Anda di halaman 1dari 17

Kata Pengantar

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami selaku siswi dari salah satu
kelompok PLH di kelas XI- IPA 1, telah melaksanakan kegiatan
presentasi dan pembuatan makalah ini dengan lancar dan sebagai
mana mestinya.

Makalah ini merupakan salah satu tugas di bidang mata pelajaran


Pendidikan Lingkungan Hidup yang bertujuan untuk memperoleh
mendeskripsikan mengenai bencana tsunami.

Kami menyadari bahwa makalah dan presentasi kelompok kami jauh


dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari
berbagai pihak kami harapkan untuk kesempurnaan laporan ini.

Dengan terlaksananya presentasi dan makalah ini, maka kami berharap


telah memenuhi tugas PLH dan mendapatkan nilai yang baik. Serta
bermanfaat bagi teman-teman sekalian.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar dari bumi adalah samudra atau lautan yang dapat mendukung
kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup di bumi, diantara pulau-pulau yang terpisah satu
dengan yang lainnya pasti dikelilingi oleh air. Oleh karenanya pengetahuan mengenai ilmu
geologi dan oceanografis tentang samudra dan laut dianggap sangat vital guna kelangsungan
hidup penghuninya termasuk manusia.
Di jagat raya ini masih banyak pengetahuan yang belum kita kuasai, termasuk
pengetahuan mengenai bencana alam yang ditimbulkan oleh gelombang pasang laut yang
besar atau tsunami dan cara memprediksinya. Dari hal ini kita dapat mengambil kesimpulan
bahwa ruang lingkup ilmu kita masih sangat terbatas bila dibandingkan dengan luasnya jagat
raya. Ini juga merupakan bukti bahwa Allah Maha Besar, Maha Kuasa,Maha Mengetahui atas
segalanya dan kita tidak sepatutnya sombong dengan pengetahuan kita yang sangat terbatas
ini.

B. Rumusan Masalah
1) Apa tsunami itu?
2) Bagaimana terjadinya tsunami?
3) Bagaimana dampak tsunami dan persiapan menghadapi tsunami?

C. Tujuan
1) Mendeskripsikan apa tsunami itu.
2) Mendeskripsikan terjadinya tsunami.
3) Mendeskripsikan dampak tsunami dan persiapan menghadapi tsunami.

D. Manfaat Penulisan
Agar kita mengetahui lebih dalam karakteristik dan mekanisme tsunami serta
persiapan untuk menghadapi tsunami baik dalam tahap waspada, persiapan, saat terjadi, dan
setelah tsunami terjadi.

Penanganan Pertama Pada Korban Tenggelam


1. Prinsip pertolongan di air :
1) Raih ( dengan atau tanpa alat ).
2) Lempar ( alat apung ).
3) Dayung ( atau menggunakan perahu mendekati penderita ).
4) Renang ( upaya terakhir harus terlatih dan menggunakan alat
apung ).
2. Penanganan Korban
a. Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan cara
teraman.
b. Bila ada kecurigaan cedera spinal satu penolong
mempertahankan posisi kepala, leher dan tulang punggung dalam
satu garis lurus. Pertimbangkan untuk menggunakan papan spinal
dalam air, atau bila tidak memungkinkan pasanglah sebelum
menaikan penderita ke darat.
c. Buka jalan nafas penderita, periksa nafas. Bila tidak ada
maka upayakan untuk memberikan nafas awal secepat mungkin dan
berikan bantuan nafas sepanjang perjalanan.
d. Upayakan wajah penderita menghadap ke atas.
e. Sampai di darat atau perahu lakukan penilaian dini dan RJP
bila perlu.
f. Berikan oksigen bila ada sesuai protokol.
g. Jagalah kehangatan tubuh penderita, ganti pakaian basah dan
selimuti.
h. Lakukan pemeriksaan fisik, rawat cedera yang ada.
i. Segera bawa ke fasilitas kesehatan.

Berteriak Minta Pertolongan


Tentu saja sebagai langkah pertolongan pertama, berteriak meminta pertolongan orang-orang
yang ada di sekitar tempat kejadian adalah hal penting. Saat tengah berada di pantai maupun
kolam renang umum dan ada yang tenggelam, otomatis untuk meminta perhatian dari yang
lain agar ikut menolong adalah dengan berteriak.

Tak hanya supaya mendapatkan perhatian dan pertolongan dari pengunjung kolam renang
atau pantai lain, Anda pun perlu untuk berteriak supaya petugas yang ada di sana pun
mengetahui dan menyadarinya sehingga dapat bertindak cepat. Cara ini merupakan langkah
tepat supaya pertolongan yang datang pun makin banyak dan kemungkinan upaya
penyelamatan untuk berhasil lebih besar.

