Anda di halaman 1dari 2

Tugas Review Jurnal

Synthesis Of Cu-Chromite Catalyzer by Citrate Sol-Gel


Pouresmaeily Seyed Mohammad, Shahidzadeh Mansour, H. Shirkavand Behzad, Ebrahimi Sobhan

1. Pendahuluan
Komposit Cu-Cr-O yang telah ditemukan sangat menjanjikan untuk digunakan
dalam aplikasi sebagai katalis pada pembakaran propelan padat. Propelan digunakan
dalam bidang pertahanan sebagai bahan peledak tinggi, dan rudal balistik, sedangkan
dalam ruang kendaraan sebagai propelan roket. Propelan komposit padat adalah
campuran dari prapolimer, bahan bakar aluminium, garam oksidator (misalnya
amonium perklorat), dan komponen lainnya. Pembakaran sistem ini melibatkan
dekomposisi AP (amonium perklorat) dan pengikat dan pencampuran dan oksidasi-
reduksi dari penguraian produk.
Pada penelitian Rajeev et al. Oksida komposit Cu-Cr-O dibuat melalui
dekomposisi termal dari ammonium tembaga kromat dan menemukan bahwa terdapat
peningkatan laju pembakaran propelan akibat penambahan oksida komposit Cu-Cr-O.
Li et al. Menggunakan nanokomposit Cu-Cr-O sebagai aditif untuk pembakaran
katalitik dari padatan propilen berbasis AP, dan disintesis melalui pendekatan
pengompleks asam sitrat (CA). Penelitian Li et al. Menunjukkn bahwa kristal nano
komposit berhasil dihasilkan melalui kalsinasi CA-Cu-Cr pada suhu 500 ℃
selama 3 jam. Penambahan Cu-Cr-O adalah sebagai katalis dengan meningkatkan laju
pembakaran serta menurunkan jauh eksponen tekanan dari padatan propelan berbasis
AP. Katalis dengan rasio molar Cu / Cr dari 0,7 menunjukkan aktivitas katalitik yang
menjanjikan dengan tingkat pembakaran yang tinggi dan eksponen tekanan rendah
sekali. Hal ini terjadi karena adanya interaksi fase yang efektif antara CuCr 2 O4 dan
delafossite CuCr 2 yang terkandung dalam nano komposit Cu-Cr-O. Pati, et al.
Telah mensintesis tipe-p dari nano-CuO dan CuCr 2 O4 melalui metode
elektrokimia menyelidiki efek katalitik pada perilaku dekomposisi termal dari
ammonium perklorat (AP) sebagai fungsi dari konsentrasi katalis menggunakan scan
diferensial kalorimetri. Nano tembaga kromit ( CuCr 2 O4 ) lebih menunjukkan efek
katalitik dibandingkan dengan nano tembaga oksida (CuO) dalam menurunkan
dekomposisi suhu yaitu pada 118˚C selama 2 wt%. Peneliti tersebut telah mengamati
panas tinggi yang dihasilkan dari energi 5.430 dan 3.921 kJ/g pada muka masing-
masing nano-CuO dan CuCr 2 O4 . Penurunan energi aktivasi dan peningkatan
tetapan laju untuk kedua oksida tersbut dikonfirmasi adanya peningkatan aktivitas
katalitik dari AP. Mereka mengusulkan mekanisme didasarkan pada proses transfer
elektron untuk AP di hadapan oksida nanometal.

2. Metode Keramik
Mayoritas bubuk sintesis dari superkonduktor oksida pada suhu tinggi hingga
sekarang telah digunakan jalur tradisional reaksi solid-state. Tembaga spinel kromit
biasanya disintesis denganmetode konvensional pada suhu tinggi yaitu reaksi solid
state. Persamaan reaksinya adalah
Kawamoto et.al dalam penelitiannya telah mensintesis tembaga kromit dengan
metode keramik dimana pencampuran tembaga (II) dan kromium (III) oksida
digunakan 3 rasio Cu dan Cr yaitu Cu/Cr= 0,61, Cu/Cr= 1.0, Cu/Cr= 1,5. Campuran
oksida kemudian dihomogenisasi dengan aseton lalu dikalsinasi pada 900 ℃
selama 6 jam. Metode ini meghasilkan partikel spinel dengan luas permukaan rendah.
Mereka juga berusahan menggunakan teknik kimia baasah yang berbeda untuk
meghasilkan luas permukaan yang tinggi.
3. Bahan dan Metode
1.1 Bahan
a. Cu
b. Kalium di kromat
c. Amonia
d. Air deionisasi
1.2 Metode
Logam Cu dan kalium di kromat beserta amoniak dan air deionisasi dicapur
dengan rasio tertentu. Endapan yang diperoleh kemudian di keringkan. Fabrikasi
Katalis
1.3 Metode Karakterisasi
4. Hasil dan Pembahasan
4.1 Sitrat perilaku self-pembakaran
4.2 Tahap Analisis dan Penentuan Ukuran Partikel
4.3 Spektrum FT-IR
4.4 Mengukur Ukuran Partikel
4.5 Mengukur dan Menentukan Jenis Kristal yang dihasilkan
4.6 Sintesis dari Nano katalis Cu-Chromite di PHS Berbeda
5. Inovasi dalam Sintesis Katalis