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke Turki.

5. Tarekat Khalwatiyah

Tarekat ini didirikan oleh Umar Al-Khalatawi [w. 1397 M] dan merupakan salah
satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki, Syiria, Mesir, Hijaz,
dan Yaman. Di Mesir, tarekat Khalwatiyah didirikan oleh Ibrahim Gulsheini [w. 940
H/1534 M] yang kemudian terbagi kepada beberapa cabang, antara lain tarekat
Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim As-Samani [1718-
1775].

6. Tarekat Syatariyah

Tarekat ini didirikan oleh Abdullah bin Syattar [w. 1485] dari India. Tarekat ini tidak
mementingkan shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat permanen [shalat
dhaim]. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu
erat hubungannya dengan praktik ritualnya.

7. Tarekat Rifa’iyah

Tarekat ini didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’I [1106-1182]. Tarekat sufi Sunni
ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Dari segala praktik
kaum Rifa’iyah, dzikir mereka yang khas patut dicatat.

8. Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah

Tarekat ini merupakan gabungan dari dua ajaran tarekat, yaitu Qadiriyah dan
Naqsabandiyah. Tarekat ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim
dan mengajar di Mekkah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan yang
paling berpengaruh dan tersebar secara melua di Jawa saat ini.

9. Tarekat Sammaniyah

Tarekat ini didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd Al-Karim Al-Madani Asy-Syafi’I
As- Samman [1130-1189/1718-1775]. Hal menarik dari tarekat ini yang menjadi ciri
khasnya adalah corak wahdat al-wujud yang dianut dan syathahat yang terucap
olehnya tidak bertentangan dengan syariat.

10. Tarekat Tijaniyah

Tarekat Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani [1150-
1230 H/1737-1815 M]. Bentuk amalan tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis,yaitu
wirid wajibah dan wirid ikhtiyariyah.

13
11. Tarekat Chistiyah

Chistiyah adalah salah satu tarekat sufi utama di Asia Selatan. Tarekat ini meyebar
ke seluruh kawasan yang kini merupakan wilayah India, Pakista dan Banglades.
Namun, tarekat ini hanya terkenal di India. Pendiri tarekat ini di India adalah
Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan, yang lebih populer dengan panggilan Mu’in Ad-Din
Chisti.

12. Tarekat Mawlawiyah

Nama Mawlawiyah berasal dari kata “mawlana” [guru kami], yaitu gelar yang
diberikan murid-muridnya kepada Muhammad Jalal Ad-Din Ar-Rumi [w. 1273].
Oleh karena itu, Rumi adalah pendiri tarekat ini, yang didirikan sekitar 15 tahun
terakhir hidup Rumi. Salah satu mursyid sekaligus wakil yang terkenal secara
internasional dari tarekat ini adalah Syekh Al-Kabir Helminski yang bermarkas di
California, Amerika Serikat.

13. Tarekat Ni’matullahi

Tarekat Ni’matullahi adalah suatu mazhab sufi Persia yang segera setelah berdirinya
dan mulai berjaya pada abad ke-8-14 mengalihkan loyalitasnya kepada Syi’I Islam.
Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ni’matullahi Wal. Tarekat ini secara khusus
menekankan pengabdian dalam pondok sufi itu sendiri.

14. Tarekat Sanusiyah

Tarekat ini didirikan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi. Dalam tarekat ini,
dzikir bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir itu lebih
dimaksudkan untuk “melihat Nabi” ketimbang “melihat Tuhan”, sehingga tidak
dikenal “keadaan ekstatis”’ sebagaimana yang ada pada tarekat lain.
Di samping tarekat-tarekat diatas, ada pula tarekat lokal yang didirikan di Indonesia
diantaranya :

1. Tarekat Akmaliyah [Hakmiyah]

Didirikan oleh Kyai Nurhakim. Ia dikenal sebagai dukun dan tukang jimat.

2. Tarekat Shiddiqiyah

Didirikan oleh Kyai Mukhtar Mukti di Losari Plodo [Jombang] pada tahun 1958. Ia
dikenal sebagai dukun yang sakti sehingga banyak pengikutnya dari kalangan penderita
penyakit kronis dan bekas pecandu minuman.

3. Tarekat Wahidiyah

Didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf dari Kedunglo[Kediri] pada tahun 1963.

