Anda di halaman 1dari 6

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/324744325

Necrotizing Fasciitis, Penyakit Pemakan Daging

Article · April 2018

CITATIONS READS

0 355

2 authors:

Yudha Nurdian Ni Made Trismarani Sultradewi


Universitas Jember Universitas Jember
654 PUBLICATIONS   558 CITATIONS    7 PUBLICATIONS   4 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Parasitology - Infectious Disease View project

Clinical of Neurology View project

All content following this page was uploaded by Ni Made Trismarani Sultradewi on 25 April 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Necrotizing Fasciitis, Penyakit Pemakan Daging
1 2
Ni Made Trismarani Sultradewi Kesuma, dan Yudha Nurdian

1
Student, Faculty of Medicine, University of Jember, Indonesia
2
Faculty of Medicine, University of Jember, Indonesia
Corresponding author: Ni Made Trismarani Sultradewi Kesuma, trismarani@gmail.com,
152010101016@students.unej.ac.id

Abstrak
Necrotizing fasciitis (NF) adalah infeksi langka jaringan lunak yang mengancam jiwa,
merupakan salah satu keadaan darurat medis dan bedah. Necrotizing fasciitis umumnya
dikenal sebagai penyakit pemakan daging atau sindrom bakteri pemakan daging, adalah
infeksi langka lapisan lebih dalam dari kulit dan jaringan subkutan dengan mudah menyebar
di fasia dalam jaringan subkutan. Saat infeksi ini menyebar di sepanjang lapisan jaringan
lemak yang mengelilingi otot, ia disebut NF, tetapi ketika penyakit menyebar ke jaringan
otot, disebut miositis nekrosis. Kejadian keseluruhan diperkirakan 3,5 kasus per 100.000
orang dengan tingkat mortalitas antara 10% sampai 40% dan dapat meningkat setinggi 80%
tanpa intervensi medis atau bedah dini. NF sering melibatkan ekstremitas, dinding abdomen
dan perineum, tapi keterlibatan cervico-facial sangat jarang terjadi. Seperti pada infeksi pada
umumnya, penyakit ini melibatkan peristiwa pengendapan, agen infeksius dan host, sebagai
infeksi odontogenik yang merupakan peristiwa pengendapan paling umum dan Streptococcus
Grup A sebagai agen infeksi yang paling umum. Patogenesis penyakit ini ditandai dengan
invasi bakteri pada jaringan subkutan, dengan penyebaran infeksi horizontal yang cepat
sepanjang bidang fasia dalam dan pelepasan racun bakteri, yang mengakibatkan iskemia
jaringan dan nekrosis liquefaktif. Penetapan diagnosis dari NF tidaklah mudah, pemeriksaan
lanjutan pertama yang paling penting untuk diagnosis dini NF juga belum ditemukan.
Biasanya, lesi minor pada kulit atau trauma adalah awal mula infeksi dari NF. Temuan
sistemik meliputi demam, takikardia, hipotensi, dan syok. Setelah dicurigai, manajemen
harus terdiri dari resusitasi segera sesuai dengan kebutuhan pasien, pemberian antibiotik
intravena spektrum luas dan intervensi bedah dini. Prinsip pengobatan untuk setiap jenis
infeksi bedah adalah kontrol sumber, terapi antimikroba, dukungan, dan pemantauan.

