Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Untuk mengurangi risiko informasi antara pembuat laporan (manajemen)


dengan pengguna laporan (user). Semakin kompleksnya kondisi masyarakat
memungkinkan pengambil keputusan memperoleh informasi yang tidak dapat
dipercaya dan tidak dapat diandalkan. Untuk itu maka dibutuhkan audit dalam
sebuah organisasi. Informasi dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajer
tidak akan dapat digunakan oleh para pengguna jika informasi dalam laporan
keuangan tersebut belum di audit, sehingga audit itu mempunyai peranan penting
bagi para pengguna untuk pengambilan keputusan.

Abel Contruction Company yang terlibat dalam kontrak kontruksi jangka


panjang, mengakui laba dengan menggunakan metode persentase penyelesaian.
Untuk membiayai operasinya, able meminjam dana dari Bank dan setuju menaati
akad pinjaman restriktif yang tergantung pada laba yang dilaporkan dari kontrak
jangka panjang itu. Metode persentase penyelesaian mewajibkan, salah satunya
suatu perjanjian dengan persyaratan yang baik dan dapat diberlakukan. Metode
estimasi biaya yang dapat diandalkan untuk menyelesaikan kontrak, dan
pengakuan kerugian pada saat kerugian itu terjadi. Sebagai bahan dari audit Able,
auditor membaca kontrak atas semua proyek yang berlangsung, menguji biaya
yang dikeluarkan hingga tanggal tersebut, dan menilai profitabilitas akhir dari
kontrak, termasuk membahasnya dengan manajemen. Bagian yang signifikan dari
memverifikasi laba menurut metode persantase penyelesaian adalah mengaudit
biaya yang dikeluarkan.

Siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali, berfokus pada akuisisi sumber
daya modal melalui utang berbunga dan ekuitas pemilik dan pembayaran kembali
modal tersebut. Siklus ini juga mencakup pembayaran utang dan dividen. Akun-
akun dalam siklus perolehan dan pelunasan kembali modal pada perusahaan

1
2

tertentu tergantung pada jenis aktivitas bisnis perusahaan itu dan bagaimana
pendanaannya. Seluruh perusahaan memiliki modal saham dan saldo laba, tetapi
ada juga yang memiliki saham preferen, tambahan modal, dan saham tresuri.

1.2 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Menjelaskan karakteristik siklus perolehan dan pembayaran kembali
modal,
2. Menjelaskan Audit Terhadap Utang Usaha
3. Menjelaskan Audit Terhadap Wesel Bayar
4. Menjelaskan Audit Terhadap Ekuitas

1.3 Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah memberikan pengetahuan
mengenai siklus perolehan dan pembayaran kembali modal agar dapat
memahami apa saja akun-akun yang terkait pada siklus perolehan dan
pembayaran kembali modal guna mengenal informasi audit mengenai judul
makalah ini.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Auditing
2.1.1 Pengertian Auditing
Auditing adalah salah satu jasa yang diberikan oleh akuntan publik yang
sangat diperlukan untuk memeriksa kewajaran laporan keuangan auditan,
sehingga laporan keuangan yang dihasilkan oleh pihak perusahaan yang di audit
dapat dipercaya oleh para pemakai laporan keuangan. Oleh karena itu, penulis
mengemukakan beberapa definisi auditing menurut para ahli. Menurut Arens et.
al. (2003:15) auditing yaitu “Pengumpulan serta pengevaluasian bukti-bukti atas
informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi
tersebut dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing harus
dilaksanakan oleh seseorang yang kompeten dan independen”. Sedangkan
menurut Mulyadi (2002:9) menyebutkan pengertian auditing secara umum, yaitu
sebagai berikut.
Suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara
objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian
ekonomi, dengan tujuan untuk menetapakan tingkat kesesuaian antara
pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta
penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Sedangkan pengertian auditing berdasarkan sudut pandang profesi akuntan


publik adalah “Pemeriksaan (examination) secara objektif atas laporan keuangan
suatu perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah
laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang
material, posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut”
(Mulyadi, 2002:11).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa auditing adalah suatu
proses sistematik untuk mengumpulkan dan mengevaluasi bukti-bukti secara
objekif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kejadian ekonomi tujuan untuk
menetapakan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan

3
4

kriteria yang telah ditetapkan, serta melaporkan hasilnya kepada pemakai yang
berkepentingan

