Anda di halaman 1dari 7

CHAPTER 7.

MILIEKUIVALEN DAN MILIMOL

Jumlah elektrolit yg diberikan pada pasien biasanya dalam bentuk mEq. Berat dalam
satuan mg atau g jarang digunakan untuk eletrolit karena sifat elektrik ionnya paling banyak
dinayatakan sebagai mEq. 1 ekuivalen sama dengan berat yang mensuplai 1 unit muatan. Berat
ekuivalen adalah berat dalam g dari atom dibagi dengan valensi dari atom tersebut. 1 mEq sama
dengan 1/1000 Eq. ekivalensi bobot atau kesetaraan bobot dapat dinyatakan dengan membagi
MW dalam satuan g dengan valensi dari senyawa tersebut. 1 mmol setara dengan 1/1000 mol.
Contoh soal :
1. Kalsium dengan MW 40,8 dan valesi 2+. Sehingga perhitungan dalam bentuk mEq yaitu:
 Berat Eq = 40.08 g / 2 = 20.04 g
 Berat mEq = 20.04 g/1000 = 0.02004 g = 20.4 mg
2. Potassium dalam 250 mg penicillin V potassium tablet. Penisilin memiliki MW 388.49 g
dan valensi 1+. Sehingga perhitungan mEq potassium dalam tablet yaitu:
 Berat Eq = 388.48 g/1 = 388.48 g
 Berat mEq = 388.48 g/1000 = 0.38848 g = 388.48 mg
 (250 mg/tablet)/(388.48 mg/mEq) = 0.644 mEq potassium/ tab.
3. Magnesium dan sulfat dalam dosis 2mL pada 50% sediaan injeksi magnesium sulfat.
Magnesium sulfat (MgSO4.7H2O) memiliki MW 246.47 dan valensi 2.
 (50 g/100 mL) × (2 mL/dose) = 1 g/dose
 Berat Eq = 246.47 g/2 = 123.24 g/Eq
 1g/dose)/(123.24 g/Eq) = 0.008114 Eq = 8.114 mEq dalam magnesium sulfat per
dose.
4. Sebuah vial injeksi sodium klorida mengandung 3 mEq/mL sodium klorida. Perhitungan
untuk kekuatan dalam % w/v yaitu:
3𝑚𝐸𝑞 58.44𝑔 𝐸𝑞 0.1753𝑔
 𝑥 𝑥 1000 𝑚𝐸𝑞 =
𝑚𝐿 1𝐸𝑞 𝑚𝐿
 (0.1753 g/mL) × 100 mL = 17.53 g in 100 mL = 17.53% w/v
5. Berat potassium dalam 1 mol adalah 39.1 g dan beratnya dalam mmol yaitu:
 39.1 g/1000 = 0.0391 g or 39.1 mg
6. Pada 250 mg tablet penicillin V potassium memiliki MW 388.48. berat 1 mol yaitu
388.48 g sehingga berat dalam 1 mmol yaitu:
 388.48 g/1000 = 0.38848 g or 388.48 mg
250 𝑚𝑔 𝑚𝑚𝑜𝑙 0.644 𝑚𝑚𝑜𝑙
 𝑥 388.48 𝑚𝑔 =
𝑡𝑎𝑏 𝑡𝑎𝑏

CHAPTER 8. EKSPRESI KONSENTRASI

Ekspresi konsentrasi pada bagian ini mengacu pada campuran homogen suatu zat pada
suhu 20°-30° dan tekanan 1 atm (29,92 in Hg, 760 mm Hg, 101,3 kPa, 1013,3 mb): gas dalam
gas, gas dalam cairan, cairan dalam cair, cair dalam semipadat, padat dalam cairan, padat pada
semipadat, dan padat padat.
Tabel 1. Kekuatan obat metrik umum dan konsentrasi klinis meliputi, misalnya mg / mL,
mg / dL, g atau mg per L, dan ng / mL.

