Anda di halaman 1dari 13

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hukum Kontinuitas

Persamaan kontinuitas adalah persamaan yang menghubungkan kecepatan fluida


dalam dari satu tempat ke tempat lain. Sebelum menurunkan hubungan, Anda harus
memahami beberapa istilah dalam aliran fluida. Garis aliran (stream line) diartikan sebagai
jalur aliran fluida ideal (aliran lunak). Garis singgung di suatu titik pada garis memberikan
kita arah kecepatan aliran fluida. Garis alir tidak berpotongan satu sama lain. Tabung air
adalah kumpulan dari garis-garis aliran. Dalam aliran tabung, fluida masuk dan keluar
melalui mulut tabung. Untuk itu, semua fluida tidak boleh dimasukkan dari sisi tabung karena
dapat menyebabkan persimpangan/perpotongan garis-garis aliran. Hal ini akan menyebabkan
aliran tidak tunak lagi.

Persamaan di samping adalah persamaan kontinuitas. Karena sifat fluida yang


inkonpresibel atau massa jenisnya tetap, maka persamaa itu menjadi:

A1.v1 = A2.v2

Menurut persamaan kontinuitas, perkalian antara luas penampang dan kecepatan


fluida pada setiap titik sepanjang tabung aliran adalah konstan. Persamaan di atas
menunjukkan bahwa kecepatan fluida berkurang ketika melalui pipa lebar dan bertambah
ketika melewati pipa sempit. Karena itulah ketika kita sedang berperahu disebuah aliran
sungai, perahu akan melaju semakin cepat ketika celah hujan semakin menyempit.

Aliran fluida dalam tabung Gambar 7.14 menggambarkan aliran fluida secara
stasioner, sehingga tiap partikel fluida dalam tabung yang melewati titik A akan menempuh
lintasan dari partikel yang mendahuluinya yang juga melewati titik A tersebut. Lintasan itu
dinamakan garis alir atau garis arus.

Misalnya pada gambar 7.14 di atas terdapat 3 gambaran garis alir atau garis arus. Jika
luas penampang lintang tabung tidak sama, kecepatan partikel fluida itu juga berubah
sepanjang garis arusnya. Akan tetapi pada satu titik tertentu dalam tabung, kecepatan setiap
partikel fluida itu senantiasa sama.

Partikel yang pada suatu saat ada di A kemudian pada saat berikutnya ada di B,
bergerak dengan arah dan kecepatan yang berlainan dan akhirnya sampai di C dengan arah
dan kecepatan yang lain lagi. Fluida yang mengalir melalui kolom dengan luas penampang
A1 dalam pembuluh sepanjang L1, sampai ke kolom dengan luas penampang A2
berkecepatan V2 dalam pembuluh sepanjang L2 maka berlaku persamaan kontinuitas. "Cepat
alir (debit aliran) pada setiap detik (kedudukan) dalam suatu pembuluh dari fluida yang
mengalir adalah konstan". Cepat aliran atau debit aliran adalah banyaknya fluida yang
mengalir per satuan waktu. Untuk memahami hal tersebut, perhatikan gambar 7.15 di bawah
ini!
Gambar 7.15 di atas melukiskan suatu fluida yang mengalir melalui suatu pembuluh
yang luas penampangnya sama yaitu sebesar A, dengan kecepatan sebesar v. Jika pada suatu
saat fluida berada pada penampang K dan setelah t detik kemudian berada di penampang L,
maka dalam waktu t tersebut banyaknya fluida yang telah mengalir adalah v . t . A, sehingga
persamaan kontinuitas dapat dinyatakan secara matematis: v . A = konstan atau

Pada saat Anda akan menyemprotkan air menggunakan selang, Anda akan melihat
sebuah fenomena fisik yang aneh tapi nyata. Cobalah untuk menekan lubang selang, air yang
keluar akan dipancarkan cukup jauh. Sebaliknya ketika selang dikembalikan ke normal maka
pancaran air akan berkurang. Fenomena fisik itu dapat dijelaskan dengan mempelajari
pembahasan berikut tentang persamaan kontinuitas.
Gambar: Aliran fluida dalam tabung

