Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

HALUSINASI

I. Masalah Utama
Gangguan persepsi sensori : halusinasi

II. Proses Terjadinya Masalah


A. Pengertian

Halisinasi adalah persepsi sensori yang keliru melibatkan panca indera dalam skizofrenia,
halusinasi pendengaran merupakan halusinasi yang paling banyak terjadi (Isaacs, 2010).
Menurut Maramis (2005) halusinasi adalah pencerapan tanpa adanya apapun pada panca-
indera seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin
organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. Halusinasi adalah hilangnya kemampuan
manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia
luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau
rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada
orang yang berbicara (Kusumawati & Hartono, 2010)

B. Etiologi
Gangguan otak karena kerusakan otak, keracunan, obat halusiogenik, gangguan jiwa,
seperti emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi, psikosis yang dapat menimbulkan
halusinasi, dan pengaruh lingkungan sosio-budaya, sosio-budaya yang berbeda menimbulkan
persepsi berbeda atau orang yang berasal dari sosio-budaya yang berbeda (Sunaryo, 2004).
Secara pasti yang menyebabkan terjadinya halusinasi belum diketahui namun
ada beberapa teori yang mengungkapkan tentang halusinasi (Stuart 2007) antara lain:
a. Teori Interpersonal
Halusinasi berkembang dalam waktu yang lama dimana seseorang mengalami kecemasan
yang berat dan penuh stress.Individu akan berusaha untuk menurunkan kecemasan itu dengan
menggunakan mekanisme koping yang biasa digunakan, namun bila situasi tidak dapat
ditangani maka individu tersebut akan melanin, berangan-angan sehingga individu akan lebih
sering menyendiri dan merasa senang dalam dunianya tanpa menghiraukan orang lain dan
lingkungan sekitarnya.
b. Teori Psikoanalisa
Halusinasi merupakan pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang
ditekan dan mengancam diri akhirnya muncul dalam alam sadar.
c. Faktor Genetika
Gen mempengaruhi belum diketahui,tetapi hasil studi menunjukan bahwa factor
keluarga menunjukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit,ini dibuktikan
dengan pemeriksaan kromosom tubuh,indensi sangat tinggi pada anak dengan satu atau
kedua orang tua yang menderita atau anak kembar identik.
C. Proses terjadinya halusinasi
Individu yang mengalami halusinasi sering sekali beranggapan penyebab halusinasi
berasal dari lingkungannya, padahal rangsangan tersebut gangguan halusinasi timbul
gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah
koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan, individu cenderung menghindar
dari interaksi agar dirinya terhidar dari stresor-stresor yang mengancam pada akhirnya
individu merasa sangat nyaman dengan kondisi menyendiri sehingga dapat mengganggu
metabolisme neukokimia seperti Bufotamin dan Dimetyltransferase (DMT), hal ini
merangsang timbulnya halusinasi (Sunaryo 2004).
D. Rentang Respon Neurobiologis
Gangguan sensori persepsi : halusinasi disebabkan oleh fungsi otak yang terganggu.
Respon individu terhadap gangguan orientasi berfokus sepanjang rentang respon dari adaptif
sampai yang maladaptif, dapat dilihat dalam gambar dibawah ini :

Respon adaptif Respon mal adaptif

Gangguan
Pikiran logis Pikiran kadang menyimpang proses
pikir/delusi/waham
Persepsi
Halusinasi
Ilusi
akurat
Emosi
Ketidakmampuan
konsisten Reaksi emosional
untuk mengatasi
dengan berlebih/kurang
emosi
pengalaman
Perilaku
Perilaku ganjil Ketidak teraturan
sesuai
Hubungan
Prlaku yang bisa
sosial Isolasi sosial
menyebabkan Isolasi sosial
harmonis
( Stuart and Laraia, 2005 )
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima oleh norma-norma social dan budaya
secara umum yang berlaku didalam masyarakat, dimana individu menyelesaikan masalah
dalam batas normal yang meliputi :

1. Pikiran logis adalah segala sesuatu yang diucapkan dan dilaksanakan oleh individu
sesuai dengan kenyataan.
2. Persepsi akurat adalah penerimaan pesan yang disadari oleh indra perasaan, dimana
dapat membedakan objek yang satu dengan yang lain dan mengenai kualitasnya menurut
berbagai sensasi yang dihasilkan.
3. Emosi konsisten dengan pengalaman adalah respon yang diberikan individual sesuai
dengan stimulus yang datang.
4. Perilaku sesuai dengan cara berskap individu yang sesuai dengan perannya.
5. Hubungan social harmonis dimana individu dapat berinteraksi dan berkomunkasi
dengan orang lain tanpa adanya rasa curiga, bersalah dan tidak senang.
6. Sedangkan mal adaptif adalah suatu respon yang tidak dapat diterima oleh norma-
norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku dimasyarakat, dimana individu dalam
menyelesaikan masalah tidak berdasarkan norma yang sesuai diantaranya :
7. Gangguan proses pikir/waham adalah ketidakmampuan otak untuk memproses data
secara akurat yang dapat menyebabkan gangguan proses pikir, seperti ketakutan, merasa
hebat, beriman, pikiran terkontrol, pikiran yang terisi dan lain-lain.

1. Halusinasi adalah gangguan identifikasi stimulus berdasarkan informasi yang


diterima otak dari lima indra seperti suara, raba, bau, dan pengelihatan
2. Kerusakan proses emosi adalah respon yang diberikan Individu tidak sesuai dengan
stimulus yang datang.
3. Prilaku yang tidak terorganisir adalah cara bersikap individu yang tidak sesuai dengan
peran.
4. Isolasi social adalah dimana individu yang mengisolasi dirinya dari lingkungan atau
tidak mau berinteraksi dengan lingkungan.

A. Macam-macam Halusinasi
Halusinasi terdiri dari beberapa macam. Macam-macam halusinasi seperti halusinasi
pendengaran, halusinasi penglihatan dan lain-lain. Halusinasi adalah satu persepsi yang salah
oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal.

Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa macam halusinasi dengan karakteristik
tertentu, diantaranya:

1. Halusinasi pendengaran: karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama


suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa
yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.

2. Halusinasi penglihatan: karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam


bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan atau panorama yang luas
dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan.

3. Halusinasi penghidu: karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau
yang menjijikkan seperti: darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau harum.
Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
4. Halusinasi peraba: karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak
tanpa stimulus yang terlihat. Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati
atau orang lain.
5. Halusinasi pengecap: karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk,
amis dan menjijikkan.
6. Halusinasi sinestetik: karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti
darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine
B. Manifestasi Klinis
Menurut Hamid (2000), perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut:
1. Bicara sendiri.
2. Senyum sendiri.
3. Ketawa sendiri.
4. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata.
5. Terjadi peningkatan denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah.
6. Ketakutan.

C. Pohon Masalah

D. Masalah Keperawatan dan Data yang Perlu Dikaji


Masalah keperawatan :
1. Resiko menciderai
2. Halusinasi
3. Isolasi sosial
4. Harga diri rendah
5. Data yang Perlu Dikaji
Gangguan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif :
 Pasien mengatakan mendengar suara-suara atau kegaduhan.

 Pasien mengatakan mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.

 Pasien mengatakan mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.

Data objektif :
 Pasien berbicara atau tertawa sendiri

 Psien marah-marah tanpa sebab

 Pasien menyedengkan telinga ke arah tertentu

 Pasien menutup telinga