Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KOSMETOLOGI

LIPSTIK

OLEH:
NIWAYAN SRITANJUNG (15160007)

PROGRAM STUDI FARMASI


UNIVERSITAS DHARMA ANDALAS
PADANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Sejarah lipstik
Dalam diri manusia pada dasarnya selalu terdapat keinginan agar terlihat
berbeda dengan manusia lainnya. Mulai dari pakaian, sepatu, perhiasan hingga
kosmetik, merupakan cara manusia untuk berpenampilan berbeda. Meskipun
demikian kosmetik menjadi yang paling nyata untuk mengubah penampilan
seseorang. Salah satu kosmetik yang telah ada sejak lama bahkan sejak masa sebelum
masehi (sekitar 5000 tahun yang lalu) adalah lipstik. Bangsa-bangsa kuno menghias
wajah mereka, termasuk menghias bibirnya sebagai bagian dari ritual atau upacara
keagamaan. Bahkan juga untuk pengobatan, karena lipstik dapat melindungi bibir.
Lipstik tidak hanya digunakan oleh perempuan tetapi juga laki-laki.
Pada awalnya lipstik dibuat dari bahan-bahan yang berasal dari alam seperti
buah dan tanaman. Awalnya lipstik mulai muncul dalam peradaban di Timur Tengah,
Afrika Utara, dan India. Perempuan Mesopotamia yabng pertama kali mulai
memperkenalkan lipstik untuk menghias bibir mereka dengan glitter serbuk yang
berasal dari hasil pengilingan batu permata. Tentu saja cara ini juga menunjukkan
status sosial dan kekayaan perempuan. Sementara para perempuan di peradaban
Lembah Sungai Indus juga telah menggunakan lipstik secara terartur. Hal yang sama
juga terjadi dalam masyarakat Mesir Kuno. Di wilayah ini pembuatan lipstik telah
mengalami kemajuan dibandingkan peradaban kuno lainnya. Pengguna lipstik dalam
bangsa Mesir berasal dari berbagai kalangan. Bagi mereka yang berasal dari kalangan
kelas tinggi seperti anggota kerajaan dan pendeta akan menggunakan beberapa jenis
lipstik. Bahkan beberapa jenis lipstik terbuat dari resep yang mengandung bahan-
bahan beracun yang bisa menyebabkan penyakit serius. Masyarakat Mesir kuno lah
yang mulai memperkenalkan warna carmine (warna cerah seperti merah) yang saat
itu terbuat dari ekstrak tubuh serangga cochineal (bahkan teknik ini masih digunakan
sampai sekarang). Sedangkan untuk mendapatkan warna unggu, menggunakan
rumput laut yang dicampur dengan berbagai minyak dan lilin. Sebagai bukti
kemajuaan bangsa Mesir kuno dalam bidang kosmetik, dapat melihat gambaran
Neferititi dan Cleopatra.
Selam abad pertengahan, penggunaan lipstik dihapuskan di Eropa. Kondisi
kehidupan yang keras, perang yang berkepanjangan, kemiskinan, persediaan obat-
obatan yang sedikit, wabah penyakit, kekurangan makanan, dan kondisi sulit
lainnyanya, menyebabkan pada periode itu industri kosmetik atau fashion tidak
mengalami kemajuan. Dogma Gereja yang menjadi pedoman utama dan terpenting
dalam masyarakat saat itu ikut mendeskreditkan fungsi kosmetik. Gereja merupakan
pihak yang bertanggung jawab untuk menjaga hukun fashion saat itu. Sayangnya,
Gereja mengeluarkan kebijakan yang mengatakan bahwa lipsti berhubungan denga
jemaah dan kultus setan. Karena itu, hanya masyarakat kelas rendah seperti pelacur
yang terus menggunakan lipstik dan juga seniman yang sesekali melukis diri atau
wajahnya dengan lisptik.
Salah satu momen paling penting dalam sejarah lipstik terjadi selama zaman
keemasan Islam ketika ahli kecantikan kimia terkenal, Abu al-Qasim al-Zahrawi
berhasil menyempurnakan formula untuk lipstik padat dan wangi. Ini merupakan
dasar untuk semua lipstik modern yang dapat ditemukan di setiap toko fashion saat
ini. Beberapa abad kemudian, lipstik kembali populer pada masa Inggris diperintah
oleh Ratu Elizabeth I (1558 - 1603), tetapi hanya untuk sementara waktu. Barulah
pada akhir abad ke-19 ketika kemajuan industri berkembang pesat, industri
kecantikan Perancis mulai memproduksi lipstik untuk penjualan komersial. Dari titik
ini, lipstik perlahan-lahan menjadi lebih populer.

