Anda di halaman 1dari 37

TUGAS PROSES INDUSTRI KIMIA

MAKALAH

WATER TREATMEN

Disusun oleh :
1. Nabila Rizki Amalia (122017016)

2. Windi Wulandari Rahmi (122017035)

Dosen Pembimbing : Netty Herawati ,ST

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PALEMBANG

JURUSAN TEKNIK KIMIA

TAHUN 2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang.


Air merupakan salah satu komponen lingkungan yang mempunyai peranan
yang cukup besar dalam kehidupan. Bagi manusia air berperan dalam kegiatan
pertanian, industri, dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Air yang digunakan
harus memenuhi syarat dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Kualitas air dapat
ditinjau dari segi fisik, kimia, dan biologi. Kualitas air yang baik tidak selamanya
tersedia di alam. Perkembangan industri dan permukiman dapat mengancam
kelestarian air bersih.
Tujuan dari semua proses pengolahan air yang ada adalah menghilangkan
Kontaminan dalam air, atau mengurangi konsentrasi kontaminan tersebut
sehingga menjadi air yang diinginkan sesuai kebutuhan (pengguna akhir) tanpa
merugikan dampak ekologis.

Proses-proses yang terlibat dalam pemisahan Kontaminan dapat


menggunakan Proses Fisik seperti menetap dan penyaringan Kimia seperti
Desinfeksi dan Koagulasi. Selain itu proses Biologi juga digunakan dalam
pengolahan air limbah, proses-proses ini dapat meliputi, mencampur dengan
Udara, diaktifkan Lumpur atau Saringan pasir padat.

1.2 Rumusan Masalah.


Adapun rumusan masalah dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan water treatment?
2. Mengapa perlu dilakukan water treatment?
3. Apa saja yang menjadi parameter pengolahan air?
4. Bagaimana proses pengolahan air?
1.3 Tujuan.
 Memahami definisi water treatment.
 Memahami perlunya water treatment.
 Menjelaskan parameter dalam Water Treatment.
 Memahami proses pengolahan air.

BAB II

PEMBAHASAN

2
2.1 Pengertian Water Treatment.
Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan cara –
cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan sesuai
kebutuhan. Water Treatment Plant adalah sebuah system yang difungsikan untuk
mengolah air dari kualitas air baku (influent) yang kurang bagus agar
mendapatkan kualitas air pengolahan (effluent) standart yang di
inginkan/ditentukan atau siap untuk di konsumsi.

Tabel 2.1 Batasan Air Limbah untuk Industri

Parameter Konsentrasi (mg/L)


COD 100 – 300
BOD 50 – 150
Minyak nabati 5 – 10
Minyak mineral 10 – 50
Zat padat tersuspensi (TSS) 200 – 400
pH 6.0 – 9.0
Temperatur 38 – 40 [oC]
Ammonia bebas (NH3) 1.0 – 5.0
Nitrat (NO3-N) 20 – 30
Senyawa aktif biru metilen 5.0 – 10
Sulfida (H2S) 0.05 – 0.1
Fenol 0.5 – 1.0
0.05 – 0.5
Sianida (CN)

Pada umumnya gangguan terhadap suatu peralatan/ sistem yang bermedia


air disebabkan oleh zat-zat pengotor dalam air yang disebut kontaminan.
Kontaminan tersebut dapat berbentuk gas, cair, padatan, dan mikroorganisme.

a. Kontaminan gas
Beberapa kontaminan gas seperti karbondoksida, sulfur dioksida, oksigen, dan
lain-lain. Air yang mengandung gas-gas tersebut bersifat korosif dalam
reaksinya terbentuk senyawa asam yang kemudian bereaksi dengan peralatan
dari logam dengan reaksi sebagai berikut.

3
CO2 + H2O H2CO3 + Fe FeCO3 + H2
SO2 + ½ O2 SO3
SO3 + H2O H2SO4 + Fe FeSO4 + H2
b. Kontaminan cair
Kandungan zat cair dalam air dapat berupa asam, seperti asam klorida (HCl),
asam sulfat (H2SO4) atau basa seperti ammonia cair (NH4OH), minyak/ lemak
yang berasal dari kebocoran air yang masuk ke dalam system. Kandungan asam
dan basa dalam air akan bersifat korosif.

c. Kontaminan padatan
Berdasarkan besarnya ukuran partikel padatan terlarut, maka kontaminan
padatan dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu: padatan terlarut (TDS), padatan
tersuspensi (TSS), an padatan sediment.

Padatan terlarut (TSS) terdiri dari senyawa organic dan anorganik yang larut
dalam air seperti kalsium karbonat, magnesium karbonat, kalsium sulfat,
magnesium sulfat, kalsium klorida, natrium silikat, dan lain-lain. Air yang
mengandung padatan terlarut sangat baik daya hantar listriknya.
Garam-garam kalsium dan magnesium menjadikan air bersifat sadah, dapat
menyebabkan kerak (CaCO3.CaSO4) dan defosit lumpur {(MgCO3.Mg(OH)2)}
pada pipa-pipa ketel uap (boiler).
CaCl2 + SO42- CaSO4 + 2Cl-
CaCl2 + CO32- CaCO3 + 2Cl-
MgSO4 + CO32- MgCO3 + SO42-
MgCl2 + CO32- MgCO3 + 2Cl-
MgCl2 + H2O Mg(OH)3 + 2HCl-
Garam natrium silikat ( Na2SiO3 ) dalam air panas akan terhidrolisa
menghasilkan asam silikat pada temperatur diatas 200ºC akan menjadi kristal
keras yang sangat padat, kecil dan rapat. Kristal ini yang menempelkan pada
pipa-pipa ketel uap. Silaka hanya dapat dihilangkan dengan alat penukar ion di
unit demin plant.

Padatan tersuspensi ( TSS ) menyebabkan air keruh, tidak larut, tidak dapat
mengendap langsung seperti tanah liat, koloid silikat. Koloid silikat sering lolos
dalam proses koagulasi sehingga proses penghilangannya dapat menggunakan
alat penukar ion.

Padatan Sedimen adalah padatan yang langsung mengendap jika air


didiamkan. Padatan yang mengendap tersebut terdiri dari partikel-partikel

4
padat yang berukuran lebih besar dari padatan tersusupensi, relative besar dan
berat, seperti pasir dan lumpur. Padatan sering menimbulkan erosi pada
material dan menyumbat aliran air.

d. Kontaminan mikroorganisme
Kontaminan mikroorganisme seperti ganggang, lumut, jamur dan bakteri dapat
tumbuh dengan baik pada system air pendingin “open circuit”. Mikroorganisme
jenis ganggang dan lumut dapat menyumbat saringan-saringan air pendingin,
tube-tube kondensor, pompa-pompa dan mengurangi kecepatan pertukaran
panas. Bakteri merupakan salah satu jenis mikroorganisme dalam air yang
dapat merusak bangunan-bangunan menara pendingin yang terbuat dari beton.
2.2 Tujuan dari Water Treatment.
Water Treatment secara umum bertujuan untuk mengelolah air hasil
buangan dari proses industri dimana pengelolahan itu dimaksudkan supaya air
buangan industry itu tidak mencemari lingkungan atau bisa digunakan kembali
untuk proses industri dengan cara menghilangkan kontaminan atau memurnikan
kembali air tersebut.
2.3 Parameter dalam Water Treatment.
2.3.1 Parameter Fisik.
Parameter fisik air biasanya di lihat dari unsur yang berhubungan dengan
indra manusia seperti penglihatan, sentuhan, rasa dan penciuman, yang meliputi
Turbidity (kekeruhan), warna, bau, rasa dan suhu. Sistem pengolahan yang biasa
di gunakan adalah Sistem Sedimentasi (Pengendapan), Filtrasi dan penambahan
desinfektan.
2.3.2 Parameter Kimia.
Senyawa kimia yang sering di temukan pada air adalah Fe, Mn, Ca, Mg,
Na, SO4, CO3. Jika air memiliki kandungan senyawa kimia yang berlebihan
(tidak masuk standart konsumsi yang aman), Pengolahan dapat dilakukan dengan
sistem filtrasi dengan menggunakan media tertentu misalnya system Reverse
Osmosis atau Demineralier dan Softener.
2.3.3 Parameter Biologi.
Parameternya dilihat berdasarkan adanya mikroorganisme yang ada di
dalam air. Bila jumlah mikroorganisme di dalam air berlebihan biasanya akan