2.1.1.2 Jenis-jenis Auditing


Boynton et. al., (2001:5) mengemukakan mengenai tiga jenis audit, yaitu
“Audits are generally classified in to three categories: Financial Statement,
Complience or Operational”.
Berikut ini adalah penjelasan mengenai ketiga jenis audit tersebut.
1. Audit Operasional (Operational Audits)
Merupakan penelaahan terhadap pelaksanaan prosedur dan
metode-metode suatu organisasi dengan tujuan untuk mengevaluasi
efektivitas dan atau efisiensi organisasi.
2. Audit Kepatuhan (Complience Audits)
Merupakan audit yang bertujuan untuk menentukan apakah auditee
telah mentaati prosedur, kebijakan atau peraturan tertentu yang
ditetapkan oleh pihak yang berwenang, yang mencakup
penghimpunan dan pengevaluasian bukti-bukti untuk menentukan
dan melaporkan apakah kegiatan-kegiatan baik kegiatan financial
maupun operasional auditee telah dilaksanakan sesuai dengan
ketentuan, peraturan atau perundang-undangan yang berlaku.
3. Audit atas Laporan Keuangan (Financial Statement Audits)
Merupakan audit yang dilakukan untuk menentukan dan
melaporkan apakah laporan keuangan suatu perusahaan telah
disajikan sebagaimana mestinya (layak saji) yang sesuai dengan
standar akuntansi keuangan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis auditing
terbagi menjadi menjadi 3, yaitu audit operasional, audit kepatuhan, dan audit atas
laporan keuangan.
5

2.1.1.3 Proses Audit atas Laporan Keuangan


Menurut Mulyadi (2002:121) tahap audit atas laporan keuangan meliputi
sebagai berikut.
1. Penerimaan penugasan audit
Langkah awal pekerjaan audit atas laporan keuangan berupa
pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak penugasan
audit dari klien. Enam langkah yang perlu ditempuh oleh auditor di
dalam mempertimbangkan penerimaan penugasan audit dari calon
kliennya, yaitu :
1) mengevaluasi integritas manajemen,
2) mengidentifikasi keadaan khusus dan risiko luar biasa,
3) menilai kompetensi untuk melakukan audit,
4) mengevaluasi independensi,
5) menentukan kemampuan untuk menggunakan kecermatan,
6) membuat surat penugasan audit, dan
2. Perencanaan audit.
Setelah menerima penugasan audit dari klien, langkah berikutnya
adalah perencanaan audit. Ada delapan yang harus ditempuh, yaitu
sebagai berikut.
1) Memahami bisnis dan industri klien.
2) Melaksanakan prosedur analitis.
3) Mempertimbangkan tingkat materialitas awal.
4) Mempertimbangkan risiko bawaan.
5) Mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh
terhadap saldo awal dan jangka waktu penugasan klien
berupa audit tahun 1.
6) Mengembangkan strategi awal terhadap asersi signifikan.
7) Me-review informasi yang berhubungan dengan kewajiban-
kewajiban legal klien.
8) Memahami struktur pengendalian intern klien.
6

3. Pelaksanaan pengujian audit


Tahap ini disebut juga dengan pekerjaan lapangan yang tujuan
utamanya adalah untuk memperoleh bukti audit tentang efektivitas
struktur pengendalian intern klien dan kewajaran laporan keuangan
klien. Secara garis besar pengujian audit dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu sebagai berikut.
1) Pengujian analitis (Analytical Tests)
2) Pengujian pengendalian (Tests of Control)
3) Pengujian substantif (Substantive Test)
4. Pelaporan Audit
Langkah akhir dari suatu proses pemeriksaan auditor adalah
penerbitan laporan audit. Oleh karena itu, auditor harus menyusun
laporan keuangan auditan (Audited Financial Statement),
penjelasan laporan keuangan (Notes to Financial Statement) dan
pernyataan pendapat auditor.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa proses audit yaitu
penerimaan penugasan audit, perencanaan audit, pelaksanaan audit, dan pelaporan
audit.

2.2 Siklus Perolehan dan Pembayaran Kembali Modal


2.2.1 Pengertian Perolehan dan Pembayaran
Perolehan barang/jasa merupakan aktivitas seperti adanya pembelian bahan
baku, perlengkapan, peralatan, prasarana, reparasi dan pemeliharaan serta
penelitian dan pengembangan. Sedangkan pembayaran barang/jasa bisa dikatakan
adalah aktivitas penting bagi seluruh entitas, karena secara langsung mengurangi
saldo akun utang terutama utang dagang. Dokumen yang berhubungan dengan
pengeluaran kas harus diperiksa auditor, seperti cek, daftar pengeluaran kas,
berkas transaksi pengeluaran kas, dll. (www.kompasiana.com)
7

2.2.2 Tujuan dan Kelompok Transaksi dalam Audit Atas Siklus Perolehan
dan Pembayaran
Tujuan dalam audit siklus perolehan dan pembayaran
(www.kompasiana.com) adalah untuk mengevaluasi akun yang dipengaruhi oleh
perolehan barang dan pengeluaran kas umum. Ada tiga kelompok transaksi yang
termasuk ke dalam siklus ini, yaitu sebagai berikut.
a. Perolehan barang dan jasa
b. Pengeluaran kas
c. Retur dan cadangan pembelian serta potongan pembelian
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Siklus Perolehan dan Pembayaran Kembali Modal


Ada empat karakteristik siklus akuisisi modal dan pembayaran kembali
yang akan mempengaruhi audit atas akun-akun adalah sebagai berikut:

1. Relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo akun, tetapi setiap


transaksi seringkali jumlahnya sangat material. Contohnya perusahaan
jarang menerbitkan obligasi,tapi begitu obligasi diterbitkan,jumlahnya
material. Oleh karena ukuran yang besar itulah,sebagai bagian dari
pemeriksaan atas saldo akun neraca,auditor memeriksa setiap
transaksi yang terjadi dalam siklus ini sepanjang tahun.
2. Jika tidak dimasukkan satu transaksi tertentu, mungkin jumlahnya
akan material, akibatnya tekanan utama auditor dalam mengauditor
akun-akun tersebut seringkali diletakkan pada tujuan audit saldo
kelengkapan dan ketelitian.
3. Ada hubungan hukum entitas usaha klien dan pemegang saham,
obligasi/dokumen serupa. Auditor harus sangat cermat memastikan
persyaratan yang mempengaruhi laporan keuangan telah terpenuhi,
disajikan dan diungkapakan secara memadai dalam laporan keuangan..
4. Ada hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan
kewajiban dan ekuitas. Auditor secara simultan memeriksa beban
bunga dan utang bunga. Demikian pula dalam mengauditor ekuitas
pemilik, dividen yang diumumkan,dan utang dividen.

3.2 Audit Terhadap Utang Usaha


Hutang usaha adalah kewajiban yang beban dibayar oleh perusahaan atas
kegiatan perusahaan dalam usaha normalnya,, Dalam pelaksanaan audit, seorang
auditor akan berusaha untuk melakukan pengujian pengendalian secara efektif.

8
9

Dalam pengujian akun hutang usaha ini sangat menentukan keberhasilan auditor
untuk mengaudit investasi atau siklus pembayaran. Apabila pengujian ini berhasil
maka auditor akan mengurangi prosedur analitik dan pengujian terinci atas saldo
hutang.

3.2.1 Metode Pengujian Terinci atas Utang Usaha yaitu :

1. Mengidentifikasi resiko bisnis klien yang mempengaruhi hutang


usaha
2. Menilai resiko pengendalian dan pengujian substansif atas transaksi
3. Merancang dan melaksanakan pengujian terinci atas saldo hutang
usaha
3.2.2 Tujuan Pengujian Subtantif Terhadap Utang Usaha
1. Memperoleh keyakinan terhadap keandalan catatan akuntansiyang
bersangkutan hutang usaha
2. Membuktikan keberadaan hutang usaha yang dicantumkan di neraca
3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan
akuntansi dan kelangsungan saldo usaha yang disajikan di neraca
4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca
5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan hutang usaha
di neraca

3.2.3 Program Pengujian Subtantif Terhadap Utang Usaha

3.2.3.1 Prosedur audit awal


Sebelum membuktikan apakah saldo utang usaha yang dicantumkan oleh
klien di dalam neracanya sesuai dengan utang usaha yang benar-benar ada pada
tanggal neraca, auditor melakukan rekonsiliasi antara informasi utang usaha yang
dicantumkan di neraca dengan catatan akuntansi yang mendukungnya.
Rekonsiliasi ini perlu dilakukan agar auditor memperoleh keyakinan bahwa
informasi utang usaha yang dicantumkan di neraca didukung dengan catatan
akuntansi yang dapat dipercaya.
10

a. Urut saldo utang usaha yang tercantum di neraca ke saldo akun


Utang Usaha yang bersangkutan di dalam buku besar. Untuk
memperoleh keyakinan bahwa saldo utang usaha yang tercantum di
neraca didukung dengan catatan akuntansi yang dapat dipercaya
kebenaran mekanisme pencatatannya, maka saldo utang usaha yang
di cantumkan di neraca diusut ke akun buku besar.
b. Hitung kembali saldo akun utang usaha di buku besar. Untuk
memperoleh keyakinan mengenai ketelitian perhitungan saldo akun
utang usaha, auditor menghitung kembali saldo akun piutang usaha
dan utang wesel dengan menambah saldo awal dengan jumlah
pengkreditan dan menguranginya dengan jumlah pendebitan tiap-
tiap akun tersebut.
c. Usut saldo awal akun utang usaha ke kertas kerja tahun lalu.
Sebelum auditor melakukanpengujian terhadap transaksi rinci yang
menyangkut akun piutang usaha, ia perlu memperoleh keyakinan
atas kebenaran saldo awal akun tersebut.
d. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan
sumber posting dalam akun utang usaha. Ketidak beresan dalam
transaksi pembelian, pelunasan utang usaha dapat ditemukan melalui
review atas mutasi luar biasa, baik dalam jumlah maupun sumber
posting dalam akun utang usaha.
e. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun utang usaha ke
jurnal yang bersangkutan. Untuk memperoleh keyakinan bahwa
mutasi penambahan dan pengurangan utang usaha berasal dari
jurnal-jurnal yang bersangkutan.
f. Lakukan rekonsiliasi buku pembantu utang usaha dengan akun
control utang usaha di buku besar. Saldo akun control utang usaha di
buku besar tersebut kemudian dicocokkan dengan jumlah saldo akun
pembantu utang usahaa ke dalam arsip bukti kas keluar yang belum
ddibayar untuk memperoleh keyakinan bahwa catatan akuntansi
11

klien yang bersangkutan dengan utang usaha dapat dipercaya


ketelitiannya.

