Anda di halaman 1dari 18

NASIONALISME PERSFEKTIF KH.

BISRI MUSTOFA DALAM TAFSIR


AL IBRIZ LI MA’RIFATI AL QUR’AN AL AZIZ

PROPOSAL SKRIPSI

Oleh:

Jejen Maulana

NIM. 1151030156

JURUSAN ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR

FAKULTAS USHULUDDIN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI

BANDUNG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Nasionalisme merupakan suatu fitrah dalam bentuk kecintaan serta


kesetiaan terhadap tanah air, negara dan bangsa yang timbul dalam setiap
individu dengan berimplementasi pada gerakan untuk mewujudkan cita-cita
bersama yang berujung pada persatuan dan kesatuan. Nasionalisme sendiri
menjadi modal utama yang mendasari founding father serta pahlawan-
pahlawan terdahulu dalam mewujudkan kemerdekaan dan membentuk suatu
negara kesatuan.

Nasionalisme terbentuk dari dua term, yaitu nasional dan isme. Kata
nasional mempunyai arti kebangsaan dan bersifat bangsa. Sedangkan isme
adalah paham atau ajaran. Jadi nasionalisme memiliki makna dasar
(ajaran/faham) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri atau kesadaran
keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial dan aktual bersama-
sama untuk mencapai, mempertahankan, mengabdikan identitas, integritas,
kemakmuran dan kekuatan bangsa1.

Secara historis istilah nasionalisme lahir pada waktu, kondisi serta


faktor yang berbeda. Seperti halnya nasionalisme yang lahir di Barat muncul
lebih awal dibandingkan dengan istilah nasionalisme di Timur (terutama negar-
negara di Asia) termasuk indonesia. Nasionalisme barat muncul pada abad ke-
17 khususnya dibenua Eropa dan Amerika ketika terjadi proses integrasi dari
kerajaan-kerajaan sampai terbentuknya negara nasional. Latar belakang
lahirnya nasionalisme di barat ditandai dengan adanya revolusi yang
menentang adanya perbedaan kelas, kasta dan ras. Dengan adanya revolusi
yang terjadi di Barat tersebut menumbuhkan rasa kebebasan dan persamaan

1 Aplikasi android KBBI diakses pada tanggal 26 Desember 2018


serta persaudaraan yang kemudian menjadi roh kuat yang mendasari semangat
persatuan.

Secara umum nasionalisme barat yang teraktualisasi dalam bentuk


kebebasan yang harapannya juga terjadi persamaan dan persaudaraan ternya
berkembang menjadi nasionalisme ekpansif karena kebebasan lebih dihayati
dibidang politik saja sedangkan dibidang ekonomi dan sosial tidak terjadi
semangat persamaan dan persaudaraan yang menimbulkan sikap indiviualis
dan berorientasi kepada wajah kapitalisme, kolonialisme dan imprealisme yang
kemudian menjadi cikal bakal penjajahan terhadap bangsa-bangsa di Asia dan
Afrika.2

Sedangkan nasionalisme yang lahir di Timur (negara-negara Asia )


termasuk Indonesia terjadi sekitar abad ke-19 dengan dilatar belakangi
imprealisme dan kolonialisme bangsa barat dalam ekspansi wilayah kekuasaan.
Khususnya nasionalisme di Indonesia lahir pada masa penjajahan yang secara
garis besar mengalami beberapa tahapan yang dimulai dengan perjuangan
emansipasi yang di pelopori oleh Kartini yang dianggap menghambat
perkembangan kaum perempuan.

Sartono Kartodirdjo (1967) dalam teorinya berpendapat bahwa sepak


terjang Kartini masuk kedalam fase awal pembentukan nasionalisme di
Indonesia yang kemudian selanjutnya terbentuk organisasi-organisasi
kebangsaan yang menandai bangkitnya kesadaran sebagai bangsa Indonesia.3

Nasionalisme di Indonesia dimaknai dengan cinta bangsa dan tanah air


yang mempunyai artian lebih luas yaitu dalam perjuangan melawan penjajah
nasionalisme sering disebut patriotisme-heroisme lalu berkembang menjadi
kesetiaan terhadap negara dan bangsa yang kemudian melahirkan
kemerdekaan.

