Anda di halaman 1dari 13

Pilih 5 dari 7 soal :

1. Adanya produk yang berkarkter tangible dan intangible products, saudara jelaskan sasaran tujuan
(goals) apa?

2. Saudara jelaskan dengan uraian tentang Customer based brand equity piramyd!

3. Jelaskan ada 4 sasaran dari brand yang merupakan bagian Judgement Dimensions!

4. Jelaskan uraian dari customer based brand equity model

5. Dalam product levels terdapat customer value hierarcy , jelaskan 5 bagiannya

6. Ada 4 bagian dari consumer goods classification, saudara jelaskan

7. Jelaskan strategi merk (Brand Strategy) dan strategi produk (Product Strategy)

1. Tangible dan intangible produk


Produk adalah sekumpulan atribut yang nyata dan tidak nyata yang didalamnya tercakup warna, harga,
kemasan, prestise pengecer, dan pelayanan dari pabrik serta pengecer yang mungkin diterima oleh
pembeli sebagai sesuatu yang bisa memuaskan keinginannya.

Produk dapat mencakup benda fisik, jasa, prestise, tempat, organisasi maupun ide. Strategi produk
menuntut koordinasi berbagai keputusan mengenai bauran produk, lini produk, merk, kemasan dan
label.

Ada dua karakter produk yang dapat dipilih, yaitu produk yang berwujud dan produk yang tidak
berwujud :

1) Produk Berwujud (Tangible)

Produk yang dapat diraba dikatakan sebagai produk berwujud atau tangible. Produk yang berwujud
berupa barang yang, nyata. Produk semacam ini jika sudah dibeli atau pada saat barang ditawarkan
maka pembeli dapat menyentuhnya. Misalnya buku, baju, makanan, peralatan dapur, mebeler,
peralatan kantor, dan sebagainya.

2) Produk Tidak Berwujud (Intangible)

Produk tidak berwujud adalah suatu produk usaha yang tidak dapat dilihat dan tidak bisa disentuh, pada
saat ditawarkan pada calon pelanggan. Produk tak berwujud biasanya berupa jasa. Contohnya jasa
laundry, jasa cuci mobil, jasa antar jemput sekolah, jasa bimbingan belajar, travel, jasa penerjemahan,
dan sebagainya.

Jasa mempunyai empat karakteristik utama yang sangat mempengaruhi rancangan program pemasaran
yaitu :

1. Tidak Berwujud (Intangibility). Jasa mempunyai sifat tidak berwujud karena tidak bias dilihat,
dirasa, di dengar, didengar, diraba, atau dicium sebelum ada transaksi pembelian .
2. Tidak Dapat Dipisahkan (Inspirability). Suatu bentuk jasa tidak dapat dipisahkan dari sumbernya,
apakah sumber itu merupakan orang atau mesin, apakah sumber itu hadir atau tidak, produk
fisik yang berwujud tetap ada.
3. Berubah – ubah (variability). Jasa sesungguhnya sangat mudah berubah – ubah karena jasa ini
sangat tergantung pada siapa yang menyajikan, kapan dan dimana disajikan .
4. Mudah Lenyap (Perishability). Daya tahan suatu jasa tidak akan menjadi masalah jika
permintaan selalu ada dan mantap karena penghasilan jasa di muka dengan mudah. Bila
permintaan atau turun, maka masalah yang sulit akan segera muncul.

Elemen Merk

Tangible & Visual

 Simbol & slogan

 Nama merek dagang

 Kapabilitas, fungsional, nama, proteksi hukum

 Kehadiran & Kinerja

 Nama unik, logo, desain grafik & fisik

 Nilai fungsional

Intangible

 Identitas,merek korporat,komunikasi,relasi pelanggan

 Positioning, komunikasi merek

 Nilai simbolis, layanan, tanda kepemilikan, shorth and notation

 Representasionalitas

 Relevansi, keunggulan, ikatan khusus ( bond )

 Kepribadian, relasi, budaya, refleksi, citra diri

 Nilai sosial & personal

Sebuah merek lebih dari sekadar produk, karena dapat memiliki dimensi yang membedakannya dari
produk lain yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang sama. Perbedaan-perbedaan ini dapat
bersifat tangible yang dapat dilihat dan dirasakan dengan kinerja produk dari suatu merek atau lebih
dirasakan simbolis, dan emosional. Serta bersifat intangible dengan melihat apa yang representasikan
oleh merek.