3.2.3.2 Prosedur analitik


Pada tahap awal pengujian subtantif terhadap utang usaha, pengujian
analitik dimaksudkan untuk membantu auditor dalam memahami bisnis klien dan
dalam menemukan bidang yang memerlukan audit lebih intensif. Ratio formula
Tingakat perputaran utang usaha 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑒𝑙𝑖𝑎𝑛 ÷ 𝑅𝑒𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎 Rasio
utang usaha dengan utang lancar 𝑆𝑎𝑙𝑑𝑜 𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑢𝑠𝑎ℎ𝑎 ÷ 𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟

3.2.3.3 Pengujian terhadap transaksi rinci


1) Periksa sampel transaksi yang tercatat dalam akun utang usaha ke
dokumen yang mendukung timbulnta transaksi tersebut. Prosedur
audit ini dimulai oleh auditor dari buku pembantu utang usaha.
Pengujian dilaksanakan dengan mengambil sampel berikut ini:
a) Sample akun debitur yang akan diperiksa transaksi mutasinya.
b) Sampel transaksi yang dicatat dalam akun kreditur pilihan.
2) Periksa pengkreditan akun utang usaha ke dokumen pendukung
bukti kas keluar (voucher), laporan penerimaan barang, dan surat
order pembelian.
3) Periksa pendebitan akun utang usaha ke dokumen pendukung: bukti
kas keluar, memo debit untuk retur pembelian
4) Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pembelian dan retur
pembelian
5) Periksa dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha dalam
minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca.
6) Periksa dokumen yang mendukung berkurangnya utang usaha dalam
minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah
tanggal neraca.
7) Lakukan verifikasi pisah batas (cutoff) transaksi pengeluaran kas.
8) Periksa adanya utang usaha yang tidak di catat.
12

3.2.3.4 Pengujian terhadap saldo akun rinci


Tujuan pengujian saldo akun utang usaha rinci adalah untuk
memverifikasi keberadaan dan keterjadian, kelengkapan, kewajiban, penyajian
dan pengungkapan. Keberadaan, kelengkapan, kewajiban serta penyajian dan
pengungkapan utang usaha di neraca di buktikan oleh auditor dengan
mengirimkan surat konfirmasi kepada debitur dan rekonsiliasi utang usaha yang
tidak dikonfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari
kreditur.

a. Lakukan konfirmasi utang usaha. Konfirmasi dalam pengujian


substantif terhadap utang usaha merupakan prosedur yang tidak
harus ditempuh (bukan merupakan mandatory procedure)
sepertihalnya dengan konfirmasi piutang usaha.
b. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembayaran utang
usaha setelah tangal neraca. Pembayaran utang usaha yang dilakukan
oleh klien dapat memberikan petunjuk mengenai keberadaan
kewajiban klien tersebut.
c. Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak dikonfirmasi ke
peryataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari debitur.
Utang klien kepada debitur yang tidak dikonfirmasi dapat
diverifikasi keberadaanya melalui rekonsiliaasi akun utang kepada
kreditur dengan surat pernyataa piutang yang diterima secara
bulanan dari debitur.

3.2.3.5 Verifikasi dan pengungkapan


1) Periksa klasifikasi utang usaha di neraca. Unsur utang lancar harus
disajikan di neraca menurut urutan jatuh temponya. Jika jumlahnya
material, utang usaha harus disajikan di neraca menjadi tiga
golongan:
a. Utang usaha kepada kreditur usaha
b. Utang usaha kepada perusahaan afiliasi
13

c. Utang usaha kepada direksi, pemegang saham utama, manager,


dan karyawan perusahaan.
2) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang non usaha.
Jika utang jangka panjang yang segera jatuh tempo dilunasi dengan
aktiva tidak lancar, maka jumlah utang ini tetap disajikan di neraca
dalam kelompok utang jangka panjang, bukan utang lancar untuk
menghindari pengaruh signifikan terhadap perhitungan perubahan
posisi keuangan (modal kerja).
3) Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha.
Utang usaha yang dijamin dengan aktiva harus diungkapkan secara
memadai di neraca atau dalam penjelasan laporan keuangan.
4) Mintalah informasi dari klien untuk menemukan komitmen yang
belum diungkap dan utang bersyarat dan periksa penjelasan yang
bersangkutan dengan utang usaha tersebut.
5) Pelajari notulen rapat direksi sampai dengan tanggal penyelesaiaan
pekerjaan lapangan. Notulen rapat yang diselenggarakan oleh direksi
akan berpotensi menimbulkan utang bersyarat.
6) Periksa kontrak-kontrak pembelian, penjualan, dan kontrak yang
lain.
7) Mintalah informasi dari pengacar klien mengenai perkara pengadilan
yang melibatkan klien
8) Kirimkan konfirmasi ke bank. Auditor meminta informasi dari bank
mengenai kewajiban bersyarat yang menjadi tanggung jawab klien
pada tanggal neraca.
9) Pelajari arsip korespondensi klien dengan lembaga keuangan.

