Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

1.1 Kajian Kebijakan


Kebijakan yang menjadi pertimbangan dalam kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis (Klhs) Transit Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-
Bandung adalah sebagai berikut:
1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
dan Ekosistemnya;
2) Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;
3) Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
4) Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah;
5) Undang-Undang No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian
Pangan Berkelanjutan;
6) Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
7) Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya;
8) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
9) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan
Ruang;
10) Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air;
11) Peraturan Pemerintah No. 35 Tahun 1991 tentang Sungai;
12) Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Kawasan Pelestarian Alam;
13) Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air;
14) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan;
15) Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata
Ruang;

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-1


16) Pemeraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2016 tentang Tata cara
Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
17) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 69 tahun 2017 tentang
Pedoman Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2016 Tentang
Tata Cara Penyelenggaraan Kajian Lingkungan Hidup Strategis;
18) Pemeraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2016 tentang Instrumen Ekonomi
Lingkungan;
19) Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Pulau
Jawa- Bali;
20) Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional 2015-2019;
21) Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2015, tentang Strategi Keterpaduan
Pengembangan Kawasan Dengan Infrastruktur;
22) Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek
Strategis Nasional;
23) Peraturan Daerah Nomor 22 Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Provinsi Jawa Barat Tahun 2009-2029;
24) Peraturan Daerah dan Peraturan Gubernur tentang Kebijakan Daerah dan
Sektoral;
25) Peraturan Daerah Kabupaten/Kota tentang RTRW Kabupaten/Kota;
26) Hasil kajian sektoral yang diantaranya pembahasan terkait KP2B/LP2B (Kawasan
Pertanian Pangan Berkelanjutan/Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan),
Kawasan Perkebunan, Wilayah Pertambangan dan Wilayah Kerja Panas Bumi,
Rippda (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah), dan WPPI (Wilayah
Pusat Pertumbuhan Industri);

1.2 Kajian Literatur

1.2.1 Pengertian KLHS

Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah kajian yang harus


dilakukan pemerintah daerah sebelum memberikan izin pengelolaan
lahan maupun hutan. KLHS tertuang dalam UU No 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pembuatan KLHS ditujukan untuk memastikan
penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam pembangunan suatu wilayah,
serta penyusunan kebijakan dan program pemerintah.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-2


Menurut undang-undang tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup,
KLHS harus dilakukan dalam penyusunan dan evaluasi rencana tata ruang wilayah,
rencana pembangunan jangka menengah dan panjang, kebijakan dan program yang
berpotensi menimbulkan dampak dan atau risiko terhadap lingkungan hidup.

Mekanisme pelaksanaan KLHS meliputi pengkajian pengaruh kebijakan, rencana, dan


program terhadap kondisi lingkungan hidup di suatu wilayah, perumusan alternatif
penyempurnaan kebijakan dan program serta rekomendasi perbaikan untuk
pengambilan keputusan kebijakan dan program yang mengintegrasikan prinsip
pembangunan berkelanjutan. KLHS sendiri menurut ketentuan harus memuat kajian
mengenai kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk
pembangunan; perkiraan mengenai dampak dan risiko terhadap lingkungan hidup.

1.2.2 Muatan KLHS

Isu lingkungan yang berkaitan dengan perencanaan Transit Oriented Development


(TOD) memiliki ruang lingkup yang luas. Pelaksanaan KLHS pada perencanaan Transit
Oriented Development (TOD) harus dimulai dengan menetapkan sasaran keberlanjutan
lingkungan yang akan mengarahkan keseluruhan proses dan muatannya. Untuk
efektivitas dan efisiensi KLHS terhadap proses perencanaan perencanaan, perlu
memfokuskan pada isu-isu keberlanjutan aktual yang terkait langsung terhadap
perencanaan yang dikaji.

Berdasarkan Pasal 16, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan


Pengelolaan Lingkungan Hidup, KLHS memuat kajian antara lain:
1. kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk pembangunan;
2. perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup;
3. kinerja layanan/jasa ekosistem;
4. efisiensi pemanfaatan sumber daya alam;
5. tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim; dan
6. tingkat ketahanan dan potensi keanekaragaman hayati.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-3


Muatan KLHS ini berbeda dengan muatan analisis aspek fisik dan lingkungan dalam
penyusunan RTR. Berdasarkan Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi, serta Sosial Budaya dalam Penyusunan
Rencana suatau kawasan, menyebutkan bahwa analisis aspek fisik dan lingkungan
adalah analisis untuk mengenali karakteristik sumber daya alam dengan menelaah
kemampuan dan kesesuaian lahan agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara
optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem. Sementara KLHS
dalam penyusunan RTR lebih memfokuskan pada kajian pengaruh kebijakan, rencana,
dan/atau program terhadap keberlangsungan lingkungan hidup yang tidak hanya
menyangkut ketersediaan sumber daya lahan. KLHS juga meliputi kajian pengaruh
terhadap kinerja ekosistem dan keanekaragaman hayati.