Pendahuluan
Necrotizing fasciitis (NF) adalah infeksi langka jaringan lunak yang mengancam jiwa,
merupakan salah satu keadaan darurat medis dan bedah. Necrotizing fasciitis umumnya dikenal
sebagai penyakit pemakan daging atau sindrom bakteri pemakan daging, adalah infeksi langka
lapisan lebih dalam dari kulit dan jaringan subkutan dengan mudah menyebar di fasia dalam
jaringan subkutan. Saat infeksi ini menyebar di sepanjang lapisan jaringan lemak yang
mengelilingi otot, ia disebut NF, tetapi ketika penyakit menyebar ke jaringan otot, disebut
miositis nekrosis. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada tahun 1783, di Prancis dan terjadi
dari waktu ke waktu sepanjang abad ke-19 dan ke-20. Penyakit ini ditandai dengan onset cepat
dan menyebar dengan cepat hingga menimbulkan peradangan dan nekrosis mulai dari fasia,
otot, dan lemak subkutan, dengan nekrosis berikutnya pada kulit di atasnya. Penyakit ini
biasanya ditemukan di rumah sakit militer pada masa perang dan kemudian menjadi wabah di
kalangan masyarakat umum. Penyakit ini akhirnya mulai jarang terjadi sejak tahun 1940an
dan kemudian muncul kembali di seluruh dunia pada tahun 1980an (Lancerotto et al., 2012).
Metode
Metode yang kami gunakan yaitu studi literatur jurnal-jurnal internasional
terakreditasi dalam jangka waktu 2007-2018, yang kami ambil dari beberapa database jurnal-
jurnal ilmiah, seperti google scholar, ncbi, sciencedirect, guidelines, dan lain-lain. Kami
mencari jurnal-jurnal dengan menggunakan kata kunci “necrotizing fasciitis”, “flesh-eating
disease”, dan “necrotizing myositis”.
Pembahasan
Necrotizing fasciitis adalah infeksi langka dan agresif pada jaringan lunak yang
melibatkan fascia dalam dan penyakit ini ditandai dengan kerusakan luas jaringan disekitarnya
(Balas et al., 2018). Necrotizing fasciitis umumnya dikenal sebagai penyakit pemakan daging
atau sindrom bakteri pemakan daging (flesh-eating disease). Hippocrates adalah orang pertama
yang memberikan penjelasan spesifik terhadap NF, namun deskripsi modern pertama terhadap
penyakit NF dilakukan oleh Jones pada tahun 1871 dan istilah NF dulu digunakan oleh Wilson
sampai tahun 1952. Kejadian keseluruhan diperkirakan 3,5 kasus per 100.000 orang dengan
tingkat mortalitas antara 10% sampai 40% dan dapat meningkat setinggi 80% tanpa intervensi
medis atau bedah dini. NF sering melibatkan ekstremitas, dinding abdomen dan perineum, tapi
keterlibatan cervico-facial sangat jarang terjadi. Seperti pada infeksi pada umumnya, penyakit ini
melibatkan peristiwa pengendapan, agen infeksius dan host, sebagai infeksi odontogenik yang
merupakan peristiwa pengendapan paling umum dan Streptococcus Grup A sebagai agen infeksi
yang paling umum. Selain itu, ada juga jenis bakteri lain yang dianggap bisa menimbulkan
penyakit ini yaitu Aeromonas hydrophila, Staphylococcus aureus, Escherichia coli (E. coli),
Bacteroides, Clostridium, dan Klebsiella. Patogenesis penyakit ini ditandai dengan invasi bakteri
pada jaringan subkutan, dengan penyebaran infeksi horizontal yang cepat sepanjang bidang fasia
dalam dan pelepasan racun bakteri, yang mengakibatkan iskemia jaringan dan nekrosis liquefaktif
(Hernández et al., 2017).
Menurut studi literatur yang dilakukan oleh Hernández pada tahun 2017, didapatkan dari
53 artikel dan jurnal yang memuat tentang prevalensi NF di seluruh dunia. Dari hasil tersebut,
diperoleh kesimpulan bahwa dari total 29 kasus NF, 17 orang (59%) adalah laki-laki dan 12
orang (41%) adalah perempuan dengan rata-rata usia sekitar 46 tahun dengan standar deviasi
15.66. Kemudian dilihat dari mekanisme lesinya, trauma kulit merupakan mekanisme lesi yang
paling umum ditemukan pada 8 kasus, hal ini diikuti oleh infeksi odontogenik pada 6 kasus,
proses odontogenik pada 2 kasus dan trauma tumpul serta radiasi pada masing-masing
1 kasus. Mekanisme lesi yang tidak dapat diidentifikasi sebesar 9 kasus. Kemudian, Hernández
menyebutkan bahwa penyakit NF dapat diasosiasikan dengan kelainan atau penyakit sistemik,
yang diambil dari analisa kasus dimana 6 pasien menunjukkan asosiasi pada satu penyakit
sistemik sedangkan 9 orang lainnya menunjukkan asosiasi pada lebih dari satu penyakit sistemik.
Tidak ada asosiasi pada penyakit sistemik yang ditemukan di 14 pasien. Berdasarkan
penyakitnya, gangguan sistemik yang paling umum dikaitkan adalah dengan diabetes mellitus
