Anda di halaman 1dari 16

PROSES SULFATASI SISA LEMAK FLESHING KULIT SAPI

SEBAGAI FATLIQUOR

Disusun oleh:

1. Fahmi Nasrulloh ( 1601016 )


2. Imroatul Hilma ( 1601020 )
3. Lutfan Rezky ( 1601025 )

TEKNOLOGI PENGOLAHAN KULIT (TPK) – A1

HALAMAN JUDUL
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENGOLAHAN KULIT

KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN RI

POLITEKNIK ATK YOGYAKARTA

2018

i
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...........................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
ABSTRAK.........................................................................................................................ii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. TUJUAN................................................................................................................1
B. LATAR BELAKANG.............................................................................................1
BAB II................................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................................3
BAB III...............................................................................................................................6
METODE PRAKTIKUM..................................................................................................6
A. ALAT DAN BAHAN..............................................................................................6
B. CARA KERJA.......................................................................................................7
DATA HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................9
A. DATA HASIL.........................................................................................................9
B. PEMBAHASAN....................................................................................................9
BAB V..............................................................................................................................12
KESIMPULAN................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................13

ii
ABSTRAK

Tujuan penelitian adalah mendapatkan minyak limbah fleshing


tersulfonasi, digunakan untuk peminyakan industri penyamakan kulit.
limbah fleshing untuk penelitian diambil dari industri penyamakan kulit
Yogyakarta. Pengambilan lemak limbah fleshing dengan cara perebusan
pada suhu (100º C selama 15 menit). Selanjutnya lemak disulfonasi agar
mudah larut dalam air, dan mudah bereaksi dengan kulit. Lemak sulffonasi
yang dihasilkan untuk peminyakan penyamakan kulit krust kambing
dengan variasi berturur-turut: 4,5 dan 6%. Sebagai kontrol digunakan
minyak sintetis 5%. Hasil uji kulit krust kambing sesuai dengan ketentuan
yang dimuat SNI:06-3536-1994, tentang kulit krust domba/kambing.

Kata kunci: kulit, penyamakan, fleshing, lemak tersulfonas

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. TUJUAN
Praktikan mampu melakukan proses sulfonasi minyak lemak
sisa fleshing sebagai bahan fatliquoring (untuk peminyakan pada
peminyakan kulit) dan mengetahui cara sulfonasi.

B. LATAR BELAKANG
Limbah padat fleshing dari industri penyamakan kulit
memiliki potensi mencemari lingkungan. Hal ini dikarenakan volume
limbah fleshing sangat tinggi sekitar 70 – 230 kg tiap ton kulit awet
garam yang diproses. Disamping itu limbah fleshing juga
mengandung protein relatif tinggi yaitu antara 30-80% sehingga
mudah rusak dan busuk, menimbulkan bau yang sangat
mengganggu lingkungan (Anonimus 1997).

Limbah fleshing kulit merupakan bahan mudah rusak maka


apabila tidak segera ditangani atau diolah produk samping maka
menjadi bahan pencemar lingkungan dan sumber penyakit. Hasil
penelitian tentang pemanfaatn limbah fleshing untuk ransung pakan
ternak dan untuk sabun menjelaskan bahwa pada prinsipnya
limbah fleshing dapat digunakan sebagai bahan sumber protein ole
sebab itu limbah fleshing dapat dimanfaatkan baik untuk sabun
maupun bahan peminyakan kulit serta keperluan bahan industri lain
yang menggunakan lemak.

1
Minyak yang lazim digunakan untuk peminyakan
(fatliquoring) kulit perlu disulfonasi agar secara teknis mudah larut
dalam air dan mudah terdifusi kedalam kulit karena media

1
perminyakan kulit adalah air atau mudah dibawa air kedalam kulit.
(thorstensen TC 1985)

Sulfonasi minyak-minyak lemak seperti minyak jarak, minyak


kedelai, minyak kacang tananh, dan minyak ikan digunakan H2SO4
pekat. H2SO4 pekat telah dikenal secara luas dapat digunakan
untuk sulfonasi lemak dan turunannya, seperti ester, amida-amida
dan asam lemak bebasnya. Reaksi kimia yang terjadi selama
sulfonasi cukup kompleks, bahkan sulfonasi ikatan rangkap dan
gugus hidroksil lebih kuat.

Proses fatliquoring dengan minyak an-ionik seperti sabun


atau minyak sulfonasi dilakukan untuk mengatur agar tetesan-
tetesan minyak sedikit demi sedikit masuk kedalam kulit. Kulit
mempunyai pH yang lebih rendah daripada pH yang diperlukan
untuk menstabilkan minyak, sehingga minyak akan menumpuk
pada permukaan kulit. Masuknya minyak an-ionik kedalam kulit
merubah muatan kulit dari plus menjadi minus dan perubahan ini
menjadikan tetesan-tetesan minyak berikutnya bisa menembuhs
kulit lebih kedalam. Sulfatasi yang tingkatnya lebih besar tidak
hanya memperhalus penyebaran minyak, tapi juga memperbesar
penetrasi minyak.