B. Pengertian lipstik
Lipstik adalah sediaan bentuk batang yang dengan bahan dasar minyak dan
lilin yang diberi zat warna merah yang larut atau tersuspensi dalam minyak dan
diberi parfum secukupnya (Balsam dan Sagarin, 1972).
Fungsi lipstik adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah, semerah
delima merekah, yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat dan menarik.
Tetapi kenyataannya warna lainpun mulai digemari orang, sehingga corak warnanya
sekarang sangat bervariasi mulai dari warna kemudaan hingga warna sangat tua
dengan corak warna dari merah jambu, merah jingga, hingga merah biru, bahkan
ungu (Ditjen POM, 1985).
Bahan dasar lipstik adalah minyak, lemak, dan lilin, dimana bahan dasar ini
harus dapat mendispersikan zat warna secara homogen. Jika dilelehkan akan mencair
sedikit-sedikit, jika dibekukan akan berbentuk lipstik yang tidak mudah patah
(Balsam dan Sagarin, 1972).

C. Tujuan dan manfaat penggunaan lipstik


1. Untuk mempercantik diri
Manfaat pertama dari penggunaan lipstick pada wanita adalah untuk
mempercantik diri. Ya dengan menggunakan lipstick, maka tentu saja hal ini akan
membuat wajah dan juga penampilan dari seorang wanita akan menjadi lebih
cantik dan juga lebih menarik. Dengan menggunakan lipstick dan juga dipadukan
dengan make up yang serasi alias matching, maka hal ini pastinya akan
meningkatkan kecantikan dari seorang wanita.
2. Meningkatkan kepercayaan diri
Lipstick juga memiliki manfaat yang sangat baik untuk membantu meningkatkan
kepercayaan diri dari para wanita. Ya, apabila mereka dapat tampil dengan cantik
dan juga menarik, pastilah hal ini akan sangat meningkatkan kepercayaan diri
dari para wanita tersebut. Dengan begitu, para wanita tidak perlu lagi malu-malu
untuk bepergian karena kurang percaya diri. Lipstick dapat membantu
menambah kecantikan dan juga pastinya percaya diri anda pun pasti akan
meningkat.
3. Menyamarkan luka dan kerusakan pada bibir
Anda memiliki luka atau bekas luka serta bagian bibir yang mungkin rusak karena
suatu dan lain hal? Kalau begitu, cobalah untuk menggunakan lipstcik. Ya,
penggunaan lipstick juga sangat baik untuk membantu menyamarkan dan juga
menutupi luka dan juga bekas luka yang mengganggu yang terdapat pada bibir
anda. Bekas luka ini sudah pasti akan merusak penampilan anda, karena sangat
tidak enak dipandang. Karena itu, dengan menggunakan lipstick, bekas luka ini
dapat tersamarkan dan juga tertutupi, sehingga anda tidak perlu malu dengan
kondisi bekas luka pada bagian bibir anda.
4. Melembabkan bibir
Fungsi dan juga manfaat lainnya dari lipstick adalah sebagai pelembab bibir.
Masalah lainya yang sering menghampiri para wanita adalah kondisi bibir yang
kering. Biasanya kondisi bibir yang kering ini sering disebabkan karena kurang
minum. Nah, dengan menggunakan lipstick atau lip balm, maka hal ini tentu saja
bermanfaat untuk mencegah dan juga mengurangi bibir yang kering dan juga
pecah-pecah. Dengan menggunakan lipstick, maka bibir anda akan terasa lembab
dan juga tidak kering, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan para wanita.
5. Mengkilapkan bibir
Selain dapat melembabkan bibir, manfaat lipstick juga mampu untuk membantu
mengkilapkan bibir. Hal ini dapat dilakukan, terutama bagi anda yang memiliki
kulit bibir yang gelap dan juga kusam. Dengan menggunakan lipstick ini, maka
bibir anda yang tadinya terlihat kusam dan gelap akan langsung menjadi cerah
dan menarik. Namun demikian, hal ini memang tergantung dari jenis lipstick dan
juga warna lipstick yang digunakan, karena memang tidak semua jenis dan juga
merk dari lipstick cocok untuk anda gunakan.
6. Membuat wajah terlihat tidak pucat
Manfaat lainnya dari lipstick adalah pada wajah anda. Ya, meskipun lipstick hanya
diaplikasikan pada bagian bibir anda, namun ternyata efek dan dampaknya bisa
mempengaruhi wajah anda loh. Yap, dengan bibir yang lebih mengkilap dan juga
lembab, serta ditambah dengan jenis warna lainnya yang beragam dan menarik.
Maka penggunaan lipstick dapat memberikan manfaat dan juga dampak yang
signifikan terhadap wajah anda. Dimana wajah anda akan terlihat lebih cerah dan
juga terlihat tidak pucat. Anda pun tidak perlu menggunakan make up terlalu
banyak, cukup menggunakan bedak dan juga lipstick dengan warna yang terpat
saja. Maka hal tersebut akan membantu membuat wajah anda tidak terlihat pucat.
7. Untuk menarik perhatian kaum pria
Salah satu warna lipstick yang paling dicari oleh wanita adalah yang berwarna
merah terang. Hal ini disebutkan oleh beberapa penelitian yang menyebutkan
bahwa penggunaan lipstick yang berwarna merah terang sangat menarik
perhatian dari para pria. Inilah manfaat lipstick lainnya, karena penggunaan
lipstick dengan warna yang disukai para pria. Maka anda pun dapat dengan
mudah menarik perhatian para pria. Bagi yang memang sedang mencari pasangan
cobalah untuk merawat diri anda, dan menggunakan warna lipstick yang tepat,
agar para pria bisa tertarik dengan anda.
8. Dapat meningkatkan mood
Ternyata, penggunaan lipstick juga dapat memberikan manfaat yang sangat baik
untuk meningkatkan mood. Ya, biasanya ketika wanita sedang merasa bosan dan
juga kesal, memadukan make up akan membuat mereka menjadi lebih rileks dan
juga tenang. Karena itu dengan menggunakan lipstick, apalagi dengan warna yang
bagus dan juga pas untuk wanita tersebut

