Anda di halaman 1dari 22

ETIKA DALAM BISNIS BERBASIS DIGITAL

Laporan ini Disusun untuk Memenuhi Tugas


Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi Akuntansi
Dosen Pengampu :
Prof. Dr. Amilin, SE, M.Si, Ak., CA., QIA., BKP.

Disusun oleh kelompok 3 :


Dede Nursaman - 5518220008
Muhamad Hadi Bima Kusuma - 5518220018
Tries Ariyani – 5518220028
Yudhi Prasetiyo - 5518220030

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


UNIVERSITAS PANCASILA
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………… 3
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….. 4
1.1 Latar Belakang………………………………………………………… 4
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………... 5
BAB II PEMBAHASAN DAN KASUS……………………………………… 6
3.1 Pembahasan dan Kajian ……………………………………………… 6
3.1 Kasus…………………………………………………………………... 14
3.2 Analisis Kasus…………………………………………………………. 19
BAB III KESIMPULAN………………………………………………………. 21
DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah penyusun ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya
lah makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Paper dengan judul Etika Bisnis Berbasis
Digital ini disusun untuk memenuhi tugas Etika Bisnis dan Profesi Akuntansi
Para penyusun juga menyampaikan rasa terimakasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada orang tua dan dosen mata kuliah.
Proposal ini di harapkan dapat bermanfaat dan berguna pada saat ini ataupun di kemudian
hari. Para penyusun menyadari masih adanya kekurangan dalam penyusunan paper ini, mudah-
mudahan dengan adanya kekurangan tersebut penulis ataupun pembaca dapat memperbaikinya
dengan memberikan kritik dan saran sehingga akan ada kemajuan yang lebih baik dari
sebelumnya.

Jakarta, 17 Desember 2018

Para Penyusun

3
BAB I
PENDAHULUAN

I.I Latar Belakang


Era internet memberikan dampak yang cukup signifikan bagi berbagai aspek kehidupan. Era
tersebut menimbulkan munculnya peluang baru untuk membangun dan memperbaiki pendidikan,
bisnis, layanan pemerintahan, dan demokrasi. Beberapa hal yang menyebabkan pesatnya
perkembangan era internet hingga memiliki dampak yang sangat luas atas pemakaiannya. Salah
satu karakteristik Cyberspace adalah beroperasi secara virtual dan tidak mengenal batas-batas
teritorial.
Jika kita melihat teknologi informasi secara utuh, tentunya tidak akan terlepas dari aspek
bisnis sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan teknologi tersebut. Dalam
perkembangannya, teknologi informasi telah menjadi suatu raksasa industri yang dalam
menjalankan kegiatannya tidak akan lepas dari tujuan pencarian keuntungan. Kegiatan industri
adalah kegiatan melakukan bisnis, yaitu dengan memproduksi, mengedarkan, menjual den
membeli produk-produk yang dihasilkan dari perkembangan teknologi tersebut, baik yang berupa
barang maupun jasa.
Dalam kaitannya dengan etika, bisnis menjadi topik yang cukup ramai diperdebatkan.
Sebagian orang berpendapat bahwa “bisnis tetap bisnis”dengan rnemfokuskan pada tujuan
pencarian keuntungan dan sangat sulit untuk dicampur adukkan dengan etika. Sementara pihak
menganggap bahwa bisnis perlu dilandasi pertimbangan-pertimbangan yang etis karena di
samping mencari keuntungan juga bertujuan memperjuangkan nilai-nilai yang bersifat manusiawi.
Beberapa alasan yang membuat bisnis perlu dilandasi oleh suatu etika antara lain adalah berikut
Selain mempertaruhkan barang dan uang untuk tujuan keuntungan, bisnis juga mempertaruhkan
nama, harga diri dan bahkan nasib umat manusia yang terlibat di dalamnya.
Bisnis adalah bagian penting dari masyarakat. Bisnis dilakukan antara manusia yang satu
dengan manusia yang lainnya dan menyangkut hubungan antara manusia tersebut. Sebagai
hubungan antara manusia, bisnis juga membutuhkan etika yang setidaknya mampu memberikan
pedoman bagi pihak-pihak yang melakukannya.

4
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang paper, penulis sudah merangkum beberapa titik fokus
permasalahan :
1. Bagaimana Bisnis di Era Globalisasi?
2. Apa yang dimaksud Teknologi Informasi?
3. Bagaimana Etika Dalam Teknologi Informasi?
4. Apa Saja Bisnis dalam Teknologi Informasi (Digital) ?
5. Apa yang di maksud dengan E-commerce ?