2. Memberi Tahu Petugas Penyelamat


Selain berteriak minta pertolongan dari orang-orang yang ada di sekitar tempat kejadian
tenggelam, ada baiknya satu orang juga segera memberi tahu petugas penyelamat di kolam
renang maupun pantai. Biasanya, di pantai selalu ada lifeguard yang akan menolong para
korban tenggelam dengan cepat, jadi bila jarak mereka agak jauh, Anda perlu
memberitahukannya.

(Baca juga: pertolongan pertama tertusuk paku – pertolongan pertama kena minyak goreng
panas)

3. Menggunakan Alat Terdekat untuk Meraih Korban


Apabila di dekat Anda ada beberapa alat yang kiranya bisa digunakan untuk menyelamatkan,
tak ada salahnya Andalah yang melakukan tindakan meski bukan petugas penyelamat. Jika
memungkinkan dan aman kondisinya, Anda bisa menjangkau korban dengan alat-alat yang
ada, seperti ban renang, tali, atau tongkat panjang.
Alat-alat tersebut adalah cara yang paling bisa membantu di kala seseorang sedang tenggelam
dan petugas penyelamat misalnya agak lama untuk datang. Tak harus dari 3 benda itu, jika
ada benda lainnya yang memungkinkan pun bisa saja untuk Anda pakai. Tujuannya adalah
untuk membantu agar korban bisa ditarik ke daratan.

4. Berenang Mendekati Korban, Menjangkau, dan


Membopongnya Kembali
Langkah pertolongan pertama ini perlu dilakukan oleh seseorang yang memang memiliki
kemampuan berenang yang baik. Ketika kemampuan renangnya mumpuni, maka akan lebih
aman. Pastikan Anda cukup kuat untuk berenang mendekati korban dan juga membopongnya
kembali. Jika dalam kondisi hujan atau cuaca buruk lainnya, Anda bisa memercayakan pada
petugas penyelamat karena bahaya berenang di saat hujan cukup besar.

Ketika Anda tak memiliki kemampuan berenang yang baik, ini hanya akan membuat kondisi
nantinya makin merepotkan karena bisa jadi Anda ikut tenggelam. Ketika Anda memutuskan
untuk berenang dan membopong korban untuk kembali ke daratan, bawalah juga pelampung.
Dari belakang, Anda bisa mendekati korban, topang bawah lehernya atau genggam bajunya
supaya tetap ada di atas permukaan air hingga sampai di daratan.

Hati-hati jika Anda memilih cara ini karena korban juga jangan sampai cedera karena proses
penyelamatan. Saat Anda tak kuat membopongnya, jelas menariknya adalah yang paling
mudah dan cepat. Hanya saja, saat menariknya, leher korban perlu tetap ditopang berikut juga
kepalanya; hal ini bertujuan untuk mencegah cedera kepala maupun leher.

(Baca juga: pertolongan pertama mimisan – pertolongan pertama serangan jantung)

5. Membaringkan Korban jika Sudah di Daratan


Setelah mendapatkan kembali korban yang tenggelam, baringkanlah di permukaan yang rata,
mendatar dan aman. Posisikan tubuh korban berbaring telentang dan pakaian basah korban
bisa dilepas dan tutupilah tubuhnya menggunakan selimut hangat atau baju yang tebal supaya
suhu tubuhnya naik.

Kepala korban dapat diangkat sedikit ke atas, tapi jangan lakukan hal ini dan buka rahangnya
saja apabila Anda kiranya curiga bahwa korban memiliki cedera kepala atau leher. Lalu,
Anda bisa melanjutkan dengan mendekatkan telinga Anda ke hidung serta mulut korban. Hal
ini bertujuan untuk dapat merasakan apakah masih ada hembusan udara di sana.

Untuk mengecek apakah korban baik-baik saja dan selamat, Anda perlu memerhatikan bagian
dadanya, lihat apakah bergerak naik dan turun atau tidak. Hal tersebut adalah tanda bahwa
korban masih bernapas. Ketika Anda menyadari bahwa korban tak bernapas, nadinya perlu
untuk Anda cek selama 10 detik.