2 Dr.Drs. Yosaphat Haris Nusarastriya, M.Si. Jurnal sejarah nasionalisme dunia dan Indonesia
3 Ibid.
Terbentuknya Indonesia sebagai Negara Kesatuan merupakan
implementasi dari rasa nasionalisme yang menumbuhkan kesadaran semangat
persatuan dan persaudaraan seluruh komponen bangsa tanpa melihat latar
belakang agama, suku, bahasa dan ras. Semangat ini menjadi modal dasar dan
asas kuat untuk menyatukan dan meleburkan diri dengan penuh kerelaan dan
kesetiaan dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keinginan
bernegara ini tercermin dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.4

Agama Islam sebagai agama yang rahmatan li al-‘alamin sebagaimana


tertuang dalam al-Qur’an ( Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad)
melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam)5 turut berperan dalam
membentuk kesadaran bangsa memperoleh kemerdekaan. Hubungan Islam dan
Nasionalisme dalam konteks Indonesia sama tuanya dengan usia kemerdekaan
itu sendiri. Perbincangan yang sudah dimulai sebelum Indonesia
diproklamasikan sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Sebagian komunitas
muslim menilai tidak ada pertentangan antara Islam dan Nasionalisme. Namun
tidak sedikit pula yang menilai bahwa Islam dan Nasionalisme tidak dapat
berdampingan sebagai ideologi dan keyakinan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kecintaan terhadap tanah air


merupakan ajaran Islam yang sangat mendasar sejajar dengan kecintaan
terhadap agama. Bermula dari itulah maka kita dapat saksikan bagaimana para
ulama, kiai dan guru ngaji sangat menentang kolonialisme Belanda, sampai
mereka mengeluarkan fatwa haram memakai pantaloon dan dasi karena
menyerupai penjajah yang kafir.6 Rasa kebangsaan (Nasionalisme) tidak dapat
dinyatakan adanya, tanpa dibuktikan oleh patriotisme, persatuan, pluralisme
dan cinta tanah air. Cinta tanah air ini tidak bertentangan dengan prinsip-

4 Sidky Daeng Materu Mohamad, Sejarah Pergerakan Nasional Bangsa Indonesia (Jakarta: PT.
Gunung Agung, 1985) Cet, ke-3 hlm 112-115
5 QS Al-Anbiya ayat 107
6 Dhofier Zamakhsyari, Tradisi Pesantren (Jakarta: LP3ES, 1985), hlm. 18
prinsip agama, bahkan secara inklusif di dalam ajaran Alquran dan praktek
Nabi Muhammad SAW.

Dalam menegakkan Nasionalisme tindakan Nabi Muhammad SAW.


pada saat di Madinah. Saat itu, Rasullullah mengikat seluruh penduduk
Madinah untuk mengadakan perjanjian yang disebut piagam Madinah.
Piagam itu dianggap sebagai cikal bakal terbentuknya nation-state. Madinah
saat itu dihuni oleh kaum Anshor yaitu penduduk asli yang telah memeluk
Islam, dan kaum Muhajir yang berasal dari Mekah dan menetap bersama Nabi
Saw atau setelah itu. Kaum Anshor sendiri terdiri dari suku Aus dan Khazroj.
Kaum muslim bukanlah satu-satunya yang menghuni kota Madinah. Di
samping muslim menghuni juga kaum Yahudi, Kristen, Majusi (penyembah
api) dan sisa- sisa orang Arab yang masih menyembah berhala. Piagam
Madinah merupakan landasan dasar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa
dan bernegara bagi penduduk Madinah yang majemuk. Isi pokok piagam
Madinah antara lain: pertama, semua pemeluk Islam meskipun berasal dari
banyak suku merupakan satu komunitas. Kedua, hubungan antara sesama
komunitas Islam dan antara komunitas Islam dan non Islam didasarkan atas
prinsip-prinsip bertetangga dengan baik, saling membantu dalam menghadapi
musuh, membantu mereka yang teraniaya, saling menasehati dan menghormati
kebebasan beragam7

Unsur-unsur Nasionalisme dapat kita temukan di dalam Alquran, yaitu;


Tentang persamaan keturunan, dalam Alquran menegaskan bahwa Allah Swt
menciptakan manusia terdiri dari berbagai ras, suku dan bangsa agar tercipta
persaudaraan dalam rangka menggapai tujuan bersama yang dicita-citakan.
Alquran sangat menekankan kepada pembinaan keluarga yang merupakan

7. Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara. Ajaran, sejarah dan Pemikiran (Jakarta: UI Press,
1993), hlm. 13-14
unsur terkecil terbentuknya masyarakat, dari masyarakat terbentuk suku dan
dari suku terbentuk bangsa. Sebagaimana Alquran Surat Al-A’raf ayat 160:

ُْ‫سىْإِذِْاستَس َقاه‬َ ‫اْوأَو َحينَاْإِلَىْ ُمو‬ ً ‫طعْنَا ُه ُمْاثنَتَيْعَش َرةَْأَسبَا‬