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.I Etika Bisnis dalam Era Globalisasi


Perkembangan internet dan bisnis yang menyertainya dalam beberapa tahun ini juga
makin terasa dampaknya dalam aktivitas masyarakat keseharian. Kemudahan komunikasi yang
disajikan memungkinkan perolehan informasi seketika. Dekade ini menyajikan kemajuan luar
biasa dalam ketersediaan informasi, kecepatan komunikasi, bahan-bahan baru, kemajuan
biogenetika, obat-obatan, serta keajaiban elektronika. Kemajuan teknologi komputasi, telepon,
dan televisi telah memberikan dampak besar terhadap cara perusahaan menghasilkan dan
memasarkan produk mereka. Karena teknologi telah memberikan makanan, pakaian,
perumahan, kendaraan, dan hiburan baru yang lebih bervariasi. Jarak geografis dan budaya
telah menyempit dengan munculnya pesawat udara, mesin faks, sambungan telepon, dan
komputer global serta siaran televisi satelit. Kemajuan-kemajuan ini memaksa perusahaan
untuk mengerti bahwa hakikat pasar tidak lagi terbatas pada ruang dan waktu, (sony
Keraf,1998).
Globalisasi dan teknologi telah mendorong seleksi alamiah yang mengarah pada ‘yang
terkuat yang bertahan’. Keberhasilan pasar akan didapat oleh perusahaan yang mampu
menyesuaikan diri dengan persyaratan lingkungan saat ini, yaitu mereka yang mampu
memberikan apa yang siap dibeli orang. Baik individu, bisnis, kota bahkan seluruh negara
harus menemukan cara menghasilkan nilai yang dapat dipasarkan (marketable value) yaitu
barang dan jasa yang menarik minat beli.
Dalam era globalisasi berarti setiap orang bisa mendapatkan informasi dengan mudah
dan dari mana saja dalam waktu yang singkat, segala sesuatu yang terjadi di belahan dunia
manapun bias diakses oleh setiap orang, pergolakan ekonomi dan perubahan mata uang dunia
dapat dilacak dari kantor / tempat kerja hanya lewat alat elektronik yang canggih yaitu
komputer. Jadi permasalahan dan tantangan berbisnis di Indonesia khususnya sangatlah multi
kompleks baik dari dalam perusahaan sendiri maupun dari luar seperti halnya persaingan mutu
produk atau pemasaran dalam perdagangan pasar dunia yang mengglobal.
Dalam era globalisasi, persaingan bisnis menjadi sangat tajam, baik di pasar domestic
(nasional) maupun di pasar internasional atau global. Tanpa terkecuali di Negara kita, dunia
usaha di Indonesia juga berkembang dengan pesat. Perdagangan bebas AFTA (ASEAN Free

6
Trade Area) di tahun 2003 dan APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) mulai tahun 2020
memberikan kesempatan para produsen untuk memasarkan produknya secara bebas, (Kwik
Kien Gie dkk, 1996).
Sebagai dampak globalisasi dan perubahan teknologi, situasi pasar saat ini didorong ke
arah keadaan yang berbeda jauh sekali dibandingkan situasi pasar sebelumnya. Perubahan-
perubahan tersebut tampak pada berbagai fenomena, antara lain:
1. Kekuasaan saat ini sudah beralih ke tangan konsumen.
2. Skala produksi yang besar tidak lagi merupakan keharusan.
3. Batasan-batasan negara dan wilayah tidak lagi menjadi kendala.
4. Teknologi dengan cepat dapat dikuasai dan ditiru.
5. Setiap saat akan muncul pesaing-pesaing dengan biaya yang lebih murah.
6. Meningkatnya kepekaan konsumen terhadap harga dan nilai.

2.2 Peran Etika Bisnis di Era Global


Era globalisasi adalah situasi dan keadaan yang seolah-olah tanpa batas antar orang,
tugas, tempat, ruang atau dengan kata lain “mendunia.”
Dalam bukunya swastha basu dan Ibnu suktjo mengatakan Sehingga dalam
menjalankan bisnis dalam era globalisasi ini para pelaku bisnis menghadapi tantangan utama,
yakni :

1. Pelanggan lebih menuntut kecepatan waktu, dan budaya instant sudah menjadi trend
masa kini. Hal ini menjadikan waralaba yang laris adalah yang dapat menyediakan
makanan cepat saji.
2. Etika-etika dalam bisnis kurang diperhatikan oleh pelaku bisnis yang memang hanya
mengandalkan kekuatan dan kekuasaan saja, sehingga terjadilah pengkotak-kotakan
kepada pelaku bisnis menurut suku, etnis ataupun agama.
3. Pelanggan kini lebih cerdas dan kritis, dalam arti mereka tidak hanya melihat harga
tetapi juga membandingkan dengan mutu atau kualitas produk dan pasti akan
mengklaim jika kecewa terhadap suatu produk yang dibelinya.
4. Ditentukan adanya standar mutu tertentu yang diputuskan secara bersama-sama oleh
suatu komite yang ditunjuk, misalnya ISO.
5. Tingkat ekspansi dan persaingan bisnis sangat tinggi, baik secara domestic maupun
internasional, begitu suatu produk muncul di pasaran dan ‘booming’ , pasti dalam
sekejap ada produk lain yang meniru, entah halal maupun tidak.
7
6. Perubahan yang sangat cepat kadang-kadang tak terduga atau memang sulit diduga,
misalnya setelah terjadi pemboman gedung WTC di AS oleh teroris, pasar modal dunia
menjadi lesu dan bergejolak tak menentu, yang pasti dampaknya ke aspek bisnis yang
sangat mengejutkan bagi setiap pelaku bisnis.
7. Muncul ketidak pastian di sekitar hal-hal yang berkaitan dengan sumberdaya manusia,
misalnya bagaimana memotivasi karyawan dengan bermacam-macam latar belakang
pendidikannya, bagaimana mendapatkan karyawan yang berkualitas, cerdas,
berwawasan luas dalam lingkup domestic dan internasional.