14
Tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya sesuai dengan doktrin Islam [Al-Qur’an dan
AsSunnah] dikelompokkan ke dalam tarekat yang muktabarah. Sebaliknya, tarekat-
tarekat yang ajaran-ajarannya bertentangan dengan doktrin Islam dikelompokkan ke
dalam tarekat ghair muktabarah. Menurut Syekh Jalaluddin sebagaimana dikutip ole
Aboe Bakar Atjeh, ada 41 jenis tarekat yang masuk ke dalam tarekat muktabarah,
diantaranya Qadiriyah, Naqsabandiyah, Syadziliyah, Rifa’iyah, Qubrawiyah,
Suhrawardiyah, Khalwatiyah, Alawiyah, Syatariyah, Aidrusiyah, Sammaniyah, dan
Sanusiyah. Di luar yang 41 macam tersebut dipandang sebagai tarekat ghair muktabarah
yang tidak diakui kebenarannya seperti tarekat Akmaliyah, Siddiqiyah, dan Wahidiyah.
Walaupun bermacam-macam, ternyatatarekat-tarekat yang beragam itu memiliki
kesamaan tertentu. Dalam kaitan ini, Nicholson mengungkapkan hasil penelitiannya,
bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja [zuhd] adalah dasar semua tarekat yang
berbeda-beda itu. Semua pengikut dididik dalam disipin itu, dan pada umumnya tarekat-
tarekat tersebut walupun beragam namanya dan metodenya ada cirri yang
menyamakannya.
Dari sisem dan metode tersebut, Nicholson menyimpulkan bahwa tarekat-tarekat sufi
merupakan bentuk kelembagaan yang terorganisasi untuk membina suatu pendidikan
moral dan solidaritas social. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup
bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada Allah, membimbing
masyarakat ke arah yang diridai Allah, dengan jalan pengamalan syariat dan
penghayatan haqiqah dalam sistem/metode thariqah untuk mencapai makrifat. Apa yang
dimaksud dengan makrifat dalam tema mereka adalah penghayatan puncak pengenalan
keesaan Allah dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan ini
akan terpadu makna tawakkal dalam tauhid, yang melahirkan sikap pasrah total kepada
Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan mutlak kepada sesuatu selain Allah.

2.10 Hubungan Tasawuf dan Tarekat

Tasawuf itu adalah usaha mendekatkan diri kepada ALLAH SWT


Contoh mendekatkan diri kepada Allah S.W.T, antara lain:
Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini
bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan
harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut.
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah,
setelah mengerjakan ibadah yang wajib.
Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan
lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya.
Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya
sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya.
Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah.
Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang
kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya,
maka dia pasti mencintai Allah.

15
Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan
kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk
mencintai-Nya.
Ketujuh, inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan
tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung
di dalamnya.
Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada
sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta
membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat
kepada-Nya.
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para
shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat.
Kesepuluh, agan menjauhi dari segala sebab yang dapat mengahalangi antara diri kita
dengan Allah Ta’ala.

Tarekat itu adalah cara atau jalan yang ditempuh seseorang dalam usaha untuk
mendekatkan diri kepada ALLAH itu. Jelasnya, hubungan Tasawuf dengan Tarekat ialah
itu bermula dari Tasawuf dan berkembang dengan berbagai macam paham dan aliran
atau metode, yang tergambar dengan adanya Thuruqus Sufiyah(lembaga-lembaga
tarekat). Prof. Dr. H. S.S. Kadirun Yahya mengatakan, tasawuf itu ilmunya, tarekat itu
metodologi pengamalannya, suluk itu pelaksanaannya dan zikrullah itu adalah isinya.
Masuknya tasawuf dan tarekat ke Indonesia bersamaan dengan masuknya agama Islam
ke Indonesia. Tasawuf dan tarekat yang pernah ada dan berkembang di Indonesia cukup
banyak seperti Tarekat Qadiriyah, Tarekat Syaziliyah, Tarekat Sammaniyah,
Tarekat Khalawatiyah, Tarekat Syattariyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Wali-wali
Songo. Sebagaimana telah diterangkan bahwa tarekat itu pada mulanya berarti sebagai
tatacara dalam rangka mendekatkan diri kepada alla dan digunakan untuk sekelompok
yang menjadi pengikut bagi oaring Syekh. Kelompok ini kemudian dalam
perkembangananya menjadi lembaga-lembaga yang mengumpul dan mengkat dengan
aturan-atauran yang telah ditentukan oleh Syekh.

