Anda di halaman 1dari 6

KERANGKA ACUAN

DISKUSI PUBLIK
SOSIALISASI PRAKTEK BAIK INKLUSI SOSIAL
UNTUK ANAK PEKERJA MIGRAN KEPADA CALON
LEGISLATIF DI WILAYAH JAWA TIMUR

Surabaya, 27 Desember 2018

PROGRAM PEDULI
LEMBAGA PENGKAJIAN KEMASYARAKATAN DAN PEMBANGUNAN
(LPKP) Jawa Timur

Alamat Kantor: PerumKaranglo Indah Blok i No 4 Malang - JawaTimur


Telp/Fax danemail : 0341-414450/414451, lpkp.jatim@yahoo.com
2018
A. LATAR BELAKANG

Tahun 2019 merupakan tahun politik, masyarakat akan terlibat dalam pesta demokrasi untuk
menentukan para wakil rakyat ditingkat kabupaten, Propinsi dan Nasional serta pemilihan Presiden
untuk 5 tahun kedepan. Partai Politik dan para kandidatnya berupaya menjaring suara sebanyak
banyaknya untuk mendapatkan kursi dilembaga legislatif tersebut. Ada banyak cara yang mereka
lakukan untuk “menjual” ide/gagasan dan program program agar para pemilih memberikan
dukungan suaranya. Berbagai isu dimasyarakat dikemas dan kemudian menjadi bahan “kampanye”.
Pemahaman para kandidat atas isu yang saat ini berkembang di masyarakat masih terbatas, isu
yang cukup krusial dan memiliki nilai jual kepada publik, seringkali juga tidak ketangkap oleh para
caleg. Karena banyak juga kandidat yang maju dalam pemilihan calon legislatif yang sebetulnya
tidak berangkat dari keterwakilan komunitasnya dan atau belum banyak berinteraksi dengan
masyarakat. Salah satu isu yang jika diangkat cukup menarik dan tidak terlalu menimbulkan
kontroversi adalah isu perlindungan anak. Jumlah anak disetiap wilayah menurut data BPS tidak
kurang dari 30 % dari total populasi jumlah penduduk. Sehingga situasi dan kondisi anak anak akan
sangat tetap menarik untuk menjadi tema tema dalam menggalang dukungan dari para pemilih
dalam pemilu 2019

Berbagai upaya kebijakan/program/kegiatan telah dilakukan baik itu oleh pemerintah dan non
pemerintah agar tidak ada lagi anak-anak, baik laki-laki dan perempuan yang tidak terpenuhi hak-
haknya. Namun demikian di Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup tinggi, wilayah yang
cukup luas, masih ditemukan persoalan pemenuhan dan perlindungan anak. Diantara banyak
permasalahan perlindungan anak, selain anak-anak yang menjadi korban kekerasan, anak anak dari
keluarga miskin, trafiking, anak berhadapan hukum, disabilitas, anak dengan HIV-AID, juga
ditemukan banyak permasalahan pada anak-anak dari keluarga Pekerja Migran.

Program peduli melakukan intervensi untuk anak-anak pekerja migran sebagai bagian dari anak-
anak yang membutuhkan perlindungan khusus sejak tahun 2015. Pada awalnya masyarakat dan
bahkan pemerintah tidak berpikir bahwa anak-anak pekerja migran (TKI yang keluar negeri maupun
yang antara pulau/pripinsi dalam waktu yang cukup lama) mempunyai masalah, mereka dianggap
anak-anak yang berkecukupan, karena orang tuanya bekerja diluar daerah dengan pendapatan
yang lebih baik. Akan tetapi dengan intervensi Peduli terhadap Anak pekerja Migran khususnya
yang mengalami ekslusi sosial, anggapan tersebut tidaklah semua benar. Yang pasti bahwa APM
dengan keberhasilan dan kegagalan orang tuanya bekerja keluar daerah atau luar negeri keduanya
menimbulkan permasalahan bagi APM.

