Anda di halaman 1dari 33

BUSINESS ETHICS & GG

Tugas UAS

Penerapan Good Governance

NAMA : Gunawan Adam

NIM : 55117120041

KODE MK : 35040

DOSEN : Prof. Dr. Ir. H. Hapzi Ali, Pre-MSc, MM, CMA

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS MERCU BUANA

JAKARTA

2018
1.1 Sejarah GCG

Sejarah lahirnya GCG muncul atas reaksi para pemegang saham di Amerika
Serikat pada tahun 1980-an yang terancam kepentingannya (Budiati, 2012). Dimana pada
saat itu di Amerika terjadi gejolak ekonomi yang luar biasa yang mengakibatkan banyak
perusahaan yang melakukan restrukturisasi dengan menjalankan segala cara untuk
merebut kendali atas perusahaan lain. Tindakan ini menimbulkan protes keras dari
masyarakat atau publik. Publik menilai bahwa manajemen dalam mengelola perusahaan
mengabaikan kepentingan-kepentingan para pemegang saham sebagai pemilik modal
perusahaan. Merger dan akuisi pada saat itu banyak merugikan para pemegang saham
akibat kesalahan manajemen dalam pengambilan keputusan. Untuk menjamin dan
mengamankan hak-hak para pemegang saham, muncul konsep pemberdayaan Komisaris
sebagai salah satu wacana penegakan GCG. Komisaris Independen adalah Anggota
Dewan Komisaris yang tidak memiliki hubungan dengan Direksi, Anggota Dewan
Komisaris lainnya dan Pemegang Saham pengendali, serta bebas dari hubungan bisnis
atau hubungan lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak
independen atau bertindak semata-mata demi kepentingan perusahaan.

Di Indonesia, konsep GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997
krisis yang berkepanjangan yang dinilai karena tidak dikelolanya perusahaan–
perusahaan secara bertanggungjawab,
serta mengabaikan regulasi dan sarat dengan praktek (korupsi, kolusi, nepotisme)
KKN (Budiati, 2012). Bermula dari usulan penyempurnaan peraturan pencatatan pada
Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia/BEI) yang mengatur mengenai
peraturan bagi emiten yang tercatat di BEI yang mewajibkan untuk mengangkat
Komisaris Independen dan membentuk Komite Audit pada tahun 1998, GCG mulai di
kenalkan pada seluruh perusahaan publik di Indonesia.

Setelah itu pemerintah Indonesia menandatangani Nota Kesepakatan (Letter of


Intent) dengan International Monetary Fund (IMF) yang mendorong terciptanya iklim
yang lebih kondusif bagi penerapan GCG. Pemerintah Indonesia mendirikan lembaga
khusus, yaitu Komite Nasional Kebijakan Corporate Governance (KNKCG) yang
memiliki tugas pokok dalam merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan
nasional mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau perbaikan di
bidang corporate governance di Indonesia.

Sejauh ini penegakan aturan untuk penerapan CGG belum ada sanksi bagi
perusahaan yang belum menerapkan maupun yang sudah menerapkan tetapi tidak sesuai
standar pelaksanaan GCG. Namun pelaksanaan penerapan GCG memberi nilai tambah
bagi perusahaan. Perusahaan yang melakukan peningkatan pada kualitas GCG
menunjukan peningkatan penilaian pasar, sedangkan perusahaan yang mengalami
penurunan kualitas GCG, cenderung menunjukan penurunan pada penilaian pasar
(Cheung, 2011).

1.2 Definisi GCG

Istilah tata kelola perusahaan di Indonesia merupakan terjemahan dari corporate


governance. Kata governance berasal dari bahasa Prancis kuno yaitu gouvernance yang
berarti pengendalian (control) atau regulated dan dapat dikatakan sebagai suatu keadaan
yang berada dalam kondisi yang terkendali (Subroto, 2005).

GCG merupakan masalah yang tidak akan berakhir dan terus akan menjadi bahan
pembahasan bagi pelaku bisnis, akademis, pembuatan kebijakan dan lain sebagainya.
Perhatian terhadap GCG kian meningkat seiring banyak bermunculan
masalah skandal keuangan di lingkungan bisnis. Konsep GCG telah banyak
dikemukakan oleh banyak ahli dan badan sebagai alat control dan pengawasan terhadap
kinerja manajemen.

Definisi GCG menurut Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor:
KEP-117/M-MBU/2002 adalah suatu proses atau struktur yang digunakan oleh BUMN
untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan
nilai pemegang saham dalam jangka waktu panjang dan tetap memperhatikan
kepentingan stakeholders lainnya, berlandaskan peraturan perundang- undangan dan
nilai-nilai etika. Sehubungan dengan tidak berlakunya Keputusan Menteri Negara BUMN
tersebut yang selama ini digunakan sebagai dasar penerapan GCG, yaitu Keputusan
Menteri Negara BUMN Nomor: Kep–117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli
2002 tentang Penerapan Praktik GCG pada Badan Usaha Milik Negara karena
digantikan dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-

01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara (tanggal 1 Agustus 2011), maka definisi
GCG berubah menjadi prinsip-prinsip yang mendasari suatu proses dan mekanisme
pengelolaan perusahaan berlandaskan peraturan perundang-undangan dan etika
berusaha.

Menurut Muh. Arief Effendi (2009) dalam bukunya The Power of Good
Corporate Governance, pengertian GCG adalah suatu sistem pengendalian internal
perusahaan yang memiliki tujuan utama mengelola risiko yang signifikan guna
memenuhi tujuan bisnisnya melalui pengamanan aset perusahaan dan meningkatkan nilai
investasi pemegang saham dalam jangka panjang.

Definisi GCG yang dikemukakan diatas berbeda namun memiliki maksud yang
sama. Dari definisi diatas dapat disimpulkan GCG adalah sistem atau seperangkat
peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi hubungan antara para pengelola
perusahaan dengan stakeholders disuatu perusahaan. GCG tidak hanya sebagai alat
pengatur dan pengendali saja namun juga sebagai nilai tambah bagi suatu perusahaan.

1.3 Teori GCG

1.3.1 Teori Agensi (Agency Theory)

Konsep GCG timbul berkaitan dengan principal-agency theory, yaitu untuk


menghindari konflik antara principal dan agent-nya (www.bpkp.go.id, 2012). Konflik
muncul karena perbedaan kepentingan tersebut haruslah dikelola dengan baik sehingga
tidak menimbulkan kerugian pada para pihak. Teori agensi menekankan pentingnya
pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada
tenaga-tenaga ahli (agent) yang lebih mengerti dalam menjalankan pengelolaan
perusahaan (Sutedi, 2011). Pemisahan dalam pengelolaan perusahaan dari pemiliknya
ditujukan agar pemilik perusahaan memperoleh keuntungan yang maksimal dengan
biaya yang seefisien mungkin. Tugas para agent adalah menjaga kepentingan

perusahaan dan menjalankan manajemen perusahaan sesuai fungsi yang telah


ditetapkan. Dengan kata lain agent adalah perantara para pemegang saham dalam
menjalankan pengelolaan perusahaan, sementara para pemegang saham hanya
mengawasi kinerja para agent-nya dan memastikan bahwa para agent bekerja sesuai
dengan fungsi, tugasnya, dan menjunjung tinggi kepentingan perusahaan sehingga
tujuan perusahaan dapat tercapai. Kinerja manajemen dapat dilihat dari keberhasilannya
dalam memaksimalkan laba perusahaan yang berpengaruh terhadap keberlangsungan
hidup perusahaan.

