Anda di halaman 1dari 10

REFLEKSI KASUS Desember, 2018

IMPETIGO VESIKOBULOSA

DisusunOleh:

Andika Nursari Putri

PEMBIMBING KLINIK
Dr. Diany Nurdin.,Sp.KK.,M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA PALU
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

STATUS PASIEN
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
RSUD UNDATA PALU
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. R
Umur : 5 tahun
Alamat : Jl. Ar. Saleh no 21
Pekerjaan : Belum bekerja
Agama : Islam
Tanggalpemeriksaan: 11 Desember 2018
Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Undata

II. HETEROANAMNESIS
Keluhan utama :
Rasa gatal pada luka di lipatan siku

Riwayat Penyakit Sekarang :


Seorang anak perempuan berumur 5 tahun datang kepoliklinik kesehatan
Kulit dan Kelamin RSUD Undata dengan keluhan gatal pada luka dibagian
lipatan sejak 1 minggu yang lalu. Keluhan tersebut juga disertai adanya nyeri
yang menyebabkan anak menjadi rewel. Awalnya muncul gelembung berisi
cairan di bagian lipatan siku kemudian anak tersebut menggaruk gelembung
tersebut karena terasa gatal sehingga pecah dan lukanya bertambah lebar. Pasien
mengaku juga sering mengelupas daerah pinggir luka sehingga tampak cairan dan
darah yg keluar. Menurut orangtua pasien, sebelumnya sepupu pasien datang
bermain ke rumah dan sepupunya tersebut memiliki keluhan kulit yang sama
seperti yang dialami oleh pasien.

Riwayat penyakit dahulu :


Pasien tidak pernah mengalami hal yang sama sebelumnya. Hipertensi (-),
diabetes mellitus (-), riwayat alergi makanan (-), riwayat alergi obat-obatan (-).

Riwayat penyakit keluarga :


Sepupu pasien mengalami hal serupa dengan pasien.
III. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Generalisata
Keadaan umum : sakit ringan
Kesadaran : composmentis
Status gizi : baik

b. Vital Sign
Tekanan darah : tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi : 82 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : 36,40C

c. Status Dermatologis
Lokalisasi:
1. Kepala : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
2. Leher : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
3. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
4. Punggung : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
5. Perut : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
6. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
7. Bokong : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
8. Ekstremitas atas : pada bagian lengan tangan kiri tampak lesi
koloret yang dasarnya eritematosa disertai krusta, ekskoriasi dan skuama
dengan berukuran numular, tersusun secara annular, yang sirkumpskrip.
9. Ekstremitas bawah : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
10. Dorsal pedis : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
IV. GAMBAR

Gambar 1. Tampak lesi koloret dan dasarnya eritematosa, ekskoriasi dan


skuama berukuran numular, tersusun secara annular, yang sirkumpskrip

V. RESUME
Seorang anak perempuan berumur 5 tahun datang ke poliklinik kesehatan
Kulit dan Kelamin RSUD Undata dengan keluhan pruritus pada luka dibagian
lipatan siku sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya muncul gelembung berisi cairan
kemudian anak tersebut menggaruk gelembung tersebut karena terasa gatal
sehingga pecah dan lukanya bertambah lebar. Pasien mengaku juga sering
mengelupas daerah pinggir luka sehingga tampak cairan dan darah yang keluar.
Orangtua pasien mengatakan sepupunya juga mengalami keluhan kulit yang
sama.
Pemeriksaan fisik didapatkan ujud kelainan kulit pada bagian lipatan siku
lengan kiri tampak lesi koloret dan dasarnya eritematosa disertai krusta,
ekskoriasi dan skuama dengan berukuran numular, tersusun secara annular, yang
sirkumpskrip.

VI. DIAGNOSA KERJA


Impetigo Vesicobulosa
VII. DIAGNOSA BANDING
 Impetigo krustosa
 Dermatofitosis
 Ektima

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN


Pemeriksaan Kultur Bakteri

IX. PENATALAKSANAAN
a. Non Medikamentosa
 Menjaga kebersihan luka
 Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi 2x sehari
 Tidak mengelupas daerah yang luka
 Tidak menggaruk daerah yang luka

b. Medikamentosa
a. Pengobatan sistemik :
Cefadroxil syr 125mg/5ml (2x2)
Cetirizine syr 5mg/5ml (1x1)
b. Pengobatan topikal :
Fuson cream 2%

X. PROGNOSIS
a. Qua ad vitam : ad bonam
b. Qua ad fungtionam : ad bonam
c. Qua ad sanationam : ad bonam
d. Qua ad cosmetikam : ad bonam
PEMBAHASAN