Salah satu kebutuhan dan hak tentang pengasuhan yang utuh tidak sepenuhnya didapatkan oleh
APM. APM ada yang ditinggalkan oleh salah satu dan atau kedua orang tuanya sejak masih bayi,
sampai mereka berusia 18 tahun. Fase tumbuh kembang yang tidak dikontrol dengan baik, akan
memberikan dampak buruk bagi anak yang bersangkutan. Hampir di beberapa kasus diwilayah
program peduli, APM mengalami keterlantaran dalam pengasuhan, hidup dalam kemiskinan yang
kemudian menimbulkan banyak kerentanan mulai dari diskriminasi, stigma, putus sekolah,
menikah usia anak, salah dalam pergaulan dan masih banyak permasalahan lainnya yang membuat
kondisi APM semakin terkslusi oleh lingkungan sosialnya. Ketika mereka terekslusi maka banyak
hak hak anak yang seharusnya mereka peroleh menjadi tidak didapat, karena masyarakat
mengangap “ wajar” ketika mereka dianggap berbeda dengan anak-anak pada umumnya sehingga
perolahannya haknya pun berbeda.

Persoalan ini tidak hanya berhenti dan diketahui oleh kelompok masyarakat yang bekerja intensif
dengan APM saja. Permasalahan dan intervensi yang pernah dilakukan untuk membuat APM
menjadi berdaya dan terinklusi dengan lingkungan sosialnya perlu juga disebarluaskan terutama
kepada para stakeholder, agar keberadaan APM yang merupakan bagian dari kelompok anak-anak
yang membutuhkan perlindungan khusus bisa segera mendapatkan perhatian pemerintah. Karena
pemerintahlah yang memiliki sumberdaya cukup dan tanggungjawab untuk memenuhi hak anak
dan melindungan anak-anak secara komprehesif. Isu Anak pekerja migran harus masuk dalam
kebijakan pembangunan, Jawa Timur adalah salah satu propinsi dengan jumlah pekerja migran
yang cukup tinggi, sudah seharusnya memiliki perhatian yang cukup baik terhadap anak-anak dan
keluarga pekerja migran.

Isu inklusi sosial untuk anak pekerja migran, juga menjadi salah satu isu yang krusial tetapi belum
banyak calon anggota legislatif yang memahami dan memilih isu tersebut sebagai bahan
kampanyenya. Oleh karena itu pengalaman dan praktek baik “Program peduli untuk sub pilar Anak
Pekerja Migran” akan disampaikan kepada para caleg agar isu inklusi sosial khususnya bagi
kelompok marginal bisa menjadi konsern dan bahkan menjadi mainstream bagi para caleg dalam
melakukan kampanye kepada para calon pemilihnya maupun nanti ketika mereka terpilih, sehingga
isu pekerja migran dan keluarganya akan dapat diperjuangkan. Isu anak sebetulnya menjadi isu
yang sangat strategis dan cenderung tidak memunculkan resistensi.

B. TUJUAN KEGIATAN

Tujuan dari kegiatan Sosialisasi Praktek baik inklusi sosial bagi APM sebagai berikut :
1. Memperkenalkan isu inklusi sosial dengan berbagai praktek baik program Peduli dalam
perlindungan anak pekerja migran kepada para calon anggota legislatif periode 2019-2024
2. Membangun dialog, menggalang dukungan dan menggali masukan dari peserta untuk
pengembangan model inklusi sosial untuk anak pekerja migran di berbagai daerah
3. Menyampaikan rekomendasi atas integrasi inklusi sosial bagi APM dalam kebijakan/program
pembangunan di daerah.

C. OUTPUT YANG INGIN DICAPAI

Output yang akan dicapai dari kegiatan Sosialisasi Praktek baik inklusi sosial bagi APM sebagai
berikut
1. Meningkatnya pemahaman dan kesadaran akan pentingnya inklusi sosial dalam
pembangunan, khususnya anak pekerja migran bagi pada caleg lintas partai yang akan
mengikuti kontestasi pileg 2019
2. Isu inklusi sosial bisa menjadi mainstream bagi calon legislatif pada saat kampanye maupun
setelah terpilih menjadi legislatif, sehingga inklusi sosial untuk APM bisa terintergasi dalam
kebijakan/program/kegiatan pembangunan di tingkat nasional sampai ke daerah
3. Adanya dukungan atas gerakan inklusi sosial dari publik dan masukan untuk pengembangan
model inklusi sosial bagi anak pekerja migran di Indonesia
D. METODOLOGI

1. Bentuk Kegiatan

Kegiatan sosialisasi inklusi sosial & praktek baiknya untuk APM kepada calon anggota legislatif
di Jawa Timur dirancang dalam bentuk kegiatan dialog publik informal, yang melibatkan calon
legislatif dilevel kab/kota, propinsi dan nasional yang berminat dan menghadirkan para nara
sumber dari para pelaku dan penerima manfaat program Peduli. Semua peserta diharapkan
bisa terlibat aktif.