Keleluasaan manajemen dalam mengelola dana guna mencapai hasil yang


maksimal bagi perusahaan bisa mengarah pada memaksimalkan tambahan ekonomis bagi
kepentingan pribadi (kepentingan para agent ) dengan beban dan biaya yang harus
ditanggung oleh perusahaan, sehingga dalam menyajikan laporan atas penggunaan dan
pengelolaan dana oleh para agent tidak melaporkan informasi keuangan perusahaan
sesuai dengan yang sebenarnya (Ernawan, 2011). Dengan kata lain,
para agentmerekayasa laporan keuangan perusahaan guna menghindari resiko
ditemukannya fraud yang dilakukan. Disamping itu, kinerja manajemen yang diukur dari
keberhasilannya dalam memaksimalkan laba perusahaan, mendorong para agent untuk
melakukan earnings management dalam penyusunan laporan keuangan,
dimana agent merekayasa laba perusahaan agar kinerja dalam mengelola perusahaan
dinilai baik oleh para pemegang saham.

Teori agensi tersebut mendorong munculnya konsep GCG dalam pengelola


bisnis perusahaan, dimana GCG diharapkan dapat meminimumkan hal-hal tersebut
melalui pengawasan terhadap kinerja para agent. GCG memberikan jaminan kepada para
pemegang saham bahwa dana yang diinvestasikan dikelola dengan baik dan
para agent bekerja sesuai dengan fungsi, tanggung jawab dan untuk kepentingan
perusahaan.

1.3.2 Teori Stakeholders

Pengertian stakeholders atau para pemangku kepentingan menurut Peraturan


Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01 /MBU/2011 Tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada
Badan Usaha Milik adalah pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan
(BUMN) karena mempunyai hubungan hukum dengan perusahaan (BUMN). Perusahaan
tidak hanya memandang bahwa stakeholders adalah investor dan kreditor saja,
melainkan antara lain pemerintah, pelanggan, pemasok, karyawan (tenaga kerja),
masyarakat dan lingkungan.

Pemerintah dapat dikatakan sebagai stakeholders bagi perusahaan karena


pemerintah mempunyai kepentingan atas aktivitas perusahaan dan keberadaan
perusahaan sebagai salah satu elemen sistem sosial dalam sebuah negara. Oleh kerena
itu perusahaan tidak bisa mengabaikan peran pemerintah dalam menjalankan
pengelolaan bisnis (Sarwako, 2003). Terdapatnya birokrasi yang mengatur jalannya
perusahaan dalam sebuah negara yang harus ditaati oleh perusahaan melalui kepatuhan
terhadap peraturan pemerintah menjadikan terciptanya sebuah hubungan yang baik
antara perusahaan dengan pemerintah.

Pelanggan dianggap sebagai salah satu stakeholders dari suatu perusahaan karena
pelanggan memberikan kontribusi pendapatan dari pemakaian produk atau jasa
perusahaan. Secara umum pelanggan menuntut agar produk atau jasa tersebut dapat
dipercaya dengan tingkat harga yang seminimal mungkin, serta menuntut pula adanya

pelayanan yang diberikan oleh produk, garansi yang cocok, riset dan pengembangan
perbaikan produk dan jasa.

Pemasok merupakan salah satu stakeholders dengan tuntutan adanya sumber


usaha yang berkelanjutan, pelaksanaan dari perjanjian kredit yang tepat waktu,
hubungan yang profesional dalam pengontrakan untuk pembelian dan penerimaan
barang dan jasa. Karyawan dianggap pula sebagai pihak yang mempunyai pengaruh bagi
kegiatan operasional perusahaan. Karyawan mengharapkan perusahaan menyediakan
lingkungan kerja yang dinamis yang memberikan imbalan yang memuaskan dan yang
mendorong untuk pengembangan keahlian, pengetahuan dan karir. Pihak yang paling
penting dalam menjalankan pengelolaan perusahaan adalah masyarakat dan lingkungan,
dimana perusahaan dituntut dapat memberi pekerjaan yang produktif dan sehat dalam
masyarakat dan tanggungjawab sosial perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan
hidup.

Dalam teori ini menunjukkan adanya peran penting stakeholders dalam


perusahaan. Untuk itu perusahaan harus mampu memberikan kepuasan
terhadap stakeholders, dimana perusahaan dituntut untuk dapat memenuhi semua
tuntutan stakeholders agar dapat mendukung pencapai tujuan perusahaan. Dalam
tesisnya, Sarwako (2003) menyimpulkan salah satu cara yang dapat digunakan untuk
mengelola tuntutan stakeholders adalah dengan menerapkan GCG secara efektif.

1.3.3 Stewardship theory

Stewardship theory dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia


yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan penuh
tanggung jawab memiliki, integritas, dan kejujuran terhadap pihak lain. Inilah yang

tersirat dalam tuntutan yang dikehendaki para pemegang saham. Dengan


kata lain, stewardship theory memandang manajemen sebagai dapat dipercaya untuk
bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik pada umumnya
maupun shareholders pada khususnya.

1.4 Prinsip-Prinsip GCG

Menurut KNKG, Prinsip-prinsip GCG adalah sebagai berikut:

1. Transparansi (Transparency)
Dalam prinsip ini, perusahaan dituntut mampu menyediakan informasi yang
penting atau materiil dan relevan secara akurat, tepat waktu, jelas, konsisten, comp
arabledan mudah diakses dan dipahami oleh stakeholders karena keyakinan dan
kepercayaan stakeholders terhadap perusahaan tergantung pada pengungkapan informasi
tersebut. Untuk itu, perusahaan hendaknya menggunakan prinsip-prinsip akuntansi dan
audit yang lazim digunakan dan dapat diterima secara luas dalam pengungkapan laporan
keuangan. Disamping itu, perusahaan diharapkan mempublikasikan laporan keuangan
dan informasi agar investor mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkan,
sehingga dapat menghindari benturan kepentingan (conflict of interest). Selain laporan
keuangan, perusahaan harus menyediakan informasi-informasi penting lainnya dan
kebijakan-kebijakan perusahaan kepada stakeholders, khususnya para pemegang saham.
Informasi yang disajikan oleh perusahaan harus mencerminkan keadaan yang
sesungguhnya (transparency), tanpa rekayasa oleh pihak manapun.

2. Akuntabilitas (Accountability)

Dalam prinsip ini, perusahaan diharapkan dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya


secara transparan dan wajar. Prinsip ini ditujukan untuk menghindari agency
problem yang muncul karena adanya perbedaan kepentingan antara Pemegang Saham
dan Direksi. Usaha yang dilakukan perusahaan untuk menjalankan prinsip ini antara lain
dengan memisahkan secara jelas fungsi, hak, wewenang dan tanggungjawab masing-
masing organ perusahaan, dan memastikan setiap organ perusahaan mampu
melaksanakan fungsinya sesuai dengan anggaran dasar, etika bisnis dan pedoman
perilaku perusahaan.

Untuk meyakinkan bahwa tidak adanya penyimpangan fungsi, hak dan wewenang, maka
dibentuk suatu sistem pengendalian internal (SPI) yang efektif dalam pelaksanaan
pengelolaan perusahaan. Disamping itu perusahaan harus memiliki ukuran
kinerja untuk semua jajaran perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha
perusahaan, serta memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment
system) untuk mendorong semua organ perusahaan melaksanakan tugas dan kewajiban
dengan penuh tanggungjawab.