Coba Anda buka kran air perlahan‐lahan sambil memperhatikan laju air yang keluar
dari mulut kran. Setelah kran tidak bisa diputar lagi, sumbat sebagian mulut kran dengan
tanganmu. Sekarang bandingkan, manakah laju aliran air yang lebih besar. Ketika sebagian
mulut kran disumbat atau tidak disumbat ? Kalau Anda punya selang yang biasa dipakai
untuk menyiram bunga, alirkan air melalui selang tersebut. Tutup sebagian mulut selang
dengan tangan atau jarimu. Semakin banyak bagian mulut selang yang ditutup, semakin deras
air menyembur keluar. Sebaliknya jika mulut selang tidak ditutup, aliran air menjadi kurang
deras. Mengapa bisa demikian ? agar bisa memahami hal ini, silahkan pelajari pokok bahasan
persamaan kontinuitas.

Garis Arus dan Tabung Alir

Terlebih dahulu kita pahami konsep Garis Arus dan Tabung Alir. Konsep ini penting, karena
akan membantu Anda memahami persamaan kontinuitas.

Garis Arus (stream line)

Pada aliran tunak, kecepatan setiap partikel fluida di suatu titik, katakanlah titik A
selalu sama. Ketika melewati titik B, kecepatan partikel fluida mungkin berubah. Walaupun
demikian, ketika tiba di titik B, partikel fluida yang menyusul dari belakang mengalir dengan
kecepatan yang sama seperti partikel fluida yang mendahuluinya. Demikian juga ketika tiba
di titik C dan seterusnya. Garis Arus itu merupakan kurva yang menghubungkan titik A, B
dan C.
Tabung Alir (flow tube)

Pada dasarnya kita bisa menggambarkan setiap garis arus melalui tiap‐tiap titik dalam
aliran fluida tersebut. Jika kita menggangap aliran fluida tunak, sejumlah garis arus yang
melewati sudut tertentu pada luas permukaan imajiner (luas permukaan khayalan)
membentuk suatu tabung aliran. Tidak ada partikel fluida yang saling berpotongan tapi selalu
sejajar dan tabung aliran tersebut akan menyerupai sebuah pipa yang bentuknya selalu sama.
Fluida yang masuk pada salah satu ujung tabung akan keluar dari tabung tersebut di ujung
lainnya.

Debit

Debit itu menyatakan volume suatu fluida yang mengalir melalui penampang tertentu
dalam selang waktu tertentu. Secara matematis, bisa dinyatakan sebagai berikut :

Untuk menambah pemahamanmu, kita gunakan contoh. Misalnya fluida mengalir


melalui sebuah pipa. Pipa biasanya berbentuk silinder dan memiliki luas penampang tertentu.
Pipa tersebut juga mempunyai panjang.
Ketika fluida mengalir dalam pipa tersebut sejauh L, maka volume fluida yang ada
dalam pipa adalah V = A L (V = volume fluida, A = luas penampang dan L = panjang pipa).
Karena selama mengalir dalam pipa sepanjang L fluida menempuh selang waktu tertentu,
maka kita bisa mengatakan bahwa besarnya debit fluida adalah :

Karena v = s/t = L/t —> L = vt, maka persamaan di atas diubah menjadi :

Dengan demikian, ketika fluida mengalir melalui suatu pipa yang memiliki luas
penampang dan panjang tertentu selama selang waktu tertentu, maka besarnya debit fluida
(Q) tersebut sama dengan luas permukaan penampang (A) dikalikan dengan kecepatan aliran
fluida (v).

Persamaan Kontinuitas

Tinjau aliran fluida pada sebuah pipa yang mempunyai diameter berbeda, seperti
tampak pada gambar di bawah.

