Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi

Sinusitis akhiran umum dalam kedokteran itis berarti peradangan karena itu sinusitis adalah
suatu peradangan sinus paranasal. Sinusitis adalah penyakit yang terjadi di daerah sinus. Sinusitis
adalah merupakan penyakit infeksi sinus yang disebabkan oleh kuman atau virus. Sinus itu sendiri
adalah rogga udara yang terdapat di area wajah yang terhubung dengan hidung.

Fungsi dari rongga sinus sendiri adalah untuk menjaga kelembapan hidung dan menjaga
pertukaran udara di daeranh hidung. Rongga sinus sendiri terdiri dari 4 jenis yaitu :

1. Sinus Frontal, terletak dibagian tengah dari masing-masing alis

2. Sinus Maxillary, terletak diantara tulang pipi, tepat di sampig hisung

3. Sinus Ethmooid, terletak di antara mata, tepat dibelakang tulang hidung

4. Sinus Sphenoid, terletak dibelakang sinus ethmoid dan di belakang mata

Didalam rongga sinus terdapat lapisan yang terdiri dari bulu-bulu halus yang disebut dengan cilia.
Fungsi cilia ini adalah untuk mendorong lender yang diproduksi didalam sinus menuju kesaluran
parnafasan. Gerakan cilia mendorong lender ini berguna untuk membersihkan saluran nafas dari
kotoran ataupun organism yang mungkin ada. Ketika lapisan rongga sinus yang menyebabkan
lender terperangkap di rongga sinus dan menjadi tempat tumbuhnya bakteri. Jadi sinusitis terjadi
apabila terjadi peradangan didaerah lapisan rongga sinus yang menyebabkan lender
terperangkap dirongga sinus dan menadi tempat tumbuhya bekteri.

Sinusitas sendiri dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu :

Ø Sinusitas Akut : gejala dirasakan selama 2-8 minggu

Ø Sinusitas Kronis : biasanya gejala dirasakan lebih dari 8 minggu.

B. Anatomi dan fisiologi


Gambar anatomi pada sinus paranasal

Ada empat pasang sinus paranasal yaitu sinus maksila, sinus frontal, sinus etmoid dan sinus
sfenoid kanan dan kiri. Sinus paranasal merupakan hasil pneumatisasi tulang-tulang kepala,
sehingga terbentuk rongga di dalam tulang. Semua sinus mempunyai muara ke rongga hidung.

Secara embriologik, sinus paranasal berasal dari invaginasi mukosa rongga hidung dan
perkembangannya dimulai pada fetus usia 3-4 bulan, kecuali sinus sfenoid dan sinus frontal. Sinus
maksila dan sinus etmoid telah ada saat anak lahir, sedangkan sinus frontal berkembang dari dari
sinus etmoid anterior pada anak yang berusia kurang lebih 8 tahun. Pneumatisasi sinus sfenoid
dimulai pada usia 8-10 tahun dan berasal dari bagian postero-superior rongga hidung. Sinus-sinus
ini umumnya mencapai besar maksila 15-18 tahun.

C. Patofisiologi

Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari
mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung
substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang
masuk bersama udara pernafasan.

Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga
menyebabkan tersumbatnya ostium. Hal ini menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus
yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus. Efek awal yang
ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang
dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini
akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah
menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika
terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan
semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi,
polipoid atau pembentukan polip dan kista.

D. Patoflow

E. Etiologi (Penyebab)

Sinusitis bisa bersifat akut (berlangsung selama 3 minggu atau kurang) maupun kronis
(berlangsung selama 3-8 minggu tetapi dapat berlanjut sampai berbulan-bulan bahkan bertahun-
tahun).
1. Penyebab sinusitis akut:

a. Infeksi virus.

Sinusitis akut bisa terjadi setelah suatu infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas
(misalnya pilek).

b. Infeksi Bakteri.

Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa jenis bakteri yang dalam keadaan normal tidak
menimbulkan penyakit (misalnya Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae). Jika
sistem pertahanan tubuh menurun atau drainase dari sinus tersumbat akibat pilek atau infeksi
virus lainnya, maka bakteri yang sebelumnya tidak berbahaya akan berkembang biak dan
menyusup ke dalam sinus, sehingga terjadi infeksi sinus akut.

c. Infeksi jamur.

Kadang infeksi jamur bisa menyebabkan sinusitis akut, Aspergillus merupakan jamur yang bisa
menyebabkan sinusitis pada penderita gangguan sistem kekebalan. Pada orang-orang tertentu,
sinusitis jamur merupakan sejenis reaksi alergi terhadap jamur. Peradangan menahun pada
saluran hidung. Pada penderita rinitis alergika bisa terjadi sinusitis akut. Demikian pula halnya
pada penderita rinitis vasomotor.

Sinusitis akut lebih sering terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan dan penderita
kelainan sekresi lendir (misalnya fibrosis kistik).

2. Penyebab sinusitis kronis:

a. Asma

b. Penyakit alergi (misalnya rinitis alergika)

c. Gangguan sistem kekebalan atau kelainan sekresi maupun pembuangan lendir.

F. Manifestasi Klinik

Gejala khas dari kelainan pada sinus adalah sakit kepala yang dirasakan ketika penderita bangun
pada pagi hari. Sinusitis akut dan kronis memiliki gejala yang sama, yaitu nyeri tekan dan
pembengkakan pada sinus yang terkena, tetapi ada gejala tertentu yang timbul berdasarkan sinus
yang terkena:

Ø Sinusitis maksilaris menyebabkan nyeri pipi tepat di bawah mata, sakit gigi dan sakit kepala.
Ø Sinusitis frontalis menyebabkan sakit kepala di dahi.

Ø Sinusitis etmoidalis menyebabkan nyeri di belakang dan diantara mata serta sakit kepala di
dahi. Peradangan sinus etmoidalis juga bisa menyebabkan nyeri bila pinggiran hidung di tekan,
berkurangnya indera penciuman dan hidung tersumbat.

Ø Sinusitis sfenoidalis menyebabkan nyeri yang lokasinya tidak dapat dipastikan dan bisa
dirasakan di puncak kepala bagian depan ataupun belakang, atau kadang menyebabkan sakit
telinga dan sakit leher.

Gejala lainnya adalah:

- tidak enak badan

- demam

- letih, lesu

- batuk, yang mungkin semakin memburuk pada malam hari

- hidung meler atau hidung tersumbat.

G. Pemeriksaan Penunjang

1. Rinoskopi anterior :

§ Mukosa merah

§ Mukosa bengkak

§ Mukopus di meatus medius

2. Rinoskopi postorior

§ Mukopus nasofaring

H. Penatalaksanaan

Drainage

Medical :

Dekongestan lokal : efedrin 1%(dewasa) ½%(anak)

Dekongestan oral sedo efedrin 3 X 60 mg

Surgikal : irigasi sinus maksilaris.

Antibiotik diberikan dalam 5-7 hari (untk akut) yaitu :

Ampisilin 4 x 500 mg
Amoksilin 3 x 500 mg

Sulfametaksol=TMP (800/60) 2 x 1tablet

Diksisiklin 100 mg/hari

Simtomatik

Prasetamol, metampiron 3 x 500 mg.

Untuk kronis adalah :

Cabut geraham atas bila penyebab dentogen

Irigasi 1 x setiap minggu (10-20)

Operasi Cadwell Luc bila degenerasi mukosa ireversibel (biopsi)

Tujuan pengobatan sinusitis akut adalah untuk mengontrol infeksi, memulihkan kondisi mukosa
nasal, dan menghilangkan nyeri.

Sinusitis akut dapat sembuh spontan atau dapat sembuh hanya dengan pemberian obat.Sinusitis
akut perlu dilakukan operasi jika penderita sakit berat atau telah terjadi komplikasi atau terjadi
akibat kelainan anatomi.

