Anda di halaman 1dari 6

A.

Radiasi lingkungan
Setiap orang yang tinggal di dunia selalu menerima radiasi baik yang berasal
dari sumber radiasi alamiah maupun sumber radiasi buatan. Radiasi yang dimaksud
adalah radiasi pengion, yaitu radiasi yang dapat menimbulkan ionisasi, apabila
radiasi tersebut menumbuk suatu bahan. Jika bahan tersebut adalah manusia maka
dapat mengakibatkan kerusakan jaringan pada manusia. Radiasi pengion, yang
selanjutnya disebut radiasi, seperti partikel alfa (α), beta (β), neutron (n), sinar
gamma , sinar-X, masing-masing memiliki daya tembus dan pengionan yang
berbeda. Radiasi gamma , sinar-X, dan neutron memiliki daya tembus sangat kuat
namun daya pengionannya lemah, sementara radiasi alfa dan beta memiliki daya
tembus lemah namun memilki daya pengionannya kuat. Penyinaran yang berasal
dari sumber radiasi di luar tubuh dan tidak melekat disebut penyinaran luar (radiasi
eksterna), sementara apabila sumber penyinaran ada di dalam tubuh, tersebar di
dalam jaringan, disebut penyinaran dalam (radiasi interna). Orang yang sering
menerima radiasi eksterna biasanya berhubungan dengan pemakaian mesin atau
pesawat pemancar radiasi, seperti pesawat sinar-X, reactor nuklir, dan sumber
radiasi tertutup atau sumber bentuk khusus. Radiasi interna dapat terjadi apabila
zat radioaktif (sumber radiasi) masuk ke dalam tubuh manusia. Zat radioaktif dapat
masuk ke dalam jaringan organ manusia melalui pernapasan, pencernaan, dan
kulit. Oleh karena itu penyebaran zat radioaktif ke lingkungan perlu diawasai dan
diamati secara sungguh-sungguh. Salah satu pengawasan dan pengamatan
penyebaran zat radioaktif ke lingkungan, yaitu dengan cara pemantauan
lingkungan.
Pemantauan lingkungan yang dimaksud adalah pengukuran tingkat radiasi
dan radioaktvitas yang berkaitan dengan pengawasan dan pengkajian penyebaran
zat radioaktif di lingkungan baik yang berasal dari sumber radiasi alamiah maupun
sumber radiasi buatan untuk keselamatan public (masyarakat umum), terutama
yang bertempat tinggal di sekitar instalasi nuklir. Pengukuran tingkat radiasi dan
radioaktvitas lingkungan dilakukan dengan mengambil berbagai sampel di
lingkungan, seperti udara, air, tanah, dan rumput/tanaman pangan. Pengukuran
sampel lingkungan dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung
(melalui proses radiokimia) menggunakan alat ukur radiasi yang sesuai.

B. Sumber-sumber radiasi
Setiap orang di dunia selalu menerima sebagian besar radiasi berasal dari
sumber radiasi alamiah. Menurut laporan UNSCEAR (2000), penduduk dunia
menerima dosis radiasi efektif tahunan rata-rata sebesar 2,8 mSv yang berasal dari
radiasi alamiah 2,4 mSv dan dari sumber radiasi buatan 0,4 mSv. Radiasi alamiah
terjadi secara terus menerus dan sulit untuk dikendalikan, sedangkan radiasi buatan
lebih mudah untuk dikendalikan dan terjadi hanya pada suatu saat saja.

a) Radiasi alamiah
Jauh, sebelum sinar-X ditemukan oleh Roentgen dan uranium radioaktif oleh
Becquerel yaitu sekitar tahun 1895, manusia sudah dan senantiasa mendapat
radiasi dari alam sekitarnya.Radiasi yang diperoleh dari alam sekitarnya disebut
radiasi latar belakang (alam). Radiasi latar belakang yang diterima tubuh manusia
terdiri dari sinar kosmik. Beberapa ahli berpendapat bahwa 2 sampai 10 % mutasi
alam pada manusia disebabkan oleh radiasi latar belakang. Radiasi sinar kosmik
berasal dari matahari dan luar angkasa lainnya yang dapat menembus lapisan
atmosfer bumi sampai ke permukaan bumi. Radiasi sinar kosmik yang diterima
penduduk dunia di bumi bergantung pada letak lintang geografi dan tinggi tempat.
Peneliti dari Jerman melaporkan telah melakukan pengukuran radiasi gamma dan
neutron dengan menempatkan dosimeter di sejumlah pesawat. Radiasi gamma
yang berasal dari sumber radiasi alamiah berasal dari radionuklida alam yang
terkandung di dalam bahan bangunan dan tanah. Bahan bangunan yang biasa di
gunakan untuk rumah, seperti batu bata, semen, pasir, keramik, dan gypsum
mengandung radionuklida alam dari deret uranium (238U), thorium (232Th), dan
potasium-40 (40K), yang berasal dari dalam bumi.

