Anda di halaman 1dari 10

« Lasagna

Kebiasaan yang Salah Ketika Takbiran Hari Raya »


Agu 7

Makalah Pengertian zakat, Hukum zakat, Syarat, Rukun


Dan Hikmah Zakat serta Pembagian zakat
oleh La!La pada Agustus 7, 2013
BAB I
PENDAHULUAN
Zakat menurut istilah agama islam artinya „kadar harta yang tertentu, yang
diberikan kepada yang berhak menerimanya, dengan berbagai syarat.“
Hukumnya zakat adalah salah satu rukun islam yang lima, fardhu’ain atas tiap-
tiap orang yang cukup syarat-syaratnya. Zakat mulai diwajibkan pada tahun
kedua hijriyah. Firman Allah swt: “Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan
ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’
….
BAB II
PEMBAHASAN
Makalah Pengertian zakat, Hukum zakat, Syarat, Rukun Dan Hikmah Zakat
serta Pembagian zakat
A. Pengertian Zakat
Menurut lughat arti zakat adalah tumbuh (al Numuww) seperti pada zakat Al
Zar’u yang artinya bertambaha banyak dan mengandung berkat seperti pada
zaka’ al malu dan suci(thoharoh) seperti pada nafsan zakiyah dan qad aflaha
man zakkaha[1]
Sedangkan menurut Istilah zakat adalah sebagian harta yang telah diwajibkan
oleh Allah swt untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya
sebagaiman yang telah dinyatakan dalam Al Qur’an atau juga boleh diartikan
dengan kadar tertentu atas harta tertentu yang diberikan kepada orang-orang
tertentu dengan lafadz zakat yang juga digunakan terhadap bagian tertentu yang
dikeluarkan dari orang yang telah dikenai kewajiban untuk mengeluarkan
zakat[2]
Menurut Imam Maliki dalam mendefinisikan zakat bahwa zakat adalah
mengeluarkan sebagian yang khusus dari harta yang khusus pula yang telah
mencapai nishab(batas kuantitas yang mewajibkan zakat) kepada orang-orang
yang berhak menerimanya dengan catatan kepemilikan itu penuh dan mencapai
haul, bukan barang tambang dan bukan pertanian.
Menurut madzhab Syafii zakat adalah sebuah ungkapan untuk keluarnya harta
atau tubuh sesuai dengan cara khusus, sedangkanmadzhab Hambali mengatakan
Zakat adalah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk
kelompok yang khusus pula.[3]
B. Hukum Mengeluarkan Zakat
Zakat merupakan rukun ketiga dari lima rukun Islam dan zakat juga termasuk
salah satu panji-panji Islam yang penegakkannya tidak boleh diabaikan oleh
siapaun juga. Zakat telah difardzukan diMadinah pada bulan Syawwal tahun
kedua hijrah setelah kepada ummat islam diwajibkan berpuasa ramadhan.
Dasar-dasar atau landasan kewajiban mengeluarkan zakat disebutkan dalam:

 Al Qur’anS: urat Al Baqarah; 43

“Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang


yang ruku’
a) Surat At Taubah; 103
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan
Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”
b) Surat Al An’am; 141
“Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak
berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya,
zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya).
makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada
fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang berlebih-lebihan”.
c) Surat At Taubah; 5
“Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu Maka Bunuhlah orang-orang
musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.
Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. jika mereka bertaubat dan
mendirikan sholat dan menunaikan zakat, Maka berilah kebebasan kepada
mereka untuk berjalan[. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”[4].