3.3 Audit Terhadap Wesel Bayar


Uang wesel adalag kewajiban legal kepada seorang kreditor yang terdiri
dari pokok pinjaman dan bunganya yang mungkin dijamin atau tidak dijamin
dengan aset. Biasanya wesel diterbitkan untuk suatu periode tertentu antara saru
bulan sampai satu tahun, tapi ada juga yang jangka waktunya lebih panjang.
14

3.3.1 Tujuan audit wesel bayar


1. Pengendalian intern atas wesel bayar memadai
2. Transaksi untuk pokok pinjaman dan bunga yang melibatkan wesel
bayardiotorisasi dan dibukukan dengan semestinya sebagaimana
didefinisikan menurutenam tujuan audit terkait transaksi
3. Kewajiban atas wesel bayar dan beban bunga terkait beserta hutang
yang masih harus dibayar dinyatakan dengan
semestinya sebagaimana didefinisikan menurut delapan dari
Sembilan tujuan audit terkait saldo.
3.3.2 Pengendalian Internal
Terdapat empat pengendalian penting atas wesel bayar :
1. Otorisasi yang memadai atas penerbitan wesel baru Tanggung jawab
atas penerbitan wesel baru harus terletak pada dewan direksi atau
manajemen puncak. Biasanya diperlukan dua tanda tangan pejabat
tinggi perusahaan untuk setiap perjanjian pinjaman.
2. Pengendalian yang mencukupi atas pembayaran pokok pinaman dan
bunga. Pembayaran bunga dan pokok pinjaman harus dikendalikan
sebagai bagian dari siklus perolehan dan pembayaran. Pada saat
wesel diterbitkan, bagian akuntansi harus menerima satu tembusan
seperti pada penerimaan faktur dan laporan penerimaan.
3. Dokumen dan catatan-catatan yang memadai. Hal ini meliputi
penyelenggaraan buku tambahan dan pengawasan terhadap wesel-
wesel kosong atau yang telah dibayar oleh petugas yang bertanggung
jawab.
4. Verifikasi yang independen secara periodik.
5. Secara periodik, catatan-catatan wesel yang dibuat terperinci, harus
direkonsiliasikan terhadap buku besar dan dibandingkan dengan
catatan pemegang wesel, oleh karyawan yang tidak bertanggung
jawab atas pencatatan kunci. Pada waktu yang sama, karyawan
independen harus menghitung kembali beban bunga wesel untuk
menguji keakuratan dan kecukupan pencatatan.
15

3.3.3 Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi


Wesel Bayar
Pengujian atas transaksi-transaksi wesel bayar akan mencakup penerbitan
wesel serta pelunasan kembali pokok pinjaman dan bunganya. Pengujian audit ini
menjadi bagian dari pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi untuk penerimaan kas dan pengeluaran kas. Pengujian tambahan atas
pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi biasanya dilakukan sebagai
bagian dari pengujian saldo karena masing-masing transaksi memiliki materialitas
yang tinggi. Pengujian pengendalian untuk wesel bayar dan bunga terkait harus
menekankan pada pengujian empat pengendalian internal yang telah dibahas di
atas. Sebagai tambahan, seorang auditor harus melakukan verifikasi pencatatan
yang akurat terhadap bukti penerimaan dari pencairan wesel dan pembayaran
pokok dan bunga.

3.3.4 Prosedur analitik


Prosedur analitis merupakan hal yang penting bagi wesel karena pengujian
atas rincian saldo untuk beban bunga dan bunga accrual sering kali dapat
dieliminasi apabila hasilnya kurang menguntungkan. Prediksi independen auditor
mengenai beban bunga dengan menggunakan rata-rata wesel bayar yang beredar
dan rata-rata suku bunga, akan membantu auditor mengevaluasi kelayakan beban
bunga dan juga menguji wesel bayar yang dihilangkan.

 Prosedur Analitis

1. Hitung rata-rata beban bunga atas dasar tingkat bunga rata-rata


dan saldo

2. Membandingkan wesel individual yang masih berjalan dengan


tahun lalu

3. Membandingkan total saldo dalam akun utang wesel, beban


bunga, dan utang bunga dengan tahun lalu

 Kemungkinan Salah Saji


16

1. Kesalahan penyajian beban bunga dan utang bunga/penghilang


utang wesel
2. Penghilangan atau kesalahan penyajian utang wesel
3. Kesalahan penyajian beban bunga dan utang bunga wesel

3.3.5 Pengujian Terinci atas Saldo


Metodologi untuk mendesain pengujian perincian atas saldo dalam siklus
akuisis modal dan pembayaran kembali sama yang diaplikasikan pada akun
lainnya. Dalam menentukan pengujian perincian saldo untuk wesel bayar, auditor
mempertimbangkan resiko bisnis, salah saji yang dapat diterima, resiko bawaan,
resiko pengendalian, hasil pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas
transaksi dan hasil prosedur analitis. Auditor seringkali menetapkan salah saji
yang dapat diterima pada tingkat rendah karena mereka hampir selalu dapat
mengaudit saldo akun dan transaksi yang memengaruhi saldo wesel bayar secara
keseluruhan. Khususnya, mereka juga menetapkan resiko bawaan pada tingkat
rendah karena menilaiakun yang benar biasanya mudah ditentukan. Auditor
biasanya paling memerhatikan dalam tujuan kelengkapan untuk saldo wesel bayar
dan pengungkapan wesel bayar seperti jaminan dan batasan wesel bayar.