6. Napas Buatan
Inilah yang sering kita lihat dan tonton di banyak film saat penyelamatan korban tenggelam,
yakni pemberian napas buatan. Napas buatan diberikan ketika memang diketahui bahwa
korban tak dalam kondisi bernapas dan sesudah dilakukan pengecekan nadi selama 10 detik.
Sebelum memulai CPR, di bawah ini adalah cara memberikan 5 kali napas buatan:

 Pertama-tama, hidung korban harus Anda jepit lebih dulu dan kemudian barulah
lanjutkan dengan menempatkan bibir Anda yang dalam kondisi tertutup/terkatup di
atas mulut korban.
 Ambil napas lebih dulu seperti biasa dan udara yang sudah diambil itulah yang Anda
tiupkan pelan-pelan ke dalam mulut korban; akan lebih baik 1-2 detik tiap kalinya.
Penyaluran napas ini cukup efektif dan banyak yang berhasil untuk membuat korban
kembali bernapas serta sadar kembali.
 Ketika membantu korban anak yang usianya 1 tahun kurang, katupkan bibir Anda dan
napas buatan bisa disalurkan dengan cara mengembuskannya tanpa harus menjepit
bagian hidung si anak.
 Harus selalu melakukan pengecekan lebih dulu apakah dada korban sudah naik dan
turun sebelum Anda bisa memulai proses pemberian napas buatan berikutnya.
 Ada kemungkinan korban kemudian sadar dan muntah. Ketika ini terjadi, kepala
korban perlu Anda miringkan lebih dulu lalu isi mulutnya dibuang supaya korban tak
mengalami tersedak.

(Baca juga: pertolongan pertama pada asma – pertolongan pertama keracunan makanan)

7. CPR
CPR merupakan langkah pertolongan pertama yang perlu dilakukan saat korban tak lagi
responsif dan diketahui tak dalam kondisi bernapas saat diangkat ke daratan. Ada perbedaan
dalam melakukan langkah CPR untuk anak-anak di bawah 1 tahun dan anak-anak yang
usianya sudah 1 tahun ke atas serta orang dewasa.

CPR untuk Anak Usia < 1 tahun

 Letakkan 2 jari di bagian tulang dada korban.


 Lakukan penekanan ke bawah hingga 1-2 sentimeter, tapi Anda tak dianjurkan untuk
menekan bagian ujung tulang dada.
 Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali yang laju kompresinya adalah 100 kali per
menit; boleh lebih tapi jangan kurang. Dada korban bisa dibiarkan untuk naik
sepenuhnya di antara tekanan.
 Lihat dan perhatikan apakah korban sudah bernapas kembali.

CPR untuk Orang Dewasa dan Anak > 1 Tahun

 Letakkan salah satu bagian bawah pergelangan tangan tepat di bagian tengah dari
dada korban, yakni di antara garis puting. Tangan satunya lagi bisa ditempatkan di
atas tangan yang tadi.
 Lakukan penekanan ke bawah kurang lebih 5 sentimeter, tapi jangan sampai menekan
bagian tulang rusuk korban.
 Lakukan kompresi dada sebanyak 30 kali di mana laju per menitnya bisa 100 kali atau
lebih; dada bisa dibiarkan naik sepenuhnya di antara tekanan.
 Setelah itu, perhatikan sekaligus periksalah apakah korban sudah kembali bernapas.

8. Tidak Meninggalkan Korban


Jangan meninggalkan korban begitu saja meski proses penyelamatan atau pertolongan
pertama sudah dilakukan. Ketika korban telah sadar dan keadaannya lebih baik, bawalah ia
ke tempat yang hangat dan kering. Tak ada salahnya untuk memberikan makanan dan
minuman hangat, seperti sereal panas atau minuman coklat panas; tapi pastikan juga ia sudah
bisa menelan. Hindari memijat korban atau mengajaknya berendam di air hangat saat
menggigil, tapi biarkan tubuhnya kering dan hangat.

(Baca juga: bahaya mandi di kolam renang umum – pertolongan pertama terkena knalpot)

Itulah serangkaian langkah pertolongan pertama pada orang tenggelam yang bisa dilakukan
oleh siapa saja. Hingga bantuan medis datang, Anda bisa terus memerhatikan kondisi korban
dengan melihat tanda-tanda vital, responsivitas serta kondisi pernapasan. Perhatikan pula
bahaya berenang di malam hari karena ketika seseorang tenggelam maka akan lebih sulit
ketika proses penyelamatannya.

ika peristiwa tenggelam atau hampir tenggelam terjadi dihadapan anda, pastikan anda
menguasai keadaan dan cukup terlatih.