 As Sunnah

a) Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Umar
Rosulullah bersabda
‫بني االءسال م على خمس شها دة ان ال اله االهللا و ان محمدا رسول هللا اقا مة الصالة و ايتاء الز كاة و ح‬
)‫ج البيت و صوم رمضان (متفق علبه‬
“Islam itu ditegakkan atas lima pilar: syahadat yang menegaskan bahwa tiada
tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah, mendirikan sholat, membayar
zakat, menunaikan haji dan berpuasa pada bulan ramadhan” (HR Bukahari
Muslim)[5]
b) Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah
‫ما من صاحب كنز ال يؤ دي ز كا ته اال احمي عليه في نارجهنم فيجعل صفا ئح فتكوى بها جنبا ه و جبهت‬
‫الحد يث‬-‫ه‬
)‫(رواه احمد و مسلم‬
“Seseorang yang menyimpan hartanya tidak dikeluarkan zakatnya akan dibakar
dalam neraka jahnnam baginya dibuatkan setrika dari api, kemudian
disetrikakan ke lambung dan dahinya-Al Hadits (HR Ahmad dan Muslim)[6]
c) Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani dal buku Al Ausath dan As Saghir
dari Ali
‫ان هللا فرض على اغنياء المسا عين في اموا لهم بقد ر الذي يسع فقرا ئهم ولن يجهد الفقراء اذا جا عوا او‬
‫عروا اال بما يصنع اغنيا ئهم اال وان هللا يحا سبهم حسابا شديدا و يعذ بهمعذابااليما‬
“Allah ta’ala mewajibkan zakat pada harta orang-orang kaya dari kaum
muslimin sejumlah yang dapat melapangi orang-orang miskin diantara merela
fakir miskin itu tiadalah akan menderita menghadapi kelaparan dan kesulitan
sandang kecuali karena perbuatan golongan dan kaya, ingatlah Allah akan
mengadili mereka nanti nanti secara tegas dan menyiksa mereka dengan
pedih”[7]
Ijma’ Ulama’
Ulama baik salaf (tradisional) maupun khalaf (modern) telah sepakat akan
kewajiban zakat dan bagi yang mengingkarinya berarti telah kafir dari Islam[8].
C. Syarat, Rukun Dan Hikmah Zakat
Zakat mempunyai beberapa syarat wajib dan syarat sah. Menurut jumhur ulama
syarat wajib zakat terdiri dari:
1. Islam
2. Merdeka
3. Baligh dan Berakal
4. Harta yang dikeluarkan adalah harta yang wajib dizakati
Harta yang memiliki criteria ini ada lima jenis antara lain:

 Uang, emas, perak baik berbentuk uang logam maupun uang kertas
 Barang tambang dan barang temuan
 Barang dagangan
 Hasil tanaman dan buah-buahan
 Binatang ternak (menurut jumhur ulama yang merumput sendiri atau
menurut Maliki binatang yang diberi makan)

5. Harta yang dizakati telah mencapai nishab atau senilai dengannya


6. Harta yang dizakati adalah milik penuh
7. Kepemilikan harta telah mencapai haul (setahun)
8. Harta tersebut bukan termasuk harta hasil hutang
9. Harta yang akan dizakati melebihi kebutuhan pokok
Dan diantara syarat-syarat sah pelaksanaan zakat terdiri atas:
1. Niat
2. Tamlik (memindahkan kepemilikan kepada penerimanya)
Rukun zakat adalah mengeluarkan sebagian dari nisab(harta) yang dengan
melepaskan kepemilikan terhadapnya, menjadiakannya sebagai milik orang
fakir dan menyerahkannya kepadanya atau harta tersebut diserahkan kepada
wakilnya yakni imam atau orang yang bertugas untuk memungut zakat.[9]
Diantara hikmah disyariatkannya zakat adalah bahwa pendistribusiannya
mampu memperbaiki kedudukan masyarakat dari sudut moral dan material
dimana ia dapat menyatukan anggota-anggota masyarakatnya menjadi seolah-
olah sebuah tubuh yang satu, selain dari itu zakat juga dapat membersihkan jiwa
anggota masyarakat dari sifat pelit dan bakhil. Zakat juga merupakan benteng
keamanan dalam system ekonomi islam sebagai jaminan kearah stabilitas dan
kesinambungan sejarah social masyarakat.
Diantara hikmah zakat yang lain yang saling menguntungkan baik dari pihak
sang kaya maupun dari pihak si miskin antara lain:

 menolong orang yang lemah dan susah agar dia dapat menunaikan
kewajibannya terhadap Allah dan terhadap makhluk Allah (masyarakat)
 membersihkan diri dari sifat kikir dan akhlak yang tercela, serta
membayarkan amanat kepada orang yang berhak dan berkepentingan
 sebagai ucapan syukur dan trimakasi atas nikmat kekayaan yang
diberikan kepadanya
 guna menjaga kejahatan-kejahatan yang akan timbul dari si miskin dan
yang susah
 guna mendekatkan hubungan kasih sayang dan cinta mencintai antara si
miskin dan si kaya[10]
 penyucian dari bagi orang yang berpuasa dari kebatilan dan kekokohan
untuk memberi makan kepada orang miskin serta sebagai rasa syukur
kepada Allah atas selesainya menunaikan kewajiban puasa[11]