5
mengganggu kesehatan bila di konsumsi. Pengolahan dapat dilakukan dengan
menggunakan desinfektan atau alat yang biasa digunakan, misalnya injeksi Chlor,
System UV dan System Ozone (O3).
2.4 Proses Pengolahan Air pada Water Treatment.
Water treatment merupakan proses pengolahan air dimana air tersebut diolah
untuk menghilangkan kontaminan yang ada didalamnya. Proses pengolahan
air ini dibagi menjadi tiga proses yaitu :
 Pengolahan air secara kimia
 Pengolahan air secara fisika
 Pengolahan air secara biologi

2.4.1. Pengolahan air secara kimia


 Koagulasi dan Flokulasi
Benda-benda tersuspensi dalam air dapat berupa bahan-bahan kasar yang
dapat mengendap sampai pada bahan-bahan koloid lembut. Bahan-bahan
tersebut dapat bersatu dan mengendap dan disatukan menjadi lebih besar dengan
bantuan bahan penggumpal. Kumpulan benda-benda besar tersebut akan tertinggal
di dasar sedimentasi dan dihilangkan dengan cara penyaringan (filtrasi). Langkah-
langkah proses koagulasi dan flokulasi sebagai berikut :
1. Bahan kimia penggumpal dimasukkan ke dalam air, supaya bahan kimia
tersebut bereaksi secara seragam, bahan tersebut harus ditaburkan secara
merata . Hal ini memerlukan pengadukkan yang cepat atau pencampuran
dengan air pada titik dimana penggumpalan ditambahkan.
2. Rekasi-reaksi kimia dan kimia fisik dan perubahan-perubahan yang terjadi
mengarahkan pada koagulasi dan pembentukan partikel-partikel berukuran
mikroskopis.
3. Pengadukan perlahan-lahan menyebabkan penyatuan pertikel-partikel
menjadi kumpulan yang dapat terendapkan.

6
Gambar 1. Proses Koagulasi,Flokulasi,dan Filtrasi

 Proses Pelunakan dan Demineralisasi


Proses softening ( pelunakan ) bertujuan untuk mengurangi kadar
kesadahan air yang biasanya digunakan sebagai air umpan boiler. Proses softening
dilakukan dengan 2 cara, yaitu : preaifitasi kimia dan pertukaran ion. Presipitasi
kimia dilakukan dengan cara mengubah kesadahan kalsium dan magnesium yang
mempunyai kelarutan kecil menjadi kalsium karbonat dan magnesium hidroksida
yang mempunyai kelarutan besar. Presipitasi kimia dilakukan dengan 2 cara
pengolahan, yaitu : Proses Kapur Soda Abu dan Proses Soda Kaustik.

Gambar 2. Bagan Proses Demineralisasi


 PROSES KAPUR SODA ABU

7
Proses presipitasi kimia dengan Kapur Soda Abu mampu mengubah
bentuk kesadahan karbonat (CH) dan magnesium non karbonat (MgNCH)
menjadi spesies terendapkan dengan bantuan penambahan kapur (CaO). Spesies
hasil reaksi tersebut merupakan bentuk padatan terendapkan ( disimbolkan dengan
s ) yang mempunyai densitas cukup untuk melakukan pengendapan secara
gravitas. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

Ca2+ + 2 (HCO3)-+ CaO + H2O  2 CaCO3(s) + 2 H2O

Mg2+ + 2 (HCO3)-+ CaO + H2O  CaCO3(s) + Mg2+ + CO32-

Mg2+ + CO32- + CaO + H2O  CaCO3(s) + Mg(OH)2(s)

 PROSES SODA KAUSTIK

Semua bentuk senyawa sadah dapat diubah menjadi bentuk yang


terendapkan dengan penambahan soda kaustik (NaOH). Reaksi yang terjadi pada
proses soda kaustik sebagai berikut :

Ca2+ + 2 (HCO3)- + 2 NaOH  CaCO3 + 2 Na+ + CO32- + 2 H2O

Mg2+ + 2 (HCO3)- + 4 NaOH  Mg(OH)2 + 4 Na+ + 2 CO32- + 2 H2O

Mg2+ + SO42- + 2 NaOH  Mg(OH)2 + 2 Na+ + SO42-

Rangkaian reaksi tersebut menghasilkan senyawa soda abu (Na 2CO3) yang
digunakan untuk bereaksi dengan calcium non carbonat hardness (NaNCH).

Tabel 2.2 Dosis Bahan Kimia Untuk Softening (Lb/Million Gallon)

Sumber Proses Kapur Soda Proses Soda


CaO sebagai CaO Na2CO3 Kaustik
CO2 10,61 Tidak Ada 15,16
Ca CH 4,67 Tidak Ada 6,67
Mg CH 9,34 Tidak Ada 13,34
Mg NCH 4,67 8,84 6,67
Ca CH Tidak Ada 8,84 Tidak Ada
Dosis stoikometri bahan kimia murni dari sumber 1 mg/l sebagai CaCO 3
kecuali CO2 1 lb/million gallon = 1,2 x 10-4 kg/m3

8
 Pertukaran Ion

Adalah suatu alat untuk mengambil ion – ion kontaminan air oleh resin –
resin dan menukarnya dengan ion – ion hydrogen (H+) dan ion – ion hidroksil
(OH- ) sehingga diperoleh air murni. Resin adalah bahan polimer sintesis yang
mengandung ion – ion hydrogen sebagai resin kation dan ion – ion hidroksil
sebagai resin anion.

Resin memiliki batas kemampuan dalam melakukan pertukaran ion.


Apabila telah mencapai batasnya, maka resin tersebut telah jenuh dan harus di
aktifkan kembali melalui regenerasi dan injeksi bahan – bahan kimia. Alat
penukar ion terdiri dari alat penukar kation dan alat penukar anion.

Gambar 3. Ion Exchanger

Alat Penukar Kation adalah suatu alat berbentuk silinder yang berisi
resin kation, berfungsi untuk menukar ion – ion positif dari kontaminan air.

9
Contoh : kontaminan air adalah garam NaCl, reaksinya
Na+Cl- + R-H+  Na+R- + H+Cl-

Reaksi yang terjadi pada proses pertukaran kation, yaitu :


2 R – H + Ca(HCO3)2  R2 – Ca + 2 H2CO3
2 R – H + CaSO4  R2 – Ca + H2SO4
2 R – H + CaCl2  R2 – Ca + 2 NaCl
2 R – H + Mg(HCO3)2  R2 – Mg + 2 H2CO3
2 R – H + MgSO4  R2 – Mg + H2SO4
2 R – H + MgCl2  R2 – Mg + 2 HCl

Urutan penukaran oleh resin pertukaran kation: Ca2+, Mg2+, K dan Na.

Alat Penukar Anion : adalah suatu berbentuk silinder yang berisi resin anion,
berfungsi untuk menukar ion-ion negatif don kontaminan air, Contoh; kontaminan
air adalah keluaran alat penukar kation HCI. Rekasinya sebagai berikut :

H+ CI- + R+ OH- R+ CI- + H2O

Hasil keluaran dari penukar kation adalah bersifat asam. Ion positif pada
resin anion akan menangkap ion negatif dari senyawa asam sehingga produk akhir
adalah air murni yang babas mineral, Reaksinya sebagai berikut :
2 R - OH + H2CO3 R2 - CO3 +2 H2O
2R - OH + H2SO4 R2 -SO4 + 2 H2O
2R - OH + H2(SiO2) R2__SiO2 +2 H2O
Urutan penukaran oleh resin penukar anion adalah: SO42-, CI-, HCO3- HSiO2- ,
Hasil penukaran ion baik kation dan anion terkadang tidak berlangsung
100 %. Idealnya setelah melewati penukar kation dan anion, air tidak lagi
mengandung kontaminan. Tetapi kenyataannya masih ada ion-ion kontaminan air
yang lolos dari penukar kation dan anion.

Mixed bed: adalah suatu alat berbentu silinder yang berisi campuran resin
kation dan resin anion, berfungsi untuk menangkap kation dan anion yang lolos
dari tangkapan penukar lotion dan peaukar anion. Keseluruhan reaksi terjadi pada
satu silinder. Dengan dilengkapi mixed bed diharapkan akan diperoleh air dengan
kemurnian tinggi.

10
Gambar 4. Mixed Bed

Degasser : adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengeluarkan gas-gas


kontaminan yang terlarut dalam air pada proses penukaran ion. Degasses biasanya
dipasang setelah alat penukar ion dan sebelum slat penukaran ion.

Gambar 5. Degasser

Resin Penukar Ion

11
Resin sebagai penukar ion memiliki kapasitas yang terbatas. Bila kapasitas
kapasitas ion sudah terlampaui, penuler ion tidak lagi mampu menangkap ion-ion
kontaminan air. Dalam keadaan watt, ini resin penukar ion dikatakan sudah jenuh
dan harus diregenerasi.
Kejenuhan Resin
Ada 2 cara yang dipakai untuk menentukan indikasi kejenuhan resin:
 Berdasarkan “couter flow”; yaitu dengan cara mengukur kuantitas air yang
telah diproses oleh resin penukar ion.
 Berdasarkan kualitas air yaitu dengan cara mengukur kualitas air yang telah
diproses oleh resin penukar ion. Parameter yang digunakan adalah
konduktivitas dan kadar silikat.
Regenerasi Resin
Agar resin penukar ion yang telah jenuh dapat berfungsi kembali perlu
diregenerasi . Regenerasi adalah suatu proses untuk menginaktifkan kembali resin
penukar ion yang telah jenuh menggunakan bahan kimia sebagai
larutanregenerasi.
Langkah-Langkah Regenerasi Resin
1. Back washing: berfungsi untuk membilas mesin dengan cara membalik
arah aliran air. Maksudnya untuk merenggangkan resin yang dalam
keadaan mampat serta membersihkan kotoran dari permukaan resin.
Pembukaan katup harus perlahan-lahan untuk menghindarkan rusaknya
resin (chanelling).
2. Dilute water. Berfungsi untuk membilas sisa-sisa kotoran yang masi ada
dari hasil back washing dengan arah aliran normal. Maksudnya adalah
sipaya pada saat pemberian bahan kimia tidak terganggu oleh kotoran-
kotoran.
3. Regenerasi (pemberian bahan kimia): setelah di “back washing” dan
“dilute water”, resin menjadi renggang dan bersih sehingga permukaan
kontak antara resin mejadi lebih luas. Regenerasi dilakukan dengan
mengalirkan air dan bahan regenerasi (HCI untuk kation dan NaOH untuk
anion pada konsentrasi tertentu) dengan arah aliran normal. Regenerasi
dilakukan sampai larutan regenerai habis.

12
4. Slow Rinse : Pencuci lambat dilakukan dengan cara mengalirkan air
dengan arah aliran normal secara perlahan-lahan. Hal ini dimaksutkan
agar bahan kimia regenerasi berdifusi secara sempurna ke dalam resin.
5. Fast Rinse: Dilakukan sama seperti pencucian lambat, tetapi dengan laju
alir yang lebih besar. Maksudnya untuk membuang sisa-sisa bahan kimia
regenerant. Pencucian cepat terus dilakukan sampai hasil airnya sesuai
dengan standar yang telah diterapkan.

Proses Regenerasi Kation


Regenerasi kation adalah proms pengendalian resin yang telah
menangkap kontaminan air untuk ditukar kembali dengan ion hidrogen
dengan cara menginjeksikan bahan kimia HCI. Contoh reaksi yang terjadi
pada proses regenerasi kation untuk ion yang ditangkap adalah Na+, yaitu:

Na+ R- + H+ CI- Na+ Cl- + R- H+ (resin aktif kembali)

Proses Regenerasi Anion

Regenerasi anion adalah proses pengembalian resin yang telah menangkap


kontaminan air untuk ditukar kembali dengan ion hidroksil dengan cara
menginjeksikan bahan kimia NaOH. Contoh reaksi yang terjadi pada proses
regenerasi anion untuk ion yang ditangkap adalah SiO2, yaitu :
R2 – SiO2 + 2 NaOH Na2 – SiO2 + 2 R – OH (resin aktif kembali)

Akibat Kegagalan Regenerasi


Kegagalan proses regenerasi perlu dihindari karena akan menyebabkan
inefisiensi. Seberapa dampak akibat kegagalan proses regenerasi yaitu:
 Berdampak langsung pada pemakaian bahan kimia, Bahan yang
diinjeksikan akan tebuag percuma dan akan menyebabkan pemborosan
bahan kimia
 Meningkatnya pemakaian air karena dipakai untuk proses pencucian
dan pembilasan regenerasi.
 Lamanya waktu untuk mengulangi regenerasi yang seharusnya tidak
dilakukan, Waktu yang semestinya setelah regenerasi dapat

13
dmanfaatkan untuk memproduksi air demin.
 Meningkatnya biaya lain karena pemakaian listrik untuk pompa-pompa,
tenaga operator, dan lain-lain.
Regenerasi Mixed Bed
Miked bed terdiri dari dua macam resin, maka regenerasinya dilakukan
untuk masing-masing resin secara bergantian. Resin anion terletak pada bagian
atas dari resin kation karena perbedaan berat jenis. Bahan kimia regenerant yang
digunakan adalah NaOH untuk resien anion dan KCI untuk resin kation.
Langkah-Langkah Regenerasi Mixed Bed
 Normal operation
 Back washing
 Regenerasi (pemberian bahan kimia)
 Air blowing
 Fast rinse
Air blowing adalah pemberian udara mengguanakan kompresor ke resin
dengan arah berlawanan. Tujuannya supaya resin tergelembung dan bercampur
aduk dengan baik. Pada langkah ini akan terlihat pemisahan resin anion pada
bagian atas karena berat jenisnya.

2.4.2. Pengolahan air secara fisika


 Sedimentasi
Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam
limbah cair oleh gaya gravitasi, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan
setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dimana tujuannya adalah untuk
memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam
dalam waktu lebih singkat.

Sedimentasi bisa dilakukan pada awal maupun pada akhir dari unit sistim
pengolahan. Jika kekeruhan dari influent tinggi,sebaiknya dilakukan proses
sedimentasi awal (primary sedimentation) didahului dengan koagulasi dan
flokulasi, dengan demikian akan mengurangi beban pada treatment berikutnya.
Sedangkan secondary sedimentation yang terletak pada akhir treatment gunanya
untuk memisahkan dan mengumpulkan lumpur dari proses sebelumnya (activated

14
sludge, OD, dlsb) dimana lumpur yang terkumpul tersebut dipompakan keunit
pengolahan lumpur tersendiri.

Sedimen dari limbah cair mengandung bahan bahan organik yang akan
mengalami proses dekomposisi, pada proses tersebut akan timbul formasi gas
seperti carbon dioxida, methane, dlsb. Gas tersebut terperangkap dalam partikel
lumpur dimana sevvaktu gas naik keatas akan mengangkat pule partikel lumpur
tersebut, proses ini selain menimbulkan efek turbulensi juga akan merusak
sedimen yang telah terbentuk. Pada Septic-tank, Imhoff-tank dan Baffle-reactor,
konstruksinya didesain sedemikian rupa guna menghindari efek dari timbulnya
gas supaya tidak mengaduk/merusak partikel padatan yang sudah mapan (settle)
didasar tangki, sedangkan pada UASB (Uplift Anaerobic Sludge Blanket)justru
menggunakan efek dari proses tersebut untuk mengaduk aduk partikel lumpur
supaya terjadi kondisi seimbang antara gaya berat dan gaya angkat pada partikel
lumpur, sehingga partikel lumpur tersebut melayang-layang/mubal mubal.

Setelah proses dekomposisi dan pelepasan gas, kondisi lumpur tersebut


disebut sudah stabil dan akan menetap secara permanen pada dasar tangki,
sehingga sering juga proses sedimentasi dalam waktu yang cukup lama disebut
dengan proses Stabilisasi. Akumulasi lumpur (Volume) dalam periode waktu
tertentu(desludging-interval) merupakan parameter penting dalam perencanaan
pengolahan limbah dengan proses sedimentasi dan stabilisasi lumpur.

Gambar 6. Proses Sedimentasi

 Filtrasi

15
Filtrasi adalah proses penyaringan air melalui media pasir atau bahan sejenis
untuk memisahkan partikel flok atau gumpalan yang tidak dapat mengendap, agar
diperoleh air yang jernih.
Penyaring adalah pengurangan lumpur tercampur dan partikel koloid dari
air limbah dengan melewatkan pada media yang porous. Kedalaman penyaringan
menentukan derajat kebersihan air yang disaringnya pada pengolahan air untuk
minum.
Mekanisme yang dilalui pada filtrasi:
1. Air mengalir melalui penyaring glanular
2. Partikel-partikel tertahan di media penyaring
3. Terjadi reaksi-reaksi kimia dan biologis
Filtrasi yang berfungsi sebagai tempat proses penyaringan butir-butir yang
tidak ikut terendap pada bak sedimentasi dan juga berfungsi sebagai penyaring
mikroorganisme atau bakteri yang ikut larut dalam air. Bangunan filtrasi biasanya
menggunakan pasir silica yang berwarna hitam yang memiliki ketebalan yang
berbeda dan juga kerikil. Pasir ini digunakan karena lebih berat dan lebih
menempel flok-floknya.

Gambar 7. Proses Filtrasi

2.4.3. Pengolahan air secara biologi


 Ticking Filter
Pengolahan air dengan cara trickling filter merupakan proses pengolahan
air dengan cara meyebarkan air kedalam suatu tumpukan unggun atau
media yang terdiri dari bahan batu pecah atau kerikil, bahan keramik, sisa

16
tanur (slag), medium dari bahan plastic atau lainnya. Dengan cara
demikian maka pada permukaan medium akan tumbuh lapisan biologis
(biofilm), seperti lender, dan lapisan biologis tersebut akan kontak dengan
air dan akan menguraikan senyawa polutan yang ada di dalam air limbah.

Gambar 8. Trickling Filter


 Rotating biological contractor

Rotating Biological Contactors(RBCs) adalah teknologi pengolahan


limbah secara biologi yang menggunakan biofilm sebagai tempat tumbuh
mikroorganisme. RBCs berbentuk tangki horisontal setengah lingkaran,
didalamnya terdapat sejumlah cakram (disc) yang dirangkai secara paralel dengan
jarak yang berdekatan. Biofilm akan terbentuk dan tumbuh menempel pada
permukaan cakram. Cakram akan berputar dengan kecepatan tertentu. RBC terdiri
dari cakram (disc) yang tersusun secara seri dengan jarak antar cakram yang
relatif dekat.

Reaktor biologis putar (rotating biological contactor) disingkat RBC


adalah salah satu teknologi pengolahan air limbah yang mengandung polutan
organik yang tinggi secara biologis dengan sistem biakan melekat (attached
culture). Prinsip kerja pengolahan air limbah dengan RBC yakni air limbah yang
mengandung polutan organik dikontakkan dengan lapisan mikro-organisme
(microbial film) yang melekat pada permukaan media di dalam suatu reaktor.

17
Media tempat melekatnya film biologis ini berupa piringan (disk) dari
bahan polimer atau plastik yang ringan dan disusun dari berjajar-jajar pada suatu
poros sehingga membentuk suatu modul atau paket, selanjutnya modul tersebut
diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air limbah yang
mengalir secara kontinyu ke dalam reaktor tersebut.

Dengan cara seperti ini mikro-organisme miaslanya bakteri, alga, protozoa,


fungi, dan lainnya tumbuh melekat pada permukaan media yang berputar tersebut
membentuk suatu lapisan yang terdiri dari mikro-organisme yang disebut biofilm
(lapisan biologis). Mikro-organisme akan menguraikan atau mengambil senyawa
organik yang ada dalam air serta mengambil oksigen yang larut dalam air atau
dari udara untuk proses metabolismenya, sehingga kandungan senyawa organik
dalam air limbah berkurang.

Pada saat biofilm yang melekat pada media yang berupa piringan tipis
tersebut tercelup kedalam air limbah, mikro-organisme menyerap senyawa
organik yang ada dalam air limbah yang mengalir pada permukaan biofilm, dan
pada saat biofilm berada di atas permuaan air, mikro-organisme menyerap okigen
dari udara atau oksigen yang terlarut dalam air untuk menguraikan senyawa
organik. Enegi hasil penguraian senyawa organik tersebut digunakan oleh mikro-
organisme untuk proses perkembang-biakan atau metabolisme.

Senyawa hasil proses metabolisme mikro-organisme tersebut akan keluar


dari biofilm dan terbawa oleh aliran air atau yang berupa gas akan tersebar ke
udara melalui rongga-rongga yang ada pada mediumnya, sedangkan untuk
padatan tersuspensi (SS) akan tertahan pada pada permukaan lapisan biologis
(biofilm) dan akan terurai menjadi bentuk yang larut dalam air.

Pertumbuhan mikro-organisme atau biofilm tersebut makin lama semakin


tebal, sampai akhirnya karena gaya beratnya sebagian akan mengelupas dari
mediumnya dan terbawa aliran air keluar. Selanjutnya, mikro-organisme pada
permukaan medium akan tumbuh lagi dengan sedirinya hingga terjadi
kesetimbangan sesuai dengan kandungan senyawa organik yang ada dalam air
limbah.

18
Gambar 9. Rotating Biological Contractor

Gambar 10. Diagram Proses RBC

Bak Pemisah Pasir

19
Air limbah dialirkan dengan tenang ke dalam bak pemisah pasir, sehingga
kotoran yang berupa pasir atau lumpur kasar dapat diendapkan. Sedangkan
kotoran yang mengambang misalnya sampah, plastik, sampah kain dan lainnya
tertahan pada sarangan (screen) yang dipasang pada inlet kolam pemisah pasir
tersebut.

Bak Pengendap Awal


Dari bak pemisah/pengendap pasir, air limbah dialirkan ke bak pengedap
awal. Di dalam bak pengendap awal ini lumpur atau padatan tersuspensi sebagian
besar mengendap. Waktu tinggal di dalam bak pengedap awal adalah 2 - 4 jam,
dan lumpur yang telah mengendap dikumpulkan daan dipompa ke bak
pengendapan lumpur.
Bak Kontrol Aliran
Jika debit aliran air limbah melebihi kapasitas perencanaan, kelebihan debit
air limbah tersebut dialirkan ke bak kontrol aliran untuk disimpan sementara. Pada
waktu debit aliran turun / kecil, maka air limbah yang ada di dalam bak kontrol
dipompa ke bak pengendap awal bersama-sama air limbah yang baru sesuai
dengan debit yang diinginkan.
Kontaktor (reaktor) Biologis Putar
Di dalam bak kontaktor ini, media berupa piringan (disk) tipis dari bahan
polimer atau plastik dengan jumlah banyak, yang dilekatkan atau dirakit pada
suatu poros, diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke dalam air
limbah. Waktu tinggal di dalam bak kontaktor kira-kira 2,5 jam. Dalam kondisi
demikian, mikro-organisme akan tumbuh pada permukaan media yang berputar
tersebut, membentuk suatu lapisan (film) biologis. Film biologis tersebut terdiri
dari berbagai jenis/spicies mikro-organisme misalnya bakteri, protozoa, fungi, dan
lainnya. Mikro-organisme yang tumbuh pada permukaan media inilah yang akan
menguraikan senaywa organik yang ada di dalam air limbah. Lapsian biologis
tersebut makin lama makin tebal dan kerena gaya beratnya akan mengelupas
dengan sedirinya dan lumpur orgnaik tersebut akan terbawa aliran air keluar.
Selanjutnya laisan biologis akan tumbuh dan berkembang lagi pada permukaan
media dengan sendirinya.

20
Bak Pengendap Akhir
Air limbah yang keluar dari bak kontaktor (reaktor) selanjutnya dialirkan
ke bak pengendap akhir, dengan waktu pengendapan sekitar 3 jam. Dibandingkan
dengan proses lumpur aktif, lumpur yang berasal dari RBC lebih mudah
mengendap, karena ukurannya lebih besar dan lebih berat. Air limpasan (over
flow) dari bak pengendap akhir relaitif sudah jernih, selanjutnya dialirkan ke bak
khlorinasi. Sedangkan lumpur yang mengendap di dasar bak di pompa ke bak
pemekat lumpur bersama-sama dengan lumpur yang berasal dari bak pengendap
awal.
Bak Khlorinasi
Air olahan atau air limpasan dari bak pengendap akhir masih mengandung
bakteri coli, bakteri patogen, atau virus yang sangat berpotensi menginfeksi ke
masyarakat sekitarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, air limbah yang keluar dari
bak pengendap akhir dialirkan ke bak khlorinasi untuk membunuh mikro-
organisme patogen yang ada dalam air. Di dalam bak khlorinasi, air limbah
dibubuhi dengan senyawa khlorine dengan dosis dan waktu kontak tertentu
sehingga seluruh mikro-orgnisme patogennya dapat di matikan. Selanjutnya dari
bak khlorinasi air limbah sudah boleh dibuang ke badan air.
Bak Pemekat Lumpur
Lumpur yang berasal dari bak pengendap awal maupun bak pengendap
akhir dikumpulkan di bak pemekat lumpur. Di dalam bak tersebut lumpur di aduk
secara pelan kemudian di pekatkan dengan cara didiamkan sekitar 25 jam
sehingga lumpurnya mengendap, selanjutnya air supernatant yang ada pada
bagian atas dialirkan ke bak pengendap awal, sedangkan lumpur yang telah pekat
dipompa ke bak pengering lumpur atau ditampung pada bak tersendiri dan secara
periodik dikirim ke pusat pengolahan lumpur di tempat lain.
TEKNIK-TEKNIK PENGOLAHAN AIR ASIN MENJADI AIR TAWAR
Proses mengolah air asin/payau menjadi air tawar atau sering dikenal
dengan istilah desalinasi dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) macam yaitu:
1. Proses destilasi (suling)

21
Proses destilasi memanfaatkan energi panas untuk menguapkan air asin.
Uap air tersebut selanjutnya didinginkan menjadi titik-titik air dan hasil
ditampung sebagai air bersih yang tawar.
2. Proses penukar ion
Pada tahun 1852, Way menemukan bahwa menghilangkan ammonia dalam
larutan air yang meresap melalui tanah sesungguhnya berupa pertukaran ion
dengan kalsium yang terkandung di dalam sejenis silica tertentu dalam tanah.
Dewasa ini penukaran ion sudah menjadi proses konversi kimia yang sangat
bermanfaat. Proses ini digunakan secara luas dan skala besar di industry (Nur
Alimah, 2008)
Teknik penukar ion memanfaatkan proses kimiawi untuk memisahkan
garam dalam air. Pada proses ini ion garam (Na Cl) ditukar dengan ion seperti
Ca+2 dan SO4-2. Materi penukar ion berasal dari bahan alam atau sintetis. Materi
penukar ion alam misalnya zeolit sedangkan yang sintetis resin (resin kation dan
resin anion).
Proses pertukaran ion merupakan reaksi kimia yang ionnya terhidrata dan
bersifat mobil bergerak di dalam zat padat, dipertukarkan atas dasar ekuivalen
dengan ion yang bermuatan sama yang terdapat di dalam larutan. Zat padat
mempunyai struktur seperti jala terbuka dan ion yang bergerak itu menetralisir
muatan, atau muatan potensial, gugus yang terpasang di dalam matriks zat padat
itu disebut penukar ion.
a) Pertukaran kation
Pertukaran kation berlangsung bila kation yang bergerak dan bermuatan posirif
terikat pada gugus yang bermuatan negative di dalamnya penukar ion saling
bertukar dengan kation lain terdapat di dalam larutan.
b) Pertukaran anion
Proses pertukaran ion berlangsung bila anion bergerak, bermuatan negatif yang
melekat pada gugus bermuatan positif di dalam resin, penukar kalor saling
bertukar dengan anion di dalam larutan.
3. Proses filtrasi.
Proses ketiga ini lebih dikenal dengan sistem osmose balik (Reverse
Osmosis). Reverse Osmosis adalah salah satu teknologi pengolahan air asin

22
menjadi air tawar yang paling sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan air
minum. Keistimewaan dari proses ini adalah mampu nyaring molekul yang lebih
besar dari molekul air.
Dalam proses filtrasi atau teknologi membran dikenal elektrodialisis dan
reverse osmosis. Dari dua teknologi membran tersebut reverse osmosis yang
paling sering dipakai saat ini.
Pada tahun 1748, Ilmuwan Perancis Abbe Nollett, menemukan peristiwa
osmosis yang alami. Proses ini terjadi ketika aliran cairan melalui suatu membran
semi-permeable ke larutan konsentrat yang kemudian airnya menjadi tawar. Lebih
dari 200 tahun kemudian, peristiwa ini telah dikenali sebagai cara untuk mengolah
air asin, air payau, atau air yang berwarna.
Cara Kerja Reverse Osmosis: Daya penggerak di belakang reverse osmosis
memberikan tekanan hidrostatik yang berbeda. Tanpa adanya pengaruh dari
tekanan luar, air asin seperti yang terlihat pada gambar akan menerobos membran
untuk menetralkan/menawarkan air yang mengandung garam melalui proses
osmosis. Perbedaan pada permukaan air dalam kaitan dengan perpindahan ini
disebut dengan osmotic pressure head, dan tekanan hidrostatik yang menyebabkan
kenaikan pada permukaan air adalah osmotic pressure. Dalam beberapa kasus air
laut yang mempunyai kandungan garam tinggi, tekanan osmotis dapat menjadi
sebesar 1000 psi.

MESIN YANG DIGUNAKAN DALAM PENGOLAHAN AIR ASIN


MENJADI AIR TAWAR
Evaporator
Perusahaan industri berat mengembangkan mesin uap(evaporator) terbesar
untuk pabrik unutk mengolah air laut menjadi air tawar. Doosan, perusahaan
Industri berat dan konstruksi, menyelesaikan proyek pembangunan pabrik itu dan
mengadakan upacara untuk meresmikan pengakutan evaporator ke Kuweit dengan
kapal pada tanggal 9 Mei. Doosan berhasil memproleh pesanan sebesar 370 juta
dolar melalui kontrak dengan departmen energi di Saniya, Kuweit untuk
menyuplai evaporator untuk pabrik pengolah air tawar.

23
Evaporator itu berukuran : lebarnya 104 M, panjang 25 M, tinggi 9.2 M
dan beratnya 3,630 ton.
Apakah evaporator untuk mengolah air.
Pengolah air tawar : Evaporator adalah sistem utama bagi pabrik untuk
mengolah air laut menjadi air tawar. Ladang garam memproduksi garam melalui
proses penguapan air laut. Sebaliknya, air bersih akan diproduksi, dengan
menghilangkan garam dari air laut. Evapotrator untuk mengolah air laut
dirancangan untuk mengumpulkan uap yang terjadi di dalam proses penguapan.
Untuk produksi garam, air akan dikumpulkan dan dikeringkan saja di halaman
terbuka. Tetapi pengolahan air laut untuk menjadi air tawar adalah proses rumit
yang membutuhkan fasilitas raksasa.
Pengumpulan air
Penguapan dengan multi guna : Air laut akan direbuskan untuk penguapan.
Uap itu akan terkumpul maka menjadi air tawar. Teknologi itu biasanya digunakan
untuk pabrik pengolah air laut sekala besar.
Cara tekanan peresapan (osmosis) dengan arah balik: Cara untuk
mengurangi dan menghapus rasa asin air laut. Teknologi ini digunakan untuk
pabrik pengolah air laut sekala menengah dan kecil.
Proses Pengolahan Air Laut

Air laut telah menjadi bahan baku produksi air bersih bahkan sejak 60-an tahun
yang lalu melalui proses desalinasi. Desalinasi air laut merupakan istilah umum
yang menggambarkan penyisihan kandungan garam dan pengotor lainnya yang
secara alami terdapat pada air laut.Proses produksi air bersih dengan metode
desalinasi dilakukan melalui beberapa tahapan, meliputi: pengambilan air laut,
pengolahan awal air laut, proses pemisahan garam, dan pengolahan akhir.

Pengambilan air laut

Tahapan paling awal dalam proses desalinasi adalah pengambilan air laut sebagai
bahan baku proses. Metode yang umum dilakukan adalah dengan pemasangan
pipa kearah laut hingga jarak beberapa kilometer dari pantai. Hal ini dilakukan
untuk memperoleh air laut dengan kualitas baik yang terhindar dari pergerakan

24
sedimen permukaan yang umumnya terjadi pada laut kedalaman dangkal. Laju alir
pengambilan air laut dilakukan secara lambat untuk mencegah masuknya biota
laut ke dalam pipa.

metode pengambilan air laut dengan pipa

Metode diatas menjadi pilihan utama karena kemudahan pemasangan sistem.


Namun, dalam hal kinerja, teknik tersebut sangat sensitif dengan perubahan
kondisi air laut yang terjadi seiring dengan perubahan musim dan iklim.
Pencegahan biota laut untuk masuk ke dalam sistem juga tidak seefektif yang
diharapkan.

pengambilan air laut dengan beach well – dari http://www.scwd2desal.org

25
Metode alternatif yang sedang ramai diperbincangkan adalah dengan
memanfaatkan kondisi geologi lokal pantai untuk menyaring air laut dengan
sistem sumur (beach wells). Dengan metode ini, air laut diekstraksi dari lapisan
bawah permukaan (subsurface) pantai. Selain itu, teknologi yang sedang
dikembangkan adalah tipe gallery dengan struktur menyerupai penyaringan pasir
yang dipasang di permukaan bawah laut (seabed) untuk mendapatkan bahan baku
dengan kualitas tinggi. Metode-metode diatas tercakup dalam sistem subsurface
intake.

pengambilan air laut dengan gallery – dari http://www.scwd2desal.org

Pengolahan awal

Pengolahan awal bertujuan untuk mengkondisikan bahan baku, dalam hal


kandungan pengotor, agar ramah bagi proses utama desalinasi. Pengotor yang
biasa terkandung dalam air laut mencakup makromolekul (pasir dan biota laut
termasuk ikan, alga dll.) dan mikromolekul (unsur penyebab sedimentasi,
kristalisasi dan fouling). Teknik yang dilakukan pada umumnya mencakup
koagulasi-flokulasi-sedimentasi (coagulation-flocculation-sedimentation),
membrane tekanan rendah (low pressure membrane), penyaringan dengan media
(media filter) dan catridge filter.

26
contoh rangkaian proses pengolahan awal – dari http://www.wateronline.com

Proses pengolahan awal menjadi kunci penting lancarnya proses desalinasi karena
menentukan stabilitas dan kinerja proses dengan semakin tingginya kualitas air
umpan. Dari segi ekonomi, proses pengolahan awal terhitung hampir mencapai
30% dari keseluruhan biaya proses. Penghematan biaya dalam proses pengolahan
awal sangat mungkin dilakukan dengan aplikasi alternatif pengambilan air laut
seperti yang dijelaskan sebelumnya. Dengan bahan baku yang kualitasnya lebih
baik saat, proses pengolahan awal akan lebih ringan sehingga mengurangi
konsumsi bahan kimia proses serta mengurangi jumlah peralatan proses dan pada
akhirnya menurunan biaya operasional serta meningkatkan performa dan
stabilitas proses.

Proses Inti

Pada tahapan ini, bahan baku yang telah mengalami pengolahan awal akan
mengalami proses penyisihan garam sehingga menghasilkan air bersih.
Berdasarkan teknik pemisahan garamnya, proses desalinasi dikategorikan menjadi
dua: berbasis panas dan berbasis membran.

Pada proses berbasis panas, bahan baku dikondisikan mendidih pada tekanan
rendah sehingga menghasilkan uap air pada temperatur rendah. Pada proses ini,
hanya air saja yang mengalami penguapan, sehingga setelah pengumpulan dan
pengkondensasian uap, akan dihasilkan air bersih tanpa garam dan pengotor.
Multistage flash distillation dan multi effect distillation adalah contoh teknologi
desalinasi dengan berbasis panas.

27
skema pemisahan air laut berbasis panas – dari
http://www.roplant.org

Berbeda halnya pada proses diatas yang menggunakan energi panas untuk
pemisahan garam dari air laut, teknologi membran menggunakan energi tekanan.
Membran adalah istilah umum untuk saringan tipis yang memfasilitasi pemisahan
secara selektif – hanya bahan-bahan tertentu yang dapat dilewatkan dan ditahan
oleh membran ini. Tipe membran yang digunakan sangat bergantung pada
aplikasi. Khusus untuk desalinasi, digunakan reverse osmosis (RO) membrane
dengan karakter tak berpori yang mampu melakukan pemisahaan pada level ion,
termasuk garam dengang komposisi utama ion natrium dan klorida.

28
proses pemisahan dengan berbagai tipe membran – dari
http://www.intechopen.com

Penyaringan dengan membran RO dilakukan dengan cara menekan bahan baku air
laut pada permukaan membran sehingga melewatkan air murni pada sisi produk,
sementara menahan kandungan garam dan pengotor lainnya ke aliran buangan.
Produk air yang dihasilkan sangat murni dengan konsentrasi ion yang sangat
rendah.

Pengolahan akhir

Kondisi air murni dengan konsentrasi ion rendah dalam produk desalinasi perlu
disesuaikan agar nyaman saat dikonsumsi dan tidak merusak pipa distribusi.
Untuk konsumsi, air murni tidak berasa, perlu adanya penambahan mineral
supaya rasanya sesuai dengan kualitas air minum: rasa menyegarkan dari air
berasal dari kandungan mineral. Kandungan ion yang minimal dapat memicu
proses korosi pada pipa distribusi karena kecenderungan pengikatan ion-ion metal
pipa agar keseimbangan kimia air tercapai.

29
Pada tahapan akhir penambahan mineral dilakukan pada aliran produk sehingga
dihasilkan produk air bersih dengan kualitas air minum.Proses desalinasi air laut
hingga saat ini terus berkembang di seluruh dunia untuk memenuhi kebutuhan air
bersih dan mengentaskan permasalahan krisis air. Kegiatan penelitian sangat
intensif dilakukan dan menyeluruh pada setiap tahapan proses untuk menjadikan
proses ini lebih ramah lingkungan, hemat energi dan murah. Proses ini juga cocok
untuk diimplementasikan di Indonesia yang merupakan negara maritime dengan
garis pantai yang panjang. Studi mengenai energi yang berujung pada kelayakan
ekonomi perlu di lakukan lebih lanjut pada implementasi proses ini.

Proses Pengolahan Air Industri Farmasi

Di PT. Bayer Indonesia purified water digunakan untuk keperluan produksi seperti
untuk pelarutan, sterilisasi alat/tangki dan juga sebagai air umpan pada boiler.

Dalam proses pembuatan obat diperlukan air yang higienis, steril dan murni
sehingga proses dan penetapan standar kualitas air dilakukan secara ketat dan
serius karena menyangkut kesehatan manusia, penggunaa purified water pada
industry farmasi adalah sebagai berikut :
a. Sebagai pencuci alat proses produksi.
Alat proses yang telash dipakai harus dibersihkan dari sisa-sisa produk dan
disterilkan. Jadi, alat proses dicuci dengan menggunakan cairan pembersih, dibilas
dengan potable water, lalu alat proses dinbilas dengan purified water beberapa kali
hingga bersih. Kebersihannya pun selalu dikontrol dengan melakukan uji
konduktivitas dan pH pada air bilasan terakhir. Dengan kemurnian yang tinggi dan
temperature lebih dari 70oC dharapkan purified waterdapat memebersihkan alat
proses sisa residu dan mikroba yang dapat mengurangi kualitas produk.
b. Sebagai bahan baku untuk produk
Dalam pembuatan obat yang berbentuk padat maupun cairan, diperlukan air
sebagai pelarut sehingga kualitas purified water harus selalu dijaga.
c. Sebagai air umpan ketel pada boiler.
Air umpan ketel harus terhindar dari zat-zat yang dapat menyebabkan korosi,
foaming dan kerak. Zat-zat penyebab korosi yang harus dihilangkan dari dalam air

30
diantaranya adalah besi, karbonat, dan ammonia. Zat yang dapat menyebabkan
kerak yaitu silica, magnesium, kalsium dan garam-garam karbonat.
Proses pengolahan pada purified water plant sebagian besar dilakukan pengolahan
secara kimia karena sumber airnya yaitu portable water yang sebelumnya sudah
dilakukan proses pengolahan secara fisik, sehingga hanya kandungan mineral dan
ion saja yang harus dihilangkan agar air menjadi murni. Berikut skema gambar
dan tahapan proses purified waterbar dan tahapan proses purified water plant.

Keterangan :
a. Catridge Filter (fiber)
Terbuat dari serat fiber yang mempunyai pori-pori berukuran 5 µm. dapat
menyaring dan mikroorganisme yang ada dalam aliran air.

b. Ultraviolet lamp
Berfungsi untuk mensterilkan air dari mikroba yang masih terkandung dalam
purified water dan menjaga proses setelahnya yaitu daya operasi dari reverse
osmosis karena terhindar deri tumbuhnya mikroba yang dapat merusak jaringan
membrane semipermeable.
c. reverse osmosis
Osmosis terbalik adalah istilah teknologi yang berasal dari osmosis. Osmosis
adalah sebuah fenomena alam dalam sel hidup dimana molekul pelarut (biasanya

31
air) akan mengalir dari daerah konsesntrasi rendah ke konsentrasi yang lebih
tinggi melalui sebuah membrane semipermeable. Membrane semipermeable ini
menunjuk ke membrane sel atau membrane apapun yang memiliki struktur yang
mirip atau bagian dari membrane sel tersebut. Gerakan dari pelarut berlanjut
sampai sebuah konsentrasi yang seimbang tercapaidikedua sisi membrane.
Reservoir osmosis itu sendiri adalah sebuah proses pemaksaan sebuah pelarut dari
sebuah daerah larutan konsentrasi tinggi melalui sebuah membrane ke sebuah
daerah larutan konsentrasi rendah dengan menggunakan sebuah tekanan melebihi
tekanan osmotic. Dalam isitilah lebih mudah, reverse osmosi adalah mendorong
seb ah larutan melalui filter yang menangkap larutan dari satu sisi dan
mendapatkan larutan murni di sisi satunyya. Proses ini digunakan untuk mengolah
air laut untuk mendapatkan air tawar, sejak 1970-an.
Dengan prinsip filtrasi dan osmosis, air akan disaring dan dipisahkan dari segala
ion pengotor yang terkandung di dalamnya. Kondisi operasinya dilakukan pada
tekanan tinggi sekitar 7 bar.
d. Resin ion exchanger
Resin ini dapat menghilangkan garam-garam atau ion-ion terlarut dan Total
Disolved Solid dalam air sehingga menghasilkan Demin Water. Air demin tersebut
kemudian dapat digunakan sebagai air pencuci alat-alat proses sehingga saat
proses pembuatan produk tetap terjaga kebersihannya serta steril dari mineral-
mineral yang dapat mempengaruhi kualitas produk.
Ion exchanger terdiri dari resin kation dan resin anion yang akan menukar kation-
anion pada air yang dilewatkannya. Resin kation yang sifatnya akan mengikat ion
yang kurang elektronegatif ditukar dengan ion H+, karena adanya kation-kation
yang lebih kecil ke elektronegatifitasnya dalam air, maka ion H+ akan tertukar,
resin kation akan mengikat kation-kation dalam air. Sebaliknya untuk resib anion
yang sifatnya lebih mengikat ion-ion yang lebih elektonegatif, yang awalnya
mengikat OH- akan mengikat anion-anion yang lebih elelktronegatif.
e. Heat exchanger
Alat ini dapat mensterilakan air dan membersihkan alat proses dari sisa-sisa
kotoran yang menempel pada alat dengan menaikkan temperaturnya sampai
kurang lebih 80oC.

32
Proses Pengolahan Air Sungai/Tawar
WATER TREATMENT PLANT ( PUSRI)
Water treatment plant adalah bagian dari pabrik Utilitas yang berfungsi mengolah
air sungai menjadi air bersih (filtered water). Bahan baku yang digunakan adalah
berasal dari air sungai Musi yang diolah dengan menggunakan proses koagulasi,
flokulasi, dan filtrasi. Bahan kimia yang digunakan pada water treatment adalah
sbb :
1. Aluminium sulfat (tawas, Al2(SO4)3.xH2O), berfungsi untuk membentuk floc
melalui proses koagulasi dan flokulasi.
2. Caustic Soda (NaOH), berfungsi untuk mengatur pH.
3. Coagulant Aid (Sparant), berfungsi untuk membantu proses koagulasi (di
pabrik utilitas P-IB tidak dipakai).
4. Chlorine (Cl2), berfungsi untuk membunuh mikroorganisme dan lumut .
Produk filter water digunakan untuk keperluan make up cooling water, bahan
baku demin water, air minum dan service water.
.1. PROSES DAN OPERASIONAL WATER TREATMENT PLANT.
Semua air yang berasal dari alam mengandung bermacam-macam jenis
dan jumlah bahan pengotor (impurities). Bahan pengotor ini dapat berupa padatan
terlarut, mineral-mineral seperti CaCO3, CaSO4, NaCl, Silica, gas-gas terlarut
seperti CO2, O2, padatan tak terlarut, limbah industri rumah tangga,
mikroorganisme, algae, lumut dan bahan pengotor lainnya dalam bentuk turbidity
(kekeruhan), warna, tanah, endapan mineral, minyak dll.
Partikel tersuspensi berukuran besar dapat dihilangkan melalui penyaringan
(filtrasi), akan tetapi senyawa koloidal tersuspensi harus dihilangkan dengan
proses clarification (penjernihan). Partikel-partikel halus ini dinyatakan sebagai
turbidity (kekeruhan). Adapun tahapan dalam proses di Water treatment plant
adalah sebagai berikut :
a. Proses Koagulasi, Flokulasi dan Penjernihan
Zat-zat pengotor dalam bentuk senyawa suspensi koloidal tersusun dari ion-ion
bermuatan negatif yang saling tolak-menolak. Dengan adanya penambahan
Aluminium Sulfat dalam air sungai yang digunakan sebagai bahan baku,

33
makaAluminium Sulfat akan larut membentuk ion Al+3 dan OH- serta
menghasilkan asam sulfat dengan reaksi sebagai berikut :
Al2(SO4)3 + 3H2O  2Al+3 3OH~ + 3H2SO4
Ketika ion yang bermuatan positif dalam koagulan (Alum, Al+3) bertemu dengan
ion negatif dalam air pada kondisi pH tertentu, maka akan terbentuk floc (butiran
gelatin). Butiran partikel (floc) ini akan terus bertambah besar dan berat sehingga
cenderung akan mengendap ke bawah. Pada proses ini pH air cenderung turun
karena terbentuk juga H2SO4. Pembentukan floc untuk air sungai Musi paling baik
terjadi pada pH 5.5 – 6.2.
Untuk menjamin proses koagulasi yang efisien pada dosis bahan kimia yang
minimal maka koagulant harus dicampur secara cepat dengan air. Proses
pencampuran bahan kimia ini dilakukan di Premix Tank / Flocculator. Tahap
selanjutnya adalah menjaga pembentukan floc (flokulasi) dan mengendapkan
partikel floc sambil memperhatikan pembentukan lapisan lumpur (sludge blanket)
dengan pengadukan pelan, sehingga air yang jernih akan terpisah dari endapan
floc. Proses ini terjadi di Clarifier/ Floctreator. Level lapisan lumpur dijaga
dengan melakukan blow down.
b. Proses filtrasi
Proses filtrasi berfungsi untuk menyaring pengotor tersuspensi yang masih lolos
dari tahap Penjernihan. Pengotor yang disaring diantaranya yaitu senyawa
organik, partikel halus, senyawa warna, dan mikroorganisme. Proses filtrasi ini
dilakukan di Sand Filter yang berisi media pasir. Apabila Sand Filter sudah jenuh
akibat akumulasi pengotor pada permukaanya sehingga mengakibatkan pressure
dropnya tinggi, maka dilakukan backwash untuk membersihkan kembali media
pasir dari kotoran tersebut.

c. Peralatan di Water treatment.


Terdapat beberapa perlatan di water treatment plant, diantaranya yaitu :
• Pompa Sungai (2 buah)
• Premix Tank (Flocculator)
• Clarifier (Floctreator)
• Clearwell

34
• Pompa Transfer (3 buah)
• Sand Filter (6 buah)
• Filter Water Storage
• Sistem Injeksi bahan kimia
• Pompa make-up Demin Plant (2 buah)
• Pompa make-up Cooling Water (2 buah)
2. SPESIFIKASI WATER TREATMENT PLANT
• Kapasitas desain : 1000 m3/jam
• Normal operasi : 660 – 720 m3/jam
• Kapasitas Filtered Water Storage: 4130 m3
• Kondisi Operasi
– Air sungai musi: pH: 7 – 9, turbidity: 20 – 80 ppm
SiO2: 10 – 25 ppm
– Flocculator : pH: 5.5 – 6.2, turbidity < 3,0
Cl2: < 0,5 ppm
– Clearwell : pH: 7.0 – 7.5
– Filtered Water Storage: pH: 7 – 7.5, turbidity: 1.0

Gambar 1. Block Diagram Water Treatment Plant

35
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Water Treatment adalah suatu cara/bentuk pengolahan air dengan
cara – cara tertentu dengan tujuan untuk mencapai hasil yang diharapkan
sesuai kebutuhan. Dalam mengolah air dapat ditinjau dari beberapa
parameter diantaranya parameter fisik, kimia,dan biologi.
Selain parameter terdapat beberapa proses pengolahan air yaitu
pengolahan air secara fisika, kimia dan biologi. Secara fisika yaitu filtrasi
dan sedimentasi. Secara kimia yaitu koagulasi dan flokulasi, pelunakan air
serta ion exchange. Secara biologi yaitu trickling filter dan RBC (Rotating
Biological Contractor).
3.2 Saran.
Dalam kehidupan sehari – hari maupun dalam industri tidak
terlepas dari adanya limbah cair. Untuk mengatasi limbah tersebut perlu
adanya pengolahan air (Water Treatment). Dalam Water Treatment proses
yang dilakukan untuk mengolah limbah cair tersebut sebaiknya dilakukan
sesuai dengan kontaminan yang terkandung di dalam limbah tersebut agar

36
pengolahannya menjadi lebih tepat, dan efisien. Sehingga tidak
menimbulkan pengaruh yang lain terhadap lingkungan.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

Zulkarnain, dkk. 2011. Modul Utilitas. Palembang : Politeknik Negeri Sriwijaya

http://envist2.blogspot.com/2009/05/filtrasi.html

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/limbah-
industri/sedimentasi-pengendapan-pada-pengolahan-limbah-cair/

http://www.ionexchange.com/ion/en/processes/counterflow/multistep/

37