a) Cobalah meraih korban yang hampir tenggelam dengan tangan dari sisi kolam renang, jika
tidak bisa menggapainya cobalah dengan tali atau alat bantuan yang lain.
b) Jika anda memutuskan masuk ke dalam air, dekati secara hati-hati dari belakang. Jangan
mendekati korban dari depan, karena ia akan merangkul anda. Akibatnya, anda pun sulit
untuk bergerak.
c) Bicaralah dan tenangkan korban saat anda mendekat. Tanyakan apakah semuanya baik-baik
saja.
d) Raihlah pakaiannya atau tangkupkan satu tangan ke dagu korban dan tarik korban dari
belakang hingga ke tempat aman.
e) Katakan pada korban untuk menjauhkan tangannya dari anda. Teruskan menenangkan
korban.
f) Jika korban berhenti bernafas tau tidak teraba nadinya, lakukan pernafasan buatan.
g) Jika korban selamat namun setelah itu menderita batuk, demam, ataupun sakit otot,
segerakan periksa ke dokter.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kegawatdaruratan pada korban tenggelam terkait erat
dengan masalah pernapasan dan kardiovaskuler yang
penanganannya memerlukan penyokong kehidupan jantung dasar
dengan menunjang respirasi dan sirkulasi korban dari luar
melalui resusitasi, dan mencegah insufisiensi
B. Saran
Penanganan kegawatdaruratan korban tenggelam sebaiknya
memastikan terlebih dahulu kesadaran, system pernapasan,
denyut nadi, dan proses observasi dan interaksi yang konstan
dengan korban.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
P3K adalah upaya pertolongan dan perawatan sementara terhadap korban kecelakaan
sebelum mendapat pertolongan yang lebih sempurna dari dokter atau paramedik. Pertolongan
pertama pada kecelakaan sifatnya semantara. Artinya kita harus tetap membawa korban ke
dokter atau rumah sakit terdekat untuk pertolongan lebih lanjut dan memastikan korban
mendapatkan pertolongan yang dibutuhkan.
Ada beberapa tahap dalam memberikan Pertolongan Pertama Pada kecelakaan :
1. Penolong mengamankan diri sendiri ( memastikan penolong telah aman dari bahaya)
2. Amankan Korban ( evakuasi atau pindahkan korban ketempat yang lebih aman dan
3. nyaman.
4. Tandai tempat Kejadian jika diperlukan untuk mencegah adanya korban baru.
5. Usahakan Menghubungi Tim Medis
6. Tindakan P3K

LATIHAN PERTOLONGAN KECELAKAAN PESAWAT UDARA


A. LATAR BELAKANG.

Suatu kecelakaan tidak diharapkan oleh setiap orang apapun


bentuknya demikian juga terhadap kecelakaan pesawat udara. Namun demikian hal tersebut dapat
saja terjadi setiap saat, tanpa atau diketahui terlebih dahulu, menurut penelitian yang dilakukan oleh
Organisasi Penerbangan Sipil sedunia ( International Civil Aviation Organization ), kecelakaan
pesawat udara banyak terjadi di Bandar udara dan sekitarnya. Sedangkan kalau dihitung secara
prosentase, diatas 50 % ( persen ) dari kecelakaan-kecelakaan yang terjadi, disertai kebakaran dan
kita sering mendengar mengenai pesawat udara yang mengalami kecelakaan, dan jarang sekali
adanya para penumpang yang hidup, apabila disertai terjadinya kebakaran pada umumnya
kecelakaan tersebut terjadi pada pesawat udara yang sedang melakukan pergerakan dengan
kecepatan tinggi, dan proses terjadinya secara mendadak / sangat cepat. Ruang gerak yang tersedia
pada pesawat udara sangat terbatas, akan terjadi kepanikan dari para penumpang dan saling
berdesakan dalam usaha menyelamatkan diri. Banyaknya barang-barang para penumpang dan
perlengkapan pesawat udara yang berantakan / berserakan, sehingga menghalangi / merintangi
gerakan para penumpang dalam usaha menyelamatkan diri. Tidak dapat atau sulit dibukanya pintu-
pintu dan jendela-jendela darurat pada pesawat udara, dan banyaknya bahan bakar yang berserakan
disekitar pesawat udara, terbakar dengan temperature tinggi dan mengurung pesawat udara.

B. PENGERTIAN.

Pengertian dari latihan pertolongan kecelakaan pesawat udara ialah ; memberikan gambaran dan
cara kerja pertolongan kecelakaan pesawat udara di Bandar udara, dengan menggunakan prosedur
dan metode yang benar.

C. TUJUAN PERTOLONGAN KECELAKAAN.

Tujuan pertolongan kecelakaan ialah ; menyelamatkan jiwa manusia dan harta benda atau
menggunakan motto ( TO SAVE LIFE ).