2. Narasumber & Fasilitator

Dalam kegiatan ini nara sumber adalah tim Peduli TAF dan LPKP Jawa Timur dan
menghadirkan beberapa perwakilan APM untuk testimoni dan kader (Pintar). Sedangkan
fasilitatornya adalah dari Tim Peduli LPKP Jawa Timur.

3. Materi Dialog Pubilik

Materi yang akan disampaikan dalam Temu Calon Legislatif adalah sebagai berikut :
a. Inklusi sosial dan Pembangunan yang inkusif
b. Esklusi sosial yang dialami kelompok masyarakat marginal, khususnya pada anak pekerja
migran dan dampaknya.
c. Praktek baik dan inovasi mengembangkan inklusi sosial bagi Anak Pekerja Migran (APM)
melalui model “pengasuhan bersama”
d. Rekomendasi integrasi inklusi sosial untuk anak pekerja migran dalam kebijakan/ program/
kegiatan pembangunan

4. Alat dan bahan yang diperlukan

a. LCD projector
b. Notebook/laptop
c. Metaplan
d. Kertas plano/flipchart
e. Spidol
f. Bahan Bacaan

E. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Kamis, 27 Desember 2018

Tempat : Rumah Makan AGIS Jl. Pagesangan Surabaya (Depan Masjid Agung)
F. PESERTA KEGIATAN

Kegiatan dialog publik dan sosialisasi Praktek baik inklusi sosial bagi APM diikuti oleh para
calon legislatif laki-laki dan perempuan dari lintas partai (14 Partai peserta Pemilu 2019 akan
diundang) baik untuk level Kabupaten/ Kota, Propinsi dan Nasional. Kepesertaan bersifat
sukarela, dengan jumlah peserta kurang lebih 50 orang.

G. AGENDA KEGIATAN

Agenda kegiatan yang dirancang dalam pertemuan ini adalah sebagai berikut :

HARI/TANGGAL AGENDA/ACARA PENANGGUNGJAWAB

Hari Pertama , Kamis 27 Desember 2018


08.00 -09 .00 Registrasi peserta & snaks pagi Panitia
09.00 – 09.30 Pembukaan dan Perkenalan Direktur LPKP &
Programe manager
09.30 – 11.30 Panel Nara Sumber
1. Pengenalan inklusi sosial untuk kelompok TAF
Marginal
2. Praktek baik dalam pengasuhan bersama LPKP Jawa Timur
untuk APM sebagai wujud strategi inklusi
sosial
3. Testimoni dari PINTAR (Pandu Inklusi PINTAR dari Malang &
Nusantara) APM dan Anak pekerja migran APM dari Jember
4. Penyampaian rekomendasi atas integrasi
inklusi sosial bagi APM untuk mewujudkan
pembanguna yang inklusif di daerah

11.30 – 13.00 Dialog, menggalang dukungan/komitmen & Moderator/Fasilitator


sekaligus memberikan masukan untuk
perbaikan model inklusi sosial APM
13.00 – 14.00 Makan siang & ramah tamah , penutupan Panitia

H. ANGGARAN KEGIATAN

Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan alokasi anggaran program peduli yang dikelola
oleh LPKP Jawa Timur melalui dukungan The Asia Foundation (TAF) dan DFAT.

I. PENUTUP
Demikian kerangka acuan ini dibuat untuk dapat menjadi acuan semua pihak dalam rangka
pelaksanaan kegiatan Sosialisasi isu inklusi social bagi calon legislatif di Jawa Timur . Dengan
harapan kegiatan ini dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan yang telah disusun dan
berjalan dengan sukses serta lancar.

Malang, 17 Desember 2018

Tim Program Peduli


LPKP Jawa Timur