Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tinea unguium atau dermatophyte onychomycosis merupakan infeksi

jamur pada kuku jari tangan dan kaki yang disebabkan oleh jenis jamur

dermatofit. Jamur dermatofit dibagi menjadi tiga genus yaitu Trichophyton,

Epidermophyton dan Microsporum. Golongan ini mampu mencerna keratin

dan dapat menyebabkan infeksi yang mengenai kulit, rambut dan juga

kuku. Infeksi dari tinea unguium ini terjadi melalui tiga tempat yang akan

menentukan subtipe dari tinea unguium ini, yaitu melalui bagian distal atau

lateral kuku, lalu bagian lipatan proksimal kuku dan pada bagian permukaan

dari kuku. (Tjekyan. 2015:21; Tosti. 2015:1)

Gejala-gejala klinis yang dialami oleh pasien dengan infeksi tinea

unguium pada awalnya adalah mereka akan merasa adanya perubahan pada

penampilan dari kuku mereka, tetapi tidak terdapat gejala apapun. Seiring

dengan berkembangnnya penyakit pasien mulai merasa terganggu saat

berdiri, berjalan dan juga berolah raga. Parestesi, nyeri, dan menyebabkan

perasaan tidak nyaman, merasa kehilangan keterampilan, kehilangan

kepercayaan diri dan akhirnya dapat menghambat interaksi social dari

pasien. (Tosti. 2016:1)

Gambaran klinis dari infeksi tinea unguium ini sendiri tergantung

pada subtipe dari tinea unguium yang menginfeksi. Distal/lateral subungual

onychomycosis/DLSO, White superficial onychomycosis/WSO dan

1
2

Proximal subungual onychomycosis/PSO merupakan 3 subtipe dari infeksi

tinea unguium. Pasien dengan infeksi dari tinea unguium ini mungkin

memiliki beberapa gambaran dari subtipe tinea unguium ini, seperti

penebalan kuku, tampilan kuku buram, dan adanya perubahan warna dari

kuku. (Tosti. 2015:1)

Tinea unguium juga merupakan penyakit infeksi kuku yang paling

sering terjadi, dan menjadi penyebab sekitar 50% dari keseluruhan

konsultasi terhadap gangguan kuku. Secara keseluruhan kasus infeksi dari

onychomycosis terjadi pada 14% dari populasi secara keseluruhan dan juga

merupakan penyakit yang melibatkan usia serta jenis kelamin dalam faktor

predisposisinya dan 90% dari kasus tersebut di sebabkan oleh infeksi dari

tinea unguium atau dermatophyte onychomycosis. Prevalensi kasus infeksi

dari onychomycosis di Asia Tenggara diketahui sangat rendah jika

dibandingkan dengan negara-negara barat, persentase kasus di negara tropis

sekitar 3,8 %, sedangkan di negara subtropis maupun negara dengan iklim

yang ekstrim yakni 18 %. (Schieke, 2012:2292; Setianingsih. 2015:156;

Westerberg. 2013:762)

Penderita paling banyak ditemukan pada orang-orang yang sudah

berusia lanjut; di mana prevalensinya sekitar 20% pada mereka yang berusia

lebih dari 60 tahun dan 50% pada mereka yang berusia lebih dari 70 tahun

dan dapat semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia.


3

Peningkatan prevalensi pada orang yang berusia lanjut berhubungan

dengan penyakit-penyakit yang diderita, seperti gangguan sirkulasi darah

perifer, gangguan imunologi, dan diabetes mellitus. Orang dengan diabetes

melitus memiliki risiko infeksi onychomycosis 1,9-2,8 kali lebih tinggi

dibandingkan dengan orang biasa dan pada orang dengan HIV,

prevalensinya berkisar dari 15-40%. (Schieke. 2012:2292; Piraccini.