3. Responsibilitas (responsibility)

Dalam prinsip ini, perusahaan diharapkan patuh terhadap hukum dan peraturan
yang berlaku, termasuk yang berkaitan dengan pajak, hubungan industrial, perlindungan
lingkungan hidup, kesehatan dan keselamatan kerja, standar penggajian, dan persaingan
yang sehat. Mengingat dalam menjalankan operasinya perusahaan seringkali
menghasilkan dampak yang negatif yang harus ditanggung masyarakat, untuk ini
tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat sangat diperlukan. Perusahaan juga
diharapkan membantu peran pemerintah dalam mengurangi terjadinya kesenjangan

pendapatan dan kesempatan kerja yang terjadi pada segmen masyarakat yang belum
mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar. Dengan perusahaan mematuhi hukum dan
perundang-undangan yang berlaku dan menjalankan tanggung jawab kepada lingkungan
dan masyarakat maka kesinambungan usaha dalam jangka panjang akan terwujud dan
perusahaan mendapatkan penghargaan sebagai Good Corporate Citizen.

4. Independensi (Independency)

Dalam hal ini perusahaan dikelola secara independent, dimana perusahaan harus
menghindari terjadinya dominasi oleh pihak manapun, tidak dipengaruhi oleh
kepentingan tertentu, bebas dari conflict of interest dan dari segala pengaruh dan tekanan
pihak manapun, sehingga dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan secara objektif.
Dalam hal ini pula, setiap organ perusahaan dituntut untuk melaksanakan tugas dan
kewajibannya sesuai dengan yang telah ditentukan, tidak mendominasi atau melempar
tanggung jawab satu sama lain sehingga kejelasan tugas dan tanggung jawab dapat
terlihat. Untuk mewujudkan prinsip ini dapat ditempuh dengan penetapan job
descriptionsecara jelas dan memastikan setiap organ telah melakukan tanggung jawabnya
dengan baik sesuai apa yang telah ditentukan.

5. Kewajaran dan Kesetaraan (fairness)


Dapat dipastikan semua investor pasti membutuhkan jaminan bahwa
setiap asset atau capital yang mereka tanamkan dikelola secara aman. Untuk itu
perusahaan dituntut untuk memberikan perlindungan terhadap seluruh kepentingan
pemegang saham
secara fair, termasuk kepada pemegang saham minoritas. Perlindungan tersebut
termasuk perlindungan terhadap kemungkinan terjadinya praktek korporasi yang
merugikan seperti fraud, insider trading dan lain sebagainya. Untuk mewujudkan
prinsip ini, dapat ditempuh dengan cara sebagai berikut:

a. Dalam pengambilan keputusan, perusahaan melibatkan para pemangku kepentingan


untuk memberikan kesempatan menyampaikan saran, masukan serta pendapat.

b. Membuat peraturan untuk melindungi kepentingan saham minoritas dalam


perusahaan.

c. Menetapkan secara jelas peran, fungsi dan tanggung jawab semua organ perusahaan.

d. Menyampaikan informasi penting secara terbuka dan secara wajar.

e. Memberikan perlakuan yang sama dalam penerimaan karyawan, berkarir dan


melaksanakan tugasnya secara professional.

1.5 Faktor Keberhasilan Penerapan GCG

Menurut KNKG (2009), keberhasilan pelaksanaan GCG pada perusahaan ditentukan


oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Komitmen dari organ perusahaan yang dilandasi oleh itikad baik untuk menerapkan
GCG secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan.
2. Penciptaan sistem pelaksanaan GCG di semua lapisan serta melakukan deseminasi dan
sosialisasi secara sistematis, konsisten dan berkelanjutan dengan mengikutsertakan semua
pihak yang ada dalam perusahaan dan pemangku kepentingan lainnya.

3. Penyesuaian peraturan dan kebijakan perusahaan dengan sistem pelaksanaanGCG.

4. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab seluruh jajaran perusahaan yang mengacu pada
pedoman perilaku (code of conduct).

5. Dukungan dari pihak stakeholders.

6. Evaluasi pelaksanaan GCG yang dilakukan berkala oleh perusahaan sendiri maupun
dengan menunjuk pihak lain yang kompeten dan independen.

II.1.6 Tujuan dan Manfaat Penerapan Prinsip-Prinsip GCG

Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01
/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, maka dapat diketahui tujuan dari
penerapan prinsip-prinsip GCG antara lain:

1. Penerapan prinsip-prinsip GCG untuk memaksimalkan nilai BUMN agar BUMN


memiliki daya saing yang kuat baik secara nasional maupun internasional, sehingga
tujuan BUMN dapat dicapai.

2.Agar BUMN dalam menjalankan usahanya dapat dijalankan secara profession


al, transparant, efisien, serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian
organ-organ perusahaan.

3. Agar setiap keputusan yang diambil dilandasi oleh nilai moral dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, serta memperhatikan kepentingan- kepentingan
para stakeholder (melindungi hak stakeholders).

4. Meningkatkan kontribusi BUMN dalam perekonomian nasional.

5. Meningkatkan iklim investasi nasional.


1.7 Organ Persero

Menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER- 01
/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, organ persero terdiri dari Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS), Dewan Pengawas, dan Direksi.

1.7.1 Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.40 tahun 2007 tentang


Perseroan Terbatas (UUPT) pasal 75 sampai dengan pasal 91, RUPS merupakan sebuah
forum dimana para Pemegang Saham memiliki kewenangan untuk memperoleh
informasi-informasi mengenai perusahaan, baik dari Direksi maupun Dewan Komisaris.
Informasi-informasi itu merupakan landasan bagi RUPS untuk menentukan kebijakan
dan langkah strategis perusahaan dalam mengambil keputusan sebagai sebuah badan
hukum. Dalam forum RUPS, mekanisme penyampaian keterangan dan keputusan itu
disusun secara teratur dan sistematis sesuai agendanya. Dalam forum RUPS, para
peserta tidak dapat memberikan keterangan dan keputusan diluar agenda rapat, kecuali
RUPS itu dihadiri oleh semua Pemegang Saham dan mereka menyetujui penambahan
agenda rapat itu dengan suara bulat.

RUPS menetapkan Indikator Pencapaian Kinerja (Key Performance Indicators)


Dewan Komisaris/Dewan Pengawas berdasarkan usulan dari Dewan Komisaris/Dewan
Pengawas yang bersangkutan. Selanjutnya Dewan Komisaris/ Dewan Pengawas wajib
menyampaikan laporan triwulanan perkembangan realisasi Indikator Pencapaian Kinerja
kepada para Pemegang Saham/Menteri.

Sebagai sebuah forum, pada prinsipnya RUPS harus diselenggarakan di


Indonesia. Penyelenggaraan itu dilakukan di tempat kedudukan perusahaan atau di tempat
perusahaan melakukan kegiatan operasional. Selain di tempat perusahaan, RUPS juga dapat
diselenggarakan melalui media elektronik, misalnya media telekonferensi atau video konferensi.
Semua peserta RUPS yang diselenggarakan dengan media elektronik harus bisa saling melihat
dan mendengar secara langsung serta berpartisipasi di dalam rapat. Meskipun
sifatnya telekonferensi, RUPS itu juga harus dibuatkan risalah rapatnya dan ditandatangani oleh
semua peserta rapat.