Tipe lain dari makna merek adalah citra merek. Citra merek bergantung pada sifat ekstrinsik produk atau
layanan, termasuk cara merek mencoba memenuhi kebutuhan psikologis atau sosial pelanggan. Ini
adalah cara orang memandang suatu merek secara abstrak. Dengan demikian, citra mengacu pada
aspek yang lebih intangible dari merek, dan konsumen dapat membentuk citra langsung dari
pengalaman mereka sendiri atau secara tidak langsung melalui iklan atau oleh beberapa sumber
informasi lainnya, seperti dari mulut ke mulut. Berbagai jenis hal intangible dapat dikaitkan dengan
sebuah merek, tetapi empat hal yang utama adalah:

1. Profil pengguna 2
2. Situasi pembelian dan penggunaan
3. Personality dan value
4. Nilai historis, nilai heritage, dan nilai experience

2. PIRAMIDA Customer Based Brand Equity (CBBE)


Menurut Keller (Keller,K.L.,2003, p70) Landasan dasar dari model CBBE ialah bahwa kekuatan dari
suatu brand terletak pada apa yang telah dipelajari oleh konsumen, rasakan, lihat dan dengar
mengenai brand tersebut selama ini. Kekuatan dari suatu brand ialah apa yang tersirat/tertinggal
pada pikiran konsumen.

Dalam teori Customer-Based Brand Equity (CBBE) Model terdapat 4 tahap dalam membangun
brand yaitu: 1).Membentuk brand identity pada custumer, untuk membentuk brand identity
dibutuhkan brand awareness secara mendalam pada custumer 2). Menciptakan Brand Meaning pada
custumer seperti kekuatan, keunggulan dan keunikan dalam kaitannya dengan brand 3). Membentuk
brand response yang positif 4) Membentuk brand relationship seperti loyalitas custumer terhadap
produk atau jasa.

Setiap langkah tersebut mewakili pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Who are you? (identitas brand)


2. What are you? (makna brand)
3. What about you? What do I think or feel about you? (respon terhadap brand)
4. What about you and me? What kind of association and how much of a connection would I
like to have with you? (hubungan dengan brand)

Untuk mencapai ke 4 tahap tersebut perlu membentuk 4 blok dalam piramid yang dapat membangun
ekuitas merek pada konsumen:

1. brand salience (aspek yang menciptakan kesadaran konsumen akan merek) Arti merek
berkaitan dengan kesadaran organisasi dan kepentingannya bagi audiens Anda. Hal ini,
diterjemahkan ke pentingnya pemasaran, periklanan, dan hubungan masyarakat dalam upaya
komunikasi yang sedang berlangsung.
2. Performance (kinerja merek) dan imagery (citra merek). Tingkat piramida ini adalah tentang
fitur dan representasi visual. Setiap orang yang pernah mencoba atau pengalaman dengan
merek Anda akan mengalami dan mengevaluasinya berdasarkan berbagai karakteristik.
Termasuk keandalan, daya tahan, efisiensi, gaya dan desain, nilai, kepribadian dan nilai,
pengalaman, dll.
3. Jugments (penilaian merek) dan Feelings (perasaan akan merek). Dalam level ini, pengguna
merek Anda membentuk penilaian dan perasaan penting tentang merek Anda berdasarkan
kinerja dan citra. Jika kinerja merek Anda di bawah rata-rata, penilaian dan perasaan pengguna
Anda akan mencerminkan itu, tidak pernah memungkinkan Anda untuk mencapai resonansi
merek dalam pikiran mereka.
4. Resonance (perasaan sinkron atau seirama atau cocok dengan merek). Tingkat Resonansi merek
melibatkan dua entitas, bukan hanya satu. Yaitu koneksi yang sangat kuat dengan merek, yang
menghasilkan kesetiaan yang kuat oleh pengguna merek dan kemampuan merek yang kuat
untuk membuat pelanggan menolak tindakan kompetitif yang dilakukan oleh merek lain, baik itu
berbasis harga, iklan atau pemasaran, dll

Jadi, model piramida ini mendeskripsikan cara untuk membuat hubungan loyalitas yang aktif dan intens
dari pelanggan terhadap brand.