َْ ‫طاْأ ُ َم ًم‬ َّ َ‫َوق‬
َ ْ‫ْمن ْهُْاث َنتَاْعَش َرةَْعَينًاْقَد‬
ْ‫ع ِل َمْ ُْك ُّل‬ ِ ‫ست‬َ ‫صاكَ ْال َح َج َرْفَانبَ َج‬َ َ‫قَو ُمهُْأ َ ِنْاض ِربْبِع‬
ِ ُ‫سل َوىْ ُكْل‬
ْ‫واْمَّن‬ َّ ‫ْوال‬ َ ْ‫ْوأَن َْزل َنا‬
َ ‫ع َلي ِه ُمْال َم ََّّن‬ َْ ‫ع َلي ِه ُمْالغَ َما َم‬ َ ‫ْو‬
َ ْ‫ظلَّلنَا‬ ٍ َ‫أُن‬
َ ‫اسْ َمش َربَ ُهم‬
َ ُ‫اْولَ ِكَّنْكَانُواْأَنف‬
َ ‫س ُهمْيَظ ِل ُم‬
ْ‫ون‬ َ َ‫ْو َماْ َظلَ ُمون‬
َ ‫اْر َزقنَاكُم‬ َ
َ ‫طيِِّبَاتِْ َم‬

Artinya: “Dan mereka Kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-
masingnya berjumlah besar dan Kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya
meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka
memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku
mengetahui tempat minum masing-masing. dan Kami naungkan awan di atas
mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa. (kami
berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami rezkikan
kepadamu". mereka tidak Menganiaya Kami, tapi merekalah yang selalu
Menganiaya dirinya sendiri”.8

Di dalam Alquran juga berbicara tentang persatuan, sebagaimana


firman Allah Swt dalam surat Ali-‘Imran ayat 103:

ْ‫علَي ُْكمْ ِإذ‬


َ ِْ‫َّْللا‬ َ ْۚ‫اْو ََلْتَفَ َّرقُوا‬
َّ َ‫ْواذك ُُرواْ ِنع َمت‬ ِ َّ ‫َواعت َ ِص ُمواْ ِب َحب ِل‬
َ ً‫َّْللاْ َج ِميع‬
َْ ْ‫علَ ٰى‬
ْ‫شفَاْ ُحف َر ٍة‬ َ ً‫فْ َبي ََّنْقُلُو ِبكُمْفَأَص َبحتُمْْ ِبنِع َمتِ ِهْ ِإخْ َوان‬
َ ْ‫اْوكُنتُم‬ َ َّ‫كُنتُمْأَعدَا ًءْفَأَل‬
َّْ ُ‫ْمن َهاْْۗ َك ٰذَ ِلكَ ْيُبَ ِيَِّّن‬
َْ ‫َّْللاُْلَكُمْآيَاتِ ِهْ َل َعلَّكُمْتَهتَد‬
‫ُون‬ ِ ‫ِم ََّنْالنَّ ِارْفَأَنقَذَكُم‬

Artinya: “Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah dan


janganlah kamu berpecah belah dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu

8 Software Q-soft
ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah
mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-
orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu
Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.9

Di samping itu al-Qur’an juga berbicara masalah cinta tanah air,


sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Mumtahanah ayat 8-9;

ْ‫ْمَّنْ ِد َي ِاركُمْأَْن‬
ِ ‫ْولَمْيُخ ِر ُجوكُم‬ ِ ‫ِيَّنْ َلمْيُقَا ِتلُوكُمْفِيْال ِّد‬
َ ‫ِيَّن‬ َ ‫َّْللاُْع ََِّنْالَّذ‬
َّ ‫ََلْ َين َها ُك ُم‬
َ ‫ََّنْالَّذ‬
ْ‫ِيَّن‬ َّ ‫)ْإِنَّ َماْيَن َها ُك ُم‬8(ْ‫يَّن‬
ِْ ‫َّْللاُْع‬ َ ‫بْال ُْمقس ِِط‬ َّ ‫طواْإِلَي ِهمْ ِإ َّن‬
ُّ ‫َّْللاَْيُ ِح‬ ُ ‫س‬ ِ ‫ْوتُق‬َ ‫تَبَ ُّرو ُهم‬
ْ‫اجكُمْأَنْت َ َولَّو ُْهم‬ ِ ‫علَىْإِخ َر‬ َ ْ‫ظا َه ُروا‬ َ ‫ْو‬ ِ ‫ْوأَخ َر ُجوكُم‬
َ ‫ْمَّنْ ِْد َي ِاركُم‬ ِ ‫قَاتَلُوكُمْفِيْال ِّد‬
َ ‫ِيَّن‬
َّ ‫َو َمَّنْيَتَ َولَّ ُهمْفَأُولَئِكَ ْ ُه ُمْال‬
َْ ‫ظا ِل ُم‬
ْ‫ون‬
Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan
Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama
dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang Berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya
melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang
memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan
membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan
mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim”.10

Begitu juga dengan Nabi Ibrahim yang mendoakan supaya


negaranya aman dan damai, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 126:

ِ ُ‫اْوار ُزقْأَهلَه‬
ْ‫ْم ََّنْالث َّ َم َراتِْ َمَّنْآ َم ََّنْ ِْمن ُهم‬ َْ ً‫ًاْآمن‬ ِ ‫بْاج َعلْ ٰ َهذَاْبَلَد‬ َ ‫َو ِإذْقَا َلْ ِإب َرا ِهي ُم‬
ِ ِّ ‫ْر‬
ْ‫س‬ َ ْ‫بْالنَّ ِار‬
َ ‫ْۖو ِبئ‬ ِ ‫عذَا‬َ ْ‫ط ُّرهُْ ِإلَ ٰى‬ َ ‫يًلْث ُ َّمْأَض‬
ً ‫ْو َمَّنْ َكفَْ َرْفَأ ُ َم ِت ِّ ْعُهُْقَ ِل‬
َ ‫ْوال َيو ِمْاْل ِخ ِرْْۖقَا َل‬ َ ِ‫اَّلل‬
َّ ‫ِب‬
ُْ ‫ال َم ِص‬
‫ير‬
Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku,

9 Software Q-soft

10 Software Q-soft
jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari
buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka
kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang
yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, Kemudian Aku paksa ia
menjalani siksa neraka dan Itulah seburuk-buruk tempat kembali".11

Alquran juga mengajarkan tentang pentingnya patriotisme,


sebagaimana disebutkan dalam Alquran surat At-Taubah ayat 41:

ْ‫َّْللاِْْۚ ٰذَ ِلكُمْ َخيْ ٌرْلَكُمْإِن‬


َّ ‫سبِي ِل‬ ِ ُ‫ْوأَنْف‬
َ ْ‫سكُمْ ِفي‬ َ ‫ْو َجا ِهدُواْبِأَم َوا ِلكُم‬ َ ً‫واْخفَاف‬
َ ‫اْو ِثقَ ًاَل‬ ِ ‫ان ِف ُر‬
َْ ‫كُنتُمْتَع َل ُم‬
‫ون‬
Artinya: “Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan
maupun berat Dan berjuanglah kamu dengan harta dan jiwa kamu pada
jalan Allah. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu termasuk orang-
orang yang berpengetahuan”.12

Alquran juga berbicara tentang pluralisme, hal ini dapat dilihat


dalam surat Al-Hujurat ayat 13

َ ‫اْوقَ َبا ِِئ َلْ ِلْت َ َع‬


ْ‫ارفُواْْۚ ِإ َّن‬ َ ‫ْوأُنْث َ ٰى‬
ُ ْ‫ْو َج َعلنَاكُم‬
َ ً‫شعُوب‬ َ ‫ْمَّنْذَك ٍَر‬ ُ َّ‫َياْأَيُّ َهاْالن‬
ِ ‫اسْ ِإنَّاْ َخ َلقنَاكُم‬
ٌْ ‫ع ِلي ٌْمْ َخ ِب‬
‫ير‬ َّ ‫ََّْللاْأَتقَاكُمْْۚ ِإ َّن‬
َ َْ‫َّْللا‬ ِ َّ ‫أَك َر َمكُمْ ِعند‬
Artinya: “Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-
bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah
SWT. ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu. Sesungguhnya
Allah SWT. Maha Mengetahui dan Maha mengenal”13

KH Bisri Mustofa dikenal sebagai seorang Kiai kharismatik yang

11 Software Q-soft
12 Software Q-soft
13 Software Q-soft
merupakan pengasuh Pondok Pesantren Raudotu Tholibin Rembang

Jawa Tengah. selain sebagai pengasuh pondok pesantren beliau juga

seorang politikus handal yang disegani oleh semua kalangan. Sebelum

NU keluar dari Masyumi, KH Bisri Mustofa adalah seorang aktivis

Masyumi yang sangat gigih berjuang untuk kesejahteraan masyarakat

terutama kaum minoritas. Beliau juga dikenal sebagai tokoh yang handal

dalam berpidato, dalam setiap kampanye beliau pasti menjadi juru

kampanye andalan dari partainya. Kemampuan panggung KH Bisri

Mustofa memang seorang orator yang tidak terbantah dan diakui oleh

siapa pun.14

Pemikiran keagamaan KH Bisri Mustofa dinilai oleh banyak

kalangan bersifat moderat. Sikap moderat ini merupakan sikap yang

diambil dengan menggunakan pendekatan ushul fiqh yang

mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan umat Islam yang

disesuaikan dengan situasi, kondisi zaman dan masyarakatnya. Beliau

termasuk salah satu tokoh NU yang setuju dengan adanya Nasakom.

Padahal waktu itu banyak kritikan, cemoohan dan banyak orang yang

tidak setuju dengan adanya ide Nasakom itu. Akan tetapi keberanian

sikap KH Bisri Mustofa tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa

ketika sebuah pemerintahan terdiri dari kekuatan masyarakat yang

mayoritas, maka pemerintahan tersebut menjadi kuat dan solid.