sebesar 8 kasus, hipertensi dengan 4 kasus, penyalahgunaan alkohol kronis sebanyak 3 kasus, dan
kemoterapi sebanyak 2 kasus, diikuti oleh hiperlipidemia, hepatitis C, karsinoma sel skuamosa,
sindrom hemofagositik, adenoma pituitari, penyakit paru obstruktif kronik, , atrial fibrilasi,
penyakit jantung koroner, gagal jantung kongestif, displasia bilateral kongenital ginjal, gagal
ginjal, transplantasi ginjal dan Bell palsy sebesar satu kasus.
Penetapan diagnosis dari NF tidaklah mudah, pemeriksaan lanjutan pertama yang
paling penting untuk diagnosis dini NF juga belum ditemukan. Namun, beberapa kondisi
nampaknya lebih umum dapat dikaitkan dengan kejadian NF dan dipertimbangkan saat
berhadapan dengan infeksi jaringan lunak apapun. Ini termasuk penggunaan narkoba suntik
dan penyakit-penyakit sistemik yang telah diterangkan sebelumnya. Karakteristik klinis, di
sisi lain, dapat membantu meningkatkan kecurigaan yang mengarah pada penyakit ini. Tanda
dan gejala awal biasanya meliputi pembengkakan, eritema, nyeri, dan takikardia, dan begitu
infeksi berlanjut, tanda dan gejala yang lebih khas dapat diamati, termasuk edema tegang di
luar area kulit yang terganggu, rasa sakit tidak proporsional dengan penampilan, perubahan
warna kulit, bullae dan nekrosis, dan adanya krepitus atau gas subkutan. Biasanya, lesi minor
pada kulit atau trauma adalah awal mula infeksi dari NF (Pfeifle et al., 2017). Temuan
sistemik meliputi demam, takikardia, hipotensi, dan syok. Penting untuk ditekankan bahwa,
walaupun temuan ini khas dan cukup spesifik untuk NF, kepekaannya rendah, dan hanya ada
10% -40% pasien dengan NF. Juga, perkembangan tanda dan gejala ini biasanya relatif cepat,
terutama jika spesies bakteri yang menginfeksi adalah Streptococcus atau Clostridium grup
A. Namun, dalam kasus tertentu, NF dapat berkembang dengan cara yang lebih berbahaya,
yang membuat diagnosis lebih sulit untuk ditetapkan (Goldstein et al., 2007).
Tidak adanya gejala spesifik dapat menyebabkan praktisi kadang-kadang salah dalam
mendiagnosis pada awal penyakit dan jika tidak diobati, dengan cepat dapat menyebabkan syok
septik dan kematian. Setelah dicurigai, manajemen harus terdiri dari resusitasi segera sesuai
dengan kebutuhan pasien, pemberian antibiotik intravena spektrum luas dan intervensi bedah dini
(Hernández et al., 2017). Prinsip pengobatan untuk setiap jenis infeksi bedah adalah kontrol
sumber, terapi antimikroba, dukungan, dan pemantauan. Penelitian telah menunjukkan
bahwa ketika pengobatan hanya didasarkan pada terapi antimikroba dan dukungan, mortalitas
penyakit ini mendekati 100%. Jelas bahwa debridemen awal dan lengkap sangat penting
untuk pengobatan NF. Seiring dengan itu, cakupan antibiotik spektrum luas yang sesuai,
dikombinasikan dengan dukungan organ yang memadai dan pemantauan yang ketat,
membantu pasien selama fase akut penyakit ini, namun hanya debridemen lengkap jaringan
yang terinfeksi yang mengendalikan infeksi dan memungkinkan pemulihan di masa depan.
Kesimpulan
Necrotizing fasciitis adalah infeksi langka dan agresif pada jaringan lunak yang
melibatkan fascia dalam dan penyakit ini ditandai dengan kerusakan luas jaringan disekitarnya
dan prevalensi penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Penyakit ini tidak memiliki gejala dan alat
diagnosis yang spesifik. Maka dari itu, tidak ada cara pasti untuk mencegah bakteri pemakan
daging penyebab necrotizing fasciitis. Namun, risiko infeksi ini bisa dikurangi dengan menjaga
kebersihan tubuh, contohnya dengan rajin mencuci tangan menggunakan sabun dan
memperhatikan luka apa pun meskipun hanya luka kecil. Sekecil apa pun luka yang ada di tubuh,
segera bersihkan dengan air yang mengalir, keringkan dengan handuk bersih, dan tutup dengan
perban yang kering dan bersih hingga sembuh. Mengganti perban apabila kotor atau basah dan
jangan menuda-nunda perawatan luka. Jika terdapat luka terbuka atau infeksi aktif, disarankan
untuk tidak berendam di kolam renang, bak air panas, danau, sungai, dan laut, hingga infeksi
sembuh. Infeksi bakteri penyebab NF atau bakteri pemakan daging ini bisa menyebar dengan
sangat cepat. Antibiotik yang tepat dan dukungan umum yang intensif menghindari penyebaran
sistemik yang besar dari proses infektif dan merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Semakin
cepat lesi atau luka ditangani, semakin besar pula kemungkinan untuk pulih dari infeksi dan
terhindar dari komplikasi yang serius.