Jika ada sejumlah besar transaksi yang melibatkan wesel selama tahun
tersebut, mungkin tidak praktis bagi auditor untuk memperoleh skedul semacam
itu. Dalam situasi tersebut, auditor harus lebih baik meminta klien untuk hanya
menyiapkan skedul wesel dengan saldo yang belum dibayar pada akhir tahun,
yang menunjukan deskripsi dari setiap wesel, saldo akhirnya, dan utang bunga
pada akhir tahun, termasuk jaminan dan suku bunga.

Tiga tujuan audit yang berkaitan dengan saldo yang paling penting dalam
wesel bayar adalah:

a. Wesel bayar yang ada telah dicantumkan ( kelengkapan )

b. Wesel bayar dalam skedul talah dicatat secara akurat ( keakuratannya )


17

c. Wesel bayar disajikan dan diungkapkan secara semestinya (penyajian


dan pengungkapan).

Tujuan tersebut sangat vital karena salah saji dapat menjadi material
meskipun salah satu wesel dihilangkan atau tidak benar. Selain tujuan yang
berkaitan dengan saldo, empat tujuan yang berkaitan dengan penyajian dan
pengungkapan juga merupakan hal yang penting bagi wesel bayar Karena prinsip-
prinsip akuntansi yang diterima umum mengharuskan agar catatan kaki
menggabarkan secara memadai syarat wesel bayar yang beredar dan aktiva yang
dijaminkan atas penjaman tersebut.

3.4 Audit Terhadap Ekuitas


Transaksi-transaksi ekuitas pemilik yang mungkin adalah perubahan ekuitas
pemilik disebutkan oleh laba atau rugi tahunan serta pembagian deviden. Waktu
yang digunakan untuk verifikasi ekuitas pemilik pada perusahaan keluarga
seringkali hanya sedikit walaupun auditor harus melakukan pengujian terhadap
catatan-catatan perusahaan . Verifikasi terhadap ekuitas pemilik pada perusahaan
publik lebih rumit karena jumlah pemegang saham yang lebih banyak serta
seringnya terjadi pergantian pemegang saham.

3.4.1 Pengendalian internal

a. Otorisasi Transaksi Yang Tepat. Karena setiap transaksi ekuitas


pemilik umumnya bersifat material, banyak dari transaksi tersebut
harus disetujui oleh dewan direksi. Jenis transaksi ekuitas pemilik
berikut biasanya memerlukan otorisasi khusus;
1. Penerbitan modal saham. Otorisasi iti termasuk jenis ekuitas
yang akan diterbitkan ( seperti saham preferen atau saham
biasa ), jumlah saham yang akan diterbitkan, nili pari saham,
kondisi privilege bagi setiap saham selain saham biasa, dan
tanggal penerbitan.
18

2. Pembelian kembali modal saham. Pembelian kembali modal


saham biasa atau saham preferen, penetapan waktu pembelian
kembali, dan jumlah yang akan di bayar atas saham semuanya
harus disetujui oleh dewan direksi.
3. Pengumuman deviden. Dewan direksi harus memberikan
otorisasi terhadap bentuk dividen (tunai atau dalam bentuk
saham), jumlah dividen untuk setiap saham dan catatan serta
tanggal pembelian dividen Prosedur terpenting untuk
mencegah kekeliruan dalam ekuitas pemilik adalah
(1) kebijakan yang jelas untuk pembuatan sertifikat saham
dan pencatatan transaksi saham
(2) verifikasi intern yang independen terhadap informasi
dalam catatan. Pada saat menerbitkan dan mencatat
saham, klien harus memastikan bahwa peraturan
pemedasar perusahaan telah dipenuhi.
b. Penyimpanan catatan dan pemisahan tugas yang tepat. Jika suatu
perusahaan menyimpan catatan miliknya sendiri mengenai transaksi
saham dan yang beredar, pengendalian internal harus memadai untuk
memastikan bahwa;
1. Pemilik actual saham diakui dalam catatan perusahaan
2. Jumlah deviden yang benar dibayar ke pemegang saham yang
memiliki saham pada tanggal pencatatan deviden
3. Potensi misapropriasi aktiva telah diminimalisasi

Penitera independen dan agen Transfer saham setiap perusahaan yang


sahamnya terdaftar dibursa saham diwajibkan memiliki panitera independen
sebagai pengendali untuk mencegah penerbitan sertifikat saham yang tidak tepat.
Tanggung jawab independen adalah memastikan bahwa saham duterbitkan oleh
perusahaan sesuai dengan provisi modal saham dalam akta perusahaan dan
otorisasi dewan direksi.
19

Kebanyakan perusahaaan berukuran besar juga menggunakan jasa agen


transfer saham untuk menyimpan catatan pemegang saham, termasuk
mendokumentasikan transfer kepemilikan saham.