1.2.3 Pelaksanaan KLHS


Berdasarkan UU Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.9 Tahun 2011
tentang Pedoman Umum Pelaksanaan KLHS, mekanisme pelaksanaan KLHS meliputi:

a. Pengkajian Pengaruh Kebijakan, Rencana, dan/atau Program Pengkajian pengaruh


terhadap kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi lingkungan hidup
di wilayah perencanaan dilaksanakan melalui 4 (empat) tahapan sebagai berikut:
1. identifikasi masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya;
2. identifikasi isu pembangunan berkelanjutan;
3. identifikasi kebijakan, rencana, dan/atau program; dan
4. telaah pengaruh kebijakan, rencana, dan/atau program terhadap kondisi
lingkungan hidup di suatu wilayah.
b. Perumusan Alternatif Penyempurnaan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program
Perumusan alternatif penyempurnaan kebijakan, rencana, dan/atau program
bertujuan untuk mengembangkan berbagai alternatif perbaikan muatan kebijakan,
rencana, dan/atau program dan menjamin pembangunan berkelanjutan. Bentuk
alternatif penyempurnaan tersebut antara lain:
1. kebutuhan pembangunan;
2. lokasi;
3. proses, metode dan teknologi; dan
4. jangka waktu dan tahapan pembangunan.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-4


c. Rekomendasi Perbaikan Kebijakan, Rencana, dan/atau Program dan
Pengintegrasian Hasil KLHS Rekomendasi perbaikan dari kebijakan, rencana,
dan/atau program yang dapat diberikan dan diintegrasikan ke dalam RTR yaitu:
1. perbaikan rumusan kebijakan;
2. perbaikan muatan rencana; dan/atau
3. perbaikan materi program.

1.2.4 Mekanisme Pelaksanaan KLHS dalam Perencanaan TOD


Pelaksanaan KLHS dalam perencanaan Transit Oriented Development (TOD) kereta
Cepat dibagi menjadi beberapa tahap yang meliputi:
a. Tahap Persiapan
b. Tahap Pra-pelingkupan
c. Tahap Pelingkupan
d. Tahap Kajian Pengaruh
e. Tahap Perumusan Alternatif dan Rekomendasi

Persyaratan dalam penerapan panduan pelaksanaan dalam perencanaan Transit


Oriented Development (TOD) kereta Cepat adalah sebagai berikut:
a. Pelaksana KLHS adalah ahli yang memiliki kemampuan dan keahlian kajian
lingkungan;
b. Pemangku kepentingan mulai dari Pemerintah, pemerintah daerah setempat,
swasta hingga masyarakat lokal perlu dilibatkan aktif dalam pelaksanaan KLHS;
c. Dokumen dalam perencanaan Transit Oriented Development (TOD) kereta Cepat
sedang dalam proses penyusunan dan telah memiliki deliniasi wilayah yang tetap
atau akan dilakukan peninjauan kembali;
d. Melakukan penyusunan informasi dasar lingkungan yang meliputi aspek fisik
lingkungan, keanekaragaman hayati, sosial, dan ekonomi; dan
e. Menggunakan peta kerja untuk melakukan kajian yang berbasis pada peta rencana
dalam perencanaan Transit Oriented Development (TOD) kereta Cepat..

1.2.5 Integrasi KLHS dalam Perencanaan TOD Kereta Cepat


Pelaksanaan KLHS harus terintegrasi di dalam perencanaan TOD Kereta Cepat.
Terdapat 3 (tiga) tipe pendekatan integrasi pelaksanaan KLHS dalam perencanaan t
TOD kereta cepat, yaitu:

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-5


a. satu-kesatuan (embedded), dimana proses pelaksanaan KLHS berlangsung secara
menyatu di dalam proses penyusunan TOD kereta cepat. Pada tipe ini, ahli
lingkungan berada dalam satu tim dengan perencana TOD Kereta Cepat.
kelemahan metode ini berpotensi mengandung konflik kepentingan karena berada
dalam tim yang sama. Kelebihan metode ini adalah memungkinkan integrasi
menyeluruh aspek lingkungan pada proses penyusunan rencana TOD kereta cepat.
b. paralel, dimana proses KLHS berlangsung secara bersamaan dengan proses
penyusunan rencana TOD kereta cepat. Tim perencana tata ruang dan ahli
lingkungan bekerja pada tim yang berbeda. Komunikasi dengan menggunakan
rapat, diskusi, dan kerja bersama untuk mengintegrasikan KLHS dalam penyusunan
rencana TOD kereta cepat. Kelemahan tipe ini adalah kurang efisien ditinjau dari
waktu, biaya, dan tenaga.
c. setelah (post), dimana pelaksanaan KLHS dilakukan setelah selesainya penyusunan
rencana TOD kereta cepat. Tim perencana tata ruang dan ahli lingkungan bekerja
pada tim yang berbeda. Kelemahan tipe ini, keluaran KLHS yang dapat
dipergunakan hanya terbatas pada aspek mitigasi isu-isu strategis. Kelebihannya
adalah efisien dari waktu, biaya, dan tenaga. Pelaksanaan KLHS untuk penyusunan
rencana TOD kereta cepat dilakukan dengan pendekatan integrasi satu-kesatuan
(embedded), paralel, dan setelah (post). Sedangkan pelaksanaan KLHS untuk TOD
kereta cepat dilakukan dengan pendekatan integrasi satu-kesatuan (embedded)
dan paralel.

1.3 Garis Besar Metodologi Pelaksanaan Kegiatan

Secara substansial, KLHS merupakan suatu upaya sistematis dan logis dalam
memberikan landasan bagi terwujudnya pembangunan berkelanjutan melalui proses
pengambilan keputusan yang berwawasan dilaksanakannya, atau lebih tepatnya,
distorsi pelaksanaan Undang-Undang No. 34 Tahun 2007 tentang Pemerintahan
Daerah. Dengan demikian, KLHS seharusnya tidak diartikan sebagai instrumen
pengelolaan lingkungan yang semata-mata ditujukan pada komponen-komponen KRP,
tapi yang lebih penting adalah sebagai suatu cara untuk meyakinkan bahwa implikasi
pelaksanaan KRP terhadap lingkungan lingkungan.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-6


Dengan mengacu pada pertimbangan diatas maka garis besar metodologi kegiatan
Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Transit Oriented Development
(TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dubagi dalam 6 tahapan yaitu:

1) Tahap Persiapan
2) Tahap Pra Pelingkupan
3) Tahap Kajian Pelingkupan
4) Tahap Analisis Isu Strategis
5) Tahap Kajian Pengaruh KRP (Kebijakan, Rencana dan atau Program)
6) Tahap Perumusan Mitigasi/Alternatif

Untuk lebih jelasnya mengenai metodologi pelaksanaan kegiatan penyusunan Kajian


Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dapat dilihat pada gambar berikut ini:

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-7


PERSIAPAN PENYUSUNAN KLHS TOD KERETA CEPAT
JKT-BDG

Pembentukan Pengumpulan Data/


Kelompok Kerja Informasi Awal

KEGIATAN PRA PELINGKUPAN PENYUSUNAN KLHS


TOD KERETA CEPAT JKT-BDG

MENYUSUN ISU LINGKUNGAN PEMBANGUNAN TOD


JKT-BDG DENGAN 6 TEMA POKOK
Kapasitas daya dukung dan
Kinerja layanan atau jasa
daya tampung Lingkungan
ekosistem
Hidup untuk pembangunan

Perkiraan mengenai dampak Efisiensi pemanfaatan DAFTAR ISU PANJANG PEMBANGUNAN


dan resiko Lingkungan Hidup sumber daya alam TOD KERETA CEPAT JKT-BDG
Tingkat kerentanan dan Tingkat ketahanan dan
kapasitas adaptasi terhadap potensi keanekaragaman
perubahan iklim hayati.
KEGIATAN PELINGKUPAN PENYUSUNAN KLHS
TOD KERETA CEPAT JKT-BDG

Skoring

DAFTAR ISU STRATEGIS LINGKUNGAN


PEMBANGUNAN TOD JKT-BDG DALAM KAITANNYA
PERMBANGUNAN BERKELAJUTAN DALAM TEMA
LINGKUNGAN, SOSIAL DAN EKONOMI

IDENTIFIKASI DAN ANALISIS DATA ISU STRATEGIS


LINGKUNGAN PEMBANGUNAN TOD JKT-BDG

KAJIAN PENGARUH KRP (KEBIJAKAN, RENCANA


DAN ATAU PROGRAM) TERHADAP ISU STRATEGIS
LINGKUNGAN

PERUMUSAN MITIGASI/ADAPTASI DAN/ATAU


ALTENATIF

Gambar 1-1 Bagan Alir Metodologi Pelaksanaan Kegiatan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-8


1.3.1 Persiapan
Tahap ini merupakan tahap pertama dalam proses Kajian Lingkungan Hidup Strategis.
Dalam tahapan ini terdiri dari 3 kegiatan, yaitu (1) Membentuk Pokja Pengendalian
Lingkungan, (2) Mengidentifikasi pemangku kepentingan yang akan dilibatkan dalam
proses KLHS dan (3) pengumpulan data awal untuk menunjang kegiatan ini. Kegiatan
pertama diawali dengan membentuk Pokja Pengendalian Lingkungan.

Kelompok kerja pengendalian lingkungan di Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan


SK........yang terdiri dari......orang dengan susunan organisasai sebagai pembina
adalah......., penanggung jawab......ketua........anggota.........

Kelompok kerja pengendali lingkungan (POKJA PL) mengidentifikasi pemangku


kepentingan untuk dilibatkan dalam proses KLHS. POKJA PL menggunakan metode
pengaruh dan penting, yaitu dengan mengidentifikasi pemangku kepentingan mana
saja yang penting dan berpengaruh sampai dengan yang kurang penting dan kurang
berpengaruh.

Tabel 1-1 Identifikasi Pemangku Kepentingan Proses Penyusunan KLHS Kereta


Cepat Jakarta-Bandung
Yang Mempengaruhi Yang Dipengaruhi
Pemangku
No Pembangunan TOD Kereta Api Pembangunan Kereta
Kepentingan
Cepat JkK-BDG Api Cepat JkK-BDG
1 Pemerintah Gubernur dan Bupati
Dinas PU Pusat, Prov, Kab.
Bappeda Prov, Kab/Kota
Dinas Perhubungan Prov, Kab.
Dinas Lingkungan Prov, Kab.
Dinas Pertanian dan Kehutanan
Dinas BPN Provinsi, Kab.
Dinas ESDM
Dinas Perindustrian Prov, Kab.
Badan Perijinan kabupaten
Dinas Kependudukan
Dinas Penanaman Modal
Dinas Penataan Ruang Prov. Kab.
2 Organisasi Non PT Perhutani Pelaku dunia usaha dan
Pemerintah PT KAI asosiasi pengusaha
DPRD Prov Kabupaten
BUMD
PT KCIC
3 Masyarakat Lembaga Adat Organisasi masyarakat
Lembaga Swadaya Masyarakat atau tokoh masyarakat

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-9


POKJA PL selanjutnya menggunakan hasil identifikasi pemangku kepentingan sebagai
acuan analisis atau pemetaan pemangku kepentingan dengan menggunakan teknik
tertentu. Salah satu teknik yang dapat digunakan adalah melakukan penilaian dan
memberikan bobot terkait kondisi/persyaratan tertentu yang harus ditetapkan lebih
dahulu oleh POKJA PL.

1.3.2 Kegiatan Pra Pelingkupan


Pra-pelingkupan merupakan proses KLHS untuk mengumpulkan isu-isu pembangunan
TOD Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung di lokasi kegiatan. Proses ini dilakukan secara
internal oleh anggota POKJA PL dan beberapa undangan dalam kegiatan rapat
penyusunan KLHS. Hasil identifikasi isu-isu pembangunan kemudian diolah dan
dideskripsikan dengan menggunakan data dan informasi yang tersedia. Pada tahap ini
POKJA PL terlebih dahulu mengacu kepada isu strategis rencana program yang
berpotensi menimbulkan dampak kerusakan lingkungan seperti tertuang di dalam
rencana pembangunan TOD Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung di lokasi kegiatan,
selanjutnya POKJA PL mengumpulkan data dan informasi dari dokumen-dokumen di
SKPD, laporan dan hasil kajian, internet dan sumber data sekunder lainnya.