Gambar ini menujukan aliran fluida dari kiri ke kanan (fluida mengalir dari pipa yang
diameternya besar menuju diameter yang kecil). Garis putus‐putus merupakan garis arus.

Keterangan gambar : A1 = luas penampang bagian pipa yang berdiameter besar, A2 = luas
penampang bagian pipa yang berdiameter kecil, v1 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa
yang berdiameter besar, v2 = kecepatan aliran fluida pada bagian pipa yang berdiameter kecil,
L = jarak tempuh fluida.

Pada pengantar fluida dinamis, telah dijelaskan bahwa dalam fluida dinamis, kita
membahas aliran fluida yang tak termampatkan, tak kental, tak berolak dan tunak. Pada aliran
tunak, kecepatan aliran partikel fluida di suatu titik sama dengan kecepatan aliran partikel
fluida lain yang melewati titik itu. Aliran fluida juga tidak saling berpotongan (garis arusnya
sejajar). Karenanya massa fluida yang masuk ke salah satu ujung pipa harus sama dengan
massa fluida yang keluar di ujung lainnya. Jika fluida memiliki massa tertentu masuk pada
pipa yang diameternya besar, maka fluida tersebut akan keluar pada pipa yang diameternya
kecil dengan massa yang tetap.

Alam semesta diciptakan memiliki cara kerja yang sangat teratur dan memenuhi
hukum-hukum alam yang berlaku dimanapun diseluruh tempat di alam semesta. Hukum-
hukum dasar tersebut tentu saja berlaku juga pada fenomena aliran fluida.

Hukum alam pertama yang sangat penting dalam aliran fluida adalah hukum
kekekalan massa atau dikenal juga dengan istilah kontinuitas yang kurang lebih menjelaskan
bahwa fluida yang mengalir dari titik satu ke titik lainya, massanya (kita kenal juga sebagai
“berat” pada kehidupan kita sehari-hari) tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang atau
kekal.
Pada ilustrasi diatas, fluida pada titik 1 adalah sama dengan fluida pada titik 2 (massa
dan volumenya sama) namun pada waktu yang berbeda. Pada titik 1 terlihat fluida terlihat
lebar tapi pendek, kemudian setelah sampai pada titik 2 yang memiliki luas permukaan lebih
sempit, fluida memanjang untuk mengkompensasi penyempitan tersebut atau untuk
mempertahankan massa (volumenya). Kita ketahui bahwa kecepatan adalah panjang dibagi
waktu, artinya makin panjang jarak yang ditempuh dalam waktu yang sama pasti kecepatanya
semakin tinggi. Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa kecepatan di titik 2 lebih tinggi
dari kecepatan di titik 1.

Adapun secara matematis, penjelasan diatas dapat dituliskan sebagai berikut:

(Persamaan diatas dengan asusmsi bahwa massa jenis fluida tidak berubah, misalkan air,
minyak atau udara pada suhu konstan)

dengan A adalah luas permukaan dan v adalah kecepatan. Adapun perkalian dari A.v
dikenal juga dengan istilah debit. Oleh karena itu dapat dikatakan pula hukum kontinuitas
berbunyi debit suatu aliran tidak akan bertambah ataupun berkurang pada suatu sistem
tertutup (tidak ada tambahan debit dari luar) selama fluida tidak mengalami perubahan massa
jenis dan hanya mengalami perubahan luas penampang.

Berikut adalah contoh kasus penjelasan persamaan diatas: Misalkan luas permukaan
pada titik 1, A1 = 1 m2 dan kecepatan di titik 1, V1= 3 m/s. kemudian ketika melewati titik 2,
luas permukaan menyempit menjadi setengahnya yaitu, A2 = 0,5 m2 maka dapat dihitung
kecepatan di titik 2 sebagai berikut: (berdasarkan rumus diatas) 1×3 = 0,5xV2, diperoleh V2
= 6 m/s. Kita lihat dari angka-angka ini bahwa ketika kita mengecilkan luas permukaan
menjadi setengahnya (1 menjadi 0,5), maka kecepatan akan naik menjadi dua kali lipatnya (3
menjadi 6). Atau secara bahasa, kecepatan berbanding terbalik dengan luas permukaanya,
makin kecil luas permukaan makin tinggi kecepatan di tempat tersebut.