8.1. MENGHITUNG NORMALITAS


Hitung jumlah bubuk sodium bikarbonat yang dibutuhkan untuk menyiapkan 50 mL larutan
natrium bikarbonat 0,07 N(NaHCO3). [CATATAN-Sodium bikarbonat memiliki MW 84,01.]
Dalam reaksi asam atau basa, karena NaHCO3 dapat bertindak sebagai asam dengan melepaskan
satu proton, atau sebagai dasar dengan menerima satu proton, satu Eq NaHCO3 terkandung di
dalam setiap mol NaHCO3.
0.07 Eq 1 mol 84.01 g
 0.050 L x x x = 0.294 g sodium bikarbonat
L 1 Eq 1 mol
8.2. MENGHITUNG PERSENTASE KONSENTRASI
Persentase konsentrasi larutan dan campuran homogeny biasanya dinyatakan dalam salah satu
dari 3 persamaan bentuk dimana jumlah pembilang dan penyebut dalam bentuk g dan mL.
1. Persen volume ( %v/v) = ( volume zat terlarut / volume larutan atau suspense ) x 100 atau
% v/v = mL zat terlarut dalam 100 mLL larutan atau suspense.
2. Berat persen (% w/w) = (berat zat terlarut / berat larutan) x 100 atau 5 w/w = g bahan
dalam 100 g campuran
3. Persen berat dalam volume (% w/v) = (berat zat terlarut / volume larutan atau suspense) x
100 atau % w/v = g zat terlarut dalam 100 mL larutan atau suspense.
Tiga persamaan sebelumnya dapat digunakan untuk menghitung salah satu dari tiga nilai (yaitu,
bobot, volume, atau persentase) dalam persamaan tertentu jika dua nilai lainnya diketahui, maka:
1. Persen berat.
Resep dibaca sebagai berikut:

Hitung persentase konsentrasi untuk masing-masing dari keempat komponen menggunakan


persamaan persentase berat sebelumnya sebagai berikut:
(a) Berat total salep = 7,5 g + 7,5 g + 15 g + 30 g = 60,0 g
(b) Persentase berat seng oksida = (7,5 g seng oksida / 60 g salep) × 100% = 12,5%
(c) Persentase berat kalamin = (7,5 g calamine / 60 g salep) × 100% = 12,5%
(d) Persentase berat pati = (15 g pati / 60 g salep) × 100% = 25%
(e) Persentase berat petrolatum putih = (30 g petrolatum putih / 60 g salep) × 100% = 50%

2. Resep tertulis:
Rx: Minyak Eucalyptus 3% v / v dalam Minyak Mineral.
dibuat 30 mL
Hitunglah jumlah ramuan dalam resep ini dengan menggunakan rumus volume persen sebagai
berikut:
a. Jumlah minyak kayu putih.
 3% v/v = (volume minyak dalam mL / 30,0 mL) × 100% volume minyak = 0,9 mL
minyak kayu putih
b. Jumlah minyak mineral.
 30 mL - 0,9 mL = 29,1 mL minyak mineral

8.3 KONVERSI EKSPRESI KONSENTRASI


8.3.1 KONVERSI LARUTAN PADAT DALAM CAIR
Perhitungan yang digunakan untuk mengkonversi dari persen berat dalam volume (% w/v), ke
konsentrasi lain dan sebaliknya, dengan menggunakan densitas dan rumus yang sama atau berat
molekul, diilustrasikan sebagai berikut untuk larutan kalsium klorida, magnesium sulfat, dan
kalium klorida dalam air.
8.3.1.1 Menghitung konversi padat dalam cair
Contoh konversi Solid-in-liquid
1. Mengkonversi 10% b/v kalsium klorida (CaCl2 · 2H2O) menjadi molalitas (m). [CATATAN-
Kalsium klorida memiliki MW 147,01 g; 10% Larutan w / v memiliki kerapatan 1.087 g / mL.]
 10% b / v = 10 g larutan kalsium / 100 mL
Menggunakan kerapatan larutan:
 100 mL larutan × 1,087 g / mL = 108,7 g larutan
 108,7 g larutan - 10 g kalsium klorida = 98,7 g air = 0,0987 kg air
 10 g kalsium klorida / (147,01 g kalsium klorida / mol kalsium klorida) = 0,068 mol kalsium
klorida
 0,068 mol kalsium klorida / 0,0987 kg air = 0,689 m
2. Mengkonversi 50% w/v Magnesium Sulfat (MgSO4.7H2O) menjadi molaritas (M). MW
Magnesium Sulfat sebesar 246.47 g.
50 𝑔 𝑚𝑜𝑙 1000 𝑚𝐿
 𝑥 147.01 𝑔 𝑥 = 2.029 𝑀
100 𝑚𝐿 1𝐿
3. Mengkonversi 10% w/v Kalsium Klorida (CaCl2.2H2O) menjadi bentuk Normalitas.
10 𝑔 1 𝑚𝑜𝑙 2𝐸𝑞 1000 𝑚𝐿
 𝑥 𝑥 𝑥 = 1.36 𝑁
100 𝑚𝐿 147.01 𝑔 1 𝑚𝑜𝑙 1𝐿
4. Mengkonversi 10% w/v Kalsium Klorida (CaCl2.2H2O) menjadi bentuk mEq/mL.
10 𝑔 1 𝑚𝑜𝑙 2𝐸𝑞 1000 𝑚𝐸𝑞
 𝑥 𝑥 𝑥 = 1.36 𝑚𝐸𝑞/𝑚𝐿
100 𝑚𝐿 147.01 𝑔 1 𝑚𝑜𝑙 1𝐸𝑞
5. Mengkonversi 0.1% w/v Kalsium Klorida (CaCl2.2H2O) menjadi bentuk ppm.
 (0.1 g/100 mL) × (1 × 106 ppm) = 1000 ppm
6. Mengkonversi 33% w/v Potasium Klorida (KCl) menjadi rasio kekuatan 1:R
 (1/R) = (33 g/100 mL)
 R = 3.03
 1:R = 1:3