3. Empat sasaran dari judgement dimension pada CBBE pyramid


Brand judgement adalah pendapat pribadi pelanggan tentang dan evaluasi merek, yang dibentuk
konsumen dengan mengumpulkan semua kinerja merek dan asosiasi citra yang berbeda. Pelanggan
dapat membuat penilaian pada suatu merek, namun ada empat jenis penilaian penting : tentang
kualitas, kredibilitas, pertimbangan, dan keunggulan.

a. Brand Quality
Brand Attitude umumnya bergantung pada atribut dan manfaat khusus dari merek. Konsumen
dapat bersikap terhadap suatu merek, dan yang paling penting sikap konsumen berhubungan
dengan kualitas yang dirasakan, value konsumen dan kepuasan. Ukuran kualitas yang
didapatkan brand akan melekat pada ekuitas merek. Contoh, hotel Hilton. Sikap konsumen
terhadap Hilton tergantung pada seberapa besar konsumen percaya bahwa merek tersebut
dicirikan oleh bebrapa hal yang penting bagi konsumen seperti jaringan hotel, lokasi,
kenyamanan kamar, desain, dan penampilan, kualitas layanan staf, fasilitas rekreasi, Layanan
Makanan, keamanan, harga, dll.
b. Brand Credibility
Kredibilitas merek menggambarkan sejauh mana pelanggan melihatnya sebagai merek yang
kredibel dalam tiga dimensi: persepsi keahlian, kepercayaan, dan daya tarik. Keahlian merek
dilihat dari kompetensi, inovatif, dan kepemimpinan pasar; Kepercayaan merek dilihat dari
keandalan dan menjaga nilai interest dalam pikiran pelanggan; dan Daya Tarik merek dapat
dikelola dari membuat image brand yang menyenangkan, menarik, dan layak untuk
dipergunakan. Contoh FedEx yang menekankan kecepatan, keterampilan, dan
ketergantungannya dalam pengiriman dan pengiriman pada Kampanye brand nya
c. Brand Consideration
Sebuah brand tidak cukup hanya pada nilai kredibilitas kualitas dan attitude di mata pelanggan.
Namun brand harus masuk dalam sebuah filter pertimbangan. Brand Consideration bergantung
pada bagaimana pelanggan yang relevan secara pribadi menemukan merek dan merupakan
filter penting dalam hal membangun ekuitas merek. Pertimbangan merek sangat tergantung
pada sejauh mana asosiasi kekuatan merek yang dapat dibuat sebagai bagian dari citra merek.
d. Brand Superiority
Keunggulan mengukur sejauh mana pelanggan memandang merek sebagai sesuatu yang unik
dan lebih baik daripada merek lain. Dimana pelanggan percaya suatu merek dapat menawarkan
keuntungan lebih dibanding merek lain. Keunggulan penting untuk membangun hubungan yang
intens dan aktif dengan pelanggan dan sangat bergantung pada nilai keunikan yang luas merek
yang akan membentuk citra merek.

Referensi : https://studfiles.net/preview/5330401/page:25/

4. Customer based brand equity Model


Brand equity adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Ekuitas merek dapat
tercermin dalam cara konsumen berpikir, merasa, dan bertindak dalam hubungannya dengan
merek, dan juga harga, pangsa pasar, dan profitabilitas yang diberikan merek bagi perusahaan.

Dasar model Customer Based Brand Equity (CBBE) adalah kekuatan dari keberadaan merek dalam
bagaimana konsumen belajar merasakan, melihat dan mendengar tentang merek sebagai hasil dari
pengalaman mereka.

CBBE dapat didefenisiskan sebagai respon konsumen mengenai pengetahuan Merk menjadi
pembeda untuk memasarkan merk tersebut. sebuah merk dapat dikatakan sebagai CBBE positif jika
reaksi konsumen lebih menyukai produk dengan merek yang jelas dari pada produk yang tidak jelas.
Disisi lain CBBE dikatakan negative apabila reaksi konsumen kurang suka terhadap aktifitas
pemasaran produk bermerk terkait dibanding dengan produk tanpa nama atau dengan nama fiktif.