Penyusunanan daftar isu-isu pembangunan TOD Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung


dengan berdasarkan tema yang telah di tentukan dalam Kerangka Acuan Kerja (KAK).
Enam tema yang digunakan dalam membuat daftar panjang isu lingkungan adalah (1)
kapasitas daya dukung dan daya tampung Lingkungan Hidup untuk pembangunan, (2)
perkiraan mengenai dampak dan resiko Lingkungan Hidup, (3) kinerja layanan atau
jasa ekosistem, (4) efisiensi pemanfaatan sumber daya alam, (5) tingkat kerentanan
dan kapasitas adaptasi terhadap perubahan iklim, dan (6) tingkat ketahanan dan
potensi keanekaragaman hayati. Penyusunan isu panjang lingkungan denga 6 tema
tersebut dibuat seperti tabel berikut ini.

Tabel 1-2 BENTUK TABEL Daftar Panjang Isu KLHS Pembangunan TOD Kereta Api
Cepat Jakarta-Bandung
Tema No Daftar Panjang Isu Terkait
1 Pencemaran limbah dari rumah tangga, rumah sakit,
kapasitas daya dukung
perdagangan dan jasa, transportasi
dan daya tampung
2 Kesadaran masyarakat dan penegakan hukum belum
Lingkungan Hidup
memadai
untuk pembangunan
3 Degradasi kawasan sekitarnya akibat alih fungsi lahan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-10


Tema No Daftar Panjang Isu Terkait
menjadi TOD
4 Menurunnya daya tampung beban pencemaraan sungai.
.. .........
... ...........
n Dan lain sebagainya
1 Meningkatnya pencemaraan udara akibat perubahan
kegiatan
2 Pencemaraan air sungai
Perkiraan mengenai 3 Menurunnya kualitas air sungai
dampak dan resiko 4 Pencemaraan tanah
Lingkungan Hidup 5 Peningkatan kebisingan di sekitar TOD
.... ....
.... ....
n Dan lain sebagainya
1 Tingginya alih fungsi lahan dari non-pertanian menjadi
kawasan Perumahan, Perdagangan dan Jasa
2 Peningkatan dan pemanfaatan air tanah yang di Lokasi TOD
3 Menurunnya produksi oksigen
kinerja layanan atau
4 Berkurangnya penyediaan sumber air baku untuk irigasi
jasa ekosistem,
5 Sumber mata air berkurang
....
....
n Dan lain sebagainya
1
2
3
Efisiensi pemanfaatan 4
sumber daya alam 5
....
....
n
1
2
Tingkat kerentanan dan 3
kapasitas adaptasi 4
terhadap perubahan 5
iklim ....
....
n
1 Menurunnya keanekaragaman hayati
2 Ancaman kerusakan lingkungan air sungai
3
Tingkat ketahanan dan
4
potensi
5
keanekaragaman hayati
....
....

Sumber: Analisis Konsultan, 2018

Daftar isu panjang yang telah di susun berdasarkan 6 tema selanjutnya disandingkan
dengan penjelasan Pasal 15 UU No. 32 Tahun 2009 untuk mengetahui apakah tiap-tiap
rencana program berdampak pada: 1) perubahan iklim; 2) kerusakan, kemerosotan,
dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati; 3) peningkatan intensitas dan cakupan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-11


wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran lahan hutan dan
lahan; 4) penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam; 5) peningkatan alih
fungsi kawasan hutan dan/atau lahan; 6) peningkatan jumlah penduduk miskin atau
terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat, seperti disajikan
pada tabel berikut ini.

Tabel 1-3 BENTUK TABEL Sandingan Isu Panjang Konfirmasi Dengan Pasal 15 UU
No. 32 Tahun 2009
Konfirmasi Isu
No Daftar Panjang Isu Terkait
1 2 3 4 5 6
1 Pencemaran limbah dari rumah tangga, rumah sakit,
perdagangan dan jasa, transportasi
2 Kesadaran masyarakat dan penegakan hukum belum
memadai
3 Degradasi kawasan sekitarnya akibat alih fungsi lahan
menjadi TOD
4 Menurunnya daya tampung beban pencemaraan
sungai.
5 .........
6 ...........
7 Dan lain sebagainya
8 Meningkatnya pencemaraan udara akibat perubahan
kegiatan
9 Pencemaraan air sungai
10 Menurunnya kualitas air sungai
11 Pencemaraan tanah
12 Peningkatan kebisingan di sekitar TOD
13 ....
14 ....
15 Dan lain sebagainya
16 Tingginya alih fungsi lahan dari non-pertanian menjadi
kawasan Perumahan, Perdagangan dan Jasa
17 Peningkatan dan pemanfaatan air tanah yang di Lokasi
TOD
18 Menurunnya produksi oksigen
19 Berkurangnya penyediaan sumber air baku untuk
irigasi
20 Sumber mata air berkurang
21
22
23 Dan lain sebagainya
24 Menurunnya keanekaragaman hayati
25 Ancaman kerusakan lingkungan air sungai
26
27
28
29
30
Sumber: Analisis Konsultan, 2018
Keterangan: X : ada keterkaitan
1. perubahan iklim
2. kerusakan, kemerosotan, dan/atau kepunahan keanekaragaman hayati
3. peningkatan intensitas dan cakupan wilayah bencana banjir, longsor, kekeringan, dan/atau kebakaran hutan dan lahan
4. penurunan mutu dan kelimpahan sumber daya alam
5. peningkatan alih fungsi kawasan hutan dan/atau lahan

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-12


6. peningkatan jumlah penduduk miskin atau terancamnya keberlanjutan penghidupan sekelompok masyarakat; dan/atau
peningkatan risiko terhadap kesehatan dan keselamatan manusia.

