Anda di halaman 1dari 13

1. GCS ?

Eye Verbal Motorik


4 : Spontan 5 : Orientasi Baik (WTO) 6 : Mengikuti perintah
3 : Suara / Perintah 4 : Bicara/percakapan 5 : Melokalisir Nyeri
2 : Nyeri Supraorbita membingungkan 4 : Reaksi Menghindar
1 : Tidak Berespon 3 : Kata-kata tidak teratur 3 : Fleksi Abnormal
(adohh....) 2 : Ekstensi Abnormal
2 : Mengerang (enggg...) 1 : Tidak ada reaksi
1 : Tidak ada respon.

2. Meningeal Sign

Nuchal Rigidity (Kaku Kuduk)


 Tangan Pemeriksa
ditempatkan dibawah
kepala pasien & sedang
berbaring.
 Kepala difleksi &
diusahakan dagu
mencapai dada.
Kaku Kuduk +  Didapatkan
Tahanan
Kernig Sign

Fleksikan pada pasien
pada persendian panggul
sampai membuat sudut
90o

Tungkai bawah
diekstensikan pada
persendian lutut.
Biasanya ekstensi dapat
mencapai 135o
Kernig Sign +  terdapat tahanan
sebelum mencapai sudut 135o
Lasegue Sign

Pasien diminta berbaring
lurus.

Satu tungkai diangkat
lurus, dibengkokkan pada
persendian panggulnya.

Normalnya dapat
mencapai sudut 700
Lasegue sign +  terdapat
tahanan sebelum mencapai sudut
700
Brudzinski 1
 Tangan ditempatkan di
bawah kepala pasien yang
sedang berbaring.
 Tekukkan kepala sejauh
mungkin sampai dagu
mencapai dada. Tangan
yang satunya lagi
ditempatkan di dada
pasien.
BZ 1 +  Fleksi kedua tungkai

Brudzinski 2
 Satu tungkai difleksikan
pada persendian panggul,
sedangkan tungkai yang
satu berada pada keadaan
lurus.
BZ 2 +  tungkai satunya juga
ikut fleksi

Brudzinski 3
 Menekan Os.
Zygomatikum maka akan
terjadi fleksi pada kedua
lengan.

Brudzinski 4
 Menekan symphisis pubis
maka akan terjadi fleksi
pada kedua tungkai
Guillain Sign
Ada 2 cara yaitu :
 Tusukkan pada kulit yang
menutup otot quadrisep
femoris
 Memijat otot kuadrisep
femoris
GS +  Fleksi tungkai
kontralateral di sendi lutut
dan coxae secara reflektorik
Edelmann Test
 Fleksi tungkai atas (di
sendi panggul) sedangkan
lutut diluruskan secara
pasif
ET +  dorsofleksi dari ibu
jari kaki secara reflektorik
Bikele Test
 Lengan pasien diluruskan
di atas bahu.
BT +  Pasien menahan
articulasio cubitinya (siku)
tetap fleksi.

3. Reflek Fisiologis dan Patologis


Reflek Fisiologis
a) Reflek Bisep :
 Posisi : dilakukan dengan pasien duduk, dengan membiarkan
lengan untuk beristirahat di pangkuan pasien, atau membentuk
sudut sedikit lebih dari 90 derajat di siku.
 Identifikasi tendon : minta pasien memflexikan di siku
sementara pemeriksa mengamati dan meraba fossa antecubital.
Tendon akan terlihat dan terasa seperti tali tebal.
 Cara : ketukan pada jari pemeriksa yang ditempatkan pada
tendon m.biceps brachii, posisi lengan setengah diketuk pada
sendi siku.
 Respon : fleksi lengan pada sendi siku
b) Refleks Trisep
o Posisi : dilakukan dengan pasien duduk. Dengan Perlahan tarik lengan
keluar dari tubuh pasien, sehingga membentuk sudut kanan di bahu.
atau lengan bawah harus menjuntai ke bawah langsung di siku
o Cara : ketukan pada tendon otot triceps, posisi lengan fleksi pada sendi
siku dan sedikit pronasi.
o Respon : ekstensi lengan bawah pada sendi siku

c) Refleks Brachioradialis
 Posisi : dapat dilakukan dengan duduk. Lengan bawah harus
beristirahat longgar di pangkuan pasien.
 Cara : ketukan pada tendon otot brakioradialis (Tendon melintasi
(sisi ibu jari pada lengan bawah) jari-jari sekitar 10 cm proksimal
pergelangan tangan. posisi lengan fleksi pada sendi siku dan sedikit
pronasi.
 Respons:
 Flexi pada lengan bawah.
 Supinasi pada siku dan tangan.

d) Refleks Patella
 Posisi klien : dapat dilakukan dengan duduk atau berbaring
terlentang.
 Cara : ketukan pada tendon patella.
 Respon : plantar fleksi kaki karena kontraksi m.quadrisep femoris.

e) Refleks Achilles
 Posisi : pasien duduk, kaki menggantung di tepi meja ujian. Atau
dengan berbaring terlentang dengan posisi kaki melintasi diatas
kaki di atas yang lain atau mengatur kaki dalam posisi tipe katak.
 Identifikasi tendon : mintalah pasien untuk plantar flexi.
 Cara : ketukan hammer pada tendon achilles.
 Respon : plantar fleksi kaki krena kontraksi m.gastroenemius.