Sinusitis kronik perlu dilakukan operasi disamping dengan pemberian obat.Prinsip penanganan
sinusitis adalah disamping penanganan sinusitisnya juga harus dilakukan penanganan terhadap
penyebabnya.Cara operasi paling mutakhir terhadap sinusitis adalah dengan metode FESS
(Functional Endoscopic Sius Surgery) atau BSEF (Bedah Sinus Endoskopik Fungsional)
(Budisantoso, 2009).

B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

a. Biodata : Nama ,umur, sex, alamat, suku, bangsa, pendidikan, pekerjaan.

b. Riwayat Penyakit sekarang : bernafas melalui mulut, kapan, onset, frekwensinya, riwayat
pembedahan hidung atau trauma.
c. Keluhan utama : penderita mengeluh nyeri kepala sinus, malaise, dan nyeri tenggorokan.

d. Riwayat penyakit dahulu :Pasien pernah menderita penyakit akut dan perdarahan hidung
atau trauma, Pernah mempunyai riwayat penyakit THT, Pernah menderita sakit gigi geraham

e. Riwayat keluarga : Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga klien yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang.

f. Riwayat Psikososial : Intrapersonal yaitu perasaan yang dirasakan klien (cemas/sedih),


interpersonal : hubungan klien dengan orang lain sangat baik.

g. Pola fungsi kesehatan

1) Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat : Untuk mengurangi flu biasanya klien
menkonsumsi obat tanpa memperhatikan efek samping.

2) Pola nutrisi dan metabolisme : biasanya nafsumakan klien berkurang karena terjadi
gangguan pada hidung

3) Pola istirahat dan tidur : selama di rumah sakit klien merasa tidak dapat istirahat karena
klien sering pilek

4) Pola Persepsi dan konsep diri : klien sering pilek terus menerus dan berbau menyebabkan
konsepdiri menurun

5) Pola sensorik : daya penciuman klien terganggu karena hidung buntu akibat pilek terus
menerus (baik purulen , serous, mukopurulen).

h. Pemeriksaan fisik

1) Status kesehatan umum : keadaan umum , tanda vital, kesadaran.

2) Pemeriksaan fisik data fokus hidung : nyeri tekan pada sinus, rinoskopi (mukosa merah dan
bengkak).

2. Diagnosa Keperawatan

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi sekunder dari
peradangan sinus.

b. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada sinus.

c. Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan
menurun sekunder dari peradangan sinus.
d. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan sinus.

e. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur
tindakan medis (operasi)

3. Rencana Keperawatan

a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan dengan obstruksi sekunder


peradangan sinus.

Tujuan : Bersihan jalan nafas kembali efektif.

Kriteria Hasil : Jalan napas kembali normal terutama hidung dan klien bernapas tidak lagi
melalui mulut.

Intervensi :

1) Kaji penumpukkan sekret yang ada.

Rasional :Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya.

2) Kaji pasien untuk posisi semi fowler, misalnya : Peninggian kepala tempat tidur, duduk pada
sandaran tempat tidur.

Rasional :Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernapasan dengan


menggunakan gravitasi.

3) Pertahankan posisi lingkungan minimum, misalnya debu, asap dan bulu bantal yang
berhubungan dengan kondisi individu.

Rasional :Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.

4) Dorong/bantu latihan nafas abdomen atau bibir.

Rasional :Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol pernapasan.

b. Nyeri berhubungan dengan peradangan pada luka operasi.

Tujuan : Nyeri berkurang atau hilang.

Kriteria Hasil : Klien mengungkapakan nyeri yang dirasakan berkurang atau hilang, klien
tidak menyeringai kesakitan

Intervensi :
1) Kaji tingkat nyeri klien dengan Provokatif, Quality, Region, Severity, Thine.

Rasional : Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan selanjutnya.

2) Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya. Rasional : Dengan mengetahui
sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk mengurangi nyeri.

3) Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi.

Rasional : Dengan tehnik distraksi dan relaksasi klien dapat mempraktekkannya bila mengalami
nyeri sehingga nyerinya dapat berkurang.

4) Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien.

Rasional : Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.

5) Kolaborasi untuk penggunaan analgetik.

Rasional : Dapat mengurangi nyeri.

c. Perubahan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan nafus makan
menurun sekunder dari peradangan sinus.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan menuju tujuan yang tepat.
Menunjukkan perilaku/perubahan pola hidup untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan
berat yang tepat.

Intervensi :

1) Kaji kebiasaan diet, masukan makanan saat ini, catat kesulitan makan, evaluasi berat badan
dan ukuran tubuh.

Rasional : Untuk mengetahui tingkat kesulitan klien dan tindakan yang harus dilakukan.

2) Auskultasi bunyi usus.

Rasional : Penurunan atau hipoaktif bising usus menunjukkan penurunan mobilitas gaster dan
konstipasi (komplikasi umum) yang berhubungan dengan pembatasan pemasukkan cairan, pilihan
makanan buruk, penurunan aktivitas, dan hipoksemia.

3) Beri perawatan oral sering, buang sekret, berikan wadah khusus untuk sekali pakai dan tisu.

Rasional : Rasa tak enak, bau dan penampilan adalah pencegah utama terhadap nafsu makan dan
dapat membuat mual muntah dengan peningkatan kesulitan nafas.
d. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hiidung buntu, nyeri sekunder peradangan
sinus.

Tujuan : Istirahat tidur kembali normal.

Kriteria Hasil : Menyatakan pemahaman penyebab/faktor resiko individu dan Klien dapat
tidur 6 sampai 8 jam setiap hari.

Intervensi :

1) Kaji kebutuhan tidur klien.

Rasional : Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur.

2) Ciptakan suasana yang nyaman.

Rasional : Agar klien dapat tidur dengan tenang

3) Anjurkan klien bernafas lewat mulut.

Rasional : Pernafasan tidak terganggu.

4) Kolaborasi dengan tim medis pemberian obat.

Rasional : Pernapasan dapat efektif kembali lewat hidung.

e. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan klien tentang penyakit dan prosedur
tindakan medis (operasi).

Tujuan : Cemas klien berkurang.

Kriteria Hasil : Klien akan menggambarkan tingkat kecemasan dan pola kopingnya dan klien
mengetahui dan mengerti tentang penyakit yang dideritanya serta pengobatannya.

Intervensi :
1) Kaji tingkat kecemasan klien.

Rasional : menentukan tindakan berikutnya.

2) Jelaskan atau kuatkan penjelasan proses penyakit individu.

Rasional : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana
pengobatan.

3) Diskusikan obat pernapasan, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.

Rasional : Pasien ini sering mendapat obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek
samping hampir sama dan potensial interaksi obat.

4) Diskusikan faktor individu yang meningkat kondisi, misalnya udara terlalu kering, angin,
lingkungan dengan suhu ekstrim, serbuk, asap, sprei aerosol, dan polusi udara.

Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan atau meningkatkan iritasi.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Data pasien

Nama : Ny “I”
Umur : 52 tahun

Diagnosa medis : Sinusitis

Tindakan : Operasi

Ruang : Ruang bedah

No. Register :-

Tanggal : 29 april 2013

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Tani

Alamat : Jl.H. Faqih usman.Ir.Hijriah RT.041. Rw 008

2. Pengkajian

Klien tiba di ruang operasi dengan : IV ( Infus )