8.3.2. KONVERSI LARUTAN CAIR DALAM CAIR


Perhitungan digunakan untuk mengkonversi dari persen berat dalam berat (%w/w) dan volume
dalam volume (% v/v) ke konsentrasi lainya dan begitu sebalinya dengan menggunakan densitas
dan MW, diilustrasikan untuk gliserin dan isopropyl alcohol dalam air. Selain campuran cair
dalam semi padat, padat dalam semi padat, dan padat dalam padatan (%w/w) digunkana untuk
cairan kental seperti coal tar, gliserin dan asam pekat.

8.3.2.1. Konversi larutan cair dalam cair


1. Mengkonversi 50% w/w gliserin menjadi % w/v. (50% w/w gliserin memiliki densitas 1.13
g/mL
 (50 g/100 g) × (1.13 g/mL) = 0.565 g/mL
 56.5 g/100 mL = 56.5% w/v
2. Mengkonversi 70% v/v isopropyl alcohol menjadi % w/w. ( Isopropyl alcohol memiliki
densitas 0.79 g/mL dan 70% v/v Isopropyl alcohol memiliki densitas 0.85 g/mL)
 70 mL of isopropyl alcohol × (0.79 g/mL) = 55.3 g isopropyl alcohol
 100 mL larutan × (0.85 g/mL) = 85 g of larutan
 (55.3 g isopropyl alcohol/85 g larutan) × 100 = 65.06% w/w
3. mengkonversi 70% v/v Isopropyl alcohol menjadi bentuk w/v.
 55.3 g of isopropyl alcohol/100 mL of solution = 55.3% w/v
4. mengkonversi 50% w/w gliserin mnjadi bentuk molal (m). (MW gliserin adalah 92.1)
 50 g glycerin/(92.1 g/mol) = 0.543 mol of glycerin
 100 g larutan − 50 g glycerin = 50 g air = 0.05 kg of water
 (0.543 mol glycerin/0.05 kg air) = 10.86 m
5. Mengkonversi 70% v/v isopropyl alcohol menjadi molal (m). (isopropyl alcohol memiliki
densitas 0.79 g/mL dan MW 60.1 ; 70% isopropyl alcohol memiliki densitas 0.85 g/mL)
 70 mL isopropyl alcohol × (0.79 g/mL) = 55.3 g isopropyl alcohol
100 mL larutan × (0.85 g/mL) = 85 g larutan
 (85 g larutan − 55.3 g isopropyl alcohol) = 29.7 g air = 0.0297 kg air
 55.3 g isopropyl alcohol/(60.1 g/mol) = 0.92 mol isopropyl alcohol
 (0.92 mol isopropyl alcohol/0.0297 kg air) = 30.98 m
6. Mengkonversi 50% w/w gliserin menjadi bentuk molar (M).
( Gliserin memiliki densitas 92.1 g).
 contoh 50% w/w gliserin = 56.5% w/v gliserin
 (56.5 g/100 mL) × (mol/92.1 g) × (1000 mL/L) = 6.13 M
7. Mengkonversi 50% w/w gliserin menjadi % v/v ( 50% w/w gliserin memiliki densitas 1.13
g/mL ; 100% gliserin memiliki densitas 1.26 g/mL)
 50 g glycerin/(1.26 g/mL) = 39.7 mL glycerin
100 g larutan/(1.13 g/mL) = 88.5 mL larutan
 (39.7 mL gliserin/88.5 mL larutan) × 100% = 44.8% v/v
8. Mengkonversi 50% w/w gliserin menjadi rasio kekuatan 1:R
 1/R = (50 g gliserin/100 g larutan)
R = 2
1 : R = 1 : 2