D. Syarat lipstik
Berdasarkan sudut pandang kualitas, lipstik harus memenuhi persyaratan
sebagai berikut (Mitsui, 1997; Tranggono dan Latifah, 2007):
 Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir
 Penampilan menarik, baik warna, bau, rasa maupun bentuknya
 Memberikan warna yang merata pada bibir
 Stabil dalam penyimpanan
 Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak berbintik-bintik atau
memperlihatkan hal-hal yang tidak menarik
 Melapisi bibir secara mencukupi
 Dapat bertahan di bibir
 Cukup melekat pada bibir
 Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya

E. Kerusakan pada lipstik


 Sweating, merupakan keluarnya cairan dari permukaan lipstick yang disebabkan
Karena kadar minyak yang tinggi atau rendahnya kualitas campuran minyak dan
lilin dalam formula.
 Bleeding, terjadi pemisahan antara zat warna dengan basis lilin, sehingga
menyebabkan zat warna tidak merata
 Blooming, disebut juga pemekaran pada ujung lipstick yaitu permukaan lipstick
menjadi lebih tumpul dari yang diharapkan. Hal ini terjadi karena tingginya
konsentrasi cetyl alcohol (>5%).
 Streaking, terbentuknya sebuah garis tipis atau pita yang berbeda warna, atau
substansi yang nampak di permukaan pada produk jadi. Hal ini terjadi karena
terjadi pemisahan partikel yang tersuspensi.
 Seams, ditandai dengan keretakan lipstick pada saat digunakan. Hal ini terjadi
karena massa yang rapuh atau terjadi kesalahan pada saat teknik pendinginan
 Laddering, produk nampak berjenjang, tidak lembut dan tiak homogeny setelah
dibekukan, nampak adanya lapisan ganda. Kerusakan ini terjadi karena pada saat
proses pencetakan dilakukan pada temperature rendah, atau sebagian formulasi
tidak cukup panas, atau bisa juga terjadi karena proses pengisian pada cetakan
terlalu lambat.
 Deformation, lipstick terlihat rusak dengan sangat jelas, kerusakan juga terlihat
jika dilihat dari salah satu sisi maupun kedua sisi.
 Catering, stick membentuk lubang dimana penyebab utamanya adalah jumlah
minyak silicon atau minyak lubrikasi yang terlalu sedikit.
 Mushy failure, inti pusat stick tidak memiliki struktur dan patah.

F. Jenis – jenis lipstik


1. Lipstik Satin
lipstik satin cocok untuk Anda yang punya masalah dengan bibir kering dan
mudah pecah-pecah. Pasalnya, lipstik jenis ini dapat melembapkan sekaligus
menyehatkan bibir Anda, serta membuatnya tampak berkilau dan glossy. Karena
mengandung banyak pelembap di dalamnya, lipstik satin akan terlihat lebih gelap
di kemasan daripada saat dioleskan di bibir. Lipstik satin juga mengandung bahan
minyak yang tinggi. Kandungan minyak inilah yang membuatnya mudah terhapus
jika bersentuhan dengan objek seperti makanan dan minuman. Untuk mengatasi
hal tersebut, rajin-rajinlah mengoleskan kembali lipstik satin setelah Anda selesai
makan, atau ketika lipstiknya mulai terhapus.

2. Sheer Lipstick
Sama seperti lipstik satin, sheer lipstick juga memiliki tekstur yang lembut dan
dapat melembapkan sekaligus menyehatkan bibir. Mengandung bahan pelembap
yang tinggi, lipstik ini tak ubahnya seperti produk lip balm. Sayangnya, lipstik
jenis ini tidak mempunyai daya pigmentasi yang kuat. Ketika diaplikasikan pada
bibir, warna sheer lipstick tidak dapat menutupi keseluruhan warna bibir alami,
melainkan hanya menyamarkan dan menambah sedikit rona.
3. Lipstik Matte
Lipstik bertekstur matte merupakan satu-satunya jenis lipstik yang tidak mudah
terhapus karena sifatnya yang kering dan lengket pada bibir. Bisa dibilang, matte
termasuk ke dalam jenis lipstik tahan lama. Akhir-akhir ini, lipstik matte banyak
diproduksi dalam bentuk cair (liquid) yang membuatnya semakin mudah
dioleskan pada bibir. Namun, kekurangan utama lipstik matte yakni dapat
membuat bibir kering sehingga mengakibatkan bibir pecah-pecah. Selain itu,
garis-garis bibir juga akan tampak semakin jelas ketika Anda menggunakan lipstik
matte. Mengatasi hal tersebut, sebaiknya Anda terlebih dulu mengoleskan lip
balm sebelum mengaplikasikan lipstik matte. Atau Anda bisa memilih lipstik
matte yang mengandung pelembab di dalamnya yang sesuai dengan kondisi bibir
Anda. Pilihlah warna yang tepat sesuai ukuran dan bentuk bibir. Lipstick matte
berwarna gelap dapat menimbulkan efek bibir yang terlihat kecil.