Lembaga terikat ini merupakan kelanjutan dari pada usaha pengikut sufi-sufi yang
terdahulu. Perubahan bentuk dari tasawuf kepada tarekat sebagai lembaga dapat dilihat
dari perorangan, tetapi akhirnya berkembang menjadi tarekat, sebagai lembanga tarekat
yang lengkap dengan unsur-unsurnya. Dalam ilmu tasawuf, istilah yang terkait itu tidak
saja ditujukan kepada aturan yang digunakan oleh seorang Syekh terikat dan bukan pula
kelompok yang menjadi pengikut yang salah seorang Syek terikat, tetapi meliputi segala
aspek ajaran-ajaran yang ada dalam agama islam seperti, shalat, puasa, zakat, haji dan
sebagainya.yang semuanya adalah merupakan jalan atau cara yang mendekatkan diri
kepada Tuhan.
Sedangkan dalam tarekat yang sudah melembaga bahwa tarekat itu adalah yang
mencakup semua aspek ajaran islam seperti shalat, zakat, puasa, jihad, haji dan lain-lain.
Pengalaman seorang Syekh, tetepi itu ierikat dalam tuntunana dan bimbingan seorang
Syekh.

16
Sebagaimana telah diketahui, bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha
mendekatkan diri kepada Than dengan melalui pemyucian rohani dan memperbanyak
ibadah. Dengan demikian dapatlah kita katakana, bahwa tasawuf itu adalah mendekatkan
diri kepada Tuhan, sedangkan tarekat itu adalah cara dan jalan yang ditempuh seseorang
dalam usahanya mendekatkan diri itu kepada tuhan. Dengan demikian jelaslah hubungan
antara tasawuf dalam tarekat, yaitu tarekat itu bermula dari tasawuf dan berkembang
dengan berbagai macam faham dan alirang yang tergambar dalam adanya Thuruqush
Sufiyah (aliran-aliran tarekat) sehingga belakangan ini seseorang yang hendah
berkecimbung dalam kehidupan tsawuf pada umumnya adalah melalui aliran tarekat ang
sudah ada.

Pengaruh Tasawwuf dan Tarekat Terhadap Pemikiran Islam di Indonesia

Seperti telah di sebutkan di atas, bahwa ajaran tasawwuf berkembang pesat karena
orang-orang pribumi sangat antusias terhadap ajaran ini. Hal ini dipengaruhi oleh
kekentalan kehidupanpribumi terhadap mistik sebelum Islam datang. Sehingga tidak
lama setelah Islam bersamaajaran Tasawwufnya masuk ke Nusantara, banyak ulama’
nusantara yang menggeluti ajaran ini,diantaranya adalah Syaikh Yusuf Makassar,
Hamzah Fansuri, Syamsuddin Al Sumatrani,Nuruddin Al Raniri, Abdul Ra’uf Singkel
dan lain-lain. Ketika itu, corak pemikiran Islamdiwarnaioleh tasawwuf.
Pemikiran para sufi besar Ibn Al ‘Araby dan Abu Hamid Al Ghazalisangat berpengaruh
terhadap pengamalan-pengamalan muslimin generasi pertama. Bahkan, kehadiran
tarekat di tengah-tengah masyarakat Indonesia pada masa penjajahan itu telah
memberikan angin segar bagi rakyat jajahan yang ingin melepaskan diri dari
penjajahan.Timbulnya beberapa pemberontakan di Banten pada tahun 1888, Kediri pada
tahun 1888, danSidoarjo pada tahun 1904. Dengan hal ini, terlihat bahwa pada waktu itu
tarekat berfungsi tidakhanya sebagai gerakan keagamaan, tetapi juga gerakan politik
dalam menghadapi penjajahan.

Saat ini, tarekat masih mendapat tempat tempat d hati kaum muslimin Indonesia. Bahkan
terus berkembang di kota-kota besar di Indonesia. Juga tidak hanya terbatas kalangan
ekonomi menengah ke bawah, tetapi telah merambah pada kalangan ekonomi ke atas,
bahkan parabangsawan. Hal ini dapat dilihat dari antusiasme warga setiap acara rutinan
jam’iyyah tarekat tertentu.