Jenis RUPS dapat terdiri dari :

a. RUPS Tahunan adalah RUPS yang wajib diselenggarakan Direksi minimal 6 bulan
setelah tahun buku Perseroan berakhir. Dalam RUPS Tahunan, Direksi mengajukan
semua dokumen dari Laporan Tahunan Perseroan.

b. RUPS Lainnya adalah RUPS yang dapat diadakan setiap waktu berdasarkan
kebutuhan untuk kepentingan Perusahaan.

Pemegang Saham dapat mengambil keputusan di luar RUPS, dengan syarat semua
Pemegang Saham dengan hak suara menyetujui secara tertulis dengan menandatangani
keputusan yang dimaksud. Keputusan Pemegang Saham ini mempunyai kekuatan hukum
mengikat yang sama dengan keputusan RUPS secara fisik. Keputusan Pemegang Saham
di luar RUPS dapat dilakukan dalam bentuk surat keputusan atau surat biasa, yang
keduanya mempunyai kekuatan mengikat sebagai Keputusan RUPS/Menteri.

Menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-
01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good

Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, hak-hak Pemegang Saham
antara lain:

1. Mendapatkan perlakuan yang sama (setara) antar Pemegang Saham.

2. Menghadiri dan mempunyai hak mengemukakan pendapat dalam Rapat Umum


Pemegang Saham (RUPS).
3. Mendapatkan informasi-informasi yang penting berkaitan dengan BUMNsecara
tepat waktu, terukur dan teratur. Informasi tersebut antara lain :

a. Panggilan untuk RUPS.

b. Informasi laporan metode perhitungan, penentuan serta rincian atas gaji, honorarium,
fasilitas, tunjangan.

c. Informasi mengenai Rencana Kerja Perusahaan dan AnggaranPerusahaan.

d. Informasi keuangan perusahaan.

e. Informasi yang berkaitan dengan agenda RUPS yang diberikan sebelum dan atau
pada saat RUPS berlangsung.

4. Menerima deviden sesuai dengan komposisi modal yang ditanamkan.

5. Menerima sisa kekayaan hasil likuidasi.

1.7.2 Dewan Komisaris ( Dewan Pengawas)

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.40 tahun 2007 tentang Perseroan


Terbatas (UUPT) Pasal 1, definisi Dewan Komisaris (Dewan Pengawas) adalah organ
perusahaan yang menjalankan tugas pengawasan secara umum dan/ atau
khusus sesuai dengan anggaran dasar yang telah ditetapkan perusahaan serta
memberikan nasihat kepada Direksi.

Dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01
/MBU/2011 pasal 12, diatur mengenai fungsi Dewan Komisaris, antara lain:

1. Mengawasi kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada BUMN dan memberikan


nasihat kepada Direksi.

2. Menjalankan tugasnya dengan menjunjung tinggi kepentingan BUMN.

3. Membuat pembagian tugas yang diatur oleh mereka sendiri.


4. Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Dewan Komisaris yang merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari RKAP.

5. Memantau dan memastikan implementasi GCG dilakukan secara efektif dan


berkelanjutan.

6. Memastikan bahwa dalam Laporan Tahunan BUMN telah memuat informasi


mengenai identitas, pekerjaan-pekerjaan utamanya, jabatan Dewan Komisaris/Dewan
Pengawas di perusahaan lain, termasuk rapat-rapat yang dilakukan dalam satu tahun buku
(rapat internal maupun rapat gabungan dengan Direksi), serta honorarium, fasilitas,
dan/atau tunjangan lain yang diterima dari BUMN yang bersangkutan.

1.7.3 Dewan Direksi (Board Of Director/BOD)

Tugas dan fungsi utama Dewan Direksi menjalankan dan melaksanakan


pengurusan Perseroan. Jadi Perseroan diurus, dikelola dan di-manage oleh Direksi
(Harahap, 2009). Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan tugas pokok Dewan
Direksi adalah:

1. Bertanggungjawab penuh atas kepengurusan perusahaan.

2. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan maksud, tujuan perusahaan dan demi


kepentingan perusahaan.

Mewakili perusahaan baik didalam maupun diluar pengadilan sesuai dengan

ketentuan anggara dasar perusahaan.

II.1.8 Komite Penunjang Dewan Komisaris


Untuk membantu Komisaris dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan

anggaran dasar yang telah ditetapkan, maka Komisaris dapat meminta saran, nasihat,
pendapat pihak ketiga atau membentuk komite khusus. Komite tersebut antara lain:

1. Komite audit

Komite Audit dibentuk untuk membantu dewan komisaris dalam melaksanakan tugasnya.
Ketua Komite Audit bertanggungjawab penuh kepada Dewan Komisaris dalam bentuk
laporan berkala .Menurut KNKG (2006), komite audit membantu dewan komisaris untuk
memastikan:

a. Laporan keuangan perusahaan telah disajikan secara wajar dan transparan.

b. Dalam melaksanakan audit (eksternal maupun internal) telah dilaksanakan sesuai


standar audit yang berlaku.

c. Pengendalian perusahaan telah dilaksanakan dengan maksimal.

d. Memastikan bahwa perusahaan telah melaksanakan tata kelola perusahaan sesuai


dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.

e. Menindaklanjuti temuan audit yang dilakukan oleh manajemen.

2. Komite Nominasi

Komite Nominasi bertugas menyusun kriteria pemilihan dan penilaian


kinerja Komisaris dan Direksi (Effendi, 2009). Tanggung jawab Komite Nominasi
mencakup :
a. Pengkajian kompetensi calon Anggota Direksi dan Komisaris untuk posisi yang
dimaksud.

b. Pengkajian rencana suksesi.

c. Evaluasi kinerja Komisaris dan Direksi.

d. Pengusulan, menilai, dan memberikan rekomendasi atas calon-calon Direksi dan


komisaris BUMN.

3. Komite Remunerasi

Komite ini bertugas membantu Komisaris dalam menentukan jumlah kompensasi bagi
Direksi dan dalam mengevaluasi mekanisme dalam pelaksanaannya (Effendi, 2009).
Tanggung jawab Komite Remunerasi antara lain:

a. Menyusun kebijakan penggajian, insentif Direksi dan Komisaris.

b. Memastikan jumlah dan komposisi yang layak dan wajar dari remunerasi di
perusahaan.

4. Komite Manajemen Risiko Menurut Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Nomor :PER-01/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang
Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, dalam setiap
mengambil tindakan dan
keputusan, direksi harus mempertimbangkan risiko yang akan dihadapi. Atas halters
ebut Direksi wajib melaksanakan program manajemen risiko korporasi secara
terpadu yang merupakan bagian dari pelaksanaan program GCG. Pelaksanaan program
manajemen risiko dapat dilakukan dengan membentuk unit kerja tersendiri yang ada di
bawah Direksi atau memberi penugasan kepada unit kerja yang ada dan relevan untuk
menjalankan fungsi manajemen risiko.

Kewenangan dan tanggung jawab Komite Manajeman Risiko antara lain :

1. Memberikan saran, masukan dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pedoman


manajeman risiko dan menerapkannya.
2. Mensosialisasikan kebijakan, strategi, dan pedoman manajeman risiko
keseluruh stakeholders.