2.3 Bisnis dan Zaman Informasi


Saat ini kita berada pada era Informasi, di mana informasi memegang peranan penting dalam
aspek kehidupan. Siapa yang menguasai informasi maka ia yang memiliki peluang lebih
dibandingkan yang tidak memiliki. Pemanfaatan informasi yang optimal dapat memberikan ide
yang inovatif untuk pengembangan. Perusahaan-perusahaan harus secara cepat bereaksi
terhadap masalah dan kesempatan yang tumbuh dari lingkungn bisnis modern. Lingkungan
bisnis modern merujuk pada kombinasi faktor sosial, legal, ekonomi, fisik, dan politik yang
mempengaruhi aktivitas bisnis. Lingkungan bisnis pada zaman informasi menimbulkan banyak
tekanan terhadap perusahaan. Organisasi bisa saja menanggapi secara reaktif terhadap tekanan
yang memang sudah ada, atau proaktif terhadap tekanan-tekanan yang bisa diantisipasi.
Tanggapan perusahaan biasanya difasilitasi oleh teknologi informasi, yang dalam artian luas
adalah sekumpulan komponen-komponen teknologi individual yang biasanya diorganisasi oleh
Sistem Informasi Berbasis Komputer (CBIS). Dalam beberapa kasus, TI adalah satu-satunya
solusi untuk menangani tekanan-tekanan bisnis.

2.4 Pengertian Teknologi Informasi


Menurut Information Technology Association of America (ITAA), teknologi informasi adalah
suatu studi, perancangan, pengembangan, implementasi, dukungan atau manajemen sistem
informasi berbasis komputer, khususnya aplikasi perangkat lunak dan perangkat keras
komputer. TI memanfaatkan komputer elektronik dan perangkat lunak komputer untuk
mengubah, menyimpan, melindungi, memproses, mentransmisikan, dan memperoleh informasi
secara aman.

8
2.5 Perlunya Teknologi Informasi
Teknologi Informasi dewasa ini menjadi hal yang sangat penting karena sudah banyak
organisasi yang menerapkan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan organisasi.
Teknologi informasi diterapkan untuk pengelolaan informasi yang dewasa ini menjadi salah
satu bagian penting karena:
1) meningkatnya kompleksitas dari tugas manajemen;
2) pengaruh ekonomi internasional (globalisasi);
3) perlunya waktu tanggap (respon time) yang lebih cepat;
4) tekanan akibat dari persaingan bisnis.

2.6 Etika dalam Teknologi Informasi


Seperti yang kita ketahui perkembangan dunia IT berlangsung sangat cepat. Dengan
pekembangan tersebut diharapkan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan taraf hidup
manusia. Banyak hal yang menggiurkan manusia untuk dapat sukses dalam bidang it tetapi
tidak cukup dengan mengandalkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, manusia juga harus
menghayati secara mendalam kode etik ilmu, teknologi dan kehidupan. Banyak ahli telah
menemukan bahwa teknologi mengambil alih fungsi mental manusia, pada saat yang sama
terjadi kerugian yang diakibatkan oleh hilangnya fungsi tersebut dari kerja mental manusia.
Perubahan yang terjadi pada cara berfikir manusia sebagai akibat perkembangan teknologi
sedikit banyak berpengaruh terhadap pelaksanaan dan cara pandang manusia terhadap etika
dan norma dalam kehidupannya.
Masalah etika juga mendapat perhatian dalam pengembangan dan pemakaian sistem informasi.
Masalah ini diidentifikasi oleh Richard Mason pada tahun 1986 (Zwass, 1998) yang mencakup
privasi, akurasi, property, dan akses.
1. Privasi, menyangkut hak individu untuk mempertahankan informasi pribadi dari
pengaksesan oleh orang lain yang memang tidak diberi ijin untuk melakukannya. Contoh isu
mengenai privasi sehubungan diterapkannya sistem informasi adalah pada kasus seorang
manajer pemasaran yang ingin mengamati email yang dimiliki bawahannya karena
diperkirakan mereka lebih banyak berhubungan denganemail pribadi daripada email para
pelanggan. Sekalipun manajer dengan kekuasaannya dapat melakukan hal itu, tetapi ia telah
melanggar privasi bawahannya.
2. Akurasi, terhadap informasi merupakan factor yang harus dipenuhi oleh sebuah sistem
informasi. Ketidakakurasian informasi dapat menimbulkan hal yang mengganggu, merugikan,