Sehingga pemerintah bisa mengetahui kebutuhan dan mampu

memberikan yang terbaik bagi mayoritas warga bangsa Indonesia.15

14 Munawir Aziz, “KH Bisri Musthofa: Singa Podium Pejuang Kemerdekaan”. Diakses dari
http://www.nu.or.id/post/read/64690/kh-bisri-musthofa-singa-podium-pejuang-kemerdekaan pada
tanggal 26 desember 2018 pukul 23.16 WIB
15 Tim Mata Air Syndicate, Para pejuang dari Rembang. (Rembang: Mata Air Press,2006)
Selain alasan tersebut KH Bisri Mustofa juga menggunakan alasan

dengan memakai dalil-dalil agama.

KH Bisri Mustofa adalah seorang yang sangat produktif dalam

menulis. maka tidak heran jika Pemikiran-pemikiran beliau itu

dituangkan dalam bentuk tulisan yang disusunnya menjadi buku-buku,

kitab-kitab dan lain sebagainya. Banyak sekali karya beliau yang sampai

sekarang menjadi rujukan bagi para ulama dan santri di Indonesia dan di

Jawa khususnya. Hasil karyanya yang sudah tercetak kira-kira sebanyak

176 buah16. Salah satu dari hasil buah karyanya yang terbesar adalah

Tafsir al-Ibriz Li Ma’rifati Tafsir al-Qur’an al-‘Azizi bi al-Lugati al-

Jawiyyah17 atau yang lebih populer dikenal dengan nama “Tafsir al-

Ibriz”. Dalam tafsir ini ditulis dengan tulisan arab pegon yang

menggunakan bahasa daerah (jawa). Suatu produk tafsir tentunya

diasumsikan telah menyesuaikan dengan kondisi budaya masyarakat

setempat di mana seorang mufassir itu tinggal, karena realitas menjadi

acuan standar terhadap lahirnya sebuah teks sebab tanpa realitas teks

menjadi hampa makna.

Seperti yang kita ketahui, tafsir merupakan dialog terus-menerus

antara teks suci, penafsir dan lingkungan sosial-politik-budaya yang ada

di sekitarnya. Dalam hal ini mufassir al-Ibriz pernah hidup pada saat

hiruk-pikuk kolonialisme yang marak di Indonesia. Semangat persatuan

(Nasionalisme) mengelilingi kehidupan beliau. KH Bisri Mustofa juga

16 Channel Ulil Absor Abdala, Ngaji Kitab Ulama Nusantara: Tafsir Al Ibriz Karya KH Bisri
Mustofa (16/3/2018). You tube diakses pada tanggal 27 Desember 2018 pukul 8.24 WIB
17 Mustafa Bisyri, al-Ibriz li Ma’rifat Tafsir al-Qur’an al-Aziz (Kudus: Menara Kudus, 1960),
muqaddimah
terpilih sebagai ketua Hizbullah cabang Rembang, barisan militer Umat

Islam yang dibentuk Jepang untuk melawan sekutu. Sehingga beliau

turut mengkampanyekan pentingnya menanamkan kesadaran

Nasionalisme bangsa. Dari sinilah penulis ingin mengkaji tentang

Nasionalisme Perspektif KH Bisri Mustofa Dalam Tafsir Al Ibriz Karya.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Tafsir Nasionalisme Dalam Tafsir Al-Ibriz Karya KH Bisri
Mustofa?
2. Bagaimana Implimentasi Penafsiran KH Bisri Mustofa Tersebut Dalam
Kehidupan Bernegara?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini di harapkan menjadi masukan berharga bagi para
peminat studi tafsir dalam memperkaya khazanah keilmuan yang ada dan
semakin mempertebal keyakinan bahwa al-Qur’ân adalah sumber referesnsi
keberagamaan yang sah. Adapun tujuan penelitian ini :

1. Untuk mengetahui Tafsir Nasionalisme Dalam Tafsir Al-Ibriz Karya KH


Bisri Mustofa.
2. Untuk mengetahui Implimentasi Penafsiran KH Bisri Mustofa Tersebut
Dalam Kehidupan Bernegara.

Ada beberapa hal yang dipandang perlu sebagai manfaat positif


dengan diangkatnya penelitian ini, di antaranya sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi


pengembangan pengetahuan ilmiah dalam bidang ilmu-ilmu keislaman,
terutama yang berhubungan dengan penafsiran Nasionalisme dalam tafsir
Tafsir al-Ibriz Li Ma’rifati Tafsir al-Qur’an al-‘Azizi bi al-Lugati al-Jawiyyah.

2. Manfaat praktis

Penelitian ini secara praktis bertujuan untuk memberikan sumbangan


ilmiah kepada ilmuan tafsir tentang kajian tafsir, semoga dapat dijadikan
pengembangan ilmu atau meningkatkan kualitas pengetahuan tentang
penafsiran Nasionalisme dalam ilmu tafsir.