1.3.3 Tahap Pelingkupan


Tahap pelingkupan merupakan kelanjutan dari proses pra-pelingkupan. Dalam
tahap ini POKJA melakukan klarifikasi dan verifikasi isu-isu serta data dan informasi
yang telah diidentifikasi pada tahap pra-pelingkupan.

Pelingkupan yang dilaksanakan oleh Pokja PL (Kelompok Kerja Pengendali


Lingkungan) dimulai pada saat Tim Penyusun KLHS melakukan analisis isu – isu
strategis. Pelaksanaan pelingkupan menggunakan hasil pra pelingkupan.
Pelingkupan dilakukan bersama Pemangku Kepemtingan (PK) melalui :
a. Verifikasi daftar panjang isu pembangunan berkelanjutan;
b. Penapisan daftar panjang isu – isu lingkungan sosial budaya, dan ekonomi
dilakukan dengan menggunakan kriteria sekurang – kurangnya lintas sektor,
lintas wilayah, berdampak kumulatif jangka panjang, dan berdampak luas
terhadap berbagai PK (Pemangku Kepentingan);
c. Penyepakatan hasil penapisan.

Pelingkupan menghasilkan daftar pendek isu – isu lingkungan, sosial budaya, dan
ekonomi yang telah disepakati oleh Pemangku Kepentingan. Hasil pelingkupan
digunakan untuk penajaman analisis isu strategis pembangunan TOD Kereta Api
Cepat Jakarta-Bandung. Isu – isu strategis ini digunakan oleh Tim Penyusun KLHS
untuk proses penyempurnaan Kebijakan, Rencana dan/atau program pembangunan
TOD Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung.

Pokja PL (Kelompok Kerja Pengendali Lingkungan) melakukan pelingkupan dengan


menggunakan hasil pra-pelingkupan. Pokja PL (Kelompok Kerja Pengendali
Lingkungan) melibatkan Pemangku Kepentingan (PK) dalam melakukan
pelingkupan. Pokja PL (Kelompok Kerja Pengendali Lingkungan) menggunakan
tabel hasil pra pelingkupan untuk menggali data/informasi penting lainnya terkait
masing – masing isu pembangunan berkelanjutan yang ditelisik per tema.

Proses pemusatan isu pembangunan (daftar panjang) menjadi isu strategis (daftar
pendek) dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-13


A. Melakukan Verifikasi Daftar Isu Panjang
Verifikasi dan klarifikasi dilakukan untuk kembali mengidentifikasi daftar panjang
hasil pra-pelingkupan dengan melibatkan pemangku kepentingan (POKJA) yang
telah disepakati pada tahap pra-pelingkupan. Hasil dari verifikasi ini dapat
mengurangi jumlah daftar isu panjang dan merubah tema.

Tabel 1-4 Bentuk Tabel Verifikasi Daftar Isu Panjang

Tema No Isu Terkait

Kapasitas daya dukung dan 1


daya tampung Lingkungan 2
Hidup untuk pembangunan 3
4
Perkiraan mengenai dampak
5
dan resiko Lingkungan Hidup
6
7
Kinerja layanan atau jasa
8
ekosistem
9
10
Efisiensi pemanfaatan sumber
11
daya alam
12
Tingkat kerentanan dan 13
kapasitas adaptasi terhadap 14
perubahan 15
16
Tingkat ketahanan dan potensi
17
keanekaragaman hayati
18
Sumber: Hasil Analisis Konsultan, 2018

B. Mereorganisasi Isu Strategis


Kegiatan reorganisasi isu strategis dilakukan oleh tim fasilitator melalui diskusi
intensif untuk memperoleh abstraksi konseptual atas isu-isu yang tergolong kriteria
strategis. Reorganisasi dimulai dengan membagi isu daftar pendek menjadi 3
kelompok tema isu pembangunan berkelanjutan untuk didiskusikan oleh POKJA PL.
Kelompok tema isu pembangunan berkelanjutan yaitu lingkungan; sosial; dan
ekonomi. Kemudian masing- masing kelompok tema isu pembangunan
berkelanjutan didiskusikan oleh POKJA PL.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-14


Tabel 1-5 Bentuk Tabel Reorganisasi Tema Isu Pembangunan Berkelanjutan

Tema No Isu Terkait


1
2
Lingkungan
3
4
5
Ekonomi 6
7
8
Sosial 9
10
Sumber: Hasil Analisis Konsultan, 2018

C. Menetapkan Isu Strategis melalui Skoring


Skoring ini dilakukan untuk memilih isu-isu terkait yang akan dijadikan sebagai isu
strategis. Penentuan isu strategis menggunakan metode pembobotan. Penentuan
besarnya bobot kriteria menggunakan metode RANKING, Metode ranking adalah
metode yang paling sederhana untuk pemberian nilai bobot. Intinya setiap
parameter akan disusun berdasarkan ranking. Penentuan ranking bersifat
subjektif, dan sangat dipengaruhi oleh persepsi pengambil keputusan.

