Anda di halaman 1dari 4

Kepintaran Lukman Al-Hakim

Posted on January 29, 2011 | 2 Comments


Wahai kawan-kawan…mari dengar cerita

Kisah Luqman yang pintar dan juga bijaksana

Wahai kawan-kawan mari bersama…

Kita hayati dan bermuhasabah

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh…

Bismillahirahmanirrahim…
Kepada Tuan Pengerusi Majlis dan para Juri Hakim yang adil lagi bijaksana
seterusnya pada rakan-rakan sekalian.

Berdirinya saya di sini adalah untuk menyampaikan sebuah cerita yang berjudul
“Kepintaran Lukmanul Hakim”

Pada zaman dahulu, di sebuah lembah yang kering, terdapat sebuah kampung yang
aman dan damai. Di kampung tersebut terdapat seorang hamba Allah yang pintar
lagi bijaksana, beliau adalah Luqmanul Hakim yang bermaksud Lukman Yang
Bijaksana.

Kepintaran beliau telah disebut di dalam Al-Quran, Surah Luqman ayat yang ke
12:

Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu:


“Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah),
Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang
tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”.

Kawan-kawan nak tahu tak…….? Luqmanul Hakim adalah seorang hamba Allah yang
soleh dan juga pakar dalam pendidikan anak-anak. Beliau telah mendidik anaknya
dengan penuh hikmah dan kasih sayang sebagai seorang ayah.

Pada suatu hari……..Luqman dan anaknya berehat sambil menghirup udara segar,
pada kesempatan itu…..Luqman pun berkata kepada anaknya, di mana peristiwa ini
telah disebut dalam surah Luqman dari ayat 13hingga 18.

Dengan penuh kasih sayang, Luqman pun memeluk dan membelai anaknya dan
berkata:

“Wahai anakku, janganlah kamu menyekutukan Allah kerana kekuasan Allah


menyeliputi segenap makhluk yang ada di dunia ini. Ketahuilah anakku….syirik
itu adalah perbuatan zalim yang pasti akan membinasakan dirimu sendiri”.

“Wahai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji


sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya
Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha
Halus lagi Maha Mengetahui.

“Wahai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang


baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah
terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia


(karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi
dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang sombong lagi membanggakan diri”.

Di samping itu, terdapat juga kisah yang dikaitkan dengan Luqman iaitu kisah
Luqman menasihati anaknya tentang telatah manusia.

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Al-Hakim telah
masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut
dari belakang.

Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, “Lihat itu orang
tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari
himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu.

Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula,

“Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki


himar itu, sungguh kurang ajar anak itu.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu
bersama-sama dengan anaknya.

Kemudian orang ramai pula berkata lagi,

“Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu.”
Oleh karena tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari
himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata,

“Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai.”sungguh tidak bijak
mereka itu”.

Setelah melintas kawasan pasar dan dalam pejalanan pulang ke rumah, Lukman Al-Hakim
memecah kesunyian dan berkata kepada anaknya…..

“Wahai anakku amanah Allah, tahukah engkau apakah peristiwa yang kita lalui
bersama tadi?”

Lalu anaknyapun menjawab….

“Apa dia ayahku, aku lihat ramai orang di pasar sedang berurus niaga”.

“Itu memang benar anakku…tapi ada lagi urusniaga yang lebih besar yang perlu
kamu ketahui, iaitu tentang sikap buruk dan telatah manusia yang terkadang tidak
disedari”.

“Sikap buruk?” Tanya anaknya dengan kebingungan….

“Ya….Sesungguhnya seseorang itu tidak terlepas dari memperkatakan


manusia atau mengumpat orang lain. Ingatlah anakku….bukti orang yang
berakal tiada dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah saja.
Ini bermakna, seseorang hanya menceritakan hal rang lain hanya kerana
untuk kebaikan semata-mata. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah
yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu.”

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya,

“Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir.
Sesungguhnya seseorang tidak menjadi fakir melainkan tertimpa kepadanya tiga
perkara, yaitu:

Tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan
diperdaya orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya) dan lebih celaka
lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan
meringan-ringankannya.”

Kawan-kawan……..rasanya sudah panjang lebar saya bercerita tentang kepintaran dan


keistimewaan Luqmanul Hakim. Takut terlebih pula masa yang diberikan. Apapun…..sebelum
saya mengundur diri, ingin saya menyimpulkan bahawa kisah ini banyak memberi pengajaran
yang berguna kepada kita.

Antaranya ialah:

 Perbuatan syirik kepada Allah adalah dosa besar

 Setiap amalan kita samada yang besar atau kecil tetap akan dibalas oleh Allah
 Mendirikan sembahyang, menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan
bersabar di atas setiap dugaan.

 Allah tidak suka kepada orang yang sombong

 Nilailah diri kita sendiri terlebih dahulu sebelum kita menilai orang lain.

Dengan ini sekian dahulu cerita saya untuk kali ini, wabillahitaufiq
walhidayah……………………..