4. Glossy Lipstick
Glossy lipstick adalah pilihan yang tepat untuk meraih tampilan bibir yang penuh
dan padat, karena efek kemilau dan segar yang dihasilkan. Meski kelihatan basah
dan berminyak, bukan berarti glossy lipstick mengandung pelembap yang tinggi.
Anda tetap perlu mengoleskan lip balm sebelum mengaplikasikan lipstik jenis ini
agar bibir terasa halus dan tidak kering.

5. Creamy Lipstick
Creamy lipstick bertekstur sangat nyaman di bibir dan mampu menghasilkan
warna yang intens dengan efek basah. Aplikasikan creamy lipstick dengan
bantuan kuas setelah pulasan lip liner berwarna senada. Jika Anda ingin
menjadikan creamy lipstick seperti tampilan lipstik matte, tempelkan dan tekan
pelan-pelan tisu di permukaan bibir setelah selesai mengoleskan creamy lipstick.

6. Lip Tint/Lip Stain


Perbedaan mendasar lip tint/lip stain dengan jenis lipstik lainnya terletak pada
kandungan bahan yang digunakan. Jika jenis produk lipstik lainnya mengandung
lilin, lip tint/lip stain justru tidak mengandung lilin sama sekali di dalamnya. Ada
juga lip tint yang bentuknya menyerupai lip balm dan biasa disebut tinted lip
balm. Bahan utama untuk membuat lip tint/lip stain, yaitu air, alkohol dan gel,
tanpa dicampur lilin atau minyak. Itulah mengapa lip tint membuat bibir jadi lebih
mudah kering dibandingkan jenis lipstik lainnya. Maka dari itu, lip tint biasanya
diaplikasikan setelah penggunaan lip balm. Meskipun begitu, lip tint tetap
menjadi favorit karena warnanya yang bertahan lebih lama.
7. Frosty Lipstick
Frosty lipstick merupakan lipstik bertabur shimmer yang melimpah dan
mempunyai tekstur yang creamy. Ketika dioleskan di atas bibir, lipstik satu ini
akan melapisi bibir Anda dengan nuansa keperakan dan segar yang pada
dasarnya tidak selalu cocok untuk dipakai semua orang. Mungkin itu sebabnya
frosty lipstick tidak mampu mempertahankan eksistensinya hingga saat ini,
meskipun sempat berjaya di tahun 80-an.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi kulit bibir


Bibir adalah struktur berdaging sangat vaskular yang menjaga pintu masuk ke
rongga mulut.

Anatomi bibir terdiri dari:


 Zona Vermilion, yaitu bagian merah pada bibir yang disebabkan karena
bagian ini kaya akan vaskularisasi yang dapat terlihat melalui epitelium tipis.
 Vermilion Border, yaitu garis tepi zona vermilion yang merupakan batas
antara zona vermilion dengan kulit.
 Philtrum, turunan/lekukan kecil vertikal yang dangkal di garis tengah hidung
ke perbatasan vermilion atas.
 Tuberkulum Labial, tonjolan berdaging tepat di bagian inferior dari philtrum.
 Comissura Labial, lipatan tipis jaringan yang mudah terlihat ketika bibir
terbuka yang menghubungkan bibir atas dan bawah pada bag. lateral.
 Comissura Lip Pit, Lekukan kecil di tengah-tengah Comissura labial.
 Celah Mulut, Zona antara bibir superior dan inferior yang dapat dibuka atau
ketika bibir kontak satu sama lain atau ditutup.
B. Undang- undang
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Kosmetika adalah bahan atau sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada
bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ genital bagian
luar) atau gigi dan membran mukosa mulut terutama untuk membersihkan,
mewangikan, mengubah penampilan dan/atau memperbaiki bau badan atau
melindungi atau memelihara tubuh pada kondisi baik.
2. Bahan Kosmetika adalah bahan atau campuran bahan yang berasal dari alam
dan/atau sintetik yang merupakan komponen kosmetika termasuk bahan pewarna,
bahan pengawet dan bahan tabir surya.
3. Bahan Pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
memberi dan/atau memperbaiki warna pada kosmetika.
4. Bahan Pengawet adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk
mencegah kerusakan kosmetika yang disebabkan oleh mikrooganisme.