Penentuan ranking dapat dilakukan secara langsung, misalnya parameter paling


penting diberi nilai 1, parameter penting diberi nilai 2 dan parameter kurang
penting diberi nilai 3, atau dapat juga dengan pendekatan kebalikan misalnya
parameter kurang penting diberi nilai 1, penting diberi nilai 2 dan paling penting
bernilai 3. Bilamana ranking telah ditetapkan, maka ada 3 cara untuk penentuan
bobot setiap parameter, yaitu dengan pendekatan jumlah ranking, ketergantungan
ranking, dan eksponen ranking. Pembobotan dengan cara ini dihitung menurut
rumus:

wj = (n - rj + 1)/ ∑(n - rp + 1)

dimana : wj adalah bobot normal untuk parameter ke j (j=1,2...n), n adalah


banyaknya parameter yang sedang dikaji, p adalah parameter (p=1,2...n) dan rj
posisi ranking suatu parameter. Setiap parameter diberi bobot senilai (n - rj +
1)dan kemudian dinormalisasi dengan ∑(n - rp + 1).

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-15


Tabel 1-6 Bentuk Tabel Daftar Isu Pendek (Strategis) KLHS Pembangunan TOD
Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Tema No Isu Terkait


1
Lingkungan
2
Ekonomi 3
4
Sosial
5
Sumber: Hasil Analisis Konsultan, 2018

1.3.4 Tahap Identifikasi Dan Analisis Daftar Isu Strategis


Data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan kemudian diolah dan dilakukan
analisis potensi dan risiko khususnya terkait 6 muatan kajian KLHS berdasarkan PP
Nomor 46 Tahun 2016 Pasal 13 pada TOD dan wilayah di sekitar yang terdampak.
Analisis ini perlu dilengkapi dengan overlay peta dan/atau pendukung lainnya sebagai
penguat dari analisis yang dilakukan. Adapun analisis potensi dan risiko yang dilakukan
antara lain:

1) Melakukan analisis potensi dan risiko Perhitungan Daya Dukung Daya Tampung
Lingkungan Hidup yang dilengkapi dengan peta terkait;
2) Melakukan kajian mengenai ketersediaan air tanah dangkal dan dalam;
3) Melakukan kajian mengenai Kinerja Layanan/Jasa Ekosistem yang dilengkapi
dengan peta terkait;
4) Melakukan kajian mengenai Analisis Resiko Bencana dan perubahan iklim yang
dilengkapi dengan peta terkait;
5) Melakukan kajian mengenai analisis Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang
dilengkapi dengan peta terkait;
6) Melakukan analisis kuantitas air dan penentuan debit rencana basah untuk
keperluan perencanaan drainase dan debit andalan kering untuk keperluan DMI
(domestic, municipality, and industry) dan irigasi dari sungai dan waduk dengan
menggunakan data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan;
7) Kajian mengenai prakiraan debit rencana basah sungai/air permukaan untuk
perencanaan infrastruktur drainase;
8) Kajian mengenai prakiraan debit andalan kering untuk keperluan air baku irigasi
dan DMI (domestic, municipality, industry);

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-16


9) Melakukan analisis kualitas air dengan metode STORET dan/atau Water Quality
Index (WQI) berdasarkan hasil pengukuran data primer kualitas air (sampling &
uji lab);
10) Melakukan kajian mengenai kualitas air permukaan dan tanah dangkal untuk air
baku;
11) Melakukan kajian terkait penyelidikan geologi potensi resapan dilengkapi dengan
overlay potensi resapan di TOD dan wilayah sekitar yang berpotensi terpengaruh
dengan adanya TOD;
12) Melakukan analisis potensi dan risko sebaran penduduk/permukiman dengan
daya dukung lahan yang dilengkapi dengan overlay petanya;
13) Melakukan analisis potensi dan risiko sebaran industri, kegiatan ekonomi,
pertambangan dengan daya dukung lahan yang dilengkapi dengan overlay
petanya;
14) Melakukan analisis potensi dan risiko sebaran penduduk/permukiman dengan
kerawanan bencana (banjir, longsor, gempa, dan gunung api) yang dilengkapi
dengan overlay petanya;
15) Melakukan analisis potensi dan risiko sebaran industri, kegiatan ekonomi,
pertambangan dengan kerawanan bencana (banjir, longsor, gempa, dan gunung
api) yang dilengkapi dengan overlay petanya;
16) Melakukan analisis potensi dan risiko sebaran LP2B/KP2B dengan kerawanan
bencana (banjir, longsor, gempa, dan gunung api) yang dilengkapi dengan
overlay petanya;
17) Melakukan analisis potensi dan risiko sistem transportasi dengan kerawanan
bencana (banjir, longsor, gempa, dan gunung api) yang dilengkapi dengan
overlay petanya;
18) Melakukan analisis potensi dan risiko terhadap Ketahanan dan Potensi
Keanekaragaman Hayati yang dilengkapi dengan peta terkait;

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-17


1.3.5 Tahap Kajian Pengaruh Kebijakan, Rencana Dan Atau Program (KRP)
Pada tahap kajian pengaruh KRP ini pada dasarnya mengaitkan antara program
pembangunan TOD kereta cepat Jakarta-Bandung dengan isu strategis yang telah
dirumuskan pada tahap pelingkupan. Bentuk matrik pengaruh KRP terhadap isu
strategis dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 1-7 Bentuk Tabel Kajian Pengaruh KRP Terhadap Isu Strategis Pembangunan
TOD Kereta Cepat Jakarta-Bandung
Isu Strategis
No Nam Program Isu Isu Isu Isu Isu
Stategis 1 Stategis 1 Stategis 1 Stategis 1 Stategis 1
1 Program 1
2 Program 2
3 Program 3
4 Program 4
5 Program 5
. .
. .
. .
. .
. .
.n Program n
Sumber: Hasil Analisis Konsultan, 2018