8.3.3. KONVERSI SOLID DAN SEMI SOLID DALAM CAMPURAN SOLID DAN SEMI
SOLID
Perhitungan digunakan untuk mengkonversi dari persen berat dalam berat (% b/b)
menjadi ppm dan rasio kekuatan yang diilustrasikan sebagai berikut untuk fluocinonide dan
tolnaftate dalam sediaan topical semisolid dan serbuk.

8.3.3.1 menghitung konversi solid dan semi solid dalam campuran solid dan semi solid.
1. konversi 0.05% w/w salep fluocinonide menjadi bentuk ppm
 (0.05 g/100 g) × (1 × 106 ppm) = 500 ppm
2. Konversi 1.5% w/w serbuk tolnaftate menjadi bentu rasio kekuatan 1:R
 1/R = (1.5 g of tolnaftate/100 g of powder)
 R = 67
1:R = 1:67
3 Konversi 1% w/w tolnaftat dalam serbuk talk menjadi rasio kekuatan X:Y
 100 g serbuk − 1 g tolnaftate = 99 g talk
 X:Y = 1 g tolnaftate : 99 g talk

8.4. Pengenceran dan Konsentrasi


Larutan yang lebih pekat dapat diencerkan ke konsentrasi yang lebih rendah untuk mendapatkan
kekuatan dan presisi yang tepat saat persiapan peracikan. Serbuk dan campuran semi solid dapat
dicampur untuk mencapai konsentrasi rendah. Persamaan berikut dapat diterapkan pada masalah
pengenceran (Q1) (C1) = (Q2) (C2), di mana Q1 dan Q2 adalah masing-masing jumlah larutan 1
dan 2; C1 dan C2 adalah konsentrasi larutan 1 dan 2.
8.4.1. Perhitungan Pengenceran dan Konsentrasi
1. Pengenceran semi solid
Menghitung kuatitas atau jumlah (Q2) dalam g, harus ditambahkan pengencer 60g ke dalam
salep 10% w/w untuk membuat salep 5% w/w.
 (Q1) = 60 g, (C1) = 10% w/w, and (C2) = 5% w/w
 60 g × 10% w/w = (Q2) × 5% w/w
 (Q2) = 120 g
 120 g − 60 g = 60 g dari pengenceran yang akan ditambahkan
2. Pengenceran Solid
Hitung jumlah pengencer yang harus ditambahkan ke dalam 10 g triturasi (1 dalam 100) untuk
membuat campuran yang mengandung 1 mg obat dalam tiap 10 g campuran akhir.
 Konversi mg menjadi g
 1 mg obat = 0.001 g obat
 10 g campuran harus mengandung 0.001 g obat
 (Q1) = 10 g, (C1) = (1 dalam 100), and (C2) = (0.001 dalam 10)
 10 g × (1/100) = (Q2) × (0.001/10)
 (Q2) = 1000 g
Karena campuran akhir 1000 g mengandung 10 g triturasi, 990 g (atau 1000 g - 10 g) pengencer
diperlukan untuk mempersiapkan campuran pada konsentrasi 0,001 g obat untuk masing-masing
10 g.
3. Pengenceran cairan
Hitung persentase kekuatan (C2) larutan yang diperoleh dengan mengencerkan 400 mL larutan
5,0% b / v hingga 800 mL.
 (Q1) = 400 mL, (C1) = 5,0% b / v, dan (Q2) = 800 mL
 400 mL × 5% w / v = 800 mL × (C2)
 (C2) = 2,5% b / v
4. Pertahanan cairan
Hitung jumlah tambahan, dalam g, kodein fosfat yang perlu ditambahkan ke 180 mL obat
mujarab 12 mg / 5 mL acetaminophen dengan kodein memiliki konsentrasi akhir 30 mg / 5 mL
fosfat kodein.
 Jumlah untuk menambahkan = Jumlah total yang diperlukan - Jumlah yang ada
 Jumlah yang dibutuhkan: (30 mg / 5 mL) × 180 mL = 1080 mg kodein fosfat
 Jumlah hadir = (12 mg kodein / 5 mL) × 180 mL = 432 mg kodein fosfat
 Jumlah untuk menambahkan: 1080 mg - 432 mg = 648 mg kodein fosfat