3. Melakukan evaluasi atas kebijakan, strategi dan pedoman manajemen risiko.

1.9 Sekretaris Perusahaan

Sekretaris Perusahaan merupakan elemen penting dalam perusahaan yang mendukung


keberhasilan implementasi GCG. hal tersebut disebabkan Sekretaris Perusahaan
merupakan pihak penting bagi perusahaan dalam berhadapan dengan pihak ketiga
(Effendi, 2009). Dalam hal ini, Sekretaris Perusahaan mempunyai kewajiban
untuk menyampaikan informasi secara terbuka yang berkaitan dengan perusahaan
kepada stakeholders. Sekretaris Perusahaan diangkat dengan kualifikasi profesionalisme
yang memadahi dan diberhentikan oleh Direktur Utama berdasarkan mekanisme internal
perusahaan dengan persetujuan Dewan Komisaris. Kinerja Sekretaris Perusahaan
diawasi dan dievaluasi oleh Dewan Direksi.

Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-01
/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good

Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, fungsi sekretaris perusahaan
adalah:

1. Memastikan BUMN dalam menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip- prinsip


GCG.

2. Memberikan informasi kepada Dewan Komisaris dan Dewan Direksi apabila


dibutuhkan.

3. Sebagai penghubung antara perusahaan dan pemangku kepentingan

4. Menatausahakan serta menyimpan dokumen perusahaan.

1.10 Sistem Pengendalian Internal (SPI)

Direksi wajib menyelenggarakan pengawasan intern yang salah satu caranya dilakukan
dengan membentuk Satuan Pengawas Internal (SPI) yang dipimpin oleh seorang kepala
yang diangkat dan diberhentikan oleh Direktur Utama berdasarkan mekanisme internal
perusahaan dengan persetujuan Dewan Komisaris. Fungsi pengawas internal antara lain:

a. Evaluasi atas efektifitas pelaksanaan pengendalian intern, manajemen risiko, dan


proses tata kelola perusahaan, sesuai dengan peraturan perundang- undangan dan
kebijakan perusahaan.

b. Pemeriksaan dan penilaian atas efisiensi dan efektifitas di bidang keuangan,


operasional, sumber daya manusia, teknologi informasi, dan kegiatan lainnya;

Sistem pengendalian internal (internal control) merupakan salah satu bentuk


implementasi pelaksanaan GCG (Effendi, 2009). Implementasi sistem pengendalian

dalam perusahaan dapat menghindari timbulnya fraud di lingkungan perusahaan.


Pengendalian intern yang efektif berguna untuk menjaga asset perusahaan dari tindakan
pencurian, penyalahgunaan, maupun KKN.

1.11 Pengukuran Terhadap Pelaksanaan GCG

Dalam Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01
/MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, mewajibkan BUMN melakukan
pengukuran terhadap penerapan GCG. Pengukuran tersebut dapat dilakukan dengan:

1. Penilaian (assessment)

Penilaian (assessment) adalah program untuk mengidentifikasikan implementasi GCG


pada BUMN melalui pengukuran pelaksanaan dan penerapan GCG di BUMN yang
dilaksanakan secara berkala setiap 2 (dua) tahun. Sebelum melakukan penilaian didahului
dengan mensosialisasikan GCG pada semua lapisan BUMN. Penilaian dilakukan oleh
penilai (assessor) independen yang ditunjuk oleh Dewan Komisaris melalui proses dan
ketentuaan yang berlaku. Penilaian juga dapat dilakukan dengan menggunakan jasa
Instansi Pemerintah yang berkompenten di bidang GCG, yang ditunjuk oleh Direksi
secara langsung. Pelaksanaan penilaian dilakukan dengan menggunakan indikator yang
ditetapkan oleh Sekretaris Kementerian BUMN.

Sebelum melaksanakan penelitian, penilai menandatangani perjanjian kerja dengan


Direksi BUMN yang terkait. Perjanjian tersebut mengatur tentang hak-hak dan kewajiban
masing-masing pihak, termasuk jangka waktu dan biaya pelaksanaan. Hasil penilaian
dilaporkan kepada RUPS/ Menteri bersamaan dengan penyampaian Laporan Tahunan.

2. Evaluasi (review)

Evaluasi (review) adalah program untuk menggambarkan tindak lanjut pelaksanaan


dan penerapan GCG di BUMN yang dilakukan pada tahun berikutnya setelah penilaian,
yang mencakup evaluasi terhadap hasil penilaian dan tindak lanjut atas perbaikan.
Pelaksanaan evaluasi dilakukan oleh BUMN itu sendiri (self assessment). Dalam
pelaksanaan evaluasi dapat dibantu oleh penilai independen atau Jasa Instansi Pemerintah
yang berkompeten, tetapi penilai independen atau Jasa Instansi Pemerintah tidak dapat
menjadi penilai pada tahun berikutnya. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan
indikator yang ditetapkan Sekretaris Kementerian BUMN. Hasil evaluasi dilaporkan
kepada RUPS/ Menteri bersamaan dengan penyampaian Laporan Tahunan.

1.12 Peraturan Nasional Yang Terkait Dengan Implementasi GCG di Indonesia

1.12.1 Undang-Undang No 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT)

Pemerintah mengesahkan peraturan yang mengatur mengenai Perseroan Terbatas yaitu


Undang-undang No. 40 Tahun 2007 untuk menggantikan UU Perseroan Terbatas No. 1
Tahun 1995. Tujuan pembaruan undang-undang tersebut adalah untuk mendukung
implementasi GCG. Prinsip GCG mengacu pada Undang-Undang No. 40

Tahun 2007. Dalam Undang-undang No 40 Tahun 2007 prinsip-prinsip GCG harus


mencerminkan pada hal-hal sebagai berikut :

1. Transparansi
Yaitu keterbukaan yang diwajibkan oleh undang-undang seperti dilakukan oleh
perusahaan menyangkut masalah keterbukaan informasi ataupun
dalamhal penerapan manajemen keterbukaan, informasi kepemilikan Perseroan yang
akurat, jelas dan tepat waktu baik kepada para pemangku kepentingan.

2.kuntabilitas

Adanya keterbukaan informasi dalam bidang finansial dalam hal ini ada dua
pengendalian yang dilakukan oleh Direksi dan Komisaris. Direksi menjalankan
operasional perusahaan, sedangkan Komisaris melakukan pengawasan terhadap jalannya
perusahaan oleh Direksi, termasuk pengawasan keuangan. Sehingga adanya jaminan
tersedianya mekanisme, peran dan tanggung jawab jajaran manajemen yang profesional
atas semua keputusan dan kebijakan yang diambil sehubungan dengan aktivitas
operasional Perseroan.

3.esponsibilitas

Pertanggung jawaban perseroan kepada stakeholders dengan tidak merugikan


kepentingan stakeholders. Yang ditekankan dalam undang-undang ini Perseroan haruslah
berpegang pada hukum yang berlaku.

4.Keadilan

Prinsip keadilan menjamin bahwa setiap keputusan dan kebijakan yang diambil
adalah demi kepentingan seluruh pihak yang berkepetingan. Selain itu prinsip keadilan
ini tercermin dalam Pasal 53 ayat 2 “ Setiap saham dalam klasifikasi yang sama
memberikan kepada pemegangnya hak yang sama.”

Pasal ini menunjukkan unsur fairness (non diskriminatif) antar Pemegang Saham dalam
klasifikasi yang sama untuk memperoleh hak-haknya, seperti hak untuk mengusulkan
dilaksanakannya RUPS, hak untuk mengusulkan agenda tertentu dalam RUPS dan lain-
lain.
II.1.12.2 Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-
01/MBU/2011.