- Menyelamatkan jiwa manusia ialah ;

a. Menyelamatkan seluruh penumpang dan awak pesawat udara yang mengalami musibah kecelakaan.

b. Menyelamatkan seluruh penumpang dan awak pesawat udara yang selamat, dan maupun yang
mengalami cidera, luka ringan, dan luka berat.

c. Mengungsikan (evacuations) seluruh penumpang dan awak pesawat udara dari tempat kecelakaan
ke tempat yang aman.

d. Mencari para penumpang yang masih tertinggal / terjebak atau terperangkap didalam pesawat
udara.

e. Membebaskan para penumpang yang terjepit tempat duduk pesawat udara.

f. Memberikan pertolongan pertama penumpang yang mengalami luka-luka.


D. JENIS DAN LOKASI KECELAKAAN.

a. Kecelakaan pesawat udara tidak terbakar ;

- Pesawat udara mengalami kecelakaan tidak terbakar , pekerjaan petugas pertolongan dan
pemadaman kebakaran akan menjadi ringan, karena tidakan penyelamatan dititik beratkan pada
evakuasi para penumpang dan crew.

- Pesawat udara mengalami kecelakaan tidak terbakar pada umumnya sewaktu pesawat udara
melakukan pendaratan tidak sempurna.

- Pesawat udara mengalami kecelakaan tidak terbakar karena nose gear patah, sehingga pesawat
udara berhenti dengan kedudukan hidung pesawat menyentuh tanah.

- Pesawat udara mengalami kecelakaan tidak terbakar disebabkan salah satu ban pesawat pecah pada
waktu melakukan pendaratan, sehingga arah pendaratan keluar dari landasan.

- Pesawat udara mengalami kecelakaan akibat pesawat berhenti secara mendadak.

b. Kecelakaan pesawat udara terbakar ;

- Pesawat udara mengalami kecelakaan disertai dengan kebakaran, pekerjaan petugas pertolongan
dan pemadam kebakaran menjadi berat karena, pertama petugas harus memadamkan api yang
mengancam para penumpang yang ada didalam pesawat udara, kemudian dilanjutkan dengan
penyelamatan para penumpang dan crew.

- Petugas yang melakukan penyelamatan untuk mengevakuasi para korban terhalang oleh api, asap,
debu.

- Petugas yang melakukan penyelamatan terhalang oleh puing-puing pesawat, dan limpahan bahan
bakar.
- Petugas yang akan masuk kedalam pesawat udara, harus dilindungi dengan semprotan air mengabut
(fog).

- Petugas pertolongan dan pemadan kebakaran banyak menggunakan peralatan-peralatan.

E. KEDATANGAN TEAM RESCUE KETEMPAT CRASH.


a. Kedatangan team rescue ketempat crash, adalah sangat penting dan menentukan untuk mengambil
langkah selanjutnya.

1). Menentukan letak TPS.

- Menentukan letak TPS ( care area ), yaitu daerah/tempat yang aman berjarak lebih kurang 500 feet
± 150 meter tidak mengganggu peralatan dan kendaraan operasi yang sedang melakukan
melakukan pemadaman total atau bersiap-siap kembali ke Fire Station.

2). Membuka jalur penyelamat ( rescue path ).

- Membuka jalur penyelamat yaitu regu penolong berusaha untuk masuk dengan menggunakan
bahan pemadam Dry Chemical Powder untuk memukul api yang mengancam pintu masuk pesawat
udara.

3). Membuka pintu-pintu.

- Membuka pintu-pintu pesawat udara dari luar.

- Membuka pintu-pintu harus hati-hati, kemungkinan sebagian penumpang yang selamat sudah ada
di dekat pintu keluar darurat.

4). Membuat jalan masuk secara paksa.

- Di tempat yang telah disediakan pada badan pesawat dengan diberi tanda segi empat garis putus-
putus yang berwarna merah atau orange.

- Membuat jalan masuk dengan menggunakan kampak rescue atau gergaji listrik.

- Teknik dalam membuat jalan masuk menggunakan kampak maupun gergaji listrik harus hati-hati.

5). Kerjasama 2 orang petugas.

- Petugas masuk kedalam pesawat udara secara team yaitu 2 orang petugas masuk kedalam dan 2
orang berada diluar untuk menerima korban dan dibawa ke care area.

6). Pengungsian ( evacuation ).

- Pengungsian para penumpang pesawat udara adalah factor menentukan yang harus dilakukan oleh
crew pesawat yang dibantu oleh petugas pertolongan dan pemadaman.
- Sebagian besar berbagai jenis pesawat udara dilengkapi dengan peralatan Emergency Evacuation
dan crew harus mampu menggunakan peralatan-peralatan tersebut.
-
- Jika posisi peralatan Emergency Evacuation tidak pada tempatnya atau rusak, maka proses evakuasi
dapat menggunakan tangga pesawat. Crew pesawat udara harus memberikan cara bekerjanya
tangga pesawat.