D. Tinjauan Pustaka
Sesuai dengan masalah yang telah dirumuskan diatas, penulis
menemukan beberapa literatur yang berhubungan dengan permasalahan yang
dibahas, antara lain:
Zudi Setiawan dalam buku “Nasionalisme NU”. Buku ini berisi
tentang hubungan Islam dan negara dalam pandangan NU. NU sebagai salah
satu organisasi yang ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan serta
yang mengkampanyekan nasionalisme dan agama adalah sebuah kesatuan
dengan jargon hubbul wathon minal iman pada deklarasi resolusi jihad kaum
sarungan dalam memerangi penjajahan.18
Skripsi Asep Nendi Nugraha, “Konsep Nasionalisme Religius
Soekarno” Fakultas Ushuluddin dan pemikiran islam UIN Sunan Kali Jaga
Yogyakarta, 2017. Dalam Skripsi ini membahas tentang pemikiran
Nasionalisme Soekarno yang subtansinya mengarah pada pembebasan,
patriotisme, kemanusiaan, pluralisme, demokratisasi serta persatuan. Dan
dalam mencirikan nasionalismenya, Soekarno cenderung membedakan
Nasionalisme menjadi dua bagian, yaitu Nasionalisme Barat dan
Nasionalisme Timur. Di samping itu juga mempunyai nilai relevansi dengan
pendidikan Islam, seperti halnya metode pendidikan dan pengajaran dalam
rangka pendidikan Islam sangat banyak terpengaruh oleh prinsip-prinsip
kebebasan dan demokrasi. Islam telah meyerukan adanya persamaan prinsip
dan kesempatan yang sama dalam belajar sehingga terbukalah jalan yang
mudah untuk belajar bagi semua orang. Termasuk prinsip-prinsip pendidikan
Islam yang juga mengedepankan persamaan, kebebasan, demokratisasi serta
humanisme.

18 Setiawan Zudi, Nasionalisme NU (cv. Aneka ilmu) 2007


Skripsi Mansata Indah Maratona, “Pendidikan Islam dan Penguatan
Nasionalisme Bangsa Indonesia (Telaah Atas Pemikiran KH Abdurrahman
Wahid Pada Buku Islamku Islam Anda Islam Kita dan Islam Kosmopolitan)”
Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, 2008. Dalam Skripsi ini
membahas pandangan Gus Dur mengenai Nasionalisme dalam Islam dan peran
pendidikan Islam dalam memperkuat jiwa Nasionalisme bangsa Indonesia dan
relasi yang tepat antara Nasionalisme dan agama.

Buku yang berjudul “Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH


Bisri Mustofa” karya Ahcmad Zainal Huda, buku ini sebelumnya adalah
sebuah penelitian skripsi penulis pada Program Studi Arab Jurusan Asia Barat
Fakultas Sastra Universitas Indonesia, dalam buku ini membahas tentang
biodata beliau dalam masa hidupnya (riwayat hidup, kiprah dan
perjuangannya dalam pergerakan NU).19
Dari sebagian penelitian maupun buku yang penulis temukan, kajian
pemikiran KH Bisri Mustofa mengenai Nasionalisme masih langka. Sehingga
penulis mengangap perlu untuk melakukan penelitian mengenai
Nasionalisme dalam Tafsir al-Ibriz.
E. Kerangka Berpikir
Penelitian ini dilakukan guna memahami akan esensi makna,
kandungan moral serta membuktikan bahwa Nasionalisme perspektif KH Bisri
Mustofa dalam tafsirnya Al ibriz Li al- Ma’rifati Tafsir al-Qur’an Al Aziz
mempunyai ciri khas tersendiri.

Hal yang akan pertama kali dilakukan penulis adalah tentang definisi
nasionalisme menurut para tokoh. Seperti halnya nasionalisme perspektif barat
diantaranya Louis Sneyder mengatakan bahwa Nasionalisme adalah hasil dari
perpaduan faktor-faktor politik, ekonomi, sosial, dan intelektual begitu juga
menurut Hans Kohn nasionalisme adalah formalisasi (bentuk) dan
rasionalisasi dari kesadaran nasional berbangsa dan bernegara sendiri. Dan

19 Huda zaenul, Ahmad. Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH Bisri Mustofa


(Yogyakarta: Pustaka Pesantren) 2005
kesadaran nasional inilah yang membentuk nation dalam arti politik, yaitu
negara nasional.20

Lalu menurut tokoh politik islam Syaikh Muhammad Taqiyuddin an-


Nabhani bahwa nasionalisme merupakan tabbi’at yang buruk, ikatan dalam
nasionalisme sangatlah lemah sehiangga tidak mampu mengikat manusia satu
sama lain untuk menuju kedalam kemajuan lalu beliau menelaah latar belakang
nasionalisme itu karena reaksi dari imprealisme dan bobroknya sistem jadi jika
kondisi sedang damai, aman dan tentram tidak nasionalisme itu akan hilang
serta berpandangan bahwa nasionalisme merupakan produk barat yang mana
dalam menjalankan syariat islam tidak perlu adanya adopsi pemikiran atau
budaya barat.21