Penerapan tata kelola perusahaan pada BUMN di Indonesia terus ditingkatkan


mengingat adanya pembaruan hukum di bidang perseroan terbatas dan BUMN, serta
memperhatikan perkembangan dunia usaha yang semakin dinamis dan kompetitif.
Peningkatan itu dapat dilihat dari adanya pembaruan Peraturan Menteri BUMN
mengenai tata kelola perusahaan, dimana dikeluarkannya Peraturan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor:PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) menggantikan Keputusan Menteri BUMN Nomor:KEP-117/M- MBU/2002
tentang penerapan praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). Dalam pembaruan peraturan menteri tersebut ada beberapa hal yang
mengalami perubahan materi secara keseluruhan maupun penyempurnaan materi,
Penambahan materi yang sebelumnya tidak tercantum dalam Kep-117/M-MBU/2002,
dan Penghapusan materi yang sebelumnya tercantum dalam Kep-117/M-MBU/2002.
(Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran II )

1.12.3 Pedoman Umum GCG di Indonesia oleh KNKG

Pedoman Umum GCG di Indonesia yang dikeluarkan oleh Komite Nasional


Kebijakan Governance (KNKG), merupakan acuan bagi semua perusahaan di Indonesia
dalam melaksanakan penerapan implementasi GCG dalam menjalankan pengelolaan
perusahaan. Pedoman KNKG tersebut adalah :

1. Penciptaan situasi kondusif untuk melaksanakan GCG

Dalam bagian ini memaparkan bahwa penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar
yang saling berhubungan, yaitu negara dan perangkatnya sebagai
regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan masyarakat sebagai pengguna
produk dan jasa dunia usaha.

2. Asaz GCG

Dalam bagian ini menegaskan bahwa setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas
GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas GCG
yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan
kesetaraan diperlukan untuk mencapai
kesinambungan usaha (sustainability) perusahaan dengan memperhatikan para
pemangku kepentingan (stakeholders).

3. Etika bisnis dan pedoman perilaku.

Dalam bagian ini menjelaskan bahwa pedoman perilaku yang dapat menjadi acuan bagi
organ perusahaan dan semua karyawan dalam menerapkan nilai- nilai (values) dan etika
bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan.

4. Organ perusahaan

Dalam bagian ini menjelaskan bahwa organ perusahaan harus menjalankan fungsinya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku atas dasar prinsip bahwa masing-masing organ
mempunyai independensi dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya
semata-mata untuk kepentingan perusahaan.

5. Pemegang Saham

Dalam bagian ini memaparkan tentang hak dan kewajiban pemegang saham
serta tanggung jawab perusahaan terhadap hak dan tanggung jawab pemegang
saham.

6. Pemangku kepentingan

Dalam bagian ini dijelaskan bahwa pemangku kepentingan (selain pemegang saham)
adalah mereka yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan dan mereka yang
terpengaruh secara langsung oleh keputusan strategis dan operasional perusahaan, yang
antara lain terdiri dari karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat terutama sekitar tempat
usaha perusahaan. Antara perusahaan dengan pemangku kepentingan harus terjalin
hubungan yang sesuai dengan asas kewajaran dan kesetaraan (fairness) berdasarkan
ketentuan yang berlaku bagi masing-masing pihak.

7. Pernyataan tentang pedoman penerapan GCG.

Setiap perusahaan harus membuat pernyataan tentang kesesuaian penerapan GCG


dengan pedoman GCG ini dalam Laporan Tahunannya. Pernyataan tersebut harus disertai
laporan tentang struktur dan mekanisme kerja organ perusahaan serta informasi penting
lain yang berkaitan dengan penerapan
GCG. Dengan demikian, Pemegang Saham dan pemangku kepentinganlainnya,
termasuk regulator, dapat menilai sejauh mana Pedoman GCG pada perusahaan tersebut
telah diterapkan.

8. Pedoman praktis penerapan GCG

Dalam bagian ini menyatakan bahwa perusahaan wajib membuat pedoman pelaksanaan
GCG