9
dam bahkan membahayakan. Sebuah kasus akibat kesalahan penghapusan nomor keamanan
social dialami oleh Edna Rismeller. Akibatnya, kartu asuransinya tidak bisa digunakan dan
bahkan pemerintah menarik kembali cek pensiun sebesar $672 dari rekening banknya.
Mengingat data dalam sistem informasi menjadi bahan dalam pengambilan keputusan,
keakurasiannya benar-benar harus diperhatikan.
3. Properti, Perlindungan terhadap hak property yang sedang digalakkan saat ini yaitu
dikenal dengan sebutan HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Kekayaan Intelektual diatur
melalui 3 mekanisme yaitu hak cipta (copyright), paten, dan rahasia perdagangan (trade secret).
4. Hak cipta adalah hak yang dijamin oleh kekuatan hokum yang melarang penduplikasian
kekayaan intelektual tanpa seijin pemegangnya. Hak cipta biasa diberikan kepada pencipta
buku, artikel, rancangan, ilustrasi, foto, film, musik, perangkat lunak, dan bahkan kepingan
semi konduktor. Hak seperti ini mudah didapatkan dan diberikan kepada pemegangnya selama
masih hidup penciptanya ditambah 70 tahun.
5. Paten merupakan bentuk perlindungan terhadap kekayaan intelektual yang paling sulit
didapat karena hanya akan diberikan pada penemuan-penemuan inovatif dan sangat berguna.
Hukum paten memberikan perlindungan selama 20 tahun.
6. Rahasia Perdagangan. Hukum rahasia perdagangan melindungi kekayaan intelektual
melalui lisensi atau kontrak. Pada lisensi perangkat lunak, seseorang yang menandatangani
kontrak menyetujui untuk tidak menyalin perangkat lunak tersebut untuk diserhakan pada
orang lain atau dijual.
7. Akses. Fokus dari masalah akses adalah pada penyediaan akses untuk semua kalangan.
Teknologi informasi malah tidak menjadi halangan dalam melakukan pengaksesan terhadap
informasi bagi kelompok orang tertentu, tetapi justru untuk mendukung pengaksesan untuk
semua pihak.

2.7 Bisnis Di Bidang Teknologi Informasi


Bisnis di bidang teknologi informasi memiliki tujuan dan format yang sama dengan bisnis-
bisnis di bidang lainnya. Yang berbeda hanyalah obyek bisnisnya, yaitu teknologi informasi.
Sesuai dengan kegiatan dalam dunia teknologi informasi maka bisnis di bidang ini dapat dibagi
menjadi beberapa kategori sebagai berikut:

10
1) Bisnis di bidang industri perangkat keras.
Bisnis bidang ini merupakan bisnis yang bergerak di bidang rekayasa perangkat-perangkat
keras pembentuk computer. Hal ini seperti yang dilakukan produsen-produsen perangkat keras
seperti IBM, Compaq, Seagate, Cannon, Hewlet Packard dan lain sebagainya
2) Bisnis di bidang rekayasa perangkat lunak.
Bisnis ini begerak di bidang rekayasa perangkat lunak atau perangkat lunak computer. Dalam
lingkup yang kecil, bisnis ini bisa saja dilakukan oleh individu atau seseorang yang menguasai
teknik-teknik rekayasa perangkat lunak. Teknik rekayasa yang dimaksud adalah kegiatan
engineering yang meliputi analis, desain, spesifikasi, implementasi, dan validasi untuk
menghasilkan produk berupa perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah
pada berbagai bidang.
Sedangkan dalam lingkup yang lebih besar, bisnis rekayasa perangkat lunak ini adalah seperti
yang dilakukan oleh perusahaan perangkat lunak raksasa Microsoft, Corel Corporation,
Adobe dan lain sebagainya yang melahirkan perangkat-perangkat lunak utama dalam
operasional computer.

3) Bisnis dibidang distribusi dan penjualan barang


Setelah bisnis di bidang industri menghasilkan suatu produk, dalam hal ini adalah produk
computer, maka bagian bisnis ini bertugas menjual dan mendistribusikan produk-produk
industri tersebut. Bisnis teknologi informasi di bidang penjualan dilakukan oleh vendor-vendor
computer dan tau individu-individu yang melakukan tugas sebaga salesman produk tersebut.
Posisi sales dalam bisnis TI memegang peranan penting karena posisi tersebut merupakan ujung
tombak keberhasilan industri TI pada umumnya. Seorang sales di bidang TI di samping harus
memiliki persyarataan seprti sales pada umumnya- berpenampilan menarik,luwes, komunikatif,
mampu berinteraksi dengan baik memiliki killer instinc yang bagus- juga harus memiliki
penguasaan yang baik terhadap bidang TI sebagai product knowledge.

4) Bisnis di bidang pendidikan teknologi informasi.


Bisnis di bidang pendidikan dilakukan mulai dari lembaga-lembaga kursus computer sampai
pada perguruan tinggi di bidang computer. Seiring perkembangan yang pesat di bidang TI,
Persaingan bisnis di bidang ini juga cukup ketat. Pendidikan di bidang TI bukan hanya
berorientasi pada bagaimana mengoprasikan produk-produk hasil TI, tetapi juga bagaimana
menciptakan, memelihara dan mengembangkan produk-produk tersebut.

11
5) Bisnis di bidang pemeliharaan teknologi informasi.
Banyak pelaku bisnis yang bergerak di bidang pemeliharaan prodik-produk TI. Pemeliharaan
tersebut bisa saja dilakukan oleh pengembang melalui divisi technical support-nya atau ada juga
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga bisnis yang memang memiliki spesialisasi di bidang
maintenance dan teknis.