BAB II
PERSYARATAN BAHAN
Pasal 2
(1) Bahan Kosmetika harus memenuhi persyaratan mutu sebagaimana tercantumm
dalam Kodeks Kosmetika Indonesia atau standar lain yang diakui atau sesuai
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Bahan Kosmetika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa bahan yang
diperbolehkan digunakan dalam pembuatan kosmetika.
(3) Selain bahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), bahan tertentu
dilarang digunakan dalam pembuatan kosmetika.

Pasal 3
Bahan Kosmetika sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) meliputi:
a. Bahan Kosmetika yang diperbolehkan digunakan dengan pembatasan dan
persyaratan penggunaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan
bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini;
b. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Pewarna sebagaimana tercantum dalam
Lampiran II yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini;
c. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Pengawet sebagaimana tercantum dalam
Lampiran III yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini; dan
d. bahan yang diperbolehkan sebagai Bahan Tabir Surya sebagaimana tercantum
dalam Lampiran IV yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan ini.

BAB III
SANKSI ADMINISTRATIF
Pasal 6
Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan ini dapat dikenai sanksi
administratif
berupa:
1. Peringatan tertulis;
2. Larangan mengedarkan kosmetika untuk sementara;
3. Penarikan kosmetika yang tidak memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan,
mutu dan penandaan dari peredaran;
4. Pemusnahan kosmetika;
5. Pembatalan notifikasi; dan/atau
6. Penghentian sementara kegiatan produksi dan/atau peredaran kosmetika.
C. Komposisi lipstik

Komponen utama sediaan lipstik antara lain:


 Emolien. Castor oil, ester, lanolin, minyak alkohol (dodecanol oktil), minya
jojoba dan trigliserida.
 Malam. Candelilla, carnauba, lilin lebah, ozokerit/ceresein, silikon alkil,
polietilen, lanolin, parafin.
 Modifier wax. Bekerja bersama dengan malam untuk memperbaiki tekstur,
aplikasi dan stabilitas termasuk asetat setil dan lanolin asetat, oleil alkohol,
lanolin sintetik, lanolin alkohol asetat, dan vaselin (putih dan kuning).
 Pewarna. Di Amerika Serikat hanya zat warna yang telah diizinkan FDA yang
dapat digunakan dalam makanan, obat-obatan dan kosmetika. Pembagian zat
warna menurut FDA (Food and Drugs Administration):
a. FD & C color, untuk makanan, obat-obatan, dan kosmetik.
b. D & C, untuk obat-obatan dan kosmetik
c. Ext D & C yang diizinkan untuk dipakai pada obat-obatan dan kosmetik
dalam jumlah yang dibatasi.
 Zat aktif. Zat aktif yang ditambahkan dalam sediaan pewarna bibir adalah
sebagai pelembab dan pelembut yaitu untuk memperbaiki kulit bibir yang
kering dan pecah-pecah diantaranya: tokoferil asetat, natrium hyaluronate,
ekstrak lidah buaya, ascorbyl palmitate, silanols, ceramides, Panthenol, asam
amino, dan beta karoten.
 Pengisi. Mica, silica, boron nitride, BiOCl, pati, lisin lauroyl
 Antioksidan/Pengawet BHA, BHT, ekstrak rosemary, asam sitrat, propil
paraben, metil paraben, dan tokoferol (Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I.,
2001).

Komponen Lipstik yang Digunakan:

1. Oleum ricini (Minyak jarak)


Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin biji
Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya berupa cairan kental,
jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, rasa manis dan agak
pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam 2,5 bagian etanol (90%), mudah larut
dalam etanol mutlak, dan dalam asam asetat glasial (Ditjen POM, 1979).

2. Cera alba (Malam putih)


Cera alba dibuat dengan memutihkan malam yang diperoleh dari sarang lebah
Apis mellifera L. Pemeriannya yaitu berupa zat padat, berwarna putih
kekuningan, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air,
agak sukar larut dalam etanol (95%), larut dalam kloroform, eter, minyak lemak,
dan minyak atsiri. Suhu leburnya yaitu antara 62o hingga 64oC. Khasiat umumnya
digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).

3. Lanolin
Lanolin merupakan zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu
domba Ovis aries L. yang dibersihkan dan dihilangkan warna dan baunya.
Mengandung air tidak lebih dari 0,25 %. Pemeriannya yaitu massa seperti lemak,
lengket, warna kuning, bau khas. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, dapat
bercampur dengan air lebih kurang dua kali beratnya, agak sukar larut dalam
etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas, mudah larut dalam eter, dan dalam
kloroform. Suhu leburnya yaitu antara 38o dan 44oC (Ditjen POM, 1995).

4. Vaselin alba
Vaselin alba adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan,
diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa massa lunak, lengket,
bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan. Kelarutannya yaitu
praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), tetapi larut dalam
kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38o hingga 56oC. Khasiat umumnya
digunakan sebagai zat tambahan (Ditjen POM, 1979).