Beda halnya dengan pemahaman KH Bisri Mustofa yang menyatukan


kedua unsur yaitu nasionalisme dan agama. dalam tafsirnya terdapat seruan
jihad dalam membela dan mempertahankan tanah air dari penjajahan. Sebagai
contohnya KH Bisri Mustofa menafsirakan QS. Attaubah ayat 41 sebagai
berikut:

َْ‫َّْللاِْْۚ ٰذَ ِلكُمْ َخي ٌرْلَكُمْإِنْْكُنت ُمْتَعلَ ُمون‬


َّْ ‫سبِي ِل‬ ِ ُ‫ْوأَنف‬
َ ْ‫سكُمْْفِي‬ َ ‫ْوجَا ِهدُواْ ِبأَم َوا ِلكُم‬ َ ً‫واْخ َفاف‬
َ ‫اْوثِ َق ًاَل‬ ِ ‫ان ِف ُر‬

KH Bisri Mustofa menafsirkan ayat tersebut sebagai berikut:


“Ayo berangkat !!! entheng, abot, berangkat ayo pod o jihato siro kabeh
kanthi bondho-bondho iro lan jiwo rogo iro kabeh in gdalem ngegungake
agamane Allah ta’ala. Mengkono iku bagus. Yen siro kabeh podo weruh,
ojo podo kabotan”22

Artinya: “Ayo berangkat!!! Ringan, berat, berangkat ayo jihadlah kamu


semua dengan harta bendamu dan jiwa ragamu semua di dalam mengagungkan

20 Hana, “Pengertian nasionalisme menurut para ahli I”. Diakses dari


https://www.academia.edu/9009190/PENGERTIAN_NASIONALISME_MENURUT_PARA_AH
LI_1 pada tanggal 27 desember 2018 pada pukul 21:19
21 Al-Nabhani Taqiyuddin, Sistem pergaulan dalam islam (edisi mu’tamad). (Jakarta: pustaka
Tariqul Izzah) 2007 hlm 33
22 Mustofa Bisyri, Al-Ibriz li Ma’rifati Tafsiri al-Qur’ani al-‘Azi zi bi al-Lugati alJawiyyah
(Kudus: Menara Kudus,), juz 10, hlm. 540
agamanya Allah ta’ala. Tersebut itu bagus. Jika kamu semua mengerti, jangan
keberatan”.

Penafsiran tersebut berarti bahwa dalam keadaan ringan maupun berat


kita harus berangkat untuk berjihad (melawan) terhadap musuh-musuh yang
telah memerangi kita, baik dengan harta maupun jiwa. Ini merupakan sikap
patriotisme dalam mempertahankan hak-haknya. Dalam konteks Nasionalisme
di Indonesia dalam menghadapi penjajah pada waktu itu. Sikap patriotisme
(Nasionalisme) sangat diperlukan bagi rakyat indonesia untuk melawan
penjajah. Karena dalam hal ini rakyat Indonesia sangat terusik sekali dengan
kedatangan penjajah.

Seperti diuraikan diatas bahwa KH Bisri Mustofa mempunyai ciri khas


tersendiri beliau memaknai nasionalisme bukan hanya tentang fanatisme atau
kecintaan terhadap bangsa saja lebih dari itu nasionalisme beliau atas dasar
beribadah kepada Allah Swt yang semata-mata mencari ridho-Nya.

F. Metodologi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini berjenis penelitian kualitatif yang merupakan
penelitian pustaka (library research). Pendekatan kualitatif sesuai
diterapkan untuk penelitian ini, karena penelitian ini dimaksudkan untuk
mengeksplorasi dan mengidentifikasi informasi.23Dalam hal ini adalah
ayat-ayat yang berkenaan tentang Nasionalisme. Secara garis besar
penelitian ini dibagi dalam dua tahap, yaitu pengumpulan data dan
pengelolaan data.
2. Sumber Data
Sumber data penelitian ini terbagi dua, yaitu sumber primer dan
sekunder. Sumber primer yang dimaksud adalah kitab Tafsir al-Ibriz Li
Ma’rifati Tafsir al-Qur’an al-‘Aziz, karya KH Bisri Mustofa Rembang