3.4.2 Audit atas Modal Saham dan Tambahan Modal disetor


Terdapat 4 hal penting dalam audit terhadap modal saham dan tambahan
modal disetor di atas nilai pari:

a. Seluruh transaksi modal saham yang ada telah dicatat (kelengkapan).


Tujuan ini dengan mudah dapat dicapai jika digunakan jasa pencatat
atau agen pemindahan saham .Auditor dapat meminta konfirmasi
mengenai transaksi-transaksi modal saham dan mengenai nilai dari
transaksi-transaksi saham tersebut .Penelitian terhadap notulen rapat
,terutama yang dibuat mendekati tanggal neraca dan pemeriksaan
terhadap buku catatan saham klien ,dapat juga menunjukkan adanya
pengeluaran dan pembelian kembali saham.
b. Transaksi-transaksi saham yang dicatat telah diotorisasi dan nilainya
tepat (keberadaan dan keakuratan) Transaksi saham yang dicatat benar
dan dicatat dengan tepat. Pengeluaran saham baru secara tunai ,merjer
dengan perusahaan lain melalui pertukaran saham ,modal yang
dihadiahkan dan saham yang dibeli kembali semuanya memerlukan
audit yang ekstensif. Tanpa memperhartikan pengendalian intern yang
ada ,umunya seluruh transaksi modal saham diverifikasi karena nilainya
yang material dan sifat permanen di dalam catatan. Keberadaan
biasanya diuji dengan memeriksa notulen rapat dewan direksi .
c. Modal saham dinilai dengan benar (keakuratan) Ketetapan nilai
transaksi saham yang dilakukan secara tunai dapat diverifikasi dengan
meminta konfirmasi tentang jumlahnya kepada agen pemindahan saham
dan menelusuri jumlah transaksi saham yang ada ke dalam penerimaan
uang . Dalam hal pembelian kembali saham, jumlahnya ditelusuri ke
20

dalam jurnal pengeluaran kas.Selain itu, auditor harus memeriksa


jumlah yang dikredit ke dalam modal saham dan tambahan modal
disetor di atas nilai pari atau nilai modal saham ditetapkan.
d. Modal saham disajikan dan diungkapkan secara memadai (penyajian
dan pengungkapan) Sumber informasi paling penting dalam
menentukan apakah modal saham telah diungkapkan secara memadai
adalah akte pendirian perusahaan, notulen rapat dewan direksi, dan
analisis auditor terhadap transaksi-transaksi modal saham. Auditor
harus yakin bahwa terdapat penjelasan yang mencukupi untuk setiap
golongan saham, termasuk informasi mengenai jumlah saham yang
diterbitkan dan yang beredar dan hak khusus dari setiap jenis saham
tertentu. Penyajian dan pengungkapan yang layak tentang opsi saham,
waran dan saham konvertibel harus diverifikasi dengan memeriksa
dokumen-dokumen hukum atau bahan bukti lain yang membuktikan
adanya peraturan- peraturan tentang hal-hal tersebut di atas.

3.4.3 Audit atas Dividen


Penekanan pada audit atas dividen adalah pada transaksinya dan bukan
saldo akhir. Kecuali jika ada hutang dividen. Tujuan-tujuan terpenting dari kontrol
terhadap dividen, termasuk yang berkaitan dengan hutang dividen adalah :

a. Dividen yang dicatat benar ada (keberadaan)


b. Dividen yang ada seluruhnya telah dicatat (kelengkapan)
c. Dividen telah dicatat dengan benar (keakuratan)
d. Dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham adalah benar ada
(keberadaan)
e. Hutang dividen telah dicatat dengan benar (keakuratan)

Auditor dapat memverifikasikan keterjadian bagi deviden yang tercatat


dengan memeriksa notulen rapat dewan direksi menyangkut otorisasi jumlah
deviden per saham dan tanggal deviden. Ketika melakukan hal tersebut, auditor
21

harus waspada terhadap kemungkinan belum tercatatnya deviden yang


diumumkan, terutama segera sebelum tanggal neraca.

Keakuratan pengumuman deviden dapat diaudit dengan menghitung


kembali jumlah atas dasar deviden per saham dikalikan dengan jumlah saham
yang beredar. Jika klien menggunakan agen transfer untuk membagikan deviden,
totalnya dapat ditelusuri ke ayat jurnal pengeluaran kas milik agen dan juga
dikonfirmasi.

Keakuratan pengumuman deviden dapat diaudit dengan menghitung


kembali jumlah atas dasar deviden per saham dikalikan dengan jumlah saham
yang beredar. Jika klien menggunakan agen transfer untuk membagikan deviden,
totalnya dapat ditelusuri ke ayat jurnal pengeluaran kas milik agen dan juga
dikonfirmasi.