2.8 E-Commerce
Perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu teknologi yang cepat, memberikan tantangan
penegakkan nilai-nilai etika dan moral setiap individu guna mengendalikan kemajuan dan
penerapan teknologi tersebut bagi kemanusiaan.
Perkembangan E-Commerce begitu pesat sehingga sampai saat ini belum ada definisi tunggal
tentang system ini. Kesulitan menentukan definisi tersebut terjadi kerena hampir setiap saat
muncul bentuk-bentuk baru dari E-Commerce, salah satu definisi e-commerce yang sering di
gunakan adalah definisi dari Electronic Commerce Expert Group (ECEG) Australia sebagai
berikut: Electronic Commerce is broad concept the covers any commercial transaction that is
effected via electronic means and would include such means as facsimile, telex, EDI, internet,
and the telephone.
E-Commerce adalah proses pembelian dan penjualan produk, jasa dan informasi yang
dilakukan secara elektronik dengan memanfaatkan jaringan computer. Contohnya jaringan
internet. Definisi E-Commerce ( Electronic Commerce ): E-commerce merupakan suatu cara
berbelanja atau berdagang secara online atau direct selling yang memanfaatkan fasilitas Internet
dimana terdapat website yang dapat menyediakan layanan “get and deliver“. E-commerce akan
merubah semua kegiatan marketing dan juga sekaligus memangkas biaya-biaya operasional
untuk kegiatan trading (perdagangan).
Perkembangan yang sangat pesat dari system perdagangan elektronik tersebut antara lain
di sebabkan oleh:
1. Proses transaksi yang singkat
2. Menjangkau lebih banyak pelanggan
3. Mendorong kreativitas penyediaan jasa
4. Biaya operasional lebih murah
5. Meningkatkan kepuasan pelanggan

12
Proses yang ada dalam E-commerce adalah sebagai berikut:
 Presentasi electronis (Pembuatan Web site) untuk produk dan layanan.
 Pemesanan secara langsung dan tersedianya tagihan.
 Otomasi account pelanggan secara aman (baik nomor rekening maupun nomor Kartu
Kredit).
 Pembayaran yang dilakukan secara Langsung (online) dan penanganan transaksi.

13
 Kasus Pertama
Karyawan Tokopedia Curang saat Flash Sale, Puluhan Dipecat!
TRIBUN-MEDAN.COM - Perusahaan e-commerce Tokopedia dilaporkan telah
memecat sejumlah karyawan yang diduga melakukan kecurangan.Para karyawan yang
diberhentikan ini diduga karena melakukan kecurangan saat kampanye flash sale saat
peringatan hari ulang tahun Tokopedia ke-9. Berdasarkan laporan yang dikutip
KompasTekno dari Tech in Asia, Senin (27/8/2018), tindak kecurangan ini sangat
merugikan konsumen di mana para pembeli tidak dapat membeli barang murah yang dijual
pada kampanye flash sale secara adil. Bahkan berdasarkan laporan tersebut, jumlah
karyawan yang dipecat mencapai angka puluhan termasuk karyawan senior di Tokopedia.
KompasTekno pun mencoba mengonfirmasi kabar ini pada pihak Tokopedia. Lewat
pernyataan resminya, Head of Corporate Communications Tokopedia, Priscilla Anais tak
memberikan jawaban pasti kabar pemecatan tersebut, namun ia mengatakan bahwa nilai
yang dianut Tokopedia sendiri adalah dengan membangun kepercayaan. "Setiap titipan
kepercayaan adalah sebuah amanah yang harus dijaga bersama oleh seluruh Nakama
(sebutan karyawan Tokopedia, ed.) tanpa terkecuali," tulis Priscilla. Ia pun mengatakan
bahwa karyawan yang tak dapat menjaga kepercayaan dan integritas akan ditindak tegas
sesuai dengan kebijakan perusahaan yang berlaku. "Gagal menjaga kepercayaan artinya
gagal menjaga integritas dan Tokopedia tidak memberikan ruang toleransi untuk individu
yang menyalahgunakan kepercayaan dan/atau gagal menjaga integritas," ungkap Priscilla.
"Setiap individu, yang ditemukan menyalahgunakan kepercayaan dan/atau gagal menjaga
integritas, akan kami tindak sesuai kebijakan perusahaan," lanjutnya. Tokopedia sendiri
menggelar flash sale dalam rangka merayakan hari ulang tahun ke-9 Tokopedia. Flash sale
tersebut berlangsung selama beberapa hari terhitung dari 15 Agustus sampai 17 Agustus
lalu

Artikel ini telah tayang di tribun-medan.com dengan judul Karyawan Tokopedia Curang
saat Flash Sale, Puluhan Dipecat!, http://medan.tribunnews.com/2018/08/27/karyawan-
tokopedia-curang-saat-flash-sale-puluhan-dipecat. Editor: Tariden Turnip