5. Setil alcohol.
Pemeriannya yaitu berupa serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih, bau
khas lemah, dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, larut dalam
etanol dan dalam eter, kelarutannya bertambah dengan naiknya suhu. Suhu
leburnya yaitu antara 45o dan 50o (Ditjen POM, 1995).

6. Metil paraben
Pemeriannya yaitu berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih,
tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar.
Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol
dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol. Suhu
leburnya antara 125oC hingga 128oC. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan
(zat pengawet) (Ditjen POM, 1995).

7. Oleum rosae (Minyak mawar)


Minyak mawar adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan uap
bunga segar Rosa gallica L., Rosa damascena Miller, Rosa alba L., dan varietas Rosa
lainnya. Pemeriannya yaitu berupa cairan tidak berwarna atau kuning, bau
menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25oC kental, dan jika didinginkan
perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika dipanaskan
mudah melebur. Kelarutannya yaitu larut dalam kloroform dan berat jenisnya
yaitu antara 0,848 sampai 0,863 (Ditjen POM, 1979).

8. Propilen glikol
Propilen glikol beupa cairan jernih, tidak berwarna, dan praktis tidak berbau, rasa
agak manis, dan stabil jika bercampur dengan gliserin, air, dan alkohol. Propilen
glikol sangat luas digunakan dalam kosmetika sebagai pelar Dalam kosmetika
propilen glikol berfungsi sebagai humektan (Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach,
H.I., 2009).

D. Cara pembuatan lipstik

Proses pembuatan lipstik tergantung pada jenis atau tipe formulasinya. Tahapan
proses pembuatan lipstik secara umum adalah :
1. pencampuran bahan penyusun lipstik,
2. pemanasan bahan menjadi massa lipstik dan
3. pencetakan massa lipstik menjadi batangan lipstik.

Zat warna yang dipakai dalam formulasi lipstik didispersikan terlebih dahulu
dengan minyak dalam jumlah yang pantas, selanjutnya pasta dari zat warna ini
digiling menjadi halus dan homogen.
Peleburan dan pencampuran

1. Bahan baku lipstik dilelehkan dan campuran secara terpisah karena jenis bahan yang
digunakan. Satu campuran berisi pelarut, yang kedua berisi minyak, dan yang ketiga
berisi lemak dan bahan lilin. Ini dipanaskan dalam stainless steel yang terpisah atau
wadah keramik.
2. Pelarut dan minyak cair kemudian dicampur dengan pigmen warna. Setelah massa
pigmen dipersiapkan, dicampur dengan lilin panas. Campuran harus bebas dari
gelembung udara. Selanjutnya, campuran tersebut dituangkan ke dalam cetakan
tabung, didinginkan, dan lepas dari cetakan. Campuran melewati sebuah pabrik rol,
grinding pigmen untuk menghindari rasa “kasar” untuk lipstik. Proses ini
ditambahkan udara ke dalam campuran minyak dan pigmen, kerja menjadi mekanik
untuk campuran yang diperlukan. Campuran diaduk selama beberapa jam, pada saat
ini beberapa produsen menggunakan peralatan vakum untuk menarik udara.
3. Setelah massa pigmen yang digiling dan dicampur, itu akan ditambahkan ke massa
lilin panas sampai warna seragam dan konsistensi diperoleh. Lipstik cairan kemudian
dapat disaring dan dibentuk, atau dapat dituangkan ke dalam panci dan disimpan.
4. Jika lipstik cairan yang akan digunakan segera, dipertahankan pada suhu cair, dengan
agitasi, sehingga udara tidak terjebak. Jika massa lipstik disimpan, sebelum
digunakan harus dipanaskan, diperiksa konsistensinya warna, dan disesuaikan
dengan spesifikasi, maka dipertahankan pada suhu mencair (dengan agitasi) sampai
dapat dituangkan.

Seperti yang diharapkan, lipstik selalu siap dalam batch karena pigmen warna yang
berbeda yang dapat digunakan. Ukuran batch, dan jumlah tabung lipstik yang
dihasilkan pada satu waktu, akan tergantung pada popularitas naungan tertentu yang
sedang diproduksi. Hal ini akan menentukan teknik manufaktur (otomatis atau
manual) yang digunakan. Lipstik dapat dihasilkan dalam proses sangat otomatis,
dengan tarif hingga 2.400 tabung per jam, atau dalam operasi dasarnya manual,
dengan harga sekitar 150 tabung per jam. Langkah-langkah dalam proses tersebut
pada dasarnya hanya berbeda dalam volume yang dihasilkan .