1.3.6 Tahap Perumusan Mitigasi Atau Alternatif


Tahap ini POKJA PL melakukan perumusan mitigasi berupa usulan-usulan tambahan
untuk meminimalkan atau mengurangi potensi pengaruh negatif yang diprediksi akan
timbul dari hasil kajian dan/atau alternatif baru untuk merumuskan pembangunan TOD
Kereta Cepat Jakarta-Bandung di lokasi kegiatan. Perumusan mitigasi dan/atau
alternatif dilakukan berdasarkan kepada hasil tahap pengkajian. Bentuk tabel
perumusan mitigasi atau alternatif dapat dilihat pada tabel berikut ini.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-18


Tabel 1-8 Bentuk Tabel Rumusan Mitigasi Atau Alternatif Pembangunan TOD Kereta Cepat Jakarta-Bandung
No Indikasi KRP Isu Strategis Dampak Program Rumusan
(Langsung & Tak Langsung Mitigasi Alternatif
1 Progam 1 Isu Strategis1 Dampak progam 1 Mitigasi 1 Alternati penangan
Isu Strategis2 Dampak progam 1 Mitigasi 2
2 Progam 2 Isu Strategis1 Dampak progam 2 Mitigasi 1 Alternati penangan
Isu Strategis2 Dampak progam 2 Mitigasi 2
3 Progam 3 Isu Strategis1 Dampak progam 3 Mitigasi 1 Alternati penangan
Isu Strategis2 Dampak progam 3 Mitigasi 2
Sumber: Hasil Analisis Konsultan, 2018

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-19


1.4 Program Kerja

Program kerja merupakan rangkaian pelaksanaan kegiatan dari awal hingga


terselesainya kegiatan. Pola kerja dalam kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis (KLHS) Transit Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat
Jakarta-Bandung adalah sebagai berikut :

1) Untuk memulai pelaksanaan pekerjaan setelah SPMK diperoleh, maka tim akan
segera dimobilisasi dan segera melakukan rapat/ diskusi guna mendapatkan
persamaan persepsi mengenai pekerjaan yang akan dilakukan terutama
pemahaman terhadap KAK.
2) Melakukan diskusi informal dengan pemberi kerja dalam rangka penyamaan
persepsi mengenai rencana pelaksanaan pekerjaan.
3) Mobilisasi tenaga ahli disesuaikan dengan jadwal dan penugasan, serta
keterlibatan masing-masing tenaga ahli dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan
sesuai dengan jumlah orang-bulan masing-masing tenaga ahli.
4) Pekerjaan studio, yaitu semua pekerjaan/ kegiatan yang dilakukan tim kerja
untuk sampai menghasilkan produk/ dokumen rencana. Kegiatan yang dilakukan
pada pekerjaan studio meliputi mempersiapkan kebutuhan data penelitian,
Pengumpulan dan seleksi data, proses Penyusunan laporan Pendahuluan, Proses
tabulasi data, Pembuatan Kompilasi Data, Proses pengolahan dan analisis data,
proses penyusunan laporan antara, proses pembuatan laporan akhir, termasuk
penyempurnaan dari mulai laporan pendahuluan, laporan antara, dan laporan
final berdasarkan hasil masukan dari diskusi dengan tim dan instansi terkait.
5) Konsultan secara berkala berkoordinasi dan melakukan konsultasi teknis kepada
tim teknis dan Instansi Terkait, Asosiasi profesi, pakar, pemerhati, maupun
dengan stakeholder lainnya yang terlibat dan mempunyai kepentingan dalam
pelaksanaan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Transit
Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Konsultan
secara periodik melaporkan setiap progres yang telah dihasilkan kepada Tim
Teknis.
6) Diskusi Pembahasan Laporan dilakukan di instansi terkait pada tahap Laporan
Pendahuluan, Laporan Antara, dan Laporan Draft Akhir.

PENDEKATAN, METODOLOGI DAN PROGRAM KERJA 1-20


BAB 2

2.1 Struktur Organisasi Tim


Dalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS)
Transit Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung perlu
dilakukan upaya sinkronisasi kegiatan, karena sifat pekerjaan yang multi disiplin.
Organisasi pelaksanaan kegiatan sangat diperlukan untuk mengelola kegiatan ini
sehingga dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pada bab ini akan dibahas mengenai
komposisi tim dan penugasan yang diatur dalam orang bulan.

Pekerjaan ” Kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Transit


Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung” merupakan Paket
Pekerjaan yang didalamnya melibatkan berbagai disiplin ilmu serta keterlibatan tim
teknis dalam penyusunan ini. Berdasarkan metodologi dan pendekatan penanganan
pekerjaan sebagaimana telah diuraikan sebelumnya maka disusun organisasi proyek
yang mempunyai tujuan koordinasi, pertukaran informasi, konsultasi, evaluasi dan
pengendalian pelaksanaan proyek secara maksimum.

Pengelolaan dan koordinasi yang baik diperlukan agar dalam pelaksanaan pekerjaan
berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana dan tujuan yang diharapkan. Sesuai
dengan petunjuk pada kerangka acaun kerja (KAK) dan menyadari pentingnya
keberhasilan kegiatan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Transit
Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, maka selain
pengelolaan dan koordinasi yang baik juga ditunjang oleh tenaga-tenaga ahli
profesional yang berpengalaman dibidangnya.

Tenaga ahli tersebut diantaranya ahli Lingkungan yang juga bertindak sebagai ketua
tim, Ahli Pemetaan, Ahli Hidrogeologi, Ahli Biodiversitas, dan Ahli Sosial..