- Jalur normal proses evakuasi meliputi overwing window exit ( Jendela darurat diatas sayap ).

7). Daerah berbahaya.

- Seluruh daerah sekitar kecelakaan pesawat udara kemungkinan berbahaya, khususnya daerah yang
perlu dijahui atau dihindari bilamana mungkin diantaranya :

a). Daerah berbahaya pada pesawat udara biasanya propeller pesawat, walaupun mesinnya tidak
berputar atau selama mesin masih ignition.

b). Daerah intake dan exhaust jet atau gas mesin turbin merupakan masalah.

c). Daerah yang kedapatan limpaham bahan bakar, sewaktu-waktu dapat terbakar apabila ada
sumber api.

F. PERALATAN PERTOLONGAN.

1). Banyaknya bahan pemadam.

2). Alat penerangan dari generator.

3). Power tool harus dalam keadaan siap pakai.

4). Hand tools.

5). Alat pendobrak dengan sistim hydrolik.

6). Alat bantu pernapasan.

7). Peralatan P3K.

8). Peralatan komunikasi.

G. PERTOLONGAN PADA SITUASI BERASAP.


- Kecelakaan pesawat udara dalam keadaan terbakar atau pada waktu pelaksanaan pemadaman ,
maka dearah sekitarnya akan dipenuhi oleh asap.

- Bahaya-bahaya yang diakibatkan oleh hasil kebakaran atau bahan-bahan interior pesawat dalam
kabin, menimbulkan gas-gas beracun dan beberapa gas-gas. mengandung Carbon Monooxide,
Hydrogen Cloride, Hydrogen Cyanide dan Carbony/Cloride ( Phosgene ).

H. KECELAKAAN PESAWAT UDARA DI GEDUNG.

- Jenis kecelakaan seperti ini ada, masalahnya sangat komplek dari pada kecelakaan yang
mengakibatkan hanya satu pesawat saja.

- Fire officer and crew harus bertindak cepat dan menetapkan dengan benar-benar seksama pada
situasi ini. Pesawat ini biasanya pecah akibat benturan, dan puing-puing menimbulkan kerusakan
sekelilingnya, oleh karena itu diperlukan penanganan segera.

- Kebakaran atau api dapat melebar menjalar dengan cepat. Atap gedung mengalami kerusakan lebih
besar akibat muntahnya dinding dan lantai. Pada situasi yang demikian mengakibatkan beberapa
penduduk menjadi korban didalam dan diluar gedung.

- Selidiki sekitarnya dari segala bentuk ancaman dan segera diungsikan. Asap harus dihalangi dan yang
lainnya mengambil langkah-langkah penjagaan untuk melawan dari sumber nyala.

I. OPERASI-OPERASI PERTOLONGAN DILINGKUNGAN YANG SULIT.

J. UMUM.

1. Pada bagian penting Airport untuk kedatangan dan keberangkatan pesawat udara melalui diatas air,
daerah rawa atau bentuk yang lain dari tanah lapang yang dekat disekitar Airport dan dimana yang
lazim kendaraan yang ada rescue and fire fighting tidak sanggup/mampu untuk berhasil memberi
tanggapan ( response ), Airport Authority harus memastikan tersedianya prosedur khusus dan
peralatan dengan perlakuan accident yang boleh terjadi di daerah tersebut.
Fasilitas tersebut tidak perlu ditempatkan atau disediakan oleh Airport, jika mereka dengan segera
dapat melengkapi dengan perwakilan diluar Airport ialah bagian dari AEP. Dalam semua kasus-kasus
Airport Authority harus menetapkan/menentukan dan mempercepat tanggapan yang mana untuk
melengkapi sebuah pelayanan penyelamatan.

2. Tujuan dari setiap operasi harus menciptakan kondisi-kondisi yang mana mungkin ialah
mempertahankan hidup dan yang mana dari total operasi pertolongan dapat berhasil.
Langkah pertama harus obyektif pemindahan segera bahaya-
bahaya untuk orang-orang yang selamat, melindungi mereka, meliputi pertolongan pertama
pengobatan untuk yang menderita luka, dan menggunakan peralatan komunikasi untuk mengenali
lokasi-lokasi yang mana untuk tambahan tenaga rescue. Titik beratnya pada rescue dan tidak
perlu berbuat memadamkan api.