C. RUANG LINGKUP

Penulisan proposal praktikum mandiri ini dibatasi pada hal-


hal sebagai Berikut:

1. Melawan upaya untuk memperluas penggunaan atau pemanfaatan


limbah fleshing sebagai fatliquor.
2. Melakukan percobaan untuk mengetahui kemampuan limbah
fleshing sebagai fatliquor.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Kulit sapi ialah bagian paling luar daging sapi. Fungsi utama kulit
adalah melindungi kerusakan dan infeksi mikroba jaringan yang ada di
bawahnya. Setelah ternak dipotong, kulit akan kehilangan fungsinya, dan
menjadi hasil ikutan yang akan segera turun kualitasnya bila tidak segera
disamak atau diawetkan.Secara histologi, kulit tersusun dari tiga lapisan
yaitu epidermis, dermis dan hipodermis. Epidermis merupakan bagian kulit
paling atas tersusun dari sel epitel pipih kompleks, pada lapisan ini juga
terdapat asesori epidermis seperti rambut, kelenjar minyak, kelenjar
keringat, dan otot penegak rambut. Di bawahnya terletak lapisan dermis
atau kulit jangat yang tersusun dari jaringan ikat padat. Pada lapisan
paling bawah terdapat hipodermis yang tersusun dari jaringan ikat longgar,
jaringan adiposa, dan sisa daging.

Lemak fleshing adalah lemak dari sesetan daging dalam kulit


mentah dan dapat digunakan sebagai bahan dasar lemak seperti sabun,
minyak untuk penyamakan kulit, dan juga untuk bahan bakar (biodiesel).

Minyak fleshing yang digunakan untuk peminyakan pada proses


penyamakan kulit perlu disulfonasi terlebih dahulu agar secara teknis
mudah larut dalam air dan mudah terdifusi kedalam kulit karena media
peminyakan kulit adalah air (tandanya: minyak+air kalau dikocok mudah
membentuk emulsi). Demikian juga lemak fleshing yang digunakan untuk
sabun perlu dimurrikan atau disulfonasi dan juga perlu penghilangan bau
(deodorisasi). Untuk sulfonasi minyak atau lemak seperti minyak jarak,
minyak kedelai, minyak kacang tanah, lemak/gajih dan macam-macam
minyak ikan dipakai IIzSO+ pekat(Wilarso, 1979). Lemak sendiri erupakan
absorben yang baik untuk membuat parfiml, untuk mengeksfraksi minyak
bunga dan lain-lain. Selain digunakan untuk pembuatan sabun dan

3
peminyakan pada proses penyamakan h]lit, lemak fleshing bisa digunakan
untuk biodiesel.

Sulfatasi adalah proses perlakuan minyak dengan asam sulfat


pekat untuk mendapatkan minyak yang dapat teremulsi dalam air. Minyak
sulfat merupakan bahan yang terpenting dalam perkembangan fatliquor.
Minyak sulfat disebut juga minyak sulfonit, banyak digunakan dalam
industry perkulitan, karena dapat terdispersi dengan baik cukup tahan
terhadap suasuana asam danmenghasi lkan kulit yang lemas dan lembut.

Minyak sulfasian terutama terdiri dari bahan lemak netral yang


terdiri atas gliserida yang tidak tereaksi, digliserid yang dibentuk oleh
reaksinya asam lemak yang memiliki sifat aktif permukaan dan glicerida
sulfasian serta asam lemak sulfasian yang memiliki sifat aktif permukaan
kuat.

Minyak sulfat dapat mengubah sifat- sifat penting kulit , antara lain
kulit dapat lebih lunak , lebih liat , lebih lembut, permukaan lebih halus dan
mempunyai daya serap ataupun daya tolak terhadap air secara baik.
Minyak sulfat ini mempunyai sifat aktif permukaan dan dapat
mengemulsikan minyak bebas.

Minyak sulfasian dibuat dengan menggunakan minyak yang


dikendalikan, waktu, dan besarnya agitasi, yang diikuti dengan mencuci
campuran minyak dan asam dengan larutan garam untuk mengambil
asam yang berlebihan. Minyak sulfasian umumnya dinetralkan dengan
sodium, potassium, atau amoniumhidroksida sampai pH yang diinginkan
tercapai. langkah ini membuat kadar lembab, total alkalis dan sebagainya
dapat disesuaikan pada level-level yang diinginkan.