Pengecoran

5. Setelah massa lipstik dan campuran bebas dari udara, siap untuk dituangkan ke
dalam tabung. Berbagai setup mesin yang digunakan, tergantung pada peralatan yang
dimiliki produsen, tapi batch volume tinggi umumnya dijalankan melalui melter yang
agitates massa lipstik dan memelihara sebagai cairan. Untuk lebih kecil, batch manual
dijalankan, massa dijaga pada suhu campuran yang diinginkan, dengan agitasi, dalam
melter dikendalikan oleh operator.
6. Massa cair yang dibagikan ke dalam cetakan, yang terdiri dari bagian bawah dari
tabung logam atau plastik dan sebagian membentuk yang cocok dengan tabung.
Lipstik dituangkan “up-side down” sehingga bagian bawah tabung di bagian atas
cetakan. Setiap kelebihan dikikis dari cetakan.
7. Lipstik didinginkan (cetakan otomatis disimpan dingin; cetakan manual yang
dihasilkan ditransfer ke unit pendingin) dan dipisahkan dari cetakan, dan bagian
bawah tabung disegel. Lipstik kemudian melewati lemari untuk menutup lubang kecil
dan meningkatkan finishing. Lipstik secara visual diperiksa untuk lubang udara, garis
cetakan pemisahan, atau cacat, dan ulang jika perlu.
8. Untuk alasan yang jelas, pengerjaan ulang lipstik harus terbatas, menunjukkan
pentingnya langkah-langkah awal dalam menghilangkan udara dari massa lipstik.

Label dan kemasan

9. Setelah lipstik tersebut ditarik dan tabung dibatasi, lipstik tersebut siap untuk label
dan kemasan. Label mengidentifikasi batch dan diterapkan sebagai bagian dari
operasi otomatis. Sementara ada banyak penekanan pada kualitas dan tampilan
produk lipstik jadi, kurang penekanan ditempatkan pada penampilan lip balm. Lip
balm selalu dihasilkan dalam proses otomatis (kecuali untuk batch percobaan atau
uji). Cairan panas dituangkan ke dalam tabung dalam posisi retraksi, tabung
kemudian dibatasi oleh mesin-proses yang jauh lebih sulit.
10. Langkah terakhir dalam proses manufaktur adalah kemasan dari tabung lipstik. Ada
berbagai pilihan kemasan tersedia, mulai dari paket massal untuk paket individu, dan
termasuk kemasan sebagai komponen dalam kit makeup atau menawarkan promosi
khusus. Lip balm yang dikemas dalam jumlah besar, umumnya dengan perlindungan
minimal untuk mencegah kerusakan pengiriman. Kemasan untuk lipstik bervariasi,
tergantung pada apa yang akan terjadi di titik penjualan di outlet ritel.

Produk sampingan
Ada sedikit limbah dalam pembuatan lipstik. Produk digunakan kembali bila
memungkinkan, dan karena bahan yang mahal mereka jarang dibuang, kecuali tidak
ada alternatif lain. Dalam proses manufaktur normal tidak ada produk sampingan,
dan limbah porsi lipstik akan dibuang keluar dengan pembuangan bahan pembersih.

Quality Control
Mutu prosedur pengendalian yang ketat, karena produk tersebut harus memenuhi
Food and Drug Administration (FDA) standar. Lipstik adalah satu-satunya kosmetik
yang bisa dicerna, dan karena ini kontrol ketat pada bahan, serta proses manufaktur
diwajibkan. Lipstik dicampur dan diproses dalam lingkungan yang terkendali
sehingga akan bebas dari kontaminasi. Bahan yang masuk diuji untuk memastikan
bahwa memenuhi spesifikasi yang diperlukan. Sampel dari setiap batch yang
dihasilkan disimpan pada suhu kamar untuk mempertahankan kontrol pada batch.
Seperti disebutkan di atas, tampilan lipstik sebagai produk akhir sangat penting.
Untuk alasan ini semua orang yang terlibat dalam pembuatan menjadi inspektur, dan
non-standar produk. Pemeriksaan akhir dari setiap tabung dilakukan oleh konsumen,
dan jika tidak memuaskan, akan ditolak di tingkat ritel. Karena pengecer dan
produsen sering kali tidak sama, masalah kualitas di tingkat konsumen berdampak
besar pada produsen.
Warna lipstik juga sangat penting. Dispersi pigmen tersebut akan diperiksa ketat
ketika batch baru diproduksi, dan warna harus hati-hati dikendalikan ketika massa
lipstik yang dipanaskan. Warna lipstik massa akan berubah dari waktu ke waktu, dan
setiap kali batch yang dipanaskan, warna dapat diubah. Peralatan kolorimetri
digunakan untuk menyediakan beberapa cara numerik untuk mengontrol warna
lipstik. Peralatan ini memberikan pembacaan numerik dari tempat teduh, bila
dicampur, sehingga identik dapat cocok dengan batch sebelumnya. Pencocokan batch
dipanaskan dilakukan secara visual, waktu begitu hati-hati dan lingkungan kontrol
ditempatkan pada massa lipstik jika tidak segera digunakan.
Ada dua tes khusus untuk lipstik: Test Panas dan Test Pecah. Dalam Uji Panas,
lipstik ditempatkan di posisi diperpanjang di pemegang dan meninggalkan dalam
oven suhu konstan lebih dari 130 derajat Fahrenheit (54 derajat Celcius) selama 24
jam. Seharusnya tidak ada distorsi dari lipstik. Dalam Uji Pecah, lipstik diletakkan
dalam dua pemegang, dalam posisi diperpanjang. Berat ditambahkan kepada
pemegang pada bagian lipstik pada 30-detik interval sampai pecah lipstik. Tekanan
yang dibutuhkan untuk pecah lipstik ini kemudian diperiksa terhadap standar
pabrikan. Karena ada standar industri tidak untuk tes ini, masing-masing produsen
menetapkan parameter sendiri.