b) Radiasi buatan
Sinar-X di kenal sebagai radiasi yang merambat lurus, tidak di pengaruhi oleh
medan listrik maupun medan magnet serta mengakibatkan zat fosforesensi dapat
berpendar. Kenyataan membuktikan bahwa semakin besar kecepatan elektron yang
membentur target, semakin besar daya tembus sinar-X yang di timbulkannya.
Semakin banyak elektron yang membentur target semakin tinggi intensita sinar-X.
Radiasi buatan di hasilkan dari kegiatan manusia, seperti kegiatan medik,
percobaan nuklir, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Kegiatan tersebut akan
menghasilkan radionuklida hasil belah inti (fisi), seperti 90Sr, 137Cs, 131I, 95Zr,
dan 85Kr, dan aktivasi seperti 60Co, 14C, dan 14N, transuranik dapat
menghasilkan 239Pu.

C. Pengelolaan limbah radioaktif


Limbah radioaktif ditimbulkan selama beroperasinya pembangkit listrik
tenaga nuklir dan juga akibat penggunaan bahan radioaktif di industri, penelitian
dan rumah sakit. Sudah lama diketahui bahwa faktor keselamatan dalam
pengelolaan limbah radioaktif yang bertujuan untuk melindungi kesehatan manusia
dan lingkungan berperan sangat penting, dan pengalaman di bidang pengelolaan
limbah radioaktif tersebut sudah cukup banyak didapat. Sejak awal abad kedua
puluh, hasil dari penelitian dan pengembangan bidang ilmu pengetahuan dan
teknologi nuklir mendorong aplikasinya di bidang penelitian, pengobatan, industri
dan pembangkitan listrik melalui reaksi fisi. Secara umum, pemanfaatan teknologi
nuklir menghasilkan limbah radioaktif yang memerlukan pengelolaan secara
khusus untuk memastikan perlindungan kesehatan manusia dan lingkungan, serta
tidak membebani generasi yang akan datang. Limbah radioaktif dapat juga
diakibatkan oleh proses pengolahan bahan baku yang secara alami berisi
radionuklida. Sebagai mana terjadi pada industri lainnya PLTN juga menghasilkan
limbah. Penting untuk di ketahui bahwa PLTN merupakan industri pertama yang
menerapkan sistem pengelolaan limbah sejak perencanaan pembangunannya.
Limbah yang paling dominan dari pengoperasian PLTN adalah elemen bakar
bekas. Elemen bakar bekas mengandung unsur-unsur radioaktif dari hasil
pembelahan inti atom uranium yang masih bersifat radioaktif. Sifat keradioaktifan
unsur hasil pembelahan inilah yang harus di waspadai dan di amankan untuk
mencegah agar tidak membahayakan manusia dan lingkungan di sekitarnya.
Pengelolaan terhadap limbah radioaktif harus dilakukan secara rutin dengan
maksud untuk menurunkan aktivitas jenis limbah tersebut, di sarnping juga
mendukung limbah tersebut manjadi 'inert' baik dari segi fisik maupun kimiawi.
Ada empat prinsip atau teknik yang diterapkan dalam pengelolaan limbah
radioaktif, dan sistem pengelolaan kadang-kadang juga terdiri dari kombinasi
keempat prinsip atau teknik tersebut, yakni :