Penerapan Corporate Governance PT ANTAM (Persero) Tbk


Penerapan praktik terbaik Corporate Governance secara konsisten dan
berkesinambungan merupakan komitmen penuh dari ANTAM dalam pengelolaan
ANTAM dengan menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham maupun
kepentingan stakeholders lainnya. Dalam menerapkan Good Corporate Governance
(GCG), ANTAM tidak hanya sekedar memenuhi kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan saja, tetapi bersungguh-sungguh menerapkannya dalam segala
kegiatan operasional ANTAM yang dijalankan dengan senantiasa memperhatikan
prinsip-prinsip GCG yaitu Transparency, Accountability, Responsibility, Independency
dan Fairness.
Sebagai wujud penerapan GCG yang komprehensif, ANTAM berupaya untuk
dapat mengadopsi standar terbaik yang berlaku secara internasional seperti Australian
Securities Exchange (ASX) Corporate Governance Principles and Recommendations 3rd
Edition yang diterbitkan oleh ASX Corporate Governance Council,ASEAN Corporate
Governance Scorecard yang diterbitkan oleh ASEAN Capital Market Forum, standar
yang berlaku di Indonesia seperti Pedoman GCG yang diterbitkan oleh Komite Nasional
Kebijakan Governance (KNKG) tahun 2006, standar penerapan GCG untuk Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang dikeluarkan oleh Kantor Kementerian Negara BUMN, yaitu
Peraturan Menteri Negara BUMN No. Per-01/MBU/2011 dan SK-16/S MBU/2012 serta
Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan No. 32/SEOJK.04/2015 tentang Pedoman Tata
Kelola Perusahaan.
Sesuai dengan visi, misi, tujuan dan strategi, serta ruang lingkup kegiatan
operasional ANTAM yang terus berkembang dan kebijakan ekspansi usaha di bidang
eksplorasi dan pemrosesan hasil tambang serta produk derivatifnya, ANTAM selalu
berusaha untuk menerapkan GCG secara konsisten agar tujuan komitmen penerapan
GCG yang dibangun dapat tercapai. Adapun tujuan penerapan GCG di ANTAM adalah
sebagai berikut:
Meningkatkan kinerja ANTAM dengan proses pengambilan keputusan yang lebih baik
dan berhati-hati (prudent) dengan selalu memperhatikan kepatuhan terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku dan mengendalikan risiko yang timbul, serta
menghindari benturan kepentingan.
Meningkatkan profesionalisme dan pengembangan sumber daya manusia
ANTAM dengan melakukan penilaian kinerja yang lebih obyektif, transparan dan wajar,
serta membangun struktur organisasi yang efisien dengan fungsi, sistem dan
pertanggungjawaban yang jelas.
Mengoptimalkan potensi dan nilai tambah sumber daya alam secara ekonomis
dengan pengelolaan risiko yang lebih efektif.
Memastikan bahwa pengelolaan keuangan dilakukan secara prudent dan
terkendali, dan menyusun laporan keuangan ANTAM secara akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan dengan suatu sistem pengendalian internal yang handal dan
manajemen risiko yang sehat.
Meningkatkan kepercayaan investor, kreditur dan pemegang saham dengan selalu
melakukan pengkinian data/informasi yang materiil dan relevan secara transparan, akurat,
berkualitas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Memperhatikan kepentingan stakeholders ANTAM dengan memperjelas hak dan
kewajiban masing-masing pihak, serta melaksanakan hubungan usaha yang sehat dan
bertanggung jawab.
Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dan ikut berperan aktif melestarikan
lingkungan, khususnya di sekitar kegiatan operasi ANTAM.
Struktur tata kelola perusahaan secara garis besar tergambarkan pada organ utama
ANTAM yaitu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi.
Sebagaimana dimaksud dalam anggaran dasar ANTAM dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, masing-masing organ mempunyai peran penting dalam
penerapan GCG dan menjalankan fungsi, tugas, dan tanggung jawabnya masing-masing
untuk kepentingan ANTAM. RUPS merupakan wadah para pemegang saham yang
memiliki wewenang yang tidak dilimpahkan kepada Dewan Komisaris dan Direksi.
Direksi bertanggung jawab penuh atas pengelolaan ANTAM sesuai amanah yang
diberikan, sedangkan Dewan Komisaris melakukan pengawasan yang memadai terhadap
pengelolaan yang dilakukan oleh Direksi serta melakukan penasihatan agar kinerja
ANTAM lebih baik. Dewan Komisaris dan Direksi diangkat dan diberhentikan oleh
RUPS. Fungsi Direktur Independen pada sistem satu Dewan sebagaimana berlaku di
ASX terwakili oleh Dewan Komisaris dalam sistem dua Dewan. Dewan Komisaris dan
Direksi ANTAM memiliki kesamaan persepsi terhadap visi, misi, dan nilai-nilai
ANTAM yang menunjukkan keseimbangan hubungan kedua organ tersebut untuk
memelihara keberlanjutan usaha ANTAM dalam jangka panjang.
Dewan Komisaris, Komite-komite di tingkat Dewan Komisaris, Direksi, dan
manajemen senior terus meningkatkan kapabilitas di dalam proses pengawasan dan
pengelolaan perusahaan, sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Semua
pihak juga berupaya untuk memperkuat hubungan kerja satu sama lain. Singkatnya,
ANTAM menyadari pentingnya hubungan kerja yang harmonis serta kerjasama diantara
organ-organ tata kelola, manajemen dan staf untuk mempertahankan dan meningkatkan
praktik GCG di ANTAM secara berkelanjutan. Untuk mendukung fungsi pengawasan,
Dewan Komisaris telah membentuk tiga Komite Penunjang Dewan Komisaris yakni
Komite Audit, Komite Good Corporate Governance, Nominasi dan Remunerasi (GCG-
NR) dan Komite Manajemen Risiko.
Setiap Komite diketuai oleh anggota Dewan Komisaris, dan tugas serta tanggung
jawab masing-masing Komite tercantum dalam masing-masing piagam yang dimiliki.
Evaluasi kinerja Dewan Komisaris dilakukan melalui Komite GCG-NR dengan
metode self assessment dengan indikator sebagaiman tercantum dalam Charter Dewan
Komisaris.Hasil kinerja dilaporkan di dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Evaluasi kinerja Direksi dilakukan oleh Dewan Komisaris berdasarkan Key Performance
Indicators(KPIs) dan hasilnya dilaporkan di dalam RUPS. Evaluasi kinerja Komite
Penunjang Dewan Komisaris dilakukan menggunakan sistem self-assessment. Evaluasi
dilakukan menggunakan beberapa kriteria seperti kehadiran di rapat Komite. Sebagai
tambahan, Komite juga dievaluasi menggunakan aspek pengetahuan dan pemahaman
mengenai tugas dan tanggung jawab Komite. Di level manajemen, ANTAM mengadopsi
Sistem Manajemen berbasis Kinerja untuk mengevaluasi kinerja manajemen senior yang
didasarkan pada beberapa faktor kunci seperti manajemen biaya, inovasi dan proses
operasional. Kinerja masing-masing senior manajemen terhubung dengan kinerja Direksi
yang keseluruhannya berada dalam sistem Key Performance Indikator. Setiap tahun
Direksi bertemu dengan senior manajemen dari unit bisnis di dalam forum Rapat
Pimpinan untuk mengevaluasi dan memberi masukan terhadap kinerja masing-masing
unit bisnis.
Kebijakan Tata Kelola Perusahaan dilaksanakan oleh ANTAM dengan
memberlakukan Pedoman Kebijakan Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance
Policy), Standar Etika Perusahaan (Code of Conduct, COC), Pedoman Kerja (Charter)
Dewan Komisaris, Charter Direksi, Charter Komite Penunjang Dewan
Komisaris, Charter Internal Audit, Pedoman Kebijakan Manajemen Perusahaan
(Corporate Management Policy), Pedoman Kebijakan Manajemen Risiko, serta
kebijakan-kebijakan lainnya seperti Sistem dan Prosedur Operasional (Standard and
Operating Procedure) serta Instruksi Kerja (Work Instructions). Soft structure Good
Corporate Governance (GCG) ini dipublikasikan dalam portal internal dan situs
ANTAM, serta selalu dikaji secara berkala setiap tahun dan dilakukan revisi untuk
disesuaikan dengan situasi dan kondisi ANTAM yang berjalan, praktik terbaik GCG serta
penyesuaian terhadap peraturan perundangan yang berlaku.
Anggaran Dasar (AD) Perseroan telah beberapa kali mengalami Perubahan,
sebagaimana terakhir tercantum dalam Akta Pernyataan Keputusan Rapat Perubahan
Anggaran Dasar PT Aneka Tambang Tbk atau disingkat PT ANTAM Tbk Nomor 33
tanggal 11 Mei 2018 yang dibuat dihadapan Notaris Jose Dima Satria S.H., M.Kn.,
Notaris di Kota Administrasi Jakarta Selatan, yang pemberitahuan mengenai perubahan
anggaran dasar tersebut telah disampaikan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia Republik Indonesia sebagaimana telah diterima sesuai dengan Surat Nomor
AHU-AH.01.03-0212350 tanggal 05 Juni 2018. Anggaran Dasar Perseroan
dapat diunduh di sini.
Beberapa peningkatan untuk mengimplementasikan GCG ke seluruh enititas Perusahaan
dilakukan antara lain dengan melakukan restrukturisasi organisasi yang terencana dan
efisien serta secara berkala melakukan perekrutan dan pengembangan kualitas sumber
daya manusia sesuai dengan meningkatnya aktivitas perkembangan usaha ANTAM;
penyempurnaan Sistem Manajemen Kinerja dan Sistem Manajemen Unjuk Kerja untuk
mendukung sistem penilaian kinerja yang lebih obyektif dan wajar, mereview secara
berkala atas kesesuain Management Policy, Standard Operating Procedure (SOP)
dan Work Instruction (WI), khususnya untuk aktivitas baru ANTAM; melakukan
penyempurnaan atas sistem pengendalian internal; memberlakukan penerapan
manajemen risiko di seluruh lini kegiatan usaha ANTAM; dan melakukan sosialisasi dan
internalisasi penerapan GCG di ANTAM.
Guna mengetahui tingkat penerapan GCG di Perusahaan, ANTAM melakukan
penilaian penerapan GCG secara konsisten setiap tahunnya sejak tahun 2004. Penilaian
dilakukan oleh Pihak Independen dengan menggunakan parameter SK-16/MBU/2012
dari Kementerian BUMN, ASX Corporete Governance Principles &
Recommendations,ASEAN CG Scorecard serta Pedoman Tata Kelola Perusahaan
Terbuka dari Otoritas Jasa Keuangan. Selain itu ANTAM secara aktif ikut serta dalam
penilaian Corporate Governance Perception Index (CGPI) dari Indonesia Institute of
Corporate Governance (IICG) dan memperoleh predikat Most Trusted Company. Hasil
penilaian penerapan GCG di ANTAM ini juga dilaporkan dalam RUPS.
Dalam rangka menegakkan prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good
Corporate Governance) dan Standar Etika (Code of Conduct) di PT ANTAM (Persero)
Tbk (ANTAM), dengan ini diumumkan hal-hal sebagai berikut:
Dewan Komisaris, Direksi, seluruh jajaran pegawai ANTAM, dan entitas anak ANTAM
(Insan ANTAM) DILARANG untuk menerima hadiah atau gratifikasi dalam bentuk
apapun, baik secara langsung maupun tidak langsung dari seluruh stakeholders ANTAM,
termasuk tetapi tidak terbatas pada Hari Raya Idul Fitri.
Sekiranya ada pihak-pihak yang mengetahui adanya Insan ANTAM yang
meminta/menerima hadiah atau gratifikasi kepada/dari stakeholders dengan
mengatasnamakan pribadi maupun ANTAM, dimohon untuk melaporkan kepada kami
melalui email:whistleblowing@antam.com, dengan mencantumkan identitas yang jelas.
Sehubungan dengan maraknya penawaran produk (feronikel, emas, perak dan logam
mulia lainnya, & batubara), penawaran sponsorship kegiatan tertentu yang
mengatasnamakan ANTAM, Direksi ANTAM, maupun afiliasi ANTAM lainnya, serta
penipuan berkedok rekrutmen pegawai, kami menghimbau kepada masyarakat agar
berhati-hati terhadap berbagai upaya penipuan tersebut. ANTAM TIDAK
PERNAH memungut biaya apapun dalam setiap tahapan rekrutmen pegawai dan TIDAK
PERNAH BEKERJA SAMA dengan pihak manapun untuk pengurusan akomodasi dan
transportasi.
Pertanyaan, laporan serta informasi-informasi lain menyangkut ANTAM dapat ditujukan
ke:
Email : corsec@antam.com
Twitter : @OfficialAntam
Facebook : PT ANTAM (Persero) Tbk