14
 Kasus Kedua

Saracen dan 'Bisnis Kebencian' di Era Jokowi

Jakarta, CNN Indonesia -- Kondisi politik di era pemerintahan Joko Widodo membuka
peluang tumbuhnya bisnis penyebaran kebencian di dunia maya. Bisnis yang dikenal dengan
istilah e-hate ini bukanlah barang baru. Pelaku bisnis e-hate mengeruk keuntungan dengan
cara memprovokasi lewat berita-berita bohong (hoax) yang secara terus menerus diproduksi
sesuai pesanan. Mereka menyebarkan konten-konten yang menyudutkan suku, agama, ras, atau
pandangan politik yang berlawanan dengan si pemesan. Indonesia, menjadi sasaran empuk
pelaku-pelaku bisnis kebencian yang memiliki daya rusak sangat besar untuk persatuan negara.
Di Indonesia, bisnis kebencian mulai nyata. Pelakunya, sindikat Saracen.
Polisi menangkap tiga orang pengelola Saracen. Lewat media sosial, seperti Facebook, dan
twitter Saracen menyebarkan konten berisi ujaran kebencian. Bahkan, Saracen mengelola situs
berita khusus untuk memuaskan pemesan. Kepolisian membenarkan, konten bermuatan SARA
yang disebarkan sindikat Saracen merupakan pesanan dari pihak tertentu. Mereka tarif puluhan
juta untuk setiap konten yang mereka produksi dan sebarkan. Tak tanggung-tanggung, Saracen
memiliki ratusan ribu akun media sosial yang siap menggerakan konten-konten provokasi itu,
sehingga berseliweran di jagat maya. Menurut pengamat media sosial Nukman Luthfie
menyebut maraknya bisnis kebencian itu, tidak bisa dilepaskan dari panasnya situasi politik di
Indonesia. Nukman berpendapat selalu ada pihak yang tidak suka kepada pihak lagi, bisa
pemerintah, partai politik, tokoh politik, agama, hingga suku tertentu. "Pasar itu ada, kemudian
diisi oleh orang-orang yang berani supply konten-konten yang dipesan sama mereka," kata
Nukman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (24/8). Menurut Nukman para pembuat
konten ujaran kebencian itu paham betul adanya peluang di pasar tersebut. Nukman
menuturkan, para pembuat konten ujaran kebencian tersebut tidak peduli terhadap latar
belakang pemesan konten. Meski berbeda ideologi, agama, suku, asalkan si pemesan mampu
membayar, mereka akan melayaninya. "Tidak peduli ideologi, bisa sekarang melayani A, pada
saat bersamaan bisa melayani lawan dari A," ucapnya. Selain itu, kata Nukman pembuat konten
juga tidak memiliki kepedulian terhadap efek yang akan ditimbulkan di masyarakat.
Menurutnya, kepedulian para pembuat konten tersebut hanya pada keuntungan yang akan
mereka peroleh setelah membuat dan menyebarkan konten ujaran kebencian sesuai dengan
pesanan. "Enggak tahu moral," ujar Nukman.

15
Dihubungi terpisah, pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Ade Armando
mengatakan sindikat Saracen berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi komunikasi untuk
menyebarkan ujaran kebenciaan. Menurut Ade, kemajuan teknologi tersebut seharusnya bisa
digunakan sebagai alat demokratisasi di Indonesia, sehingga masyarakat bisa berkomunikasi
dengan bebas, termasuk dalam mengontrol pemerintah. "Tapi sekarang dimanipulasi, dan
dimanfaatkan untuk kepentingan penyebaran fitnah dan hoax," kata Ade. Ade menuturkan,
munculnya sindikat seperti Saracen tidak bisa dilepaskan dari fenomena politik yang terjadi
sejak 2014 silam. Menurutnya saat itu polarisasi politik menjadi sangat keras, sehingga
mengakibatkan praktik menyebarkan ujaran kebencian dan berita bohong untuk menjatuhkan
lawan politik menjadi praktik yang lazim. "Mentransformasi bukan hanya peluang politik tapi
bisnis secara cerdik, dalam politik, orang bisa melalukan segala cara," ujarnya. Dilihat dari
aspek peluang bisnis, Ade berpendapat pengelola Saracen telah berhasil membuat nilai
ekonomi dari media sosial menjadi sebuah keuntungan.Ade berpendapat, Saracen
menawarkan diri untuk menjadi alat perang bagi kekuatan-kekuatan yang memiliki ideologi
bertentang dengan pemerintah.
Sindikat Saracen, kata dia, tentunya tak sembarangan dalam melayani pesanan. Mereka akan
melihat latar belakang pemesan. Kata dia, jika dilihat dari orang-orang pengelola Saracen
diduga merupakan kelompok anti-Jokowi. "Seandainya ada kubu Jokowi meminta mereka
menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan lawan mereka saya yakin itu tidak akan dilakukan
karena mereka punya ideologi," tutur Ade. Lantas, siapa sebenarnya pemesan ujaran
kebencian, kelompok anti-Jokowi, atau kelompok pro-Jokowi?