3 Hal penting pada Customer Based Brand Equity :

1. Efek Pembeda.
Jika tidak ada perbedaan atau nilai keunikan suatu merk, maka pada intinya produk nama merek
merupakan suatu komoditas atau versi generik dari produk. Persaingan kemungkinan timbul
dalam hal harga, akibatnya perbedaan respons konsumen terhadap suatu merek tidak
terbentuk.
2. Pengetahuan mengenai merk
Pengetahuan merek terdiri dari semua pikiran, perasaan, citra, pengalaman, keyakinan, dan lain
lain yang berhubungan dengan merek. Secara khusus, merek harus menciptakan asosiasi merek
yang kuat, menyenangkan, dan unik dengan pelanggan, seperti yang dilakukan Volvo dalam
menciptakan pengetahuan merk pada pelanggan tentang keamanan berkendara, Hallmark
(tentang perhatian) dan Harley Davidson yang terikat dengan Petualangan.
3. Respon konsumen terhadap pemasaran
Respon yang berbeda oleh konsumen terhadap brand equity merupakan refleksi dari persepsi,
preference dan perilaku yang dihubungkan pada semua aspek pemasaran merek tersebut.
Contoh pada iklan Pepsi yang banyak yang menggunakan pendekatan perbandingan dengan
saingannya seperti, “orang coca cola ternyata malah minum Pepsi”. Atau Model campaign tes
rasa antara Pepsi dan Coca Cola, yang ternyata orang2 lebih pilih Pepsi. Hal tersebut
memunculkan stigma baru pada brand pepsi yang mempengaruhi persepsi rasa yang lebih baik
dari Coca Cola.

Referensi :

1. http://www.academia.edu/16493619/MENCIPTAKAN_EKUITAS_MEREK
2. http://www.academia.edu/30767809/EKUITAS_MEREK_BERDASARKAN_KONSUMEN

5. CUSTOMER VALUE HIERARCY PADA LEVEL PRODUK


Semua produk harus memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan. Karena semua pelanggan berbeda
dan mencari manfaat yang berbeda dari produk, bisnis idealnya menyesuaikan produk mereka untuk
memenuhi keinginan dan kebutuhan setiap pelanggan. Namun, untuk beberapa bisnis, hal ini tidak
dapat dicapai, sehingga mereka membutuhkan cara mengklasifikasikan produk dalam struktur yang
disesuaikan dengan segmen pelanggan, seperti yang didefinisikan oleh kebutuhan dan keinginan
mereka.

Philip Kotler, merancang model yang mengakui pelanggan memiliki lima tingkat kebutuhan, mulai dari
kebutuhan fungsional atau inti hingga kebutuhan emosional. Pelanggan akan memilih produk
berdasarkan nilai yang mereka rasakan. Kepuasan adalah sejauh mana penggunaan sebenarnya dari
suatu produk sesuai dengan nilai yang dirasakan pada saat pembelian. Pelanggan puas hanya jika nilai
aktualnya sama atau melebihi nilai yang dirasakan. Dalam merencanakan tawaran pasarnya, pemasar
perlu memikirkan secara mendalam lima tingkat produk. Masing-masing tingkat menambahkan lebih
banyak nilai pelanggan, dan kelimanya membentuk hierarki nilai pelanggan. 5 tingkatan tersebut yaitu :
i. Manfaat inti (core benefitLayanan atau manfaat mendasar yang sesungguhnya dibeli
pelanggan. Contoh seorang tamu hotel membeli ”istirahat dan tidur”. Pemasar harus
memandang dirinya sebagai penyedia manfaat.
ii. Produk dasar (Generic product) adalah mengubah manfaat inti tersebut menjadi produk
dasar (rancangan produk minimal agar dapat berfungsi). Dengan demikian melanjutkan
contoh core product hotel, produk dasarnya adalah kamar hotel meliputi tempat tidur,
kamar mandi, handuk, meja tulis, meja rias, dan lemari pakaian.
iii. Produk yang diharapkan (expected product) Beberapa atribut dan kondisi yang biasanya
diharapkan pembeli ketika mereka membeli produk ini. Tamu hotel mengharapakan tempat
tidur yang bersih, handuk yang bersih, lampu baca, dan kadar ketenangan tertentu.P
iv. Produk yang ditingkatkan (augmented product) Pemasar menyiapkan produk yang
melampaui harapan pelanggan. Di negara-negara yang sudah berkembang, persaingan dan
penentuan posisi merek berlangsung pada tingkat ini. Akan tetapi di negara-negara yang
sedang berkembang dan pasar yang sedang naik daun seperti Cina dan India, kebanyakan
persaingan berlangsung pada tingkat produk yang diharapkan. Beberapa hal yang harus
diperhatikan mengenai strategi peningkatan produk adalah;
iv.a) Setiap peningkatan menimbulkan biaya.
iv.b) Manfaat yang ditingkatkan akan segera menjadi manfaat yang diharapkan.
iv.c) Pada saat perusahaan menaikkan harga untuk produk yang telah mereka tingkatkan,
sebagian pesaing menawarkan jenis produk yang telah ”dipreteli” dengan harga yang jauh
lebih trendah.
v. Calon produk (potential product) Meliputi segala kemungkinan peningkatan dan perubahan
yang mungkin akan dialami produk atau tawaran tersebut pada masa mendatang.