Mungkin terlihat sederhana, namun banyak yang melupakan konsep ini ketika sudah
mengadapi suatu kasus di lapangan.

Contoh kasus sederhana dari kontinuitas adalah saat kita bermain dengan selang untuk
menyiram tanaman. Ketika kita menekan ujung selang, sebenarnya kita sedang
mempersempit luas permukaannya, sehingga berdasarkan persamaan kontinuitas yang sudah
kita pelajari diatas, kecepatan aliran akan semakin tinggi.

Contoh yang lebih teknis dari penggunaan persamaan kontinuitas ini adalah pada
desain mesin jet. Sebelum masuk ke kompresor, agar kompresi terjadi secara efektif, aliran
udara masuk harus memiliki kecepatan serendah mungkin. Berdasarkan persamaan
kontiunitas, untuk mendapatkan kecepatan yang lambat, luas permukaan harus membesar.
Oleh karena itu, dapat kita amati bagian depan (inlet) mesin jet memiliki luas
permukaan semakin membesar mulai bibir inlet sampai ke depan kompresor. Bagian ini
dikenal juga dengan istilah diffuser yang memang berfungsi untuk memperlambat aliran
udara.
Kemudian, untuk mendapatkan dorongan yang kuat, kecepatan buang udara ke
belakang dari mesin jet harus setinggi mungkin. Oleh karena itu dapat kita perhatikan bahwa
pada bagian belakang mesin jet terdapat bagian yang mengerucut (makin kebelakang makin
sempit) yang mana hal ini berfungsi untuk mempercepat kecepatan. Bagian ini dikenal juga
dengan istilah nozle.
Pada penjelasan persamaan kontinuitas sebelumnya, sempat disinggung bahwa
persamaan A1.V1 = A2=V2 mengasumsikan bahwa fluida tidak mengalami perubahan massa
jenis atau tidak termampatkan (misalkan air, minyak atau udara pada suhu yang konstan).
Namun pada kasus fluida seperti udara, massa jenis dapat berubah-ubah dengan perubahan
tekanan maupun perubahan suhu (contoh: Balon udara dapat terbang karena memiliki massa
jenis yang lebih rendah dari udara sekitar, massa jenis rendah ini diperoleh dari suhu yang
tinggi). Adapun, persamaan kontinuitas tanpa asumsi massa jenis adalah konstan dapat
dituliskan sebagai berikut:

Untuk memahami persamaan diatas, kita bayangkan kasus dimana luas permukaan 1,
A1 sama dengan luas permukaan 2, A2 misalkan pada kasus nozle roket dibawah ini:
Pada kondisi awal, fluida adalah diam (dalam bentuk bahan bakar) dan tidak terjadi
perubahan luas penampang yang signifikan pada nozle. Lalu bagaimana mungkin kecepatan
udara pada nozle bisa sangat cepat sehingga menghasilkan dorongan yang sangat besar?

Hal ini dapat dijelaskan oleh persamaan kontinuitas, yaitu proses pembakaran bahan
bakar menghasilkan panas dan meningkatkan suhu dengan sangat tinggi, peningkatan suhu
yang sangat tinggi ini diikuti pula oleh penurunan massa jenis secara drastis (penurunan
massa jenis karena pemanasan ini kita kenal juga dengan istilah ekspansi atau pemuaian).
Berdasarkan persamaan kontinuitas, penurunan massa jenis secara drastis diatas akan
meningkatkan kecepatan secara drastis.