Seorang anak perempuan berumur 5 tahun datang ke poliklinik kesehatan


Kulit dan Kelamin RSUD Undata dengan keluhan pruritus pada luka dibagian
lipatan siku sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya muncul gelembung berisi cairan
kemudian anak tersebut menggaruk gelembung tersebut karena terasa gatal
sehingga pecah dan lukanya bertambah lebar. Pasien mengaku juga sering
mengelupas daerah pinggir luka sehingga tampak cairan dan darah yang keluar.
Orangtua pasien mengatakan sepupunya juga mengalami keluhan kulit yang
sama.
Pemeriksaan fisik didapatkan ujud kelainan kulit pada bagian lipatan siku
lengan kiri tampak lesi koloret dan dasarnya eritematosa disertai krusta, ekskoriasi
dan skuama dengan berukuran numular, tersusun secara annular, yang
sirkumpskrip.
Impetigo adalah infeksi epidermis superfisial yang sangat menular yang
paling sering menyerang anak-anak berusia dua sampai lima tahun, meskipun hal
itu dapat terjadi pada semua kelompok usia. Di antara anak-anak, impetigo adalah
infeksi kulit bakteri yang paling umum dan penyakit kulit yang paling umum ketiga
secara keseluruhan, di balik dermatitis dan virus kutil. Impetigo lebih sering terjadi
pada anak-anak yang mendapat dialisis. Infeksi biasanya sembuh tanpa bekas luka,
bahkan tanpa perawatan. Staphylococcus aureus adalah organism penyebab yang
paling penting. Streptococcus pyogenes (yaitu streptokokus beta-hemolitik grup A)
menyebabkan lebih sedikit kasus, baik sendiri atau dikombinasikan dengan S.
Aureus. Ada dua jenis impetigo: nonbullous (yaitu, impetigo contagiosa) dan
bulosa. Impetigo nonbullous merupakan respons host terhadap infeksi, sedangkan
toksin stafilokokus menyebabkan impetigo bulosa dan tidak ada respon host yang
diperlukan untuk mewujudkan penyakit klinis. Diagnosis biasanya dibuat secara
klinis dan dapat dikonfirmasi dengan pewarnaan dan kultur Gram, walaupun hal ini
biasanya tidak diperlukan. . Kultur mungkin berguna untuk mengidentifikasi pasien
dengan strain nefritogenik S. Pyogenes selama wabah glomerulonefritis
poststreptococcal atau orang-orang yang resisten terhadap methicillin S. Aureus
dicurigai.2
Insiden impetigo ini terjadihampir di seluruh dunia. Paling sering mengenai
usia 2-5 tahun, umumnya mengenai anak yang belum sekolah, namun tidak
menutup kemungkinan untuk semua umur dimana frekuensi laki-laki dan wanita
sama.5 Di Inggris kejadian impetigo pada anak sampai usia 4 tahun sebanyak 2,8%
pertahun dan 1,6% pada anak usia 5-15 tahun. Impetigo nonbullous atau impetigo
2,3
krustosa meliputi kira-kira 70 persen dari semua kasus impetigo. Di Belanda,
insidensi impetigo meningkatdari 16,5 (1987) menjadi 20,6 (2001) per 1000
penduduk. Kebanyakan kasus ditemukan di daerah tropis atau beriklim panas serta
pada negara-negara yang berkembang dengan tingkat ekonomi masyarakatnya
masih tergolong lemah atau miskin.5

Patogenesis dari Impetigo bullosa yaitu dimana S. aureus menghasilkan


racun eksfoliatif, yang merupakan protease yang secara selektif menghidrolisis
salah satu molekul adhesi intraselular, desmoglein-1, hadir dalam desmosom
keratinosit yang terletak di lapisan granular epidermis. Racun merupakan factor
virulensi terbesar S. aureus, menyebabkan disosiasi sel epidermis dengan formasi
blister. Lepuhan dilokalisasi dalam impetigo bulosa dan disebarkan pada sindrom
kulit yang terkena. Setidaknya ada dua jenis racun eksfoliatif, sehingg atoksineks
foliatif A berhubungan dengan impetigo bulosa dan toksin B dengan sindrom kulit
yang tersiram. Sindrom kulit terbakar biasanya dimulai setelah infeksi local pada
daerah konjungtiva, hidung, pusar atau perioral dan lebih jarang terjadi setelah
pneumonia, endokarditis dan artritis. Strain S. Aureus yang memproduksi racun
eksfoliatif sering diisolasi dari pasien dengan impetigo.3
Impetigo vesikobulosa disebabkan oleh toksin epidermolitik yang
dihasilkan pada titik infeksi, dimana peling sering oleh Staphylococcus fagagrup II
(Staphylococcus aureus).Toksin menyebabkan pembelahan intraepidermal
dibawah atau didaerah stratum granulosum.5