Daftar Pustaka
Creech, C. B. 2018. Myositis, Pyomyositis, and Necrotizing Fasciitis. In: Long, S. S., Prober,
C. G., and Fischer, M., Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases, Fifth
Ed., Stanford: Elsevier. p.473-479.e2.
Demicco, E. G., Kattapuram, S. V., Kradin, R. L., and Rosenberg, A. E. 2018. Infections of
Joints, Synovium-Lined Structures, and Soft Tissue. In: Kradin, R. L., Diagnostic
Pathology of Infectious Disease, Second Ed., Boston: Elsevier. p.404-428.

Fitzpatrick, J. E., High W. A., and Kyle, W. L. 2018. Necrotic and Ulcerative Skin Disorders.
In: Fitzpatrick, J. E. and High W. A., Urgent Care Dermatology: Symptom-Based
Diagnosis. Colorado: Elsevier. p231-252
Goldstein, E. J. C., Anaya, D. A., Dellinger, E. P. 2007. Necrotizing Soft-Tissue Infection:
Diagnosis and Management. Clinical Infectious Disease. Volume 44 Issue 5 p705-710.
doi:10.1086/511638

Hernández, D. A. A., Chávez, A. M. G., and Rivera, A. S. 2017. Facial Necrotizing Fasciitis
in Adults: A Systematic Review. Heighten Science Publications.
doi:10.29328/journal.hor.1001005
Kurniasari, I. A., Nurdian, Y. 2017. Beware of Necrotizing Fasciitis. Research Gate
(https://www.researchgate.net/publication/320714245)
Lancerotto, L., Tussardi, I. T., Salmaso, R., and Basseto, F. 2012. Necrotizing fasciitis:
Classification, diagnosis and management. Research Gate
(https://www.researchgate.net/publication/223972988)
Matiz, C. and Friendlander, S. F. 2017. Subcutaneous Tissue Infections and Abscesses. In:
Long, S. S., Prober, C. G., and Fischer, M., Principles and Practice of Pediatric
Infectious Diseases, Fifth Ed., Stanford: Elsevier. p.466-473.e2.
Pfeifle, V. A., Gros, S. J., Holland-Cunz, S., Kampfen, A. 2017. Necrotizing fasciitis in
children due to minor lesions. Journal of Pediatric Surgery Case Reports.
Doi:10.1016/j.epsc.2017.08.005

Rahman, A., Abou-Foul, A. K., Yusaf, A., Holton, J., and Cogswell, L. 2014. Necrotising
Myositis, the Deadly Impersonator. Case Reports in Surgery Volume 2014. doi:
10.1155/2014/485651

View publication stats


View publication stats