Refleks Patologis
Bila dijumpai adanya kelumpuhan ekstremitas pada kasus-kasus tertentu.
a. Reflek babinski :
 Pasien diposisikan berbaring supinasi dengan kedua kaki diluruskan.
 Tangan kiri pemeriksa memegang pergelangan kaki pasien agar kaki
tetap pada tempatnya.
 Lakukan penggoresan telapak kaki bagian lateral dari posterior ke
anterior.
 Respon : positif apabila terdapat gerakan dorsofleksi ibu jari kaki dan
pengembangan jari kaki lainnya
b) Reflek Chaddok
 Penggoresan kulit dorsum pedis bagian lateral sekitar maleolus lateralis dari
posterior ke anterior.
 Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya.

c) Refleks Schaeffer
 Menekan tendon achilles.
 Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya.
d) Refleks oppenheim
 Pengurutan dengan cepat krista anterior tibia dari proksiml ke distal.
 Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya
(fanning) jari-jari kaki lainnya.

e) Reflek Gordon
 Menekan pada musculus gastrocnemius (otot betis).
 Amati ada tidaknya gerakan dorsofleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya.

f) Refleks Gonda
 Menekan (memfleksikan) jari kaki ke-4, lalu melepaskannya dengan cepat.
 Amati ada tidaknya gerakan dorso fleksi ibu jari kaki, disertai mekarnya (fanning)
jari-jari kaki lainnya.

4. Vertigo (perifer especially)


Vertigo 
 Definisi : rasa gerakan tubuh atau obyek sekeliling berputar akibat
kelainan sistem ekuilibrium.
 Bukan diagnosa, melainkan gejala atau sindrom dari penyakit fisik/psikis.
 Dapat gejala tunggal atau disertai gejala lain misalnya mual, keringat
dingin, oscilopsia, diplopia, nistagmus dll.

Dizzines 
 Definisi: pengalaman penderita merasakan sensasi yang berbeda, ingin
jatuh, rasa berputar, melayang, gelap, tak nyata.

Sistem fisioanatomi keseimbangan dikendalikan oleh 3 komponen resepsi


utama  Sendi leher dan kaki (somatosensorik), labirin (vestibular), retina
(sistem visual).
Klinis True atau pseudo-vertigo :

GEJALA V.VESTIBULER V.NON VESTIBULER

Sifat vertigo Rasa berputar Melayang, sempoyongan,

(true vertigo) kepala ringan

Serangan Episodik Kontinyu

Mual/muntah (+) (-)

Gg.pendengaran (+)/(-) (-)

Gerakan pencetus Gerakan kepala Gerakan obyek visual

Situasi pencetus (-) Ramai orang, macet lalu lintas,

Supermarket.

Klinis vertigo vestibuler, perifer & sentral


Perifer Sentral

Bangkitan vertigo Mendadak Lambat


Derajat vertigo Berat Ringan

Pegaruh gerakan kepala (+) (-)


Gejala otonom (++) (-)
Gg. Pendengaran (+) (-)

Pemeriksaan Fisik
1. Sikap :
 Tidak berani menggerakkan kepala (vestibuler)
 Kepala bebas bergerak (non-vestibuler)
2. KU (TD, nadi, jantung, paru)
3. Pemeriksaan neurologis 
Strabismus atau nistagmus (spontan/melirik/provokasi (Halplike manuver, tes
kalori).
Beda vertigo sentral dan perifer (pem. Fisik)
Perifer Sentral
Periode laten (2-20 detik) (+) (-)
Lama < 2 menit >2 menit
Vertigo (+) (+) / (-)
Lelah (fatique) (+) (-)

Pemeriksaan Khusus :
1. Laboratorium
2. Radiologis: Skull foto, CT-Scan Kepala, MRI Kepala, MRI Angiografi
3. Cardiologi: EKG, Echo
4. ENG
5. Audiometri & BAEP
6. Pemeriksaan Psikiatrik

Terapi vertigo :
1. Terapi Kausal
2. Terapi Simptomatis
3. Terapi Rehabilitatif

1. Terapi Kausal
- Sesuai dengan penyebab
- biasanya kausal sulit ditemukan
2. Terapi Simptomatis
- Ca Entry Blocker : Flunarisin
- Antihistamin : Sinarisin, prometasin, dimenhidrinat
- Lain-lain jarang

3. Terapi Rehabilitatif
 Latihan vestibuler: metoda Brandt Daroff
 Latihan Visual Vestibuler
 Latihan berjalan (Gait Exercise)
The Semont maneuver is done with the help of a doctor or physical therapist. A single
10- to 15-minute session usually is all that is needed. When your head is firmly moved
into different positions, the crystal debris (canaliths) causing vertigo moves freely and no
longer causes symptoms.

Brandt-Daroff: Maneuver for Vertigo