Referensi : http://www.academia.edu/8466583/BAB_12_13_pemasaran_kotler

https://www.cgma.org/resources/tools/cost-transformation-model/kotlers-five-product-level-
model.html
CONTOH LAIN PADA PRODUK HANDPHONE

1. Pada tingkat dasar adalah manfaat inti (core benefit). Dalam produk handphone manfaat
dasarnya adalah pelanggan dapat menjalin komunikasi jarak jauh tanpa waktu yang lama
dan cara yang rumit.
2. Produk dasar (basic product). Produk dasar HP adalah meliputi layanan telepon tanpa
kabel dan dapat dibawa kemana-mana, sms yang lebih mudah dan cepet daripada
mengirim surat.
3. Produk yang diharapkan (expected product). Setelah berhasil memasarkan HP dengan
layanan telp dan sms, produsen HP menambahkan layanan kamera pada produknya
sesuai dengan harapan pembeli yang ingin mengabadikan momennya tnapa perlu
membawa HP dan kamera secara terpisah.
4. Produk tambahan (augmented product). Semakin lama, produk HP semakin canggih
dan bahkan pelayanannya melebihi dari harapan pembeli, yaitu dengan ditambahkannya
layanan internet.
5. Produk Potensial (potential product) dalam produk HP, produk yang potensial adalah
ditambahkannya layanan-layanan chatting dan video call, sensitif terhadap gerakan, touch
screen, dan sebagainya.
6. 4 CUSTOMER GOODS CLASSIFICATION

Keterangan : jawaban menggunakan skrinsut

Referensi : http://www.elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pemasaran/Bab_6.pdf
Berikut Penjelasan tambahannya dalam table (soal nomor 6)

Referensi : https://marketing-insider.eu/4-types-of-consumer-products/

7. STRATEGI MEREK DAN STRATEGI PRODUK


A. Strategi Merek

A.1. Strategi merk dari Para Ahli

1. Strategi Aaker
Dalam bukunya, Buillding strong brand (1996), Aaker mengatakan bahwa merek yang kuat
adalah yang memiliki posisi kuat. Pembentukan posisi yang kuat dimulai dengan menganalisis
situasi untuk mengetahui posisi merek-merek pesaing dan posisi merek saat ini (merek yang
sudah diluncurkan). Setelah itu perusahaan perlu merancang identitas merek, yaitu posisi merek
yang diinginkan, dan kemudian mengkomunikasikannya melalui proses brand positioning.
Hasilnya adalah posisi merek.
2. Davis
Davis juga sepakat dengan Aaker, malah dalam bukunya yang berjudul Brand Asset
Management (2001), Aaker memberi restu dan berbagai pujian kepada Davis. Tetapi langkah
Davis sedikit berbeda karena menurutnya sebelum melakukan analisis situasi, kita harus
mengetahi visi merek terlebih dulu, yakni sasaran yang diperoleh melalui pembuatan merek.
Setelah posisi merek tersebut, yang merupakan tahap akhir dari konsep Aaker tentang
pembentukan merek yang kuat, Davis merasa perlu melakukan evaluasi merek sebagai tahap
akhir.
3. Knapp
Knapp mengatakan bahwa merek bukan bukan sekedar nama besar (bila merek sudah terkenal),
merek adalah cara hidup; didalamnya terdapat keinginan, janji dan komitmen yang harus
dipenuhi perusahaan. Karena itu Knapp memberikan lima strtegi untuk membentuk merek yang
kuat, yaitu:
1. lakukan penilaian merek. Ini kira-kira sama dengan evaluasi posisi merek pada analisis situasi
Aaker. Merek perlu dipandang sebagai subjek, bukan hanya objek. Untuk itu perlu diketahui
faktor-faktor asosiasi yang melekat pada merek sebagai subjek.
2. Mengembangkan janji merek, yaitu harapan tentang bagaimana merek bekerja sebagai
konsumen. Atau nilai apa yang terdapat pada merek, sebagaimana pada tahap identifikasi merek
ala Aaker. Dengan sendirinya, kalau sudah berjanji, merek akan berusaha menepatinya.
3. Menciptakan blueprint merek. Ini sama dengan identitas merek (brand identity) dalam konsep
Aaker dan arsitektur merek (brand architecture) dalam konsep Davis.
4. Membudayakan merek, yang berarti perlu keterikatan emosional agar konsumen loyal
terhadap merek. Caranya dengan memberikan manfaat-manfaat yang menimbulkan sentuhan
emosional. Misalnya, dealer mobil memberikan hadiah ulang tahun atau bingkisan Hari Raya
kepada para pelanggannya.
5. Meningkatkan keuntungan merek. Merek yang kuat tidaklah berguna kalau perusahaan tidak
memperoleh keuntuntungan. Oleh karena itu, merek perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin.