Impetigo vesikobulosa menyebar melalui kontak langsung dengan lesi


(daerah kulit yang terinfeksi).Pasien dapat lebih jauh menginfeksi dirinya sendiri
atau orang lain setelah menggaruk lesi. Infeksi seringkali menyebar dengan cepat
pada tempat dengan higiene yang buruk atau tempat tinggal yang padat penduduk.
Faktor predisposisi antara lain kontak langsung dengan pasien impetigo, kontak
tidak langsung melalui handuk, selimut, atau pakaian pasien impetigo, cuaca panas
maupun kondisi lingkungan yang lembab, kegiatan/olahraga dengan kontak
langsung antar kulit, pasien dengan dermatitis.1,2

Manifestasi klinis Impetigo dimana terdapat lesi yang tidak rata dimulai
dengan vesikel yang lebih kecil, yang menjadi lecet lembek, berdiameter hingga 2
cm, awalnya dengan kandungan bening yang kemudian menjadi purulen. Atap
blister pecah dengan mudah, menunjukkan erythematous, mengkilap dan dasar
basah. Sisa atap dapat dilihat sebagai kerah pada pinggiran dan pertemuan lesi
meningkatkan penampilan polycyclic. Kadang-kadang waktu penderita datang
berobat, vesikel/ bula telah memecah sehingga yang tampak hanya koleret dan
dasarnya masih eritematosa. Impetigo bulosa terjadi paling sering di daerah
intertriginous seperti diaper area, axillae dan neck, meskipun daerah kutaneous
apapun dapat terpengaruh, termasuk telapak tangan dan telapak kaki. Kelenjar
getah bening pembesaran biasanya tidak ada. Hal ini sangat penting pada masa
neonatal, dimulai biasanya setelah minggu kedua kehidupan, meskipun dapat
terjadi saat kelahiran dalam kasus pecahnya premature membran. Impetigo bulosa
paling sering terjadi pada anak berusia dua sampai lima tahun. 1,3
Penatalaksanaan Impetigo Bulosa berupa terapi medikamentosa dan non-
medikamentosa. Tujuan pengobatan termasuk mengurangi ketidaknyamanan dan
memperbaiki tampilan kosmetik dari lesi, mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut
di dalam pasien dan orang lain, dan mencegah kekambuhan. Jika terdapat hanya
beberapa vesikel/ bula, dipecahkan lalu diberi salep antibiotik atau cairan
antiseptik. Kalau banyak diberi pula antibiotik sistemik. Faktor predeposisi dicari,
jika banyak keringat, ventilasi di perbaiki.1,4
Perawatan idealnya harus efektif, murah, dan memiliki efek samping yang
terbatas. Antibiotik topical memiliki keuntungan hanya diterapkan bila diperlukan,
yang meminimalkan efek samping sistemik. Namun, beberapa antibiotic topical
dapat menyebabkan sensitisasi kulit pada orang yang rentan. Pada pasien dengan
impetigo, lesi harus tetap bersih, dicuci dengan sabun dan air hangat dan sekresi
dan remah harus dilepas. Sabun biasa atau yang mengandung zat antiseptic
semacam itu seperti triclosan, chlorhexidinedanpovidone iodine, mungkin
digunakan.3
DAFTAR PUSTAKA

1. Sandra, W., (2011). Pioderma. Dalam: Djuana, A., (ed). Ilmu Penyakit Kulit
dan Kelamin. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal: 71-73
2. Cole C M.D., Gazewood J., Diagnosis and Treatment of Impetigo.
www.aafp.org/afp. Volume 75, Number 6. 2010
3. Pereira.B.L .,Impetigo – review.An Bras Dermatol. 2014;89(2):293-9 .
https://www.ncbi.nlm.nih.gov
4. Klaus W, Johnson RA, Saavedra A. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis
of Clinical Dermatology 6th Edition. New York: Mc Graw Hill; 2009. Hal:
597
5. Koning, R.S.A. Mohammedamin, J.C. van der Wouden, L.W.A. van
Suijlekom-Smit, F.G. Schellevis, S. Thomas Impetigo: incidence and
treatment in Dutch general practice: results from two national surveys.
British Journal of Dermatology: 2010, p. 239-243