16
 Kasus Ketiga
Kasus Pajak Google Jadi Momentum Menata Kedaulatan "Cyber" RI
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemeriksaan terhadap Google dan perusahaan digital dari luar
negeri lainnya menjadi momentum untuk menata ulang kedaulatan cyber Indonesia. Untuk itu
diperlukan pusat data agar lalu lintas data dan transaksi pembayaran bisa terekam. Ketua
Umum Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia Kristiono yang dihubungi Kompas, Selasa
(20/9) di Jakarta, mendukung langkah Direktorat Jenderal Pajak yang mewajibkan Google
mendirikan bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia. Menurut Kristiono, layanan yang
ditawarkan Google sudah seharusnya memenuhi ketentuan regulasi yang berlaku di Indonesia.
Google memperoleh manfaat ekonomi di Indonesia. Google tercatat sudah menjadi anggota
Mastel Indonesia. Kristiono menyambut positif sikap tegas Direktorat Jenderal Pajak yang
ingin meningkatkan kasus tersebut ke penyidikan tindak pidana jika Google terus menolak
pemeriksaan. ”Ini merupakan momentum yang bagus bagi pemerintah untuk menata ulang
kedaulatan siber Indonesia. Proses pengembangan sistem pencatatan pembayaran nasional
(national payment gateway) perlu dilanjutkan. Pengembangannya harus dilengkapi pusat data
nasional sehingga semua arus lalu lintas data internet ataupun transaksi elektronik dapat
terekam,” ujar Kristiono. Pusat data Sekretaris Jenderal Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII) Henri Kasyfi mengatakan, pemerintah seharusnya mendorong penyedia
layanan aplikasi dan konten melalui internet, seperti Google, untuk mematuhi kewajiban
penempatan pusat data di Indonesia. Kewajiban ini sudah tertuang di Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggara Sistem dan Transaksi Elektronik. Hingga
sekarang, PP belum dicabut. Dengan menempatkan pusat data di lokal, Henri menganggap lalu
lintas transaksi elektronik penyedia layanan aplikasi dan konten melalui internet jadi lebih
mudah dideteksi. Pemerintah pun bisa memungut pajak dari transaksi yang dihasilkan. ”Upaya
itu merupakan salah satu kunci keberhasilan guna mengatasi permasalahan piutang pajak
Google ataupun penyedia layanan serupa lainnya. Mereka akan berpikir untuk menghindari
kewajiban pajak atas transaksi yang dihasilkan,” katanya. Peneliti Danny Darussalam Tax
Center, Darussalam, menyatakan, Google hanya menaruh fungsi pemasaran di Indonesia.
Fungsi ini dijalankan PT Google Indonesia. Dengan demikian, Google hanya membayar biaya
operasional dan komisi kepada PT Google Indonesia. ”Jadi, pajak yang dibayarkan Google
hanya dikenai dari komisi itu saja. Sementara Pemerintah Indonesia berkeinginan agar semua
penghasilan yang berasal dari Indonesia dikenai pajak di Indonesia. Di sinilah
pertarungannya,” kata Darussalam. Permasalahannya, nilai pajak dari fungsi pemasaran sangat

17
kecil. Tak sebanding dengan penghasilan yang diperoleh dari Indonesia. ”Kita bisa mencontoh
apa yang terjadi di Inggris. Penyelesaian oleh kedua belah pihak melalui negosiasi. Google
diminta bayar lebih dari sekadar pajak atas fungsi pemasarannya,” kata Darussalam. Secara
terpisah, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo
menyatakan, pihaknya mendukung upaya penegakan hukum. Namun, mengingat kasus
tersebut spesifik dan berisiko, pemerintah harus berhati-hati. ”Proses hukum bisa panjang. Bisa
tiga tahun. Situasi ini bisa berakhir dengan situasi kalah-kalah untuk kedua pihak. Jalan
tengahnya negosiasi,” katanya. Bisnis besar Bisnis yang dijalankan Google sangat besar.
Mengutip situs eMarketer, belanja iklan digital secara global diperkirakan 170,85 miliar dollar
AS pada tahun 2015. Google menjadi pemain dominan dalam kategori iklan berbasis mesin
pencari. eMarketer memperkirakan persentase kenaikan belanja iklan berbasis mesin pencari
Google adalah 15,7 persen atau bertambah 44,46 miliar dollar AS pada 2015. Managing
Director Mobile Marketing Association on Asia Pacific Limited Rohit Dadwal, dalam temu
media, di Jakarta, menyebutkan sejumlah tren iklan digital yang terjadi di perangkat bergerak.
Salah satunya video iklan yang diputar di Youtube semakin digemari pengguna ponsel pintar.
Perusahaan penyedia aplikasi media sosial terus berkembang membentuk platform. Mereka
tidak lagi menawarkan fitur layanan pesan percakapan. Kini, mereka sudah mempunyai fitur
hiburan dan iklan yang menunjang e-dagang. Project Director of Mobile Marketing
Association di Indonesia Azalea Aina menyebutkan, penyedia layanan aplikasi dan konten
melalui internet kini masif menawarkan layanan pemasangan iklan. Meski porsi iklan digital
di perangkat bergerak masih 1 persen dari total belanja, dia memperkirakan, pengusaha akan
berinvestasi di media baru. Iklan digital memudahkan komunikasi dua arah.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kasus Pajak Google Jadi Momentum
Menata Kedaulatan "Cyber" RI",
https://tekno.kompas.com/read/2016/09/30/20120057/kasus.pajak.google.jadi.momentum.me
nata.kedaulatan.cyber.ri.
Penulis : FX. Laksana Agung S

18
 Analisis Kasus Pertama

Dalam kasus ini dapat di analisis dan ditinjau bahwa penipuan yang di lakukan tokopedia
adalah sesuatu hal yang melanggar etika bisnis dalam dunia teknologi informasi (digital)
dimana tokopedia melakukan sebuah penipuan dan kebohongan kepada publik dengan seolah
olah melakukan sebuah flash sale namun pada prakteknya program tersebut sudah di
pergunakan secara tidak bertanggung jawab oleh beberapa karyawan senior Tokopedia
sehingga barang murah yang di jual tidak terdistribusi secara adil kepada masyarakat luas karna
sudah di lakukan kecurangan flash sale oleh para karyawan senior
Tokopedia tersebut. Jika dilihat dari aspek etika bisnis kasus tokopedia telah melanggar prinsip
– prinsip etika bisnis di bidang teknologi yaitu Akurasi dan Akses dimana informasi yang
diberikan tokopedia telah jelas membohongi kepada public bahwa flash sale yang dilakukan
oleh tokopedia tidak akurat karena pada kenyataanya flash sale tersebut sudah di desain
sedemikian rupa oleh para karyawan senior di tokopedia tersebut dan di peruntukan untuk
keuntungan sepihak, jika ditinjau prinsip yang kedua yaitu akses bahwa dalam kasus ini
tokopedia tidak benar-benar memberikan akses yang luas kepada para pelangganya dan hanya
memberikan berita bahwa semua pelanggan dapat mengakses namun pada kenyataannya tidak.
Jadi kasus flas sale tokopedia merupakan salah satu kasus yang sudah melanggar etika bisnis
dalam dunia teknologi dan digital dimana dalam kasus ini hanya menguntungkan sepihak saja
dan tidak menerapkan prinsip etika bisnis dalam teknologi maupun etika secara kontemporer
yaitu kejujuran, kebenaran dan keadilan.