Kendala penerapan Good Corporate GOvernance


Perusahaan-perusahaan di Indonesia belum mampu melaksanakan corporate
governance dengan sungguh-sungguh sehingga perusahaan mampu mewujudkan prinsip-
prinsip good corporate governance dengan baik. Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah
kendala yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan tersebut pada saat perusahaan
berupaya melaksanakan corporate governance demi terwujudnya prinsip-prinsip good
corporate governance dengan baik. Kendala ini dapat dibagi tiga, yaitu kendala internal,
kendala eksternal, dan kendala yang berasal dari struktur kepemilikan.

Kendala internal meliputi kurangnya komitmen dari pimpinan dan karyawan


perusahaan, rendahnya tingkat pemahaman dari pimpinan dan karyawan perusahaan
tentang prinsip-prinsip good corporate governance, kurangnya panutan atau teladan yang
diberikan oleh pimpinan, belum adanya budaya perusahaan yang mendukung
terwujudnya prinsip-prinsip good corporate governance, serta belum efektifnya sistem
pengendalian internal (Djatmiko, 2004).

Kendala eksternal dalam pelaksanaan corporate governance terkait dengan


perangkat hukum, aturan dan penegakan hokum (law-enforcement). Indonesia tidak
kekurangan produk hukum. Secara implicit ketentuan-ketentuan mengenai GCG telah ada
tersebar dalam UUPT, Undang-undang dan Peraturan Perbankan, Undang-undang Pasar
Modal dan lain-lain. Namun penegakannya oleh pemegang otoritas, seperti Bank
Indonesia, Bapepam, BPPN, Kementerian Keuangan, BUMN, bahkan pengadilan sangat
lemah. Oleh karena itu diperlukan test-case atau kasus preseden untuk membiasakan
proses, baik yang yudisial maupun quasi-yudisial dalam menyelesaikan praktik-praktik
pelanggaran hukum perusahaan atau GCG. Secara keseluruhan penegakan aturan untuk
penerapan CG belum ada sanksi yang memberikan efek jera bagi perusahaan yang tidak
menerapkannya, namun di sektor perbankan telah dicoba untuk dimasukkan beberapa hal
yang terkait dengan kewajiban Bank dalam menerapkan CG yang berujung pada sanksi
bagi bank-bank yang tidak mengikuti aturan tersebut.

Baik kendala internal maupun kendala eksternal sama-sama penting bagi


perusahaan, namun demikian, jika kendala internal bisa dipecahkan maka kendala
eksternal akan lebih mudah diatasi (Djatmiko, 2004). Kendala yang ketiga adalah kendala
yang berasal dari struktur kepemilikan. Berdasarkan persentasi kepemilikan dalam
saham, kepemilikan terhadap perusahaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
kepemilikan yang terkonsentrasi dan kepemilikan yang menyebar. Kepemilikan yang
terkonsentrasi terjadi pada saat suatu perusahaan dimiliki secara dominan oleh seseorang
atau sekelompok orang saja (40,00% atau lebih). Kepemilikan yang menyebar terjadi
pada saat suatu perusahaan dimiliki oleh pemegang saham yang banyak dengan jumlah
saham yang kecil-kecil (satu pemegang saham hanya memiliki saham sebesar 5% atau
kurang).
Salah satu dampak negative yang ditimbulkan oleh struktur kepemilikan adalah
perusahaan tidak dapat mewujudkan prinsip keadilan dengan baik karena pemegang
saham yang terkonsentrasi pada seseorang atau sekelompok orang dapat menggunakan
sumberdaya perusahaan secara dominan sehingga dapat mengurangi nilai perusahaan.
Sama seperti halnya kendala eksternal, dampak negatif yang ditimbulkan dari struktur
kepemilikan dapat diatasi jika perusahaan memiliki sistem pengendalian internal yang
efektif, seperti mempunyai sistem yang menjamin pendistribusian hak-
hak dan tanggung jawab secara adil di antara berbagai partisipan dalam organisasi
(Dewan Komisaris, Dewan Direksi, manajer, pemegang saham, serta pemangku
kepentingan lainnya), dan dampak negative ini juga akan hilang jika dalam stuktur
organisasinya, perusahaan mempunyai Komisaris Independen dengan jumlah tertentu dan
memenuhi kualifikasi yang ditentukan (syarat-syarat yang ditentukan untuk menjadi
Komisaris Independen).

Keberadaan Komisaris Independen ini diharapkan mampu mendorong dan


menciptakan iklim yang lebih independen, objektif, dan menempatkan keadilan sebagai
prinsip utama yang memperhatikan kepentingan pemegang saham minoritas dan
pemangku kepentingan lainnya. Peran Komisaris Independen ini diharapkan mampu
mendorong diterapkannya prinsip dan praktik corporate governance pada perusahaan-
perusahaan public di Indonesia, termasuk BUMN. Upaya perusahaan untuk
menghadirkan sistem pengendalian internal yang efektif tersebut terkait dengan upaya
perusahaan untuk mengatasi kendala internalnya. Dengan demikian, dapat dikatakan
bahwa dampak negatif dari struktur kepemilikan akan hilang jika perusahaan mampu
mengatasi permasalahan yang terkait dengan kendala internalnya (Aries, 2008).

Sumber:
https://www.kompasiana.com/ganibazar/550117dea333113072512d25/hambatan-dalam-
mewujudkan-good-governance
http://www.antam.com/index.php?option=com_content&task=view&id=14&Itemid=23&
lang=id
https://www.academia.edu/6804279/1_Good_Corporate_Governance
http://e-journal.uajy.ac.id/2405/2/1KOM03414.pdf