3. Jenis-jenis tanah lapang yang sulit yang mana untuk fasilitas khusus rescue yang mungkin diperlukan
meliputi ;

a). Laut atau air luas lainnya yang berdekatan dengan airport.
b). Rawa-rawa atau permukaan serupa, kuala-kuala yang berisi air yang berhubungan dengan sungai-
sungai.
c). Daerah pegunungan ;
d). Daerah padang pasir dan
e). Tempat-tempat yang mana untuk menaklukkan musim guguran salju yang berat.

4. Peralatan disebarkan untuk penyelamatan akan merubah lingkungan yang mana dalam operasi
tersebut dilakukan. Latihan diperlukan oleh personil diserahkan untuk tugas-tugas tersebut
mencerminkan secara kondisi tanah lapang. Di semua kondisi-kondisi peralatan dasar meliputi ;

a). Peralatan komunikasi, yang mana boleh meliputi peralatan untuk isyarat signal.
b). Idealnya menggunakan atau mikrofon dalam kesulitan frekwensi akan menyediakan sebuah
hubungan dengan ATC dan Emergency operation centre.
c). Bantuan navigasi ;
d). Dukungan peralatan penyelamatan, diantaranya life-jacket, situasi-situasi di laut, tempat
perlindungan selimut-selimut tebal dan air minum.
e). Lampu penerangan dan perlu perahu pengait dan perkakas, pemotong kawat dan pisau harness.

5. Jenis-jenis kendaraan yang tersedia untuk rescue operation di lingkungan yang sulit akan meliputi ;

a). Helicopter-helicopter.
b). Hovercraft.
c). Boats, jumlah dari jenis dan kapasitasnya.
d). Amphibious vehicles.
e). Tracked vehicles, and
f). All vehicle terrain.

II. PROSEDUR KERJA UNTUK ACCIDENT DI AIR.

1. Dimana Airport itu terletak berdekatan / bersebelahan dengan air yang begitu luas seperti sungai-
sungai atau danau, atau dimana mereka ditempatkan pada garis pantai.

Ketentuan khusus harus dibuat untuk mempercepat rescue.


Dalam incident seperti kemungkinan kebakaran cukup besar seharusnya dikurangi untuk penindasan
dari sumber nyala.
Dalam situasi dimana kebakaran ada, pengendalian dan pemadaman ada problem luar biasa kecuali
jika peralatan tidak tersedia.

2. Itu akan dapat diantisipasi dari impact pesawat udara didalam air kekuatan memecahkan tangki
bahan bakar dan saluaran-saluran.

Ini adalah masuk akal untuk menanggung jumlah bahan bakar akan tetap mengambang pada
permukaan air. Perahu-perahu motor mempunyai exhaust ( knalpot ) pada saluran air mungkin ada
suatu ighnition hazard, jika di nyalakan di mana kondisi seperti ini ada. Angin dan arus air harus
dibawa kedalam pertimbangan dalam urutan untuk melindungi bahan bakar mengapung dimana
bahan bakar itu ada diatas air. Serta mungkin kantong-kantong bahan bakar tersebut salah satunya
pecah keatas atau bergerak luas kecepatan nozzle-nozzle atau dinetralisir oleh lapisan dengan foam
atau dengan pemusatan tinggi Dry Chemical Powder.

3. Unit-unit penyelaman diharapkan dikirim ketempat kejadian. Kapan helicopter-helicopter


diharapkan dapat digunakan untuk transpotasi penyelam-penyelam menuju ke daerah crash
sesungguhnya.

4. Semua dalam operasi-operasi dimana penyelam-penyelam tersebut dalam air, standar penyelam-
penyelam bendera mengapung dan boat-boat beroperasi dalam area diharapkan diperingatkan
untuk berhati-hati.

5. Dimana kebakaran tersebut ada, mendekati diharapkan berbuat searah angin dan kecepatan, arus
air melalui pertimbangan.
Api kemungkinan bergerak jauh dari area dengan menggunakan tehnik menyapu dengan
mengalirkan selang. Foam dan bahan pemadam lainnya diharapkan dimana perlu.

6. Dimana bagian penumpang pada pesawat udara tersebut berdiri mengapung perhatian besar harus
dilatih untuk tidak mengganggu kesempurnaan air tenang.
Pemindahan dari para penumpang diharapkan dengan penanganan penuh kelembutan dan secepat
mungkin. Para penolong harus hati-hati begitu juga mereka tidak terperangkap dan tenggelam
dalam keadaan ini.
K. AIRCRAFT EXITS AND DOORS ( JALAN KELUAR DAN PINTU-PINTU ).

- Jalan keluar pesawat udara transport pada kategori pesawat udara meliputi pintu-pintu, dan
jendela-jendela dari berbagai ukuran.
- Jalan keluar tersebut akan berbeda dari segi usia, ukuran, dan jenis pada peswat udara. Para
personil ARFF diharuskan mengenal cara kerja dari berbagai jenis jalan keluar pada semua jenis
pesawat secara normal di Airport.