Sifat Fisis Sediaan


 Pemeriksaan organoleptis, meliputi ada tidaknya perubahan bentuk, warna, dan
bau dari sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing sediaan selama
penyimpanan pada suhu kamar 18 pada hari ke 1, 5, 10 dan selanjutnya setiap 5 hari
hingga hari ke-30 Pemeriksaan homogenitas
 Pemeriksaan homogenitas, dapat dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan
lipstik pada bahan yang permukaannya licin dan putih (Anonim, 1998a ). Selain itu,
pemeriksaan homogenitas dan kestabilan zat warna dari formula lipstik dapat
dilakukan dengan cara memotong lipstik secara membujur dan diamati terdapat
bintik-bintik pewarna atau tidak.
 Pemeriksaan Suhu Leleh, dapat dilakukan dengan berbagai metode. Ada dua
metode yang biasanya digunakan yaitu metode melting point dan metode drop point.
Metode melting point menggunakan pipa kapiler sedangkan metode drop point
menggunakan pelat tipis. Syarat lipstik melebur pada metode melting point adalah
60ºC atau lebih, sedangkan untuk metode drop point adalah diatas 50ºC. Penetapan
suhu lebur lipstik dilakukan untuk mengetahui pada suhu berapa lipstik akan meleleh
dalam wadahnya sehingga minyak akan keluar. Suhu tersebut menunjukkan batas
suhu penyimpanan lipstik yang selanjutnya berguna dalam proses pembentukan,
pengemasan, dan pengangkutan lipstik.

Evaluasi sediaan lipstik

 Sifat Kimia ( Pemeriksaan pH)


Pemeriksaan pH bertujuan untuk mengetahui keamanan sediaan lipstik saat
digunakan sehingga tidak mengiritasi kulit. Penentuan pH sediaan dilakukan dengan
menggunakan alat pH meter. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu 1 gram
sampel dilarutkan dalam 100 ml akuades (Rawlins, 2003).

 Uji Tempel (Patch Test)


Uji tempel adalah uji iritasi dan kepekaan kulit yang dilakukan dengan cara
mengoleskan sediaan uji pada kulit normal panel manusia dengan maksud untuk
mengetahui sediaan tersebut dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak.

 Uji Kesukaan (Hedonic Test)


Uji kesukaan (Hedonic Test) adalah pengujian terhadap kesan subyektif yang sifatnya
suka atau tidak suka terhadap suatu produk. Pelaksanaan uji ini memerlukan dua
pihak yang bekerja sama, yaitu panel dan pelaksana. Panel adalah seseorang atau
sekelompok orang yang melakukan uji melalui proses penginderaan, orangnya
disebut panelis. Panel terbagi menjadi dua, yaitu panel terlatih dan tidak terlatih.
Jumlah panel uji kesukaan makin besar semakin baik, sebaiknya jumlah itu melebihi
20 orang. Jumlah lebih besar tentu akan menghasilkan kesimpulan yang dapat
diandalkan
Daftar Pustaka

Ansel HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Ibrahim F, penerjemah.


Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms.

[Depkes RI] Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1993. Kodeks Kosmetik


Indonesia Ed ke-2 voLume I. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan
Makanan.

Doerge RF. 1982. Serbaneka senyawa organik untuk farmasi. Di dalam Wilson, Gilsvold.
1982. Buku Teks Wilson dan Gisvold Kimia Farmasi dan Medisinal Organik Bagian
II. Fatah AM, penerjemah. Semarang: IKIP Semarang Press. Terjemahan dari
Wilson and Gisvold’s Textbook of Organic Medicinal and Pharmaceutical Chemistry.

Fessenden RJ, Fessenden JS. 1982. Kimia Organik. Ed ke-3. Pudjaatmaka AH,
penerjemah. Jakarta: Penerbit Erlangga. Terjemahan dari Organic Chemistry.

Glicksman M. 1983. Food Hydrocolloids. Florida: CRC Press.


Mitsui. 1997. New Cosmetic Science. NewYork: Elsevier.
Nussinovitch A. 1997. Hydrocolloid Aplications. London: Blackie Academic &
Professional
Polo KFD. 1998. A Short Textbook of Cosmeticology. Ed ke-1. Jerman: Verlag fur
Chemische Industrie.
Rieger M. 2000. Harry’s Cosmeticology. Ed ke-8. New York: Chemical Publishing Co Inc

Schmitt WH. 1996. Skin Care Products. Di dalam: DF Williams and WH Schmitt
(Ed). 1996. Chemistry and Technology of Cosmetics and Toiletries Industry. Ed ke-
2. London: Blackie Academy and Profesional.