Jika klien menyimpan catatan deviden miliknya dan membayar


devidennya sendiri, auditor dapat memverifikasi total jumlah deviden dengan
menghitung kembali dan merujuk ke kas yang dikeluarkan.

3.4.4 Audit laba ditahan


Untuk memulai audit laba ditahan, pertama auditor menganalisis laba
ditahan sepanjang tahun berjalan. Skedul audit yang menunjukan analisis, yang
biasanya merupakan bagian dari file permanen, berisi desktripsi setiap transaksi
yang mempengaruhi akun tersebut.

Untuk menyelesaikan audit atas pengkreditan ke laba ditahan bagi laba


bersih selama tahun tersebut, auditor hanya perlu menelusuri ayat jurnal laba
ditahan ke angka laba bersih pada laporan laba rugi. Dalam mengaudit pendebetan
dan pengkreditan ke laba ditahan, selain laba bersih dan deviden, aditor juga harus
menentukan apakah transaksi itu telah dicantumkan.

Setelah auditor yakin bahwa transaksi yang dicatat telah diklasifikasikan


secara benar sebagai transaksi laba ditahan, langka selanjutnya adalah
22

memutuskan apakah hal itu telah dicatat secara akurat. Bukti audit yang
diperlukan untuk menentukan keakuratan itu tergantung pada sifat transaksinya.

Auditor juga mengevaluasi apakah ada transaksi yang sebenarnya harus


dimasukan tetapi belun dilakukan. Sebagai contoh, jika klien mengumumkan
deviden saham, nilai pasar sekuritas yang diterbitkan harus dikapitalisasi dengan
mendebet laba ditahan dan mengkredit modal saham.

Standar akuntansi mewajibkan penyajian dan pengungkapan informasi


yang berkaitan dengan laba ditahan. Auditor sangat sibuk menentukan apakah
tujuan penyajian dan pengungkapan laba ditahan telah dipenuhi, terutama yang
berkaitan dengan pengungkapan setiap restriksi terhadap pembayaran deviden.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan
1. Karakteristik Siklus Perolehan dan Pembayaran Kembali Modal
a) Relatif sedikit transaksi yang mempengaruhi saldo akun, tetapi
setiap transaksi seringkali jumlahnya sangat material.
b) Jika tidak dimasukkan satu transaksi tertentu, mungkin
jumlahnya akan material, akibatnya tekanan utama auditor
dalam mengauditor akun-akun tersebut seringkali diletakkan
pada tujuan audit saldo kelengkapan dan ketelitian.
c) Ada hubungan hukum entitas usaha klien dan pemegang saham,
obligasi/dokumen serupa.
d) Ada hubungan langsung antara akun bunga dan dividen dengan
kewajiban dan ekuitas.
2. Audit Terhadap Utang Usaha yaitu terdiri dari :
a) Metode Pengujian Terinci atas Utang Usaha
b) Tujuan Pengujian Subtantif Terhadap Utang Usaha
c) Program Pengujian Subtantif Terhadap Utang Usaha
3. Audit Terhadap Wesel Bayar yaitu terdiri dari :
a) Tujuan audit wesel bayar
b) Pengendalian Internal
c) Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif atas Transaksi
Wesel Bayar
d) Prosedur analitik
e) Pengujian Terinci atas Saldo

4. Audit Terhadap Ekuitas yaitu terdiri dari :


a) Pengendalian internal
b) Audit atas Modal Saham dan Tambahan Modal disetor
c) Audit atas Dividen
d) Audit laba ditahan

23
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, ilham. “Audit Terhadap Siklus Pengeluaran Pengujian Substantif


Terhadap Saldo Utang Usaha”, Published by http://www.slideshare.net
(Diakses 16 Desember 2018)

Arens, Alvin. A dan Loebbecke. 2003. Auditing Pendekatan Terpadu. Jakarta:


Salemba Empat.
Boynton, W.C., R.N . Jonson, dan W. G Kell. 2001. Modern Auditing. Jakarta:
Erlangga.
Dase,ira. “Pengujian Substansif atas Saldo Hutang Usaha” Published by
https://www.academia.edu (Diakses 17 Desember 2018)

Mulyadi. 2002. Auditing. Buku 1. Yogyakarta: Salemba Empat.

Noor,Reza. “Pengauditan Siklus Perolehan Modal dan Pengembaliannya”,


Published by http://leehyouauntansi.blogspot.co.id (Diakses 16
Desember 2018)

Stdln. “Audit atas Siklus Perolehan dan Pembayaran Kembali Modal”, Published
by http://stdln.blogspot.co.id (Diakses 16 Desember 2018)

Http://zaitulmunarasli.blogspot.com/2013/12/audit-siklus-penggajian-dan-
kepegawaian.html?m=1 Diakses tanggal 16 Desember 2018

https://www.kompasiana.com/nurfinasaputri_/570920f53dafbd6c09235662/meng
enal-audit-atas-siklus-perolehan-dan-pembayaran?page=all

24