- Pintu-pintu paling banyak, tidak bertekanan dibuka keluar dan dapat dibuka dari luar dan dari dalam
pesawat.

- Pintu-pintu pada mayoritas pesawat dari U.S dibuat modern bertekanan yang disebut “ plug – type “
pintu-pintu. Bilamana pintu-pintu tersebut dibuka, dia didorong sangat ringan dan kemudian ditarik
keluar atau menarik kembali keatas kedalam atap.

- Pesawat udara mempunyai sebuah pintu tingginya dari 1.5 m ( 5 feet ), dengan landing gear digelar,
ia secara normal dilengkapi dengan inflatable evacuation slides ditempatkan pada emergency exits.

- Bilamana system ini bersenjata dan emergency exit ini dibuka, tempat meluncur dapat memompa
dan memperpanjang keluar kurang dari 5 detik dengan tenaga sungguh-sungguh.

- Jika crew kabin gagal untuk membuka pintu-pintu pesawat udara, ARFF personil dapat memperoleh
jalan masuk dengan menggunakan emergency door melepaskan alat mekanik yang terletak pada
atau berdekatan/bersebelahan dengan bagian depan pada pintu.

- ARFF personil harus tahu dari perbedaan kerja pintu luar, dalam menggunakan : pada beberapa
pesawat udara, pintu-pintu di desain demikian dalam mengerjakan / melakukan membuka pintu dari
alat mekanik, akan membebaskan penghalang secara automatic, melindungi evakuasi peluncur dari
penyebaran.
L. LOKASI DAN MENCOBA UNTUK MENCAPAI JALAN MASUK PADA PINTU-PINTU NORMAL.

- Sebagian besar pesawat udara mempunyai pintu-pintu utama penumpang


Di sebelah sisi bagian belakang. Sebagian besar ayun kearah luar. Letak engsel depan , beberapa
menuju kedalam.

- Pintu darurat sisi kanan disediakan pada beberapa pesawat udara kadangkala jalan masuk mungkin
melalui pelayanan pintu kamar kecil atau pintu kargo kompartemen.

- Pintu masuk cockpit biasanya disediakan disisi kanan depan beberapa di kiri.

- Beberapa pesawat udara mempunyai integral stairs di hidung atau pada bagian belakang dibawah
ekor.

- Beberapa pesawat udara mempunyai slide jalan keluar darurat pada pintu-pintu utama. Beberapa
slide harus menjangkau ground level yang lainnya adalah slide- Inflatable. Penumpang diharapkan
melompat kedalam slide.

M. LOKASI DAN MENCOBA UNTUK MENJALANKAN JENDELA JALAN KELUAR.

- Jendela darurat letaknya variasi. Letaknya dapat dikenali dari sisiluar dari hubungan antara hatch
and fuselage dan dengan tanda-tanda dari perlengkapan kelihatan serupa.

- Beberapa jendela jalan keluar darurat mempunyai tali-tali terikat untuk membantu evakuasi.

- Beberapa jendela jalan keluar darurat ini mempunyai red handle.

N. SEBAGAI JALAN TERAKHIR MEMBUAT JALAN MASUK SECARA PAKSA.

- Lokasi jalan masuk secara paksa pada tenaga turbin pesawat transport modern diantaranya
sebagian besar sulit dipotong kedalam sebab, dari ketebalan metal yang digunakan, rangka yang luas
pada fuselage, penyekatan dan sebagainya. Tekanan dinding pemisah ditempatkan disini.Jangan
mencoba secara paksa jalan masuk bagian belakang dititik ini.

O. PELAKU FIRE HAZARD DAERAH-DAERAH DALAM PESAWAT UDARA.


- Fuel tanks biasanya dalam sayap-sayap, beberapa lari sepanjang fuselage lainnya semua mesin
bagian luar dan bagian dalam.

Referensi :

- Rescue and Fire Fighting On Aerodrome.


- Doc. 9137 Part I AN / 898 Airport Service Manual.
- NFPA 402 Standard Aircraft Rescue and Fire Fighting.
makaDAFTAR PUSTAKA

Bishop, J.M. 1984. Aplied Oceanography. John Willey and Sons, Inc. New York. 252 p.
Gross, M. 1990. Oceanography sixth edition. New Jersey : Prentice-Hall.Inc.
Supangat A., dan Susanna, 2003. Pengantar Oseanografi, Pusat Riset wilayah Laut dan
Sumberdaya Non-Hayati, BRPKP-DKP. ISBN.No. 979-97572-4-1