Alergi : Tidak

Penampilan kulit : Normal

Kondisi emosi : Cemas

Jenis anastesi : Umum

Jenis operasi : Bersih terkontaminasi

Posisi tangan : Telentang

Catheter : Tidak

Disinfeksi : Betadin dan Alkohol

Monitor anastesi : ya

Mesin anastesi : ya

Mulai ; 12.00 s/d 12.30 WIB

Cairan : RL

Tampon : 2 kassa setelah operasi

Masuk RR jam : 13. 45 WIB

Tanda vital : TD : 110/ 70 mmHg


RR : 20 x/menit

Temp : 37 C

Puls : 73 x/menit

Keadaan umum : Sedang

Kesadaran : Apatis

Pernafasan : Tidak teratur

Sirkulasi : Merah muda

Tugor kulit : tidak

Mukosa mulut : Kering

Extrimitas : Hangat

Posisi : Telentang

Cairan draiin : Tidak

3. Riwayat kesehatan

Data Subjektif

a. Pasien mengatakan nyeri pada daerah operasi

b. Pasien mengatakan susah bernafas melalui hidung

c. Susah tidur

Data Objektif

a. Ekspresi wajah meringis

b. Jalan nafas tidak efektif

c. Lemah

d. OS sering terbangun
Riwayat penyyakit kelluarga

Klien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang mengalami atau menderita penyakit yang
sama dengan klien dan tidak mengalami penyakit keturunan.

B. Diagnosa Keperawatan

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan pemasangan tampon hidung


terhadap post operasi paradangan sinus.

2. Nyeri berhubungan dengan luka operasi ditandai dengan klien mengeluh nyeri dihidung,
ekspresi wajah meringis, tingkat skala nyeri 5 (nyeri sedang).

3. Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan hidung buntu, nyeri sekunder peradangan
sinus.
ANALISA DATA

NO DATA ETIOLOGI MASALAH

1 DS :

- Klien mengatakan sulit bernafas melalui hidung

- Klien mengatakan sesak nafas

DO :

- Klien terlihat sulit bernafas melalui hidung dan bernafas melalui mulut

- Pernafasan terlihat lambat

- Pasien terlihat tidak nyaman

- RR : 14 x/m

- TD : 110/70 mmHg

- T : 36

- N : 60 x/m Pembedahan

Anastesi

Pemasangan tampon

Aspirasi

Akumulasi secret

Ketidakefiktifan jalan napas


Keidakefektifan jalan nafas

2.

DS :

- Klien mengatakan terasa nyeri pada bagian luka

DO :

- Klien terlihat tidak nyaman, skala nyeri 6

- Klien terlihat meringis kesakitan

- Ekspresi wajah meringis

- TD : 110/ 70 mmHg

- RR : 14 x/m

- T : 36

- N : 60 x/m

P : Pengaruh hilangnya anastesi

Q : Tajam

R : Hidung

S:6

T : 5 menit

Pembedahan

Terputusnya inkontinuitas jaringan

Hormon BPH meningkat

Merangsang SSp

Sensasi rasa nyeri


Nyeri : luka

3. DS :

- Klien mengatakan susah tidur

- Klien mengatakan sering terbangun

- Klien mengatakan hidung buntu

- Klien mengeluh sesak napas saat tidur

DO :

- Klien sering terbangun

- Nafas pendek

- RR : 14 x/m

- TD : 110/ 70 mmHg

- RR : 14 x/m

- T : 36

- N : 60 x/m

Pembedahan

Pemasangan tampon pada hidung


Hidung buntu

Kualitas tidur terganggu

Gangguan rasa aman dan nyaman istirahat tidur

RENCANA KEPERAWATAN

No DIAGNOSA

KEPERAWATAN

(DS,DO) TUJUAN

(SMART) INTERVENSI

KEPERAWATAN RASIONALISASI NAMA &TT

PERAWAT

1. Ketidakefektifan jalan nafas

DS :
- Klien mengatakan sulit bernafas melalui hidung

- Klien mengatakan sesak nafas

DO :

- Klien terlihat sulit bernafas melalui hidung dan bernafas melalui mulut

- Pernafasan terlihat lambat

- - Pasien terlihat tidak nyaman

- RR : 14 x/m

- TD : 110/70 mmHg

- T : 36

- N : 60 x/m - jalan nafas kembali efektif.

- klien bernapas tidak lagi melalui mulut.

- Klien merasa aman dan nyaman saat bernafasa atelah POST-OP.

1. Kaji penumpukan secret yang ada

2. Observasi tanda-tanda vital.

3. Berikan latihan batuk efektif

4. Lakukan tindakan sunction

5. Berikan terapi oksigen

6. Kolaborasi dengan tim medis untuk pembersihan sekret

1. Mengetahui tingkat keparahan dan tindakan selanjutnya

2. Mengetahui perkembangan klien sebelum dilakukan operasi

3. Kerjasama untuk menghilangkan penumpukan secret/masalah


4. Untuk membuang secret yangmenganggu pernafasan

2. Nyeri pada luka operasi

DS :

- Klien mengatakan terasa nyeri pada bagian luka

DO :

- Klien terlihat tidak nyaman, skala nyeri 6

- Klien terlihat meringis kesakitan

- Ekspresi wajah meringis

- TD : 110/ 70 mmHg

- - RR : 14 x/m

- T : 36

- N : 60 x/m

P : Pengaruh hilangnya anastesi

Q : Tajam

R : Hidung

S:6

T : 5 menit - Nyeri berkurang

- Pasien terlihat aman dan nyaman

a. Kaji tingkat nyeri klien

b. Jelaskan sebab dan akibat nyeri pada klien serta keluarganya

c. Ajarkan tehnik relaksasi dan distraksi

d. Observasi tanda tanda vital dan keluhan klien

e. Kolaborasi dngan tim medis :

1) Terapi konservatif :

üobat Acetaminopen; Aspirin, dekongestan hidung

üDrainase sinus
2) Pembedahan :

ü Irigasi Antral : Untuk sinusitis maksilaris.

ü Operasi Cadwell Luc a. Mengetahui tingkat nyeri klien dalam menentukan tindakan
selanjutnya

b. Dengan sebab dan akibat nyeri diharapkan klien berpartisipasi dalam perawatan untuk
mengurangi nyeri

c. Klien mengetahui tehnik distraksi dan relaksasi sehinggga dapat mempraktekkannya bila
mengalami nyeri

d. Mengetahui keadaan umum dan perkembangan kondisi klien.

e.Menghilangkan /mengurangi keluhan nyeri klien

3. Gangguan rasa aman dan nyaman istirahat dan tidur

DS :

- Klien mengatakan susah tidur

- Klien mengatakan sering terbangun

- Klien mengatakan hidung buntu

- - Klien mengeluh sesak napas saat tidur

DO :

- Klien sering terbangun

- Nafas pendek

- RR : 14 x/m

- TD : 110/ 70 mmHg

- RR : 14 x/m

- T : 36

- N : 60 x/m - klien dapat istirahat dan tidur dengan nyaman

- klien tidur sesuai dengan kebutuhan misalkan 6-8 jam/hari


- nyeri pada hidung berkurang

1. kaji kebutuhan tidur klien.

2. ciptakan suasana yang nyaman.