D. Zakat terbagi atas dua jenis yakni


Zakat Fitrah, zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada
bulan Ramadhan. Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram/3,5 liter makanan
pokok yang ada di daerah bersangkutan. Zakat Maal (Zakat Harta), mencakup
hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil ternak, harta temuan,
emas dan perak. Masing-masing tipe memiliki perhitungannya sendiri-sendiri.
E. Zakat Fitrah
Makna zakat fitrah, yaitu zakat yang sebab diwajibkannya adalah futur (berbuka
puasa) pada bulan ramadhan disebut pula dengan sedekah. Lafadh sedekah
menurut syara’ dipergunakan untuk zakat yang diwajibkan, sebagaimana
terdapat pada berbagai tempat dalam qur’an dan sunnah. Dipergunakan pula
sedekah itu untuk zakat fitrah, seolah-olah sedekah dari fitrah atau asal
kejadian, sehingga wajibnya zakat fitrah untuk mensucikan diri dan
membersihkan perbuatannya.
Dipergunakan pula untuk yang dikeluarkan disini dengan fitrah, yaitu bayi yang
di lahirkan. Yang menurut bahasa-bukan bahasa arab dan bukan pula mu’arab
(dari bahasa lain yang dianggap bahas arab)-akan tetapi merupakan istilah para
fuqoha’.
Zakat fitrah diwajibkan pada kedua tahun hijrah, yaitu tahun diwajibkannya
puasa bulan ramadhan untuk mensucikan orang yang berpuasa dari ucapan
kotor dan perbuatan yang tidak ada gunanya, untuk memberi makanan pada
orang-orang miskin dan mencukupkan mereka dari kebutuhan dan meminta-
minta pada hari raya.
Zakat ini merupakan pajak yang berbeda dari zakat-zakat lain, seperti memiliki
nisab, dengan syarat-syaratnya yang jelas, pada tempatnya. Para fuqoha’
menyebut zakat ini dengan zakat kepala, atau zakat perbudakan atau zakat
badan. Yang dimaksud dengan badan disini adalah pribadi, bukan badn yang
merupakan dari jiwa dan nyawa.
Adapun dalil atau dasar kewajibannya zakat fitrah adalah berdasarkan atas:
a. Al Qur’an : Surat Al A’la; 14
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)”
Surat Al Baqarah; 43
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang
yang ruku’”[12]
b. As Sunnah
‫ زكاة الفطر من رمضان على الناس صا عا من تمر او صا عا‬.‫م‬.‫عن ابن عمر قال فرض رسول هللا ص‬
‫من شعير على كل حر او عبد ذكرا و انثى من المسلمين (رواه البخا رى ومسلم)وفى البخارى وكان يعط‬
‫ون قبل الفطر بيوم او يومين‬
“Dari Ibn Umar ia berkata: Rasulullah saw mewajibkan zakat fitri(berbuka)
bulan ramadhan sebanyak satu sha’(3,1 liter) kurma atau gandum atas tiap-tiap
orang muslim merdeka atau hamba, laki-laki atau perempuan”(HR Bukhari
Muslim), dalam hadits Bukhari disebutkan “mereka membayar fitrah itu sehari
atau dua hari sebelum hari raya”[13]
Adapun hikmah dari kewajiban zakat fitrah adalah penyucian diri bagi orang
yang berpuasa dari kebatilan dan kekotoran, untuk memberi makan kepada
orang-orang miskin serta sebagai ras syukur kepada Allah atas selesainya
menunaikan kewajiban puasa. Rasulullah juga menerangkan tentang waktu
mengeluarkannya yaitu sebelum sholat id, yang dimulai sejak waktu utamanya
yaitu setelah tenggelamnya matahari pada malam id (menurut Tsauri, Ahmad,
Ishak dan Syafii dalam Al Jadid serta menurut satu berita juga dari Malik)[14].
Dibawah ini akan diterangkan beberapa waktu dan hukum membayar zakat
fitrah antara lain:
1. Waktu yang di bolehkan yaitu dari awal ramadhan sampai hari penghabisan
ramadhan
2. Waktu wajib, yaitu mulai terbenam matahari penghabisan ramadhan
3. Waktu yang lebih baik (sunnat), yaitu dibayar sesudah shalat subuh sebelum
pergi sholat hari raya
‫ زكاة الفطر طهرة للصا ئم و طعمة للمسا كين فمن اداها قبل‬.‫م‬.‫ فرض رسول هللا ص‬:‫عن ابن عباس قال‬
‫الصالة فهي زكاة مقبو لة ومن اداها بعد الصالة فهي صدفة من الصدفات‬
“Dari Ibn Abbas, ia berkata: telah diwajibkan oleh rasulullah saw zakat fitrah
sebagai pembersih bagi orang puasa dan memberi makan bagi orang miskin,
barang siapa yang menunaikannya sebelum sholat hari raya maka zakat itu
diterima, dan barang siapa membayarnya sesudah sholat hari raya maka zakat
itu sebagai sedekah biasa”(HR Abu Dawud dan Ibn Majah)
4. Waktu makruh, yaitu membayar fitrah sesudah hari raya tetapi sebelum
terbenam matahari pada hari raya
5. Waktu haram, yaitu dibayar sesudah terbenam matahari pada hari raya[15].
Rasulullah juga menganjurkan agar zakat dikeluarkan atas bayi yang masih
dalam kandungan sebagaiman dilakukan oleh Ustman bin Affan r. a.[16],
menurut Tsauri, Ahmad, Ishak dan Syafii tidak wajib dikelurkan zakat ats bayi
yang dilahirkan setelah waktu diwajibkannya mengeluarkan zakat dan menurut
Abu Hanifah, Laits, Syafii masih tetap wajib dikeluarkan zakat ats bayi tersebut
karena lahirnya sebelum waktu diwajibkan[17]. Dengan demikian anak yang
telah lahir pada saat matahari terbenam dan istri pada saat itu telah dinikahi dan
menjadi tanggungannya maka wajib dikeluarkan zakat fitrahnya begitu juga
dengan sebaliknya[18].
Adapun tujuan dari zakat fitrah adalah memenuhi kebutuhan orang-orang
miskin pada hari raya idul fitri dan untuk menghibur mereka dengan sesuatu
yang menjadi makanan pokok penduduk negeri tersebut[19]. Adapun syarat-
syarat wajib zakat fitrah terdiri atas:
1. Islam
2. Lahir sebelum terbenam matahari pada hari penghabisan bulan ramadhan
3. Memiliki lebihan harta dan keperluan makanan untuk dirinya sendiri dan
untuk yang wajib dinafkahinya baik manusia ataupun binatang pada malam hari
raya dan siang harinya, sabda rasulullah
)‫فاعلمهم ان هللا فترض عليهم صدقة تؤ خذ من اغنيا ئهم فترد على فقرا ئهم (رواه الجماعة‬
“Beritahukanlah kepada mereka (penduduk yaman), sesungguhnya Allah telah
mewajibkan kepada mereka sedekah(zakat) yang diambil dari orang-orang kaya
diberikan kepada orang-orang fakir dikalangan mereka” (HR Jamaah ahli
hadits)[20]
F. Zakat Maal (harta)
Menurut terminologi (bahasa) harta adalah segala sesuatu yang di inginkan
sekali oleh manusia untuk memiliki, memanfaatkan dan menyimpannya.
sedangkan menurut istilah syara’ harta adalah segala sesuatu yang dapat di
miliki dan dapat di manfaatkan. sesuatu dapat disebut dengan maal(harta)
apabila memenuhi dua syarat antara lain:
a. Dapat dimiliki, dikuasai, dihimpun dan disimpan
b. Dapat di ambil manfaatnya sesuai dengan ghalibnya seperti rumah, mobil
ternak dan lain sebagainya.
Harta (maal) yang Wajib di Zakati
1. Binatang Ternak seperti: unta, sapi, kerbau, kambing, domba dan unggas
(ayam, itik, burung).
2. Emas Dan Perak
3. Biji makanan yang mengenyangkan seperti beras, jagung, gandum, dan
sebagainya
4. Buah-buahan seperti anggur dan kurma
5. Harta Perniagaan
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sehubungan dengan harta manusia terbagi pada tiga tingkatan:

 Sanggup mengorbankan hartanya untuk keperluan dirinya sendiri, untuk


menolong orang yang susah, membantu kemaslahatan dan kemajuan
agama, kemakmuran bangsa dan tanah air.
 Tidak sanggup membelanjakan hartanya kecuali untuk kesenangan dan
kemegahan hawa nafsunya sendiri. Tingkatan ini tidak jauh bedanya
dengan hewan liar.
 Orang yang telah diberi rezeki oleh Allah, mendapat harta banyak,
sedangkan dia tidak mengambil manfaatnya, baik untuk dirinya sendiri
maupun untuk orang lain, hanya dikumpulkan dan dijaganya supaya
jangan keluar dari tangannya. Dia semata-mata suka dan kasih pada zat
harta, bukan pada manfaatnya.

DAFTAR PUSTAKA

 Nasution, Lahmanudin, Fiqih 1, (Bandung: Jaya Baru, 1998)


 Ar Rahman, Syaikh Muhammad Abdul Malik, 1001 Masalah Dan
Solusinya, (Jakarta: Pustaka Cerdas Zakat, 2003),
 Al Zuhayly, Wahbah, Al Fiqh Al IslamiAdillatuh, (Damaskus: Dar Al
Fikr, 1995),
 Al Fauzan, Saleh, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani, 2006),
 Rasyid, Sulaiman Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1994),
 Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah 3, (Bandung: PT Al Maarif, 1982),

_______________
[1] Lahmanudin Nasution, Fiqih 1, (Bandung: Jaya Baru, 1998) h: 145
[2] Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, 1001 Masalah Dan Solusinya,
(Jakarta: Pustaka Cerdas Zakat, 2003), h: 2
[3] Wahbah Al Zuhayly, Al Fiqh Al IslamiAdillatuh, (Damaskus: Dar Al Fikr,
1995), h: 83-85
[4] Saleh Al Fauzan, Fiqih Sehari-hari, (Jakarta: Gema Insani, 2006), h: 244
[5] Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, 1001 Masalah Dan Solusinya,
(Jakarta: Pustaka Cerdas Zakat, 2003), h: 12
[6] Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1994),
h:193
[7] Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah 3, (Bandung: PT Al Maarif, 1982), h:193
[8] Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, opcit, h: 12
[9] Ibid, h: 97
[10] Syaikh Muhammad Abdul Malik Ar Rahman, opcit, h: 17
[11] Sulaiman Rasyid, opcit, h: 217-218
[12] Lahmanudin Nasution, opcit, h: 168
[13] Saleh Al Fauzan, opcit, h: 272
[14] Sayyid Sabiq, opcit, h: 127
[15] Sulaiman Rasyid, opcit, h: 210
[16] Saleh Al Fauzan, opcit, h: 273
[17] Sayyid Sabiq, opcit, h: 128
[18] Lahmanudin Nasution, opcit, h: 170
[19] Saleh Al Fauzan, opcit, h: 274
[20] Sulaiman Rasyid, opcit, h: 208
KATA PENGANTAR

Assalamualikum Wr.Wb
Puji syukur senantiasa selalu kita panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan limpahan Rahmat,Taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah ini. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah menunjukan jalan kebaikan dan kebenaran di dunia dan akhirat
kepada umat manusia.
Makalah ini di susun guna memenuhi tugas mata kuliah Fiqih dan juga untuk
khalayak ramai sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan serta informasi yang semoga
bermanfaat.
Makalah ini kami susun dengan segala kemampuan kami dan semaksimal mungkin.
Namun, kami menyadiri bahwa dalam penyusunan makalah ini tentu tidaklah sempurna dan
masih banyak kesalahan serta kekurangan.Maka dari itu kami sebagai penyusun makalah ini
mohon kritik, saran dan pesan dari semua yang membaca makalah ini terutama Dosen Mata
Kuliah Fiqih yang kami harapkan sebagai bahan koreksi untuk kami.
Wa’alaikumsalam Wr.Wb

Purwokerto, 29 Oktober 2013

Tim Penyusun

Artikel terkait : Contoh Kata Pengantar dan Daftar Isi


Makalah
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN
Latar Belakang .............................................................................................................. 1

Rumusan Masalah .............................................................................................................. 1

BAB II. PEMBAHASAN

A. Benda Yang Wajib dizakati.................................................................................... 2

B. Nisab Zakat ..................................................................................................... 6

C. Hasil Tambang......................................................................................................... 12

D. Zakat Rikaz (Harta Terpendam).............................................................................. 12

E. Zakat Fitrah 13

F. Orang Yang Berhak Menerima Zakat .................................................................... 14

G. Hikmah (guna) Zakat.............................................................................................. 15

BAB III. PENUTUP

Kesimpulan 16

DAFTAR PUSTAKA