Anda di halaman 1dari 6

ANALISA JURNAL

(PENGARUH AROMATERAPI INHALASI LAVENDER TERHADAP


KECEMASAN PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI
HEMODIALISIS)
Stase KMB
RSUD dr. LOEKMONOHADI KUDUS

Kelompok 3
1. Dwi setyowati
2. Kuril A’yuni
3. Nunik Mauli
4. Wiwid Widyawati

PROGRAM PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KUDUS INDONESIA
TAHUN AJARAN 2018/2019
ANALISA JURNAL

A. JUDUL
Pengaruh aromaterapi inhalasi lavender terhadap kecemasan pasien gagal ginjal
kronik yang menjalani hemodialisis
Oleh :
Sarah Anastasia , Bayhakki, Fathra Annis Nauli

B. KOMPONEN RISET YANG DI KRITISI


1. Peneliti dan Tahun Penelitian
Sarah Anastasia , Bayhakki, Fathra Annis Nauli pada Oktober 2015
2. Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi efek inhalasi aromaterapi
lavender pada kecemasan pasien gagal ginjal kronis yang menjalani
hemodialisis. Penelitian ini menggunakan "Quasy experimental design"
dengan desain "non equaivalent control-group". Penelitian ini dilakukan di
RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau pada 30 pasien. 15 pasien sebagai
kelompok eksperimen dan 15 pasien sebagai kelompok kontrol berdasarkan
teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah angket skala
kecemasan self-zung yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Inhalasi
aromaterapi lavender diberikan kepada kelompok eksperimen sekali selama 5
menit. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat seperti normalitas,
homogenitas, dan uji frekuensi. Analisis bivariat menggunakan uji t-
dependent dan t-independent. Hasil penelitian menunjukkan nilai p 0,000
(<0,05) yang berarti ada perbedaan kecemasan antara kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol dengan penurunan kecemasan 4,33 pada kelompok
eksperimen dan peningkatan 0,86 pada kelompok kontrol. . Hasil ini
menunjukkan bahwa skor kecemasan kelompok eksperimen lebih rendah
daripada kelompok kontrol setelah inhalasi aromaterapi lavender diberikan.
Hasil penelitian mengharapkan bahwa inhalasi aromaterapi lavender dapat
digunakan sebagai salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan
kecemasan pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialysis.
3. Pendahuluan
a. Latar belakang
Gagal ginjal kronik adalah kegagalan fungsi ginjal untuk
mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit
akibat destruksi struktur ginjal yang progresif dengan manifestasi
penumpukan sisa metabolik (toksik uremik) di dalam darah (Muttaqin
& Sari, 2011). National Kidney Foundation (2010) mengatakan
penyakit ginjal kronik menduduki peringkat ke 27 dalam daftar
penyebab kematian, namun naik menjadi urutan ke 18 di tahun 2010.
Terapi Hemodialisis (HD) adalah suatu proses menggunakan mesin
HD dan berbagai aksesorisnya dimana terjadi difusi partikel terlarut
(salut) dan air secara pasif melalui darah menuju kompartemen cairan
dialisat melewati membran semi permeabel dalam dializer (Price &
Wilson, 2006). Pasien gagal ginjal yang memilih hemodialisis sebagai
terapi pengganti fungsi ginjal akan menjalani terapi tersebut seumur
hidupnya kecuali pasien menjalani transplantasi ginjal (Rahardjo,
Pudji, Susalit & Endang ,2006). Kecemasan adalah perasaan yang
menetap berupa kekuatan atau rasa was-was, khawatir yang merupakan
respons terhadap ancaman yang akan datang (Keliat, Wijoyono &
Susanti, 2011). Aromaterapi adalah salah satu metode terapi
keperawatan yang menggunakan bahan cairan tanaman yang mudah
menguap atau dikenal sebagai minyak essensial dan senyawa aromatik
lainnya dari tumbuhan yang bertujuan untuk mempengaruhi suasana
hati atau kesehatan seseorang (Purwanto, 2013). Menurut Jaelani
(2009), kandungan dari senyawa kimia miyak essensial aromaterapi
lavender dapat mempengaruhi aktifitas fungsi kerja otak melalui sistem
saraf yang berhubungan dengan indera penciuman yang akan
merangsang peningkatan aktivitas neurotransmiter, yaitu berkaitan
dengan pemulihan kondisi psikologis (seperti emosi, perasaan, pikiran,
dan keinginan).
b. Rumusan masalah
Apakah ada pengaruh aromaterapi inhalasi lavender terhadap kecemasan
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis.
c. Tujuan
Untuk mengetahui perbedaan kecemasan sebelum dan sesudah diberikan
aromaterapi inhalasi lavender pada kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol dan intervensi.
4. Metode penelitian
a. Hipotesa
- H0 = Ada pengaruh aromaterapi inhalasi lavender terhadap
kecemasan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi
hemodialisis
- H1 = Tidak ada aromaterapi inhalasi lavender terhadap kecemasan
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisis
b. Metode penelitian
quasi eksperiment dengan rancangan penelitian Non-Equivalent Control
Group
c. Populasi dan Sampel
Populasi pasien gagal ginjal kronik di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
Sampel pada penelitian ini adalah pasien gagal ginjal kronik yang
menjalani hemodialisis sebanyak 30 responden
d. Kriteria Inklusi dan Kriteria Eksklusi
Inklusi : pasien gagal ginjal kronik di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru
Eksklusi : bukan pasien gagal ginjal kronik di RSUD Arifin Achmad
Pekanbaru
e. Identifikasi variabel
Bebas : pengaruh aromaterapi inhalasi lavender
Bebas : kecemasan pasien gagal ginjal kronik
f. Pengumpulan dan analisa data
Pengumpulan data dilakukan di ruang hemodialisis, RSUD Arifin
Achmad Pekanbaru. Responden terdiri dari dua kelompok. Kelompok
eksperimen yang menjalani hemodialisis hari senin dan kelompok
kontrol yang menjalani hemodialisis hari selasa. Responden yang telah
menandatangani informed consent akan mengisi kuesioner Zung Self-
Rating Anxiety Scale. Kelompok eksperimen selanjutnya diberikan
aromaterapi inhalasi lavender selama 5 menit sebanyak satu kali, dan
kelompok kontrol tidak diberikan aromaterapi inhalasi lavender. Setelah
5 menit kedua kelompok diukur kembali kecemasannya dengan
menggunakan kuesioner Zung Self-Rating Anxiety.
Analisa data pada penelitian ini adalah univariat dan bivariat. Analisa
univariat dilakukan untuk melihat karakteristik responden meliputi umur,
jenis kelamin, pendidikan terakhir, dan lama menjalani hemodialisis.
Analisa bivariat menggunakan dependent t test dan independent t test.
Dependent t test digunakan untuk melihat perbedaan rata-rata kecemasan
pre test dan post test. Independent t test digunakan untuk
membandingkan nilai kecemasan post test pada kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol.
5. Hasil penelitian
Hasil penelitian menunjukkan p value <0,05 yang berarti ada perbedaan
kecemasan antara kelompok eksperimen dan kontrol. Pada kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan pre test dan diperoleh nilai rata-
rata kecemasan responden adalah 48,00 dan 47,53. Kecemasan ini
merupakan respon psikologis yang lazim ditemukan pada pasien yang baru
beberapa bulan menjalani terapi hemodialisis.
6. Diskusi / Pembahasan
Aromaterapi merupakan salah satu terapi komplementer. Aromaterapi
memiliki efek menenangkan atau rileks untuk beberapa gangguan misalnya
mengurangi kecemasan, ketegangan dan insomnia. Terapi komplemeter dan
alternatif mempunyai hubungan dengan nilai praktek keperawatan, hal
tersebut dimasukkan dalam kepercayaan holistik manusia yaitu keperawatan
secara menyeluruh bio, psiko, sosial, spiritual, dan kultural yang tidak
dipandang pada keadaan fisik saja tetapi juga memperhatikan aspek lainnya
yang bertujuan untuk penekanan dalam penyembuhan (Adiyati, 2010).
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh
Anugerah (2011) tentang pengaruh pemberian aromaterapi lavender terhadap
tingkat kecemasan pada pasien pra operasi di Rumah Sakit Daerah
dr.Seobandi Jember juga menunjukkan aromaterapi lavender efektif dalam
menurunkan tingkat kecemasan.
7. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan responden berusia 41-60 tahun
dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan (56,7%) dan paling banyak
berpendidikan SMP (26,7%). Hasil penelitian juga didapatkan lama
menjalani hemodialisis adalah 5-8 bulan sebanyak 8 orang (53,3%). Pada
kelompok eksperimen terjadi penurunan kecemasan setelah diberikan
aromaterapi inhalasi lavender sebesar 4,33. Hasil analisa penurunaan ini
dengan menggunakan dependent t test diperoleh nilai p value= 0,000 (p<α=
0,05). Pada kelompok kontrol tidak terjadi penurunan tetapi peningkatan
nilai rata-rata kecemasan sebesar 0,86. Peneliti kemudian membandingkan
kedua kelompok ini dengan menggunakan independent t-test dengan hasil p
value= 0,000 (p<α= 0,05). Hasil ini membuktikan bahwa pemberian
aromaterapi inhalasi lavender efektif dalam menurunkan kecemasan pasien
gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan p value<α (0,05).
8. Implikasi Keperawatan dan Hasilnya
bidang keperawatan RSUD Arifin Achmad agar dapat menggunakan hasil
penelitian ini sebagai terapi non farmakologis untuk menurunkan kecemasan
pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, sehingga profesi
keperawatan bisa lebih maju lagi dalam bidang pemanfaatan hasil penelitian.