23 Bagong Suyanto , Metode Penelitian Sosial (Jakarta: Kencana, 2007), h. 174


yang ditulis memakai bahasa jawa dengan huruf arab pegon. Yang
diterbitkan oleh penerbit Menara Kudus pada tahun 1960. Sedangkan
Sumber sekunder yaitu sumber-sumber yang berupa buku-buku, artikel
penelitan yang terkait dalam bidang tersebut diatas, yang berfungsi sebagai
alat bantu dalam memahami hal ini. Seperti beberapa karya KH Bisri
Mustofa yang lainnya dan buku yang berhubungan dengan masalah yang
penulis bahas.
3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang penulis gunakan adalah metode
dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
berupa catatan, transkrip, buku, majalah, dan sebagainya.24 Karena
penelitian ini menggunakan tafsir al-Ibriz sebagai kajian utama dan hal-hal
yang berkaitan dengan Nasionalisme. Maka dalam hal ini penulis
mengumpulkan ayat-ayat Alquran yang berkenaan dengan unsur-unsur
Nasionalisme, berikut ayat-ayat tersebut: persamaan keturunan (QS. Al-
A’raf ayat 160), cinta tanah air (QS. Al-Baqarah ayat 126), sikap
patriotisme (QS. At-Taubah ayat 41 dan QS. Al-Mumtahanah ayat 8-9),
persatuan dan kesatuan (QS. Ali-‘Imran ayat 104, QS. Al-Anbiya’ ayat 92,
QS. Al-Mu’minun ayat 52 dan QS. Al-Anfal ayat 46), pluralisme (QS.
Al-Hujurat ayat 13) dan pembebasan (Q.S. An- Nisa’ ayat 75).

Di samping itu, penulis juga mencari data-data mengenai hal-hal


yang berkaitan dengan Nasionalisme dan sosok KH Bisri Mustofa.
Sehingga penulis dapat mengetahui pengertian Nasionalisme, Faktor
historis munculnya Nasionalisme dan Nasionalisme dalam Islam. Hal ini
dapat penulis gunakan dalam Bab II. Dan mengenai latar belakang
kehidupan KH Bisri Mustofa selaku muffasir tafsir al-Ibriz, penulis juga
mencari data-data yang berkaitan dengan penyusunan tafsir al-Ibriz,

24 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta:


Rineka Cipta, 1998), h. 206
Metodologi penyusunan, sistematika dan corak tafsirnya. Sehingga
nantinya dapat penulis gunakan dalam bab III. Penulis juga akan mencari
data-data mengenai penafsiran KH Bisri Mustofa terhadap ayat-ayat yang
berkaitan dengan unsur-unsur Nasionalisme di dalam produk terbesarnya
yaitu tafsir al-Ibriz, yang nantinya penulis gunakan dalam bab IV.
4. Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini akan
disesuaikan dengan objek permasalahan yang dikaji. Sebagaimana tersebut
di atas, objek penelitian yang dikaji dalam tulisan ini berupa pemikiran,
maka objek penelitian tersebut di analisis dengan mengunakan analisis
diskriptif yang meliputi dua jenis pendekatan.

a. Pendekatan analisis isi (Content analysis) yaitu analisis terhadap


ayat-ayat tentang unsur-unsur Nasionalisme dalam tafsir al Ibriz
karya KH Bisri Mustofa dalam rangka untuk menguraikan secara
lengkap literatur dan teliti terhadap suatu obyek penelitian.26
Metode ini merupakan jalan yang dipakai untuk mendapatkan
ilmu pengetahuan ilmiah dengan mengadakan perincian terhadap
obyek yang diteliti, atau cara pengunaan suatu obyek ilmiah
tertentu dengan memilah-memilah antara pengertian yang lain
untuk memperoleh kejelasan. Hal ini yang nantinya penulis
gunakan dalam bab IV untuk mengetahui nilai Nasionalisme yang
terkandung di dalam tafsir al-Ibriz karya KH Bisri Mustofa.
b. Pendekatan historis–sosiologis pendekatan ini digunakan untuk
menganalisis pemikiran KH Bisri Mustofa dengan melihat
seberapa jauh pengaruh tingkat sosial-kultural dalam membentuk
cara pandang KH Bisri Mustofa terhadap realitas yang
dihadapinya, cara pandangan kemudian membentuk pola pikir
(Mode of thought) KH Bisri Mustofa sehingga mempengaruhi
kostruksi pemikiranya dalam menafsirkan ayat-ayat tentang
Nasionalisme dalam tafsir al-Ibriz.
G. Sistematika Penulisan
Bab satu, berisikan pendahuluan yang menyajikan latar belakang,
rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka
berpikir, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
Bab dua, berisi uraian tentang Pengertian Nasionalisme, Faktor
historis munculnya, Nasionalisme dan Nasionalisme dalam Islam.
Bab tiga, meliputi pemaparan latar belakang mufassir yang berupa
Biografi, Riwayat pendidikan dan Karya-karyanya. Di samping itu
dijelaskan pula metode dan corak tafsirnya.
Bab empat, berisi tentang analisis penafsiran KH Bisri Mustofa
terhadap ayat- ayat tentang Nasionalisme dan Implimentasi penafsiran KH
Bisri Mustofa dalam kehidupan bernegara.
Bab lima, berisi penutup, yang meliputi kesimpulan dari seluruh
upaya yang telah penulis lakukan.