Fatliquor adalah bahan kimia yang dapat diemulsikan dalam air


yang berfungsi sebagai pelumas.Mempunyai kemampuan untuk
menghaluskan kulit dengan mereduksikan gaya gesek antar serat.Terdiri
dari ikatan parsial dari bahan emulsi dan minyak di dalam substratnya.

4
Emulsi adalah pusat kesuksesan dari suatu proses. Di dalam
kebanyakan fatliquor ini dapat diperoleh dengan memodifikas secara
kimiawi pelumas itu atau minyak dari proses sulfatasi atau sulfitasi. Ini
merupakan permintaan untuk memasukkan kelompok hidrofil ke dalam
struktur, sehingga memudahkan minyak di dalam emulsi air untuk
diproduksi.

Stabilitas emulsi suatu fatliquor bergantung pada banyak faktor. Ini


meliputi tingkat derajat sulfatasi atau sulfitasi dalam pembuatan, bersama
dengan penambahan dari bahan emulsi lain atau alat penstabil yang
mungkin disatukan di dalam formula fatliquor.

Suatu emulsi fatliquor yang sangat stabil akan sering tampak


tembus cahaya berkaitan dengan sangat sempurna memecahkan
gelembung-gelembung minyak menjadi tidak dapat menyebarkan cahaya.
Sebaliknya emulsi yang kurang stabil akan tampak seperti susu karena
ukuran partikel minyak yang lebih besar dan yang diperpanjang
menunjukkan tanda separasi, seperti warna krem atau penghilangan
minyak dari permukaan.

5
BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan :
 Beker gelas 100 ml
 Beker gelas 1000 ml
 Beker gelas 250 ml
 Pipet tetes
 Pipet volume 25 ml
 Pengaduk
 Termometer
 Penagas es
 Statif

Bahan yang digunakan :

 Lemak sisa fleshing 10 ml


 Minyak nabati 10 ml
 HCl pekat
 Air garam
 NaOH 1 N

6
B. CARA KERJA
a) Pembuatan Fatliquoring
1. Memanaskan limbah fleshing sampai mencair
2. Menimbang beker gelas kosong 250 ml
3. Mengambil 10 ml minyak nabati dan 10 ml minyak hewani
4. Menimbang berat total minyak
5. Menambahkan HCl pekat sebanyak 25% dari berat total
minyak
6. Meneteskan perlahan sambil diaduk dan dijaga suhu 10-
15ºC
7. Mencuci dengan air garam 30% sebanyak 600% dari berat
total minyak ( untuk 3 kali pencucian)
8. Pada pencucian pertama diamkan selama ± 15 menit
9. Pencucian selanjutnya diamkan selama ± 5 menit
10. Menetralkan minyak dengan NaOH 0,1N
11. Melakukan tes ketahanan panas dengan cara larutkan 1
gram minyak sulfat ke dalam 100 ml air kemudian panaskan
pelan-pelan sampai emulsi pecah.
b) Penerapan ke kulit

No Urutan % Chemical Waktu Keterangan


proses
1 Sortasi
2 Timbang
kulit
3 Wetting 500 Air 60 menit Cek basah
1 Wetting
back dan cek ph
agent
0,5 Amonia
4 Weighing
5 Top fat 50 Air panas 60 menit Cek
2 Fat buatan
kelemasan
6 Fixing 0,5 Asam 20 menit
formiat
0,5 Asam 20 menit Cek ph
formiat
7 D/W
8 Staking
9 Hanging

7
BAB IV

DATA HASIL DAN PEMBAHASAN

A. DATA HASIL

No Perlakuan Pengamatan
1 Lemak cair + lemak nabati Berwarna kuning bening

8
2 Lemak dan minyak nabati + Warna coklat pekat-coklat
HCl muda dan semakin kental,
3 Mencuci dengan air garam warna berubah menjadi putih
susu
4 Menetralkan dengan NaOH Warna putih ke kuningan,
1N berbentuk krim. Ph : 7
5 Pengujian Minyak Minyak pecah pada suhu 55º
C

 Berat total sampel (lemak cair + minyak nabati) = 120,3725


gr
 Berat gelas beaker 250 ml = 100,6524 gr
 Berat total minyak= 120,3725-100,6524 = 19,7228
 HCl= 19,7228 X 25/100= 4,93 ml
 Garam = 600/100 X 19,7228 X 30/100= 35,50104 gr
 Air= 600/100 X 19,7228 = 118,3368 gr