 Analisis Kasus Kedua


Kasus Saracen ini merupakan sebuah kasus yang cukup membuat perhatian lebih dari para
netizen terutama para generasi milenial yang merupakan pecinta berbagai media social, kasus
ini merupakan sebuah kasus dimana sebuah berita kebohongan menjadi salah satu ladang bisnis
untuk mendapatkan keuntungan yang sangat fantastis karena dengan bermodal teknologi
seperti smartphone. bisnis ini dilakukan oleh para pelaku Saracen dimana mereka melakukan
aksinya dengan sebuah pesanan yang diajukan pelanggan yang dimana pesanan tersbut
merupakan sebuah berita ataupun kata-kata yang bersifat SARA untuk di publikasikan secara
luas ke media social, unsur kejahatan ini sudah sangat jelas melanggar etika dimana para pelaku
melakukan sesuatu yang bersifat tercela untuk menjatuhkan satu sama lain, selain itu pelaku
juga dapat dikenakan dengan UU ITE dimana menggunakan teknologi informasi untuk
menebar kebencian , menciptakan bisnis yang illegal, dan perilaku untuk menjatuhkan satu

19
sama lain, dalam hal ini kasus Saracen melanggar etika bisnis berbasis digital dimana telah
melanggar payung hukum mengenai UU ITE dan melanggar Prinsip Akurasi dalam
melaksanakan etika bisnis berbasis digital.

 Analisis Kasus Ketiga


Dalam kasus ini dengan adanya kemajuan teknologi dapat membantu pemerintah Indonesia
mendapatkan penerimaan pajak dari para perusahaan digital asing yang mempunyai operasi di
Indonesia, sehingga dengan adanya teknoligi ini pemerintah Indonesia telah mengetahui
seberapa jauh dan seberapa besar bisnis dan pendapatan yang mereka dapatkan, jadi
pemerintah Indonesia mengetahui jika ada perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di
Indoneia melakukan sebuah bisnis yang hanya menguntungkan sepihak tanpa memikirkan
kontribusi dimana perusahaan tersebut menjalankan bisnisnya, jika ditinjau dengan etika bisnis
secara digital bahwa PT google Indonesia dapat menjadi contoh kepada perusahaan digital lain
bahwa segala sesuatu bisnis harus dilakukan secara sesuai prosedur dan hukum yang berlaku
dimana perusahaan tersbut melaksanakan bisnisnya.

20
DAFTAR PUSTAKA

Sonny Keraf, , Etika Bisnis Tuntutan dan Relevansinya, (Kanisius, Yogyakarta. 1998), h. 45

Kwik Kian Gie, dkk, , Etika Bisnis Cina : Suatu Kajian Terhadap Perekonomian di Indonesia,
(Gramedia, Jakarta. 1996), h. 23

Swastha Basu, Ibnu Sukotjo, , Pengantar Bisnis Modern (Pengantar Ekonomi Perusahaan
Modern), (Liberty, Yogyakarta. 1988), h. 32

Berteens, K. (2000). Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius

Fauroni, L., & Nurhasim, A. (2006). Etika Bisnis dalam Al-Qur'an. Yogyakarta: Pustaka
Pesantren.

Prof. Dr. Kees Bertens, M. (2000). Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta: Kanisius.
Ebams.2008.Etika Profesi Bab 8-11 dapat diakses di
http://ebams.wordpress.com/2008/05/26/kode-etik-dan-organisasi-profesi/

Desy.2010. Etika-Etika Bisnis IT dapat diakses di


http://batikkubudayaku.blogspot.com/2010/11/etika-etika-bisnis-it.html

Sutarman. 2012. Pengantar Teknologi Informasi. Ed.1. Cet.2. (Jakarta: Bumi


Aksara)

Teguh Wahyono. 2006. Etika Komputer dan Tanggung Jawab Profesional di


Bidang Teknologi Informasi. (Yogyakarta: Andi Offset)

Ishadi. 1999. Prospek Bisnis Informasi di Indonesia. Cet. I. (Yogyakarta: Pustaka


Pelajar)

https://www.academia.edu/37466621/PEMANFAATAN_TEKNOLOGI_INFORMASI_DA
LAM_DUNIA_BISNIS_E-BUSINNES

http://medan.tribunnews.com/2018/08/27/karyawan-tokopedia-curang-saat-flash-sale-
puluhan-dipecat.

https://tekno.kompas.com/read/2016/09/30/20120057/kasus.pajak.google.jadi.momentum.me
nata.kedaulatan.cyber.ri

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20170825093304-20-237190/saracen-dan-bisnis-
kebencian-di-era-jokowi

21
22