3. Berikan konsep dasar manusia rasa aman dan nyaman

4. Kolaborasikan dengan tim medis pemberian obat

1. Mengetahui permasalahan klien dalam pemenuhan kebutuhan istirahat tidur

2. Agar klien dapat tidur dengan tenang

3. Obat yang sesuai diberikan

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

NO TANGGAL /JAM DIAGNOSA IMPLEMENTASI KEPERAWATAN RESPON NAMA &


TT

1. 30 April 2013 Keidakefektifan jalan nafas 1. Mengkaji tingkat penumpukan


secret yang menganggu

2. Memberikan rasa aman dan nyaman

3. Mengatur posisi klien

4. Melakukan pemeriksaan tanda- tanda vital

5. Mengajarkan nafas dalam dan batuk efektif

6. Melakukan tindakan sunction

7. Melakukan terapi oksigen


8. Kolaborasi dengan tim medis

S : klien mengatakan

Tidak sulit bernafas

O : kien terlihat lebih nyaman dalam bernafas

A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi dilanjutkan

I : tindakan no 2 dilanjutkan

E : keadaan pola nafas klien mulai teratur

2. 01 Mei 2013 Nyeri : luka 1. Mengkji tingkat nyeri pada klien

2. Memberikan manajemen nyeri

3. Melatih nafas dalam

4. Menjelaskan akibat dan sebab nyeri tersebut

5. Mengajarkan tekhnik relaksasi

6. Kolaborasi dengan tim medis S : klien mengatakan nyeri berkurang

O : klien terlihat nyaman dengan skala nyeri 3

A : masalah teratasi sebagian

P: intervensi dilanjutkan
I : tindakan no 6 dilanjutkan

E : nyeri klien mulai berkurang

3. 02Mei 2013 Gangguan rasa aman dan nyaman istirahat dan tidur

1. Mengkaji pola tidur klien setiap hari

2. Memberikan konsep dasar manusia rasa aman dan nyaman pada pola istirahat dan tidur

3. Kolaborasi dengan tim medis saat pemberian obat S : klien mengatakan pola istirahat dan
tidur membaik

O : klien terlihat tenang saat tidur, 6-8 jam/hari

A : maslah teratasi sebagian

P : tindakan no 2 dan 3 dilanjutkan

I : intervensi dilanjutkan

E : pola istirahat dan tidur klien mulai membaik.


CATATAN PERKEMBANGAN

NO NO DX HARI/TANGGAL CATATAN PERKEMBANGAN PARAF

1. Dx. 1 30 Mei 2013 S : klien mengatakan pola nafasnya normal

O : klien terlihat bersih dan tidak kesulitan saat bernafas

- TD : 140/70 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 16 x/m

A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi dilanjutkan

I : tindakan dilanjutkan

E : masalah teratasi sebagian

2.
.

Dx : 2

01 Mei 2013

S : klien mengatakan nyeri klien berkurang

O : klien terlihat nyaman dan tenang

- TD : 140/70 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 16 x/m

A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi dilanjutkan

I : tindakan dilanjutkan

E : keadaan klien mulai membaik

3. Dx: 3 02 Mei 2013 S : klien mengatakan pola istirahat dan tidur teratur

O : klien terlihat nyaman dan tenang saat istirahat dan tidur

- TD : 140/70 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 16 x/m

A : masalah teratasi

P : intervensi dihentikan
I : tindakan dihentikan

E : kebutuhan rasa aman dan nyaman terpenuhi

EVALUASI KEPERAWATAN

TANGGAL/JAM DIAGNOSA EVALUASI ( SOAPIE) NAMA & TT PERAWAT

01 Mei 2013 Ketidakefektifan jalan nafas S : klien mengatakan pola nafasnya normal

O : klien terlihat nyaman dan tenang

- TD : 140/80 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 17 x/m

A : masalah teratasi

P : intervensi dihentikan
I : tindakan dihentikan

E : pola nafas klien normal dan masalah teratasi

02 Mei 2013 Nyeri : luka S : klien mengatakan nyeri berkurang

O : klien terlihat nyaman dan tenang

- TD : 140/80 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 17 x/m

A : masalah teratasi

P : intervensi dilanjutkan

I : tindakan dilanjutkan

E : nyeri pada luka klien berkurang dan masalah teratasi

03 Mei 2013 Gangguan rasa aman dan nyaman istirahat dan tidur S : klien mengatakan
tidur dengan nyaman

O : klien terlihat tenang saat istirahat dan tidur

- TD : 140/80 mmHg

- T : 36

- N : 80 x/m

- RR : 17 x/m

P : intervensi dihentikan

I : tindakan dihentikan

E : masalah teratasi dan kualitas tidur klien sesuai dengan kebutuhan