Sehingga bila seseorang memahaami dan menjalankan tasawuf, tarekat untuk menuju
makrifat, maka seseorang akan mengalami jiwa dan raga yang sangat damai, berpikir
jernih, berakal tinggi,dan memahami sepenuhnya kehidupan dunia dan akhirat. Dan akan
mematuhi segala aturan dunia dan akhirat.
Sebagaimana hadits qudsi :
Atullahu Waatarasul waulul amri minkum
“Taatlah kepada Allah, Taatlah kepada rasul, dan taatlah kepada negara dimana kamu
berada”.

17
Hubbul wathol minal iman
“Cinta tanah air sebagian dari iman”.

Semua pembelajaran Tasawuf, Tarikat atau pun Tingkatan Maa’rifat diharuskan


mempunyai guru yang sebenarnya guru yang di sebut MURSYID.
Dalam ber Ilmu ISLAM harus mempunyai MURSYID, Apa itu MURSYID ?
"Man yahdillahu fahuwal muhtadi wa man yuhdhlil falan tajidalahu waliyam mursyida"

(Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka dialah yang mendapat petunjuk, dan
barang siapa yang disesatkan-Nya maka sekali-kali kamu tidak akan dapat seorang
pemimpin yang memberi petunjuk kepada-Nya)..QS. AL-Kahfi : 17.

Mursyid :

 Seorang yang memimpin peramalan dalam tarekat, membina, dan membimbing


muridnya bersipat lahiriyah dan rohaniyah dalam melaksanakan kewajiban yang
ditetapkan oleh Syara' dan melaksanakan amal - amal sunnah untuk untuk bertaqarrub
mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mursyid adalah orang yang kuat jiwanya,
memiliki segala keutamaan, dan mempunyai kemampuan makrifat.
 Orang yang menunjuki, orang yang memimpin, orang yang mengasuh. Dalam hal ini
yaitu menunjuki, memimpin, mengasuh serta mendidik seseorang/sekelompok orang
kepada kebenaran dan kebajikan yang terkandung dalam ajaran Agama Allah.
 Suatu istilah yang digunakan oleh kaum sufi adalah seorang syeikh atau guru bagi kaum
sufi (pengamal tarekat)

Rasulullah SAW dimasa hayatnya adalah sebagai seorang guru sekaligus pemimpin,
pengasuh dan pendidik bagi pengikutnya. Setelah beliau wafat, tentunya tugas tersebut
diteruskan pula oleh sahabatnya, thabi'in dan seterusnya, dan seterusnya. Para ulama di
kalangan ahli tasawuf, Rasulullah SAW disebut sebagai " Imamul MURSYIDIN"

2.11 Talqin dan Bai’at


Talqin memiliki dua sasaran khusus yang pertama bersifat umum dan khusus. Yang
bersifat umum ialah seseorang yang bersifat talqin, berarti sudah masuk dalam istilah
silsilah(lingkaran) komunitas pengamal ajaran tarekat, sehingga seolah-olah ia
merupakan satu elemen dari sistem lingkaran besi yang menyatu, apabila ia bergerak
maka bergeraklah semua lingkaran besi tadi. Sedangkan sasaran talqin yan bersifat
khusus (talqin suluk) setelah masuk dalam lingkaran komunitas sufi.

18
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tasawuf adalah perjalanan menuju Tuhan melalui penyucian jiwa yang dilakukan
dengan intensifikasi dzikrullah”. Tarekat adalah beramal dengan syariat Islam
secara azimah (memilih yang berat walau ada yang ringan, seperti rokok ada yang
berpendapat haram dan makruh, maka lebih memilih yang haram) dengan
mengerjakan semua perintah baik yang wajib atau sunah; meninggalkan larangan
baik yang haram atau makruh bahkan menjauhi hal-hal yang mubah (boleh secara
syariat) yang sia-sia (tidak bernilai manfaat; minimal manfaat duniawiah) yang
semuanya ini dengan bimbingan dari seorang mursyid/guru guna menunjukan jalan
yang aman dan selamat untuk menuju Allah (ma’rifatullah) maka posisi guru di sini
adalah seperti seorang guide yang hafal jalan dan pernah melalui jalan itu sehingga
jika kita dibimbingnya akan dipastikan kita tidak akan tersesat jalan dan sebaliknya
jika kita berjalan sendiri dalam sebuah tujuan yang belum diketahui, maka
kemungkinan besar kita akan tersesat apalagi jika kita tidak membawa peta
petunjuk.

19

Anda mungkin juga menyukai