A2. Berikut merupakan informasi mengenai lima strategi merk menurut Kotler (2000):
1. Lakukan perluasan lini. Perluasan lini dapat dilakukan para pelaku usaha dengan cara menambahkan
varian baru pada produk mereka. Hal ini sengaja dilakukan untuk memperluas target pasar yang mereka
bidik dan menguatkan merek tersebut di kalangan masyarakat luas. Salah satu produk yang telah
menggunakan strategi ini adalah produk sampo Sunsilk. Mereka sengaja mengeluarkan beragam varian
produk sampo sesuai dengan jenis rambut konsumennya, seperti sampo untuk rambut rontok, rambut
berketombe, rambut kering, rambut berminyak, dan lain sebagainya. Selain itu, merk laptop Fujitsu
meluncurkan koleksi Lifebook Series terbaru dengan varian lini produk antara lain S2110, C1320, dan
P1510. Tidak ketinggalan

2. Perluasan merek (Brand Extension). Strategi ini sering dilakukan beberapa perusahaan besar untuk
menguasai pasar. Mereka memanfaatkan merek yang sudah dikenal banyak orang, untuk mengeluarkan
produk baru guna menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Lihat saja merek lifebuoy yang dulunya
dikenal masyarakat sebagai merek sabun, sekarang mulai melebarkan sayapnya dengan meluncurkan
produk handwash (sabun cuci tangan), serta sampo untuk memperluas merek produknya di pasaran.

3. Gunakan strategi multi-merek. Selain menambahkan varian baru pada produk Anda, salah satu strategi
pemasaran lainnya yang bisa digunakan yaitu menggunakan tambahan merek untuk kategori produk yang
sama. Strategi ini dilakukan para pengusaha untuk menarik minat konsumen dari berbagai kalangan.
Contohnya saja seperti perusahaan Indofood yang sengaja meluncurkan merek Indomie, Supermi, serta
Sarimi untuk membidik target pasar yang berbeda. Sehingga tidak heran, jika sampai saat ini Indofood
berhasil menjadi market leader untuk kategori produk mie instan. Selain itu, PT. Unilever Indonesia tbk
memiliki 3 macam merk untuk kategori produk sabun mandi yaitu Lux, Lifebouy, Dove

4. Luncurkan merek baru. Jika sebuah perusahaan meluncurkan sebuah produk baru dalam kategori baru,
namun tidak memungkinkan untuk menggunakan merek yang sudah ada. Maka tidak ada salahnya jika
mereka menawarkan sebuah merek baru bagi produk yang akan mereka luncurkan. Cara ini telah
dilakukan oleh Unilever dalam mengembangkan kategori produknya, seperti mengeluarkan merek
Pepsodent untuk kategori produk pasta gigi, Blue Band untuk merek margarine, serta masih banyak lagi
merek lainnya untuk kategori yang berbeda. Selain itu, PT Coca-Cola Indonesia Tbk meluncurkan merk
Freshtea untuk produk baru minuman produk perusahaan yaitu the dalam kemasan botol dengan aroma
bunga melati.

5. Gunakan merek bersama. Yang dimaksud dengan merek bersama yaitu menggabungkan dua atau
lebih merek yang sudah terkenal dalam sebuah penawaran. Strategi ini telah dijalankan oleh Aqua-
Danone dalam memasarkan produknya.