2015:30-31; Setianingsih. 2015:156; Westerberg. 2013:762)

Tinea unguium lebih sering menginfeksi kuku kaki daripada kuku

tangan, hal ini diakibatkan karena pertumbuhannya yang lebih lambat,

pasokan darah yang lebih sedikit dan juga lebih sering terbungkus dalam

lingkungan yang lembab. Ini dapat juga terjadi pada pasien yang memiliki

kelainan kuku, riwayat trauma kuku, faktor genetik, hiperhidrosis, infeksi

jamur lain sebelumnya, dan juga psoriasis. Penegakan Diagnosa pada

penyakit ini adalah dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan mikroskopik langsung menggunakan larutan kalium hidroksida

(KOH) 40%, dan biakan jamur, serta sarana tes terbaru yaitu, Dermatophyte

Test Strip. (Tjekyan. 2015:21; Westerberg. 2013:762)

Terapi untuk infeksi tinea unguium ini dapat dilakukan dengan

farmakoterapi maupun nofarmakoterapi. Pengobatan farmakoterapi

dilakukan dengan memberikan terapi oral dan juga terapi sistemik.

Sedangkan terapi nonfarmakologi yang di lakukan pada infeksi tinea

unguium ini adalah dengan melakukan pengerukan kuku, pengangkatan

kuku, serta dengan melakukan penyinaran dengan menggunakan laser.

Prognosis dari pengobatan ini biasanya baik jika pengobatan dilakukan


4

secara teratur. Dan prognosis dari infeksi pada kuku tangan jauh lebih baik

daripada infeksi pada kuku kaki. (Tosti. 2015:14)

Tinea unguium sendiri tidak menyebabkan mortalitas, namun dapat

menimbulkan gangguan klinis yang signifikan secara alami, mengurangi

estetika, bersifat kronis, dan sulit diobati. Hal tersebut kemudian dapat

mengganggu kenyamanan dan menurunkan kualitas hidup penderita.

(Setianingsih. 2015:156)

Inilah yang membuat penulis merasa perlu membahas tentang infeksi

dari tinea unguium dalam karya tulis ilmiah ini agar penulis dapat lebih

mengenal penyakit ini lebih dalam sehingga dapat melakukan manajemen

yang tepat terhadap penderita. Selain itu karya Tulis ini juga dibuat sebagai

salah satu syarat bagi penulis untuk memenuhi tugas akhir sebagai

mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Umum Fakultas Kedokteran

Universitas Cenderawasih untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari Tinea unguium?

2. Bagaimana epidemiologi dari Tinea unguium?

3. Bagaimana etiopatogenesis dari Tinea unguium?

4. Bagaimana gambaran klinis dari Tinea unguium?

5. Bagaimana cara mendiagnosa Tinea Unguium?

6. Apa saja diagnosa banding dari Tinea unguium?

7. Bagaimana terapi dari kasus Tinea unguium?

8. Apa saja komplikasi dari Tinea unguium?


5

9. Bagaimana prognosis dari Tinea unguium?

10. Bagaimana edukasi pada pasien Tinea unguium?

1.3. Tujuan

1.3.1. Tujuan Umum

Untuk memenuhi tugas akhir sebagai syarat kelulusan Sarjana

Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih.

1.3.2. Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui definisi dari Tinea unguium.

2. Untuk mengetahui etiopatogenesis dari Tinea unguium.

3. Untuk mengetahui epidemiologi dari Tinea unguium.

4. Untuk mengetahui gambaran klinis dari Tinea unguium.

5. Untuk mengetahui cara mendiagnosa Tinea Unguium.

6. Untuk mengetahui apa saja diagnosa banding dari Tinea unguium.

7. Untuk mengetahui apa saja terapi pada kasus Tinea unguium.

8. Untuk mengetahui apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada

infeksi Tinea unguium.

9. Untuk mengetahui prognosis dari Tinea unguium.

10. Untuk mengetahui apa saja edukasi yang dapat diberikan pada

pasien Tinea unguium.


6

1.4. Manfaat Penulisan

1. Secara Teoritis

Untuk menambah perbendaharaan kasus dan penyakit bagi

penulis dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi masa

pendidikan profesi kedokteran.Untuk Institusi

2. Secara Praktis

Untuk menambah bahan referensi tentang Tinea unguium bagi

mahasiswa kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih.