Anda di halaman 1dari 3

Nama Uswatun Chasanah

NIM 1805026140
Kelas Ekonomi Islam-D

Judul : EPISTEMOLOGI ISLAM : KEDUDUKAN WAHYU SEBAGAI SUMBER ILMU

Penulis : Anwar Mujahidin

Tahun : 2013

Volume dan Halaman : Volume 17 No.1 Hal 41-62

Latar belakang

Ilmu pengetahuan saat ini telah mengalami perkembangan yang begitu pesat. Teknologi
yang dibuat oleh para ilmuwan pun semakin canggih, membuat manusia semakin mudah untuk
mengerjakan sesuatu. Namun, banyak yang belum mengetahui darimana pengetahuan-
pengetahuan itu berasal, melalui cara seperti apa dalam mencapainya, dan bagaimana bisa
tercipta suatu ilmu pengetahuan. Tidak sedikit dari para ilmuwan yang berhasil melakukan
penelitian terhadap fakta yang ada, terhadap sesuatu yang menurut mereka belum diketahui
penyebabnya. Para ilmuwan biasanya bukanlah seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat,
karena ia tidak ingin hasrat dan keinginannya terhadap sesuatu dibatasi. Karena dalam agama
segala sesuatu kembalinya kepada wahyu Tuhan, dan para ilmuwan menganggap bahwa
kebenaran terletak pada sesuatu yang benar-benar bisa dilihat oleh mata, atau ada faktanya.

Metode penulisan

Penulisan dilakukan berdasarkan pendapat-pendapat para ahli dan teorinya yang


diambil dalam beberapa buku dan kitab.

Tujuan penulisan

Mengeksplorasi wahyu Al-Qur’an untuk dijadikan sumber ilmu


Hasil

Dalam islam, sumber ilmu pengetahuan berasal dari wahyu Allah, yaitu Tuhan yang
menciptakan alam semesta dan isinya. Allah lah yang Maha Mengetahui terhadap apa yang ada
di dalamnya. Allah memberikan Al-Qur’an kepada Nabi SAW sebagai pedoman umat
manusia, sumber hukum dan sumber ilmu. Tidak semua yang terkandung di dalam Al-Qur’an
mampu dinalar oleh manusia, seringkali Allah menjelaskan hal tersebut melalui fenomena
tertentu. Sedangkan, ilmuwan yang tidak mempercayai hal tersebut, menganggap bahwa ilmu
pengetahuan harus mampu dinalar (rasional) berdasarkan fakta-fakta yang ada. Ilmu
pengetahuan akan mengalami krisis ketika teori-teori yang dibangun tidak dapat lagi
menjelaskan fakta-fakta yang ada. Dalam situasi krisis inilah ilmuwan akan melakukan
revolusi sehingga melahirkan paradigma baru. Dewasa ini terlihat jelas krisis yang dialami oleh
sains modern yang didominasi oleh paradigma berpikir rasional, sehingga dialektika keilmuan
hanya bergerak untuk menguji teori (verifikasi) bukan bagaimana menghasilkan satu perspektif
baru dari ilmu pengetahuan.
Al-Qur’an tidak hanya sekedar sumber ajaran agama, tetapi juga sumber ilmu
pengetahuan karena al-Qur’an dapat menjadi sebuah paradigma, memandang wahyu al-
Qur’an, tidak hanya sebatas teks suci yang membicarakan pesan-pesan ritual keagamaan, tetapi
juga membicarakan realitas aktual. Al Qur’an sebagai obyek kajian studi al-Qur’an
ditempatkan dalam hakikat ontologisnya sebagai teks kebahasaan yang terbuka terhadap
pemahaman manusia. Posisi ontologis tersebut membawa konsekuensi epistemologis-
metodologis yaitu terbukanya studi al-Qur‟an terhadap kerangka analisis modern seperti
lingusitik, kritik sastra dan analisis historis. Dengan demikian, dialektika studi al-Qur’an tidak
hanya berputar pada lingkaran hukum-hukum dan doktrin-doktrin keagamaan, tetapi juga
dialektika al-Qur’an sebagai sebuah teks dan masyarakat kekinian sebaga sebuah konteks.
Kebenaran tafsir al-Qur’an dapat diuji sejauh mana nilai-nilai tersebut yang dihasilkan sanggup
memberikanpencerahan dan transformasi terhadap dinamika sosial-kemanusiaan masyarakat
yang dijumpainya.
Kelebihan isi jurnal
1. Bahasa mudah dipahami
2. Sistematika penulisan bagus dan rapi
3. Sumber isi jurnal jelas
Kekurangan jurnal
1. Ada istilah-istilah asing yang tidak dijelaskan artinya