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN 2-1


PEMBERI
KERJA

PIHAK
KONSULTAN DISKUSI
TERKAIT

KETUA
KETUATIM
TIM
AHLI
(PERENCANA
LINGKUNGAN
TRANSPORTASI)

AHLI ANGKUTAN AHLI MANAJEMEN


AHLIPEMETAAN
JALAN REKAYASA LALIN
AHLI HIDROGEOLOGI
AHLI BIODIVERSITAS ASISTEN DAN
AHLI TENAGA
AHLI SOSIAL AHLI
PEMODELAN PENDUKUNG
PRASARANA JALAN
LALIN

Gambar 2-1 Struktur Organisasi Pelaksanaan Kegiatan

2.2 Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan


Rencana jadwal kegiatan terpadu dalam pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Transit Oriented Development (TOD) Kereta Api
Cepat Jakarta-Bandung secara keseluruhan dapat diselesaikan dalam waktu 3 (tiga)
bulan kerja atau 90 hari kerja. Diharapkan dalam kurun waktu tersebut semua
kegiatan dapat diselesaikan dengan baik. Berdasarkan rencana kegiatan yang telah
disusun sebelumnya maka rencana jadwal secara rinci pelaksanaan kegiatan
Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (Klhs) Transit Oriented Development
(TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung dibagi dalam beberapa tahapan yaitu:
1) Tahap pendahuluan/ persiapan
2) Tahap pra pelingkupan
3) Tahap pelingkupan
4) Tahap analisis isu strategis
5) Tahap kajian pengaruh krp
6) Tahap rumusan mitigasi atau alternatif

Uraian dari jadwal pelaksaan kegiatan tersebut berdasarkan tahapan dapat dilihat pada
tabel di bawah ini:

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN 2-2


Tabel 2-1 Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
Jadwal Pelaksanaan
No Uraian Kegiatan Bulan Ke 1 Bulan Ke 2 Bulan Ke 3
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I TAHAP PERSIAPAN
1 Membentuk tim POKJA
2 Identifikasi pemangku kepentingan
3 Mengumpulkan data dan informasi awal (studi literatur)
4 Laporan Pendahuluan
II TAHAP PRA PELINGKUPAN
1 Menyusun daftar pajang isu stategis pembangunan TOD kereta cepat Jakarta-Bandung
3 Menyandingkan daftar panjang isu strategis dengan UU No 32 Tahun 2009 Pasal 15
III TAHAP PELINGKUPAN
1 Verifikasi isu stategis pembangunan TOD kereta cepat Jakarta-Bandung
2 Reorganisasi isu stategis dengan tema pembangunan berkelanjutan
3 Skoring isu stategis pembangunan TOD kereta cepat Jakarta-Bandung
4 Laporan Antara
IV TAHAP ANLISIS ISU STRATEGIS
1 Analisis Potensi lingkungan
2 Analis resiko lingkupan
3 Analisis isu strategis lingkungan
V TAHAP KAJIAN PENGARUH KRP
VI TAHAP RUMUSAN MITIGAS ATAU ALTERNATIF
1 Perumusan mitigasi atau alternatif
2 Laporan Akhir

JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN 2-1


2.3 Sistem Pelaporan
Produk yang dihasilkan dari pekerjaan Penyusunan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS) Transit Oriented Development (TOD) Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung
minimal sebagai berikut:

1) Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan memuat kondisi eksisting karakteristik wilayah yang
setidaknya mencakup

- Tutupan lahan dan pembagian kawasan lindung-budidaya;

- Lahan kritis;

- Penggunaan lahan;

- Kondisi hidrogeologi;

- Daya dukung lahan;

- Potensi kebencanaan;

- Sebaran penduduk/permukiman; h. Sebaran industri, kegiatan ekonomi,


pertambangan;

- Sebaran LP2B/KP2B;

- Kondisi sistem transportasi;

- Kondisi keanekaragaman hayati.

2) Laporan Antara
merupakan perbaikan/penyempurnaan dari Laporan Pendahuluan yang ditambah
dengan sejumlah analisis kondisi terkait 6 muatan KLHS yang sedikitnya memuat:

- Perhitungan Daya Dukung Daya Tampung Lingkungan Hidup;

- Kajian mengenai prakiraan debit rencana basah sungai/air permukaan untuk


perencanaan infrastruktur drainase;

- Kajian mengenai prakiraan debit andalan kering untuk keperluan air baku irigasi
dan DMI (domestic, municipality, industry);

- Kajian mengenai potensi resapan tanah;

- Kajian mengenai ketersediaan air tanah dangkal dan dalam;

- Kajian mengenai kualitas air permukaan dan tanah dangkal untuk air baku;

ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN 2-1


- Analsis Kinerja Layanan/Jasa Ekosistem;

- Analisis Resiko Bencana dan perubahan iklim;

- Analisis Pemanfaatan Sumber Daya Alam;

3) Laporan Akhir
merupakan perbaikan/penyempurnaan dari Laporan Antara yang ditambah dengan
analisis faktor pembangunan dengan analisis kondisi 6 muatan, serta alternatif-
rekomendasi laporan yang sedikitnya memuat:

- Analisis sebaran penduduk/permukiman dengan daya dukung lahan;

- Analisis sebaran industri, kegiatan ekonomi, pertambangan dengan daya


dukung lahan;

- Analisis sebaran penduduk/permukiman dengan kerawanan bencana;

- Analisis sebaran industri, kegiatan ekonomi, pertambangan dengan kerawanan


bencana;

- Analisis sebaran LP2B/KP2B dengan kerawanan bencana;

- Analisis sistem transportasi dengan kerawanan bencana;

- Analisis Ketahanan dan Potensi Keanekaragaman Hayati;

- Ringkasan dan kesimpulan mengenai kesiapan wilayah untuk pembangunan


TOD KC Jakarta-Bandung;

ORGANISASI PELAKSANAAN PEKERJAAN 2-2


KOMPOSISI TIM DAN PENUGASAN 2-1