B. PEMBAHASAN
Limbah fleshing memiliki kandungan protein relatif tinggi
maka konsekuensinya mengalami pembusukan oleh mikrobia, dan
timbul bau busuk. Disamping itu limbah fleshing mengandung sisa
bahan kimia yang biasa digunakan untuk proses pengapuran
(liming) pada penyamakan kulit, yakni kapur dan senyawa sulfida
(Na2S). Senyawa sulfida tersebut apabila tercampur dengan limbah
lain yang bersifat asam, maka akan timbul gas hidrogen sulfida
(H2S) yang berbahaya terhadap kehidupan ( Winter D, 1984).
Minyak yang lazim digunakan untuk peminyakan
( fatliquoring) kulit perlu disulfonasi agar secara teknis mudah larut
dalam air dan mudah terdifusi kedalam kulit karena media
peminyakan kulit adalah air atau mudah dibawa air kedalam kulit
( thorstensen TC, 1985).
Sulfonasi minyak-minyak lemak seperti minyak jarak, minyak
kedelai, minyak kacang tanah, dan minyak ikan digunakan HCl. Hcl
pekat telah dikenal secara luas dapat digunakan untuk sulfonasi
lemak dan turunannya, seperti esther, amida-amida dan asam
lemak bebasnya. Reaksi kimia yang terjadi selama sulfonasi cukup

9
kompleks, bahkan sulfonasi ikatan rangkap dan gugus hidroksil
lebih kuat.
Pada praktikum kali ini yaitu pembuatan fatliquring dari sisa
limbah fleshing. Minyak sisa limbah fleshing 10 ml ditambah
dengan 10 ml minyak nabati. Kemudian menambahkan HCl pekat
sebanyak 25% dari total berat minyak dengan cara meneteskan
tujuannya yaitu untuk mendapatkan lemak sulfonasi yang
memenuhi persyaratan untuk penyamakan kulit ( SNI : 06-3536-
1994, tentang kulit krust domba kambing). Sulfonasi dilakukan
dengan menempatkan beker gelas dalam mangkok yang berisi es
batu, dan suhu dipertahankan tidak boleh lebih 10-15º C. Reaksi
sulfonas/sulfatasi merupakan reaksi aksotermik, oleh sebab itu
suhu harus tetap dijaga tidak boleh terlalu tinggi, sebab suhu yang
terlalu tinggi menyebabkan kecepatan sulfatasi turun dan
kemungkinan timbul reaksi samping yaitu reaksi sulfatasi yang
membentuk ikatan rangkap pada senyawa sulfonat atau hidrolisis-
trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak. Sambil diaduk hingga
diperoleh larutan emulsi (mudah terdispersi dalam air). Kemudian
minyak/lemak yang telah mengandung asam sulfat dicuci dengan
air garam 30% sebanyak 600% sebanyak 3 kali. Pencucian dengan
air garam ini bertujuan untuk membersihkan atau menghilangkan
kotoran-kotoran yang terdapat dalam lemak (asam lemak) dan
dinetralkan dengan NaOH 1N sampai Ph mencapai Ph netral 6-7.
Volume minyak yang dihasilkan lebih banyak dari volume awal
minyak. Hal ini mungkin dikarenakan kondisi sampel terlalu asam
atau saat pembuangan air garam saat pencucian tidak terlalu
bersih sehingga mempengaruhi proses netralisasi dengan NaOH
1N.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam minyak sulfat
adalah mengenai suhu maksimal teremulsinya minyak dalam air.
Hal ini digunakan sebagai parameter untuk menentukan suhu yang
paling efektif dalam proses fatliquoring. Semakin tinggi temperature

10
pecahnya minyak, maka semakin bagus pula minyak sulfat
tersebut. Ciri dari minyak sulfat telah teremulsi adalah dengan
pecahnya minyak dan air mulai bening. Minyak sulfonasi yang
dihasilkan kemudian diuji, yaitu dengan cara memasukkan satu
tetes atau sedikit minyak pada air yang dipanaskan. Minyak yang
bisa digunakan untuk proses fatliquoring yaitu 50-60ºC, jika lebih
tidak pecah minyak sangat baik. Hasil uji minyak pada kelompok
kami yaitu pada suhu 55ºC.

BAB V

KESIMPULAN

1. Pembuatan fatliquor dilakukan dengan mensulfatasi minyak


nabati dan lemak cair (1:1) dengan HCl pekat pada suhu 10-
15ºC. Kemudian dicuci dengan air garam dan dinetralkan
dengan NaOH 1N hingga Ph netral (6-7).
2. Lemak tersulfonasi dari limbah fleshing saat diuji yaitu
minyak mulai pecah pada suhu 55ºC.
3. Hasil lemak tersulfonasi memiliki tekstur seperti krem
berwarna putih.

11
DAFTAR PUSTAKA

Anonimus, 1997. Effluent Treatment Technologies and Solid


Waste Managemen. BLC, Madras, India
Thortensen, T.C., 1985. Practical Leather Technology.3 Ed.
Robert E, Krieger Publishing Co, Krieger Drive Kalabar,
Florida

Wilarso D dan Iffatul Fat;r,i. 1979. Laporan Penelitian


Pemanfaatan Limbah Minyak Goreng. Balai Industri,
Semarang

12