a. Pengenceran dan dispersi


Prinsip pengenceran dan dispersi didasarkan pada anggapan bahwa
lingkungan mempunyai kapasitas terbatas untuk mengencerkan nuklida sampai
tingkat tidak membahayakan. Penerapan prinsip ini membutuhkan pengertian
tentang sifat materi radioktif di dalarn lingkungan dan cara memberikan
pamaparan pada manusia yang ditempuh oleh radionuklida yang dibuang.
Teristimewa harus di perhatikan proses-proses Iingkungan yang menyebabkan
rekonsentrasi radionuklida. Penerapan prinsip ini harus sedikit mungkin dan dalarn
tiap keadaan, Iingkungan dapat menerimanya. Pembuangan limbah pada tingkat
rendah dengan tingkat ini di lakukan dengan menanam di dalam tanah, maka
kebocoran radioaktivitas ke dalam air tanah dapat dianggap sebagai suatu
pengenceran dan akan menyebar kesekelilingnya. Penerapan prinsip ini pada
pembuangan limbah cairan lebih dibatasi, dan pada umumnya hanya untuk sampah
cair yang mempunyai tingkat radioaktivitas sangat rendah yang dibuang ke sungai
Ilaut atau danau. Untuk limbah yang berupa gas pada teknik ini dilakukan dengan
sisitem fiitrasi udara dan pembuangan limbahnya melalui cerobong yang sangat
tinggi. Tinggi cerobong ditentukan berdasarkan meteorologi setempat untuk
menjamin pengenceran yang baik! cukup sebelum limbah mengenai tanah. Jadi
secara praktis pengenceran limbah (bentuk cairan) dapat dilaksanakan dengan :
1) penambahan cairan yang tidak terkontamonasi untuk mengurangai
konsenterasi sebelum pembuangan
2) pembuangan limbah cairan dilakukan sedikit demi sedikit dalam periode
waktu yang panjang, dan
3) pembungan limbah ke dalam air yang sangat banyak.

b. Penundaan dan Peluruhan


Radionuklida akan kehilangan, terkurangi keradioaktivannya karena
peluruhan. Peristiwa ini dapat diterapkan dalam pengelolaan limbah padat, cair,
dan gas dengan tingkat keradioaktivan sedang dan tinggi yang mengandung
radionuklida dengan umur paruh (half life) pendek. Tujuannya ialah untuk
mempermuidah persoalan dalam pengelolaan selanjutnya atau untuk memperkecil
resiko dalam pembuangan limbah ke sekelilingnya dengan mengambil manfaat
dari peluruhan dan waktu. Prinsip ini secara praktis dapat di terapkan pada instalasi
yang menimbulkan limbah yang dapat di reduksi tingkat ke radioaktivannya dalam
beberapa hari sebelum di buang ke lingkungan sekelilingnya.
c. Pemampatan
Prinsip pemampatan di turunkan dari konsep bahwa kebanyakan
radioaktivitas yang di produksi dalam program nuklir harus di isolasi dari manusia
dan sekeli1ingnya. Prinsip ini di terapkan pada teknik-teknik pembersihan udara
dan gas, pengolahan sampah cair dengan cara pengendapan dandfestilasi, penukar
ion dan penguapan, pengolahan sampah padat dengan tingkat keradioaktivannya
rendah dengan cara di bakar, pengepakan dan penyaringan. Pengolahan sampah
padat dan cair dengan tingkat ke radioaktivan sedang dengan limbah cair dengan
tingkat ke radioaktivan tingkat ke dalam fase padat yang tak dapat lama dengan
cara pengapuran (calcination) pada suhu tinggi atau penyatuan (incorporation/
dengan gelas.

d. Pewadahan
Karena beberapa radionuklida mempunyai waktu paruh yang panjang hingga
memakan waktu lama untuk mencapai tingkat keradioaktivanya yang tidak
berbahaya, maka Iimbah harus di lindungi dan di simpan dalam waktu yang lama,
prinsip ini di terapkan pada penyimpanan limbah padat dalam ruang di dalam tanah
atau gua pada struktur geologi yang dalam. Dalam penanaman Iimbah dengan
keradioaktivan yang tinggi harus di adakan hambatan tambahan untuk mencegah
perpindahan radionuklida. Suatu cara untuk menangulangi proses perpindahan
ialah dengan menyatukan limbah radioaktif dalam fase padat yang mempunyai
kebocoran rendah, dan kemudian di simpan dalam ruangan dalam tanah atau gua di
bawah daerah aliran air tanah, Struktur tanah padat garam (rocksalt formation)
merupakan daerah yang baik untuk menyimpan karena garam merupakan self-
sealing.