CHAPTER 9. ALKOHOL

Untuk mencapai kepatuhan terhadap pernyataan dalam pemberitahuan umum dan


persyaratan tentang alkohol dan monografi USP untuk alkohol, beberapa konvensi dan
perhitungan khusus diperlukan. Pada monografi USP mengatakan bahwa alcohol yang
mengandung berat 92,3% - 93,8% sesuai dengan 94,9% -96,0% volume alkohol (C2H5OH) pada
15,56 °. Persentase konsentrasi untuk alkohol umumnya dianggap 95% v / v alkohol (C2H5OH)
dalam air.
Bila kata alkohol ditulis pada pesanan resep atau dalam formula, seperti misalnya
"alkohol 10 mL" atau "larut dalam 5mL alkohol ", apoteker harus menggunakan alkohol (USP
yaitu alkohol 95% (C2H5OH)). Bila kata alkohol ditulis dengan persen, misalnya "alkohol
20%", ini berarti 20% v / v alkohol (C2H5OH). Jika persentase ini ada pada label produk
komersial, artinya produk mengandung 20% v / v alkohol (C2H5OH). Jika ini adalah bagian dari
formula peracikan, artinya apoteker harus menambahkan yang setara dengan (ekivalen) 20% v/v
alkohol (C2H5OH), yang mungkin membutuhkan perhitungan khusus. Label produk dan
preparasi campuran meliputi kandungan alkohol (C2H5OH) dalam% v / v. untuk preparasi
campuran, nilai ini harus sering dihitung berdasarkan volume bahan yang mengandung alkohol
yang ditambahkan. Untuk perhitungan saat menyiapkan preparasi campuran obat menggunakan
alcohol sesuai USP, langkah pertama adalah menentukan kuantitas dalam mL dari alkohol yang
dibutuhkan, dan langkah kedua adalah untuk menentukan% v/v alkohol (C2H5OH) dalam
persiapan akhir sehingga dapat diberi label dengan benar.

9.1 PERHITUNGAN ALKOHOL


1. Tentukan jumlah alkohol yang dibutuhkan dalam resep :

a. Dalam urutan resep ini, alkohol 15% berarti sediaan mengandung 15% v/v alcohol
(C2H5OH).
b. Untuk 60 mL persiapan, hitung jumlah alkohol (C2H5OH) yang dibutuhkan:
15% v / v × 60 mL = 9 mL alkohol
c. Karena sumber alkohol (C2H5OH) adalah alkohol sesuai USP, maka volumenya dihitung
dalam mL alkohol sesuai USP untuk 9 mL alkohol (C2H5OH):
 9 mL alkohol / 95% v / v alkohol USP = 9,5 mL alkohol, USP. Karena itu, tambahkan
9,5 mL alkohol USP untuk preparasi ini.
d. Tentukan kandungan alkohol% v / v untuk pelabelan.
Karena pelabelan alkohol ada dalam% v / v alkohol (C2H5OH), kandungan alkohol dari
sediaan ini akan diberi label: Alkohol 15%.
2. Tentukan kandungan alkohol dalam% v / v untuk resep berikut :

Karena monografi USP untuk alkohol harus digunakan saat alkohol diminum dalam formula,
sehingga pengukuran 15 mL alkohol USP yaitu :
 95% Alkohol, USP × 15 mL = 14,25 mL alkohol
 14,25 mL alkohol / 100 mL larutan = 14,25% alkohol